Jump to ratings and reviews
Rate this book

Lusifer! Lusifer!

Rate this book
Malam itu banyak hal yang tak semestinya terjadi.
Tetapi, apa boleh buat, Lusifer diyakini merasuki tubuh Mawarsaron, si gadis 16 tahun. Tidak ada pilihan lain: si Iblis Segala Iblis harus diusir.

Empat belas anggota Barisan Pendoa berseru-seru, menengking, berbahasa roh, dipadu gaduh suara gitar, mengusir semua kuasa kegelapan. Mawarsaron harus disucikan kembali, dengan cara apapun. Malam itu, dengan senjata kekuatan iman, perang melawan setan dikobarkan.

Di tengah segala histeria itu, diam-diam, Markus Yonatan mengemban misi lain.

138 pages, Paperback

Published July 1, 2019

5 people are currently reading
426 people want to read

About the author

Venerdi Handoyo

2 books38 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
254 (43%)
4 stars
275 (46%)
3 stars
56 (9%)
2 stars
1 (<1%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 187 reviews
Profile Image for melmarian.
400 reviews135 followers
April 29, 2020
Saya lahir dan dibesarkan dalam lingkungan gereja Protestan 'kolot' (walaupun menurut saya, tidak kolot-kolot amat) dan pernah beberapa tahun ikut dalam gereja dan persekutuan beraliran Karismatik. Setelah 'fase' itu usai, saya kembali ke gereja lama saya (yang sesungguhnya memang lebih cocok dengan karakter saya).

Saya pernah duduk dalam lingkaran pendoa (walau bukan dalam ritual pengusiran roh jahat) dan merasa seperti orang bodoh yang berpura-pura, sama seperti Markus Yonatan. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya apakah semua yang saya pelajari selama mengikuti persekutuan itu benar adanya, apakah betul seperti ITU bahasa roh seperti yang diceritakan dalam Alkitab, dan sebagainya.

Pada akhirnya, saya tidak mau ambil pusing. Saya bukan seseorang yang religius. Saya mengamini yang disampaikan di buku bahwa tidak ada orang yang butuh 'kakak rohani', yang kita butuhkan adalah teman. Yesus sendiri memosisikan diri-Nya sebagai teman, bukan kakak rohani yang lebih superior.

Membaca buku ini mengusik lagi pertanyaan-pertanyaan lama itu, walaupun rasanya tidak perlu lagi bersusah payah mencari jawabannya. Terima kasih pada penulis yang sudah mengangkat tema yang begitu familier bagi saya ini, tema yang juga begitu sensitif dan kontroversial. Terima kasih juga pada penerbit yang sudah memberi kesempatan bagi buku ini. Saya mungkin menulis review ini dengan nada serius, tapi saat membaca saya tidak bisa menahan geli karena nama-nama, ucapan-ucapan, dan ritual-ritual yang rasanya sangat familier.
Cerita Lusifer! Lusifer! menghunjam tepat pada sasaran, dan disampaikan dengan enak sehingga bisa habis dalam sekali duduk.

"Kalau iman membuat kita merasa tidak bercacat cela maka kita sudah jauh tersesat."
Profile Image for Utha.
824 reviews402 followers
May 4, 2022
Makaramata-rapatarapatra-patapa! Huuuriakaramatarapatapata...!

Buku ini rasanya pas banget direkomendasiin ke orang-orang yang menganggap dirinya suci sementara yang lain berlumur dosa. Diriku berlumur dosaaa, mungkinkah akan berakhir cinta?

Buku tipis ini menyenangkan dibaca. Menggelitik fenomena tentang orang-orang yang fanatik akan sebuah kepercayaan. Tentang hubungan dalam keluarga yang berbalut kefanatikan akan kepercayaan (yang mana buku ini membahas mengenai keluarga Kristen Protestan). Buku ini (buat yang agamanya selain yang aku sebutkan) menuturkan hal asing yang bisa diterima karena gaya penulisannya yang enak sekaligus tajam.

Dan kepercayaan apa pun, kelihatannya punya problematika yang "mirip".

Yah, "berlebihan" itu memang nggak baik!

3.5 bintang buat Mawarsaron.
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
November 30, 2019
Venerdi Handoyo
Lusifer! Lusifer!
POST Press
138 halaman
8.3 (Best Book)

Lusifer! Lusifer! karya Venerdi Handoyo adalah sebuah novela yang berani dan berbeda. Mengangkat tema fanatisme di dalam agama Kristen--sesuatu yang jarang diangkat di dalam jagat literatur Indonesia--Handoyo menunjukkan bukti bahwa terkadang manusia membunuh kemanusiaannya atas dasar agama.

Sewaktu saya SMA, guru agama Kristen di sekolah saya menganut aliran karismatik, tapi itu bukan kali pertama saya terpapar dengan bahasa roh ataupun pujian dan penyembahan. Saat saya SMP, saya bersekolah Minggu di gereja Calvinis yang tata ibadahnya runtut mengikuti liturgi gereja, pujiannya diiringi oleh bunyi organ (yang menurut legenda setempat, sering berbunyi sendiri pada malam hari), dan terkesan "kolot". Suatu hari Minggu, entah kenapa sang pembina sekolah Minggu tiba-tiba datang dari gereja karismatik. Mula-mula pesannya terdengar biasa-biasa saja, tapi di akhir cerita dia "mengolok-olok" gereja Calvinis seperti gereja saya yang kaku dan akan "mati" sebentar lagi. I shit you not. Kemudian dia mendoakan kami dalam bahasa roh. Saya tidak kenal siapa kakak pembina itu, tapi saat dia mendoakan saya dalam bahasa roh, entah kenapa saya merasa takut. Itu sesuatu yang baru bagi saya dan saya tidak menyukai kakak sekolah Minggu itu. Mungkin dia dihinggapi oleh roh kesombongan!

Kehidupan saya mungkin sedikit mirip dengan keluarga Markus Yonatan, tokoh utama dalam buku ini, meski saya dan keluarga saya tetap menjadi anggota gereja "kolot" itu. Awalnya saya menganggap gereja berbahasa roh itu mengada-ada dan dibuat, tapi kemudian saya mulai familier dengan bahasa roh, pujian dan penyembahan, tangisan dalam ibadah, tumpang tangan sewaktu SMA, dan saya merasakan apa yang para karakter religius dalam Lusifer! Lusifer! alami dalam ibadah kebangunan rohani sewaktu retret. Masa SMA barangkali menjadi fase paling "religius" dalam hidup saya, dan saya waktu itu menikmati setiap ibadah Jumat di sekolah. Menjadi singer atau menjalankan ibadah doa pagi sudah jadi makanan sehari-hari saya.

Karena itu, saya paham benar pengalaman dan keresahan Markus dalam Lusifer! Lusifer!. Saya bukan orang suci ataupun religius, tetapi rasa minder ketika saya membandingkan "religiusitas" saya dengan teman-teman yang lain itu juga ada. Perasaan kalau sesungguhnya saya sedang berpura-pura di hadapan Tuhan itu sering tebersit. Lusifer! Lusifer mungkin mengangkat tema utama tentang fanatisme dalam agama Kristen, tetapi bagi saya, buku ini juga menyentil dan mengingatkan saya akan perasaan kerendahdirian itu. Tapi, pada akhirnya, saya yakin Tuhan yang penuh kasih ini yang lebih memahami tingkat ketaatan umat-Nya dan siapakah saya berhak menghakimi atau menilai laju masing-masing orang yang pergi ke hadirat-Nya?

Handoyo menulis buku ini dengan penuh kepercayaan diri dan itu tampak dari kata-kata yang ditumpahkan ke dalam tiap helai halamannya. Kepercayaan diri itu dibentuk dari pengalamannya sebagai penulis buletin gereja sehingga dia tahu benar apa yang ada di balik pintu kayu gereja yang nampak kukuh itu. Handoyo seakan sedang bermain di halaman belakang rumahnya sendiri. Lusifer! Lusifer juga memuat banyak sekali ayat dan nama alkitabiah dan referensi dari kekristenan karismatik, tapi Handoyo menyebutkan semua itu dengan konteks yang tepat sehingga memudahkan pembaca non-Kristen atau non-karismatik untuk paham.

Tapi hal yang paling menarik dari Lusifer! Lusifer! adalah kritikan sosial yang tajam tentang kebutaan manusia terhadap agama. Mawarsaron, seorang anak dari hamba Tuhan di gereja Markus, dianggap kemasukan roh jahat sehingga harus didoakan dan dibebaskan dari belenggu Iblis. Buku ini ditulis dalam alur maju dan mundur untuk memberikan latar belakang yang mengaitkan antara Markus dan Mawarsaron dan kenapa gadis itu bisa menjadi seperti ini. Kisah Mawarsaron bukan lagi kisah yang asing dalam "gosip gereja". Seringkali kita mendengar desas-desus tentang anak pendeta yang hamil di luar nikah, atau anak penatua yang kecanduan narkoba, atau anak majelis yang homoseksual. Handoyo menyoroti isu ini dan mengkritik para hamba Tuhan yang telah melupakan kemanusiaan dan naluri orangtua hanya demi dipandang suci oleh para jemaat. Saat anak-anak mereka memerlukan perhatian, mereka malah menghujani mereka dengan ayat Alkitab dan cibiran. Terkadang orang melupakan pokok ajaran Kristen untuk mengasihi orang lain terlebih dulu.

Meskipun buku ini begitu topical, tetapi pesan yang disampaikan begitu universal. Lusifer! Lusifer! juga memberikan wawasan bagi para pembacanya tentang bahaya dari fanatisme agama yang membuat kita melupakan kemanusiaan kita dan Handoyo menyajikannya dengan penuh keberanian.
Profile Image for ucha (enthalpybooks) .
201 reviews4 followers
August 14, 2019
Sungguh senang Jumat malam minggu lalu mendapatkan bingkisan dari POST Santa berupa novela Lusifer! Lusifer! karya Venerdi Handoyo. Ini merupakan terbitan terbaru mereka dan jadi buku ke-enam dari POST Press. Membaca blurb di cover belakang buku tentang gadis remaja 16 tahun bernama Mawarsaron dirasuki Lusifer, langsung teringat jika buku ini bakal cocok dengan Tantangan GRI yang bertema buku yang membuat merasakan nostalgia. Pikiran saya melayang ke masa lalu ketika saat SMP ada kejadian “kerasukan” pada 9 teman kami saat retret rohani selama 3 hari. Ketika lanjut membaca cerita yang menarik ini, ternyata ada bayangan nostalgia yang lebih jauh ke belakang lagi saat masa SD saya. ⁣

Ve memiliki kemampuan bercerita yang baik (ditambah dengan suntingan yang apik). Dari halaman pertama terus ingin membacanya hingga selesai. Ini tipikal buku yang bisa dibaca habis sekali duduk. Lebih lagi cerita dengan latar belakang keluarga Kristen (Protestan) jarang saya jumpai selama ini. Sejak kecil hingga dewasa saya berada di lingkungan keluarga Katolik, tapi ada masa selama SD kelas 4 hingga kelas 6 saya tinggal bersama keluarga sepupu yang mayoritas dari Pentakosta. Kadang tiap minggu saya ikutan ke Gereja mereka hingga tahu nyanyian dan ritual khotbah Pendeta. Jadilah sepanjang membaca buku ini diselingi nyanyi sendiri atau membaca kalimat dengan aksen pemimpin doa atau pujian. Tentu saja saya juga dulu pernah ikut ritual bahasa roh walau cuma deg-degan mendengar dari kamar sebelah. Benar-benar buku ini pembuka nostalgia.⁣

Saya bayangkan menulis cerita novela itu cukup sulit, bagaimana menyampaikan ide cerita pendek tapi tidak bertele-tele panjangnya. Ve menyajikan tema hubungan keluarga, dan moralitas dalam lingkup fanatisme agama. Hal yang bisa jadi sensitif tapi sekaligus menarik. Saya kira buku ini berhasil mewujudkannya.⁣

Sehabis membaca buku, hal ini yang membuat saya berpikir : Ternyata apapun agamanya, persoalannya tetap sama. ⁣

Bacalah buku ini dan mari kita merapal bersama : Kuratatatatatatata. Sikaratatata. Sandalawsandalawasandalawa. Hirakasatataratasataratatata⁣

Profile Image for raafi.
928 reviews449 followers
September 15, 2019
Buku ini berat dan penuh. Ada banyak hal tentang agama yang termanifestasikan pada adegan-adegan dalam buku ini. Mereka yang memulai sebuah komune religi dari garasi rumah. Mereka yang begitu getol tentang agama dan menutup mata dari sudut pandang di luar agama. Mereka yang tidak mementingkan agama dan tetap waras. Mereka yang masih lugu dan bertanya-tanya apakah agama adalah jalan keluar dari semua masalah keduniawian.

Dan, lagi-lagi, para remaja menjadi tokoh utama. Remaja yang terkungkung oleh dogma dan harapan orang tua. Remaja yang ingin cari tahu arti hidup mereka dengan cara mereka sendiri namun kerap dijuluki pembangkang atas keingintahuan mereka. Remaja yang kepolosannya mudah dimanfaatkan oleh doktrin-doktrin berkedok agama.

Ini buku yang sangat dekat dengan kita semua. Bacalah!
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,042 reviews1,964 followers
June 24, 2020
Daniel Iskandar mengingatkan kami akan pelajaran penting ini; bahwa iman dan keselamatan jiwa sifatnya perorangan, bukan borongan.


Lusifer! Lusifer! sudah dibaca oleh para pembaca buku junjunganku. Dari Daniel Dian, mbak Melissa Mariani, pokoknya orang-orang yang selalu aku cek rak Goodreads-nya rupanya memberikan rating yang bagus. Aku penasaran. Tapi dorongan untuk membacanya kerap ditindih oleh buku-buku lain.

Premis Lusifer! Lusifer ini sederhana. Soal "pembebasan" seorang gadis 16 tahun bernama Mawarsaron yang katanya telah dirasuki Roh Jahat. Para Barisan Pendoa yang dipilih Tuhan berkumpul, termasuk Markus Yonatan, untuk membantu mengeluarkan roh itu dari tubuh Mawarsaron. Tetapi, benarkah Mawarsaron dirasuki?

Kalau pernah membaca atau menonton The Exorcism of Emily Rose, buku ini punya kemiripan premis. Untuk mereka yang mengikuti kasusnya hingga tuntas, juga akan tahu seperti apa buku ini berakhir. Itulah yang aku tangkap begitu menyelesaikan Lusifer! Lusifer! Rasa familiar akan jalan ceritanya membuatku mudah mencerna buku ini. Namun bukan itu yang membuatku memberikan 5 bintang.

Buku fiksi dengan tema ritual keagamaan di negara ini sudah tentu didominasi oleh kaum mayoritas. Lusfer! Lusifer! membawa warna baru. Kisah Markus Yonatan yang merupakan bagian dari Jemaat Efesia Jakarta menghadapi hal-hal yang ia sendiri harus berani menantang nalarnya. Apakah benar Tuhan memberikan pertanda lewat nubuat? Atau itu hanya akal-akalan semata. Ia merasa ada yang salah ketika belum merasakan Lahir Baru di saat abangnya, Matius Abraham, seakan telah disentuh sanubarinya oleh Tuhan.

Aku yang asing dengan tema mengenai agama Kristen dan aliran-alirannya merasa senang dengan adanya Lusifer! Lusifer! Meski aku agak kelimpungan dengan nama para tokoh yang dipilih (sebab, aku yakin setiap nama tokohnya memiliki arti dalam Alkitab) tetapi Handoyo membuatnya menjadi mengalir begitu saja. Mengajak pembaca mengikuti terus ceritanya hingga pada bagian-bagian di mana Mawarsaron mulai kerasukan.

Jemaat Kristus Efesia JAkarta sangat berhati-hati dalam memilih Diaken perempuan. Dari dua puluh lima orang Diaken hanya ada tiga perempuan. Kami semua masih terjebak dalam kenangan purba bahwa perempuanlah yang pertama kali makan buah terlarang sehingga seluruh umat manusia jatuh dalam dosa.


Di antara paragraf demi paragraf, Handoyo menyelipkan kritik sosial yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang aku kutip di atas, dalam sebuah struktur jemaat gereja pun juga ada pandangan mengenai siapa yang berhak menjadi pemimpin (aku rasa, teman-teman Muslim juga paham bahwa katanya yang bisa jadi imam hanyalah laki-laki saja). Handoyo juga melihat bagaimana politik kepentingan begitu dominan. Hal ini mengingatkanku pada cerita pendek legendarisnya A.A Navis yang berjudul Robohnya Suaru Kami.

Jangan heran jika aku katakan bahwa Lusifer! Lusifer! adalah buku cerita yang mengawinkan film The Exorcism of Emily Rose dengan cerita Robohnya Surau Kami. Aku juga teringat dengan The Conjuring ketika proses penyembuhan Mawarsaron didominasi oleh seruan "Dalam nama Yesus!". Ditambah pula adanya cibiran yang mengatakan bahwa Mawarsaron dibawah pengaruh Lusifer, sebagaimana aku teringat film klasik The Omen.

Sejujurnya, aku merasa senang bahwa POST Press memilih naskah ini untuk dicetak oleh mereka. Buku ini mengantarkanku untuk lebih berkenalan dengan ritual agama lain. Membuatku ingin berdiskusi dengan kawan-kawan yang beragama Kristen untuk tahu lebih jauh tentang pandangan mereka soal ritual itu.

Ujungnya aku hanya ingin berkata, mungkin Karl Marx betul.

(buku ini merupakan hadiah ulang tahun dari Raafi)
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
May 1, 2020
** Books 59 - 2020 **

Buku ini untuk menyelesaikan Bacakelilingdunia dan Tsundoku Books Challenge 2020

3,8 dari 5 bintang!


"Kita semua cacat dan luka. luka-luka yang akan bertahan lama. Mungkin tidak akan pernah sembuh. Mungkin kita semua tidak akan pernah pulih. Mungkin kita semua sudah rusak" (Halaman 123-124)

Mulai bulan Mei 2020 ini aku akan jalan-jalan Backpacker keliling dunia melalui buku. Aku akan mendatangi kota-kota kelahiran penulisnya yang diawali dengan buku ini pengarangnya lahir di Jakarta. Saat ini aku sudah berangkat menuju bandara Soekarno-Hatta dan akan naik pesawat menuju Provinsi Takeo di Kamboja

Aku sudah beberapa kali mendengar rekomendasi atas buku ini dan banyak yang menyuruhku untuk membacanya. astaga ternyata bagus dong ya.. membaca buku ini jadi relate banyak apakah agama hanya sekadar topeng untuk menutupi kebusukan yang orang itu miliki? hal ini membuatku jadi berpikir lebih dalam bahwa kita tidak boleh terjebak dengn tampilan atribut agama yang menampilkan sosok orang yang baik? habis membaca karya mas Venerdi ini jujur aku menjadi sedih dari hati lubuk paling dalam. Kenapa?

kata-kata dari Singa Yehuda yang singkat ini menjelaskan semuanya
"Kalau Iman membuat kita merasa tidak bercacat cela maka kita sudah jauh tersesat " (Halaman 61)

Mau apapun agamanya tetap yang merasa 'lebih beriman' itu lebih suci dan tidak punya dosa. Eaaak

Terimakasih Dema Buku!

Buat yang mau ikutan tantangan Keliling baca buku bisa baca disini :
https://medium.com/podcast-buku-kutu/...

Buat yang mau liat peta rute backapackerku :
https://www.tripline.net/trip/AROUND_...
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews44 followers
September 16, 2019
Waktu saya dan Tania main ke POST dekat akhir tahun lalu, Maesy dan Teddy bercerita dengan gembira, mereka sudah menemukan judul untuk terbitan POST Press selanjutnya. Naskah yang masuk banyak sekali mereka bilang, tapi yang ini sangat mereka sukai. Kami ikutan tidak sabar untuk membacanya.

Mawarsaron harus menjalani ritual pengusiran iblis dari tubuhnya dan Markus Yonatan menjadi bagian dari empat belas anggota Barisan Pendoa tanpa terduga. Kegaduhan beragama, kesenyapan mempertanyakan iman, dituliskan tanpa prasangka. Mau tidak mau, langsung bersimpatik dengan karakter-karakternya. Sekali membaca, akan sulit sekali menutupnya lagi. Sepanjang membaca, saya dibuat deg-degan mengikuti ceritanya.

Pantas saja POST menerbitkan cerita ini. Saya kira buku yang berkisah tentang Gereja Karismatik sangat asing bagi banyak orang di sini, tapi tetap akan sangat akrab. Kamu bisa temukan tingkah laku yang serupa, di setiap agama. Histeria beragama kerap kali bersinggungan dengan cerita kehidupan yang bikin sedih, dan terkadang tidak bisa diapa-apakan. Atas nama iman, apalah arti nalar—dan bahkan kemanusiaan belakangan ini.
Profile Image for Seno Guntur Pambudi.
75 reviews30 followers
December 25, 2022
"Bangsat kalian semua! Matilah kalian semua, Munafik! Bajingan!" (hal 119)

Mawarsaron menjerit sejadi-jadinya, meronta, melawan, dan akhirnya lemas tak berdaya. Ia diduga mengandung anak raja dari segala Iblis, Lusifer. Gadis belia 16thn itu dituduh telah dirasuki oleh Iblis.

Lusifer! Lusifer! sebuah novela yg padat dan berisi kegelisahan seorang pemuda bernama Markus Yonatan. Membaca novela ini kita mengikuti perjalanan iman, kegelisahan, pertanyaan2 yg mengambang dari Markus Yonatan.

Markus mempertanyakan bagaimana Ayah dan Ibunya bisa menjadi alim pada hari Minggu saat ibadah disaat Senin-Jumat ayahnya bermain dgn wanita lain, ibunya menghabiskan uang ayahnya dan kakaknya menjadi berandal yg sulit diatur.

Keputusasaan jg menaungi Markus Yonatan, ia merasa tidak berdaya melawan dogma2 agama yg dijalankan oleh lingkungannya. Kenyataan yg sesungguhnya ditepis mereka. Mereka menganggap semua ini karena oleh iblis.

Ajaran2 agama yg bersifat dogma dan segala tetek bengeknya membuat buta, mengadili, dan menghakimi secara sepihak. Nalar2 logika di luar agama dianggap sesat atau tidak sesuai dengan ajaran agama.

Sekali lagi, Lusifer! Lusifer! mengingatkan kita bahwa beragama mesti jg berilmu.
Profile Image for Astrid Lim.
1,327 reviews46 followers
August 3, 2020
An interesting take on religion and the danger of fanaticism. It quite relates with me - I've been in a similar situation with the protagonist here when I was in high school and tried to find the "better church" LOL. Those good ol days.

The simple writing is somehow fit in nicely with the tone of the story, and especially the character of Markus Jonathan. This is a hilarious, dark satire with enough humor that made me laugh and cringe and feel bad for everyone.
Profile Image for Sheila.
478 reviews109 followers
August 15, 2021
Menebar "Shalom!" sebagai penangkal penghakiman. Mengobral "Haleluya!" sebagai penyamaran, dan "Puji Tuhan!" untuk menyelamatkan reputasi.

Oh... astaga.

ASTAGA!

Buku yang sangat menarik! Memberi refleksi dalam untuk saya. Satir yang sangat dekat dengan realita, rasanya seperti membaca aib sendiri dibuka lebar-lebar.
Profile Image for Novita Aini.
2 reviews
September 3, 2019
Hidup dimulai dari meja makan Markus Yonatan, yang memiliki kakak bernama Matius Abraham, dan sepasang ayah dan ibu yang aktif menjadi jemaat di Gereja Kristen Efesius. Tidak hanya menjadi jemaat reguler, sang ayah bahkan menjadi calon Diaken dan ibunya adalah Ketua Panitia Natal. Tapi nyatanya, dalam kesempurnaan, Keluarga Kristen kecil kesayangan Allah ini memang tidak sempurna. Beberapa tahun yang lalu, Matius Abraham hampir menjadi anggota geng motor, ayahnya adalah tukang selingkuh, dan ibunya hampir menenggak obat nyamuk saking stressnya. Sedang Markus Yonatan, tokoh utama kita, konsisten lempeng sepanjang cerita. Sampai kemudian, Matius Abraham terserang mukjizat tiba-tiba akibat pergi ke gereja, yang awalnya diniatkan untuk bertemu gadis impiannya, dan malah berujung taubat sejadi-jadinya serupa kebangkitan rohani.

Rentetan peristiwa yang menimpa keluarga Markus Yonatan menuntun kita pada Mawarsaron, adik perempuan Singa Yehuda, kakak mentor rohani Markus. Markus dan Mawarsaron serupa polar yang berseberangan. Markus dalam dunianya yang terbagi di antara Senin-Sabtu menjadi anak penakut dan Minggu menjadi anak tuhan, sedang Mawarsaron sejak lahir dikutuk dengan segala bentuk sumpah serapah ayah ibunya yang mengatakan dia anak iblis. Tapi semakin dikata, semakin menjadi. Dalam kepala Mawarsaron, ayah dan ibunya adalah sepasang munafik yang enggan menghadapi kenyataan dan terus menjawab semua pertanyaan dengan jawaban klasik kitab suci dan mencap semua yang diluar gereja adalah dosa duniawi dan harus didoa-puasakan bersama-sama.

Dibesarkan dalam kultur agama islam, awalnya saya pikir Lusifer akan menjadi realita berjarak yang banyak bercerita mengenai exorcism dan konspirasi gereja. Tapi kemudian setelah membaca, saya terkagum-kagum. Lebih dari sekedara potret realita, dalam penceritaannya, Lusifer menjelma menjadi pleidoi Markus Yonatan. Dalam pleidoi-nya, Markus, seperti Mawarsaron, sebetulnya juga mempertanyakan banyak hal. Mulai dari apakah Yesus adalah juru selamat manusia? Apakah Kristen adalah dirinya? Dan berbagai hal lainnya. Tapi, kemudian yang memisahkan keduanya terjawab dalam histeria-histeria exorcism dan proses penyucian yang muncul sebagai adegan awal dan akhir cerita ini.

Barangkali adegan-adegan penuh rapalan bahasa-bahasa roh dan sekumpulan orang yang menamakan dirinya baarisan pendoa adalah cara Venerdi Handoyo mengingatkan kita pada ingatan kolektif purba pertama kita, buah terlarang. Gereja, sebagai bangunan fisik institusi agama, sekaligus menjadi sebuah konstruksi yang juga dibangun penulis untuk menunjukkan bahwa semua yang berjarak antara tuhan dan lusifer, bumi dan surga, juga Markus dan Mawarsaron pada dasarnya adalah sebuah garis tipis bernama nafsu.
Profile Image for Nadia (captnheweade).
187 reviews11 followers
March 1, 2020
"Kalau iman membuat kita merasa tidak bercacat cela maka kita sudah jauh tersesat"

Novella ini mengangkat tema iman yang membabi-buta dan bagaimana hal ini membuat manusia lupa akan siapa yang sebenarnya disembah? Tuhan ataukah doktrin dan ajaran-ajaran manusia yang dituhankan oleh manusia sendiri?

Gaya penulisan Mas Ve enak untuk dibaca sehingga alur cerita mudah untuk diikuti. Eksekusi cerita sampai bagian akhir sangat bagus, terutama 2 bab terahir bikin deg-degan. Aku menikmati mengikuti cerita pergolakan batin Markus Yonatan karena aku merasa dia sangat relatable. Apakah dia sudah lahir baru? Atau apakah kalau tidak "berapi-api" berarti ada yang salah dengan dirinya?
Lingkungan gereja yang penuh dengan orang-orang judgemental yang berjubahkan "kesucian" merupakan bumbu yang pas dalam cerita ini.
Ending cerita yg sedikit open-ended memberikan ruang bagi para pembaca untuk berimajinasi sendiri apa yang akan terjadi. Aku rasa ending ini cukup sesuai karena jika direfleksikan di kehidupan nyata, kita tidak tahu akan hal apa yang seharusnya Markus Yonathan lakukan. Yang bisa dia lakukan hanya tetap melangkah maju dan tetap menjaga iman.

Inti dari cerita dalam novella ini adalah histeria beragama. Cerita ini mengingatkan kita bahwa histeria beragama itu tidak baik dan bagaimana hal tersebut dapat membuat kita lupa bagaimana seharusnya bersikap sebagai umat Tuhan.

Salut dengan Mas Ve yang dapat mengangkat tema yang sensitif namun berhasil mengeksekusinya dengan baik sehingga pesan-pesan yang ingin disampaikan dapat tersampaikan dengan baik dan hal ini memberikan food for thought untuk para pembaca.

Oh, satu lagi. Singa Yehuda adalah karakter favoritku \(n_n)/

Overall rating: 4.6/5
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
November 17, 2019
Markus Yonatan dibesarkan dalam keluarga Kristen. Namun ayahnya sering berganti perempuan, sementara ibunya sudah dua kali mengenggak racun serangga. Semuanya berubah ketika Matius Abraham, kakaknya lahir baru. Ayah dan Ibunya kemudian mengikuti jejak Matius, dan Markus tidak mau menjadi beban bagi keluarganya hingga akhirnya dia "ikut" lahir baru.
Sampai kemudian Markus berkenalan dengan SY dan keluarganya, termasuk Mawarsaron. Dan sampai kepada Markus ikut dalam barisan pendoa untuk Mawarsaron. Markus harus memilih akal sehat ataukah iman kepercayaannya.
Mengejutkan. Mungkin itu kesan pertama saya membaca novel ini. Ritual pendoa yang diceritakan dalam novela ini cukup akrab bagi saya. Saya sendiri memahami pikiran-pikiran Markus yang merasa sebagai "anak hilang". Novela ini berani mengangkat fanatisme dalam agama minoritas dan menyandingkannya dengan sisi kemanusiaan
Love it.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
August 18, 2019
Kalau banyak yang bilang membaca Lusifer! Lusifer! habis dalam sekali duduk, saya membacanya satu bab sekali duduk, kemudian buka Google mengetik nama-nama dan istilah yang disebutkan dalam cerita. Dengan pengetahuan tambahan, saya lebih menikmati buku ini. Tapi toh, habis juga dibaca dalam satu hari. Bukan hanya karena ini novela, tapi juga karena narasinya memang jago dan membuat pembaca penasaran dan tak mau menutup buku begitu saja.

Lusifer! Lusifer! seperti menjawab fenomena histeria keberagamaan saat ini yang lebih mengedepankan iman daripada nalar, mengenyampingkan fakta bahwa agama juga berlogika.

Bagian paling saya suka adalah paragraf terakhir cerita. Haha.
Profile Image for Theo Karaeng.
95 reviews14 followers
August 17, 2019
buku ini kecil dan tipis tapi menarik. ia serupa magnet di pintu kulkas. bukan sekadar pemanis, ia bisa dipakai untuk membuka sebotol dua botol bir, menghapus dahaga, dan menyegarkan. begichu..
ah! serius! buku ini cocok direkomendasikan kepada para manusia yang kerap menganggap dirinya suci tiada bercela, yang selalu menjelek-jelekan orang orang lain hanya supaya dirinya terlihat lebih baik. sebagai bahan refleksi aja. syukur-syukur kalau bisa jadi stimulasi menertawakan diri sendiri.
satu yang pasti: buku ini sangat menghibur (saya). terima kasih venerdi, teddy & maesy.
Profile Image for galih.
64 reviews9 followers
May 5, 2022
Meskipun latar belakang saya bukan dari beragama Kristen namun Venerdi Handoyo berhasil membawa saya tetap dapat menikmati kisah berlatar belakang Kristen ini dengan apik. Sindiran kepada kaum agamis yang terkadang terlalu fokus pada surga namun melupakan sisi kemanusiaan.
Profile Image for Ms.TDA.
238 reviews3 followers
December 16, 2024
Dikit kaget tp ga kaget dg alur ceritanya dimana masyarakat dimabukkan oleh agama dan sangat ditekankan dg stigma konvensional nya sampai nurani sbg manusia itu sendiri terabaikan😮‍💨👍🏻
Profile Image for Rifqi Rachman.
4 reviews
October 10, 2020
Apakah kita berani menggunakan diri kita sendiri sebagai tolok ukur kebenaran?

Potongan dialog novela ini mempertontonkan bagaimana Lusifer! Lusifer! adalah karya yang hidup dari perbincangan antar tokoh di dalamnya.

126 halaman dalam dua jam, cerita ini menjadi pilihan yang baik untuk dibaca di akhir pekan. Sangat ringan, namun tidak menguburkan pesan dan nilai yang berusaha dilontarkan oleh Venerdi Handoyo.

Sangat direkomendasikan!
Profile Image for Meiliana Kan.
242 reviews52 followers
January 6, 2021
Sudah lama rasanya aku tidak melahap habis buku dalam sekali duduk. Buku yang menyuguhkan cerita dari sudut pandang Markus Yonatan membuatku enggan menaruh buku ini sebelum membaca sampai halaman terakhir.

Buku ini menarik sekali menurutku karena menceritakan hal-hal yang termasuk sensitif di kalangan masyarakat jaman sekarang dengan gaya penceritaan yang padat dan gak bertele-tele. Aku suka dengan gaya penceritaan Venerdi Handoyo yang menunjukkan bagaimana pencarian jati diri seorang Markus Yonatan dan juga kekalutannya saat dihadapkan oleh realita yang tertutup dengan segala macam ritual gereja yang diagung-agungkan.

Aku juga suka bagaimana Venerdi Handoyo mengungkapkan sisi lain dari orang-orang di dalam gereja yang terus-menerus memilih bekerja di ladang Tuhan sementara keluarganya sendiri terlantar, seperti yang dilakukan oleh orang tua Mawarsaron. Apalagi ketika aku membaca bagian pelepasan Mawarsaron yang dipercaya sudah muncul gejala manifestasi. Sebenarnya yang mereka percaya itu apa, sih? Aku jadi kesal sendiri. Tapi, mungkin realita seperti itu nyata adanya.



"Kalau iman membuat kita merasa tidak bercacat cela, maka kita sudah jauh tersesat."

Aku salut dengan gaya penulisan Venerdi Handoyo yang mengalir, penuh sindiran, tapi gak menyinggung satu kelompok. Oh, aku juga suka dengan nama tokoh-tokoh di buku ini yang selalu memuat 2 kata. Markus Yonatan, Matius Abraham, Singa Yehuda. Dan mereka seringkali memanggil satu sama lain dengan menyebutkan nama lengkap mereka. Lucu, ya..

4 bintang untuk buku ini. Sangat bisa dinikmati.
Profile Image for Annas Jiwa Pratama.
126 reviews7 followers
Read
January 3, 2021
Tidak salah mengawali tahun ini dengan Lusifer! Lusifer!

Tema cerita ini klasik. Agama yang membuat orang-orang fanatik dan penuh ketidak-mampuan dalam menjawab persoalan-persoalan hidup, serta anak-anak muda yang akhirnya menjadi atau dijadikan korban dari doktrin. Cerita digambarkan melalui sudut pandang Markus Yonatan, pemuda di barisan doa yang termasuk dari 14 orang yang sedang mencoba mengusir iblis-iblis, termasuk Lusifer, dari seorang perempuan remaja.

Kesan pertama yang saya dapat ketika membaca: Kak Venerdi Handoyo ini pasti sangat bersenang-senang waktu sedang menulis. Kalimat-kalimatnya sangat witty dan (buat saya sih) jenaka. Rasanya sedang ada di benak seorang yang melihat hidup yang absurd dan keras ini dengan humor yang sehat. Mungkin, temperamen yang ”haha-ya-udah-deh” ini memang dibutuhkan untuk menggambarkan cerita Lusifer! Lusifer! ini secara tulus, tanpa terkesan sok anti-agama biar edgy atau terlalu larut dalam mood yang depresif.

Catatan lainnya
Tidak seperti Markus yang tinggal di keluarga dan lingkungan Kristen Karismatik yang konservatif, keluarga saya mengajak saya solat tarawih saja boro-boro. Ke masjid hanya kalau solat Jumat atau Idul Fitri dan Idul Adha. Atau kalau ada yang meninggal. Kehidupan saya jauh dari agama yang terlalu doktriner. Mungkin ini membuat saya kurang bisa mengapresiasi seberapa sulit hidup di lingkungan seperti itu.

Ini kali pertama saya terlibat dalam sebuah pelepasan, jadi yang saya lakukan hanyalah menyerukan “Dalam nama Yesus!” berulang kali. Seruan itu konon punya banyak khasiat, mulai dari menggenjot iman sendiri, melindungi diri dan orang lain dari serangan roh jahat, memproklamirkan kuasa Tuhan, sampai memunculkan mukjizat. Semacam gabungan antara “Semangat!”, “Jangan berani macam-macam!”, dan “Simsalabim!”

Profile Image for A.A. Muizz.
224 reviews21 followers
December 24, 2019
Kali pertama membaca karya @venerdihandoyo dan kali pertama membaca buku terbitan POST Press (@post_santa), menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan dan mengesankan. Bukan hanya konten bukunya yang sangat menarik, tetapi fisik bukunya yang oke banget.⁣⁣
⁣⁣
Novela ini bercerita tentang pergulatan batin Markus Yonantan yang dikelilingi orang-orang yang sangat fanatik dalam kehidupan beragamanya.⁣⁣
⁣⁣
Cerita dimulai ketika empat belas anggota Barisan Pendoa melakukan ritual pelepasan Mawarsaron—gadis berusia 16 tahun—yang diyakini dirasuki Lusifer sang iblis segala iblis. Namun, Markus Yonatan yang merupakan salah satu anggota Barisan Pendoa malam itu, mempunyai sebuah misi lain untuk menyelamatkan Mawarsaron. Lalu, diceritakanlah latar belakang dan perjalanan spiritual Markus Yonatan.⁣⁣
⁣⁣
Selain penceritaan yang menarik dan membuat tidak mau berhenti membacanya, novela setebal 126 hlm. ini memotret keriuhan dan histeria kehidupan beragama yang sampai membuat kehilangan akal sehat dan melihat semuanya hanya dari sudut pandangnya dan menolak keras-keras sudut pandang lain.⁣⁣
⁣⁣
Tadinya, saya merasa khawatir akan kesulitan mencerna ceritanya mengingat ia bersetting kehidupan gereja Kristen yang sangat kental. Namun, ternyata saya menikmatinya tanpa sedikit pun mengerutkan kening. Saya sungguh menikmatinya dan menemukan banyak bahan untuk merefleksikan dan mengintrospkesi diri.⁣⁣
⁣⁣
🔖⁣⁣
"Apa menurut Kak SY terlalu sibuk melayani Tuhan juga tidak baik?"⁣⁣
"Kalau segala kesibukan itu tidak mengandung kebenaran, gagal memberikan rasa damai sejahtera, dan tidak menumbuhkan sukacita, maka Kerajaan Allah masih jauh dari kita."⁣⁣
—hlm. 57⁣⁣
⁣⁣
🔖⁣⁣
"Kalau iman membuat kita merasa tidak bercacat cela maka kita sudah jauh tersesat."⁣⁣
—hlm. 61⁣⁣
⁣⁣
Profile Image for DEE.
254 reviews3 followers
March 12, 2022
Aku suka isu yang diangkat. Suka juga dengan gaya penceritaannya.

Umm apa ya, isu yang diangkat juga cukup relevan dengan kondisi gereja saat ini–mengingat sekarang ini semakin banyak aliran gereja (terutama aliran gereja kristen protestan).

Keselamatan yang "ditawarkan" gereja diibaratkan dengan jual beli asuransi. Kasarnya, "Mau diselamatkan gak, lu? Sini gabung gereja kami, kami menawarkan keselamatan kepada Anda-Anda sekalian. Cukup bergabung dan ikuti 'aturan mainnya'." Jadi yang gak ikuti 'aturan main' dianggap nyeleneh, membangkang, dan bahkan kemasukan roh jahat.

Apa lagi yang kusuka ya? Oh iya, meskipun hal-hal yang dilakukan orang-orang di buku ini salah, penulisnya enggak serta merta menghakimi dengan kalimat verbal seperti cacian atau makian. Pembaca disuruh mikir sendiri, jadi sebenarnya yang kayak gini tuh salah atau benar, sih? Wajar atau enggak, sih?

Mawarsaron, I'm sorry that happens to you sweetheart. 💔💔

4.5 / 5
Profile Image for Ddnreads.
403 reviews6 followers
June 29, 2024
INI BAGUS. Jadi ngerti sirkel dalem gereja kyk apa. Conservative Christian is not a topic I stumble upon often and I enjoy the novelty.

Jarang bgt ada novel bahasa Indonesia yang tokoh utamanya Kristen konservatif dan nyeritain keadaan gereja + berada dalam keluarga yang sangat religius. And I do like the writing. Jadi belajar banyak hal baru tanpa ngerasa digurui.

Buku ini tipis. Bisa diselesaikan dalam sekali duduk. But there are LAYERS of topics to discuss. Ceritanya sebenernya slice of life, masalah ortu + anak, pergolakan batin, hubungan sosial masyarakat dan bagaimana agama ikut campur dalam hal2 tersebut. Kritik sosialnya oke bgt terutama yang menyangkut fanatisme dalam sebuah agama.

Highly recommended 🩷🩷🩷
Profile Image for Deago.
249 reviews21 followers
May 31, 2020
Bercerita dari sudut pandang remaja dalam dunia Kristen Karismatik yang terkadang menggelitik namun dituturkan apa adanya.




Singkat, unik, dan berani...

Mungkin terkadang mabuk agama membutakan nurani.

3.5/5
Profile Image for Mia Prasetya.
403 reviews267 followers
October 13, 2019
5 bintang! Buku yang membuat saya membuka goodreads kembali setelah lebih dari 6 bulan.

Review menyusul!
Profile Image for Icha.
61 reviews39 followers
December 30, 2019
Ga bisa jauh-jauh dari buku ini. Sedang istirahat pun kepikiran, akhirnya dituntaskan juga!!
Superb. Meledak dan juga menyiksa hati pas endingnya.
Profile Image for Mr. Higan.
22 reviews
December 11, 2025
mengangkat isu yang menarik mengenai fanatisme beragama dalam lingkungan keluarga sehingga mematikan akal, dan empati yang mana menciptakan jarak dalam hubungan orangtua dan anak, menganggap semua hal yang berhubungan dengan duniawi itu jahat dan berasal dari iblis.

isu yang banyak terjadi di sekitar kita tidak terlepas dari agama apapun, fanatisme beragama atau ketika mereka tidak dapat membedakan antara fanatisme dan ketaatan beragama akan menimbulkan kesenjangan dalam norma karena selalu mengelompokkan sesuatu dalam hal yang mutlak benar dan mutlak salah. dan selama itu tidak sesuai dengan kebenaran yang mereka yakini maka semua perbuatan itu berasal dari iblis.

penulis berhasil mengajak kita pembaca masuk kedalam cerita sebagai tokoh yang hidup di keluarga dan lingkungan fanatisme beragama, perjalanan spiritual untuk menjadi umat beragama dan permasalahan yang dihadapinya dalam perjalanan menjadi umat beragama.

3,8/5
Profile Image for Nike Andaru.
1,642 reviews111 followers
March 12, 2023
19 - 2023

Saya harus bilang bahwa memang ini buku bagus.
Saya nikmati semua cerita Markus dalam buku ini. Ceritanya tentang keresahannya sebagai jemaat, tentang bagaimana semua orang-orang di sekitarnya, tentang agama yang dianut, tentang hati nurani.
Displaying 1 - 30 of 187 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.