Aku nggak inget kapan benci banget sama heroine di buku, tapi Pra ini emang beneran keterlaluan, sih. Pemakaian sudut pandang pertama semakin nambah kegusaranku. Yah, pokoknya aku "nay" lah sama heroine di sini.
Pra terpaksa harus mencari pekerjaan baru setelah di-PHK. Lalu, sahabatnya, Laras, mempunyai satu pekerjaan yang dari segi kerjaan sih gampang, gajinya juga lumayan (bisa memenuhi kebutuhan tersier Pra), tapi nggak elit sama sekali. Pra harus jadi pengasuh anak SD umur 9 tahun. Nggak cukup di situ, ternyata bosnya (alias bapak si bocah) ini punya sifat yang wishy-washy. Bertindak berdasarkan mood. Ugh, yang paling Pra benci adalah bosnya itu duda!
Oke, masuk bagian ulasan. Pertama, aku suka sama gaya tulisan Kak Umi ini; ngalir dan mendalami karakter banget. Kedua, saking mendalaminya, aku sampai jengkel setengah mati sama si Pra. Gimana ya, dia katanya punya otak pintar, tapi nggak dibarengi dengan akhlak, alias akhlak eobseo. Terus, di ini manja. Astagfirullah, kenapa gitu nyari kerja harus nodong temennya dulu? Mana habis itu kena masalah dilempar ke Laras pula. Arghhh!
Ketiga, masih masalah kemanjaannya. Kalau dia pintar, kenapa nggak masukin CV ke mana-mana gitu, perusahaan bonafide misalnya? Kan, dia pinter, hmmm. Kadang greget sih yang dipikirannya harus tampil cantik dan paripurna. Aku sampai jengkel lihat kalimat paripurna. Palelu, palelu 😭 paripurna juga nggak gitu banget kali, mbak. Duh ....
Keempat, pandangan Pra soal duda itu asdfghjkl cuma bisa ngelus dada doang karena udah done banget. Oke, banyak orang yang nggak sependapat duda itu keren, atau apalah. Cuman apa ya, parah aja sih pemikiran Pra sama duda hanya karena masalah "bekas pakai orang lain". Duh, kalo jadi Gandhaa udah aku blacklist dari hidup, dah. Sabar banget bapak satu itu huhu.
Hal yang bikin aku bertahan sampai akhir adalah Raka. Dia tuh lucu, pure, terus pinter banget! Karakter yang nggak bisa gitu aja aku benci, hiks.
Overall, bukunya bagus, cuma aku nggak bisa tahan sama karakter Pra yang bikin darah tinggi.