Jump to ratings and reviews
Rate this book

Penyap

Rate this book
Bagi Leo Sebastian, hidup adalah lorong-lorong gelap berliku. Di dalamnya, ia tersaruk-saruk sendirian. Leo keliru. Di dalam kegelapan itu, ia bertemu Anasera. Gadis itu mengisi kekosongan yang selama ini menguasai Leo.



Bagi Anasera, hari esok adalah sebuah dinding tebal. Ia tidak bisa melihat apa pun di balik tembok itu. Namun, berkat Leo, Anasera mulai berani mengirimkan mimpi-mimpinya ke masa depan.



Sejak pertemuan mereka di rel kereta api saat itu, pelan-pelan cahaya mulai terkuak. Leo tersenyum dengan keyakinan bahwa hidup tidaklah sekosong itu dan bersama Leo, Anasera merasa hidupnya berharga. Namun, ketika mereka pikir semuanya akan baik-baik saja, sesuatu terjadi.

319 pages, Paperback

Published October 1, 2019

2 people are currently reading
78 people want to read

About the author

Sayyidatul Imamah

6 books6 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
13 (28%)
4 stars
19 (42%)
3 stars
10 (22%)
2 stars
2 (4%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews
Profile Image for Afy Zia.
Author 1 book116 followers
August 28, 2019
3 bintang.

[ULASAN INI BERISI PENDAPAT PRIBADI DAN SPOILER MINI!]

Waktu baru baca, sejujurnya saya rada keinget All the Bright Places (AtBP bahkan sempet disebut di Penyap). Ada beberapa hal yang terasa agak mirip, terutama karakter tokoh utama cowoknya. Leo ini sedikit-banyak ngingetin saya sama Finch. Meski begitu, keduanya beda kok.

Oke. Hal pertama yang mau saya apresiasi di sini adalah gaya penulisan. Serius deh, cara penulis bernarasi itu luar biasa ngalir. Ini nggak hiperbolis, ya. Emang beneran enak dibaca. Dan hal itu, bagi saya, bikin Penyap jadi terasa page-turner.

Penyap memakai 2 sudut pandang: Anna dan Leo. Karakter Anna pun Leo, menurut saya, dibangun cukup kuat. Oh ya, ada sudut pandang lain juga, yaitu Nora (tapi 'suara' dia diceritain lewat buku hariannya). Angsty-nya kerasa kalo udah baca bagian Nora.

Namun, saya kurang sreg sama insta-lovenya. 😅 Hubungan Anna dan Leo di awal cerita, menurut saya, terlalu cepat berkembang sehingga saya kurang dapet gregetnya. Tapi ini mungkin preferensi pribadi aja, ya.

Saya juga menyayangkan penyakit Leo yang kurang digali lebih dalam. Oke, penjabaran emosinya memang detail. Saya bisa ngerasain frustrasinya Leo saat masuk POV dia. Namun, sampai bukunya tamat, saya masih bingung penyakit Leo ini spesifiknya apa karena nggak disebutin secara eksplisit.

Oh ya, masih berhubungan sama paragraf sebelumnya. [SPOILER ALERT!!!] Leo ini... self-diagnose ya kalo dia punya penyakit? Karena seinget saya, sebelumnya nggak pernah disinggung kalo Leo berhubungan sama psikiater/psikolog gitu (ini sebelum ketemu konselor sekolahnya, ya). Tapi dia tiba-tiba bilang "penyakit". Saya jadi bingung. Dari mana dia tau kalo dia punya penyakit...? Jadi saya mikirnya, dia ini self-diagnose aja.

Dan sejujurnya, saya rada kurang suka bagaimana Leo menganggap Anna seolah-olah cewek itu 'obat' untuk penyakitnya. Bukannya apa, tapi hal itu seakan menyiratkan cinta bisa menyembuhkan segalanya, termasuk penyakit. Yes, love somehow could make things feel easier. But it's not a cure. When you're sick, you seek professional helps. :) ini jadi agak menyiratkan seolah orang yang punya penyakit mental 'cuma' butuh orang yang tepat agar bisa sembuh. Hal itu bisa memperparah stigma penyakit mental juga, menurut saya.

Meski begitu, saya salut sama penggambaran emosinya yang cukup suram. Ugh. :")

Terakhir, saya suka endingnya! Realistis.

Secara keseluruhan, Penyap cukup menyenangkan untuk dibaca. Apalagi nuansa buku ini rada suram. 🙁

#StorialPenyap

Terima kasih @storialco dan @sayyidatul_imh atas kesempatannya. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. 🙏🏼

Semangat terus untuk penulisnya!
Profile Image for Fahri Rasihan.
478 reviews124 followers
September 8, 2019
Isu tentang mental illness memang masih dianggap tabu dan remeh di Indonesia. Kebanyakan masyarakat Indonesia masih memandang sebelah mata pada penyakit ini. Padahal mental illness merupakan penyakit yang sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitar. Memang secara fisik penyakit ini tidaklah tampak, namun efeknya sangat menyiksa bagi penderitanya. Saya sendiri mengalami gangguan kecemasan jika berada di tengah kerumunan orang banyak. Dan itu sangat menyiksa. Penyap menawarkan sebuah realita yang nyata akan kondisi lingkungan yang acuh terhadap penderita mental illness. Saya senang saat makin banyak penulis lokal yang peduli terhadap isu ini dan mengangkatnya dalam karya mereka. Penyap juga menunjukkan sebuah sampul yang elok sekaligus menjual. Tak heran memang karena sampul buku ini dibuat oleh Sukutangan, salah satu ilustrator terbaik di Indonesia. Gambar sepasang pria dan wanita merupakan visualisasi dari tokoh Anasera dan Leo. Saya suka dengan penggambarannya, yaitu dimana Anasera yang mengenakan topi kupluk dan Leo dengan rambut tebal hitamnya. Pemilihan judul Penyap pun terbilang cerdas karena di satu sisi mungkin akan terdengar asing, tapi di sisi lain memiliki arti yang mendalam untuk ceritanya.

Penyap membawa pembaca dalam jalan cerita yang muram dan kelam. Tema tentang mental illness yang diangkat sangat relevan dengan keadaan masyarakat Indonesia. Di mana biasanya banyak yang menyepelekan bahkan membiarkan orang-orang yang mengalami mental illness. Seperti tokoh Anasera dan Leo yang harus berjuang dalam menghadapi penyakit mereka. Anasera yang harus menderita penyakit kanker darah secara tidak langsung juga memengaruhi mentalnya. Bagaimana dia merasa jika hidupnya sudah tidak ada lagi harapan dan hanya tinggal menunggu kematian. Sedangkan Leo yang lahir dan besar dalam keluarga yang disfungsional mengalami mental illness. Di mana kurangnya perhatian dari keluarganya dan tekanan yang diberikannya memicu pemikiran bahwa dirinya tidaklah berguna. Keduanya memiliki pemikiran yang sama, yaitu ingin segera mengakhiri hidup mereka. Menurut saya penulis berhasil menunjukkan fakta tentang betapa pentingnya kita untuk sadar dan peduli kepada orang-orang yang mengalami mental illness.

Ada dua tokoh sentral yang menjadi sorotan dalam jalan ceritanya. Pertama ada tokoh Anasera yang merupakan seorang gadis remaja yang harus mengidap penyakit kanker darah atau leukimia. Akibat penyakitnya Anasera sering merasa tertekan. Dia melihat akibat dari penyakitnya keluarganya jadi hidup menderita. Mulai dari pindah rumah, kakaknya yang tidak kuliah, hingga pertengkaran kedua orangtuanya akibat masalah ekonomi. Anasera merasa jika hidupnya tidak memiliki harapan lagi. Maka tidaklah aneh jima dia memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya.

Kemudian ada tokoh Leo yang harus tumbuh dan besar dalam keluarga yang disfungsional. Bagaimana kedua orangtuanya merupakan seorang pecandu narkoba. Apalagi setelah ayah kandungnya meninggal, Leo harus hidup bersama ayah tirinya yang seringkali menyiksanya, baik secara fisik maupun mental. Mendapat penderitaan yang bertubi-tubi dari keluarga dan lingkungan membuat Leo berpikir jika dirinya memang tidak berguna dan berharga. Kurangnya perhatian dan banyaknya penilaian buruk akan dirinya membuat Leo berniat untuk mengakhiri hidupnya. Meskipun mengalami derita di dalam dirinya, Leo menutupinya dengan menjadi anak yang nakal dan pembangkang.

Selain tokoh Anasera dan Leo, terdapat juga tokoh Nora yang hanya diceritakan lewat buku diary-nya. Meskipun hanya sedikit berperan, tapi tokoh Nora cukup menarik perhatian. Saya suka akan cara penulis dalam menggambarkan kondisi mental Anasera dan Leo. Bagaimana mereka terus berpikir negatif akan kehidupan akibat penyakit mereka. Selain itu kondisi lingkungan yang tidak mendukung dan terkesan abai juga merupakan realita yang memang terjadi di kehidupan nyata.

Penyap mempunyai alur cerita yang sedikit lambat. Penulis sepertinya ingin memperlihatkan bagaimana dampak psikologis dari lingkungan yang tidak kondusif kepada kedua tokohnya. Lingkungan yang menekan dan mengacuhkan seakan-akan mereka tidak layak lagi untuk hidup di dunia ini. Menggunakan sudut pandang orang pertama lewat tokoh Anasera, Leo, dan sedikit Nora cukup menggambarkan bagaimana mental illness memang menyiksa dan menyakiti penderitanya. Walaupun alur ceritanya terbilang lambat, tapi untungnya gaya bahasanya sangat ringan dan mengalir. Banyak sekali kutipan dari beberapa tokoh terkenal yang diselipkan dalam percakapan. Latar tempat yang digambarkan penulis tergolong pas dan cukup terbayangkan dalam benak saya. Tempat-tempat seperti rumah sakit, sekolah, sungai, jembatan, hingga hutan bisa tervisualisasikan dalam benak saya.

Tidak ada konflik yang terlalu dramatis, tapi konfliknya memberikan efek suram dan gelap bagi pembacanya. Konflik cerita lebih menyoroti tentang Anasera dan Leo yang saling menguatkan melawan penyakit mereka. Di sini kita akan melihat bagaimana dampak dari mental illness yang bisa saya bilang sangat berbahaya jika tidak ditangani dengan baik. Nyawa bisa menjadi taruhannya. Apalagi penulis berhasil menggambarkan keadaan yang sesungguhnya, di mana lingkungan sekitar abai akan orang-orang seperti Anasera dan Leo. Dampak psikologis dari penyakit mereka sangat terlihat dan terasa khususnya bagi saya. Bagaimana perasaan ingin bunuh diri itu terasa wajar jika memang tidak berusaha mencari bantuan. Dan saya suka dengan penyelesaian konfliknya yang realistis dan memang apa adanya. Konflik yang tercipta secara perlahan-lahan dengan efek yang muram, suram, dan gelap.

Saya berharap jika novel Penyap ini bisa dibaca oleh orang banyak agar mereka bisa sadar akan pentingnya sikap mereka terhadap mental illness. Kepedulian dan kepekaan sangat membantu penderita mental illness untuk menghadapi penyakit mereka. Penyap adalah contoh novel yang mengungkap realita sekaligus memberikan informasi tentang bagaimana isu ini berkembang di Indonesia. Meskipun tidak banyak intrik yang terjadi, namun lewat tokoh Anasera dan Leo sudah cukup menggiring pembaca untuk ikut hanyut dalam jalan ceritanya. Kekurangannya adalah tokoh Anasera dan Leo yang menurut saya terlalu cepat dekat dan terasa dipaksakan pada awal cerita. Lalu saya juga masih bertanya-tanya Leo bisa dapat uang dari mana ya jika keadaan keluarganya seperti itu. Dan sosok ayah tirinya ini masih kurang jelas latar pekerjaannya apa sampai bisa teler setiap hari di rumah. Selebihnya Penyap sudah bisa menjalankan sebuah cerita yang cukup solid lewat Anasera dan Leo. Secara keseluruhan Penyap adalah sebuah realita yang menunjukkan masih kurangnya kepedulian masyarakat terhadap orang-orang yang mengidap mental illness. Semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari novel ini.
Profile Image for Wardah.
952 reviews172 followers
October 5, 2019
Seumur hidupnya, Anna selalu sakit parah. Keluarganya merelakan segala hal untuk penyembuhannya. Nora, sang kakak, bahkan rela mengubur mimpi untuk berkulliah. Dia selalu hidup dalam belas kasihan orang lain. Dan Anna tidak pernah suka itu.

Katanya, Leo itu anak aneh yang suka berbuat onar. Keluarganya amburadul, begitu juga dengan sekolahnya. Tidak pernah ada yang menganggap Leo ada. Sampai dia bertemu dengan Anna.

Anna dan Leo sama-sama memendam ketakutan dan harapan akan masa depan. Bagi mereka, hidup terasa menyakitkan untuk dijalani. Namun, apakah kematian merupakan jawaban yang tepat?

"Karena, bunuh diri bukan kematian."
"Itu tetap kematian. Tapi, bukan bagian dari kehidupan. Kita hidup, lalu kematian datang. Bukan kita yang mendatangi kematian." (hlm. 130)


Penyap bisa dibilang bukanlan novel yang aman dibaca ketika kamu merasa letih dan lelah dengan kehidupan. Apalagi jika kamu berada di posisi Anna, yang menderita sakit, atau Leo, yang tidak diacuhkan keluarga. Atau sekadar ketika kamu merasa kamu sendiri (TAPI KAMU GAK SENDIRI KOK! Colek saya kalau kamu butuh teman ngobrol, oke?).

Membaca Penyap sendiri membutuhkan waktu bagi saya. Tulisan Sayyidatul Imamah ini bagus, bagus banget. Dan berhasil banget bikin saya ikut menyelami penderitaan dan keputusasaan para tokoh. Suka banget apalagi sama ending-nya yang memuaskan! T_T

Ulasan lengkap bisa dibaca di missfioree.space ya!
Profile Image for Sandra Bianca.
128 reviews4 followers
August 30, 2019
Full review: https://biancatwinbee.blogspot.com/20...

Berbeda dengan cerita teenlit pada umumnya, buku ini bercerita mengenai perjuangan. Anna yang seorang penderita leukimia akut bertemu dengan Leo yang seorang mental illness. Keduanya merasa nggak ada gunanya hidup, tapi saat bersama, mereka malah saling menemukan kekuatan masing-masing—mereka jadi punya alasan untuk terus hidup.

Seperti yang udah aku bilang kemarin, aura buku ini dark. Nggak ada unyu-unyu ato manis-manisnya sama sekali. Ditulis dengan dua sudut pandang (Anna dan Leo), aku jadi lebih bisa memahami apa yang mereka pikirkan dan rasakan.

Aku ngerasa related banget sama karakter Leo. For some reason that I can't tell, I'd ever try to kill my own self. Jadi aku ngerasa keluar dari sebuah kungkungan yang berisi pikiran jelek itu sangat amat susah. Aku selalu mules waktu baca POV-nya Leo. Dia selalu ngerasa sendirian, seolah dunia dan seisinya membencinya—apalagi kalo pas cerita tentang keluarganya. Sedangkan untuk Anna, aku memahami bagaimana posisinya yang terhimpit di antara menyerah dan ingin berjuang. Kebetulan belakangan ini aku berkutat dengan seorang pejuang kanker. Dan ya, sangat susah untuk menemukan semangat hidup saat udah berada di ambang kematian.

Oh ya, satu hal lagi yang menarik perhatianku adalah Nora—kakak perempuan Anna. Meski porsi munculnya nggak banyak, tapi diary yang ditulisnya bikin dada nyut-nyutan.

Selain temanya yang menarik, gaya menulis yang digunakan bener-bener jempolan. Mengalir. Hebatnya lagi nggak berasa bertele-tele ato mbulet meski diksi yang digunakan cukup jleb. Pergulatan batin para tokoh utamanya tersampaikan dengan baik. Selain itu karakter para tokohnya terbangun cukup kuat, baik itu Anna, Leo, dan Nora.

Soal kisah cintanya sendiri jujur aku nggak tergerak dengan hubungan Anna dan Leo. Di mataku mereka lebih cocok jadi teman baik ketimbang dua orang yang saling jatuh cinta.

Secara emosi, buku ini memang oke punya. Emosional banget. Tapi di sisi lain ada beberapa pertanyaan yang sampai akhir nggak terjawab. Yah, bukan sama sekali nggak terjawab sih, tapi kurang dijabarkan.

Kalau ditanya apakah aku menikmati buku ini, jawabannya adalah ya, aku sangat menikmatinya. Terlepas dari poin-poin yang mengganjal buat aku—serta beberapa tanda petik yang kurang dan huruf yang agak ngaco, buku ini menawarkan sebuah cerita kehidupan yang penuh makna. Banyak pelajaran yang bisa dipetik. Terutama bagi kalian yang selalu merasa sendirian dan tidak berarti, percayalah kalau kalian tidak sendirian. Jangan pernah menganggap diri sendiri aneh, karena setiap manusia memiliki keanehan masing-masing yang disebut unik. Mungkin kalian tidak menderita penyakit mental seperti Leo atau leukimia seperti Anna, tapi perjuangan mereka cukup memotivasi. Believe me, this book is worth to read!
Profile Image for Fakhrisina Amalia.
Author 14 books200 followers
May 18, 2020
Membaca buku ini memang mengingatkanku dengan ATBP, tapi tentu ada beberapa hal yang berbeda. Suka dengan akhir yang diberikan penulis pada ceritanya, tapi ada satu hal yang mungkin perlu ditelaah lagi, yaitu tentang teori Sigmund Freud yang disebutkan di sini, karena setahuku konsep dari teori itu bukan seperti itu. Selain itu, kutipan2 yang digunakan oleh Leo dalam percakapan terasa terlalu banyak, dan membuat flow dari percakapan antara Leo - Anna agak.... Monoton. Karena tiap kali mereka ngobrol, kutipan2 itu selalu ada. Mungkin mewakili karakter Leo yang dulunya suka membaca, tapi ya gitu, dengan segitu banyak referensi, jadinya agak monoton, tapi aku rasa bagian itu hanya masalah selera.

Sebagai catatan, trigger warning untuk yang merasa punya kecenderungan masalah psikologis, dan jika merasa ketrigger setelah baca buku ini, please ajak seseorang untuk bicara.
Profile Image for Lelita P..
632 reviews59 followers
February 7, 2020
Sudah lama sekali sejak saya butuh waktu sejenak untuk nggak langsung me-review suatu buku. Terlalu banyak yang ingin diungkapkan, tapi sebaliknya nggak pengin langsung cepat-cepat mengungkapkannya. Saya pengin meresapi dulu segala emosi yang saya rasakan usai menutup novel ini. Bahkan setelah selesai membaca untuk pertama kalinya, saya langsung membuka lagi bukunya dari awal, mengulangi perjalanan Anna dan Leo.

This book is ... heartbreakingly beautiful and beautifully heartbreaking.

Novel ini bisa dikatakan kelam, tapi saya cukup heran sekaligus kagum karena cerita romansa remaja yang mempertemukan gadis-sekarat dengan pemuda-bermasalah-yang-menderita-depresi bisa dituliskan dengan seindah ini dan semenawan ini. Di sisi lain, premis seperti itu memang cuma paling tepat kalau dieksekusi menjadi cerita seperti ini dengan gaya seperti ini. Saya pernah membaca novel dengan premis mirip--By the Time You Read This, I'll be Dead karya Julie Anne Peters--yang juga heartbreaking, tapi nggak seperti Penyap ini. Penyap jauuuh lebih heartbreaking. Siap-siap saja saya bakal banyak menyebut kata heartbreaking sampai akhir.

***

Saya ingin memulai dengan mengatakan bahwa saya sangat, sangat, sangat menyukai gaya penulisannya. Saya jaraaang sekali--hampir tidak pernah, bahkan, hanya satu-dua kali lah--menemukan teenlit Indonesia yang ditulis dengan gaya seperti novel-novel young adult luar negeri yang kerap saya baca. Novel YA luar negeri seringkali thought-driven, terutama untuk novel dari sudut pandang orang pertama. Para penulis itu benar-benar membiarkan karakternya berbicara, mengeksplorasi isi kepala mereka dengan cenderung "ngalor-ngidul"--terserah si tokohnya mau cerita apa saja. Saya suka novel-novel YA luar negeri yang seperti itu karena selain thoughtful, deskripsinya juga selalu pakai kalimat-kalimat indah, bertabur metafora atau analogi yang unik dalam mendeskripsikan sesuatu. Saya selalu mengagumi penulis novel YA luar negeri yang memakai gaya seperti itu, dalam hal ini saya merujuk kepada Lauren Oliver, John Green, Ally Condie, dan Rachel Hartman.

Nah, Dayuk menulis Penyap ini dengan gaya yang persis seperti itu, yang langsung familier buat saya dan bikin saya terhanyut sekaligus terkagum-kagum. ("Kok bisaaa dia nulis kayak gini?!") Jadi rasa Penyap ini benar-benar rasa novel terjemahan, sampai saya nyaris lupa ini novel Indonesia. Seolah Penyap ini baru keluar dari tangan penerjemah-penerjemah novel YA itu, bukannya hasil tulisan murni dari bahasa Indonesia asli. Banyak kutipan yang pengin saya cungkil dan taruh di hati saking indah dan mengenanya.

Selalu ada sesuatu yang tidak bisa dihentikan oleh manusia, seperti menghentikan hujan turun, menghentikan matahari bersinar, menghentikan bumi berputar, dan menghentikan seseorang untuk tidak pergi. (halaman 120)


Gaya menulisnya yang seperti itu membuai saya, menghanyutkan saya ke dalam ceritanya. Novel ini menggunakan dua sudut pandang, yaitu Anna dan Leo. Sebagaimana yang selalu, selalu, selalu saya address di setiap review saya untuk novel dengan dua POV, saya pasti akan mengatakan apakah "suara" kedua tokoh ini bisa dibedakan, karena buat saya memang hal itulah yang paling krusial untuk sebuah novel dari dua POV. Untuk novel ini, well, saya harus bilang, suara kedua tokohnya 90% bisa dibedakan. Kenapa 90%? Soalnya masih ada beberapa bagian yang bikin saya off--lupa ini lagi bagian Anna atau Leo--sampai saya harus membalik ke halaman judul bab untuk melihat nama yang tertera sebagai judul bab. Tapi itu cuma di awal-awal, sih. Selebihnya, ke belakang, saya nggak mengalami hal seperti itu lagi. Menurut saya sebenarnya itu bukan sepenuhnya karena "suara" kedua tokoh ini beneran berbeda (suara mereka nggak seberbeda itu), melainkan lebih karena ... circumstances keduanya memang sangat berbeda. Namun, Anna dan Leo banyak menghabiskan waktu bersama-sama dan ketika itu terjadi, saya nggak bingung ini lagi diceritakan dari sudut pandang siapa. Jadi saya rasa soal POV itu Dayuk berhasil mengeksekusinya dengan sukses.

Highlight berikutnya dari novel ini, saya kira, adalah karakterisasi Anna dan Leo dan hubungan mereka berdua selaku tokoh utamanya. Man, ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama, saya benar-benar peduli pada karakter novel. Biasanya kalau habis baca novel (dan usai me-review-nya di Goodreads), saya cenderung lupa sama karakternya. Nah, Penyap ini beda. Novel ini berhasil bikin saya peduli sama Anna dan Leo. Pedulinya tuh benar-benar peduli yang ... saya ingin menyelami hidup mereka lagi dan lagi, saya memikirkan mereka, saya nggak melupakan mereka setelah bukunya selesai dan sepertinya nggak akan lupa juga sampai kapan pun. Mereka membekas di kepala saya, begitu dalam.

Saya suka cara Dayuk menguraikan latar belakang mereka, menggambarkan dunia di sekeliling mereka. Lebih suka lagi pembangunan chemistry-nya, duhhh. Setiap interaksi mereka, saya berdebar-debar sekaligus berbunga-bunga sekaligus patah hati. Di beberapa review lain untuk novel ini, ada yang mengatakan bahwa pembangunan chemistry mereka terlalu cepat. Menurut saya sih enggak, udah pas. Saya malah senang karena pembangunan chemistry itu nggak bertele-tele di awal, sebaliknya difokuskan kemudian ketika mereka mulai saling membuka diri, mulai saling bergantung, mulai saling bersandar. Mulai benar-benar memahami makna "saling menemukan". :')

Karakterisasinya juga oke banget ... pas dengan background yang sudah dibangun. Misalnya, awalnya saya bertanya-tanya kok Leo yang "berandal" bisa tahu banyak kutipan novel klasik ... lalu di belakang dijelaskan soal itu dengan indah dan heartbreaking.

Oya, saya juga senang dengan bagian "Buku Harian Nora" di sini. Pelengkap yang pas banget rasanya, mengingat POV utama novel ini cuma dari Anna dan Leo. Dengan bagian buku harian itu, kita jadi mendapat insight sedikit soal pikiran Nora, jadi bisa memahami apa yang dia rasakan sehingga nggak heran kenapa peristiwa yang di belakang itu terjadi. Intinya, kita bisa mengerti alasannya--bahwa yang Nora rasakan memang bukan serta merta, melainkan sudah lama dan menumpuk.


Ending novel ini, sebagaimana sudah banyak yang bilang, realistis. (Entah kenapa, kok saya sempat mengira ini bakal happy ending ya? Hahaha.) Enggak, saya sama sekali nggak mempermasalahkan kok. Bagi saya, novel ini indah karena benar-benar menekankan pada "proses". Pada, istilah Anna, "memperpanjang hal yang sementara" (halaman 219). Makanya prolog dan epilognya singkat, kehidupan sebelum mereka bertemu juga nggak banyak dibahas, dan sebaliknya hampir seluruhnya menceritakan momen-momen manis ketika mereka saling berpegangan satu sama lain di tengah dunia yang gelap dan kacau.

Sayangnya masih ada beberapa kesalahan ketik di novel ini, seperti kurang spasi. Tapi sedikit sekali, kok. Dan ada satu hal yang buat saya mengganjal, berhubung saya nggak baca cerbung novel ini di Storial. Jadi di satu bagian disebutkan bahwa sebelum menyatakan perasaannya dengan sungguh-sungguh di kolam renang, Leo sempat nembak Anna di rumah sakit, tapi Anna-nya kayak menghindar. Peristiwa ini beberapa kali dibahas, tapi saya nggak ingat pernah membaca adegan ini. Jadi saya buka-buka lagi novelnya di bagian-bagian depan, berusaha menemukan adegan yang dimaksud. Nggak ketemu. (Apa saya yang kurang teliti? Tapi saya sudah mencari berkali-kali.) Terus saya jadi bertanya-tanya, apakah versi cetak yang saya baca ini banyak memotong versi asli? Entahlah ya. Kalaupun seperti itu sebetulnya wajar sih, soalnya memang biasa begitu kan novel cetak dari platform menulis daring. Tapi jadi aneh rasanya kalau merujuk adegan yang tidak ada. Pada akhirnya saya beranggapan saja bahwa--tentunya--mereka punya kehidupan lain di luar novel, yang tidak diceritakan di sini.

***

Penyap ini novel yang unik, penting, dan saya harapkan ada lebih banyak lagi di Indonesia, karena berani mengangkat isu yang perlu diperhatikan. Bagi saya, novel ini penting bukan hanya karena novel ini meningkatkan kepedulian terhadap orang yang dari luar terlihat baik-baik saja tetapi dying inside karena depresi akut sampai ingin bunuh diri, melainkan juga karena novel ini memberikan secercah harapan dan optimisme kepada pembacanya. Walaupun, pada akhirnya, kalau mengalami depresi pastilah harus benar-benar mencari pertolongan ke profesional, ya. Adanya support system memang bisa membantu, tapi--berdasarkan pengalaman pribadi--mereka juga punya kehidupan sendiri, kesibukan sendiri, kekhawatiran sendiri, dan sebagaimana Leo katakan, tidak selamanya akan ada di sana untuk kita. Jadi, tetap harus pergi ke profesional untuk mendapatkan pertolongan dalam kapasitas profesional.

Terakhir: Dayuk menulis ini waktu masih SMA, dan saya sungguh kagum karenanya. Masih SMA bisa menulis sebagus ini, ya ampun. :') "Secercah harapan dan optimisme" yang saya sebut di atas bukan hanya dari segi novelnya saja, melainkan juga dari segi ekstrinsik--bahwa dunia kepenulisan Indonesia (khususnya teenlit) masih punya harapan akan karya-karya berkualitas, yang tidak kalah dengan dunia novel YA luar negeri. Semoga ke depannya akan lebih banyak novel remaja seperti ini, baik itu tulisan Dayuk maupun penulis lain. :')
Profile Image for Wulan 🍉.
175 reviews69 followers
August 27, 2019
Trigger Warning: depression, suicide, violence.

Penyap menceritakan tentang dua anak SMA, Anna dan Leo, yang sama-sama berjuang melawan penyakit mereka. Anna adalah penderita Leukimia dan Leo memiliki penyakit mental. Kisah keduanya dimulai ketika mereka bertemu secara tak terduga di rel kereta.

Aspek yang paling aku suka dari buku ini tuh gaya penulisan dan flow-nya. Bukunya page-turner dan enak dibaca. Aku jadi lebih gampang merasakan emosi dari tokoh-tokohnya, sampai ga sadar air mata udah netes lol. Bukunya juga unik, karena banyak kutipan-kutipan dari tokoh atau buku lain.

Walaupun fokus cerita dari novel ini adalah Anna dan Leo, (bukunya dituliskan dari sudut pandang mereka berdua) tapi jujur, karakternya Nora, kakaknya Anna, hold my attention. Di buku ini juga ada POV-nya dia (dalam bentuk buku harian) yang terkesan misterius dan itu malah ngebuat aku makin tertarik sama Nora.

Buku ini bagus. Sayangnya, banyak hal yang aku pertanyakan pas baca bukunya dan sampai pada halaman terakhir pun masih belum terjawab. Setelah selesai baca, aku juga masih bingung kenapa buku ini diberi judul 'Penyap'? Jujur belum bisa merasakan makna kata ini di dalam bukunya.

Secara keseluruhan, untuk buku yang ditulis dalam waktu sebulan, i can say that the author did a good job! Beberapa pesan penting di dalam bukunya berhasil tersampaikan.

Senang banget ada 1 buku lagi yang mengajarkan dan membuat kita aware tentang mental illness🥺
Profile Image for Sophia Mega.
Author 4 books136 followers
September 10, 2019
Yang menarik bagiku dalam buku ini, banyak menjelaskan konsep kematian, kehidupan, bunuh diri dan harapan hidup. Bagiku itu yang terpenting dan menempel. Karena begitu menempel, aku suka sekali dengan Penyap.
Profile Image for Gia Widhi Astrini.
128 reviews43 followers
September 6, 2019
(Sebenarnya, ga pas 4 sih, tapi kubulatkan aja)

Novel Penyap ini novel remaja yang mengangkat isu mental health. Tokoh utamanya adalah Anna dan Leo. Keduanya bergulat dengan keinginan bunuh diri. Anna ingin bunuh diri karena depresi atas penyakit kankernya, sementara Leo ingin bunuh diri karena putus asa atas kehidupannya yang keras & pahit sejak kecil 🥺

Anna & Leo satu sekolah, dan menemukan satu sama lain sebagai alasan untuk bertahan.

Anna & Leo ini, pembangunan karakter orang depresinya dapet banget. Natural, bukan lebay disuram - suramin. Terutama Leo. Kenapa aku banyak ngerasa relate sama pikiran - pikiran Leo yang 'sakit' itu. Nuansa kesepian, putus asa, kerasa banget. Begitu juga perjuangan Anna & Leo untuk melawan pikiran mereka sendiri, sangat terasa strugglingnya.

Ada satu karakter pendukung namanya Nora, yaitu kakak Anna. Nora yang hanya muncul sedikit tapi kehadirannya sangat mencuri perhatian. Storyline Nora ini sangat menyayat hati. Jika Anna & Leo bisa saling menguatkan, Nora sang kakak harus terlihat selalu kuat, dan tak ada orang yang bisa menenangkan dia padahal Nora juga butuh seseorang yang memerhatikannya 😭😭😭

Nuansa novel Penyap ini agak berasa novel terjemahan. Banyak juga kutipan novel - novel klasik yang dimasukkan ke dalam dialog maupun narasi. Kadang aku merasa gaya bahasanya agak kaku. Mungkin, karena ngga biasa aja baca novel setting Indonesia dll tapi gayanya kayak novel luar (?)

Ending yang realistis. Dibilang sad bukan, hepi juga bukan, yang jelas endingnya ngga bikin hopeless.
Profile Image for Gi Arf.
79 reviews
August 28, 2019
"Setiap orang berhak untuk dipertahankan"
Kata yang terngiang ngiang setelah selesai membaca ini.
Buku ini membuka mataku untuk lebih melihat seseorang tidak hanya dari luarnya saja, karena tak semua orang bermasalah adalah orang yang buruk.
Profile Image for Lala Sulfa.
31 reviews1 follower
June 9, 2020
4,5/5🌟

Lega. Satu kata yang kurasakan setelah menamatkan novel ini. Tak ada lagi penderitaan, semua kembali pada takdir. Bagiku, ending novel ini cukup realistis dan menyentuh 😔

Novel ini tak sama seperti novel remaja lainnya. Isinya padat dan topiknya yang berat. Namun, penulis tetap menuliskannya dgn baik, dgn penuh perasaan, dan dgn banyak harapan.
.
Novel ini unik. Memadukan antara penyakit mental dan penyakit fisik serta memperlihatkan bagaimana kelakuan orang-orang di sekitar pengidap: banyak yg peduli dgn penyakit fisik namun sedikit sekali yg peduli dgn penyakit mental (dicuekin, dilihat dgn tatapan aneh, diejek, tak dipedulikan, dsb). Meskipun tak dijelaskan secara detail penyakit mental apa yang diderita Leo dan Nora, mereka memiliki kecenderungan bunuh diri. Wajar saja mereka sakit karena mereka sdh sering disakiti, baiknya mereka mencoba untuk bertahan, bertahan, dan bertahan sampai akhirnya .....
.
"Luka yang terlihat tidak selalu yang paling sakit." - Leo, hlm 213

Selain kisah Anna, Leo dan Nora, novel ini juga diperkaya dengan kutipan dari buku-buku terkenal, perkataan tokoh-tokoh dunia, dan quote manis lagi menohok yang penulis rangkai. Semua itu tentang kehidupan dan kematian, bisa jadi bahan renungan. Aku suka karena buku ini memiliki nyawa dan ciri khas ✨

Penulis terlihat sangat suka membaca, dia memiliki banyak referensi untuk menggambarkan dan menguatkan karakter tokoh. Aku juga suka kata-kata yang penulis rangkai, begitu indah 👍🏻

Meskipun ada beberapa bagian cerita yg sulit kucerna (salah satunya mengapa Leo dgn mudahnya tahu dan menemukan daerah rumah lama Anna), tapi tetaplah novel ini perlu dibaca. Kenali tokoh, pahami mereka karena ada orang lain yang memiliki perasaan dan pemikiran yang sama 💔
Profile Image for Meilany.
84 reviews3 followers
February 23, 2021
Menurut KBBI, Penyap artinya Lenyap atau hilang. Buku setebal 319 halaman ini membahas tentang Mental Health yang mengisahkan dua tokoh utama yaitu Leo dan Anna di mana takdir mempertemukan mereka dengan cara yang tidak biasa hingga mereka berjuang bersama untuk bisa bertahan hidup. Jika Anna menderita penyakit secara fisik yang sulit disembuhkan, Leo menderita penyakit yang tak tampak oleh mata namun itu sangat sangat mengganggunya secara mental. Dua orang yang sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya secara paksa. Namun di saat yang bersamaan mereka saling menguatkan.

Ini cerita ttg anak SMA, namun gaya narasi yang digunakan benar-benar berbeda yang bisa kubilang ini sama sekali tidak "menye-menye". Suka banget. Terus juga referensi buku-buku yang dimasukkan ke dalam ceritanya memag buku yang bagus dan lagi2 menambah wishlistku 😭 menandakan bahwa si penulis suka baca dan bacaannya bagus-bagus doong kayak The Old Man and The sea milik Ernest Hemingway, Little Woman milik Louisa May Alcott, dan banyak referensi buku dan penulis hebat lainnya.

Untuk ending di buku ini aku suka banget karena memang masuk akal dan tidak terlalu memaksa. Terus ada satu bagian cerita tentang salah satu tokoh yaitu kakak dari Annasera yang bikin sedih dan ga nyangka banget. 4/5 🌟
Profile Image for fin.
6 reviews
February 11, 2021
Good psychological book. Buku pertama genre psychological yg aku baca. Good work Sayyidatul Imamah!

Buku ini juga yg bikin aku penasaran sm karya kak Sayyidatul yg lain.
Profile Image for Bayu Permana.
81 reviews3 followers
August 18, 2023
Tokoh remaja, tapi tema cukup dark nggak nyaman. Heartbreaking
Profile Image for Zhafa.
9 reviews
March 24, 2020
pe.nyap /pênyap/
a kl lenyap; hilang
.
Bagi Leo, hidup itu bagaikan lorong-lorong gelap berliku. Sedangkan bagi Anasera, hari esok adalah sebuah dinding tebal. Keduanya tidak berharap pada sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Saat ini masih hidup, sudah sangat beruntung. Ketika Leo dan Anna ditakdirkan bertemu di rel kereta api, teka-teki kehidupan itu mulai terungkap dengan luka yang diam-diam semakin menganga.
.
Jujur, aku kenal Penyap karena waktu itu buku ini ramai diperbincangkan. Awalnya aku belum ada keinginan kuat untuk baca. Aku coba intip di Storial dan langsung 'ngeh' pas baca blurbnya. Oh, kayaknya satu tema sama novel Persona-nya kak Fakhrisina Amalia.

Dugaanku bener, tapi aku nggak pernah nyangka kalau buku ini jauh banget mainin emosi pembacanya. Aku kira, ini cerita tentang dua anak muda yang dipertemukan, si cowok nemenin si cewek yang sakit dan ceritanya nggak jauh-jauh dari alur yang bikin sedih.

Di bab awal, Leo langsung ditunjukan sebagai murid yang 'ada apanya'. Aku jelas kaget. Buku ini nggak kemana-mana dulu untuk memperjelas inti cerita. Nggak mau nyuruh pembaca tuh nebak dulu alurnya bakalan dibawa ke mana. Di bab selanjutnya, diceritakan Anna yang sakit dan gimana dia menghadapi hidupnya yang sulit.

Penyap ditulis dari 2 sudut pandang. Sudut pandangnya Leo sama Anna. Tapi cerita nggak hanya bersudut sama mereka. Ada Nora, kakaknya Anna yang diceritakan melalui catatan hariannya. Menurutku, selain Leo dan Anna yang berusaha saling menguatkan, aku salut sama Nora yang tetap ingin terlihat kuat padahal dia jauh lebih sakit 😣

Di luar gaya bahasa yang enak dibaca, aku agak berpikir ke poin lain. Untuk latar cerita aku sedikit dibuat bingung. Satu-satunya nama kota yang disebut itu Bandung dan aku nebak-nebak di mana Leo dan Anna berada. Sekitar mereka ada rel kereta, sungai impian, dan hutan. Tempat-tempat ini memperkuat suasana yang terjadi di dalam cerita sebenernya.

Penyap yang aku baca ini, versi cetakan pertama. Aku lumayan terganggu sama huruf d yang berubah jadi simbol aneh pas diitalic. Kayaknya ada kesalahan teknis(?)
.
Terima kasih kak Dayuk sudah menulis Penyap.
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
October 17, 2019
Apa novel terakhir yang membuat perasaan dan emosimu campur aduk saat membacanya? .

Novel Penyap ini menjadi salah satu novel yang membuat emosiku naik turun saat membacanya. Sebenarnya, aku sudah menyelesaikan novel ini beberapa hari setelah novel ini sampai, karena aku benar-benar dibuat hanyut dengan kisah Leo dan Anna. .

Namun, ada beberapa novel yang jujur membuatku sulit untuk mereviewnya. Salah satunya adalah novel Penyap ini. Bukan karena novel ini tidak bagus, malah novel ini menjadi karya pertama Kak @sayyidatul_imh yang kubaca sekaligus telah mencuri perhatianku.

Novel ini BAGUS, untuk novel yang ditulis hanya 1 bulan novel ini cukup memenuhi ekspektasiku 😍 Kesan awal membaca, aku sudah dibawa ke suasana gelap dan suram kedua tokoh utama, Leo dan Anna. Pergantian sudut pandang keduanya membuatku bisa mengenal mereka lebih dekat dan memahami apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Sehingga aku bisa memahami kenapa mereka malah memilih jalan untuk mengakhiri hidup, yang akhirnya malah mempertemukan keduanya dan mengubah semuanya ...

Sayangnya, aku merasakan perkembangan hubungan Leo dan Anna terlalu cepat. Rasanya terlalu mudah mereka "jatuh cinta". Apalagi dengan segala kerumitan hidup keduanya. Tapi, aku suka dengan kisah mereka, bagaimana mereka saling mempengaruhi hidup satu sama lain ...

Selain Leo dan Anna, sosok Nora benar-benar menarik perhatianku. Walau sosoknya lebih banyak diceritakan lewat buku hariannya. Tapi, perasaannya benar-benar terasa sekali 😭😭😭

Selain itu, aku cukup terganggu dengan banyaknya huruf yang seakan hilang, walaupun aku tahu itu huruf apa, entah ini memang sengaja dibuat berbeda atau karena fontnya saja.

Setelah selesai menamatkan novel ini, aku hanya bisa bilang AKU SUKA NOVEL ini. Kamu yang suka membaca kisah romansa yang tidak biasa, kamu bisa membaca novel Penyap ini. Sebagai informasi, novel ini baru akan terbit di bulan Oktober ya.

Aku beruntung menjadi salah satu pembaca ARC novel ini.
Profile Image for A.A. Muizz.
224 reviews21 followers
December 24, 2019
"𝐵𝑢𝑛𝑢ℎ 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑔𝑖𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝𝑎𝑛."⁣

Novel Penyap benar-benar membuat saya terhanyut dalam pikiran Leo dan Anna (dan Nora) yang berpikir untuk bunuh diri. Ya, berpikir, karena percobaan demi percobaan gagal, diselingi dengan peristiwa dan pemahaman baru tentang menghidupi kehidupan.⁣

Saya suka bagaimana Kak Dayuk merangkai kisah ringan, depresif, kelam, tetapi sarat akan pesan untuk bertahan, bertahan, dan bertahan, melalu narasi yang dalam, emosional, dan membuat saya merenungkan makna kehidupan ini, dan untuk "berbuat baik" untuk diri sendiri.⁣

"𝐷𝑖𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑏𝑎𝑖𝑘 ℎ𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖𝑟𝑖𝑛𝑦𝑎 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖."⁣
—ℎ𝑙𝑚. 302⁣

Novel ini menunjukkan betapa pentingnya kesehatan mental. Betapa pentingnya tidak melihat orang dari luarnya saja. Betapa pentingnya tidak sembarangan ngomong, sehingga menjatuhkan orang lain, tanpa upaya untuk memahaminya.⁣

Bagi beberapa pembaca, Leo dan Anna yang begitu cepat dekat ini mengganggu. Bagi saya, hal itu adalah suatu bentuk kewajaran. Kadang, bagi seseorang yang tidak mempunyai tempat untuk bercerita, bagi yang menghadapi dunia yang melabelinya dengan keburukan demi keburukan; kehadiran orang yang mau mendengarkan, memahami, dan menerimanya adalah anugerah yang sulit ditolak.⁣

Ada beberapa kesalahan pengetikan (kebanyakan kalimat dialog tanpa diakhiri tanda petik) dan tampilan huruf "d" yang ditik miring ini lumayan mengganggu. Namun, semoga ada perbaikan saat novel ini resmi diluncurkan bulan depan.⁣

Secara umum, saya menyukai novel ini, dan saya merekomendasikannya untukmu yang ingin lebih peduli pada kesehatan mental.⁣
Profile Image for Elisabeth Beatrice.
161 reviews8 followers
December 31, 2019
Final Review~⁣ [Versi ARC]

"Saya hanya ingin tahu. Seseorang bernama Aesopus pernah berkata, 'Ia yang menangis paling keras tidak selalu yang paling merasa sakit.' Saya juga ingin berkata, luka yang terlihat tidak selalu yang paling sakit."- Pg. 266⁣

Kisah Leo & Anna ini sungguh sangat menarik. Seperti yang pernah aku bilang, mereka berdua sama-sama ingin segera meninggalkan dunia ini. Anna karena penyakitnya, sementara Leo karena kondisi keluarganya yang abusive dan tak kunjung membaik. Sedari awal aku membaca Penyap, aku suka sekali dengan cara berceritanya penulis. Mengalir dan ide yang diangkat pun sangat-sangat menarik.⁣

Hubungan Leo & Anna memang terkesan terlalu cepat saling menyukai, tapi aku suka bagaimana mereka berdua saling menemukan, saling menguatkan satu sama lain. Dikisahkan dari sudut pandang Leo & Anna secara bergantian membuat kita sebagai pembaca bisa memahami bagaimana perasaan, kebingungan, ketakukan Leo maupun Anna. Memang ada alur yang maju kemudian mundur dengan cepat, namun tidak terlalu mempengaruhiku saat membaca.⁣

Di sisi lain, aku suka sekali sama tokoh Nora selaku kakak dari Anna. Menurutku Nora bisa lebih digali lagi. Bisa ditampilkan tidak hanya sekedar dari catatan hariannya saja. Aku sayang sekali sama Nora, dia pun butuh bantuan :")⁣

Terakhir mungkin kesalahan cetak di mana salah satu huruf pada kalimat cetak miring berganti dengan simbol. Itu agak sedikit mengganggu awalnya, tapi lama-lama aku bisa terbiasa. Semoga pada versi finalnya bisa diperbaiki :)⁣


#BookReview #ElReview
Profile Image for Alfin Rafioen.
181 reviews8 followers
January 1, 2020
Novel yang menceritakan tentang Anna, seorang wanita yang mengidap leukimia, bertemu dengan Leo, seorang pria yang hendak bunuh diri, mereka saling mengisi waktu bersama setelah sebuah kejadian yang mempertemukan mereka di suatu tempat. Keduanya harus melewati hari-hari yang berat, karena dunia tidak mengerti mereka.

Penggambaran kedua karakter utama sangat kuat. Karakter Anna di sini adalah wanita yang sebenarnya kuat, ia mencoba menguatkan diri, tidak mau menyusahkan kedua orangtuanya, berbanding terbalik dengan Leo yang merasa lemah, dirinya harus dilindungi karena ia tidak bisa melindungi dirinya sendiri ketika ia dirundung, yang ia harapkan adalah kasih sayang.

Segi plot yang memukau dalam arti, membuat orang yang membacanya menjadi kasihan dan takut hidup seperti mereka. Tantangan-tantangan yang hadir di dalam plot novel Penyap ringan namun mendalam. sebagai pembaca, gue berharap Dayuk, mengeksplorasi lebih dalam suatu plot lebih dalam lagi di novel-novel selanjutnya. Overall plot di novel ini kena banget!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for cala.
46 reviews1 follower
December 30, 2019
4.5⭐

Membaca novel mentalillnes itu menumbuhkan kepekaan diri dan menciptakan banyak teman dalam imajinasi yang memiliki nasib yang sama.

Sayyidatul Imamah atau kerap disapa kak Dayuk, sudah menjadi salah satu penulis yang bukunya autobuy buatku. Because gaya penulisan kak Dayuk ini cukup beda dengan penulis-penulis lain. Selain itu, di cerita-cerita kak Dayuk. Semua tokoh nya memiliki karakter yang penuh dan membuat pembaca merasa bahwa karakter-karakter tersebut memang benar adanya.

Di novel Penyap ini sendiri isu mengenai penyakit mental benar-benar kuat. Kak Dayuk sudah mampu membagikan perbedaan mengenai penyakit fisik dan penyakit mental. Congrast kak Dayuk.
Displaying 1 - 21 of 21 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.