Bagi orang-orang kebanyakan, usia dua puluh lima berarti sudah punya pekerjaan tetap dengan gaji lumayan. Bisa ngopi siang-siang di Starbuck tanpa mikirin besok makan sama apa meski punya cicilan mobil sama KPR. Punya pasangan yang bakal mengisi rumah impian yang siap sedia memasakkan makan malam yang lezat, dan sosok yang bakal mengisi jok sebelah sambil mendengarkan curhatan-curhatan mumet selama di kantor.
Iya, itu curhatannya orang-orang.
Sebenarnya gue juga orang, tapi sayangnya belum mengarah ke sana. Boro-boro. Status di kantor masih pegawai kontrak, rumah masih numpang di orangtua, baru saja diputusin sama calon istri minggu lalu gara-gara gue belum semapan yang dibayangkan. Dan sekarang gue sedang berusaha menemukan diri gue dalam menghadapi quarter life crisis di usia sekarang.
Karena enggak ada 4,5 bintang. Ya udah aku genapkan ke atas aja ya jadi 5 bintang. Jadi menurutku begini : Buku yang masuk ke kategori personal literature dengan tagline : sebuah cerita komedi ekonomi ini memiliki cover yang buat aku pribadi sih mengundang banyak tanya. Ada hubungan apakah Haris yang mukanya datar itu dengan anak-anak berseragam SMA, termasuk Dilan. Lalu Spiderman dan Chef Juna. Kalau Tuktuk, dan lainnya yang berkaitan dengan Thailand sih setidaknya ku pernah lihat postingan instagramnya, karena kebetulan jadi salah satu followersnya. Tapi setelah baca semua halamannya sampai tuntas, akhirnya kupaham apa peran para pengisi cover depan. Walaupun ku lebih suka bagian cover belakang yang Harisnya sama Gajah *eh.
Buku dengan cover depan-belakang yang dominan putih dan biru muda, seolah-olah langit ini memiliki 12 bab di dalamnya. Dari mulai bab tentang resolusi, pendidikan, pertemanan, karir, dan percintaan yang semuanya bisa dibilang ada sangkut pautnya dengan perekonomian. Sesuai dengan latar belakang Haris yang seorang Sarjana Ekonomi. Walaupun alasan kenapa dia memilih jurusan ekonominya itu bagiku sungguh menggelitik.
Lewat buku ini, aku bisa merasakan banyak rasa. Dan kurasa kamu pun akan merasakan hal itu saat membacanya. Iya, walaupun tertulis sebagai cerita komedi, saat kamu membaca ini, tak hanya tawa saja yang akan datang. Lebih dari itu, akan ada perasaan turut bersedih, merenung dan termotivasi dengan petualangannya Haris selama seperempat abad. Cocok deh buat dibaca kamu yang mungkin saat ini berada memasuki masa quarter life crisis. Entah itu masalah pekerjaan yang belum tetap, belum mapan, lalu percintaan yang enggak berjalan dengan mulus karena banyak faktor padahal udah ada niatan ke jenjang yang serius, ataupun butuh motivasi untuk mengatur waktu dengan passion.
Secara keseluruhan, menurut saya buku ini udah bisa menghibur dengan baik. Apalagi kalau sedang dibaca orang-orang usia 20-30 tahunan yang hidupnya masih biasa-biasa saja dan merasa nggak kaya-kaya. Saya jamin buku ini akan sangat mewakili perasaaan pembacanya. Buku ini juga bisa jadi oase bagi kalian yang membutuhkan asupan novel komedi yang sekarang udah mulai susah ditemui.
Bagus nih. Pengalaman seorang haris yang hidup selama 1/4 x 100 tahun terangkum di sini. Laki² yang mulai dewasa dan matang, perjalanan kuliah D1 sampai S1, cari beasiswa, kerja, keinginan buat kawin, semuanya terangkum dalam buku ini. 3,5 bintang, saya genapin jadi 4. Bikin lagi ya, Ris. Sukses selalu. Semangat!!!
This entire review has been hidden because of spoilers.