The New York Times, koran terbesar di AS, edisi 24 September 2003, memuat sekelumit perjalanan hidup James Yee, pembina rohani militer yang ditahan tanpa tuduhan, sesudah bertugas di Guantánamo
Beberapa hari setelah peristiwa 11 September, Kapten James J Yee, pembina rohani Islam yang bertugas di pangkalan Angkatan Darat Fort Lewis, mendapat tugas baru. Menurut yang pernah mendengar ceramah-ceramahnya, kemanapun pergi ia selalu menyampaikan, bahwa Islam bukan agama kekerasan, di pangkalan militer, gereja, masjid, kampus dan di jalan-jalan Olympia, kota tempatnya tinggal bersama isteri dan puterinya.
Kegigihan Kapten Yee, 35 tahun, dalam menyampaikan Islam diakui orang-orang yang mengenalnya. Kegigihan yang sama telah mengatarnya jadi jagoan gulat waktu SMA, lulus akademi militer West Point, dan menjadi seorang muallaf yang teguh. Kegigihan itu juga dibawanya ketika tahun lalu ditugaskan membina para tahanan Muslim di penjara Teluk Guantánamo, Kuba. Di tempat itu, Kapten Yee-lah yang membuat azan terdengar lima kali sehari ke seluruh sudut penjara lewat sebuah pengeras suara. Kalau CD-player-nya mengalami kerusakan, ia sendiri yang melantunkan azan lewat sebuah mikrofon.
Sudah jadi bagian dari tugasnya, katanya dalam sebuah wawancara April lalu, untuk menengahi kesalahfahaman antara para tahanan dan pejabat penjara.
“Saya memberi masukan kepada komandan pangkalan dengan rasa hormat pada agama dan membantu fasilitas peribadahan di sini,” kata Kapten Yee. “Tapi yang terpenting, saya berguna meredakan berbagai ketegangan di dalam kamp.”
Kapten Yee meninggalkan Guantánamo dua pekan silam menuju rumahnya. Tapi belum sempat ia bertemu keluarganya, 10 September lalu para pejabat militer menangkapnya di suatu tempat di Florida dan menahannya di sebuah markas militer di South Carolina. Sejak itu ia terus diperiksa atas kecurigaan melakukan kegiatan mata-mata di Guantánamo. Para pejabat militer menolak mengatakan kenapa Kapten Yee, yang belum dikenai tuduhan apa-apa, diperiksa secara intensif. Para pejabat hukum lain mengatakan penyelidikan itu diarahkan pada kecurigaan kegiatan mata-mata, bantuan yang melenceng kepada para tahanan, atau kemungkinan pelanggaran tugas militer lainnya.
Seorang pejabat militer kemarin menyatakan, Kapten Yee ditemukan telah menggambar denah-denah letak para tahanan di dalam kamp, daftar siapa interogator dan siapa yang diinterogasi, serta catatan-catatan tentang apa saja yang ditanyakan.
Pejabat, yang menolak disebutkan identitasnya itu mengatakan, salah satu alasan kecurigaan atas Kapten Yee karena ia pernah terlihat bersama dua anggota militer lain yang sedang dalam pengawasan. Tidak jelas apakah salah satu dari dua orang itu adalah penerbang senior Ahmad I al-Halabi, yang pernah jadi penterjemah di Guantánamo yang dituduh melakukan kegiatan mata-mata dan mengirimkan rahasia-rahasia militer ke Suriah.
Para pejabat militer tidak akan membeberkan nama-nama penasihat hukum Kapten Yee. Di bawah hukum militer AS setiap tahanan harus sudah dibawa ke pengadilan dalam waktu 120 hari sesudah penangkapannya.
Mereka yang mengenal Kapten Yee di Olympia mengaku heran mendengar kabar penangkapannya. Yee tinggal di kota itu empat tahun terakhir ini dan aktif di masjid setempat. Terkadang ia mengimami shalat dan memberi khutbah Jumat menggantikan imamnya. Menurut mereka yang mengenalnya, Yee selalu menegaskan adanya kesalahfahaman terhadap Islam sesudah 11 September, 2001. Mereka juga mengatakan, Yee selalu menegaskan kesetiaannya yang kokoh pada Amerika Serikat dan pada dinas kemiliterannya. Pria itu selama ini terdaftar sebagai pembina rohani di Batalyon Sandi ke-29 di Fort Lewis.
Kesimpulan dari buku ini adalah, sebegitu paranoidnya amerika terhadap Islam, sampe harus mengorbankan salah satu prajurit(walaupun pada kenyataannya yee tidak sendiri) terbaiknya.