Selain demi meraih gelar master dan mewujudkan mimpinya menjadi seorang visual merchandiser, Rania berharap kepindahannya ke Kota Milan bisa membuatnya melupakan sosok masa lalu bernama Raka. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Siapa sangka, justru Milan yang mempertemukan mereka kembali dengan cara yang tak terduga. Yang menjadi tanda tanya besar, kali ini Raka akan tinggal atau pergi lagi seperti yang pernah terjadi pada masa lalu mereka?
Kisah ini membawa kita menikmati kehidupan dan keindahan kota-kota di Italia, merasakan pahit manisnya cinta, dan indahnya persahabatan...
Ini buku kedua berlatar Milan yang saya baca setelah Reborn: Karena Setiap Orang Membutuhkan Kawan Bicara dan beberapa bagian sedikiiit mengingatkan saya akan novel Made of Stars (bagian kakek-nenek Italian-nya, sih). Dibanding buku yang saya selesaikan sebelum ini, gaya berceritanya lebih masuk ke saya, lebih rapi pula sudut pandang pertamanya. Lugas, personal, sedikit TMI tapi termaafkan, dan tidak membosankan. Jadilah tuntas dalam satu hari saja.
Bab 1-nya kurang mengesankan, kalau kata saya. Cara tokoh utamanya memperkenalkan diri dan kota-kota yang ia sudah kunjungi di Italia masih seperti membaca artikel. Tapi dari bab 2 sampai habis, wah, mengalir saja. Enggak cuma Italia, di sini juga ada latar Perancisnya. Dan penggambarannya malah lebih membumi dari Reborn. Nama-nama restorannya, (Verdi's! Tempat nongkrong Rania-Amanda-Adri), cita rasa makanannya, sampai trivia bahwa di Milan bus lebih banyak promonya ketimbang kereta (di Reborn tokoh utamanya juga bepergian dengan bus) masih saya ingat.
Terus, saya suka banget cara penulis menyelipkan info-info dalam alurnya. Misalnya, waktu Rania ketemu Raka di Santa Maria delle Grazie dan telat, lalu Raka bilang museumnya udah tutup dan jam kerjanya ketat jadi enggak bisa nerobos gitu aja, lalu Raka menawarkan makan siang. Enggak ada kesan tempelan, malahan ngaruh banget sama plotnya. Waktu awal diajak nongkrong Amanda juga, sekaligus memperkenalkan aperitivo. Penjabaran konser, toko-toko macaron di Paris, restoran La Carbonara di Roma... semua itu turut menambah nuansa ceritanya, entah ketika Rania sedang senang, sedih, patah hati, kembali semangat. Pas pokoknya.
Memang latarnya tidak detail, tiap kafe dan restoran juga tidak diceritakan bagaimana bentuknya, tapi ambience-nya terasa bahwa mereka ada di Italia, atau di Perancis. Presisi, ya, itu. Bahasa Italianya juga yang sederhana saja, malah lebih banyak Bahasa Inggrisnya. Oh, omong-omong masih ada yang keliru misalnya I'm agree, how can she helps, dan just breath tapi masih ngerti lah ya maksudnya. Ada yang tidak diberi terjemahan (kayak Bahasa Perancisnya Raka) tapi cuma satu-dua kalimat.
Tokoh-tokohnya! Ya Allah, saya kangen banget nemu tokoh yang begini. Punya kesukaan, punya hobi, punya keahlian, punya cita-cita, punya kebiasaan, punya suara. Yang paling penting, itu semua berjalan konsisten dan tiap karakternya memang tidak ada yang sempurna, tapi tampak berusaha untuk jadi versi yang lebih baik. Suka banget sama kejujuran Rania yang ingin punya pasangan rajin salat, tapi dia sendiri salat masih tiga waktu sehari, cuma janji mau ningkatin lagi. Suka juga ke-apa adaan-nya Amanda dan Adri. Bahkan saya suka tabiat Raka yang rada smarty pants dan kebiasaannya minum cherry coke. Dan bahasa percakapan mereka tuh asyik, kekinian, tapi enggak norak! Jujur saya kurang sreg kalau ada istilah 'ngegas' atau kata 'se-(kata kerja) itu' dipakai berlebihan dalam novel. Di sini, bahasa gaulnya masih bisa saya ikuti, seperti tajirina dan halu.
Latar sudah, gaya bertutur sudah, alur... mulus saja, paling transisi antar masa lalu dan masa depan yang masih campur-campur, tokoh juga sudah. Dan ini bagian favorit saya: konflik dan penyelesainnya. Sejak Raka diperkenalkan, sudah terlihat bahwa cowok itu mendominasi dan lebih sering bicara tentang dirinya sendiri. Bahkan penulis menyisipkan adegan saat Rania mengenakan stilletto di jalan cobblestone yang tidak nyaman, tapi ditahannya demi tampil cantik saat berjalan bersama Raka. Udah ketahuan siapa yang berpura-pura, kan? Dan semua yang Amanda bilangin ke Rania habis dia putus lagi sama Raka itu PERSIS sama dengan yang pernah saya omongin ke teman saya, yang saat itu lagi ada di posisi Rania! Relatable and agreeable. Sampai terakhir pun, dengan kata-kata Adri yang 'rapihin dulu rumahnya, baru terima tamu' juga saya amini. Intinya saya sepakat dengan apa yang mau disampaikan penulis, dan saya mendukungnya.
Judulnya, Addio, memang sudah pas menggambarkan cerita ini, karena kisah cinta enggak melulu berakhir bahagia berdua, tapi bisa juga sendiri, atau bertiga dengan sahabat. Jadi ingat, konflik yang sama juga ada di novel Hari Setelah Kita Jatuh Cinta, sayangnya yang satu itu kurang panjang haha. Yang ini tebal halamannya sudah memuaskan. Semuanya teresolusi, latarnya dapat banget, tokoh-tokohnya saling memiliki khas, cerita dan pendapatnya relatable, dan percakapannya realistis. Satu lagi deh, KOVERNYA! Kayaknya warna jingga senja gini cocok dengan mood kisahnya dan latar Italianya. Ayo, kamu baca juga!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Jika bisa bepergian ke luar negeri, negara mana yang paling ingin kamu kunjungi? Kalau aku, salah satu negara impianku itu ITALIA. Dan baca Addio ini, aku benar-benar ngiler sama Rania. Aku juga pengen tur keliling Italia.
Jika selama ini, kita mengenal Italia sebatas Roma, Milan atau Verona, dalam novel ini akan muncul kota-kota lain tempat persinggahan Rania yang wajib juga kamu kunjungi.
Tapi, novel ini bukan tentang kisah perjalanan ya. Novel ini mengisahkan kehidupan baru Rania yang baru saja memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke Milan. Disini Rania akan menimba ilmu tentang visual merchandiser. Ada yang tahu apa itu?
Jujur, aku baru tahu kalau pajangan-pajangan display toko yang biasa kita lewati itu butuh ilmu tersendiri. Bagaimana penataannya juga ternyata dibuat sedemikian rupa demi menarik pelanggan. Dan itulah yang akan dipelajari Rania.
Tidak hanya itu, disini pun Rania akan belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan dan tentunya budaya baru. Rania pun belajar untuk berdamai dengan masa lalu dan mengikhlaskan. Tapi, bagaimana jika sudah sejauh itu bepergian, ternyata hantu masa lalu itu masih terus membayangi bahkan mewujud nyata, apa yang harus dilakukan Rania?
Sebenarnya agak kaget juga dengan reaksi Rania saat bertemu kembali dengan Raka. Rasanya terlalu mudah Rania memaafkan Raka, dan sekali lagi hanyut dengan pesonanya. Gregetan banget dengan Raka yang tidak konsisten memutuskan pilihan.
Aku suka banget dengan persahabatan Amanda dan Adri, mereka yang membuat hidup Rania jadi berwarna di Milan.
Walaupun endingnya bukanlah ending favoritku, tapi aku belajar bahwa tidak semua yang kita inginkan itu bisa tercapai, setidaknya kita belajar untuk mengikhlaskan dan mencintai diri kita sendiri
Addio yang dalam bahasa Italia berarti “Selamat tinggal” mengisahkan tentang seorang Rania yang memutuskan untuk mengambil gelar master di Kota Milan, Italia. Namun siapa sangka di sana rania bertemu dengan seseorang yang sangat ingin dilupakannya, yaitu Raka. Mantan Pacarnya yang pergi meninggalkan Rania tanpa sepatah kata pun, hingga membuat Rania bertanya-tanya apa yang salah dari dirinya sehingga dia ditinggalkan.
Cerita ini mengajarkan pada kita tentang apa itu arti dari sebuah kehilangan, apakah kehilangan adalah sesuatu yang selalu buruk? nyatanya tidak selalu begitu, katanya setelah kita kehilangan sesuatu, akan selalu datang sesuatu yang jauh lebih besar entah apapun itu. Because not everyone or something lose is a lost. Terkadang kehilangan sesuatu membuat kita menjadi berfikir dan lebih mengenal diri sendiri.
Secara pribadi aku suka ending yang disajikan, momen penerimaan diri memang menjadi suatu hal penting yang suatu saat pasti akan dihadapi oleh seseorang. Momen pemicunya pun beragam, namun seringkali kehilangan membuat kita lebih perhatian terhadap diri sendiri, dan perlahan mau menerima diri apa adanya.
Oh iya salah satu hal favoritku dari novel ini adalah bagaimana sebaiknya bersikap “yaudahlah” terhadap apa yang menimpa kita, bukan berarti pasrah tapi lebih ke menerima bahwa memang baiknya seperti itu dan apabila memang tidak bisa dipaksakan yaa mau apalagi ya kan.
Kata yang pas buat buku ini tuh, cantik. Kalau dilihat, dari sampulnya khas buku lama yang cantik dengan judul asing(?). Okay, let's talk abt the book. Pertama baca ini gak expect bakal sesuka itu sama buku ini, tapi makin jauh dibaca, makin banyak hal yang penting, makin banyak unsur dari negara Europe diulik makin jatuh cinta sama buku ini. Awalnya biasa aja sama Europe, tapi sehabis baca ini makin banyak hal yang kutulis di wishlistku haha. Disini banyak banget, pake banget pelajaran yang bisa diambil, gak cuma ada konflik love life, tapi disini ada tentang family issues, mom issues, bahkan disini banyak banget ngajarin apa itu arti berdamai sama pengalaman buruk ataupun diri sendiri. Namanya buku pasti ada minusnya juga ya, disini mungkin sedikit ada typo, sedikit kok wajar banget. Overall aku suka sama bukunya, kayak nemu hidden gem. Oya, 3 sahabat ini tuh bikin aku terharu bgt. Kalau seandainya bisa ketemu mereka, aku mau bilang, kalian keren banget. Kurang lebih ini kesimpulannya, gak begitu detail.
This entire review has been hidden because of spoilers.
ASLI GEREGETAN BANGET BACA NOVEL INI! 😳😳 Addio bikin aku kangen banget baca buku fiksi romantis. Meski ceritanya udah sering dibaca atau ditonton di film-film, tetep aja Addio menyuguhkan kisah yang enggak kalah menarik untuk diikuti hingga akhir. Terus yang aku suka, penulisnya, punya gaya bertutur yang asyik dan luwes banget! Bukan cuma itu, aku gampang banget kepincut sama penggambaran Milan, mulai dari pelajar Indonesia di sana, orang-orang lokal, juga makanannya! Aku gak sabar baca novel ini sampai habis, penasaran banget sama kisah Rania dan Raka. Akankah mereka mengucap "Addio" kembali?