Jump to ratings and reviews
Rate this book

Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina, Sejarah Etnis Cina di Indonesia

Rate this book
Buku ini membuktikan bahwa kedekatan dengan penguasa, modal besar atau kuatnya jaringan dagang terbukti tak mampu membendung gerakan anti Cina di Indonesia. Onghokham mampu memberi kita bahan untuk berefleksi dan mengambil inspirasi bahwa kita seharusnya tak berhenti menancapkan pilar perlawanan terhadap sistem kekuasaan yang korup, kemiskinan dan rasialisme.

Ester Indahyani Jusuf Ketua Pengurus Solidaritas Nusa Bangsa (SNB)

Onghokham seperti "Time Tunnel". la menghadirkan masa lalu langsung ke hadapan kita dan beruntunglah bangsa Indonesia, terutama para "cokin" sebab ia dengan berbagai tulisannya-sebagaimana terkumpul dalam buku ini-dapat dengan mudah berefleksi seraya memahami identitasnya dan kemana mesti menuju.

IvanWibowo Pendiri Jaringan Tionghoa Muda (JTM)

Pengalaman Onghokham sebagai asisten penelitian Bill Skinner, sarjana terkemuka studi Cina di Asia Tenggara, pada akhir 1950-an, serta pergulatan intelektualnya sebagai peranakan Cina banyak berperan membentuk pandangannya ten tang kedudukan orang Cina di Indonesia. Latarbelakang itulah yang membuat buku Onghokham ini mampu secara tajam menjelaskan pelbagai masalah, seperti sentimen anti Cina, gerakan sosial orang Cina serta peran ekonomi mereka sejak zaman Hindia Belanda hingga pasca Orde Baru.

Benny Subianto Peneliti

198 pages, Paperback

First published August 1, 2008

7 people are currently reading
85 people want to read

About the author

Onghokham

22 books12 followers
Onghokham (Ong Hok Ham) adalah seorang sejarawan dan cendekiawan Indonesia. Ia sering menulis pada kolom sejarah di majalah Tempo. Kumpulan tulisannya di majalah ini selama tahun 1976-2001 diterbitkan pada tahun 2002 dengan judul Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang.

Sebagai sejarawan, Ong Hok Ham menulis banyak artikel mengenai kaum peranakan Tionghoa Indonesia. Lima belas dari puluhan artikelnya yang pernah diterbitkan Star Weekly kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa.

Ong Hok Ham juga merupakan mantan dosen di Universitas Indonesia. Disertasinya selesai ditulis tahun 1975 dengan judul The Residency of Madiun; Priyayi and Peasant in the Nineteenth Century dan gelar Doktor diraihnya dari Universitas Yale, Amerika Serikat. Buah pemikiran Ong diabadikan dalam wujud pusat pelajaran sejarah Ong Hok Ham Institute di Jakarta Timur. Ia pensiun dari Universitas Indonesia pada tahun 1989.

Ong Hok Ham meninggal dunia pada tanggal 30 Agustus 2007 karena stroke. Sebelumnya ia juga pernah terkena serangan stroke pada tahun 2001. Namun hal ini tidak mengganggu semangatnya untuk menulis, meskipun hanya dengan tangan kanannya.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (29%)
4 stars
12 (38%)
3 stars
6 (19%)
2 stars
4 (12%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Bangquito.
76 reviews26 followers
August 20, 2020
Sesuai kata pengantar sekaligus editornya, kumpulan tulisan onghokham ini bersifat tematik dengan informasi yang berulang. Memang benar ada beberapa fakta penting yang dipaparkan, seperti (1) segmentasi ruang hidup masyarakat Cina, (2) kedatangan orang cina yang jauh mendahului kompeni, serta (3) hubungan dagang yang pelik antara Cina, Belanda, dan orang Jawa. Belum lagi soal perlindungan hukum, hak waris, agama, dan kewarganegaraan yang kabur. Namun, kompilasi ini lebih bersifat tribute bagi 100 harian wafatnya onghokham daripada fokus sejarah yang adil atas peranakan tionghoa di Indonesia.

Selain gaya kalimatnya yang panjang-panjang, narasi onghokham sering mengasumsikan bahwa pembaca punya pemahaman dasar atas artikel yang dipaparkan. Trivia yang ditulisnya memang fakta umum, walaupun belum tentu populer. Kedua hal ini membuat tulisannya menjadi dekat, seperti mendengar kuliah langsung. Namun perlu dibaca pelan-pelan dan ditelisik lagi bagi orang yang bukan, dalam istilahnya, "sarjana sejarah".

Profile Image for Zam.
31 reviews1 follower
December 30, 2023
Terdiri dari 11 bab yang menghimpun berbagai tulisan serta ceramah Ong Hok Ham mengenai sejarah (serta kondisi sosial dan politik) masyarakat Tionghoa-Indonesia sejak awal kedatangannya (sekitar abad ke-17) hingga pasca kemerdekaan Republik Indonesia.

Sebagai refleksi, Ong Hok Ham telah menjadi saksi dalam perjalanan panjang sejarah Indonesia mulai dari zaman Hindia Belanda, zaman Jepang, Revolusi Kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru hingga permulaan era Reformasi.

Fakta tersebut semakin menguatkan wawasan baru yang ditawarkan dalam buku ini. Selain itu, latar belakang Ong yang juga seorang Tionghoa Peranakan membuat penelitian lebih mudah dipahami, baik secara objektif maupun subjektif.

Singkatnya, perkembangan kapitalisme dan benih diskriminasi terhadap kelompok minoritas di Indonesia selalu berkaitan dengan “politik birokrasi” yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda, atau bahkan jauh sebelum itu.

Misalnya, kebijakan pemerintah Hindia Belanda membatasi pergerakan masyarakat dengan mengklasifikasikan setiap kelompok etnis ke dalam tiap kampung yang berbeda.

Hal ini menyebabkan tumbuh dan berkembangnya karakteristik individualis serta benih-benih diskriminatif antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya.

Singkatnya, buku ini memuat berbagai wawasan mengenai sejarah Tionghoa-Indonesia yang cukup kompleks secara ringkas, namun padat dan mudah dimengerti (terima kasih banyak @Komunitas Bambu).

“Kekejaman tidak dapat memecahkan ketegangan dalam masyarakat.” —Ong Hok Ham.

[Selesai].🤲
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.