Clara Ng adalah pengarang sejumlah novel dewasa dan juga buku anak-anak. Ibu muda berbintang Leo ini lahir di Jakarta tahun 1973. Lulusan di Ohio State University jurusan Interpersonal Comunication ini tidak pernah bercita-cita jadi penulis, namun kini karya-karyanya mengalir tanpa henti. Novel-novel dewasa yang sudah diterbitkan adalah Indiana Chronicle: Blues, Indiana Chronicle: Lipstick, Indiana Chronicle: Bridesmaid, The (Un)Reality Show, dan Utukki: Sayap Para Dewa. Buku anak-anaknya yang sudah terbit adalah Seri Berbagi Cerita Berbagi Cinta.
Baca Angin dari Tebing 1 & 2, rasanya kayak olahraga emosi. Berasa diseret ke masa lalu, zaman SD, zaman masih bahagia dan belum punya masalah hidup yang serius.
What a perfect bedtime story! Dengan cerita sehari-hari yang dekat dengan budaya Indonesia, ilustrasi yang sangat manis dan enak dilihat, serta karakter-karakter yang sangat mudah disukai, beragam dan bervariasi.
Kisah - kisah favoritku : Cica Bertemu Bulan, Hanya Ada Satu Aku (1, 2, dan 3), Sapi di Padang Rumput, Bersama Gatotkaca (1 & 2), Kapan Aku Besar?, Kehilangan Rasa Gembira.
Perpaduan yang apik antara cerita dan ilustrasi menghasilkan buku yang hangat untuk dibaca. Saya selalu berpikir, buku orang dewasa tidak bisa dinikmati anak kecil karena banyak yang belum mereka pahami. Tetapi orang dewasa bisa menikmati buku anak karena mereka pernah menjadi anak kecil. Kehidupan, pemikiran, dan kebahagiaan anak-anak yang polos dan sederhana.
Suka sekali dengan cara penulis menghidupkan setiap karakter yang ada di sekolah tebing. Mengingatkan pada masa kecil saya dengan berbagai imajinasinya, percakapan kucing kecil bernama manis dan induknya, cicak yang ingin bertemu rembulan, ada sapi dan kawan-kawan. Belum lagi cerita tiga belas murid di sekolah tebing dengan berbagai macam karakter. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tak lupa karakter Ibu Sheila, guru yang penyayang akan muridnya. Great book! 😊
Membaca cerita dengan tokoh anak-anak adalah agendaku setelah selesai membaca buku Di Tanah Lada. Angin dari Tebing menjadi pilihanku yang pertama. Buku ini sangat identik dengan cerita anak-anak yang dilengkapi dengan ilustrasi menarik, disampaikan dengan bahasa yang ringan. Ketika membaca aku terkejut karena buku ini tidak hanya berisi tentang cerita 13 anak sekolah tebing, namun juga kisah-kisah makhluk hidup yang tinggal diantara mereka.
Bercerita tentang keseharian di sekolah tebing yang memiliki 13 orang anak. Jujur lucu bangett, hangat banget bacanyaa. Tiap cerita tu pendek pendek banget dan sometimes gak terkait satu sama lain sih. Aku suka baca bagian anak anaknyaa tapi sayang porsinya sedikit semoga di buku keduanya lebih banyak hehehe
Angin dari Tebing 1 • Clara Ng • Yustina Antonio (Ilustrasi) • GPU • 2020 • 136 hlm.
Setelah kemarin sedikit kecewa pada diri sendiri karena tidak berhasil menangkap maksud Clara Ng dalam dua buah karyanya, "Dongeng Dialektika", kali ini aku mencoba membaca buku ini. Seperti dugaanku, aku kembali dibuat terpukau akan kepiawaiannya menyusun aksara.
Buku ini mengisahkan Sekolah Tebing--sebuah sekolah usang di jauh bibir tebung--dan segenap warganya. Jangan salah, bukan hanya guru dan ketiga belas muridnya saja, tetapi juga hewan-hewan yang berteduh di dalam ruang kelas--setelah jam belajar usai--atau binatang yang ada di sekitar sekolah. Kita akan disuguhkan 28 kisah yang saling berkaitan satu sama lain.
Hal yang membuatku kagum adalah keanekaragaman tema yang diangkat oleh penulis di dalam 28 kisahnya. Penulis mencoba mengenalkan negeri ini melalui bendera merah putih, angklung, lagu Jali-Jali, tokoh Gatotkaca, serta pertunjukan wayang beber.
Di beberapa kisahnya, kita akan diajaknya mengenal kehidupan burung, bagaimana pertumbuhan bayi di dalam perut ibu, dan penyakit cacar air. Di lain kisah, kita akan diajaknya menaklukkan rasa takut, menunjukkan kesedihan, dan menghadapi kecemasan. Di lain cerita, kita akan diajak bertualang lewat kaki-kaki tikus yang berusaha menyelamatkan diri di antara puluhan kaki manusia, atau berjalan-jalan di Paris. Kita akan berjoget di tengah padang bersama sapi dan teman-temannya.
Kalau kamu mencari sebuah buku yang sarat pesan baik untuk anak tanpa terasa menggurui, buku inilah salah satu pilihannya. Tiap ceritanya akan menyodorkan amanat yang kerap diingat. Ilustrasi penuh warna yang menggemaskan semakin menambah daya tarik buku ini. Akankah buku ini menjadi buku favoritmu? Yang jelas, sih, buku ini sudah dibaca berulang oleh sulungku dalam hari pertamanya membuka plastik segelnya.
"Ayahnya bilang, tidak apa-apa menangis kalau kita memang sedih atau kecewa." - Hlm. 94
--
This entire review has been hidden because of spoilers.
📗 Angin Dari Tebing 1 ✍️ @clara_ng 🖨 @bukugpu ⏳️ 2020 📑 140 hlm 📖 dibaca lewat Perpus digital @perpusnas.go.id
Meski buku ini diperuntukan untuk referensi bacaan anak-anak, untukku yang bukan anak-anak lagi membacanya terasa menyenangkan. Full gambar ilustrasi soalnya dan lucu aja mendengarkan cerita dari berbagai sudut pandang mulai dari anak-anak, sapi, anjing yang pinjang dan pelupa, anak kucing, tikus, juga berbagai serangga. Mereka semua berada dekat dengan bangunan yang terletak jauh di atas bibir tebing.
Kalimat dalam tulisan, pasti akan sangat mudah untuk diikuti oleh anak-anak. Buku ini bukan hanya menghadirkan hiburan tapi juga beberapa informasi dan nilai baik yang bisa direnungkan. Tentu lebih baik lagi bila dibacanya ditemani orang dewasa ya, jika si anak masih di bawah 8 tahun ya.
Jika ditanya kisah siapa yang paling berkesan? Aku sangat suka dengan 'kisah Layang-layang', kisah Dapur Gado-gado, dan 'kisah Nilai yang Rendah Sekali'. Dari berbagai cerita Angin Dari Tebing 1 ini, pembaca akan mendapati banyak hal yang bisa dipelajari mulai dari belajar menerima hal yang terasa tidak menyenangkan dari tokoh Tia dan Deni. Juga belajar tentang mengasah keterampilan itu ternyata menyenangkan seperti yang dilakukan oleh Shinta dan Sitta, juga Ilham dan Yudha.
Tindakan tokoh guru sendiri pun bagiku menarik, caranya yang membangun keterampilan public speaking para murid dengan kegiatan rutin mempersiapkan satu cerita dan mendongengkannya kepada teman-teman di kelas dengan berbagai gaya atau pun alat bantu, mungkin bisa diadopsi para guru-guru saat ini. 😍
Angin dari Tebing 1, adalah sebuah buku anak yang penuh ilustrasi manis! Ditulis oleh penulis yang entah sudah menerbitkan berapa puluh buku Kak Clara Ng. Cerita-cerita yang ditulis dalam buku ini imajinatif dan nagih sekali. Serius, deh!
Dari satu tempat, sebuah bangunan jauh di atas bibir tebing, sebuah sekolah dengan 13 murid, bisa muncul banyak sekali cerita. Banyak kisah, banyak celoteh, juga banyak pembelajaran. Ceritanya unik. Ada tentang ulat yang tak mau tidur, sapi di padang rumput yang ternyata pandai berjoget, dan bis bis yang merasa tidak percaya diri karena kereta akan masuk desa! Wah..wah..wah..
Aku membaca buku ini untuk diriku sendiri. Bukan untuk adik, keponakan apalagi anak. Aku sangat menikmati buku anak. Khususnya yang ditambah ilustrasi lucu semacam ini. Daripada cerita tentang mitos ada legenda putra-putri raja, entah kenapa aku lebih menikmati cerita imajinatif seperti ini. Tentang Ibu Guru yang bermimpi bertemu Gatot Kaca di jendela, tentang cicak kecil yang ingin sekali melihat cantiknya bulan, atau percakapan sayang antara kucing kecil dan Ibundannya. Manis.
Aku suka bagaimana penulis menghidupkan semua benda, binatang dan manusia yang ada di sekolah di atas tebing. Juga penulisannya. Pendek, simpel, menghibur dan bermakna. Rasanya buku ini cocok dijadikan koleksi. Mesti segera beli versi cetaknya nih aku. Hahahahaha ~
Padahal bagus banget dari segi cerita dan ilustrasinya. 😍 Baca ini rasanya seperti nostalgia baca cerpen Bobo tahun 2010 ke belakang!
Aku pribadi (yang bukan lagi anak-anak) sangat menikmati cerita yang berpadu dengan ilustrasinya✨
Angin Dari Tebing, berisi 28 judul cerita pendek berilustrasi untuk anak (5+). Isinya campuran antara fabel, fantasi, dan kisah 13 anak dari sekolah Tebing.
Cerita-cerita tersebut dirangkai dengan kesamaan latar tempat, yaitu sebuah desa dan sekolah yang berada di tebing.
Karakter cerita ini ada 13 anak dengan berbagai kegaramannya, seekor kucing putih, seekor sapi, dan seekor anjing.
Keragaman tersebut mulai dari karakterisasi hinga karakter desain. Masing-masing tokoh mempunyai kelebihan dan kekurangan digambarkan secara implisit maupun eksplisit.
Tema masing-masing cerita beragam, gaya berceritanya yang tidak menggurui, menampilkan nilai moral secara implisit. Dan ada beberapa hal abstrak yang diceritakan.
Seneng banget aku baca Angin dari Tebing ini. Selain nostalgik juga apik. Pengalaman membaca yang sungguh menggembirakan.
Padahal awalnya cuma iseng pinjam karena sering lewat di beranda iPusnas. ✨♥️✨
Ada 28 cerita pendek di buku berilustrasi cantik ini, yang bertalian satu sama lainnya.
Sekolah tebing dinamakan demikian karena sekolah kecil tersebut berada di atas bibir tebing dimana angin selalu berhembus kencang setiap hari. Siapapun berdiri disana seolah dapat menggenggam angin dan mengikuti ekornya.
Walau sekolah kecil ini berada di pedesaan namun sekolah ini begitu hangat dan setiap murid mempunyai tingkah laku dan keceriaan masing-masing. Ibu Guru pun sangat menyayangi murid-muridnya dan mengajar sepenuh hati.
Kisah di buku ini juga terdapat kisah fabel yang hangat dan juga seakan para binatang tersebut bisa berbicara dan mempunyai pikiran dan perasaan.
Sungguh sangat menghibur bagi setiap orang yang membacanya :)
Sejatinya buku cerita anak memang bukan hanya untuk anak-anak tp juga para dewasa. Cerita di dalamnya mengajak kita untuk menyelam ke dunia yang sederhana, ringan & penuh imajinasi. Seperti kisah dalam buku ini, tidak semuanya soal anak-anak saja tapi juga ada tentang orang dewasa yang diingatkan mimpi masa kecilnya. Banyak orang dewasa yang telah 'membunuh' impian masa kecilnya, menghapus kenangan masa kanak-kanak nya. Tapi jika kita rawat satu atau dua, itu tidak jadi masalah. Malah bagus untuk mengingat betapa sederhananya dunia kita dulu...
Buku ini cocok dibaca bareng anak-anak atau juga dibaca ayah ibu om tante nya.
Ceritanya ringan seputar 13 murid dan segala yang ada di Sekolah Tebing. Jadi jangan heran kalau di sini kita akan ketemu cerita dari hewan-hewan juga seperti tikus, ulet, kucing, anjing, laba-laba, dan masih banyak lainnya. Yang paling keren tentu saja ilustrasinya yang ciamik. Saya suka pisan.
Kumpulan cerita tentang anak-anak yang sekolah di atas Tebing dan ekosistem (hewan, tumbuhan, dll) di sekitarnya. Bagus banget. Ilustrasi, gaya bercerita, plot twist, semuanya ciamik. Beberapa cerita favoritku, Hanya Ada Satu Aku (2), Sapi di Padang Rumput (bagian si sapi pengen joget beneran bikin ngakak😆), Kapan Aku Besar dan Hari Melamun Sedunia.
Tokoh favorit? Tentu saja Ibu guru Sheila 😍 pengin jadi muridnya dan sekolah di atas tebing juga, ditemani suara angin.
Beberapa cerita yang bisa di-highlight antara lain soal lagu ‘cuma ada satu aku’, pengibaran bendera yang nasionalis banget, nggak cuma manusia yang bisa bicara, cerita soal mimpi, dan terfavorit soal tambahan nilai dari bu guru untuk anak-anak yang melamun. Iya, sekali lagi, yang melamun dapat nilai. Emang dudukduduk bodo harus diajarkan sejak dini. XD
Sudah lama banget sejak terakhir kali baca karyanya Clara Ng. Angin dari Tebing 1 ini perpaduan cerita dan ilustrasi yang bagus sekali untuk anak-anak. Ringan, sederhana, manis, dan imajinatif! Kalau ditanya cerita mana yang jadi favorit, agak susah jawabnya karena jawabannya bisa lebih dari 5! xD Karena buku ini, jadi pengen kenalan dengan anak-anak Sekolah Tebing :D
SUPER CUTE!! Terima kasih kakak ilustrator yang bikin bukunya semakin cute.
Serunya adalah selain bercerita tentang 13 anak yang sekolah di sekolah tebing, buku ini juga nyeritain hewan-hewan disekitar mereka, dan bahkan ada yang nyeritain bus juga.
Karena awalan bukunya nyebutin tentang plang sekolah yang hurufnya udah pudar kirain anak-anaknya bakalan benerin itu, atau di buku kedua kali ya.
Senang sekali, ceritanya hangat untuk dibaca. Selain bisa mengenal anak-anak dan guru di sekolah Tebing, kita juga bisa mengenal hewan-hewan dan benda-benda di sekitar mereka, huhu gemes. Lalu juga ilustrasinya yang super lucu itu sangat amat mendukung suasana ceritanya, yaayy, suka! Oiya, bagian yang paling aku suka di buku ini itu ada di kisah Tiga Belas, Nilai yang Rendah Sekali, Kapan Aku Besar, Bus Bas Bis Bus, Bersama Gatot Kaca (2), dan Kehilangan Rasa Gembira karena makna tersirat untuk aku, sebagai pembaca dewasa buku anak ini, ada banget :>
4,5/5! Seru deh rasanya baca cerita ringan kaya gini. Selama baca ini aku mikir, siapa ya yang bisa dan mau aku dongengin pake buku ini wkwkwk. Ceritanya bener-bener ringan dan cepet banget dibaca. Ilustrasinya juga memanjakan mata banget, bikin betah.
Gemes banget... baru tau Ci Clara kerjasama dengan banacota buat buku ini. Aku suka banget ilustrasinya dia ♡ Cerita di buku juga manis. Aku paling suka cerita yang tentang kura-kura ♡