Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book

297 pages, Paperback

First published January 1, 1990

4 people are currently reading
80 people want to read

About the author

S. Mara Gd

73 books141 followers
Berawal dari menerjemahkan novel-novel Agatha Christie, S. Mara Gd mulai menulis novel pertamanya, Misteri Dian yang Padam pada tahun 1984 (diterbitkan tahun 1985). Tokoh yang diciptakannya adalah seorang kapten polisi bernama Kosasih dan sahabatnya yang punya latar belakang hitam, Gozali. Sejak itu novel-novel tentang petualangan dua serangkai, Kosasih dan Gozali, dalam melacak para kriminal mengalir terus. S. Mara Gd memadukan logika dan humor dalam bahasa sehari-hari yang menarik, di sana-sini diwarnai oleh dialog Suroboyo-an. Lokasi ceritanya umumnya mengambil tempat di Surabaya dan sekitarnya.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
11 (12%)
4 stars
19 (21%)
3 stars
44 (50%)
2 stars
10 (11%)
1 star
3 (3%)
Displaying 1 - 11 of 11 reviews
Profile Image for Aravena.
677 reviews36 followers
February 3, 2020
Saya penggemar cerita misteri/detektif, tapi dulu saya selalu melewatkan karya S. Mara Gd (kita sebut saja SMG untuk seterusnya) karena berprasangka kalau ini seperti versi KW lokal dari novel-novelnya Agatha Christie. Jadi, ini buku beliau pertama yang saya baca. Begitu kelar, saya langsung merasa “wah wah, harusnya dari dulu saya sudah coba baca si penulis satu ini!!” Haha….

Lebih dari konstruksi kasusnya, saya mengagumi gaya penulisan dan penceritaannya. Karena SMG adalah seorang penerjemah kawakan, kontrol tata bahasanya kuat sekali. Jujur saja, agak susah menemukan novel lokal dari genre populer yang gaya bahasanya mengalir semulus ini; tata bahasanya baik dan benar, sekaligus luwes dan enak dibaca. Pilihan kata-kata untuk deskripsi dan dialognya tidak berlebihan tapi mengena, membuat kisahnya jadi seru untuk diikuti dengan para karakter yang kepribadian maupun latar belakangnya digambarkan begitu kuat.

Kasusnya sendiri tentang suatu insiden yang dianggap sebagai bunuh diri dan melibatkan seorang penyanyi terkenal. SMG mengawali dengan pola efektif yang sering terlihat di karya Christie, yaitu memperkenalkan orang-orang yang terlibat dan menanamkan bibit-bibit prasangka di benak pembaca sebelum pembunuhannya terjadi. Ada juga selipan sub-plot percintaan, yang sepertinya dimaksudkan sebagai ‘penawar’ terhadap plot utamanya yang getir bin tragis.

Kasus ini tidak begitu kompleks, walau saya tetap saja gagal menebak siapa pelakunya/apa yang sebenarnya terjadi. Ada unsur yang tidak begitu saya suka begitu misterinya terungkap Terlepas dari itu, proses investigasinya berjalan runut dan logis dengan banyak menampilkan pasangan polisi & detektif kita, Kosasih dan Gozali. Bagian pertengahan bukunya lebih banyak berkutat pada proses mereka mondar-mandir menanyai satu-persatu orang yang terlibat, dan ini bisa jadi monoton atau membosankan kalau tidak diselingi dialog yang segar dan jenaka tanpa memaksakan diri melawak (ada bagian interogasi dengan tokoh 'tukang gosip' yang sukses bikin saya ngakak-ngakak, misalnya).

Saya menikmati interaksi Kosasih dan Gozali, terutama dari sisi Gozali. Tokoh ini memang langsung membetot perhatian saya sebagai detektif ‘bertampang monyet’ yang cerdas, punya kharisma tersendiri, dan bermasa lalu menarik. Banyak dialog filosofis atau tentang moral yang keluar dari mulutnya saat sedang membahas kasus, sehingga saya jadi merasa buku ini (dan kemungkinan besar buku-buku SMG lainnya) punya suatu nilai tambah selain soal siapa-mengapa-bagaimana dari misteri pembunuhannya sendiri.

Kesan pertama yang baik dan menyenangkan dari S. Mara Gd, dan jelas bukan akan jadi kesan terakhir…(oh, dan saya berharap beliau dan si "cik" sudah benar-benar bertemu di Borobudur 28 tahun kemudian)
Profile Image for R. Wahyu.
Author 8 books14 followers
October 14, 2016
Sebenernya dari kalau melihat motif sipelaku sangat jelas siapa pembunuhnya. Karena hanya orang itu yang punya motif membunuh Renata. Masalahnya aku nggak tahu bagaimana triknya. Sampai halaman mendekati akhir aku tetap nggak bisa membayangkan bagaimana triknya. Lalu aku jadi berpikir kalau novel ini kurang fairplay. Tapi setelah aku membaca bagian resolusinya aku jadi sadar kalau clues nya sudah disebar. Aku saja yang nggak sadar kalau itu clue. Aku angkat topi deh buat novel Tante Mara yang satu ini karena berhasil menipuku. Btw... Aku kasihan banget sama Nadia. Akibatnya aku jadi nggak suka sama Kapten Polisi Husni Toha yg menurutku jahat banget. Syukurlah dia akhirnya kena batunya sendiri di akhir cerita. Ini juga yang paling aku suka dari seluruh novel Tante Mara. Selalu ada pesan yang dapat kita renungkan.
Kutipan yang aku paling suka ada di halaman 238. "Yah, memang benar, apabila jarum itu tidak menusuk jari kita sendiri, kita tidak bisa merasakan bagaimana sakitnya orang yang tertusuk jarum."
Profile Image for Kaldera Mehrunisa.
12 reviews
December 28, 2025
2.75 ☀️

Buku ke-7 dari serial Kapten Polisi Kosasih dan Gozali.

Secara garis besar, dari segi alur dan plot, saya kurang menyukai novel yang satu ini. Build up latar ceritanya terasa hambar, suasananya tidak benar-benar terbangun, dan penokohan karakternya terasa amat minim dan datar. Plot misterinya pun menurut saya kurang greget dan terasa cukup tergesa-gesa, seolah ingin segera sampai ke akhir tanpa memberi ruang bagi ketegangan untuk tumbuh secara alami.

Vibes penyelidikan Kosasih dan Gozali juga terasa kurang , karena posisi mereka yang berada di luar wilayah otoritas. Sebagai aparat kepolisian Surabaya, keterlibatan mereka dalam kasus yang terjadi di Situbondo secara alami membuat gerak mereka terbatas.

Akibatnya, dinamika investigasi yang biasanya tajam dan penuh kendali justru terasa kurang leluasa, seolah mereka hadir sebagai pihak yang menumpang pada kasus yang sesungguhnya bukan milik mereka.

Motif pelaku terasa dangkal. Penambahan detail berupa penyakit mental beserta istilah-istilahnya, yang mungkin diniatkan untuk memberi kesan dramatis atau kompleks, justru terasa tidak perlu. Daripada memperkaya cerita, hal tersebut malah membuatnya terasa dipaksakan dan memperumit tanpa benar-benar menambah bobot.

Yang cukup menarik, novel ini sebenarnya mengambil plot twist yang terbilang berani pada masanya. Namun sayangnya, keberanian itu tidak diimbangi dengan eksekusi yang efektif. Penjelasan mengenai plot twist tersebut dipaparkan dengan sangat panjang, hampir puluhan halaman? Entahlah waktu saya baca, terasa lama sekali. Dan sebagian besar hal itu disampaikan lewat dialog.

Di titik ini, saya merasa janggal. Sulit membayangkan seseorang bisa menjelaskan dan bercerita sepanjang itu secara natural, apalagi dalam situasi yang seharusnya tegang atau traumatis. Namun saya juga memahami bahwa mungkin penulis tidak memiliki pilihan lain untuk menyampaikan resolusi cerita dengan cara yang berbeda.

Pada akhirnya, novel ini terasa seperti potensi yang tidak sepenuhnya dimanfaatkan. Ada ide menarik dan keberanian naratif, tetapi eksekusinya kurang rapi dan kurang memberi ruang bagi pembaca untuk ikut tenggelam dalam suasana. Sebuah buku yang masih bisa dinikmati karena keberadaan Kosasih dan Gozali, tetapi dari segi cerita, terasa kurang meninggalkan kesan.
Profile Image for Melinda.
174 reviews5 followers
August 2, 2021
ya ampun… buku ketiga yang aku baca ini, ternyata lebih sulit menebaknya!
Renata ternyata….
Adam ternyata…
Endika sih… udah nebak dari awal… (halah!)
Karel? hmmm…
Tadinya berpikir Nadia akan banyak peran, karena digambarkan sebagai orang yang pintar, cerdik dan pemberani…
Aku baru berhasil menebak bahwa ini bukan bunuh diri, setelah setengah buku. Tapi siapa dan triknya bagaimana?? Aku baru bisa menebak pelaku setelah hampir selesai buku ini!

Kudos writer-nim.. hahaha Thank you for the entertainment…
Profile Image for Salza Puspitasari.
75 reviews5 followers
September 15, 2021
Cerita misteri yang ditulis oleh S. Mara memang tak lekang oleh waktu. Saya menikmati alur cerita Misteri Pesta Maut yang menguak “jawaban” dari misteri tersebut sedikit demi sedikit. Meskipun menjelang akhir pembunuhnya sudah bisa terbaca, ada juga hal-hal tak terduga dan sisipan “moral of the story” yang bisa dinikmati.
Profile Image for Natha.
780 reviews73 followers
January 7, 2015
Ini pertama kalinya membaca buku beliau, dan harus kuakui aku sudah lama notice dengan bukunya. Hanya saja baru kali ini berkesempatan untuk membaca. Jujur, bisa dikatakan selama ini membaca buku-buku misteri semacam ini, tetapi agak enggan membaca dimana tokoh utamanya adalah seseorang yang selalu muncul hingga berbuku-buku. Serial. Macam Poirot, atau Holmes, atau Miss Maple, dan semacamnya. Entahlah, tidak begitu suka saja.

Ini diluar kebiasaan karena aku membaca buku misteri detektif yang ditulis oleh penulis lokal, dan hasilnya... yah, tidak suka yang bikin jatuh cinta, tetapi juga tidak berarti aku benar-benar tidak suka. Sepertinya harus mencoba membaca buku penulis yang sama yang lainnya. Yang satu ini belum berhasil membuatku gregetan, tetapi juga tidak jelek. Biasa saja. Dan yang terutama, walau berhasil menebak siapa pelakunya, tetap saja tidak berhasil menebak motifnya. :)) Itu menggemaskan seh, tapi biar kubaca buku lainnya dulu. :P
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
September 13, 2015
bacaan iseng sekali duduk, sambil nunggu antrian di rs.

misterinya sih cukup solid , tp cerita ttg tokoh nadia-nya kok gak masuk ke plot utamanya sih, lebih kayak tempelan kisah romans yg gak nyambung....
Displaying 1 - 11 of 11 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.