Entah kenapa, impresi paling kuat yang saya rasakan, puisi-puisinya urban kelas menengah gitu ya.
Agak kesusahan memahami kebanyakan puisinya (ya, memang seringnya baca buku puisi ya begini ini.) Tapi buku ini bebas sekali. Terlalu liar? Pemilihan kata, tema, sampai bentuknya bervariasi dan bebas sekali. Ambil dari hal-hal kekinian, sedikit sentil sana sini, dan kadang bikin kening berkerut. Sentilannya bikin senyum juga sih. Pas, gitu.
Sepertinya terpaksa bintang tiga, karena merasa tidak bisa terhubung dengan puisi-puisi ini. Banyak yang sepertinya murni diangkat dari pengalaman sekaligus opini penulis, sehingga hanya bisa mengiyakan walau kadang bertanya ini maksudnya apa. Ya, risiko baca puisi sih karena dia adalah ungkapan pribadi penyair sesuai dengan dunia dan apa apa yang dirasa, dialami, dan dibaca. Banyak kisah standar tentang ibukota, juga apa-apa yang sempat jadi tren beberapa saat di belakang. Tentang menjadi kiri yang seksi dalam tren terkini, trotoar yang berubah (diubah) menjadi lahan perebutan, hingga renungan tentang cinta sesaat yang sering mengalahkan cinta lama yang lebih dulu ada. Puisi juga bisa Marie Kondo rupanya, di halaman 113. Seru sih ini penyairnya!
Lewat puisi, penyair memandang sekaligus berironi pada banyak hal, seperti puisi hlm. 107 tentang bangsa pling berani di dunia. Lewat puisi juga penyair menunjukkan preferensinya. Tidak apa-apa, bebas saja, seperti beragamnya bentuk dan model puisi di buku ini, yang mungkin bikin pembaca (saya) salah fokus dan tak bisa menemukan "benang jingganya."
Satu hal yang saya amini, puisi "Syair Bayar Tagihan #1" di halaman delapan enam:
Bahwa hidup tidak seharusnya habis hanya untuk berutang dan lalu dihabiskan untuk berusaha membayar utang. Setidaknya, ada yang kita "tuliskan" dalam ingatan dan perasaan. tinggalkan jejakmu. Kamu puisimu.
Ini buku puisi yang paling segar dibandingkan dengan buku-buku puisi lain yang saya baca akhir-akhir ini. Saya suka dengan cara penyair bereksperimen dengan enjambemen dan tipografi puisi. Plus si penyair sepertinya cukup berani untuk berusaha merekam banyak istilah-istilah kekinian. Meskipun akibatnya ada rasa yang tidak enak ketika selesai membaca buku ini, seperti ada yang kurang. Mungkin karena terlalu banyak imaji yang ingin dijejalkan di tiap-tiap puisi sehingga ketika belum tercipta gambaran yang utuh dalam satu puisi, kita sudah dipaksa untuk menelan imaji-imaji yang lain. Tapi ini pendapat hamba saja, bisa keliru dan bisa keliru banget. Salamat.
Judulnya kekinian sekali ya, tahun lalu 'sekadar mengingatkan' ini begitu populer, jadi suatu kalimat yang kerasa ngeselin abis. Pas liat buku puisi ini, jadi lah pengen baca.
Betul, beberapa kata-kata dalam buku ini sangat kekinian seperti; keleus, spark joy yang bikin buku ini terasa puisi milenial sekali. Bisa dibilang Yoshi Fe menggunakan kata-kata bukan bak penyair yang dirangkai begitu indah dengan kata-kata cakep, tapi kata dan kalimat yang digunakan sanggup menceritakan banyak hal.
Ada banyak kritik sosial yang ditulis dalam beberapa puisi di sini, tentang antrian donat, tentang perilaku di jalan raya, tentang bergunjing, tentang Jakarta, dsb.
Favorit saya puisi yang berjudul : - Gembel-Gembel Bercahaya - Syair Mayday
Aku mau kasih ⭐⭐, tapi nggak tega. Yaudah, 2.3 aja deh.
Intinya gini, meskipun sama-sama aku kasih review 3 ⭐ dgn kumpulan puisi Lucia P, aku lebih suka kumpulan Lucia.
Aku punya ekspektasi yg cukup tinggi dgn buku puisi ini setelah baca Panduan Sehari-hari. Aku pikir bakal kayak gitu juga model bahasanya. Tapi ternyata enggak.
Apa ya, ada beberapa yang aku suka, tapi selebihnya aku nggak ngerasa terhubung dgn puisi-puisi itu. (Mungkin karena beda 'lingkungan' juga kali ya).
Beberapa puisinya mengingatkanku pada puisi Mbeling dengan kalimat atau kata yang unik, berulang, atau penempatan yg tidak biasa.
Tema yang diangkat di buku ini cukup banyak menyindir hal-hal yg lumrah terjadi di kehidupan ibukota.
hmmmmmmmmm I dont really understand maksud penulisnya apa, gadapet aja gitu di aku, tentu karena akunya yang bodoh, tapi maap buat aku it didnt spark a joy. Se gangerti gangerti nya aku sama puisi, kadang aku masih ngerti (?), ini lost banget, cuma bbrpa yg aku ngerti
kan emang ga ngerti puisi lol
tapi aku belajar, liar dan bebas dan liar dan bebas lah dalam menulis prosa, ga harus dimengerti semua orang (pasti ada makna, dan emang ga harus semua orang ngerti, kata SDD dalam 'bilang begini maksudnya begitu')
Setelah Syair-syair Sekedar Mengingatkan yang merespon warganet penggemar "maaf sekedar mengingatkan", pengin banget rasanya ada yang menulis buku puisi berjudul "Please do your magic".
Sangat menyenangkan, tipikal syair-syair yang jarang saya temukan, penuh kejenakaan dan sarkasme yang menggelitik tapi tetap serius. Tulisannya seperti mengalir saja tapi kejeniusan memainkan katanya jelas terasa, membaca buku ini seperti menemukan hidden gem! review warga twitter (saya masih kurang terbiasa untuk menyebutnya x) memang seringkali tepat. Saya menyukai banyak tapi ada beberapa sajak yang menjadi favorit saya. "Musik pengiring bubur" nomor 1! sederhana tapi kreatif sekali! sebuah inovasi yang sepertinya bisa meningkatkan Indeks Inovasi Daerah Kabupaten/Kota tempat domisili penulis. beberapa lainnya yang sangat berkesan adalah kritik-kritik menyenangkan, banyak diantaranya adalah kalimat penutup gong drop the mic: Di tempat disko tua, Catatan perjalanan: Tracy Chapman live in Jogja (Bagian 3) (Saya bahkan tidak tahu siapa Tracy Chapman, tapi saya menyukai sajak ini dengan sepenuh hati) dan Ode donat dalam d-mol (mal mil mol).
Kamu gak akan pernah tahu apa sepenting apa #mayday
kenapa?
karena!
Karena kamu mungkin telah terjebak dalam kekelasmenengahan struktural.
Aku merasa gak bisa mengerti banyak puisi dalam buku ini, karena rasanya banyak yang personal? Seperti nostalgic feeling, inside joke milik penulis pribadi yang aku gak bisa tangkap dan relate.
Banyak yang buat aku mengerutkan kening dan berpikir keras, tapi sebagian puisi di dalamnya yang bisa aku mengerti, aku benar-benar suka.
Ada beberapa puisi yang saya baca secara terbalik dari bawah ke atas tapi tetap terasa bagus. Eksperimen oke khas kejalangan kelas menengah kota Jakarta. Suka!