4.5 bintang, dibulatkan ke atas karena suka sama banget sama kontennya, tokoh-tokoh utamanya, sama pesannya yang alus sekali.
As you see, cerita dengan tema hate become love itu udah menjamur dan bisa terbilang mainstream. Gue udah sampai ke titik hopeless banget nyari cerita bertema hate become love yang eksekusinya nggak murahan. Soalnya, gue merasa cerita hate become love di masa sekarang itu musuhannya ya... gitu-gitu aja, cenderung kampung sih kalau kataku HAHAHA sorry for not feeling sorry, tho. Ya abis gimana. Orang kebanyakan emang begitu yang kutemui. Permusuhannya cuma kayak "GUE BENCI LO!!!!" trus si cowok perfect tapi nyebelin cuma ya kalau kata gue nyebelinnya b aja. Nothing worth. Ugh jadi nyinyir. Sori.
Nah, gara-gara that feeling of hopelessness gue itulah akhirnya gue mengabaikan novel ini pas dulu di gramed (padahal gue udah suka sama blurb-nya, cuma gue kira bakal jadi novel hate become love pada umumnya). But then, gue akhirnya dipinjemin novel ini sama Mbak Asri Tahir dan JENG JENG, I LOVE IT SO MUCH. KUTAKMAU CUMA MINJEM. MAU BELI. MAU PUNYA.
Novel ini adalah novel bertema hate become love yang "digodok" dengan sangat baik. Karena ya emang aku ngerasain kenapa Troy Mardian dan Gadis Parasayu saling benci satu sama lain. Ideologi mereka beda. Gadis, si manajer humas yang nasionalis, pecinta produk lokal, pecinta makanan Indonesia, trus tetiba harus kerja sama dengan Troy, si manajer marketing yang borjuis, pakai barang selalu branded luar negeri, makanannya juga harus masakan western, BAHKAN DIA PAKAI CONTACT LENS BEDA WARNA TIAP HARI BRO! HAHAHA. YA ALLAH GUE SUKA BET SAMA MEREKA.
Si Troy ini bukan bule. Dia Indonesia asli, bukan keturunan juga. Cuma ya emang kelakuannya kayak bule wannabe dan itu bikin Gadis jengah bukan main (rambut Troy dicat, pakai lensa kontak beda warna tiap hari, makan selalu western food, segala hal harus higienis etc). Dan, gue sukanya adalah penulis nggak "mendewakan" tokoh Troy dalam cerita ini. Troy terasa manusiawi banget dengan segala ke-lentje-annya. Jadi, Troy emang ganteng, badannya bagus six packs gitulah, tapi ya itu diperoleh karena Troy rajin dandan, perawatan, dan nge-gym. Nah, Troy kalau dandan ini tuh asli gue ngakak karena dia emang rempong banget gile, ya harus maskeran dululah, pakai sabun apa dululah, trus merek-merek branded semua wkwk. Berasa bat metropolis tapi lentje-nya si Troy, tapi itu justru bikin dia sangat manusiawi.
Orang-orang di BIP (kantor Troy dan Gadis) pusat itu pada udah biasa sama tingkahnya si Troy. Si Gadis yang notabene baru pindah ke kantor pusat, dan sebagai manajer humas harus kerja sama dengan manajer marketing pun ngerasa jengah sama kelakuan Troy yang terlalu sok borjuis. Dia nggak tahan karena meski Troy emang cemerlang, kadang si Troy ini kekanakan (tapi Gadis juga jadi ikutan kekanakan sih). Konyol lah pokoknya tiap mereka ketemu itu. Gue menikmati banget proses mereka musuhan dan akhirnya mulai memandang satu sama lain dengan berbeda. Ya gatau sih gimana yang lain. Cuma yg gue tangkep, orang-orang biasanya cuma nganggep ini cerita lucu-lucuan aja, while I don't feel that way. Kalau kata Kak Oda Sekar, cerita ini kasih pesan bahwa you start seeing someone differently when you see them as a human.
Se-lentje, se-bule-wannabe, dan semenyebalkan apa pun si Troy, tetap aja Troy itu manusia, dan dia punya sisi-sisi humanis yang through the story disadari sama Gadis, bahwa Troy nggak seburuk yang dia pikir. Oke this probably sounds cliche but trust me, sebagian orang suka memandang miring orang lain yang nggak sesuai dengan ideologi dalam otak dia. Misal, lo tipe orang yang lebih suka hidup sederhana, nggak neko-neko, trus lo lihat ada artis nikahan mewah banget sampai keluar duit miliaran misalnya. Sebagian orang bakal menanggapi si artis dengan pandangan miring, dicecar, dinyinyir, dsb, hanya karena si artis melakukan sesuatu yang nggak sesuai "ideologi untuk hidup sederhana" di kepala sebagian orang. Dan, ini yang gue tangkep dari Love, Hate, and Hocus-Pocus. You'll see someone as a human when you change your percepective about them, when you choose to see them as a human more than you see them as anything else.
Intinya, gue suka banget sama novel ini. Mungkin gue kebanyakan ngomongin Troy ya di sini. Tapi, gue suka sama Gadis Parasayu sebesar gue suka sama tokoh Troy Mardian. They are all lovable 3
Kekurangan cerita ini, palingan konsistensi dialog (si tokoh Troy mau pakai bahasa baku atau semi-baku, kata-kata yang mau dibakukan apa aja, etc) tapi itu nggak terlalu bikin masalah buat gue juga karena gue menikmati ceritanya. Nggak se-page-turner Critical Eleven (at the moment, gue lagi baca C11 juga), tapi gue lebih suka konten cerita ini.