Jiwa kita adalah rumah tanpa jendela dan pintu. Anehnya, kita pasti bisa keluar untuk berlarian di padang rumput, membebaskan tubuh kita, dan menyanyikan lagu para ilalang.
Selamat kepada Mbak Ruwi Meita telah menyembuhkan trauma saya dari kekecewaan akibat berekspektasi terlalu berlebihan saat membaca buku psychological thriller!
Ya, mau bagaimana lagi, saya sering tertarik dengan buku psychological thriller terutama dari Korea dan Jepang, tapi begitu saya baca kok malah seperti "zonk". Bukankah seharusnya membaca buku psychological thriller itu kita layaknya naik roller coaster? Dengan perasaan menggebu-gebu, ingin cepat menyelesaikan halaman demi halaman biar rasa penasarannya terpenuhi. Nah, kebanyakan buku dengan klaim "psychological thriller" yang sudah saya baca itu tidak memberikan saya perasaan seperti itu - kebanyakan saya hanya datar-datar saja, seringnya mengernyitkan dahi, atau hampir mati kebosanan! Atau, jangan-jangan saya yang psikopat? Hehe.
"Rumah Lebah" karya Ruwi Meita sudah sering berseliweran dari berbagai sumber, kebanyakan mengklaim bahwa ini adalah psychological thriller yang best-seller, artinya sangat layak untuk dibaca. Siapa pun yang ingin membaca buku psychological thriller pasti akan direkomendasikan judul ini. Saya pun, tentu, ingin mencobanya dan memutuskan untuk menjadikannya bacaan ke-25 di tahun 2023 ini.
Dan, buku ini berhasil membuat saya seperti benar-benar membaca buku psychological thriller!
Dari blurb yang sederhana, saya tidak dibuat berekspektasi tinggi: blurbnya hanya memiliki 2 pertanyaan - yang walaupun sederhana, tetapi menarik: "Siapakah sebenarnya enam orang asing yang selalu dibicarakan Mala? Rahasia apakah yang dimiliki oleh enam orang asing tersebut?"
Saya berangkat dengan tujuan ingin menemukan rahasia ke-enam "orang asing" ini, apalagi di cover bukunya ada log line "Setiap wajah memiliki rahasia".
Awalnya, saya kira buku ini akan menceritakan Mala. Saya kira Mala adalah tokoh utama novel ini. Di bayangan saya, saya kira saya akan menemukan alasan mengapa Mala bisa melihat hantu, atau memiliki teman imajinasi, atau hal-hal lainnya terkait kemampuan indigo Mala. Asumsi saya, mungkin mereka arwah penasaran yang masing-masing terkait masa lalunya - dan ada alasan tertentu mengapa masa lalu itu berhubungan dengan Mala. Nyatanya saya salah!
Review ini akan mengandung spoiler. Sebagai peringatan, kalau kalian mau membaca buku ini, lebih baik jangan melanjutkan membaca review saya. Buku ini sangat nikmat dibaca tanpa kita mengetahui apa pun, seperti saya saat membacanya.
Oke, lanjut.
Ternyata, buku ini bercerita tentang ibu Mala, yaitu Nawai. Ada rahasia kelam di masa lalu Nawai, yang bahkan ia sendiri pun tidak mengingat atau menyadarinya, yang mempengaruhi kehidupannya di masa kini yang ia kira "bahagia". Ia mengira dirinya adalah istri sempurna untuk suaminya, Winaya, dan ibu yang ahli segalanya dan penuh kasih sayang bagi putrinya, Mala. Kehidupan yang ia jalani di masa kini bertumpang-tindih dengan trauma masa kecilnya, yang karena begitu menyakitkan dan kelam, "terlupakan" dengan tidak disengaja oleh memorinya. Saya pernah dengar, seseorang dapat mengalami "amnesia" atau benar-benar lupa akan sesuatu hal yang benar-benar membuatnya trauma, ketakutan, atau sakit secara mental. Inilah yang terjadi pada Nawai.
Penulis dengan piawai menyisipkan petunjuk demi petunjuk secara rapi. Tidak langsung membeberkannya di halaman-halaman mendekati klimaks, tapi kita sudah diperkenalkan dengan semua variabel yang nantinya akan mempengaruhi. Buku ini memiliki beberapa chapter, dan setiap chapter ini memiliki tujuannya sendiri. Seperti, pada bagian awal, kita diperkenalkan secara detail kepada Nawai, Winaya, dan Mala - sebagai pusat cerita. Kita mengerti kebiasaan dan rutinitas mereka, apa yang mereka takutkan, apa yang mereka sukai dan tidak sukai, bagaimana cara mereka berpikir. Penulis mampu menggambarkan tiap karakter dengan solid, sehingga saya dapat dengan mudah membedakan tiap karakter di setiap dialog yang tidak menyebutkan tokohnya.
Setiap karakter di buku ini berguna. Dari wartawan yang gila uang dan pamor serta serakah, si Deni. Yang termakan oleh keserakahannya sendiri. Seperti apa yang dituliskan penulis di halaman 59:
Awal dari segala kejahatan adalah keserakahan dan awal dari kegilaan adalah ketersiksaan...
Deni menjadi kunci dari cerita ini, dan penulis mampu meyakinkan pembaca bahwa alasan itu layak untuk menjadi gebrakan dalam kehidupan bahagia Nawai yang semu/ Dari situlah cerita mulai seru. Saya mengerti harus ada suatu faktor yang mengungkap rahasia Nawai dan alasan mengapa "hantu-hantu" itu menampakkan diri pada Mala. Dan Deni sebagai karakter pengantar benar-benar dimanfaatkan penulis dengan baik.
Kehadiran Alegra dan Rayhan menurut saya sebagai pengecoh. Di bab awal ketika penulis menyisipkan kata Rayhan di narasi Nawai, saya sudah curiga Rayhan akan memegang suatu peranan dalam cerita ini. Ternyata benar dugaan saya. Alegra dan Rayhan, menurut hemat saya, adalah karakter pengecoh yang membuat kita fokus memikirkan apa hubungan mereka berdua dengan "hantu-hantu" itu.
Saya juga menyukai bagaimana penulis dengan bijak benar-benar memanfaatkan karakter detektif, yaitu Kartika - sebagai sosok yang cerdas dan intuitif. Berkat intuisinya, setiap pilihan dan aksi dari karakter ini masuk akal dan dapat kita mengerti. Masuk ke dalam cerita dengan mulus. Kemunculan karakter lain, walau minor, seperti Dokter Kertoyo sebagai ahli tanatologi dan Dokter Samuel Priyatna sebagai psikolog, juga tak kalah bermanfaat dan berkontribusi pada cerita. Terkadang kita mendapati banyak karakter "cuma-cuma" di buku psychological thriller, yang hanya meramaikan dialog dan memperumit narasi saja tapi tidak memiliki efek tertentu dalam cerita - yang kalau karakternya dihilangkan tidak akan mempengaruhi cerita. Nah, saya suka bagaimana penulis menggunakan karakter secukupnya tapi berhasil menciptakan cerita yang solid karena benar-benar memanfaatkan tiap karakter tersebut.
Intinya, penulis dengan lihai membangun 'benang merah' antar karakter, sehingga motivasi tiap karakter dalam melakukan aksi atau pilihan dapat kita mengerti.
Dugaan saya terhadap apa yang terjadi pada Nawai di masa lalu dan kaitannya dengan "hantu-hantu" tersebut seperti didukung dengan sebuah kalimat di halaman 207:
Berjagalah, karena mereka datang saat aku mengantuk.
- Nawai
serta mengapa "hantu-hantu" itu hanya menampakkan diri pada Mala, di halaman 201:
”Karena, hanya saya yang terjaga saat Mama tidur."
- Mala
Membaca buku ini perlu teliti dan cermat, menelaah kalimat demi kalimat. Walau cukup banyak narasi. Karena, petunjuk demi petunjuk disebar dan disisipkan penulis di dalam narasi, serta dalam dialog juga. Terkadang dialog menyimpan suatu pesan tertentu, seperti ketika Winaya bertanya pada Nawai apakah istrinya melihat alat lintingan rokok dan tembakaunya yang lenyap. Atau, keputusan penulis menjadikan karakter Winaya mengidap buta warna. Atau mengapa Nawai selalu merasa pegal-pegal dan pusing berkepanjangan tanpa ia merasa sehabis melakukan sesuatu pekerjaan yang melelahkan.
Perasaan seperti "ohh, jadi karena itu!" atau "ohh, makanya begini!" terasa sangat memuaskan ketika kita berhasil menjadi "detetektif" mungil dalam bacaan ini: membuktikan bahwa kita terombang-ambing oleh dunia penuh misteri dan mengerikan yang dibuat penulis.
Yang saya sukai lagi, saya jadi memperoleh beberapa wawasan baru di buku ini.
Seperti, castor bean atau tanaman jarak yang walaupun dapat digunakan sebagai biofuel (untuk menggerakkan kendaraan, dapat menjadi minyak bumi yang bisa tumbuh dan bertunas), namun tanaman ini bisa menjadi senjata yang mematikan. Tanaman ini pernah membunuh wartawan Bulgaria bernama Georgi Markov, yang meninggal karena ditusuk dengan jarum yang dilumuri bubuk biji tanaman jarak. Irak pun memilihnya sebagai senjata biologis yang efektif. Tanaman ini kemudian disebut "ricin", yang diambil dari nama kelasnya "Ricinus Communis".
Saya mengenal ilmu tanatologi, salah satu bidang ilmu yang mempelajari tentang kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian.
Saya juga tahu ada penyakit hipokondria, di mana seseorang memiliki rasa takut yang berlebihan terhadap gangguan kesehatan, ia mempercayai bahwa ia memiliki penyakit serius yang mematikan hanya karena ia merasa tubuhnya tidak begitu sehat.
Lalu, asal usul Danau Wilis di Desa Ngebel. Ada seorang kaya raya bernama Kari Kelinting yang akan menikahkan putrinya. (Tidak mau spoiler, hehe)
Bagaimana bukit di sekitar Desa Ngebel menyerupai 'sang putri yang tertidur'. Bukit-bukit tersebut sesuai dengan anggota tubuh seorang putri. Bukit Padharan artinya perut, Bukit Suku artinya Kaki, Bukit Pasuryan artinya wajah, Bukit Mustika artinya kepala.
Selain itu, ada ciri-ciri dan karakteristik orang Indigo. Serta, ada beberapa kutipan tentang "menulis fiksi sebagai media menyatakan fakta yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah" (karena Winaya adalah wartawan yang bermain dengan fakta, kemudian memutuskan untuk menjadi penulis fiksi):
-> Menulis fiksi adalah suatu cara lain untuk menuliskan fakta. (hlm. 25)
-> "Kita bisa membuktikan fakta ke dalam cerita fiksi yang kita buat karena penulis adalah 'tuhan' bagi karyanya. Kita bisa menyentuh kebenaran lewat fiksi, meski kita tidak bisa membuktikannya lewat kebenaran fakta. Penulis fiksi tidak bisa digugat karena seluruh cerita yang dibuat adalah rekaan, meski menurut prasangka pembaca sebenarnya dia membidik fakta." (hlm. 109)
Ada beberapa kalimat yang saya garis-bawahi, karena saya mengagumi kepiawaian penulis dalam merangkai kata-kata menjadi suatu kalimat yang begitu berkesan:
-> Seks bagi kami lebih sebagai penghayatan suatu hubungan dengan tanggung jawab besar tehradap konsekuensi yang akan dihadapi. Kesetiaan harus menjadi pokok utama dan keterbukaan adalah pilar penyangga hubungan. (hlm. 20)
-> "Aku suka gelap karena kehidupan ini dimulai dari kegelapan. Aku suka air karena air bisa menenggelamkan ke tempat yang terdalam di mana kegelapan akan cepat menjadi kawan baikmu." (hlm. 35)
-> Tidak ada yang lebih miris daripada mayat yang mengapung di danau karena dia membawa kabar kematiannya dalam kebisuan. Sesungguhnya dia berseru-seru dalam kebekuannya. (hlm. 146)
-> Danau ini tidak pernah mengembalikan mayat yang telah diisapnya ke dalam dasarnya yang misterius.....mayat itu akan muncul kembali untuk mengabarkan sebab-sebab kematiannya. (hlm. 147)
-> Saat sesuatu hal besar akan terjadi, ada yang memanggil-manggil dalam diri. Seperti suara yang memanggil dari kesunyian. Orang-orang menamakannya firasat. (hlm. 213)
Oke, saya sudah membahas apa yang saya sukai dari buku ini. Namun, sayangnya, ada beberapa hal yang saya rasa "kurang". Itulah mengapa saya memberikan 4/5. Seandainya saja kekurangan yang saya rasakan ini terpenuhi, saya akan memberikan 5/5 hehe. Apa saja itu?
1. Seandainya saja penulis menjabarkan dan menceritakan lebih dalam tentang apa yang terjadi pada Nawai di masa lampau, alih-alih membuatnya tersirat dan membiarkan kita menerka-nerka tanpa konfirmasi. Saya mengerti, sih, mungkin ini kebijakan penulis terkait trigger warning terhadap pelecehan dan kekerasan seksual serta prilaku pedofilia.
2. Saya pernah membaca buku serupa, yaitu "Tell Me Your Dreams" karya penulis favorit saya - Sidney Sheldon, yang secara garis besar karakter utamanya sangat mirip dengan Nawai. Hanya saja di buku ini, tidak dijelaskan mengapa hantu-hantu ITU dengan karakter TERSEBUT yang muncul. Saya mengerti mengapa mereka muncul dan menampakkan diri, tapi mengapa dengan ciri khas dan karakter tersebut? Saya mengerti cuma si Wilis yang selalu ingin melindungi, seperti perwujudan diri Nawai yang berharap ia bisa bertubuh besar dan melindungi dirinya sendiri saat tidak ada yang mampu menjadi perisai untuknya. Lalu Satira, si anak kecil pemarah dan penuh kebencian yang menakutkan. Saya paham si Kembar adalah memori dan alam bawah sadar Nawai yang selalu mencatat dengan rapi apa yang dilihat dan didengarnya, dan catatan-catatan ini tersimpan dengan rapi di 'perpustakaan' mereka yang berarti memori tergelap dan terdalam Nawai, yang bahkan dilupakan oleh Nawai sendiri. Tapi saya tidak mengerti Ana Manaya yang haus seks dan gemar dunia malam, serta Abuela si nenek berbahasa Spanyol.
3. Ada beberapa spelling yang typo dan kesalahan penempatan karakter. Seperti seharusnya penulis menyebut "Alegra" malah menyebut "Kartika".
4. Saya merasa agak kurang nyaman dengan gaya bahasa di sini yang selain tidak konsisten, tapi juga tidak terdengar awam. Seharusnya menurut pendapat saya penulis konsisten, kalau ingin menggunakan gaya baku atau semi-formal, ya tetap saja seperti itu, jangan mencampurkannya dengan bahasa gaul. Seperti "Lo akan suka saat lo membukanya" yang bisa diubah menjadi "Lo pasti bakal suka pas lo tahu apa isinya" dan semacamnya. Lalu, gaya bahasa si Ana Manaya memang penulis ciptakan seperti perempuan nakal yang liar, tapi bertolak belakang dengan gaya bahasanya yang baku, seperti "Jangan nyuruh-nyuruh gue. Gue bukan babu lo." yang dilanjutkan dengan kalimat dengan gaya bahasa baku seperti "Lakukan saja sendiri. Bukankah tadi lo berani memukulnya?".
Tapi itu hanya ketidaksukaan dalam bentuk minor saja, kok. Tentunya saya akan semangat merekomendasikan buku ini kepada siapa pun yang ingin membaca atau mencintai genre buku psychological thriller. Ending buku ini sangat saya suka, walau memang meninggalkan pembaca tanpa "konfirmasi" yang jelas dan pasti terhadap apa yang telah dan akan terjadi. Tapi saya puas dengan bagaimana si Rayhan, yang "kebal" hukum itu berakhir. Saya juga mengerti mengapa judul buku ini rumah lebah, sebagai "analogi" dari sisi lain Nawai yang ia tidak sadari telah tercipta dengan sendirinya, dan mengapa ada bilik-bilik dalam rumah lebah ini yang diisi masing-masing oleh tiap "hantu". Serta mengapa di cover buku ini ada 6 lebah mengelilingi Mala. Kesimpulannya:
Ketika seekor ratu lebah menetas, dia akan menjerit dengan lengkingan kuat. Siapa pun elbah betina yang ikut menetas bersamanya dan menjawab lengkingan itu, maka dia telah berbuat kesalahan. Sama saja dia memanggil kematiannya sendiri. Hanya boleh ada satu ekor ratu lebah dan sang Ratu akan membunuh siapa pun saingannya.
didukung oleh perkataan Ana Manaya:
Kamilah yang selama ini mengurusi si Ratu Lebah. Jika tidak, mungkin dia sudah bunuh diri sejak dulu. Dia tidak boleh tahu tentang kami atau kami akan lenyap karena dialah si Ratu Lebah yang duduk di singgasana itu, yang berhak mengendalikan tubuh ini lebih banyak daripada kami.