Jump to ratings and reviews
Rate this book

The Journey: From Jakarta to Himalaya

Rate this book
petualangan Gola Gong ketika mengelilingi daratan Asia

243 pages, Paperback

First published April 1, 2008

4 people are currently reading
84 people want to read

About the author

Gola Gong

64 books93 followers
also known as Gol A. Gong.

Heri Hendrayana Harris, atau lebih dikenal dengan nama pena Gola Gong, lahir di Purwakarta,15 Agustus 1963, pernah kuliah di FASA UNPAD Bandung. Setelah diterbitkannya seri petualangan Balada si Roy pada tahun 1989,ia menjadi wartawan tabloid Warta Pramuka(1990-1995) dan tabloid Karina (1994-1995). Ia juga sempat menjadi reporter Freelance di beberapa media massa. Lalu ia terjun ke dunia televisi menjadi penulis skenario, di antaranya komedi situasi Keluarga Van Danoe di RCTI (1993) dan Pondok Indah II di Anteve. Pada tahun 1995 Gola Gong bergabung dengan INDOSIAR terlibat dalam produksi kuis Terserah Anda dan sinetron Remaja 5. Tahun 1996 ia hengkang ke RCTI dan menggarap opera sabun Dua Sisi Mata Uang, (Agustus 2000), komedi situasi Ikhlas (Ramadhan 1997), Papa (Lebaran 2000), komedi superhero Sang Prabu (1999), mega sinetron Tauke Tembakau (tayang 2001), drama misteri Maharani , Pe-De dot kom, dan program spesial Tanah Air.Beberapa novelnya sedang disinetronkan PT.Indika Entertainment, Petualangan si Roy, Mata Elang, sampai Aku Seorang Kapiten. Sinetron yang diangkat dari novel trilogi Islaminya (Pada-Mu Aku Bersimpuh) ditayangkan pada bulan Ramadhan 2001 di RCTI OKE, serta Al Bahri Aku Datang dari Lautan di TV7.Selain menulis novel, puisi-puisinya pernah dimuat di HAI, Republika, Suara Muhammadiyah, tabloid Hikmah, Mitra Desa Bandung, dan Harian Banten. Antologi puisinya bersama Toto ST Radik terkumpul dalam Jejak Tiga, Ode Kampung,dan Bebegig, serta tergabung dalam Antologi Puisi Indonesia 1997 versi Komunitas Sastra Indonesia.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
26 (22%)
4 stars
37 (31%)
3 stars
40 (34%)
2 stars
13 (11%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 19 of 19 reviews
Profile Image for Rahmadiyanti.
Author 15 books175 followers
November 26, 2008
Belakangan cukup banyak bermunculan buku-buku yang berkisah tentang pengalaman seseorang melakukan traveling. Sebut misalnya, The Naked Traveler (Trinity, C Publishing, 2007), Ciao Italia: Catatan Petualangan Empat Musim (Gama Harjono, GagasMedia, 2008), Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1000 Dolar (Marina Silvia K, Gramedia Pustaka Utama, 2008), Independent Traveling (Agung Basuki, Gramedia, 2007), juga Edensor (Andrea Hirata, Bentang Pustaka, 2007) yang merupakan buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi.

Buku-buku tersebut memuat pengalaman penulisnya menjelajah berbagai negeri. Marina Silvia menjelajah 13 negara di benua Eropa. Begitu juga dengan Andrea Hirata. Trinity dengan pengalamannya dari Asia, Eropa, hingga Amerika. Sedangkan Gama Harjono dengan seluk-beluk menyusuri Italia. Agung Basuki lebih heboh lagi, hingga kini dia sudah mengarungi 67 negara, 218 kota, di 5 benua.

Gaya penulisan buku para penulis di atas juga berbeda-beda. Marina dengan gaya refleksi diri dan dialog yang menitikberatkan pada sosial politik, agama, dan keberagaman. Trinity dengan gaya penulisan yang renyah dan segar. Agung dengan tips dan kiat aplikatif, dan Andrea dengan gaya perenungan dan analisis, plus bumbu satir dan humor di beberapa sisi.

Namun, sebelum buku-buku tersebut, Gola Gong, mungkin bisa dibilang termasuk backpacker awal Indonesia yang menuangkan perjalanannya dalam bentuk buku (perlu data lebih valid memang, tapi sepengetahuan saya, buku seperti ini memang belum banyak).

Buku ini merupakan daur ulang dari buku "Perjalanan Asia" (1993). Penulis serial legendaris Balada si Roy yang mengalami cacat (tangan kirinya diamputasi) sejak usia 10 tahun, kala itu menjelajah 8 negara selama 9 bulan. Dimulai dari Malaysia, kemudian Thailand, Laos, Bangladesh, India, Nepal, dan Pakistan. Dari September 1991 hingga Mei 1992.

Dibanding para backpacker masa kini, tentu pengalaman Mas Gong—panggilan akrabnya—backpacking, berbeda dengan para backpacker masa kini. Contoh sederhana, 16 tahun lalu negara-negara ASEAN masih memberlakukan visa. Juga kondisi geografis, sosial dan politik saat itu yang berbeda dengan masa kini, sedikit banyak menjadikan buku ini berbeda dengan buku-buku sejenis.

Yang pernah membaca Perjalanan Asia, tentu tak asing dengan tuturan Mas Gong dalam buku ini. Namun The Journey dibawakan Mas Gong melalui sudut pandang lain, yakni kilas-balik masa kini dan masa lalu. Tak heran, buku ini lebih tebal dan lebih bernuansa kekinian. Dimulai saat Mas Gong tiba-tiba mengalami rasa kaku pada seluruh tubuhnya dan harus dibawa ke UGD (di kemudian hari terdeteksi kalau Mas Gong menderita pengapuran tulang). Kemudian kenangan Mas Gong terhadap sang ayah yang jatuh sakit. Dan dari sanalah, Mas Gong “memulai” kisahnya menyusuri Asia. Dari semangat yang menyala-nyala untuk menjejak Asia, beragam pengalaman pahit-manis-dan mungkin-rasa tak jelas, hingga akhirnya kerinduan untuk kembali ke rumah. Dari berpura-pura gagu di Thailand Utara, kesepian di Nepal, hingga hampir dilecehkan laki-laki homo di Pakistan!

Bukan sekadar pengalaman backpacking penuh tantangan yang kita dapat dari buku ini. Namun, kita seakan “membaca” jejak hidup Mas Gong. Dimana dengan segala keterbatasan dan “kekurangan”nya, Mas Gong mengajari kita arti semangat dan berserah diri. Juga bukan hanya perjalanan geografis, namun perjalanan spiritual--yang pada akhirnya sampai di titik: bahwa ada perjalanan yang lebih hakiki, yang juga harus dipersiapkan lebih dari segalanya. Yakni, perjalanan menuju Allah dan itu perlu bekal. Dan Mas Gong pun menutup dengan: Aku harus membawa bekal untuk melakukan perjalanan kali ini. Aku tahu, bekal kali ini bukan ransel dengan segenap isinya, tapi bekal “apa-apa” yang sudah diperintahkan-Nya….
Profile Image for Fachmi Fachmi.
144 reviews6 followers
September 1, 2018
Beruntung lah gw yang sudah baca buku balada si Roy terlebih dahulu. Karena ketika membaca ini, Imajinasi gw ga terganggu mengenai perjalanan si Roy. Malah dengan buku ini, gw bisa mendapatkan petunjuk sebenarnya dimana saja lokasi petulangan Roy sesungguhnya.

Ya, Gola Gong menceritakan Roy dari pengalaman petulangannya sendiri. Makannya ketika membaca buku ini, gw jadi senyum- senyum sendiri. Karena teringat dengan petualangan Si Roy.

Secara pribadi gw menyukai cara bertutur dari Gola Gong. Cerita dari setiap perjalannya adalah kisah humanis yang belom pernah gw temuin dalam cerita dari buku traveling yang ada. Dan Gola Gong sendiri menginspirasi dan menjadi role mode saya ketika berpetualang.

Ditambah lagi membuat gw sadar, akan sebegitu menariknya membaca buku. Gola Gong atau Roy, berangkat melakukan petualangan dari imajinasinya ketika membaca buku- buku petualangan.
2 reviews
May 29, 2020
Re-write from "Perjalanan Asia"
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Eru.
3 reviews
August 26, 2013
This book is an adventure itself. It tells about a trip attempted by a man who wanted to fulfill his dream on traveling around the world. The way he spilled the adventures on this book, the way he told the tales, the courage he had on when tackling an exhausting trip, the wrongs and tricks he did to get a ‘story’, his feelings toward stuff happened to him, how he dealt with various people he met on his trip (the natives, fellow travelers)—it makes an enchanting story, through and through each pages. Even if his adventure ended more than two decades ago, it is still an enjoyable story to read.

It was also interesting the way he spun his journey with the story. He wrote The Journey on 2007 on a hospital. His father was sick at that time. During the time of this writing too, he himself fell sick. In this book, he told a story about his father—he admired his father, who had been a great ‘teacher of life’ for him; he adored him, and the lost he felt when his father died, the feeling of having to let go—and his strong mother who had been nothing but a sturdy rock, a constant strength for everyone in his family, then, there was his own family: a wife and four lovable kids, and Rumah Dunia. As he told on his blog, The Journey was not only ‘a physical journey’ but also a journey to come back home to God’s arms.

The book isn’t done the travelogue style that goes all chronologically. It has a jumping-timeline, it goes randomly to the past (his journey) and the real time (during the writing of this book), that sometimes it gets confusing. Ah, but it was an enjoyable read. Although, there is one minus point. I found it annoying that the book has one too many typos more than it should have. Typos. Seriously.

More: http://wp.me/pxL7t-aq
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
April 13, 2013
Ini catatan perjalanan Gola Gong ke beberapa negara Asia, yang bisa dibilang bondo nekat. Keluar dari Kalimantan ke Malaysia, pakai sepeda sampai Thailand, lanjut Laos (termasuk ke pedalaman Golden Triangle), terus Bangladesh, Nepal, India sampai Pakistan, sebelum balik lagi ke Jakarta. Semua diceritakan di sela-sela kisah di saat kehilangan sang Ayah dan saat diri Gola Gong sendiri keluar masuk rumah sakit gara-gara pengapuran di tulang belakang.

Sebagai catatan perjalanan --pernah dimuat secara serial di sebuah majalah remaja jaman saya dulu--, ada satu hal yang paling membedakan dengan buku travelling yang pernah (dan masih) menjamur akhir-akhir ini, Gola Gong lebih menceritakan sisi manusia dari tiap kisahnya. Tentang keramahan para penduduk atau kegarangan manusia-manusia yang terlalu lelah mengais rupee. Tentang kondisi sopir bis dan kecekatan para travel agent mencari pelanggan atau budaya yang hampir luntur. Tentang orang-orang yang memberi sedekah, mengundang makan dan menginap sampai gadis-gadis yang menawarkan diri untuk menjadi obyek foto... dan obyek lainnya. Ditambah lagi tempat-tempat yang didatangi lumayan eksotis (baca: aneh!) untuk dijadikan tujuan wisata (ok, jujur saja, siapa sih yang benar-benar berniat berwisata ke Bangladesh? di tahun 92 pula!). Tapi itulah kisah buku ini. Kisah perjalanan seorang Gola Gong. Tempat ia dengan sederhana berbagi cerita dan pengalaman. Menginspirasi.

(sayangnya, perjalanan ini dilakukan tahun 1990-an awal. Saat dolar sulit dibandingkan dengan hitungan saat ini.) :p
Profile Image for Simbahenom.
190 reviews2 followers
March 27, 2012
cerita traveler yang keren. meskipun diselipi kisah pilu di beberapa bagian, tentang penyakit yang menjadi akibat dari sebab kelakuan di masa muda. kisah perjalanan keliling negara-negara asia ini runut diceritakan dari negara yang terdekat, karena memang lebih banyak menggunakan sepeda ataupun tumpangan, jadi seperti sudah ada jalurnya sendiri, walaupun di beberapa bagian ada juga yang menggunakan kereta ataupun pesawat murah.

sayang perjalanan ini sudah terjadi jaman dulu kala, ketika inflasi belum menggempur negeri ini, ketika belum ada isu kenaikan bbm seperti sekarang, sehingga cukup sulit dijadikan patokan untuk perjalanan di masa sekarang. begitupun dengan lokasi, yang tidak diceritakan secara detail, lebih terkesan sambil lalu. sepertinya memang lebih fokus ke proses perjalanannya, bukan ke detail dari wisata di negara tersebut.

yang agak kurang nyaman adalah adanya beberapa salah ketik di sana sini, yah memang sih masih bisa ditoleransi. tapi saya menyukai bagaimana layout halaman buku ini, diselingi foto lokasi, dan diselingi dengan adanya 2 bagian tulisan di satu halaman, kiri-kanan, sementara di bagian lain satu halaman full. cukup menyegarkan.

buku ini cukup direkomendasikan untuk yang menyukai kisah perjalanan yang penuh tantangan, tapi bukan menjadikannya patokan untuk menjadikannya sebagai referensi bepergian..^^
Profile Image for Sukma Mase.
10 reviews
May 24, 2015
Setelah menyusuri rak buku-buku biography orang-orang besar saya kemudian beralih ke rak buku paling belakang Perpustakaan Daerah di kotaku. Disela buku-buku tersebut ada sebuah buku yang tidak begitu tebal bercerita tentang perjalanan seorang Indonesia berkeliling Asia, Gola Gong. Hari itu saya bisa membacanya habis dalam sekali duduk.

Saya sudah mengenal nama Gola Gong dengan buku-buku Balada Si Roy-nya. Karya beliau juga banyak diterbitkan dalam majalah-majalah remaja. Tapi baru kali itu saya menemukan buku non fiksinya. Meskipun banyak orang yang mengadakan perjalanan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, Gola Gong melakukannya dengan sedikit berbeda. Bertualang mengendarai sepeda dengan 'hanya' mengandalkan sebelah tangannya dan uang pas-pasan di kantongnya.

Satu kebiasaan yang ingin juga saya ikuti selama perjalanannya yaitu: menonton film di bioskop negara-negara yang dikunjunginya. Siapa yang menyangka ada negara yang memutar lagu kebangsaannya sebelum film dimulai? Atau orang-orang di suatu negara yang menganggap bahwa menonton film di bioskop adalah kebutuhan hidup?
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
June 20, 2010
#2010-50#

note : jangan baca buku ini berdekatan dengan waktu baca Balada si Roy terutama buku 9,10. nanti akan kebanyakan dejavu. untung saya bacanya berselang lebih dari 10 tahunan..

kebanyakan di sini adalah cerita dasar sebelum dituangkan ke BSR, jurnal perjalanannya sendiri. sesuatu yang muncul sebagai Gong, bukan sebagai Roy. walaupun sama-sama petualang, tapi nafas penceritaannya agak berbeda.
yang menarik mungkin adalah setting cerita di rumah sakit dan perjuangan kekuatan sebagai keluarga yang menjadi latar lokasi penceritaan kisah-kisah ini..
Profile Image for lingga ambarita.
67 reviews10 followers
February 26, 2011
" satu dengan tangan saya, satunya lagi dengan tangan Allah" Kira-kira gitu deh jawaban Gol A Gong saat ditanya bagaimana bisa dia mengelilingi Malaysia Thailand dengan sepeda. Terus lanjut keliling Asia, ke Himalaya. Dengan kondisinya yang tidak sempurna, satu tangan.

Very inspiring, buku yang saya baca dalam rangka bermimpi untuk keliling Indonesia. Hoho.... Keliling Asi, keliling dunia, pokoknya keliling-keliling deh.
Profile Image for Hanaitsi.
73 reviews3 followers
November 10, 2008
cara menceritakan perjalanannya sih datar-datar saja, tidak ada gejolak sama sekali -halah- , kurang melihat perjalanan dari sisi yang berbeda, tapi salut buat gola gong, kapan ya bisa jalan2 "nekat" seperti itu

baru tahu kalo di beberapa negara memutar lagu kebangsaan di awal pemutaran film di bioskop
15 reviews
January 28, 2009
When I was young I use to read his journey on "ANCER" magazines. To remembering those old times I buy this book.
I already admire him by his courage to go to over seas country as back packers and ALONE, but I admire him more after I know his phisical conditions.

Never give up, when there is a will there is way...Gambate..
Profile Image for hayra.
8 reviews5 followers
March 28, 2009
kagum sekali dengan gola gong yang mampu menjelajah sebagian besar negara Asia, mulai dari Malaysia, Thailand, India, Pakistan, Nepal..hanya dengan perbekalan seadanya dan biaya dari hasil menulis cerita travelling..
benar2 backpacker sejati,..

saat ini Gola gong sedang mengalami sakit yang menghambat sebagian besar aktivitasnya..
moga beliau diberikan kesembuhan secepatnya.
aminn..
3 reviews
March 2, 2009
Gola gong, dengan segala keterbatasan mampu menyusuri malaysia, thailang hingga india, nepal dan pakistan
Profile Image for Duniamaya.
15 reviews
September 17, 2010
ini juga bikin pengen jalan2 menyusuri jejak gola gong waktu menuju himalaya
Displaying 1 - 19 of 19 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.