Hal yang sebenarnya biasa saja, kalau ditelisik lebih jauh ternyata bisa membuat bingung. Apalagi hal-hal yang memang membingungkan. Salim, orang kampung yang bekerja di Surabaya, menyadari hal itu setelah pada sore yang nahas motornya menabrak trotoar. Menurut dokter, Salim terkena gegar otak ringan. Sementara istrinya, Sofia, menengarai Salim kesurupan.
Di mata Salim, tak ada yang tak membingungkan. “Apakah ada yang tak membingungkan?” katanya. Hampir setiap kalimat yang diucapkan Salim diawali dengan, “Saya bingung.”
Perubahan itu membuat istri Salim ikut-ikutan bingung. Begitu juga dengan atasan di kantor, Atasan Paling Atas, dan teman-teman Salim. Balian sakti pun ditugaskan menangani Salim yang bingung.
Salim bingung, semua orang jadi bingung.
Novel ini menyodorkan “kacamata” bingung untuk segenap peristiwa yang selama ini dianggap tidak membingungkan. Dan ternyata, dalam segenap peristiwa yang membingungkan itu tersimpan banyak hal yang membuat kita tertawa. Bingung tapi tertawa. Bingung, ‘kan?
Kebingungan-kebingungan Salim ini sempat menjadi bahan pembicaraan kawannya di kantor. Ada yang menganggap bahwa keingintahuan Salim terhadap banyak hal, merupakan bukti bahwa ia menggunakan otaknya untuk berpikir. Namun, di salah satu pihak, itu merupakan hal yang melelahkan. Tentunya, sangat melelahkan jika kita seperti Sofia yang harus berhadapan langsung dengan Salim.
Novel ini sarat dengan pertanyaan yang kerap terlintas dalam pikiran manusia. Dikumpulkan menjadi satu. Di dalam tubuh seorang lelaki yang tanpa sengaja menabrak trotoar. Sehingga, dibuat seolah kecelakaan itu yang membuatnya menjadi linglung.
Pertanyaan dalam kehidupan, kerap kali menghampiri. Terutama, ketika seseorang berpikir mengenai sesuatu. Kemudian, berusaha mencari jawabannya. Tentu akan berbeda jika orang tersebut hanya diam tanpa berusaha. Ketika seseorang akhirnya berusaha mencari jawabannya. Hasilnya adalah jawaban yang memiliki ragam variabel. Karena hidup sejatinya memiliki banyak sekali tambahan parameter yang membuat masing-masing individu mengalami pengalaman berbeda.
Dan novel ini, mengajak pembaca untuk berpikir. Sambil mengesampingkan rasa kesal akibat kebingungan Salim. Tanpa menghilangkan esensi dari pertanyaan yang dilontarkan. Setidaknya, bisa menjadi media untuk berpikir sejenak. Sambil membuat otak olahraga dengan memikirkan sesuatu yang mendasar dalam kehidupan. Seperti, kenapa bisa Salim menjadi bingung dan merasa bingung padahal dirinya tidak pura-pura bingung.
Buku yang membingungkan kenapa Salim jadi orang yg selalu bingung dan mempertanyakan segala sesuatu pasca kecelakaan motor. Tapi sayang, gak ada penjelasan kenapa Salim berubah jadi orang serba bingung setelah kecelakaan tsb. Saya sendiri yg baca jadi ikutan bingung kenapa Salim malah berubah setelah peristiwa itu.
Singkat dan membingungkan tapi saya tetap menikmati proses selama membaca buku ini. Pertanyaan2 yg dilontarkan Salim kadang2 bikin ikutan mikir—eh bener juga sih kenapa ya? Tapi juga gak jarang bikin saya jengkel menahan rada gondok! Ada kritik tak langsung yg ingin penulis gambarkan melalui tokoh Salim ini. Applause untuk penulis yg telah berhasil membuat saya tertawa sekaligus menahan kekesalan menghadapi Salim yg membingungkan!
Kalau aku harus menggambarkan buku ini dengan satu kata, kata yang tepat adalah : KESAL! Sumpah ya, buku ini berhasil bikin aku kesal sampai rasanya pengen banting ke tanah 🤣 Tapi nggak kok, aku ngga banting bukunya, karena bukunya nggak salah, yang salah penulisnya, karena berhasil bikin emosi 😅 Yang bikin aku kesal tentunya adalah sosok baru Salim yang berubah menjadi orang yang selalu bingung akan segala sesuatu setelah dia mengalami kecelakaan itu. Bingung kenapa dokter kasih dia obat padahal dia nggak sakit, bingung kenapa polisi minta uang tebusan untuk motornya padahal dia ngga salah, bingung kenapa masakan istrinya sekarang tidak ada rasanya, bingung kenapa istri dan atasannya percaya sama dukun, bingung kenapa penghasilan dia dan istrinya tidak pernah mencukupi kebutuhan mereka, bingung kenapa para koruptor mencuri uang rakyat padahal penghasilan mereka jauh lebih besar daripada penghasilan Salim dan istrinya. Dan masih baaaaanyak lagi hal lain yang membuat Salim bingung. Tapi, sebetulnya dibalik kebingungan-kebingungan Salim itu, penulis menyelipkan makna tersirat tentang segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita, mulai dari hal sepele yang sering kita temui sehari-hari, sampai isu-isu sosial dan juga politik. Dan jujur aja, hal-hal tersirat itu akan bikin kita jadi mikir. Ada beberapa bagian yang menurut aku lucu dan menghibur, tapi nggak bisa mengalahkan rasa kesal aku sama sosok si Salim ini. Aku kira buku ini akan bikin aku bingung, but no! I'm not confused! I'm angry! 😠😁
Banyak banget pertanyaan-pertanyaan Salim yang di awali, "Saya bingung..." Soal dukun, soal pemerintah, soal masyarakat, soal perusahaan, semua kena dibingungkan Salim. Yang bikin saya geram kalau Salim sudah bertanya yang jawabannya sudah dia tahu. Ada beberapa hal yang menurut saya aneh kalau orang dewasa masih mempertanyakan hal sepele, sedangkan dia bisa menyimpulkan jawaban berdasar situasi dan kondisi nyatanya. Jika sudah berdebat panjang dengan rekan kerjanya, Salim akan mematahkan dengan kalimat, "Saya bingung."
Salim seharusnya 'kita', tapi dalam versi yang lebih baik. Maksudnya, kita harus bisa berpikir kritis dan mau mengungkapkan sesuatu yang patut ditanyakan.
Saya membeli buku ini dengan harga sangat murah di diskon online Gramedia. Dan... bagaimana ya mengatakannya, tapi buku ini just not my cup of tea, I guess.
Tokoh Pak Salim yang semula pendiam dan penurut menjadi banyak bicara dan mempertanyakan segala sesuatu dengan bingung gegara kecekalaan yang membuat kepalanya terbentur. Premisnya cukup menarik, tapi ceritanya tidak berkembang sama sekali arahnya ke mana.
Lalu, Pak Salim sering kali disebut intelek dengan perkataannya, tapi bagi saya dia hanya mengucapkan retorika dan tidak kritis dalam berpikir, kumpulan pertanyaan tanpa ujung.
Selipan kritik sosial mengenai keadaan masyarakat, pemerintah, pendidikan, politisi, dan lain sebagainya sebenarnya dapat cukup dimengerti arah dan maksudnya, tapi rasa-rasanya hanya berputar di situ-situ saja tanpa mengarahkan cerita.
Aku tertarik baca buku ini karena judulnya yang terkesan menggelitik dan paragraf terakhir blurb yang bilang kalau kebingungan yang diutarakan main chara bisa bikin ketawa. Masalahnya, aku malah udah dibikin pening duluan sebelum dibikin ketawa. Ga jadi lucu kan, malah pusing.
Memang betul kebingungannya ada yang masuk akal dan bisa menyentil realita kehidupan, tapi banyak kebingungan yang munculnya atau nyambung sama hal lainnya terlalu random, kek "kenapa tiba2 mikirin itu??? Kenapa nyambung ke situ??"
Dan kelar baca buku ini, yang tersisa bingung dan pusing tanpa haha hihi.
Saya kasih nilai 3 dari 5. Sampai novel ini selesai Salim masih bingung dan saya sebagai pembaca pun masih bingung.
Novel ini sangat menggelitik karena pembaca diajak untuk berpikir sejenak oleh pertanyaan yang dilontarkan oleh Salim. Walaupun sedikit kesal, tapi memang benar pertanyaan tersebut ada di sekitar kita. Pertanyaan yang sebenarnya penuh dengan kalimat satir.
Novel Bingung Bingung cocok untuk kalian yang ingin berlucu-lucuan dengan kalimat satir, di satu sisi menghibur dan sisi lain menjengkelkan. Pesan saya, hati-hati semoga tidak ikut bingung bersama Salim. Hahahha!
Buku yang isinya sangat banyak kalimat tanya. Pertanyaan-pertanyaan Salim emang kadang bikin ngeselin. Tapi sebenarnya pertanyaan-pertanyaan itu mewakili keresahan banyak orang.
Buku bingung-bingung ini halamannya gak banyak, isinya juga ringan dan jenaka. Menceritakan kehidupan sehari-hari yang relate sama banyak orang. Bukunya cocok untuk jadi selingan setelah baca buku yang gak berat dan harus menguras otak
Tau nggak kalau ada Buku yang membuat semakin dibaca semakin bingung? semakin dibiarkan gak dibaca kita akan semakin bingung? Karena kita sudah terlanjur baca bab pertama nya. Tapi saya jadi bingung kenapa penulis harus bingung bingung menulis hal hal yang membuat bingung penulis itu sendiri? Mana pembaca jadi ikutan bingung... itu yang buat saya semakin bingung. Gak dibaca kok saya semakin penasaran dan semakin bingung karena merasa tidak menuntaskan apa yang sudah saya baca. Bingung kan?
Bekerja keras ditambah hasil per hari dikurangi pengeluaran per hari, dikalikan tiga puluh hari, selalu saja tidak sama dengan sejahtera. Tapi sama dengan kehidupan serba-kekurangan. Bukankah demikian fakta para pedagang asongan, para kuli bangunan, para pemulung, para buruh pabrik, dan "para-para" lain yang belajar matematika dengan serius saat sekolah? Hal. 15
Saya bingung... Dua kata yang selalu Salim ucapkan ketika berbicara setelah dia mengalami kecelakaan, menabrak trotoar dan jatuh dari motor. Salim berubah menjadi orang yang terlihat berpendidikan tapi selalu bingung dimata orang-orang yang mengenalnya.
Saya bingung, aku bingung...selama baca novel ini ikutan bingung akibat memikirkan apa yang dibingungkan oleh Salim. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Salim selalu penuh dengan kebingungan. Ingin marah dan kesal tapi tidak bisa karena apa yang dibingungkan oleh Salim ini terdengar masuk akal. Tapi dunia tidak bekerja sesederhana itu. Menurutku kadang kebingungan Salim ini seakan sindiran untuk bagaimana dunia ini bekerja. Keadilan, banyak kebingungan yang diungkapkan Salim mengenai Keadilan dunia, keadilan hidup, keadilan untuk sesama makhluk hidup/manusia. Walaupun jadi ikutan bingung, tapi cukup menghibur juga walaupun untuk endingnya sendiri tidak memberikan alasan yang jelas tentang perubahan Salim yang selalu bingung, hehe.
Novel ini masuk kategori novel dewasa, dikarenakan pemikiran para tokoh dan tentang hal-hal yang membuat Salim bingung akan sedikit sulit dipahami untuk pembaca yang belum dewasa. (Di bukunya sendiri diberi rating 21+)
Salim dan sindrom bingungnya yang sampe akhir gak ada habisnya. Judulnya emang menggambarkan ceritanya banget. Berharap, pas baca ini, kebingunganku bisa teratasi. Yang ada malah makin bingung dan ujung2nya kesal sendiri. Hampir DNF karena udah mau habis ceritanya, tidak begitu terlihat kapan kebingungan Salim berakhir.