Orang yang berbahagia adalah mereka yang sudah menemukan lentera jiwa mereka. The 7 Laws of Happiness menuntun Anda menemukan lentera itu. -Andy F. Noya, jurnalis, host Kick Andy
Penting dibaca bagi mereka yang memilih berhenti sejenak untuk melakukan lompatan besar. -Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri, Rektor UI
****
Seseorang tiba-tiba menyalip kendaraan Anda. Anda bisa saja mengejar orang itu dan memaki-makinya. Anda memilih tidak melakukannya, tetapi masih memendam marah. Memilih respons, ternyata, tidak serta merta membuat Anda bahagia.
Namun, Anda bisa memilih untuk berpikir bahwa sang penyalip mungkin sedang dalam kesulitan dan mendoakannya agar sampai dengan selamat. Sekonyong-konyong, perasaan marah akan lenyap. Anda bisa tertawa membayangkan hal itu. Anda pun bahagia.
Dengan memilih pikiran seperti ini, kita akan selalu sehat dan berbahagia. The 7 Laws of Happiness membantu dan melatih Anda memilih pikiran-pikiran yang membuat hidup bahagia.
*****
Meramu kekayaan dan kebahagiaan menjadi keikhlasan adalah sebuah pencapaian spiritual. -Gede Prama, Public Speaker, Kolumnis
Mahkota karya putra-putri Indonesia. Filosofinya perenial, ajarannya universal, presentasinya konseptual-logikal, dan bahasanya sangat renyah dan populer. -Jansen H. Sinamo, Guru Etos Indonesia, penulis buku daras Delapan Etos Kerja Profesional
Referensi menuju maturitas individu. Selain diajak mengendalikan pikiran dan emosi, kita pun diingatkan untuk menguatkan kemampuan “gaul”, bahkan selanjutnya, mendekatkan diri pada Yang Mahakuasa. -Eileen Rachman, Direktur EXPERD, pengarang Jadi Nomor Satu Terdepan di Era Persaingan dan Gaul: Meraih Lebih Banyak Kesempatan
Judul buku : The 7 Laws of Happiness Penulis : Arvan Pradiansyah Penerbit : Kaifa Cetakan : I, September 2008 Tebal : 423 halaman
Bahagia itu Ada Disini
Apa dan bagaimana sebenarnya kebahagiaan itu? Ternyata kebahagiaan berbeda dengan kesenangan. Begitupula kebahagiaan, berlawanan dengan kesuksesan. Demikian Arvan Pradiansyah merefleksikan pemikirannya dalam buku ini. Menurut penulis ‘You Are a Leader’ itu, sukses berarti mendapatkan apa yang Anda dapatkan. Sukses lebih berdimensi fisik sementara bahagia berdimensi spiritual.
Secara runut dan analogis, Arvan mengurai makna-makna bahagia. Analogi sederhana yang digunakan membuat pembaca menjadi tersadar tentang makna bahagia sebenarnya. Ada begitu banyak inspirasi dari hal-hal yang awalnya kita anggap sepele. Sehingga membaca buku ini sangat mencerahkan pikiran dan hati. Bahwa bahagia sesungguhnya ada di dalam pikiran kita sendiri. Pikiran menjadi kekuatan yang bisa merubah hidup, dan menjadi kunci kesuksesan.
Arvan mengemukakan teori-teorinya tentang 7 hukum kebahagiaan. Hukum kebahagiaan itu adalah : Sabar, Syukur, Sederhana, Kasih, Memberi, Memaafkan, dan Pasrah. Percaya atau tidak, dari ke-7 hukum kebahagiaan yang di gunakan Arvan menempatkan sabar pada urutan pertama. Alasannya, sabar adalah kunci dari segala kunci, dan sumber dari segala sumber kebahagiaan.
Dari ke-7 hukum tersebut, Arvan tak serta merta mendapatkannya begitu saja. Ia memperoleh hukum-hukum tersebut dari hasil mempelajari berbagai ajaran agama besar di dunia. Dan alasan berikutnya, analisis spiritualnya tentang hakikat, inti dan esensi manusia sebenarnya adalah sama. Sehingga refleksi Arvan tak terlalu terganggu dengan hal- hal yang bersifat fisik yang tampak dari luar.
Yang jelas, membaca buku ini akan membuka kerangka berpikir Anda dan akan menemukan kekuatan di dalamnya. Terutama bagi yang merasa telah kehilangan kebahagiaan, akan Anda temukan disini. MARDIANA (ana_esq@yahoo.com)
Bisa dipastikan semua manusia menginginkan hidupnya bahagia. Namun masalahnya kebahagiaan tidak datang dengan begitu saja. Harus ada usaha untuk memperoleh kebahagiaan. Karenanya banyak cara yang dilakukan untuk memperoleh kebahagiaan, ada yang mencari bahagia dengan kesenangan atau hobi, ada pula yang mencarinya dengan mengejar kesuksesan karena diyakini bahwa kesuksesan akan membawanya pada kekayaan dan kekayaan akan membuatnya bahagia.
Namun kesenangan atau hobi hanya membuat kita bahagia saat kita melakukan aktifitas hobi kita, setelah itu kita kembali pada persoalan hidup yang menghimpit kita dan membuat kita tidak bahagia. Kesuksesan dan kekayaan tak menjamin kita hidup bahagia. Kita sering mendengar orang-orang yang berada dalam puncak kesuksesannya ternyata mengalami depresi yang begitu dalam. Lalu dimanakah dan apa yang sebenarnya membuat kita bahagia ?
Arvan Pradiansyah, penulis buku-buku motivasi You Are a Leader! (2003), Life is Beautiful (2004), dan Cherish Every Moment (2007), dalam buku terbarunya mencoba mengungkap rahasia memperoleh kebahagiaan. Berdasarkan pengalamannya dalam memberikan training-training motivasi ia meyakini bahwa untuk mencapai kebahagiaan maka yang harus kita lakukan adalah dengan cara memilih pikiran yang positif.
Jadi, kunci memperoleh kebahagiaan sebenarnya ada dalam pikiran kita dan sangat tergantung ada pikiran yang kita pilih. Apabila kita memilih pikiran negatif, seluruh diri ktia menjadi negatif. Sebaliknya, jika memilih pikiran positif, kita akan senantiasa dienuhi oleh rasa bahagia. Karenanya kita harus menguasai pikiran kita, melatih, dan mengisi pikiran kita dengan hal-hal positif.
Bagaimana cara melatih dan menguasai pikiran kita ? Dalam buku ini Arvan memberikan suatu rumusan rahasia yang sistematis yang disebutnya sebagai The 7 Laws of Happines. Ketujuh rahasianya tersebut dibagi dalam tiga kelompok besar. Tiga rahasia pertama berkaitan dengan diri kita sendiri, yaitu Patience (Sabar), Gratefulness (Syukur), dan Simplicity (Sederhana). Tiga rahasia berikutnya berkaitan dengan hubungan kita dengan orang lain, yaitu Love (Kasih), G(Memberi), dan Forgiving (Memaafkan). Satu rahasia terakhir berkaitan dengan Tuhan, yaitu Surender (Pasrah).
Sekilas rumusan yang dipaparkan Arvan memang mirip dengan karya terkenal Stephen R. Covey, The 7 Habits for Highly Effective People. Seperti yang diakui oleh Arvan dalam buku ini, rumusannya sedikit banyak terinspirasi oleh buku terkenal Covey tersebut, namun jika ditelaah lebih dalam, terdapat perbedaan antara 7 Habits dengan The 7 Laws. Bahkan dapat dikatakan bahwa The 7 Laws dapat dilihat sebagai kelanjutan perjalanan kemanusiaan kita yang telah diawali oleh The 7 Habits.
Jadi The 7 Laws of Hapiness adalah pelatihan pikiran yang sistematis dan sebuah metode untuk menumbuhkan kebagiaan dengan cara memilih pikiran positif dan memfokuskan perhaitan pada pikiran positif tersebut. The 7 Laws melatih kita untuk menyaring dan memilih pikiran-pikiran positif dan melatih kita untuk membuang pikiran-pikiran negatif yang masuk ke kepala kita dan menggantinya dengan pikiran-pikiran yang sehat dan bergizi.
Salah satu cara mengisi pikiran kita dengan hal yang positif yaitu dengan cara menghindari bacaan dan tontonan yang berdampak negatif. Arvan tampaknya sangat prihatin dan geram dengan gempuran media masa baik media cetak, maupun televisi umumnya memberi kontribusi negatif pada pikiran kita. Secara terang-terangan dia memberi contoh salah satu acara TV yang merusak pikiran kita. Arvan mengkritik acara Empat Mata yang dipandu Tukul Arwana. Bahkan ia secara terang-terangan mengatakan bahwa acara tersebut sebenarnya hanyalah berisi sampah karena selalu menertawakan orang lain dan sering menggunakan kata-kata kasar seperti “bukan manusia”, “seperti monyet”, “keturunan iblis”, dan sebagainya. Bagi Arvan acara seperti ini akan semakin menghilangkan rasa kasih (rahasia ke 4 dalam The 7 Laws) dalam diri kita karena tanpa disadari, kata-kata negative Tukul akan meresap dalam pikiran kita jika kita terus menonton acara tersebut.
Berbeda dengan buku-buku Arvan sebelumnya yang merupakan kumpulan tulisannya di berbagai media. Maka bukunya kali ini merupakan hasil pemikirannya yang utuh dan sistematis. Apa yang dikemukakannya disajikan dengan sederhana dan mudah diingiat karena ketujuh rahasia bahagia itu diilustrasikan dalam bentuk bangunan sebuah rumah. Dalam paparannya Arvan tak hanya memberikan teori-teori yang mengawang-awang, melainkan diungkapkan dengan gaya yang bersahaja, mudah dipahami dan menggugah kesadaran pembacanya akan apa yang mungkin selama ini terlupakan.
Banyak contoh-contoh yang sederhana namun memberi banyak pelajaran berharga. Umumnya apa yang diungkapkannya dalam buku ini kita semua sudah mengetahuinya, namun dengan membaca buku ini seolah kita dibangunkan dari tidur panjang kita dan disadarkan akan berbagai pikiran negatif yang mungkin secara tidak kita sadari terus kita pelihara dalam pikiran kita sehingga membuat kita tidak bahagia.
Bagi saya hal yang paling menarik dalam The 7 Laws adalah bagaimana Arvan mentutup rahasia memperoleh kebahagiaan dengan prinsip Surender (Pasrah). Dengan gamblang Arvan mengungkapkan bahwa setelah melalui enam rahasia untuk mencapai kebahagiaan, kebahagiaan belum akan tercapai sebelum kita menjalankan rahasia yang ketujuh, yaitu Surender (Pasrah). Pasrah adalah kunci dari semua perjalanan kita , sebuah kata pamungkas bahwa di atas segala usaha dan kemampuan kita ada satu kekuatan yang berada di atas segala kekuatan dimana kita bergantung sepenuhnya pada kekuatan tersebut, yaitu Tuhan Yang Mahakuasa. Inilah yang mungkin membedakan Arvan dengan penganut aliran-aliran positif thinking lainnya yang terkadang hanya menonjolkan kekuatan manusia untuk memilih pikiran yang positif untuk memperoleh kebahagiaan.
Buku ini juga dikemas dengan menarik, mulai dari pilihan font yang nyaman untuk dibaca, ilustrasi yang menarik, layout halaman dalam yang dinamis, membuat buku ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Selain itu, karena buku ini mengajak pembacanya untuk memperoleh kebahagiaan , tampaknya buku ini sangat pantas untuk dijadikan sebagai kado bagi sahabat, rekan kerja, dan orang-orang yang kita kasihi. Buku ini juga tampaknya tak cukup dibaca hanya satu kali saja. Seperti yang diungkap Arvan bahwa ketujuh rahasia hidup bahagia ini harus sering dipraktekkan dan dilatih secara berulang-ulang. Seiring berjalannya waktu, mungkin kita mulai kendor dalam mengelola pikiran kita, kita mulai merasa tak bahagia kembali, mungkin saat itulah buku ini perlu dibaca ulang kembali.
@h_tanzil
Merged review:
Bisa dipastikan semua manusia menginginkan hidupnya bahagia. Namun masalahnya kebahagiaan tidak datang dengan begitu saja. Harus ada usaha untuk memperoleh kebahagiaan. Karenanya banyak cara yang dilakukan untuk memperoleh kebahagiaan, ada yang mencari bahagia dengan kesenangan atau hobi, ada pula yang mencarinya dengan mengejar kesuksesan karena diyakini bahwa kesuksesan akan membawanya pada kekayaan dan kekayaan akan membuatnya bahagia.
Namun kesenangan atau hobi hanya membuat kita bahagia saat kita melakukan aktifitas hobi kita, setelah itu kita kembali pada persoalan hidup yang menghimpit kita dan membuat kita tidak bahagia. Kesuksesan dan kekayaan tak menjamin kita hidup bahagia. Kita sering mendengar orang-orang yang berada dalam puncak kesuksesannya ternyata mengalami depresi yang begitu dalam. Lalu dimanakah dan apa yang sebenarnya membuat kita bahagia ?
Arvan Pradiansyah, penulis buku-buku motivasi You Are a Leader! (2003), Life is Beautiful (2004), dan Cherish Every Moment (2007), dalam buku terbarunya mencoba mengungkap rahasia memperoleh kebahagiaan. Berdasarkan pengalamannya dalam memberikan training-training motivasi ia meyakini bahwa untuk mencapai kebahagiaan maka yang harus kita lakukan adalah dengan cara memilih pikiran yang positif.
Jadi, kunci memperoleh kebahagiaan sebenarnya ada dalam pikiran kita dan sangat tergantung ada pikiran yang kita pilih. Apabila kita memilih pikiran negatif, seluruh diri ktia menjadi negatif. Sebaliknya, jika memilih pikiran positif, kita akan senantiasa dienuhi oleh rasa bahagia. Karenanya kita harus menguasai pikiran kita, melatih, dan mengisi pikiran kita dengan hal-hal positif.
Bagaimana cara melatih dan menguasai pikiran kita ? Dalam buku ini Arvan memberikan suatu rumusan rahasia yang sistematis yang disebutnya sebagai The 7 Laws of Happines. Ketujuh rahasianya tersebut dibagi dalam tiga kelompok besar. Tiga rahasia pertama berkaitan dengan diri kita sendiri, yaitu Patience (Sabar), Gratefulness (Syukur), dan Simplicity (Sederhana). Tiga rahasia berikutnya berkaitan dengan hubungan kita dengan orang lain, yaitu Love (Kasih), G(Memberi), dan Forgiving (Memaafkan). Satu rahasia terakhir berkaitan dengan Tuhan, yaitu Surender (Pasrah).
Sekilas rumusan yang dipaparkan Arvan memang mirip dengan karya terkenal Stephen R. Covey, The 7 Habits for Highly Effective People. Seperti yang diakui oleh Arvan dalam buku ini, rumusannya sedikit banyak terinspirasi oleh buku terkenal Covey tersebut, namun jika ditelaah lebih dalam, terdapat perbedaan antara 7 Habits dengan The 7 Laws. Bahkan dapat dikatakan bahwa The 7 Laws dapat dilihat sebagai kelanjutan perjalanan kemanusiaan kita yang telah diawali oleh The 7 Habits.
Jadi The 7 Laws of Hapiness adalah pelatihan pikiran yang sistematis dan sebuah metode untuk menumbuhkan kebagiaan dengan cara memilih pikiran positif dan memfokuskan perhaitan pada pikiran positif tersebut. The 7 Laws melatih kita untuk menyaring dan memilih pikiran-pikiran positif dan melatih kita untuk membuang pikiran-pikiran negatif yang masuk ke kepala kita dan menggantinya dengan pikiran-pikiran yang sehat dan bergizi.
Salah satu cara mengisi pikiran kita dengan hal yang positif yaitu dengan cara menghindari bacaan dan tontonan yang berdampak negatif. Arvan tampaknya sangat prihatin dan geram dengan gempuran media masa baik media cetak, maupun televisi umumnya memberi kontribusi negatif pada pikiran kita. Secara terang-terangan dia memberi contoh salah satu acara TV yang merusak pikiran kita. Arvan mengkritik acara Empat Mata yang dipandu Tukul Arwana. Bahkan ia secara terang-terangan mengatakan bahwa acara tersebut sebenarnya hanyalah berisi sampah karena selalu menertawakan orang lain dan sering menggunakan kata-kata kasar seperti “bukan manusia”, “seperti monyet”, “keturunan iblis”, dan sebagainya. Bagi Arvan acara seperti ini akan semakin menghilangkan rasa kasih (rahasia ke 4 dalam The 7 Laws) dalam diri kita karena tanpa disadari, kata-kata negative Tukul akan meresap dalam pikiran kita jika kita terus menonton acara tersebut.
Berbeda dengan buku-buku Arvan sebelumnya yang merupakan kumpulan tulisannya di berbagai media. Maka bukunya kali ini merupakan hasil pemikirannya yang utuh dan sistematis. Apa yang dikemukakannya disajikan dengan sederhana dan mudah diingiat karena ketujuh rahasia bahagia itu diilustrasikan dalam bentuk bangunan sebuah rumah. Dalam paparannya Arvan tak hanya memberikan teori-teori yang mengawang-awang, melainkan diungkapkan dengan gaya yang bersahaja, mudah dipahami dan menggugah kesadaran pembacanya akan apa yang mungkin selama ini terlupakan.
Banyak contoh-contoh yang sederhana namun memberi banyak pelajaran berharga. Umumnya apa yang diungkapkannya dalam buku ini kita semua sudah mengetahuinya, namun dengan membaca buku ini seolah kita dibangunkan dari tidur panjang kita dan disadarkan akan berbagai pikiran negatif yang mungkin secara tidak kita sadari terus kita pelihara dalam pikiran kita sehingga membuat kita tidak bahagia.
Bagi saya hal yang paling menarik dalam The 7 Laws adalah bagaimana Arvan mentutup rahasia memperoleh kebahagiaan dengan prinsip Surender (Pasrah). Dengan gamblang Arvan mengungkapkan bahwa setelah melalui enam rahasia untuk mencapai kebahagiaan, kebahagiaan belum akan tercapai sebelum kita menjalankan rahasia yang ketujuh, yaitu Surender (Pasrah). Pasrah adalah kunci dari semua perjalanan kita , sebuah kata pamungkas bahwa di atas segala usaha dan kemampuan kita ada satu kekuatan yang berada di atas segala kekuatan dimana kita bergantung sepenuhnya pada kekuatan tersebut, yaitu Tuhan Yang Mahakuasa. Inilah yang mungkin membedakan Arvan dengan penganut aliran-aliran positif thinking lainnya yang terkadang hanya menonjolkan kekuatan manusia untuk memilih pikiran yang positif untuk memperoleh kebahagiaan.
Buku ini juga dikemas dengan menarik, mulai dari pilihan font yang nyaman untuk dibaca, ilustrasi yang menarik, layout halaman dalam yang dinamis, membuat buku ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Selain itu, karena buku ini mengajak pembacanya untuk memperoleh kebahagiaan , tampaknya buku ini sangat pantas untuk dijadikan sebagai kado bagi sahabat, rekan kerja, dan orang-orang yang kita kasihi. Buku ini juga tampaknya tak cukup dibaca hanya satu kali saja. Seperti yang diungkap Arvan bahwa ketujuh rahasia hidup bahagia ini harus sering dipraktekkan dan dilatih secara berulang-ulang. Seiring berjalannya waktu, mungkin kita mulai kendor dalam mengelola pikiran kita, kita mulai merasa tak bahagia kembali, mungkin saat itulah buku ini perlu dibaca ulang kembali.
banyak makanan otak yang menyehatkan dari buku ini. banyak cerita bagus juga yang membuat kita 'belajar' banyak. misalnya tentang ini:
Sebut saja seorang ibu di Korea ditakdirkan melahirkan anak ‘istimewa’ (istimewa ini dalam tanda petik—karena anak yang berbeda secara fisik dengan anak normal --- adalah anak istimewa – setuju?). Hee Ah Lee nama sang anak hanya memiliki 4 jari, dan kedua kakinya hanya sebatas lutut. Tapi sang ibu menamai putrinya itu Hee Ah Lee. Hee berarti kebahagiaan, Ah adalah tunas pohon yang terus tumbuh, dan Lee adalah nama keluarga. Sebuah nama yang istimewa untuk seorang anak istimewa! Ibunda Hee Ah Lee ini dengan suka cita membesarkan putrinya yang kemudian menjadi pianis terkemuka di dunia. Bukankah sebuah keajaiban seorang anak berjari empat bisa menjadi pianis kelas dunia?
Sang ibu bisa saja menangisi nasib karena memiliki anak seperti Hee Ah Lee, tapi ibu Hee Ah Lee memilih ‘bergembira’ dengan kehadiran kebahagiaan tunas pohon yang terus tumbuh. Ah, seandainya saja semua ibu mempunyai prinsip seperti ibu Hee Ah Lee, hidup tanpa berkeluh kesah – jalan menuju ‘bahagia’ itu mungkin akan mudah ditemukan.
Kebahagian sangatlah penting untuk kita sebagai manusia, namun kita tidak bisa hanya mengingginkan kebahagian tanpa tau cara untuk bhagia itu seperti apa?, kita tidak bisa selalu bahagia karena ada ujian yang harus kita lewati, yaitu lika liku kehidupan, jika kita mengetahui cara untuk hidup bhagia maka kita akan tetap bahagia walaupun dilanda dengan kesusahan dunia ini
Setelah sekian lama baru baca buku semacam ini lagi, mengingatkan aku untuk lebih bisa menerima orang lain dan memaafkan. Damai seketika. Meskipun ini buku terbitan lawas, tapi sepertinya masih bisa dijadikan media self reminder biar hidup lebih tenang dan menyenangkan 😊
Well, empat bintang untuk buku ini. Recommended bagi siapa saja yang ingin hidupnya bahagia. Bahasanya juga sangat mudah dipahami. Tidak hanya sebatas teori, melainkan kita juga akan disuguhkan beberapa contoh nyata, bahkan dari kehidupan Pak Arvan sendiri.
Laws no.1-5 biasa aja, yang bikin amazed law 6 (yang menghilangkan rasa dendam terhadap pesantren saya dulu, yang ternyata sangat berjasa) dan law 7 (membuka mata hati).
Ada beberapa hal yang ngeganjel: 1. Kata2 "sampah", menurut saya terlalu kasar, buku ini mengajarkan kebahagiaan, tapi kaya di tulis dengan penuh kebencian, ada baiknya kata2 'sampah' di perhalus. 2. Pergulatan penulis antara otak, hati, dan jantung yang seperti nya tidak perlu dibahas, semua orang udah ngerti kok, tidak perlu dijelaskan lagi.
Overall, bisa dijadikan pegangan kalo sewaktu2 saya lagi gak bahagia. :D
ada yang berbaik hati minjemin.. terima kasih pak Andri.. *makin tinggi tumpukan buku pinjaman yang harus dikembalikan hehe :)
--
lagi nyari yang baik hati mau ngasih pinjam buku itu.. :) aku suka tulisan-tulisan lepas Arvan Pradiansyah di Republika, tulisannya ga terlalu panjang, tapi mengena, TOP!
Yang menentukan bahagia seseorang adalah dirinya sendiri. Tetapi, ada hal lain yang mempengaruhi yaitu: bagaimana kita berhubungan dengan diri sendiri, dengan sesama, dan dengan Tuhan. Ketiga hal inilah yang menentukan kebahagiaan..