Boris, seorang astronom dari Rusia, terdampar di sebuah pulau antah berantah karena kecelakaan pesawat. Setelah 25 tahun berlalu, atas dasar sebuah mimpi, ia memutuskan untuk membuat rakit dan kembali ke peradaban. Setelah mengarungi lautan dan berhasil mendarat di pulau besar, ia bertemu dengan orang Indonesia bernama Gilang yang menjelaskan bahwa peradaban manusia yang ia cari ternyata sudah mati.
Bercerita tentang Boris yang terdampar di pulau asing selama 25 tahun dan kemudian disuatu hari bertemu dengan Gilang yang akan menemaninya menjelajah di bumi asing.
Sepengetahuanku jarang sekali ada penulis Indonesia yang membuat buku bertema dystopian, makanya aku sangat tertarik membaca buku ini terlebih covernya yang juga menarik perhatian.
Penulis sudah cukup baik dalam menyampaikan maksud dari judul 'Bumi Asing' tetapi menurutku deskripsi yang dijabarkan belum cukup kuat untuk memberikan kesan 'Bumi Asing' yang melekat. Premise cerita sangat menarik hingga membuatku tidak terasa membaca buku ini. Namun, semakin jauh aku merasa tidak jelas plot cerita akan dibawa kemana. Kejadian kejadian yang dialami para tokoh juga kurang memberikan kesan membekas.
Terlepas dari itu semua buku ini bisa jadi pengalaman membaca yang baru.
Buku ini berlatar masa depan dan pandemi yang dihadapi oleh umat manusia mengingatkan akan zaman covid saat itu. Terbayang kengerian yang dihadapi ketika manusia musnah dan pulau sebesar ini hanya dihuni oleh beberapa manusia.
Latar yang disajikan juga dapat tergambar dengan jelas, mungkin untuk beberapa chapter awal sedangkan lokasi-lokasi lain setelah dari Jakarta agaknya kurang tergambar kecuali dari ciri khasnya, seperti gambaran soal Sungai Mekong.
Secara personal aku suka sekali ada hal-hal yang berbau geologi (terima kasih untuk karakter Gilang) dan membuatku yang seorang geologis ini semangat membacanya. Karakter Gilang juga memiliki karakter development yang oke banget (meskipun ikutan mau nonjok juga).
Overall, ceritanya bagus dan menarik hanya saja di bab-bab terakhir terkesan terburu-buru untuk diselesaikan, apalagi bagian Boris yang ingin bertemu kedua anaknya.
AAAHHH sumpah! i think this is one of the bestest book i've ever read this year. this book was brilliant, mulai dari pemilihan konflik, latar belakang, dan plot twist yang disampaikan secara "halus" tapi ngena banget. gua di akhir-akhir nangis BANGET ga nyangka Gilang won't make it karena dia udah nemenin Boris dari awal setelah bertahun-tahun. :( aaahhhh if only ada sedikit lebih interaksi dari Boris sama Vlad dan Katya, but it's okay.
This entire review has been hidden because of spoilers.
I was surprised by the execution of this book; for the type of science fiction that usually tends to be boring, this book can make it enjoyable with pretty thin emotional games that can engage readers until the end.
The story opens with the stranding of a Russian astronomer in a tropical country that is eventually discovered as the Philippines. On the island, he meets Gilang, a man from Indonesia. Boris asks why all the cities have become ghost towns. That's when Boris was surprised by Gilang's statement that all humans on Earth had died of a superbug virus attack that only left 1:10,000,000 people who survived, including himself and Boris. The superbug virus usually cannot be detected in advance, but death cannot be avoided when it is known that the virus exists.
From their meeting, Gilang's odyssey back to Indonesia begins with Boris, who still doesn't believe in this human extinction. Boris thinks about the fate of his wife, Yelena, and his two children, Vlad and Katya. While in Indonesia, they meet Gilang's adoptive father, Ramiel, who is a doctor, where he re-explains how humans can become extinct. Boris' desire to return to Vladivostok is welcomed by Ramiel. So begins another thrilling journey.
The book tends to be slow-paced, but with all the complexity of the relationships between the characters and their backgrounds, this is very supportive. In addition, the portrayal of the characters, which is quite a lot, is still easy to understand, considering the characters are very different. Unfortunately, the cause of Boris' plane crash and how he survived on an island in the middle of nowhere for 25 years until he built a boat that stranded him back in the Philippines is not discussed. How did he survive that long without the help of other humans? In addition, the initial narrative that says that Gilang will bring Boris together with Ramiel, who has given up on her life, also seems odd. Until the end, Ramiel was the most optimistic and wise with this journey, supported by the decisions and initiatives he took. I don't know. It could be Gilang's way of lowering Boris' expectations of Ramiel.
But aside from these minor flaws, which aren't a big deal, this book is beautiful. The emotions created between the characters, the father-son chemistry between Boris and Gilang, and the real action and anger scenes make this book worth reading. Lastly 3.7/5 stars for this book.
One of my favorite moments is when
Because of the beauty of this book, here is a quote that can be our reflection:
Perjalanan pun begitu semakin jauh kamu menempuh jarak, semakin banyak misteri yang terungkap. Sayangnya, kamu tidak tahu bahwa jarak itu ada dua: jarak tempuh dan jarak waktu. Kamu perlu menempuh jarak waktu juga untuk memecahkan misteri. - Gilang
Bagi saya tidak ada salahanya mengajak orang lain melakukan sesuatu yang saya senangi, jika dia tidak senang, maka dia bisa melakukan apa yang membuatnya senang, jika ia senang, maka kami akan bersenang - senang bersama. - Ramiel
Hidup memang persoalan menghidupi satu jiwa dengan mengorbankan jiwa lain. - Ramiel
Capek banget dan rasanya gw pengen nyuruh orang orang di sini MANDI biar kepalanya seger. Pada banyak bacot sama otot doang, otaknya kopong. (٥↼_↼)
Setelah 25 tahun terdampar, rakit Boris pun berlabuh di Filipina. Tetapi, bukannya bertemu peradaban, Boris justru menemukan peradaban yang sudah hancur dan akhirnya bertemu Gilang.
Mereka akhirnya pergi ke Indonesia, untuk menemui Ramiel. Kemudian perjalanan berlanjut menuju Laos hingga Pyongyang. Bersama keadaan dan manusia yang berbahaya, di Bumi yang asing.
Waktu pertama baca dan ketemu Gilang, dengan semua sifat ceplas ceplos, nyebelin, keras kepala, tapi hebat dalam pertahan diri. Aku ngerasain mc yang masuk isekai dan berubah jadi hero. Dan semakin diperkuat sampe ke part China. Haha. Ketebak tapi keren lah.
Sebetulnya, dari secara alur hingga world building nya cakep loh. Runtut dan dijelasin apa yang lagi terjadi, apa penyebabnya dan gimana itu berlangsung. Dijelasin dengan ngalir seiring petualangan tokoh tokohnya. Nggak ngebosenin.
Tapi, ada hal yang ga nyaman untuk aku pribadi. My personal preference lah.
Aku tau, Gilang dan rombongan sangat baik. Baik banget malahan.
Dan aku tau, di sini author ingin nunjukin bukan hanya bumi yang hancur, tapi moral manusia yang tersisa itu juga.
Sayangnya, terlalu banyak hal hal yang degrading perempuan. Perbudakan dan perkosaan, apalagi kemunculan Maria bener bener bikin hati aku sedih, aku ga sanggup. Sebagai perempuan, aku ga sanggup bayangin apa yang terjadi.
Ya, karena menyentuh perasaanku sebagai pembaca, berarti ini ditulis dengan baik ya seharusnya. Tapi sayangnya rasa ga nyaman itu lebih besar dan bikin aku ga bisa enjoy ketika hal hal tersebut lagi muncul.
Selebihnya oke aja sih, bisa diikuti dan cukup menarik. Ga ngebosenin juga, meski endingnya cukup bikin pengen ngelempar meja HAHAHA
Bumi asing adalah bacaan menyenangkan sekali duduk. Menceritakan kondisi bumi di masa depan tepatnya di tahun 2063.
Hidup nomaden di tengah kekacauan bumi, berburu demi makanan, dan berdampingan dengan hewan liar serta alam.
Teka-teki kenapa bumi mendapatkan julukan Bumi Asing akan terurai dari setiap lembaran yang dibaca. Manusia yang bertahan hidup hingga kini dan bagaimana mereka mempertahankan hidupnya.
Beberapa hal yang bisa aku jadikan pelajaran dari buku ini adalah mengenai keterbukaan dan kepercayaan.
Memang benar, asing adalah frasa "asing" dan dalam kelamnya masa lalu bumi menjadi asing membuat para tokohnya lebih getir dan senang menutupi banyak hal. Mereka tidak suka bercerita, mengakibatkan kesalahpahaman para tokohnya.
Meskipun bertualang bersama, mereka tidak cukup percaya satu sama lain. Imbasnya jelas merugikan diri karena pilihan yang tersedia antara bertahan hidup atau mati (dibunuh/terbunuh).
"Kenapa kamu membuang seluruh misteri ke masa depan? Perjalanan pun begitu. Semakin jauh kamu menempuh jarak, semakin banyak misteri terungkap. Sayangnya, kamu tidak tahu bahwa jarak ini ada dua: jarak tempuh dan jarak waktu. Kamu perlu menempuh jarak waktu juga untuk memecahkan misteri." -Hal 39 (Percakapan Gilang dan Boris).
Masa pandemi seperti yang terjadi sekarang ini di kehidupan nyata kita, masih belum sebanding dengan superbug yang terjadi di novel Bumi Asing. Manusia hampir musnah dan hanya segelintir manusia saja yang bertahan hidup.
Dalam cerita novel tersebut, diceritakan bahwa di akhir kepunahannya saja masih ada manusia yang rakus dan jahat untuk berkuasa dan bertahan hidup dengan mengorbankan manusia lainnya. Aku ga habis pikir dan geram saat membaca bagian yang mencekam saling menyerang antar sesama manusia yang bertahan hidup.
Salah satu hal yang agak menarik perhatianku adalah seorang tokoh yang bernama Gilang. Gilang bukan tokoh utama, tetapi yang membuatku tertarik adalah pekerjaannya sebagai geologis. Dimana-mana mencari batu. Sayangnya, tidak ada cerita khusus tentang pekerjaan Gilang. Karena kukira akan ada arti khusus dari pekerjaan Gilang dan cerita tersendiri.
misteri yang disuguhin di awal beneran menarik! but imo setelah itu agak ngebosenin dan ngebingungin, kayak Gilang yg blg di dunia cuma ada dia sama Boris, tapi abis itu dia blg dia bisa bawa Boris ke Ramiel, dan blg jg kalo Ramiel udah nyerah sama hidupnya (padahal ga keliatan gitu). tapi makin kesana makin makin seru, karena makin keliatan benang merahnya. aku selalu suka interaksi Boris-Gilang karena lucu banget, mereka beneran ayah dan anak? (asumsi awalku istrinya diem² hamil tapi Borisnya gatau karna kerja mulu, tapi lama kelamaan kerasa ga masuk akal) yaa apapun itu, mereka berdua udah setuju bakal jadi ayah dan anak. pokoknya chemistry Boris-Gilang tuh keren deh!
diluar itu, bukan berarti karakter lain gapunya muka(?) menurut aku alur ceritanya oke, endingnya memuaskan (meskipun... yahh, sad ga harus bad) over all 4.75!
Setelah terasingkan di pulau antah berantah selama 25 tahun, Boris—seorang astronom—memutuskan untuk menyeberangi lautan dengan harapan menemukan 'keramaian', tetapi yang terjadi setelah terombang-ambing di lautan Boris terdampar di pulau yang ternyata juga tidak tampak manusia satupun dan terbengkalai. Dari situ, muncul pertanyaan "Apa yang menyebabkan manusia punah?" From that, dimulailah petualangan Boris menemukan penyebab kenapa semua ini bisa terjadi.
I think ini aku pertama kalinya deh baca genre distopian (?) turns out seru bangeeet, tapi kalo film pernah beberapa kali. Pas kepoin ternyata penulis baru ngeluarin buku ini aja, atau aku yang ngga tau ya. Ditunggu karya lainnya kakak penulisss
Oh Gilang walaupun km berandalan dan gak sopan km keren deh😔🫰🏻
personally didn't like the ending 😕 (this is containing MANY spoilers :D) tbh i like Gilang the first time he appear in the book, i like how great the characters dynamics!! They fit each other character so well 🤩 but didn't expect such a plot twist 😰😰😰 my hands LITERALLY shaking when i read the plot twist 😰 i also love how the writer explained what happened, how it's looked like, i just love how they describing an unknown place, what was once a modern city, turned into a ghost town LOOVVEEEE the explanation about what's going on in this book!! 🫰🏻
overall this one's EAT ‼️💥 my first apocalypse book and THIS is a BANGER bro 💥🤟🏻
This entire review has been hidden because of spoilers.
Keren banget! Manusia udah banyak meninggal karena virus mematikan dan cuma ada "manusia sisa". Perjalanan dan usaha Boris kembali ke Rusia buat nemuin keluarga yang dia yakini masih hidup tuh bener-bener seru banget, dimana Boris sendiri udah terdampar di pulau antah berantah selama 25 tahun.
Selama di perjalanannya, dia ketemu sama "orang-orang sisa" yang punya berbagai macam karakter untuk tetap bertahan hidup. Perjalanan dan petualangan dia bikin deg-degan, tapi aku enjoy buat baca iniii.
Selama kurang lebih 12 hari membaca buku ini, aku merasa petualangannya sangat seru untuk diikuti. Genre post-apocalypse kental sekali di buku ini. Lalu bagian action-nya sungguh menegangkan! Aku tidak bisa membenci Gilang sama sekali karena sudut pandang Boris benar-benar merasuk ke jiwa, apa yang Boris ungkapkan memang itulah yang aku rasakan. Tentu endingnya membuatku menangissssss.
Ceritanya Cukup sesuai sama yang aku pikirin, bagus tapi gak wow banget. Dan cukup unik karena yang jadi latar termasuk Indonesia jadi agak bisa bayangin kalau di indo wabah gitu nyerang Dan kotanya jadi kota mati.
actually i love gilang's character. dia emang kadang keterlaluan, tapi di lain sisi aku agak bisa mengerti kenapa dia begitu. endingnya plot twist yang tidak disangka-sangka. tapi untungnya boris bisa ketemu lagi sama keluarganya.
aku baca ini di perpus sekolah waktu smp, dan sampe sekarang masih pengen punya buku fisiknya, tapi susah carinya. sayang ya buku sebagus ini jarang ada yg tau, everyone should know how amazing this book is. sadly aku kurang suka sama endingnya
Menikmati sepanjang perjalanan karena penasaran orang bilang plot twist-nya seru. Tapi memang ternyata bagusnya ada di sepanjang perjalanannya, jangan mengharapkan plot twist yang entah ada di mana itu.
bagus?!?!?!?! alurnya ga ngebosenin dan bikin penasaran trs, tapi kayanya cerita ttg boris terdampar 25 tahun di pulau sendirian kurang disorot padahal menarik
this is the first indonesian dystopian book i've ever read, and i love how the concept is. there's some parts in the middle that makes me uncomfortable, but overall it's good so i gave 4 stars
Udah pernah baca pas jaman SMP di oren. Baca lagi di Ipusnas karena lupa alurnya. I'm not gonna lie, meski sikap Gilang keterlaluan, gue setuju dengan beberapa perbuatannya.
idk if i like the ending or not but i remember it being fun as hell. im not really into apocalyptic genre of books but maybe ill change my mind after reading this book. i <3 gilang
Aku harap beberapa karakter dalam buku ini dapat diperdalam kisahnya dan masih ada sesuatu yang kurang dari endingnya pokoknya masih penasaran sama world building dan kisah karakter lain dalam buku Bumi Asing yang satu ini, semoga ada prequel dimana bumi belum asing ataupun sequel.
This entire review has been hidden because of spoilers.