Jump to ratings and reviews
Rate this book

Solilokui: Kumpulan Esei Sastra

Rate this book
" Merupakan Dunia Jungkir-balik?"

Demikian judul salah sebuah esei Budi Darma dalam buku ini. Enam belas esei lain kreativitas, para pencipta tradisi, kritik sastra, apresiasi sastra, cerpen, kebiasaan pengarang Indonesia, jurusan sastra Indonesia, dan hal-hal yang menyangkut sastra.

Sekalipun esei-esei ini ditulis pada waktu yang berlainan (antara tahun 1969-1981), namun kesemuanya memiliki ciri yang ia ditulis dengan gaya yang khas, kritis, serta dengan wawasan sastra yang luas.

Sudah barang tentu buku ini amat banyak manfaatnya bagi siapa saja yang menaruh minat pada sastra (termasuk sastra Indonesia). Dan siapa yang ingin mengetahui apakah "sastra merupakan dunia jungkir balik", silakan baca buku ini.

100 pages, Paperback

First published January 1, 1983

22 people are currently reading
266 people want to read

About the author

Budi Darma

44 books179 followers
Budi Darma lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Semasa kecil dan remaja ia berpindah-pindah ke berbagai kota di Jawa, mengikuti ayahnya yang bekerja di jawatan pos. Lulus dari SMA di Semarang pada 1957, ia memasuki Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada.

Lulus dari UGM, ia bekerja sebagai dosen pada Jurusan Bahasa Inggris—kini Universitas Negeri Surabaya—sampai kini. Di universitas ini ia pernah memangku jabatan Ketua Jurusan Inggris, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, dan Rektor. Sekarang ia adalah guru besar dalam sastra Inggris di sana. Ia juga mengajar di sejumlah universitas luar negeri.

Budi Darma mulai dikenal luas di kalangan sastra sejak ia menerbitkan sejumlah cerita pendek absurd di majalah sastra Horison pada 1970-an. Jauh kemudian hari sekian banyak cerita pendek ini terbit sebagai Kritikus Adinan (2002).

Budi Darma memperoleh gelar Master of Arts dari English Department, Indiana University, Amerika Serikat pada 1975. Dari universitas yang sama ia meraih Doctor of Philosophy dengan disertasi berjudul “Character and Moral Judgment in Jane Austen’s Novel” pada 1980. Di kota inilah ia menggarap dan merampungkan delapan cerita pendek dalam Orang-orang Bloomington (terbit 1980) dan novel Olenka (terbit 1983, sebelumnya memenangkan hadiah pertama sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 1980).

Ia juga tampil sebagai pengulas sastra. Kumpulan esainya adalah Solilokui (1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), dan Harmonium (1995). Setelah Olenka, ia menerbitkan novel-novel Rafilus (1988) dan Ny. Talis (1996). Belakangan, Budi Darma juga menyiarkan cerita di surat kabar, misalnya Kompas; pada 1999 dan 2001 karyanya menjadi cerita pendek terbaik di harian itu. Cerpennya, "Laki-laki Pemanggul Goni," merupakan cerpen terbaik Kompas 2012.

Dalam sebuah wawancara di jurnal Prosa (2003), lelaki yang selalu tampak santun, rapi, dan lembut-tutur-kata ini sekali lagi mengakui, “...saya menulis tanpa saya rencanakan, dan juga tanpa draft. Andaikata menulis dapat disamakan dengan bertempur, saya hanya mengikuti mood, tanpa menggariskan strategi, tanpa pula merinci taktik. Di belakang mood, sementara itu, ada obsesi.”

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
72 (38%)
4 stars
82 (43%)
3 stars
28 (14%)
2 stars
3 (1%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 30 of 47 reviews
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,037 reviews1,963 followers
August 4, 2020
Kebanyakan sastra kita hanyalah sastra sepintas-lalu. Kesepintas-laluan ini dapat kita lihat dalam berbagai segi, antara lain para penulisnya, para kritikusnya, dan publik sastranya. Marilah kita lihat bagaimana persoalannya.


Nama Budi Darma tidak asing sejak orangtuaku gemar membaca Kolom Bahasa yang ada di Harian Kompas. Meskipun aku belum pernah membaca karya-karyanya, namun nama Budi Darma cukup lekat dalam ingatan. Maka, ketika aku sudah bertumbuh bersama dengan ragam bacaan yang lumayan banyak, aku memberanikan diri untuk membaca SOLILOKUI, sebuah kumpulan esai kritik sastra.

Sempat khawatir kalau esai kritik sastra akan sulit aku pahami. Mengingat, aku sempat tidak menyelesaikan kritik sastra yang pernah ditulis oleh Goenawan Mohammad. Waktu itu aku merasa kesulitan dan menyerah. Dengan ketakutan semacam itu, aku nekat untuk mulai membaca SOLILOKUI.

Rupanya ketakutanku tidak terbukti. Kritik sastra yang ditulis oleh Budi Darma disajikan dengan jenaka namun bukan main-main. Mengundang tawa tapi juga anggukan persetujuan. Aku jadi belajar hal-hal baru yang selama ini masih terasa asing bagiku. Aku akui, ada istilah atau nama-nama penulis hebat yang aku belum kenal. Tapi nama-nama yang dijadikan referensi tersebut malah membuatku bersemangat untuk mencoba membaca karya mereka.

Kritik sastra mempunyai tuntutan yang berbeda. Kecuali kepekaan analitis, kritik sastra juga menuntut kepekaan estetis.


Membaca SOLILOKUI itu bisa dihabiskan dalam sekali duduk. Namun dalam sekali duduk itu, ada proses pembelajaran yang menyenangkan. Ada tertawa getir karena jenakanya Budi Darma dalam melontarkan argumentasinya.
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books98 followers
July 16, 2024
Kata Budi Darma, dalam masyarakat yang tidak intelektual, kerja intelektual sering dianggap sama dengan kerja pertukangan.

Sebagai sastrawan yang dihormati, rasanya sulit untuk tidak sepaham dengan poin-poin dari kritik yang disampaikan oleh Budi Darma dalam kumpulan esainya ini. Tak hanya mengkritik para penulis-sastra-pemula yang sering kali terjebak zona nyaman hanya menulis isu yang dekat dengan lingkungan pribadinya, beliau juga menyampaikan kritik terhadap krisisnya budaya kritik sastra itu sendiri.

Kalau dipikir-pikir, Indonesia memang masih kekurangan sumber daya kritikus di bidang sastra, dan ironisnya pandangan umum tersebut masih relevan sampai sekarang meskipun Budi Darma sudah menyampaikan keresahannya sejak berpuluh tahun yang lalu.

“Pada hakikatnya memang kelengkapan kita untuk menulis kritik sastra yang baik serba terbatas: kita kurang analitis, kurang kritis, dan juga kemampuan estetis kita terbatas.”
Profile Image for solana.
109 reviews
September 26, 2022
Aku selalu merasa ketika seseorang mahasiswa sastra kehilangan nafsu membacanya, dia harus mau gak mau mencari inspirasi yang bisa boost dia untuk membaca lebih banyak lagi dan gak putus asa di tengah jalan. Enggak masalah kalau dia, misal, mahasiwa teknik atau mungkin kedokteran. Tapi, membaca adalah jiwa dari jurusan sastra jadi kalau seorang mahasiswa sastra kehilangan nafsu membaca atau tidak punya nafsu yang sepadan, maka sia-sia saja dia kuliah. Cuma membuang waktu, tenaga, dan uang. Aku selalu berpikir ini juga seharusnya disadari oleh teman-teman manapun itu yang menganggap dirinya sebagai mahasiswa sastra. Tanpa membaca, mereka enggak bakal ada progress. Kuliah juga cuma sekedar mendengarkan. Kalimat, "aku besok mau ambil Linguistik aja deh," cuma alasan klise yang jadi excuse mereka buat menghindari bacaan.

Aku selalu mengusahakan diriku agar enggak bosan dengan membaca sastra dan buku ini benar-benar sarana yang tepat karena inilah buku yang bakal nyindir seluruh mahasiswa Sastra Indonesia yang enggak sadar akan tanggung jawabnya di dunia kesusastraan Indonesia. Budi Darma menyerang habis-habisan lewat esai-esainya yang seharusnya udah bikin kita ngerasa sadar at the first glance, sih. Kalau mahasiswa sastra enggak bergerak dari sekarang, toh, eksistensinya bakal lama kelamaan dilupakan. Baca buku ini buat menyadarkan diri kalian seberapa parah sih kondisi sastra Indonesia sekarang dan gimana kita harus membantu untuk mulai berbenah. 5/5 🌟⭐️
Profile Image for Kun Andyan Anindito.
4 reviews8 followers
December 4, 2013
Jangan beri maaf kepada novel-novel buruk, karena memang kebanyakan novel Indonesia buruk. Ada novel pemenang hadiah yang tidak lain dan tidak bukan novel-novelan, ada novel pemenang hadiah yang membuat geram pembaca karena pengarangnya terlalu banyak geram memprotes, ada novel pemenang hadiah yang tidak menyebabkan pembaca lebih pandai meskipun sekian halaman dipergunakan oleh pengarangnya untuk berdebat dan memberi nasihat. Meskipun demikian novel-novel Indonesia berada dalam keadaan aman dan tentram: tidak kelihatan buruk karena tidak dibaca, tidak kelihatan buruk karena tidak diperhatikan. (Halaman 75)
Profile Image for Teguh.
Author 10 books335 followers
March 12, 2020
Ini esai? Atau sebenarnya cerpen? Sumpah ini esai yang indah sekaligus nyelekit.
Budi Darma dengan gaya berkisah yang unik, nyeleneh, tapi indah, mendedah persoalan sastra di Indonesia. Mulai dari posisi kritikus sastra, kedudukan cerpen Indonesia, apa itu eksperimental dalam sastra, dan tentu Budi Darma dengan sedikit mencibir "mereka yang merasa menjadi sastrawan" dengan gaya-gaya aneh sebab sejatinya tidak mampu menulis yang baik. Dengan dalih absurd, acak-adut saja. Dan setelah membaca buku esai ini barulah saya sadar mengapa Budi Darma memilih gaya "tertentu" dalam cerpen-novel-nya.

1. Budi Darma tidak akan mengulik sejarah masa lalu, atau pun kedaerahan.
2. Budi Darma memilih membuat jarak antara prosa dan kehidupan realis.
3. Yang realita hanya boleh ditemukan dalam berita, bukan cerita.

Dan entah mengapa saya suka dengan gaya buku esai ini. Memukul keras ya keras sekalian.
Dan seharusnya memang demikian, seorang pemikir. Mengambil jalan yang tidak biasa meski harus siap diterpa cerca.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews38 followers
October 9, 2020
Kumpulan esai sastra yang menyentil. Menyentil sastrawan, kritikus sastra, dan pembaca sastra. Judulnya, Solilokui, yang berarti percakapan dengan diri sendiri, merangkum semua esai di dalamnya. Terasa sentimental, memang. Tetapi gumaman seorang profesor sastra tentulah patut didengarkan.

Buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1983, dan dibiarkan tanpa penyuntingan isi sama sekali dalam terbitan tahun 2020. Ajaibnya, masalah-masalah yang dibahas masih sangat berkaitan dengan masa sekarang.

Apakah ini berarti problematika sastra kita stagnan dalam kurun waktu 37 tahun?

"Karya sastra yang baik belum tentu dibaca, terutama kalau masyarakat sastranya bodoh. Konsep mereka mengenai sastra sangat tumpul, dan dengan demikian mereka hanya menyerap karya-karya sastra yang sebenarnya buruk." - hal. 102
Profile Image for Tamira Bella.
177 reviews
April 19, 2025
Dari judulnya sudah nampak bahwa buku ini merupakan sekumpulan essay dari Budi Darma akan kritik sastra di Indonesia. Awalnya saya pikir, membaca buku ini akan terasa berat, nyatanya tidak sama sekali. Tulisan beliau yang analitis dan tajam terhadap fenomena sastra dalam rumpun sosial dan budaya justru membuat saya selaku pembaca dapat memaknai hingga merefleksikan berbagai perspektif baru terhadap karya sastra.

Ada banyak kutipan yang saya sukai dari buku ini, diantaranya, ada di halaman 130:

pendapat novelis William Faulkner dalam wawancara Jean Heuvel berkatalah ia:

"Kita semua gagal untuk mencapai impian kita tentang karya sastra yang sempurna. Maka rata-rata kita berada pada kegagalan indah untuk mencapai sesuatu yang tidak mungkin terjangkau. Seorang seniman percaya bahwa setiap kali dia berusaha lagi dia akan berhasil. Namun dia tidak akan berhasil, dan keadaan ini justru sehat. Sekali dia mencapai image kesempurnaan, mencapai impian yang diangan-angankan, tidak ada sesuatu pun yang tersisa baginya.

Kemudian, ada satu bagian yang saya higlight dalam bab fungsi jurusan sastra Indonesia:

Yaitu untuk mempunyai wawasan sastra yang baik, orang harus membaca. Tanpa membaca orang tidak mempunyai data, dan tanpa data orang tidak bisa berargumentasi. Dan tanpa argumentasi, orang tidak dapat mengeluarkan pendapat, padahal salah satu ukuran untuk menilai wawasan sastra seseorang adalah menjajaki pendapatnya.
Profile Image for Puri Kencana Putri.
351 reviews43 followers
June 12, 2017
Solilokui adalah satu ulasan sastra yang layak untuk dibaca ulang. Saya membacanya telah lama sekali ketika masih duduk di bangku kuliah. Buku tipis ini adalah bahan ajar tempat saya menempa ilmu non bangku kuliah untuk sastra, fiksi, dan persoalan sosial lainnya yang muncul dalam bentuk tentu saja karya sastra. Setidaknya di dalam buku ini, Budi Darma telah mengupasi 4 nama penyair maestro Indonesia. Keempat maestro ini adalah figur-figur utama yang muncul pasca angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru dan bahkan dalam konteks Sastra Melayu jauh mundur ke belakang.

Chairil Anwar yang mewakili Angkatan Patriotik 1945 memiliki karakter kuat namun mendayu-dayu ketika ia mengisahkan semangat heroisme perjuangan kemerdekaan, termasuk kerinduannya pada konsep Eropa (kesetaraan, persamaan, hingga kita bangsa jongos yang masih belum benar betul kekal merdeka). Ada Sitor Situmorang yang adalah representasi Angkatan medio 50-60an yang hadir begitu intim dengan pemandangan, keindahan hamparan sanubari tanah air yang amat begitu apik dibedah oleh Darma. Sitor juga dicirikan sebagai figur yang merayakan semangat eksistensialisme, yang mana mulanya dimonopoli oleh Sartre dan Albert Camus, melalui pergumulan kegelisahan batin yang Sitor hadirkan pada larik-larik sajaknya.

Lalu ada juga kisah Toto Sudarto Bachtiar (TSB) yang tak kalah apik ditampilkan dalam ulasan Darma untuk sikap nrimo dan keikhlasannya dalam menjalani pergolakan batin. Perjalanan laku hidup mengalir, membuat karya-karya TSB seakan begitu menenangkan. Ada nuansa adem teks yang jauh berbeda dari rontaan hati Chairil Anwar. Buku ini ditutup bagus sekali dengan mengulas kisah pembelajaran Rendra yang berguru hingga ke negeri Spanyol melalui penyair Garcia Lorca. Kesan sajak yang cabul, brutal, apa adanya, meski Darma nampak memiliki posisi berbeda dengan pilihan teks Rendra. Hal ini ia tegaskan di penghujung Solilokui, perihal keberpura-puraan. Mungkin sesuatu terkait dengan keotentikan itu sendiri.

Membaca lagi Solilokui, memenangkan kembali hati yang menderu-deru ini bersama dengan 5 maestro sastra Indonesia. Sesuatu yang pasti bisa ditafsirkan kembali ketika saya membacanya sekali lagi, suatu hari.
Profile Image for Amex Rijal.
30 reviews13 followers
February 4, 2019
budi darma meyakini dikotomi sastratinggi-sastrapicisan, memegang prinsip sastra-untuk-sastra. sastra tidak punya tanggungjawab terhadap masalahmasalah sosial-politik misalnya, tapi belio percaya sastra bisa menyentuh akalbudi seorang individu, kemudian mengubah ia menjadi lebih sip kemanusiaannya.

bagaimana itu yg belio maksud dgn karya sastra yg oke? ia harus punya jarak dr realitas hidup si penulis ataupun realitas lingkungan kapan & di mana si penulis memperoleh "inspirasi." tampaknya belio kesal betul soal ini, sampe diulang dlm beberapa esai. bahwa penulis indonesia kebanyakan tidak cukup imajinasi dlm mengabstraksi bahan tulisannya.
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews45 followers
December 29, 2020
Sebagai penikmat sastra yang begini-begini saja, esai-esai di buku ini terasa membuat saya merasa bodoh dan ingin menggeluti sastra secara serius. Menarik sebetulnya ya. Dan masih relevan juga sama zaman sekarang? Hmm.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books335 followers
June 11, 2020
Saya membaca untuk yang kedua kali dan selalu merasa bahagia, sebab Pak Budi seperti menulis cerpen dan penuh sindiran yang mengena bagi peminat sastra sekarang.
Profile Image for Wawan Kurn.
Author 20 books36 followers
January 4, 2018
Buku pertama di tahun 2018. Saya rasa, seorang Budi Darma menyimpan keresahan besar terhadap perkembangan sastra di Indonesia. Dia juga banyak mengkritik penulis Indonesia yang kurang rajin dalam mengembangkan kemampuan menulisnya. Kumpulan esai ini bisa juga jadi bahan renungan bagi penulis, apakah dia benar-benar ingin jadi penulis?
Profile Image for hllreka.
122 reviews7 followers
July 6, 2022
Banyak sentilan keras dari Pak Budi Darma. Menarik—dari cara beliau menyampaikan essai dengan teknik yg gak biasa, rasanya seperti mendengarkan curhatan penulis mengenai jungkir balik nya dunia sastra👌
Profile Image for Tenni Purwanti.
Author 5 books36 followers
November 4, 2020
Makna “solilokui” adalah percakapan dengan diri sendiri, dan karena itu sifatnya individual, dan mungkin tidak menarik perhatian orang lain, karena selera dan kepentingannya berbeda. Ketika menulis esai-esai dalam buku ini Budi Darma berbicara mengenai pandangan pribadinya sendiri, tanpa memedulikan selera dan kepentingan orang lain. Meski begitu, esai-esainya dipublikasikan ke khalayak ramai, karena mungkin masalah yang ia rasakan sama dengan masalah yang orang lain rasakan.

Meski buku ini adalah cetak ulang dari buku berjudul sama yang terbit tahun 1983 (ditulis pada rentang tahun 1969-1971), namun persoalan yang dibahas di dalamnya masih relevan dibaca di tahun 2020. Misalnya hingga saat ini kebanyakan orang dalam membicarakan kritik sastra menyamakan kritik sastra dengan kritik biasa. Padahal kritik sastra bisa juga mengungkapkan segi-segi yang baik dari karya sastra yang dikritiknya. Selain itu, Budi Darma juga membagi kritik sastra menjadi dua: ilmiah dan kreatif. Dalam kritik sastra kreatif, kritikus tidak perlu mengambil data pendapat-pendapat orang lain untuk menunjang argumentasinya, dan tidak perlu secara eksplisit menyatakan apa kesimpulannya. Kritikus dapat langsung menyatakan pendapatnya yang murni tanpa diikat oleh tata cara untuk membuktikannya terlebih dahulu, seperti dalam kritik sastra ilmiah.

Budi Darma juga membahas peran Jurusan Sastra Indonesia yang selain bisa menjadi kritikus sastra juga bisa bertindak sebagai dokumentator sastra. Dapat dimulai dengan menggarap yang tidak menarik perhatian, misalnya masalah hubungan pengarang dengan lingkungannya, pengarang dengan penerbitnya, pemasaran buku, dan lain sebagainya yang akan menjadi sarana penyelidikan di waktu yang akan datang.
Selain itu tentu saja Budi Darma membahas tentang penulis atau pengarang. Baginya, gagasan dalam tulisan itu penting, akan tetapi yang lebih penting adalah cara pengungkapannya. “Penulis yang betul-betul penulis sebetulnya tidak bisa menulis tanpa persiapan apa-apa. Mereka kaya pengalaman batin, kepekaan, imajinasi, kemampuan berbahasa, kemampuan bercerita, dan lain-lain kemampuan. Mereka-reka apa yang akan ditulisnya hanyalah soal kecil bagi mereka.”

Sayangnya, menurut Budi Darma, kebanyakan pengarang Indonesia tidak mentansfer dunianya ke dunia lain. Yang ditulis kebanyakan pengarang Indonesia adalah barang mentah mengenai dirinya sendiri. Ditambah lagi, masyarakat tidak membantu penulis untuk mempunyai suasana yang baik untuk menulis. Para penulis yang sebetulnya berbakat dan gigih, terpaksa harus memenuhi kebutuhan hidup lebih dulu dan berfungsi di masyarakat sebelum bisa fokus menciptakan karya tulisan. “Masyarakat tidak tahu bahwa menulis tidak sama dengan membantik. Mereka menyangka, bahwa menulis dapat dipotong dengan mudah oleh kegiatan ini dan itu. Dalam masyarakat yang tidak intelektual, kerja intelektual dianggap sama dengan kerja pertukangan.”
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Ursula.
302 reviews19 followers
January 17, 2021
Decided to get this book because the cover is beautiful (kudos to Leopold Adi Surya) and I never knew that Budi Darma wrote essays. Apparently, this is a republication of his 1983 essay collection, same title, same content (according to Darma in his introduction).

First thing I found a bit weird is the order. Instead of going from oldest to newest, the order is reversed. I don't know why, but it's just interesting. When reading essays from a favourite writer, I love to see how their thinking process and perception of certain issues changed over time. Not that it's undoable when the order is reversed just a bit confusing.

Second, this man is consistent in being bitter and highly critical of Indonesian literary scene. Not only towards the writers and their works, publishers, and most importantly, readers and critics. Everyone is getting dragged; no exception.

Meskipun demikian novel-novel Indonesia berada dalam keadaan aman dan tentaram: tidak kelihatan buruk karena tidak dibaca, tidak kelihatan buruk karena tidak diperhatikan.


I slightly disagree with this statement because nowadays there are good writers who do their research well and didn't become a writer for fame or " aji mumpung ." There are novelists like Eka Kurniawan and Leila Chudori; also short story writers like Feby Indirani, and poets like Joko Pinurbo and M. Aan Mansyur. Kinda curious if he would change or revise that statement if given the chance to rewrite the essay.

His points about literary critics, both academic or commercial ones, are also interesting to read and reflect. I do easily get influenced by commercial critics – writers who voluntarily or asked by the media to review other artists' literary works. Most of my readings come from Eka Kurniawan's casual reviews on his blog.

Well, obviously "review" is different from "criticism", although it's interesting that Darma wrote commercial critics tend to look for even the smallest mistake in one work. But what about bad reviews? Are those, then, could be considered as a "criticism"? Also, commercially, who qualifies as "critics"? Different from academic critics, commercial critics don't really have to pepper theories in their work, but then, how do we determine the validity of it? That the critic is responsible for their criticism and not just write something out of spite or jealousy?

Darma's essays are intriguing and thought-provoking. Personally, they make me rethink about what being a reader means. Am I a bad reader? Do I contribute to the proliferation of bad/low-quality in the Indonesian literature market? Truly fascinating.
Profile Image for Septyawan Akbar.
111 reviews13 followers
November 29, 2020
Budi Darma brutal dan apa-adanya. Dari keseluruhan esei-esei yang dibaca, inilah yang saya tangkap. Kata-kata "goblok" telah diulang sekian kali. Kritik kebobrokan, dan betapa masih inferiornya sastra Indonesia, dengan jujur diungkapkan Budi Darma, terlepas ia juga yang menjadi salah satu "pemain" di ranah ini. Ia juga satu persatu membela serangkaian genre sastra yang selama ini diremehkan; kedudukan cerpen, kritik sastra, kritik sastra populer, pentingnya melihat karya bukan dari keanehan/keeksentrikan sastrawan tapi seberapa bagus dan relevannya tulisan itu, yang akan mudah dikenali oleh pembaca cum intelektual yang baik, dan yang paling menggelitik saya adalah tentang "gerombolan sastra", dan hegemoni penulis "om-om" yang baru-baru ini kembali disorot.

Esai-esai tetap relevan terlepas ditulis pada tahun 1970-1980an, yang sayangnya cukup ironis. Kritik mengenai keinginan dari "publik" untuk jadi pemain sastra, dan betapa masih lemahnya usaha dari calon pemain tersebut, menyebabkan sastra Indonesia masih begitu-begitu atau sekilas-lalu. Ini juga yang menjadi sinyalemen bagi saya sendiri, apabila ingin mengambil pertaruhan untuk menjadi pemain. Terdapat satu esai, dan kutipan yang benar-benar saya suka dalam kumpulan esai ini, yakni Sastra: Sebuah Catatan (1974):
Sastra menimbulkan rasa sakit, tapi juga rasa syahdu.[...]Sastra juga menimbulkan rasa syahdu karena nostalgia yang tidak mungkin tercapai. Dan makin baik karya sastra, makin banyak karya tersebut menimbulkan rasa sakit, takjub, dan kesyahduan. Makin baik karya sastra makin universal masalah hidup yang diungkapkannya, seperti cinta kasih, ambisi, kebencian, kematian, kesepian dan sebagiannya. Karya sastra yang baik mengambil keadaan sekitar pengarang dan jamannya untuk menjadi bahan mentah, yang kemudian diolah menjadi karya yang tidak terikat lagi oleh tempat dan jaman bahan mentah tersebut.

Pemikiran inilah secara akurat mewakili kejatuh-hatian saya terhadap sastra. Dan perlahan tapi pasti saya mulai memahami keraksasaan dari Budi Darma.
Profile Image for Dedul Faithful.
Author 7 books23 followers
February 20, 2021


Buku kelima yang tamat di 2021, alias kelar dibaca. Kata temen, gue kayak mahasiswa sasindo baca buku ini, tapi jujur karena hal itu gue berandai-andai apa bakal ngerti pas baca buku ini.

Ternyata, emang tulisannya (berupa esai-esai) luwes-luwes dan sepertinya ditargetkan untuk semua kalangan alias bukan mahasiswa sasindo doang atau yg berkecimpung di dunia persastraan Indonesia saja.

Sedikit banyak buku ini berisi esai-esai yang mencoba menyindir banyak hal terkait sastra terutama di Indonesia seperti halnya bagaimana kreativitas itu seharusnya dimiliki oleh mereka yang hidup lebih teratur alias bukan begajulan, bagaiman seharusnya penulis tetap mengasah bakatnya dan lebih serius lagi dalam menulis bukan terus berpikir tentang menulis yang akhirnya malah tidak menghasilkan karya, tentang bagaimana peran jurusan sasindo di Indonesia dan banyak lagi.

Sebagaimana sebuah esai yang berisi opini-opini pribadi penulis, buku ini berisi banyak hal yang coba penulisnya utarakan. Dengan banyaknya pengalaman yg penulisnya miliki tentang sastra Indonesia itu sendiri, buku ini jadi sangat-sangat menarik untuk dibaca. Seperti mengikuti kelas di mana sang dosen yang memberikan materinya dengan pemaparan yang sangat tidak membosankan tapi penuh dengan materi yang kaya.

Sungguh luar biasa, esai-esainya menyinggung banyak pihak bukan hanya sastrawan, tetapi juga pembaca, masyarakat setempat, individu-individu yang peduli sastra, penerbit, editor, kritikus sastra, banyak orang pokoknya seperti politikus bahkan tukang becak. Sebuah buku yang mencerahkan tentang bagaimana gejolak dunia sastra di Indonesia.

Coba Pak Budi Darma membuat kumpulan esai-esai seperti ini lagi dengan tema kekinian, akan ada lebih banyak pihak-pihak yang bakal disinggung tentu saja.

Profile Image for Hanin.
49 reviews4 followers
July 26, 2022
Memang, semua karya sastra, apapun bentuknya dan mengenai apapun persoalannya serta untuk apapun keperluannya, pada hakikatnya sama, yaitu membawakan kepribadian penulisnya.


Jujur, aku belum pernah membaca karya fiksi Budi Darma. Aku memutuskan untuk membaca buku ini karena sinopsis (dan sampulnya) yang menarik. Aku tidak begitu suka membaca karya sastra selain cerita pendek jadi kurang begitu mengikuti perkembangan sastra Indonesia. Makanya, aku tertarik untuk tahu seperti apa karya sastra yang baik dari sudut pandang seorang kritikus sastra ternama Indonesia ini. Siapa tahu, setelah membaca buku ini aku jadi bisa memilih bahan bacaanku selanjutnya dengan lebih bijaksana.

Ternyata buku ini cukup mudah untuk dibaca oleh seorang awam sepertiku. Aku belajar banyak hal baru tentang dunia sastra Indonesia. Contohnya salah satu esai favoritku dari buku ini, Milik Kita: Sastra Sepintas Lalu, mengajarkanku bahwa untuk membuat karya sastra, seorang penulis hanya perlu memulai dan jangan berhenti hingga berhasil membuatnya. Esai ini pada dasarnya mengajarkan mengenai grit atau kegigihan dalam dunia sastra.

Dari buku ini aku juga belajar bahwa kita tidak bisa sembarangan menjadi kritikus sastra. Perlu banyak perenungan akan opini-opini yang akan kita tuliskan tentang suatu karya sastra daripada hanya menyalin-tempel teori-teori sastra di artikel kritik kita.

Benar kata sinopsis bahwa buku ini masih tetap relevan hingga kini walaupun banyak esainya yang sudah ditulis berpuluh-puluh tahun yang lalu. Beberapa esai yang menjadi favoritku:

1. Milik Kita: Sastra Sepintas Lalu - Halaman 25
2. Kreativitas - Halaman 35
3. Menulis Sungguh-Sungguh dan Menulis Pura-Pura - Halaman 139
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books62 followers
September 29, 2025
"Jangan beri maaf kepada novel-novel buruk, karena memang kebanyakan novel Indonesia buruk. Ada novel pemenang hadiah yang tak lain tak bukan novel-novelan, ada novel pemenang hadiah yang membuat geram pembaca karena pengarangnya terlalu banyak gemar memprotes, ada novel pemenang jadiah yang tidak menyebabkan pembaca lebih pandai meskipun sekian halaman dipergunakan oleh pengarangnya untuk berdebat dan memberi nasihat." Hal.124.

Nama Budi Darma sedemikian besar. Walau, jujur aku baru baca 2 novelnya yakni Ny.Talis (yang udah aku hibahkan ntah ke siapa sekian tahun lalu) dan Orang-orang Bloomington. Selebihnya, ya beberapa cerpennya yang masuk ke Kumcer Kompas Pilihan. Jadi, kalau dibilang ngefans sama tulisannya, belum masuk kategori itu -setidaknya jika dibandingkan Remy Sylado yang bukunya emang aku kumpulkan dan dibaca.

Solilokui ini adalah kumpulan esai sastra yang mulanya diterbitkan di tahun 1983, terdiri dari esai-esai yang terbit tahun 70-an hingga sebelum naskahnya dikumpulkan dan diterbitkan untuk pertama kali.

Walau tulisan di sini udah berusia puluhan tahun, pembahasannya masih relevan. Nggak semua topik aku paham, apalagi saat bahas buku-buku yang belum aku baca. Jadi ya, buku ini aku tuntaskan semata-mata ini masuk ke pikiran Budi Darma, walau -karena keterbatasanku, gak bisa semua topik dapat aku cerna dengan baik.

Skor 7/10
Profile Image for Anton.
157 reviews10 followers
March 11, 2024
Sebagaimana ditulis di sampul belakangnya, meskipun ada jarak lebih dari 40 tahun sejak buku ini pertama kali diterbitkan, tetapi substansi buku ini tetap relevan untuk situasi saat ini. Artinya, dinamika sastra, termasuk tradisi kritik di dalamnya, tetap tidak jauh berbeda. Sebab, apa yang ditulis Budi Darma, rasanya tetap saja, kata anak zaman sekarang, relate.

Melalui esai-esai tentang sastra dalam buku ini, Budi Darma, guru besar di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya yang juga sastrawan ini, menuliskan perkara-perkara sastra pada tahun 1970an.

Misalnya tentang dilema penulis yang bersikukuh bahwa tulisannya harus cetar membahana, tetapi kemudian tidak juga menerbitkan tulisannya karena mengejar kesempurnaan dengan penulis yang proses kreatifnya ringkas dan tuntas. Mana karya yang lebih baik? Ya, tentu saja karya yang pada akhirnya selesai dan bisa dinikmati publik, bukan karya yang diharapkan jadi sempurna tapi tidak lahir juga.

Membaca esai-esai ini juga membuat jadi tahu bagaimana sejarah sastra dan kritiknya dari masa ke masa, terutama pada dekade 1970-an. Dinamika sastra dan wacananya yang rasanya saat ini makin susah ditemukan.
Profile Image for Amaya.
91 reviews5 followers
October 27, 2024
Kritik yang dilontarkan Budi Darma menohok keras, tidak saja pembaca (sastra) dan pelaku sastra di Indonesia--yang disebutnya sebagai "sastrawan sepintas-lalu", melainkan juga masyarakat yang hidup sekeliling karya sastra sambil tidak mengacuhkan keberadaan karya-karya itu. esai-esainya adalah respons terhadap dinamika kebersastraan di era akhir 60-an sampai dengan awal 70-an, tetapi ketika dibaca di hari ini, situasi yang dikemukakannya terasa masih sangat familier. hal ini menunjukkan, dalam setengah abad terakhir, hampir tidak ada yang berubah dari ekosistem keberkaryaan sastra kita. selain ketajaman kritiknya (yang sesekali diutarakan dengan sarkastik, tetapi terasa tenang sekaligus tegas di kali yang lain), esai-esai Budi Darma menunjukkan betapa dirinya adalah seorang pengisah ulung. Budi Darma tahu betul cara menyedot perhatian pembacanya. begitu mulai membaca kalimat pertamanya, sulit untuk tidak terseret arus pemikirannya. kalau saja tidak repot dengan ini-itu, buku ini pasti sudah khatam dalam sekali duduk saja.
Profile Image for Robertus Setiawan.
1 review
May 21, 2021
Maksud penerbitan buku ini sepertinya relevan sebatas sebagai sumber bacaan bagi peminat dan pembelajar sastra--terlebih Sastra Indonesia. Solilokui dapat mengingatkan wawasan kalangan akademisi sastra pada wacana mendasar sastra Indonesia modern serta tetek-bengek problemnya.

Namun, rentang waktu yang cukup jauh--antara masa 1970-1980-an kala edisi pertama kali terbit dengan masa kini, membuat Solilokui belum menjangkau isu sastra Indonesia modern yang lebih kiwari, misalnya munculnya platform daring penyedia karya sastra sejak sepuluh tahun belakangan. Berbagai platform yang memanfaatkan pertumbuhan media digital itu menawarkan kemudahan bagi calon penulis dari kalangan milenial dan Z untuk mengakses bacaan sekaligus menerbitkan karyanya.

Namun begitu, dalam tataran sebagai karya kumpulan esai, ulasan Budi dalam Solilokui sudah semestinya menjadi pegangan mula-mula bagi mereka yang berminat menekuni kajian sastra.
Profile Image for Ayudante.
29 reviews14 followers
August 18, 2018
Saya benar-benar kesengsem dengan cara Budi Darma menulis. Tidak dalam novelnya saja, ada sesuatu yang menarik dari diksi yang dipakai dalam esai-esainya.

Solilokui ini menyentil-nyentil. Dari sastrawan besar hingga sastrawan kambuhan, bahkan penonton sastra yang baru ancang-ancang jadi pemain, semunya tidak luput dari keterusterangan kritiknya. Sebagai penonton sastra yang baru kemarin sore, saya tidak bisa terlalu mengukur relevansi esai-esai ini di masa sekarang. Biarpun begitu, rasanya kritik dalam Solilokui ini punya esensi yang tidak terkekang waktu. Digabung dengan diksi yang khas tadi, hasilnya adalah sentilan yang tidak hanya perih-perih-lara, namun mendorong dan merangsang, sebuah picu bagi siapapaun yang berniat bermain dalam sastra.

Dari keampuhannya sebagai picu, saya paling suka Perihal Kritik Sastra (esai ke-6) dan Tidak Diperlukan Sastra Madya (esai ke-11).
Profile Image for Sherly Senja.
20 reviews
March 12, 2023
Berasa menghadiri sarasehan tentang kesusastraan bersama Budi Darma, sambil makan pisang goreng dan teh anget. Budi Darma bercerita tapi juga membagikan banyak sekali ilmu dalam kesusastraan, ya menulis, ya membaca, ya berpikir. Beliau tidak pelit dalam memberikan nutrisi bagi para pembaca dan memberikan perspective yang menarik. Buku ini adalah buku wajib punya untuk siapa saja yang tertarik (penikmat dan pembuat) karya sastra. Buku ini memberi ruang pembaca untuk berpikir ulang jangan khawatir, beliau tidak menggurui dan menurut saya tidak ada kesan beliau ingin menggurui, dia menceritakan pengalaman yang berharga untuk diketahui dan diaplikasikan dalam menulis, membaca, mengkritisi, dan mengulas karya sastra.
Profile Image for Hafiz.
28 reviews1 follower
April 11, 2020
Budi Darma tak ingin main-main dengan sastra. Sejak esai pembuka dia sudah mengatakan bahwa menulis adalah takdir hidupnya. Esai-esai berikutnya dalam buku ini mengibarkan standarnya yang tinggi terhadap mutu sastra dan kritik sastra.

Dia tak ingin sastra dijebloskan ke dalam ruang yang sama dengan cerita picisan, kritiknya pedas pada mayoritas kritik sastra, dan beberapa kali menyatakan ketidakpuasan pada kualitas sastra Indonesia.

Menurut Budi Darma, sastra haruslah berjarak dengan kehidupan pengarangnya. Pengarang perlu menggunakan daya abstraksi yang kuat agar bisa membedakan sastra dengan kehidupan sehari-hari.
Profile Image for Aya Canina.
Author 2 books44 followers
October 29, 2022
Betapa lucu, pokok-pokok pembicaran dalam kumpulan esai yang ditulis dalam rentang 70-80an ini hampir seluruhnya masih relevan hari ini. Budi Darma menulis dengan lugas tanpa tedeng aling-aling. Galak tapi lucu, lucu dan berisi. Beliau menyasar pembaca sastra, pelaku sastra, juga bahkan kritikus sastra. Pemaparannya mudah dipahami sehingga saya merasa beliau begitu dekat dengan saya selama saya membaca esai-esainya.

Tidak ada lagi. Sudah berapa banyak orang membicarakan kontennya, saya tidak akan. Saya hanya mau mengerti saya suka buku ini.
Profile Image for Abdul Hadi.
Author 5 books6 followers
June 24, 2020
Sekumpulan esai yang dirangkai dengan cemerlang, cara bertutur yang sarkas dan menyenangkan. Selepas khatam buku ini, saya benar-benar angkat topi, hormat sehormat-hormatnya kepada Bapak Budi Darma. Beliau orang yang benar-benar berwawasan, berselera tinggi, tidak rendah hati, sekaligus tidak sombong. "Masyarakat sastra" Indonesia butuh sastrawan seperti Budi Darma yang berkarya dgn konsisten, sekaligus menyalak dengan galak pada orang-orang yang menodai kehormatan sastra.
Profile Image for Yoan Oktaviani.
6 reviews1 follower
August 7, 2021
Buku yang selesai satu kali duduk ini banyak mengingatkan saya dengan Sore. Dari alur, cara bertutur, dan hobi melantur, membawa saya pada berkilo-kilo byte surel yang dulu rajin ia kirim setiap minggu. I don't really relate to the content but what keeps me going is how this book let me feel like reading another letters from Sore rambling between authors to philosopher to mundane life, over and over again.
Profile Image for Wahyudha.
444 reviews1 follower
September 26, 2021
Nilai maksimal untuk salah satu legenda sastra negeri ini.

Jika aku membutuhkan wawasan tentang sastra. Buku ini sudah lebih dari cukup untuk mendobrak minat pada kehidupan sastra. Khususnya perkembangan sastra di Indonesia.

Gile walau tulisane sebenernya tulisan lama tapi memang dampak dan nilainya masih relevan di masa sekarang dan masa depan.

Buku ini tipis tapi seolah-olah halamannya tak pernah habis krn dibaca berhati-hati, jgn sampe ada yang terlewatkan.
Displaying 1 - 30 of 47 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.