Tiga puluh tahun yang lalu Elis Lintar kehilangan perempuan yang dicintainya dan anak yang tidak dikenalnya. Jadi Elis Lintar belajar hidup tanpa mereka. Dia belajar melanjutkan hidupnya sendiri. Dan dia berhasil. Dia menjadi pengusaha kaya, dia punya pabrik garmen yang sukses, dia punya istri, dan dia punya segalanya, dia puas dengan hidupnya --- seolah-olah demikian. Sampai suatu hari dia memutuskan untuk mencari kembali anaknya yang hilang itu.
Dan tiba-tiba nasibnya berubah. Pabriknya diancam pemogokan, kemenakannya mati kecelakaan di jalan tol, istrinya jadi korban penodongan, dan akhirnya karyawannya mati bunuh diri. Apa yang terjadi?
Kapten Polisi Kosasih dan Gozali-lah yang harus menguak misteri ini.
Berawal dari menerjemahkan novel-novel Agatha Christie, S. Mara Gd mulai menulis novel pertamanya, Misteri Dian yang Padam pada tahun 1984 (diterbitkan tahun 1985). Tokoh yang diciptakannya adalah seorang kapten polisi bernama Kosasih dan sahabatnya yang punya latar belakang hitam, Gozali. Sejak itu novel-novel tentang petualangan dua serangkai, Kosasih dan Gozali, dalam melacak para kriminal mengalir terus. S. Mara Gd memadukan logika dan humor dalam bahasa sehari-hari yang menarik, di sana-sini diwarnai oleh dialog Suroboyo-an. Lokasi ceritanya umumnya mengambil tempat di Surabaya dan sekitarnya.
Sudah lama banget ga baca lagi S. Mara Gd (≧◡≦) terutama yang termasuk ukuran 'baru' alias ngga ada di koleksi perpus SMA dulu. Kisah petualangan Gozali dan Kapten Kosasih ini untungnya bisa dibaca lepas, satu buku satu kasus. Yang 'bersambung' alias ada benang merahnya cuma Kisah Kasih Gozali aja ( ´ ▽ ` )
Kasus dan pemecahannya tetap seru, bikin kangen baca ulang kasus lainnya. Nuansa akrab yang dihadirkan gara-gara setting-nya bikin kasus ini seakan terjadi di kantor tetangga („• ᴗ •„) amit-amit sih, jangan sampe tetangga kena kasus.
Walau lumayan banyak bumbu 'sinetron'-nya yang bikin kesel, tapi bisa diabaikanlah (⁀ᗢ⁀) //gaksopan. Habisnya:
Tokoh cowok: "Kita putus saja. Aku nggak sepadan untukmu." Tokoh cewek: "Tapi aku mencintaimu, Mas!" *diulang berkali-kali dalam berbagai kesempatan*
Pembaca/Guguk:ლ(¯ロ¯"ლ)"Wes tinggalen aee! Kesuwen!! Aku mau daraahh!!" . . . Pembaca haus darah (*≧ω≦*)
Baca buku ini saat dalam roadshow untuk regional dealer meeting!! capek… makanya selesainya juga lama.
Tapi bukunya cukup menarik. Intro atau latar belakangnya diceritakan dengan detail banget! Sampai bisa menebak siapakah villain nya 🤣 Cukup klise sih, it’s all because of money….
Kisah cinta Elis terlalu tragis, padahal sebenarnya ada banyak cara untuk membuat nuansa 'mencekam' tanpa harus menelangsakan kehidupan percintaannya. Dan lg terlalu mudah ditebak, dari awal langsung bisa nebak yg mana yg anaknya
okay...... kenapa nggak ada penulis lokal lain yang bikin cerita detektif seperti ini? Seneng juga baca si pak Kosasih sama om Gozali. Gaya menulisnya mengingatkan pada bu Agatha Christie (mungkin kita ngefans ya Bu Mara hehehehe)
Terus terang, ini buku misteri detektif lokal pertama yang kubaca, itupun boleh minjem. Sayangnya, covernya nggak menarik jadi sulit untuk meyakinkan diri untuk membeli :P Isinya sebenernya nggak jelek, asal kisah romannya dikurangi. nggak demen deh dicampur-campur drama, kesan misterinya jadi ilang :(. karena itu cuma bisa ngasih 2 bintang.
As always, S Mara GD's writing style is very fluent and easy to follow. There aren't something new about her writing style. The reason why i only give 3 stars is because of the story. Usually, her stories can make the reader guessing until the end and be surprised by the ending. But for this story, the ending can be guessed for the beginning, and for the first time guessing criminal stories, my guess is right.
ceritanya lebih kompleks drpd misteri kosasih-gozali yg lainnya, karakter2nya lbh banyak dan tdk hitam-putih spt biasanya. sayangnya penceritaan yg runut kronologis dan fakta2 yg dihamburkan, membuatnya jd mudah menebak siapa si penjahat yg sesungguhnya.
Agak lamban ini cerita, ya. Dan sebenarnya sungguh ketebak sedari awal, siapa pembunuhnya, motifnya, karena petunjuknya terlalu gamblang. Agak kesal saja menjelang akhir penjahatnya seolah kurang mendapatkan "hukuman" yang setimpal apalagi dia sudah sejahat itu.