Bagi Asha, terpilih menjadi salah satu wakil SKY Project dalam proyek tender terbatas Revitalisasi Kawasan Kota Tua adalah hal yang dia nanti-nantikan. Selain bergengsi, tender itu juga diikuti oleh perusahaan kompetitor yang ingin dia kalahkan sejak lama. Namun, kenapa dia harus berpasangan dengan Aaron—si player?
Bagi Aaron, mengerjakan proyek Revitalisasi Kawasan Kota Tua merupakan pekerjaan yang sangat sulit karena dia harus bekerja sama dengan Asha, perempuan angkuh yang sempat ditaksirnya. Namun, dia tidak bisa mundur kalau masih mau bekerja di SKY Project.
Sikap Asha yang angkuh dan sikap Aaron yang kekanakan membuat keduanya tidak bisa mengakui bahwa ide mereka sama-sama bagus. Mereka saling menebar jebakan agar gagasannya yang menjadi ide utama proyek. Namun, setelah sepakat mengolaborasi gagasan mereka, Aaron memilih mundur dari proyek dan menghilang tanpa kabar.
Sebenarnya apa kesalahan Asha? Kenapa Aaron sampai memilih untuk menghilang? Apakah mereka akan tetap bisa bekerja sama dan memenangkan proyek tender tersebut? Dan apakah ternyata salah satu dari mereka justru jatuh cinta?
Hey... IT'S GOOD! Baca prolognya, lalu lanjut halaman berikutnya..wah wah wah pokoknya saya langsung suka dari halaman pertama sih ini. Alur ceritanya dan gaya tulisannya membuat saya betah untuk terus-terusan lanjut baca.
Asha dan Aaron bekerja sama dalam proyek tender Revitalisasi suatu kawasan. Saat awal Asha mengetahui kalau ia harus bekerja sama dengan Aaron, ia langsung mengeluh.
"Dari sekian banyak perancang kota di kantor ini, kenapa sih cuma dia (Asha) yang tertarik dan sudah punya pengalaman revitalisasi dan konservasi bangunan serta kawasan bersejarah? Begitu pula dengan arsiteknya, kenapa hanya Aaron yang punya minat dan pengalaman yang sama dengannya? Kebanyakan perancang kota dan arsitek SKY Project lebih suka merancang kawasan maupun bangunan baru karena tidak ribet" - hal 20
Salah satu alasan Asha malas untuk berurusan dengan Aaron adalah fakta bahwa Aaron adalah player/buaya/apalah itu.
"Kalau ada pilihan berpartner dengan buaya atau kamu, aku pasti akan milih buaya for sure. Sama kelakuan, beda kualitas"
Di brainstorming pertama, Asha dan Aaron langsung perang konsep dan ide, namun ngga ada kesepakatan yang bisa dibuat sama sekali. Aaron memilih langsung mundur saat itu juga. Namun, tak semudah itu, karena Mas Ethan selaku CEO Sky Project meyakinkan Aaron bahwa proyek tersebut adalah proyek penting. Sehingga Aaron tak bisa berkutik dan memutuskan akan bekerja sama dengan Asha.
Bagi Aaron, Asha adalah perempuan yang terlalu PD dengan skillnya, sikapnya terlalu intimidatif dan angkuh bak Putri Es. Sedangkan bagi Asha, berdasarkan gosip yang beredar, Aaron adalah pria yang sulit diajak bekerja sama dan kompromi, sering mangkir meeting dan terindikasi flirting dengan klien perempuan.
Setelah pertemuannya dengan Mas Ethan, Aaron benar-benar mencoba bekerja sama dengan Asha dan ternyata berhasil, mereka dapat menemukan kesepakatan. Konsep pertama yang mereka ajukan ke Mas Ethan pun langsung mendapatkan pujian.
Dibalik sikapnya yang angkuh dan strong, Asha memiliki sisi yang berbeda, ia memiliki masalah keluarga yang pelik, dan seorang pria yang ditaksirnya selama 11 tahun tidak bisa ia gapai sama sekali. Kebetulan, Aaron melihat sisi Asha yang berbeda ini. Entah kenapa, Asha memilih mencurahkan segala cerita kepada Aaron. Pelan-pelan, setelah melihat sisi Asha yang lain, Aaron jadi memandang Asha dengan cara yang berbeda. Aaron jatuh cinta pada si Putri Es.
Apakah rasa yang dimiliki Aaron akan disambut oleh Asha? Atau akan bertepuk sebelah tangan? Apakah proyek yang mereka tangani akan sukser besar? Let's see.. *** AHHH.. Ternyata penulis merupakan lulusan teknik arsitektur. Jadi, ngga terlalu sulit ya ketika cerita berputar tentang konsep proyek yang ditangani Asha dan Aaron? :)
Well, seperti yang sudah saya cantumkan di awal, saya suka sama cerita ini! Suka sama Asha dan Aaron. Karakter favorit saya, ya tentu Asha. Dia adalah perempuan dengan karakter yang strong. Uwuw cool!
"Next time kalau ada pilihan berpartner dengan buaya atau kamu, aku pasti akan milih buaya, for sure. Sama kelakuan, beda kualitas."
Metropop kedua yang kubaca setelah 'Resign!'
Walk on Memories memiliki awal cerita yang menarik, 'perang' Asha dan Aaron ini enak diikuti. Sayangnya, bagian ini terasa terlalu pendek. Perangnya terlalu sebentar, belum panas udah adem aja. Di pertengahan cerita agak dingin, cenderung anyep. Untung mulai ada foreshadow konflik keluarga Asha. Cerita baru benar-benar panas menjelang akhir, begitu interaksi Asha dan Salman muncul. Yang agak 'ganggu' mungkin betapa cepat semua kejadian terjadi di bagian akhir. Perubahan sikap Salman, plot twist, soal Mas Ethan, dll. Btw, jempol untuk plot twist-nya.
Oh, iya. Nemu penggunaan 'tak bergeming' di bab-bab awal dan 'disini'. Lupa halaman berapa.
Secara keseluruhan, aku suka Walk on Memories. Rasanya menyenangkan bisa menyelesaikan satu novel setelah berbulan-bulan nggak pernah kelar baca. Next, False Beat.
"Kalau kamu pengin tahu gimana rasanya jatuh cinta sama orang yang nggak bisa kamu miliki, tanya aku."
3++ Iseng ambil dan baca sekali tidur-tiduran. Menemani siang yang terlalu cerah ini. Aku suka detail arsitektur dan dunia arsitekturnya yang kental tapi lancar dituturkan. Usut usut ternyata kakak penulis kuliah arsi 😆 Kumenikmati gontok-gontokan dua manusia di sini. Keributan Asha dan Ron di bab pembuka menarik. Masalah rancang kota tua yang disampaikan pun renyah dikunyak dan bisa kupahami. Kusuka dan sukses tuk penulisnya 😺😺🤸 70-2019
Menceritakan tentang Asha yang terobsesi untuk memenangkan tender proyek arsitektur, namun untuk ikut dalam tender ini ia harus satu tim dengan Aaron, pria yang paling ia benci di kantornya tapi sekaligus paling ia butuhkan karena hanya Aaron yang bisa bekerjasama dengannya untuk tender ini. Hubungan kerjasama yang awalnya menyebalkan lama-lama berubah bagi keduanya.
Berharap membaca kisah romance yang menggemaskan ternyata itu tidak ada di buku ini. Awalnya aku mengira bahwa buku ini akan mengangkat kisah romance enemies to lovers tapi ternyata bukan itu yang aku temukan di buku ini.
Dibandingkan fokus dengan kisah romance-nya, disini lebih fokus pada pribadi dan karakter dari tokoh-tokoh di buku ini. Bagaimana Asha dan Aaron harus menghadapi masa lalu mereka. Dan aku suka dengan perkembangan karakter yang ditunjukkan disini. Baik Aaron dan Asha memiliki perkembangan karakter yang baik meskipun tetap tokoh Aaron yang paling berkembang.
Kisah yang diangkat mengenai arsitektur ini juga bukan "angin lewat" melainkan memang menjadi cerita utama, sehingga kita akan diajak kenalan dengan dunia arsitektur sedikit demi sedikit. Kita juga bisa melihat cerita ini dari dua sisi yaitu dari Aaron dan Asha, sehingga kita benar-benar tau apa yang dipikirkan oleh kedua tokoh ini. Tapi, memang perpindahan antara tokoh Aaron dan Asha awalnya akan membingungkan karena tidak diberi tanda yang jelas, tapi karena perbedaan gaya bicara yang digunakan akhirnya lama-lama bisa membedakan dengan mudah POV siapa yang sedang kita baca.
Apakah ada romance-nya? bisa dibilang iya, meskipun tidak bisa melihat yang menggemaskan
Menurutku buku ini lebih memfokuskan pada perubahan tokohnya dibandingkan kisah romance-nya itu sendiri
Proyek Revitalisasi Kota Tua adalah segalanya bagi Asha. Dia sangat menanti-nantikan momen ini. Tapi begitu tahu bahwa Aaron dipilih untuk menjadi partnernya dalam proyek ini, membuat kebahagiaan Asha sedikit pudar. Di sisi lain, Aaron juga tidak begitu senang dipasangkan dengan Asha dalam proyek besar ini. Perempuan angkuh dan arogan, yang pernah menggagalkan aksinya dengan gadis incaran di toilet tak terpakai itu, sangat sulit diajak kerjasama. Namun atasan mereka memaksa mereka harus bersama-sama menggarap proyek tersebut.
Selama menggarap proyek, sedikit demi sedikit ketegangan antara Asha dan Aaron mulai mencair. Setidaknya mereka bisa mulai sejalan mengeluarkan ide dan kerja keras mereka, sehingga proyek itu diterima dengan baik oleh atasan mereka. Kedekatan mereka membuat Aaron mulai melihat Asha dari sudut pandang berbeda, dan tanpa sadar dia mulai menyukai gadis itu. Masalahnya Asha menyukai Salman, seorang arsitek dari kantor saingan mereka. Aaron jadi cemburu, karena pusat perhatian dan kehidupan Asha hanya pada Salman.
Novel ini menjadi novel kedua dari penulis yang saya baca. Pada bagian kata pengantar, penulis menyebutkan bahwa tantangan menuliskan "novel dewasa" merupakan hal yang baru dan berusaha dijawabnya lewat novel ini. Saya rasa penulis berhasil. Karakter Aaron yang player, dan interaksi antara Aaron dan Asha lumayan merepresentasikan tantangan tersebut. Porsinya pas dan tidak berlebihan. Soal unsur arsitektur dalam novel ini rasanya sudah jadi makanan sehari-hari buat penulis yang memang memiliki latar belakang pendidikan dari Teknik Arsitektur.
baru zaja menyelesaikan buku eenee menjelang siang. telat sarapan gegara ni buku wey, jadinya ngebrunch deyh eym.
novel WoM nyeritain novel metropop berisi asha dan aaron. duo A ini kerjaannya mirip tom & jerry alias berantem dan adu mulut teroz (yakale adu otot, asha ude dismekdon duluan ama aaron kalo iyaaa).
sebelumnya ay sudah baca tuh "false beat", dan ay suka tulisan tante vie asano ini. makanya baca lagi deh si "wom" ini. dan ay suka binggo. yg paling gw demen sih latar dunia arsi yang ocki-dockie. dilalahnya, ternyata tante vie ini ya memvang lulusan arsyiii neyyy, pantez mantep meOng.
asha tu tipikal ciwi yang ga kelemarkelemer gitu de; dia punya tujuan dan visi di kantornya. pokonya dia tipe yg tau mau jadi apa setelah menduduki sbuah karir. ya gitu deeeyh pokokna. sementara itu si aaron kwok ini tipe player ngehe yg kdg suka ngampangin kerjaan. seru si bacanya. mengalir. cuma kurang panjang versi panaznya nih tante vie... :p
tapi ya, ay sbenernya nga terlalu puaz dg sikap aaron di akhir-akhir. ya paham siii dia jadi bucinnya asha ye kan, tapi ya gimana gityu. tapi mengingat asha emg nyeremin ya kayanya wajar2 sahaja.
dan ay gademen sama si salman. ih apaan sih. geje amat mau kumakan dia.
Cuy bagus cuy ternyata wkwk Ini buku kedua yg gue baca setelah False Beat dan lsg berasa ciri khasnya Penuh kejutan dan cukup bikin kaget Ceritanya juga cukup bikin betah sih dan terasa cukup aja dgn halaman segini Trivia ttg dunia arsitekturnya juga cukup lah, walaupun beres baca jadi ga lsg jadi ahli gitu sih 😂😂 Cumaaa, ini kok ajakan makan malam si Asha ke Aaron kayak dilupain aja ya? Kok gak diulik dikit gtu, kesannya jadi kayak kelupaan aja gtu Overall, this book is above my expectations
Wow. Kirain bakal biasa aja dan ga meninggalkan kesan apa-apa setelah selesai baca ini. Ternyata boleh juga.
Suka! Tema arsitektur yg dibahas penulis juga bukan sekadar tempelan doang.
Kekurangannya menurut gue cuma: menuju ending agak terburu-buru (menurut gue loh ya tapii ini). Sama kurang panjang nih novelnya huahahaha soalnya nagih bener.
This is the first book by Vie Asano that I read even though I've heard about her a lot. I read her introduction and was genuinely amazed by how ready she was to challenge herself writing different genres that were out of her comfort zone, including this one.
The good thing about this book is the details about architect and historical site restoration stuff that became the foundation of the story all along. When I opened her goodreads bio, turned out she had a major in architecture. No wonder she could pull it off. But honestly, I am a dumbass, so for her to explain detailed architectural shit and able to make me understand what she was saying (and what the characters were arguing) was an achievement, lmao.
As much as I appreciated her willingness to take on writing challenges, I feel like this book was quite... lukewarm. When I finished reading it, I didn't feel particular attachment to any of the MCs and the plot was not interesting enough to make me feel anything.
After digesting the whole story for a while (and reading some insights from my friend who buddy-read this with me), I realized that the romance in this book was very bland. Both love triangle and incest trope were not executed well enough. There was no chemistry between Aaron and Asha. I liked their playful banters, but their relationship was better off as good friends. And even though at the beginning we knew Asha was pining over Salman, we just didn't see enough Salman or know enough about how awesome Salman was (there's more telling than showing for Salman scenes) to care about him. The whole book, I spent more time seeing Asha pining over Salman that when the ending arrived, I just didn't believe Asha actually cared for Aaron enough to start a relationship with him.
I think I would believe it more if at 1/3 of the book Asha was pining over Salman and got angsty about it, then at 2/3 Aaron's role was focused more on "saving" the damsel in distress, and then we can focus on the relationship development between Asha-Aaron that would lead to a more believable ending.
The plot twist was also... too sudden. There was not enough foreshadowing to lead to that moment (although I just knew instantly who the rat was when the topic was brought up cz... who else? Lol). I also don't think it was necessary for Stephanie and Ethan to be developed that way. They could just be mere business rivals.
In terms of delivery, the writing style is neat and light. There are a lot of memorable, clever dialogues. Unfortunately, there are a few incorrect English phrases that got my grammar-nazi soul ticked off a little: 1. Can't help -> can't help it 2. To be truth -> to be honest 3. Kinda bored -> kinda boring 4. You should proud -> you should be proud 5. Apologize accepted -> apology (/-ies) accepted
It was her editor's fault, I think, but still.... I can turn a blind eye on grammatical mistakes on long, complex English sentences since English is not the author's nor the editor's first language. But to make mistakes on simple, common English phrases is a bit disappointing.
Overall, I rate it 3 stars because it is not a bad book. It's just lukewarm and a bit dull to my liking. I still want to read more of her books, though. Preferably the genre she's particularly confident about.
“Jatuh cinta pada seseorang yang tidak bisa dimiliki bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, melainkan sesuatu yang harus diatasi.”
Selesai baca dalam waktu seharian. Novel ini menyelamatkanku dari fase reading slump. Ya.. selama sebulan ini aku kehilangan mood baca. Sempet baca ‘Once Upon a Time in St.Petersbug’-nya Bey Tobing, tapi dnf. Akhirnya di akhir bulan aku coba baca novel karya Mbak Vie Asano, dan selesaiii...
Bercerita tentang Asha yang sulit menerima tentang masa lalu kedua ortunya. Juga ambisi Asha yang ingin terlihat lebih baik dan mengalahkan seorang Salman, yang notabene adalah saudaranya sendiri yang dia idolakan dan dia cintai—karena pada awalnya Asha tidak tahu kalau Salman adalah saudaranya.
Lalu juga bercerita tentang Aaroon, si playboy yang memiliki karier bagus. Yang akhirnya takluk dengan seorang Asha.
Jangan kira kalau novel ini isinya banyak tentang kisah romansanya. Penulis lebih cenderung fokus pada perkembangan diri si tokoh dalam kariernya dan bagaimana si tokoh bisa menerima masa lalunya.
Buatku pribadi, aku nggak kecewa walau penulis tidak menonjolkan kisah romansanya. Aku tetep bisa menikmati. Hanya saja menurutku buku ini kurang panjang. Penyelesaian konfliknya terlalu cepat. But, it's okay lha...
Gaya berceritanya menarik, apalagi di awal udah terbuka sedikit clue yang bikin penasaran. Dan ya memang seru aja ngikutinnya. Tentang dunia arsiteknya pun detail, jadi nambah pengetahuan.
Aku suka sama Aaron minus sikap playboy celup sanasini-nya, dia manis dan dewasa, meski agak keras kepala tapi ya karena emang masalalu yg buruk membentuk dia begitu. Asha, sikapnya yang dingin dan tangguh emang bikin jiper orang2 yang dekat dengannya. Dan yang terakhir Salman sikapnya yg easy going jg kalem bikin aura dia terpancar begitu aja. Suka sih sama karakter mereka ini, realistis. Konsisten jg dr awal sampe akhir.
Gaya bahasanya ringan dan mengalir, memakai sudut pandang orang ketiga ini perasaan tokohnya bikin baper. Apalagi terkuak tentang apa yang terjadi sama mereka. Nyess aja gitu 🤧🤧
Interaksi antartokohnya seruuu banget! Chemsitrynya pun feelnya berasa.
Dan untuk konflik emang lebih ke konflik batin ya, tentang masa lalu yang emang susah untuk diajak berdamai. Romansa cintanya pas, aku suka pas menuju ending gitu. Eksekusi konfliknya apik. Endingnya sukaaaa ❤.
Setelah aku suka sekali dengan False Beat, buku ini lumayan juga. Tulisan kak Vie selalu enak dibaca. Deskripsi tentang arsitekturnya juga ngga bikin aku sebagai orang awam menjlimet hahaha aku suka ada narasi-narasi lucunya yang bikin geli dan ngakak. Gara-gara Aaron tentunya
“kalau kamu pengen tahu gimana rasanya jatuh cinta sama orang yang nggak bisa kamu miliki, tanya aku.” - Asha 🥺 sepenggal kalimat favorit karna aku pun tau rasanya : )
dikemas dengan cerita yang ringan, tapi tetep “ngena” dengan plot twist yang nggak ketebak. love it!
Seru...berkutat dengan dunia arsitektur dan perencanaan kota, disertai dengan offfice romance yang tidak biasa dan sebuah obsesi serta konflik keluarga yang rumit.
"Dear satans, ke mana kalian saat gue perlu tumbal sebagai alasan untuk berbuat khilaf?" ~ Aaron Kyle . QOTD : Apa Bentuk Ke Bucin-an terhebat yang pernah kalian lakukan? . Ini adalah novel metropop karangan Kak @vieasano yang saya baca. Dibandingkan pendahulunya-False Beat, konflik yang ditawarkan "Walk on Memories" lebih dewasa. Tapi keduanya mengangkat family issue yang ngaruh banget ke tokoh-tokoh utamanya. Masalahnya beda, tapi tetap sama-sama bikin nyesek 😭 . Seperti saya tulis di postingan sebelumnya, sebenarnya masalah yang memicu konflik di novel ini sangat ruwet. Namun Kak Vie piawai meramunya seolah eksekusinya "sederhana". Nah, yang bikin seru penyelesaian konfliknya itu dibarengin sama plot twist yang cukup bikin terkejut untuk ukuran novel romance. Saran saya jangan remehkan karakter sekecil apapun di novel ini 😄 . Tentang dunia arsitektur yang diangkat tak perlu diragukan lagi. Keliatan banget kalau penulisnya benar-benar pernah berkecimpung dalam bidang ini. Penggunaan istilah-istilahnya didukung catatan kaki juga. Jadi pembaca awam kayak saya tetap bisa paham. . Tadinya saya berharap kalau novel ini ada dalam satu universe juga dengan novel False Beat 🙈. Kan lagi tren gitu, novel romance yang tokoh-tokohnya saling terkait 😄. Kak Vie gak pengen universe sendiri juga nih? (Pasti @y0nea , kak @dumzcharming @windaadysty senang banget kalau Salman, Aaron dan Kevin ternyata saling kenal 😂) . Dan omong-omong soal karakter, banyak banget tokoh-tokoh di novel ini yang kayaknya menarik kalau dibikinkan cerita tersendiri. Terutama Salman 😄, eh tapi Ethan dan Stephany juga 🙈 . My Rating : 3.5 ⭐ (Recommended) Romance : 4 ❤ Sensualitas : 3 💋 (walaupun tidak terlalu eksplisit, tapi tema ceritanya memang ditujukan untul pembaca dewasa. Pastikan kamu udah berumur 17 tahun sebelum membacanya. Adegan kipas-kipasnya udah pas, nggak vulgar tapi juga nggak terlalu malu-malu) . (Keterangan buku di komentar) . Berikutnya booktour novel ini akan dilanjutkan oleh @windaadysty , tapi sebelumnya besok akan ada kejutan buat teman-teman ☺ . #walkonmemories #novelwalkonmemories #vieasano #reviewalkonmemories
Re-read lagi karena hampir lupa sama isinya dan senang tak terkira, akhirnya ketemu romansa dewasa yang nggak lebay dan minim tarik ulur nggak jelas.
Porsi narasi soal deskripsi pekerjaan memang nggak sedikit, tapi juga nggak bisa dibilang sedikit sampai jadi "shadow job" yang cuma nempel di alur. Porsinya pas. Ditambah alurnya sendiri juga pas aja sih porsinya. Informasinya nggak ada yang jadi info dump. Mari bersorak!
Aku suka story-telling penulis. Mungkin karena terakhir kali baca karya penulis bergenre thriller-misteri yah, baca ini tuh jadi bedaaa. I love her writing style.
Intinya, semua unsur intrinsik dan ekstrinsik cerita tuh nyatu. Pas banget komposisinya. Gulanya lebih dikit, tapi nggak sampai bikin diabetes, kok :D
Kapan, nih, Teh Vie nulis Metropop lagi, ketagihan baca romance bikinanmu :p
***
(29/04/2021)
Asha yang berambisi mengikuti tender harus menahan sabar ketika partnernya, Aaron justru bersikap keras kepala. Dua batu disatukan dalam satu proyek. Memang nggak selalu berjalan mulus, tapi di balik perseteruan mereka ada kisah masa lalu yang bisa membuat keduanya akhirnya menekan ego.
Buku kedua dari Vie Asano yang aku baca. Konsepnya lebih dewasa dari False Beat dan kisahnya juga agak kompleks. Agak karena di False Beat pun konflik─atau plot twistnya─juga biaa dibilang kompleks.
I'll drop 4 stars karena ada emosi yang mengintip dan entah di bagian mana, yang pasti emosiku nggak sampai meledak, atau karena memang alur di cerita ini bak air tenang di danau? Haha, yang pasti metropop ini oke sih, pas buat mengisi waktu luang.
Yash! Kelar baca sekali tiduran! Lagi butuh bacaan ringan? Ambil buku ini. Menurutku bukunya page turner banget. Tapi sayangnya banyak miss di bagian depan.
Mengambil setting dunia arsitektur dan proyek di kota tua tentu saja menarik perhatianku, mengingat beberapa kali pernah ke sana.
Alur maju-flashback. Pov 3 gantian Asha dan Aaron.
Dibandingkan False Beat, Walk on Memories ini kejutannya gak bikin aku nangis kejer kehabisan tissue. Banyak timbul tanda tanya karena tokohnya banyak tapi perannya kurang keliatan. Sayang banget konflik Asha-Aaron-Salman kurang banyak dieksplor. Semoga besok-besok Teh Vie dapat ilham buat novel tentang Mas Salman. Uhuk.
Pokoknya makasih buat Teh Vie yang bikin aku batal BBB 3 minggu dan baca novel ini dalam 3 jam. Sangat recommended buat yang butuh bacaan ringan tapi memorable. Ciye.
Tergoda untuk DNF di halaman 70an, tapi aku pantang DNF kecuali bukunya nggak tertolong. Walk on Memories ini premisnya menjanjikan banget, tapi sayang penokohan dan eksekusi konfliknya begitu saja. Aku sudah baca karya-karya penulis sebelumnya, terutama yang urban thriller di Noura itu bagus. Mungkin genre metropop kurang cocok yaa, jatuhnya aku lebih sering mengerutkan dahi waktu baca bagian ++ 🤣
Suka banget sama penokohan yang kuat sejak awal. Selain diperlihatkan apa kekuatan masing-masing tokoh, kita juga diajak untuk menyelami sisi lemah mereka. Menurutku, plotnya halus banget, ngalir, meski di akhir agak terkesan terburu-buru sih (IMO). Konflik yang diangkat cukup klasik, tentang cinta segitiga. Tapi Mbak Vie berhasil memasukkan unsur yang lebih detail tentang tokoh dan backstory mereka masing-masing sehingga Walk on Memories jadi terasa bukan sekadar cinta segitiga belaka. Ada obsesi, cinta bertepuk sebelah tangan, rasa bersalah, penyesalan, semuanya campur aduk dan berhasil membuatku ikut take a deep sigh tiap Asha dan Aaron mengutarakan sisi kelamnya. Yang disayangkan, tokoh Salman tidak terlalu digali di awal. Memang sih, center ceritanya bukan dia. Tapi ternyata menjelang akhir dia juga memegang peran penting. Atau mungkin itu taktik penulis untuk ngasih plot twist ya? Hmm. Di samping itu, aku juga kagum sama detail soal arsitektur yang ada di novel ini. Belakangan baru aku tahu kalau ternyata penulisnya emang lulusan arsitektur. Pantesan kerasa banget pahamnya. Dan salut juga karena istilah-istilah yang dimasukkan ke novel bisa dijelaskan dengan singkat padat dan jelas. Selain itu, yang paling penting, profesi para tokoh utama benar-benar berbaur dengan konflik sehingga kesan hidupnya makin makin deh 😊
“Bunyi tamparan itu bergema kencang saking kerasnya. Seakan belum cukup, Asha menginjak kaki orang itu dengan sepenuh hati.” – 84
Aku suka banget pas bagian ini hahha. Terasa sangat hidup gitu, karakter Asha dan responnya yang dia banget ketika ada orang mencurigakan yang mendekatinya. Aku juga banyak menandai beberapa halaman karena terinspirasi oleh cara penulis nge-show perasaan tokoh-tokohnya. Terakhir, aku juga mau kasih apresiasi ke desain covernya yang cantik banget. Jujur, awal berminat beli dan baca buku ini karena covernya yang cantik.
“Kalau kamu pengin tahu gimana rasanya jatuh cinta sama orang yang nggak bisa kamu miliki, tanya aku.” - Asha, salah satu ucapannya yang asli dalem banget.
Konflik dari novel ini seru, asyik dan ringan. Ada persaingan kerja, ambisi konflik keluarga dan asmaranya tipis-tipis. Lebih banyak menceritakan tentang Asha-Aron-Salman yang bersaing dalam membuat perancangan proyek arsitektur rancang kota tua.
Penggambarannya keren, apalagi bagi aku yang awam banget soal desain arsitek itu gimana? Terasa pas dan mudah dipahami nggak pakai bahasa yang sulit, serta ada beberapa catatan kaki yang jadi membantu pembaca memahami istilah asing per-desainan tata letak atau rancang bangun deh.
Asha, arsitek di SKY Projek, cantik, elegan, dingin, auranya begitu mengintimidasi yang ternyata begitu terobsesi dengan Salman–Arsitek di CBX Design, sosok laki-laki yang sejujurnya sudah dia stalking sejak Asha tahu siapa Salman, sejak itu pula dia ingin bisa mengalahkannya, itu harapan Asha.
Aron–partner kerja Asha, lelaki tampan yang adalah seorang player meskipun dia tetap totalitas dan proporsional bila menyangkut pekerjaan. Namun, sejak harus kerja bareng Asha buat ikut proyek tender bersaing dengan DBX Design, dan terpesona dengan Asha. Meskipun begitu, cara berpikir mereka akan rancangan kota selalu berakhir alot, keduanya jadi batu kalau disatukan di ruangan yang sama. Aku awalnya nggak tahu kalau pada akhirnya ada plot twist yang here we go Aku suka sikap manis Aron, kadang bisa sangat kekanakan dan dalam sekejap sikapnya bisa lebih dewasa dari Asha. Keduanya memiliki masa lalu kelam, dan masa lalu membuat mereka kuat. Dan ini tuh kek semacam open ending mungkin ya. Meski tahu akhirnya, tapi rasanya lebih nyaman kalau penulis bisa merealisasikan akhir yang bikin melt. So, kalian mesti baca kalau suka dengan tema arsitek. Rekomended serta bacaan yang ringan.
Ini kali pertama aku baca buku dari Vie Asano. Waktu baca Memories of 'Walk on Memories", aku baru tahu kalau penulis selalu berusaha untuk keluar dari comfort zone dan tertantang untuk menulis hal berbeda di setiap naskahnya. I mean, wow. so great of you. Usaha penulis patut diacungi dua jempol karena comfort zone might be good, but it won't take you anywhere. Not when you want to go higher and further.
Untuk cerita ini sendiri, aku suka. And again, untuk pertama kalinya di buku ini, penulis ditantang untuk menjangkau segmen pembaca dewasa. Dan bagiku untuk ukuran pemula, penulis cukup berhasil melakukannya. It was hot, sepanas cuaca diluar rumah :D
"Aku jadi tahu harus bilang apa ke Mas Ethan. Next time kalau ada pilihan berpartner dengan buaya atau kamu, aku pasti akan milih buaya - for sure. Sama kelakuan, beda kualitas."
Aku suka dengan ceritanya. I mean, interaksi Asha dan Aaron yang merupakan rekan kerja itu lucu dan menggemaskan. Aaron tipe cowok playboy yang suka menyebar pesona ke setiap wanita yang dilihatnya di kantor. Sementara Asha tipe cewek yang susah ditakhlukkan dan Aaron merasa tertantang buat menakhlukkan cewek itu. Oleh bos mereka, Asha dan Aaron harus kerjasama bareng. Keduanya sama - sama nggak mau tapi nggak bisa menolak karena tawaran yang cukup menggiurkan kalau proyek yang diberikan ke mereka rampung.
Karakter Aaron si kocak parah. Nggak tahan lihat cewek cantik dan sexy, tapi begitu ketemu cowok ganteng eh doi nggak tahan mau ngajak minum chatime bareng LOL. Secara keseluruhan, nggak ada yang mengusik mataku waktu baca buku ini. Cuma mungkin endingnya terkesan terlalu tergesa - gesa untuk diselesaikan, imho ya. Tapi tetap worth to read :)
Tertarik beli setelah baca blurb yang memuat bidang arsitektur beserta tetek bengeknya, saya kira novel ini akan menyajikan alur office romance yang sensasional. Disajikan dengan sudut pandang orang ketiga, saya hampir enggak bisa bedain mana voice Aaron dan Asha. Untuk karakternya Aaron juga... terlalu bersemangat. Female lead digambarkan over power sampai Aaron yang notabene berengsek langsung tunduk.
Beberapa bab di muka, saya sempat mengira cerita ini tentang tobatnya Aaron karena kehadiran Asha. Makin ke belakang, eh ternyata seputar CLBK-nya Asha toh. Geez! Aaron berasa second lead karena spotlight yang bagus-bagus buat Salman semua. Kayaknya penulis terlalu sayang sama Salman sampai bikin ini makhluk enggak bercela.
Lanjut ke bab berikutnya, saya hampir enggak tahu yang mau disampaikan penulis lewat cerita ini sebenarnya apa. Tokohnya juga hampir sempurna, nyaris enggak relate kalau mereka ini manusia. Belum lagi dengan konflik Papa Asha, si tersangka malah enggak muncul sama sekali hingga akhir bab padahal akar dari segala masalah Asha dan Salman adalah beliau. Sayang sekali, ini yang membuat pendaratan konflik terkesan datar meski jalan menuju ledakannya bagus. Like... selesai gitu aja? Serius, nih?
Terlepas dari kekurangan di atas, novel ini termasuk bacaan bagus untuk mengisi waktu luang. Ada banyak hal-hal ribet--maksudnya tentang arsitektur hehe--yang bisa membuka pengetahuan baru. Pembaca jadi tahu bangun gedung itu enggak asal bangun. Bikin desainnya aja butuh ngeden, jumpalitan, sampai kabur-kaburan kayak Aaron. Kita juga jadi paham beberapa intrik dalam dunia kerja yang jauh dari kata mulus biarpun kelihatannya sebaliknya. Good job buat penulisnya!
Bacaan chicklit yang ringan, well-written, dan bisa diselesaikan dalam waktu satu hari.
Awalnya saya kurang suka dengan tokoh Asha, karena dia mencitrakan diri sebagai sebagai sosok girlboss karismatik tanpa cela. Rasanya dia selalu memakai topeng sosok yang serbasempurna. Topeng itu runtuh ketika Asha bertemu Salman, kakak seayah yang dia kagumi namun tak pernah dikenalkan sebagai keluarga.
Kemudian ada Aaron, rekan satu tim Asha yang seorang player dan hedonistik. Pernah naksir Asha, namun tidak suka dengan pembawaannya. Sempat terjadi adu mulut dan saling mengerjai, tapi lantas bisa bekerja sama. Aaron yang cukup peka dan kepo, akhirnya mengetahui rahasia Asha di balik topeng itu.
Romansa antara dua tokoh utama ini memang bukan tipe yang magnetis dan melankolis, karena Asha sendiri sifatnya jaim perfeksionis dan Aaron yang berisik dan kadang kekanak-kanakan. Sebagian ulasan bilang bahwa chemistry mereka lebih cocok sebagai sahabat daripada kekasih, tapi menurut saya, di dunia nyata ada juga model pasangan kayak Aaron-Asha. Atmosfernya cenderung lebih fun dan selalu mengupayakan bangkit dari keterpurukan. Jadi, baik Asha dan Aaron ngga pernah lama-lama berkubang dalam rasa nelangsa.
Novel ini bercerita tentang Asha, seorang perancang kota yang dikenal sebagai wanita independen, cantik, dan fashionable. Ia terpaksa bekerja dengan cowok yang tidak disukainya di kantor, Aaron, karena hanya mereka berdua yg cocok untuk mengerjakan project tersebut.
Dalam cerita, kita juga akan bertemu dengan Salman, laki-laki yang dicintai oleh Asha namun tidak bisa dimilikinya karena mereka saudara tiri se-ayah.
Tema yang diangkat novel ini bagus banget sih, tentang dunia arsitektur yang kayaknya baru 3 4 buku yang pernah aku baca bahas secara mendalam tentang ini. Jalan cerita yang coba dikembangkan penulis juga menarik namun aku merasa kurang maksimal. Aku kurang merasakan dilema Asha dalam masalah keluarganya dan rasa cintanya pada Salman. Di buku, kita akan cuma nemuin mungkin 2 3 scene Asha-Salman dan menurut aku bikin ceritanya kurang begitu berkembang. Mengingat buku ini cuma 274 halaman, menurut aku banyak banget adegan yang bisa ditambahin untuk memperkuat jalan cerita. Konflik yang diangkat juga menurut aku kurang mencapai klimaks, kayak adegan puncak pas Salman-Asha hampir berhubungan dan alur di sekitar adegan itu kerasa agak cepat mungkin menurutku (?)
Hubungan Asha-Aaron feel-nya cukup dapet sih, cuma ya itu kalo adegan sama Salmannya lebih diperdalam lagi, bakal ciptain mungkin jatuh bangun hubungan Asha-Aaron yang lebih nendang. But overall, novelnya cukup bagus dan menarik untuk dibaca👍
This entire review has been hidden because of spoilers.
This book makes me want to keep turning the pages.
Banyak hal yang kusuka dari baca ini. 1. Seperti halnya buku metropop lainnya, punya khasnya memberikan cerita cukup detail sebuah profesi di tiap bukunya. Buku ini cerita profesi dan sebuah biro konsultan arsitek dan rancang kota. Menarik nya buku ini menceritakan alur perancangan, dengan tiap babnya diberi judul sesuai dengan tahapan perancangan, dan pula dengan isi konflik khas yang biasa terjadi di ketika proses merancang. 2. Qoutes pembuka sub-bab yang menarik perhatian, yang bikin bertanya-tanya ada apa nih konflik selanjutnya, atau ada plot twist apa nih 3. Ceritanya diluar ekspektasi aku, aku mengira Salman adalah mantan pacar Asha, ternyata ada plot twist di tengah-tengah cerita, yang lebih bikin sakit hati dibandingkan Salman hanya sekedar mantan. 4. Buku ini enak dibaca, bisa selesai beberapa jam kalau lagi luang. Posisi kemarin aku baca pas lagi ga luang, kayanya baca sore hari juga, malem udah bisa bikin reviewnya hehehe 5. Plot twist lain, aku ga ekspektasi kalau Mba Vie Asano lulusan arsitektur dan rancang kota. Karena ini buku pertama Mba Vie Asano yang kubaca, dan aku biasanya ga cari tau dulu biodata penulisnya, kalau sinopsisnya seru ya langsung baca aja. Trus lagi karena aku bukan EXO-L jadi ga tau kalau judul buku ini samaaaa banget dengan judul lagu EXO hehehehe
Menarik pokonya buku ini wajib di baca!!! Seru!!! Hey! Aaron kita satu kampus di Bandung 😉
Kayanya bakal kasih 3-stars untuk keseluruhan ceritanya kalau aja engga ada hal "ini" yg akan gue kasih spoilernya di bawah..
Salah 1 red flag yg engga bisa gue tolerir dalam sebuah buku a/ "forbidden love" yg jenisnya specifically a/ cinta terlarang antara saudara atau keluarga kandung. Dan ya, di buku ini salah 1 ceritanya a/ tentang Asha yg jatuh cinta selama belasan tahun dengan kakak yg berbagi ayah yg sama (dan ini jelas kandung), yaitu Salman.
Mungkin gue masih bisa toleransi kalau beda case misal Asha yg udah terlanjur cinta dengan Salman sebelum dia tahu bahwa Salman kakak kandungnya. Tapi di buku ini kan engga, justru setelah tau Salman kakaknya, Asha sengaja datangi Salman dan kemudian jatuh cinta. Ya iya sih, cinta kadang2 engga ada logika kaya lagu, tapi kalau real casenya seperti ini ya logikanya yg harus menang dong. Kan manusia yg masih ada akalnya, bukan binatang yg cuma mengandalkan perasaan (sorry i'm kinda harsh, but it's absolutely true, right?). Setelah pertemuan pertama itupun Asha malah melanjutkan kegilaannya dengan kakaknya selama belasan tahun dengan stalking medsos Salman dsb. Betul2 disgusting! Terlebih lagi ketika mereka terjebak dalam 1 situasi yg akhirnya Salman mencium (bibir) Asha. Like, WHAT??? I was so mad at this scene, i swear!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Walk on Memories adalah novel kak Vie yang pertama kali aku baca, dan aku suka dengan gaya bahasa yang digunakan. Ceritanya mengalir, and I can say that this book is quite a page-turner.
Dari awal aku udah menduga sih kalau Asha dan Aaron pasti bakalan terlibat lebih jauh dari sekedar partner kerja. Justru buat aku, karakter Salman yang muncul di antara Asha dan Aaron ternyata karakter yang benar-benar nggak terduga. Untuk sesaat, aku pikir tebakan pertama dan kedua Aaron tentang Salman yang Asha kenal memang benar, tapi aku nggak nyangka kalau tebakan ketiganya juga ternyata benar! Nuansa topik tentang arsitektur dan perancangan kota yang dibahas di sini cukup kental dan mendetail, nggak cuman sebagai tempelan dari keterangan profesi para karakter. Plot twist-nya udah cukup dibuka di pertengahan novel, jadi dari tengah ke akhir memang tinggal bagaimana cara penyelesaian Asha dengan masalahnya.
Jujur secara personal, rasa-rasanya ceritanya agak kurang 'membawa' emosi sampai aku menyelesaikan halaman terakhir. But overall, novel ini cukup asyik buat dibaca pas lagi santai.