Bulan April, tahun 2013, berawal dengan niat dan tujuan yang berbeda, tiga pengelana memulai sebuah perjalanan menyusuri daerah-daerah di Indonesia. Meski akhirnya teman seperjalanan satu per satu memilih arah pulang, langkah yang sudah dijejakkan harus diteruskan.
Tapak Jejak akan melanjutkan perjalanan Arah Langkah, mengunjungi daerah-daerah di wilayah timur Indonesia, menelusuri keindahan alam, budaya, dan tradisi, menembus dinding kegelisahan akan makna keluarga dan rumah.
Namun, satu hal yang tidak akan pernah berubah bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, hati kita akan selalu menemukan arah pulang menuju satu tempat yang paling tepat: rumah.
Fiersa Besari, biasa disapa “Bung”, ialah seorang lelaki beruntung kelahiran Bandung, 3 Maret 19XX. Didasari oleh kecintaannya pada dunia musik, setelah menyelesaikan pendidikannya di jurusan sastra Inggris di STBA Yapari ABA Bandung, Bung malah menjauhi disiplin ilmu yang ia pelajari selama ini dan berujung membuka studio rekaman. Di studio rekaman inilah ia mengenal banyak musisi, sekaligus mengembangkan karir musiknya. Bung kemudian merilis beberapa album solo sejak tahun 2012, sebelum mengalami fase patah hati dan akhirnya berkelana keliling Indonesia selama tujuh bulan untuk mencari jati diri. Sekembalinya Bung di penghujung 2013 membuat dirinya lebih mencintai dunia tulis-menulis. Meski seringkali terendus aroma cinta dalam karya-karyanya, namun Bung selalu menyisipkan pesan humanisme dan sosial. Karya pertama Bung berjudul “Garis Waktu”, berisi rangkuman beberapa tulisannya dalam kurun waktu 2012-2016. Sementara, “Konspirasi Alam Semesta” merupakan album musik yang pernah ia rilis pada tahun 2015, yang kemudian dipadu padan dengan naskah hingga akhirnya dilahirkan kembali dalam bentuk buku pada tahun 2017. Selain menulis, Bung juga aktif sebagai pemain musik, penangkap gerak, dan pegiat alam.
#1 Ironi. Saya menikmati keindahan Indonesia sebagaimana yang dicatat oleh FB dalam buku ini, di kala tanah air sendiri diselubungi asap yang menyesakkan dada yang juga datang dari negeri indah itu!
# Namun dengan kata-kata yang dikarang FB, mata saya menjadi cerah di sebalik jerebu dan terus terpukau meneliti setiap bait ayat yang disusun.
#3 Tapak Jejak, buku sambungan Arah Langkah, menceritakan pertualangan FB (dan rakan-rakan) di Indonesia dari Aceh sampai ke sempadan Papua New Guinea.
#4 Pengembaraan epik beliau ini tanpa segan silu saya anugerahkan sebagai "bekpeker" sejati. Begitulah!
#5 Kalau bercerita tentang Indonesia, yang selalu terbayang di fikiran ialah Bali, Lombok, Bandung, Padang, Acheh dan kota Jakarta yang seperti disumpah macet sepanjang masa.
#6 Dalam buku ini, FB meninggalkan jejak tapak sehingga ke Banda Neira, satu pulau kecil di bahagian selatan Kepulauan Maluku. Pulau kecil ini menjadi saksi peristiwa bersejarah Indonesia; peperangan antara penjajah Belanda, Inggeris serta pernah menjadi tempat buangan orang kenamaan Indonesia seperti Mohamad Hatta dan Sutan Syahrir. Tahun 1935 (lebih kurang) dicampak ke situ, pasti boleh menggilakan jiwa.
#7 Pengalaman FB dicopet, mendapat penyakit yang ganjil, bertemu dan bersahabat dengan orang tempatan yang sangat mesra dan terbuka, menyaksikan diri keajaiban ciptaan Tuhan; menjadikan itu satu pengalaman yang mencorakkan fikiran FB. Malahan, terkesan kepada pembaca buku ini juga.
#8 Oh ya! Ada dua kisah dalam buku ini. Kisah kembara berselang-seli dengan kisah keluarga FB sendiri. Hubungan darah yang ada naik dan turun, dan juga bagaimana sebuah hubungan yang berantakan menjadi pemangkin kepada pengembaraan ini.
#9 Saya suka sekali dengan falsafah FB, "perjalanan (pengembaraan) takkan menghapuskan luka, ia hanya akan menguatkan diri kita untuk menghadapi luka".
Buku ini adalah lanjutan dari buku Arah Langkah yang menceritakan kisah petualangan Fiersa Besari menyusuri Indonesia khususnya Indonesia Timur. Perkongsian pengalaman perjalanan, pertemuan dengan orang-orang baru yang membawa kakinya melangkah lebih jauh berserta introspeksi yang sarat di sebalik setiap kisah itu, sememangnya memukau saya sebagai pembaca. Namun, lewat petualangan yang panjang itu, ada sesuatu yang seolah memanggilnya pulang. Yang lebih menarik, terselit juga kisah pendek setelah kepulangannya, iaitu tentang pertemuan semula dengan seseorang yang menjadi sebab terbesar petualangannya dimulakan.
Wowowo ini pertama kalinya aku baca buku Fiersa Besari dan langsung jatuh cinta dong. Ternyata ini ada versi pendahulunya gitu. Tapi aku cuma beli ini aja tetep bisa nyambung kok. Ceritanya ttg perjalanan travel ke Indonesia Timur. Seru! Ngebuka mata banget. Apalagi ditambah visual berupa fotografi yang diambil sendiri sm dia.
Setiap untaian katanya tuh well-written. Jempolan deh! Bikin aku pengen baca bukunya Fiersa Besari yg lain. Recommended!
Bahasa yang digunakan dalam penulisan buku ini yang sejujurnya membuat buku ini patut diacungi jempol; penulisan, diksi maupun gaya bahasanya.
Buku ini menuturkan perjalanan penulis dalam menyusuri Indonesia. Disisipi dengan berbagai pesan humanisme membuat buku ini menginspirasi nurani untuk mencintai negeri sekaligus menjelajah sudut-sudut Indonesia yang belum pernah kita lihat.
Novel atau lebih tepatnya memoir karya Fiersa Besari yang menceritakan perjalanan ‘healing’ dari patah hati yang membawanya keliling Indonesia, berdasarkan kisah nyata! Btw, ini sekuel dari buku sebelumnya yang berjudul ‘Arah Langkah’.
‘Tapak Jejak’ ini melanjutkan kisah Bang Fiersa yang mulai terpisah dari sahabat-sahabatnya, mungkin bisa dibilang karena ego masing-masing. Hampir-hampir Bang Fiersa juga mengurungkan tekadnya untuk menjejaki langkah di Indonesia Timur karena egonya. Tapi egonya yang lain terus menuntut tapak kakinya melangkah, meski tanpa sahabat-sahabatnya.
Melalui 306 halaman, kita bakal diajak Bang Fiersa jalan-jalan menjelajah Indonesia Timur. Favoritku waktu Bang Fiersa ke Banda Neira dan napak tilas rumah singgah Bung Hatta, juga sedikit berkenalan sama Des Alwi. Jangan lupa waktu Bang Fiersa ke perbatasan Papua Nugini dan untuk pertama kalinya nyobain sirih pinang sebagai nazar karena udah bisa sampe ke sana, kocak banget!
Tadinya kukira buku ini bakal boring karena Bang Fiersa harus melanjutkan perjalanannya sendiri, yang artinya gak ada lagi drama berantem sama partner traveling-nya kayak di buku ‘Arah Langkah’. Tapi ternyata SALAH! Justru buku ini punya ‘nyawa’ sendiri dibandingkan Arah Langkah. Drama di buku ini juga bukan lagi menyangkut sahabat-sahabatnya, tapi keluarga!
Ada kepingan-kepingan ingatan yang Bang Fiersa tulis juga di buku ini. Semuanya tentang flashback masa kecil Bang Fiersa yang bakal bikin nangis bombai pas lagi seru-serunya ikutan jadi musafir dari halaman ke halaman. Sebel banget gak sih?
Kelebihan buku ini: alur ceritanya jelas, sederhana, gampang dipahami dan ngalir gitu aja. Ditambah tangan ajaib Bang Fiersa yang selalu melahirkan tulisan-tulisan yang cantik, sederhana, tapi puitis. Beneran berasa ikut jalan-jalan meskipun baca buku ini sambil rebahan di kamar. Kekurangannya: kurang panjang. Kita butuh 5 sekuel! :P
Overall, buku ini berkisah tentang perjalanan Bang Fiersa mendefinisikan ulang arti persahabatan, kekeluargaan, kasih sayang dan memaafkan orang lain maupun dirinya sendiri. Sebuah perjalanan panjang bagi Bang Fiersa untuk akhirnya bisa benar-benar pulang ke ‘rumah’.
“Perasaanku pada gadis di hadapanku mengalami fase yang teramat panjang. Tapi sebenarnya, rasa sayang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya bermetamorfosis, menjelma menjadi cemburu, kecewa, dendam, amarah, kebencian, kehilangan, hingga akhirnya memaafkan.” ___ *Catatan: jangan lupa baca ‘Arah Langkah’ dulu sebelum baca buku ini. Abis itu, baca bukunya Teh Anisa Prem yang judulnya ‘Berguru Pada Kelana’, versi lain Arah Langkah yang ditulis dari POV Teh Anisa sebagai satu-satunya perempuan di perjalanan mereka keliling Indonesia.
Novel Tapak Jejak merupakan sekuel dari novel Arah Langkah yang menceritakan kisah perjalanan Fiersa Besari menjelajahi wilayah Indonesia bagian Timur. Novel ini mampu mengajak pembaca untuk menikmati keindahan alam Indonesia Timur melalui penggambaran suasana yang dikemas secara apik serta berbagai foto yang berhasil Fiersa Besari abadikan sebagai bonus. Tak hanya menyatu dengan alam, Fiersa Besari turut membawa pembaca menyelami kejadian di masa lampau dalam Kepingan Ingatan yang menjadi latar belakang petualangannya dimulai.
Fiersa Besari benar-benar mampu mendefinisikan bagaimana seorang petualang dapat bertahan di lingkungan yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Berpetualang dengan modal nekat tidak membuat semangatnya menjelajah Bumi Nusantara menciut. Ia mengandalkan kenalan dari teman lama hingga mempertemukannya dengan orang-orang baru yang tak kalah seru. Fiersa mengajarkan bahwa pertemanan tidak memandang suku, ras, budaya, maupun latar belakang satu dengan lainnya.
Hal yang paling saya suka dari novel ini adalah gaya penulisannya yang diselipkan berbagai ungkapan indah dan tidak membosankan. Selain itu, kalimatnya juga tersusun rapi sesuai PUEBI. Judul dalam setiap babnya pun terdengar unik dan penuh makna. Apabila dilihat dari segi cerita, novel Tapak Jejak bukan sekadar novel perjalanan. Novel ini mengandung berbagai pesan kehidupan mendalam khususnya bagi seseorang yang sedang berlari dari kenyataan.
Bagi pembaca yang belum mengetahui bahwa novel Tapak Jejak merupakan sekuel dari novel Arah Langkah mungkin merasa sedikit kesulitan mengenali karakter yang disebutkan oleh Fiersa Besari dalam kisahnya. Oleh karena itu, sebelum membaca novel ini alangkah baiknya pembaca dapat berkenalan terlebih dahulu dengan novel Arah Langkah untuk memahami alur perjalanan Fiersa Besari.
Kelanjutan perjalanan Arah Langkah. Kali ini Bung Fiersa, seorang diri berkelana ke daerah Timur Indonesia setelah temannya memilih untuk pulang. Bung Fiersa menelusuri keindahan alam, budaya, serta tradisi di wilayah Timur. Terutama cita-cita awalnya yaitu datang ke Raja Ampat. - Buku ini menggambarkan sekali lagi bagaimana keramahan, kebaikan, serta rasa toleransi Orang Indonesia meskipun tidak saling mengenal, bahkan memiliki banyak perbedaan. Buku ini menggambarkan bagaimana bung Fiersa menjalin persahabatan dengan teman barunya.Dari buku ini, saya melihat banyak sekali orang Indonesia yang pintar namun terkendala akses. Hal tersebut yang membuat saya sedih. - Buku ini lebih banyak memberikan pemahaman tentang arti Indonesia, arti keluaraga dan rumah. Sepanjang membaca buku ini, terkadang merinding ketika membaca tulisannya, seolah-olah pembaca dibawa untuk mengikuti petualangannya. - Salah satu kalimat favorit adalah ketika Novi, teman Bung Fiersa dari Manokwari memberikan surat ketika Bung hendak pergi dari Manokwari. Kalimatnya - Teruslah bertualang, sahabatku, jelajahi seluruh penjuru negeri ini. Lukislah cahaya terindahmu di setiap lubuk hati sahabat lain yang akan kau temui nantinya. Aku juga akan belajar mencintai negeri ini dengan cara yang sederhana -Manokwari, Novi
Semua buku Bung sudah aku baca, diawali dengan 11:11, lalu dilanjut dengan Garis Waktu, Catatan Juang, Konspirasi Alam Semesta, Arah Langkah, dan terakhir Tapak Jejak.
Setiap buku memiliki kesan tersendiri. Dan bagiku, Bung adalah salah satu penulis yang selalu berhasil membahasakan rasa. Mengubah kritik jadi lebih mesra. Dan selalu bisa membawa imajinasi itu dengan kata.
Tapak Jejak, sekali lagi bisa membuat aku ikut merasakan hangatnya persahabatan. Merasakan kebaikan dari anak-anak bangsa. Dan semakin percaya bahwa Indonesia itu kaya. Bukan hanya kaya budayanya, tetapi kaya kebaikan hatinya.
Buku ini sangat menginspirasi bagi pembacanya. Dalam setiap halaman, kita disuguhkan dengan cerita-cerita yang menggetarkan hati dan merasapi makna kehidupan. Dan, untuk karakter-karakternya yang autentik dan situasi-situasi yang realistis. Cerita ini, juga sangat menghibur bagi pembacanya. Buku ini juga cocok untuk memahami dan mengapresiasi keindahan dan kompleksitas kehidupan manusia. Dan, banyak juga gaya bahasa yang khas dan refleksi di buku ini. Buku ini seolah-olah mengajak pembacanya untuk menyelami perjalanan pencarian makna hidup melalui serangkaian pengalaman yang memukau.
Masih selalu menyenangkan menilik pengalaman bung Fiersa keliling Indonesia! Tapi mungkin karena memang buku ini berdasarkan pengalaman pribadi, jadi tidak ada cukup polemik untuk bikin kita penasaran sama isi ceritanyaa, kurang lebih itu yang aku rasain sih wkwk, tapi selebihnya, perjalanan menyusuri Indonesia akan selalu menarik untuk diikuti apalagi bagi orang rumahan seperti saya ☝🏻
"... Seiring perjalanan, kita akan mengerti bahwa yang pernah membahagiakan dan menyakiti kita berperan penting dalam menjadikan siapa diri kita hari ini."
Finished this journey with some tears, and now I feel 'something'.
Buku ini saya baca ketika awal2 ikut pecinta alam, dan pada kala sangat memotivasi untuk bisa keliling Indonesia, melihat berbagai hal. Sebetulnya cerita dari buku ini cukup sederhana, namun saya suka gaya bahasa penulisannya yang tidak monoton. Cukup bagus untuk memberikan perspektif tentang indahnya berbagai tempat di Indonesia, dan cara2 berkeliling Indonesia dengan pengalaman maksimal.
me in high school would like it more. but i do still enjoy it apalagi saat Bung supel sekali berinteraksi dengan lokal di berbagai daerah. Selain itu, banyak juga hikmah dari setiap perjalanannya.
--- Keliling Indonesia Timur sendirian? Emang bisa? 🌏🇮🇩
Bisa! Bung Fiersa udah pernah nih. 😏👊
Melalui buku Tapak Jejak, Bung menceritakan pengalamannya berkelana. Awalnya beliau bimbang, lanjut atau tidak. Karena kedua temannya, Baduy dan Prem tidak melanjutkan petualangan ini. Namun, selalu ada jalan untuk terus melangkah.
—————————————————————————
📖Aku baca buku pertamanya dulu, jadi ngerti kisahnya dari awal. Lebih menantang, karena Bung sendirian. Lebih banyak pesan moral yang bisa diambil juga. Lebih ngeh juga ternyata di Indonesia Timur itu banyak sejarahnya lho, banyak hal yang belum aku tau juga. Aku suka banget cerita yang ke perbatasan Indonesia sama Papua Nugini.
📸Seperti buku sebelumnya, setiap perjalanan ada dokumentasinya. Jadi makin tau keadaan di Indonesia Timur saat itu. Indah banget!!
✍️Seperti biasa, penulisan buku Bung Fiersa selalu romantis menurutku. Di buku ini nggak terlalu banyak istilah yang “berat”. Jadi bisa dinikmati seluruh pembaca sihh.
🌏Keliling Indonesia karena patah hati. Dari bertiga jadi sendiri. Dari Barat sampe ke Timur. Bung udah berhasil sampai ke Indonesia Timur, terus apa lagi? Baca deh bukunya!!
💫4/5
🤍Aku merekomendasikan buku ini untuk kamu yang suka travelling. Baca buku pertamanya dulu baru buku ini. Dijamin seru!
Tapak Jejak merupakan lanjutan Arah Langkah. Di novel ini Bung mengunjungi daerah-daerah di wilayah timur Indonesia, Pulau Maluku dan Pulau Papua. Meskipun dua teman seperjalanannya telah memilih pulang, Bung tetap melanjutkan perjalanannya demi menelusuri keindahan alam, tradisi dan budaya di Indonesia Timur.
Selain perkampungan dan tempat wisata, Bung juga berhasil mengunjungi tempat bersejarah seperti tempat pengasingan Hatta di Banda Neira dan tempat pengasingan Pram di Pulau Buru. Novel ini kental dengan rasa nasionalismenya.
Novel ini juga memuat Kepingan Ingatan: kisah masa lalu keluarga Bung. Mulai dari ibunya menikah hingga Bung dewasa. Hadirnya kisah keluarga di tiap akhir Bab bisa menjadi penyejuk kerinduan serta sebuah kesempatan untuk mengenal Bung lebih dekat.
Banyak pesan moral yang bisa kita dapatkan dalam buku ini, salah duanya: Usaha dan sifat pantang menyerah mampu membuahkan hasil yang memuaskan serta ego berlebihan dapat melelahkan dan menyusahkan diri sendiri.
Buku ini menampilkan dua sisi yang kontras namun saling mendukung satu sama lain. Yaitu masa kini dimana Bung Fiersa Besari sedang melakukan perjalanan menyusuri bagian timur Indonesia, dan masa lalu kala ia masih hidup sebagai anak kecil yang mulai melakukan banyak upaya eksplorasi.
Lewat buku ini, ia banyak menjelaskan beberapa spot yang sudah ia singgahi baik di Maluku, Papua, hingga Sulawesi. Tak hanya itu, buku ini dilengkapi dengan adanya beberapa lampiran foto sebagai bukti otentik keabsahan ceritanya.