Sekelebat bayangan hitam muncul di belakangnya. Kenar merasa dingin di seluruh tubuhnya. Langkah Kenar untuk kembali ke kamarnya terasa sangat berat. Nyanyian itu samar-samar di dengarnya lagi.
'Mong karo aku, mong aku Nengdi kabeh awak nyawamu keraket Nganti pati misahke...'
Kenar berteriak kencang ketika bayangan hitam yang tinggi besar itu akan menelannya hidup-hidup. Kenar bahkan kembali terkejut ketika seorang nenek-nenek tiba-tiba muncul di hadapannya.
Novel ini keliatan seperti memanfaatkan boomingnya KKN di Desa Penari. Jadi ya, keliatan kayak maksa gitu. Apalagi pakai embel-embel nyata atau tidak baca sendiri 😄
Novel ini tuh sebenernya nggak jelas arahnya kemana. Masa iya cuma karena mirip tau-tau jadi dihubung-dihubungin sama Ratimayu, pada akhirnya Kenar jadi nari terus nggak bisa berhenti sampai akhirnya jadi hilang dan mungkin nari terus selamanya ~ (mirip banget sama KKN di Desa Penari)
Belum lagi sama sifatnya Dierja yang sok kepedean, ditambah Kenar yang belum apa-apa udah naksir Dierja. Aduh, gimana ya...
Secara keseluruhan novel ini terlalu maksa banget, apalagi endingnya 😭
Bukunya bagus menurut saya, tapi kurang matang dalam pengakhiran kisah cerita dari banyu dan ratimayu, apa yang sebenarnya terjadi sama kenar setelah malam pesta rakyat, kenapa kenar di ending hanya bisa ditemui oleh beberapa orang saja. Jika dikupas lebih dalam lagi sebenarnya endingnya mungkin masih bisa di lanjutkan, entah itu jadi sad ending atau happy ending untuk semuanya, karena alur yang dibangun di awal sudah sangat bagus.. semoga ada kelanjutannya sih biar lebih menjelaskan endingnya saja.
This entire review has been hidden because of spoilers.