Tidak setiap hari seekor anjing mengendus mayat. Namun itulah yang terjadi di kompleks perumahan Parkville.
Seorang gadis ditemukan tewas terbunuh, terkubur di sebuah tanah kosong setelah menghilang berhari-hari. Pertanyaannya: siapa? Siapa yang tega mengakhiri hidup seorang gadis SMA berprestasi yang menjadi idola banyak orang?
Tidak ada bukti. Tidak ada petunjuk. Semua penghuni Parkville memiliki alibi yang kuat dan tidak ada satu pun yang bisa dicurigai. Namun, benarkah begitu?
Adakah sesuatu yang mereka sembunyikan? Adakah … seseorang yang mereka lindungi?
3,5⭐ tapi kubulatkan ke atas. bonus untuk penyelesaian konfliknya 😁
Polisinya sengaja apa gimana ya dibikin ngga cerdas gitu? Kan si aku yang jadi pusing. Itu loh cara introgasinya, menyusun pertanyaan, menggali alibi, dan sebagainya... amatir bener. Mana di awal-awal bab pula. Bikin pengen DNF /heh
Aku udah hopeless sebenernya kalau menguak pelaku pake sudut pandang PoV 3 serba tahu sejak awal. Ingin kuundang detektif saja 😂
Tapi ... pas PoV-nya mulai dipindah-pindah, baru kerasa serunya.
Alhamdulillah.
Agak terganggu dengan dialognya. Kurang kerasa setting Jakarta(?), agak kaku dan kadang terlalu baku.
Thanks, God... 1/2 bagian belakangnya seru. Mulai rapi plotnya. Sempat mau kukasih 2⭐ loh, tapi tau-tau pembulatan ke 4⭐ hihi artinya overall oke.
The Good Neighbor (TGN) nyeritain kasus pembunuhan siswi SMA―Annissa―di kawasan perumahan Parkville. Oleh seekor anjing milik tetangga di sana, tubuhnya ditemuin terkubur di tanah kosong. Semua tetangga punya alibi kuat sehingga sukar nemuin pelaku sesungguhnya.
Kesan pertama saya setelah baca TGN: plot twistnya berlapis-lapis! Belum puas dibuat kaget, saya kembali dibuat kaget sama plot twist berikutnya. Pelakunya bener-bener nggak terduga! 😩
Dari awal, ceritanya udah enak banget diikutin. Gaya menulisnya lincah. Babnya pun pendek-pendek, jadi nggak terasa ngos-ngosan. Bagi saya, buku ini page turner. Tapi sengaja dilama-lamain bacanya karena saya pengin jadi pembaca detektif ala-ala, wkwk. Pengin ikut nganalisis siapa pembunuh si Annissa.
Sayangnya, saya menemukan beberapa hal mengganjal menjelang akhir cerita. Saya sampai harus bolak-balik ke halaman sebelumnya karena memang agak membingungkan. Alur maju-mundur pun bikin latar waktunya kadang kala terasa kurang jelas.
[SPOILER ALERT!!!] Kejanggalan pertama ada pada halaman 302 dan 304. Di hlm 302, waktunya disebutin pukul 11:55 PM. Lalu di hlm 304, ada pernyataan begini: Aku baru saja memesan kamar di sana, dan harus segera melakukan check-in sebelum pukul dua belas. Selang beberapa paragraf berikutnya, dibilang: Aku berharap tujuh menit cukup baginya untuk sampai di hotel itu. Kalo emang harus check-in sebelum pukul dua belas, berarti itu tujuh menit berikutnya udah lewat 12:00 dong? 11:55 tambah 7 menit jadi 12:02. Apakah ini typo ketika nulis 11:55 PM?
[SPOILER ALERT!!!] Kejanggalan kedua. Pada halaman 329, dibilang: Ujung tongkat itu tampak sedikit bengkok. Di situ, latar waktunya Februari 2018. Lalu pada halaman 357, dibilang: Saya tidak boleh memakai tongkat ini lagi, ujung tongkatnya telah bengkok. Di halaman ini, latar waktunya Januari 2018. Kalo tongkatnya emang udah diganti pas Januari, kenapa bulan Februari dipake lagi? Kan itu tujuannya buat menghilangkan jejak. Atau pas di halaman 329, emang sengaja pake tongkat bengkok itu lagi untuk meninggalkan 'kode'? Atau apa? Saya bingung. :')
[SPOILER ALERT!!!] Kejanggalan ketiga. Di halaman 358 dan 360, dibilang berturut-turut: Saya teringat kembali wajah menantu saya itu TADI MALAM. dan Saya harus membiarkan Mona menggali dan menemukan tubuh gadis itu. Latar waktu di sini Januari 2018, saya asumsikan tanggal 1 alias tepat tanggal tahun baru kalo ngeliat kalimat di halaman 358 yang saya singgung tadi. Lalu di halaman 7-8, dibilang kalo penemuan mayat Annissa oleh seekor anjing adalah tanggal 27 Januari 2018. Kalo emang tanggal 27 Januari ditemuinnya, kenapa tanggal 1 Januari udah digali?
Dari ketiga kejanggalan itu, saya ngeliat pola yang sama: inkonsistensi waktu. Mungkin penggunaan alur maju-mundur ini bikin agak keblinger kali, ya(?).
Tokoh dalam ceritanya ada banyak sehingga saya sering kesulitan mengingat mana si A, mana si B, dst. Meski demikian, semuanya ternyata punya peran penting!
Awalnya, saya kira Annissa termasuk tipikal tokoh utama baik-baik. Ternyata kebalik. Gayanya rada bitchy, tapi menurut saya dia punya sisi baik juga.
Dan setelah baca buku ini, saya yakin kata 'good' di judul The Good Neighbor itu sarkasme (semoga kesotoyan saya ini bener). Hadeuh rasanya kuingin misuh-misuh kalo inget jalan cerita TGN. 😂
Secara keseluruhan, saya menikmati The Good Neighbor. Terlepas dari beberapa kejanggalan yang saya temuin, saya mengapresiasi deskripsi mendetail yang dituturkan tanpa mengurangi kesan jenuh ketika dibaca. Plot twist berlapisnya juga mantap oi! 🤯
Akhirnya selesaaaaaaaai. Setelah pergolakan batin yang lelah antara lanjut ayau baca dulu yang lain, wkwk. Yang bikin aku bertahan baca ini itu ada dua:
Pengen DNF rasanya di 1/3 awal buku🙈 bosen.. Mana polisinya lembek bener, gemeshhh ah😠 untungnya setelah melewati tahap introgasi awal ceritanya mulai seru dan intens😃
Buku ini bercerita tentang pembunuhan siswi SMA (Annisa), yang ditemukan oleh anjing milik tetangga terkubur di tanah kosong perumahan mewah Parkville. Proses introgasi pun dimulai, tetapi semua tetangga punya alibi yang kuat.
Entah kenapa saat aku baca buku ini kebayang Drakor Sky Castle terus😆 padahal ga mirip, mungkin karena settingnya di perumahan mewah kali ya, juga keluarga² disana yang lumayan misterius dan ambis. Plotnya sangat tidak terduga😍 dan itu yang bikin aku suka. Gaya menulisnya enak banget diikutin, kayaknya dari ke-5 seri urban thriller ini salah satu dari dua yang paling enak tulisannya.
Seberapa banyak kamu mengenal tetangga-tetanggamu?
Dalam menjalani kehidupan sosial, dimanapun kita tinggal, kita akan selalu menemukan orang lain yang juga tinggal dan membangun kehidupan tepat di sebelah rumah kita. Memulai dan mengakhiri hari di lingkungan yang sama. Bertahun-tahun. Bersama-sama. Mereka adalah tetangga. Orang-orang (yang sebenarnya asing) yang dianggap sudah seperti saudara, bahkan keluarga sendiri.
Tapi, apa sungguh benar begitu? Rasanya tidak. Karena manusia itu makhluk culas. Tetangga tetaplah orang asing, bukan keluarga. Tak lebih penting daripada memastikan keselamatan dan nama baik diri dan keluarga sendiri....
Novel ini sungguh mengecoh! Di awal di buat sangat geregetan dengan sosok polisi penyidik kasus Annissa yang terkesan kurang cerdas dan lambat. Juga kesaksian-kesaksian penghuni blok perumahan Parkville yang terkesan dibuat-buat tapi sulit juga dibuktikan kebenaran atau kepalsuannya. Apa yang sesungguhnya terjadi pada Annissa di malam tahun baru itu?
Novel ini ditulis dengan memperhatikan betul rinci alur waktu kejadian. Pembaca harus sadar betul sedang membaca bagian cerita mana dan kapan kejadian itu terjadi. Semua diceritakan dalam satu garis lurus. Eh, terkadang maju mundur dengan sudut pandang berganti juga, tapi tetap dengan alur waktu yang ditulis rinci juga. Mulai dari Annissa masih hidup hingga hari dia ditemukan tak bernyawa dengan hanya menggunakan baju renang dan kepala berlubang.
KEJI .. KEJI .. KEJI .. cuma ini yang bisa aku katakan untuk kebenaran yang terjadi dibalik kematian seorang gadis SMA di perumahan yang tenang dengan manusia-manusia berprofesi elit di dalamnya. Sebuah kebenaran yang berlapis-lapis. Seperti perangai manusia, lapisannya banyak.
Jadi ya itu tadi, seberapa banyak kamu mengenal para tetanggamu? mungkin kita sama-sama perlu mengenal mereka lebih jauh lagi.....
Jujur aja, satu-satunya bagian yang menarik dari novelnya cuma pas POV Annisa. Soalnya disana lebih kerasa misterinya dan karakterisasinya lumayan. Kalo bab yang lain, gak tau kenapa, gak ngalir aja gitu. Tingkah tokoh-tokohnya pada absurd banget, gak paham aku.
Di bab pertama, aku gedeg banget sama si Bagas. Ngeselin sumpah. Dia gak merhatiin semua keterangan dari para saksi dan moody-an banget. Gak profesional. Serius, aku kesel banget pas bacanya. Aku jadi gak bisa simpati waktu backstory-nya.
Dan jujur aja, aku gak paham backstory-nya Bagas itu buat apa gunanya. Gak ada kaitannya sama sekali sama kasus Annisa. Aku rasa sih itu gegara penulisnya mau bikin paralel sama Ester. Tapi aku pun gak paham apanya yang sama dari mereka. Satu bunuh orang karena pertahanan diri, satu lagi karena disuruh delusinya. Apanya yang sama??
Dan plot holenya juga banyak banget, mau nangis aku🥲🥲 kelogisannya juga🥲🥲
Dan pengungkapan misterinya biasa banget ya. Gak banyak usaha banget, gak kerasa penyelidikannya sama sekali.
Dan jujur aja, twistnya menurutku ngerusak build up-nya sih. Intinya sih ini kejadian gara-gara suami-suami itu pada mabuk. Gak ada kaitannya sama dendam lama atau apa-apa yang ditampilin di awal. Jadi meh aja gitu.
Dan aku terganggu banget sama gestur-gestur kecil yang dibikin sama tokoh-tokohnya, apalagi di bab pertama. Kurasa penulisnya mau kasih kesan suspense, tapi jatuhnya gaje aja gitu.
Tapi walaupun aku banyak protes begini, paling enggak gaya menulisnya lumayan lah ya, gak bikin aku DNF. Bab POV Annisa bener-bener ngecarry menurutku. Makanya aku tahan baca sampai akhir. Soalnya dia satu-satunya tokoh yang karakterisasinya paling oke. Yang lain kurang mateng banget sih.
Aku tau ini buku pertamanya si penulis, jadi aku apresiasi usahanya dalam menyelesaikan novel ini. Aku harap kedepannya, tulisannya lebih berkembang lagi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sedikit banyak buku ini menurutku mirip Murder on the orient expressnya Agatha Christie walau penyelesaian konfliknya beda. Ceritanya menarik krn easy to read dan writing style ala POV lbh menjelaskan karakter masing2 tokoh.Kekurangan msh ada celah disana sini yang kalau kita ‘jelimet’bacanya masih menyisakan pertanyaan.
* Spoiler Alert! : Untuk karakter utama Annissa Anastasya kurang ‘Bitchy’ ya menurut aku 😅. Malah membuat iba krn latar belakang keluarga yang memang kurang perhatian,dia struggle menurut caranya sendiri yang justru salah krn tidak ada nasehat baik dari parents maupun teman-temannya. Harusnya si penulis lebih berani mengeksplore sisi ‘wild’ dari karakter utama. * Karakter si polisi juga kesannya makin memperlama-lama cerita,duh apa sengaja dibuat bodoh atau lemes begitu 😅. Cerita masa lalu juga kesannya dipaksakan, krn harusnya uda dr dulu2 konsul ke psikiater atau apa kek apalagi dgn jabatan polisi..ini kok anxietynya bertahan sampai skrg. * Spoiler Alert! : Untuk karakter si nenek,nah ini kurang digali krn kesannya dia melakukan itu krn dorongan skizofreniknya bukan dr pikirannya sendiri 😅. Dan ga diceritakan pula kenapa si Debby mau aja disuruh suruh dan klipping koran yg digunting2 rapi sptnya ada atau ga juga ga mempengaruhi jalan cerita. Untuk karya debut sih sudah cukup baik,Plot twistnya ada cuma kurang greget rasanya,entahlah…mgkn krn endingnya cukup aman sih kl menurut aku.
Selesai membaca buku ini membuatku bertanya-tanya apa gunanya polisi di cerita ini wkwk Bagas sebagai polisi bahkan nggak menemukan apa pun, selain "masalahnya" sendiri. Konflik utama, yakni pembunuhan Anisaa, malah diselesaikan oleh orang-orang lain.
Novel ini terdiri dari beberapa bagian: interogasi polisi kepada warga komplek (yang mana aneh banget ini polisinya), POV Anissa, terus POV masing-masing warga komplek. Buanyak? Yess. Dan cara penceritaannya ini sebenernya bikin tensi cerita jadi nggak jelas, terutama bagian pengungkapan faktanya.
Aku pengin bertanya-tanya kenapa si ibu itu ngirim potongan-potongan berita lama, tapi dikasih ulti penyakit mental yang berkaitan dengan bisikan-bisikan wkwkw yoweeess, gak bisa dipertanyakan.
Gaya menulisnya bagus, dan itu yang membuatku betah baca buku ini, meskipun pas di bagian-bagian awal pas interogasi Bagas banyak ngebosenun dan banget bikin mengerutkan dahi. Dan oh ya, aku salut banget karena penulis yang adalah pria, menulis dari POV perempuan. Menurutku itu lumayan berhasil sih. Kerasa banget karakternya Anissa ini, gimana dia itu menyebalkan tapi juga kasihan. Poin positif lainnya adalah fakta yang berlapis-lapis, dan satu bab terakhir. Itu refleks bikin aku ngakak.
Terlepas dari beberapa bagian yang aku nggak tahu apa pentingnya (salah satunya adalah adegan Dwi pulang kampung), menyenangkan baca buku thriller dari penulis lokal. Ditunggu karya-karya lain dari penulis.
Hampiiiirrrr kasih 🌟🌟 aja loh. Untung menjelang akhir udah oke plot ceritanya. Trus dari 5 buku Urban Thriller yang aku baca, paling suka ending The Good Neighbor ini.. Meski jujur aja, banyaknya POV di sini bikin ga konsen 😅 Bukan favoritna Astrid Leong sih buku dengan banyaknya POV. 🤣
Berawal dari penemuan mayat Annissa yang udah menghilang berminggu - minggu. Annissa yang populer ini ditemukan seekor anjing. Hebohlah 1 kompleks Parkville.. Dimulailah episode interogasi blok D3 Parkville oleh polisi.
Bagas, polisi yang menginterogasi para tetangga sangat tidak becus dan tidak profesional. Kezel! Para tetangga juga ga kalah misterius sih. Malah sangat tidak membantu. Pastinya ada yang ditutupi. Curigation dari awal kalo para tetangga ini ga beres.
Yang pasti Annissa sudah membuat marah seseorang atau beberapa orang. Tugas Bagaslah untuk menemukan orang tsb. Penyelesaian masalahnya sih serba cepat.
P. S : Dulu rasanya pernah baca novel yang intinya hampir sama seperti The Good Neighbor. Big Little Lies sih sepertinya. Tentang alibi para tokoh. Bacanya udah lama jd lupa deh. 😅
This entire review has been hidden because of spoilers.
Wei aku ke orang Malaysia yang pertama baca buku ni?😅 Malaslah aku nak upload buku versi Bahasa Melayu. Walau pun ada beberapa typo tapi aku ok je. Looking forward for his next book.
Penduduk di sebuah perumahan mewah di Jakarta Selatan digemparkan dengan penemuan mayat seorang gadis bernama Annissa, 18 tahun yang sebelum ini dilaporkan hilang oleh keluarganya pada malam tahun baru. Annissa digambarkan sebagai seorang yang cantik, bijak, aktif bersukan dan popular di sekolah. Ramai yang suka untuk berkawan dengannya tak kurang juga yang iri.
Tak sia-sia aku pilih buku ni untuk dibaca secara random. Mendebarkan dengan ramai suspek. Pada aku ada vibes Pretty Little Liars di sini. Aku suka bagaimana penulis menulis perspektif yang berbeza pada setiap watak. Dan kematian Annissa walau pun sudah dijangka tapi entahlah, aku rasa dia patut lenyap. There, I said it. Walau pun bukan perfect crime tapi aku puas hati dengan 'pelaku' pembunuhan dibawa ke pengadilan umum.
It's like reading the classic Agatha Christie's book, but with modern conflicts and motive.
Salah satu buku yang teramat sangat page-turner dan bisa menyita waktu tidur. Gaya berceritanya biasa aja, nggak yang canggih banget sampai bikin kepala mumet. Tapi ya yang klasik-klasik begini favoritku, nggak ada ganjalan saat sudah mencapai epilog.
Suka sama writing stylenya yang santai jadi gampang buat masuk ke ceritanya dan bikin penasaran! Selesai dalam sekali duduk🙏. Tapi sayangnya, untuk plot twistnya segala macem menurut saya klise dan sering terjadi di buku thriller mystery lainnya. But overall, good job!
Lumayan menyenangkan untuk memenuhi jiwa 'kriminalku' 🤪
Menceritakan tentang kasus penemuan jasad seorang remaja bernama Annissa di lahan kosong sekitar perumahan di mana dia tinggal bersama keluarganya. Karena TKP penemuan jasad ada di sekitar rumahnya, maka polisi menaruh kecurigaan dan melakukan interogasi dan penyelidikan pada para tetangga. Selama penyelidikan itu terungkaplah fakta bahwa Annissa bukan gadis baik-baik. Dia dikenal di lingkungannya sebagai gadis arogan, sombong, dan tidak peduli pada orang lain, termasuk pada kedua orang tuanya. Di sekolah pun dia tidak memiliki orang-orang yang bisa disebut sebagai teman yang sesungguhnya, meskipun dia terkenal sebagai gadis cantik yang sangat berprestasi. Dari sini terlihat bahwa semua orang bisa saja jadi pelaku kejahatan, karena hampir tidak ada yang menyukainya.
Karena semua orang bisa jadi pelaku, awalnya kupikir kalau mungkin pelakunya ya orang tuanya sendiri, saking gedegnya sama kelakuan anaknya. Ini sebenarnya kecurigaan tak berdasar sih. Cuma ternyata pelaku sebenarnya lumayan gak ketebak buatku. Meskipun kejadian penghilangan nyawa ini melibatkan banyak pihak, yang berperan langsung dan tidak langsung, tapi hal ini gak membuatku heran. Pikirku ya wajar aja sih, kan dia punya banyak musuh 🤪
Selain kasus penghilangan nyawa Annissa, ada juga sub cerita tentang kejadian penghilangan nyawa yang terjadi belasan tahun yang lalu. Meskipun cerita yang ini punya kaitan sama beberapa tokoh di kejadi Annissa, tapi bagiku kaitannya gak cukup kuat. Entah apa juga maksud dari seseorang itu mengirimkan potongan koran yang membahas kejadian belasan tahun itu ke rumah Annissa sebelum kejadian penghilangan nyawa itu. Buat apa? Buat menakut-nakuti? Untuk meecah belah hubungan pertemanan Annissa yang sebenarnya juga gak punya teman itu? Toh orang ini juga kayanya gak berencana buat menghilangkan nyawa Annissa sejak awal, kan? Bingung.
Meskipun masih ada kebingungan yang belum bisa kujawab, setidaknya akhir cerita dari novel ini lumayan menarik, karena sampai Annissa benar-benar kehilangan nyawa membutuhkan beberapa rentetan kejadian yang melibatkan orang-orang yang berbeda.
Tidak semua saksi adalah calon tersangka, dan seorang tersangka belum tentu adalah terdakwanya. - p. 112
Dua kata: sakit jiwa! Alternatif judul: Tetangga adalah Maut.
Annisa, gadis SMA, ditemukan oleh anjing tetangganya terkubur di dalam tanah. Dia dibunuh. Bagas, seorang polisi berpangkat inspektur dua, menginterogasi dan menanyakan semua alibi dari 4 keluarga, 12 orang. Namun, masing-masing para tetangga ini seakan sedang menutupi sesuatu.
Pada bagian pertama, aku merasakan kebosanan karena repetitif metode interogasinya. Bagas hanya menanyakan pertanyaan yang itu-itu saja. Bahkan dia diskakmat oleh salah satu saksi yang berlatar belakang pekerjaannya di bidang hukum. Mungkin penulis ingin menampilkan versi realitas bahwa instansi tersebut memang tak secanggih itu dalam interogasi—investigasi.
Saat bagian sudut pandang Annisa, sang korban, sejujurnya aku tidak bisa memahami kenapa dia berkelakuan seperti itu. Trauma kah? Salah pengasuhan kah? Semua tidak digambarkan jelas. Jadi, saat dia dibunuh, aku kurang bisa berempati. Hanya ngeri saja karena pembunuhannya begitu detail, apalagi dari sudut pandang sang korban sampai dia meregang nyawa.
Saat metode pembunuhan terungkap, tapi masih ada sisa 100 halaman lagi, aku menganggap akan ada plot twist, memang ada tapi motifnya hanya ... okay, baik, just simply sakit jiwa.
Seru. Masih bisa ku nikmati. Mungkin ini lebih driven plot, ya. Kalau dari segi karakter, mungkin hanya [redacted] saja karena dari awal diperlihatkan bahwa dia seolah memegang peran koentji dan benar adanya.
Ps. Aku benci dengan Rudi. Dia bener-bener nggak masuk akal. Aneh. Karakter yang aneh. Dan benar sesuai di narasi bukunya, Ayah macam apa dia?
Kisah ini dimulai dengan penemuan mayat Annissa Anastasya (18), putri tunggal Rudi dan Salma, di gundukan tanah di sudut Blok D3 perumahan mewah Parkville Ring, Jakarta Selatan. Annissa telah menghilang lebih dari tiga minggu, sejak malam pergantian tahun. Jasad korban ditemukan oleh anjing milik Ester (67), seorang mantan jaksa yang juga tetangga korban.
Annissa, si korban, adalah gadis idola yang berprestasi dan nyaris tanpa cela. Namun, dia adalah sosok yang dibenci dan punya masalah dengan semua orang di sekitarnya.
Inspektur Polisi Dua Bagas (27) ditugaskan untuk menginterogasi semua penghuni Blok D3, yang sayangnya semuanya orang sukses (dosen, pengacara, anggota DPRD) dan semuanya punya alibi yang kuat. . Melalui interogasi, terungkap:
- Annissa adalah sosok yang arogan dan sombong. - Mikael dan Dwi memberikan keterangan yang saling bertentangan mengenai keberadaan Dwi di malam hilangnya korban. - Radit (pengacara) dan Lisa (headhunter) memiliki alibi yang kuat, namun Lisa merasa bahagia melihat potret Annissa yang tewas. - Debby (putri Wanda) yang terobsesi pada Annissa, bersaksi melihat Annissa dikeroyok oleh tiga temannya dari klub renang (Cindy, Aulia, dan Maya) pada malam tahun baru. - Ester melihat Eric (putra Mikael) dan Annissa di samping halaman rumah Eric pada malam korban menghilang, dengan Annissa yang terlihat marah dan Eric tertunduk patuh.
Bagas yakin, “semua penghuni Parkville memiliki alibi yang kuat… Namun, benarkah begitu?”.
Novel ini sangat cocok buat kamu yang ingin membaca thriller di mana misteri siapa yang membunuh terasa kurang penting dibandingkan apa yang disembunyikan oleh para tetangga. Semua orang berbohong dan semua orang punya alasan untuk membunuh gadis sempurna itu.
⋆⋆⋆⋆4/5 Bintang
(Thriller perumahan mewah yang bikin parno sama tetangga! Karakter dark side-nya kuat, tapi drama kebetulan di akhir (adik sendiri terlibat) terasa agak sinetron. Tetap layak dibaca!)
Sebuah Novel thriller mystery karya anak Indonesia yg menurutku oke dan pas aja. Ga yg bagus banget, tp jg gak jelek. Makin dibaca, buku ini membuatku makin penasaran! Cuma 1 yg bikin aku greget adalah cara si polisi dalam menangani kasus kematian Annisa Anastasya. Gak nyangka juga korban pembunuhan si Annisa disini digambarkan sebagai remaja yg sangat menyebalkan. Bahkan menurutku dia terlalu berani dan kurang ajar. Musuhnya pun banyak, jadi gatau harus curigain siapa. Semua tetangga²nya yg bersaksi gak bisa dipercaya karna semua kesaksian mereka ternyata tidak lengkap dan banyak yg ditutup²in. Endingnya juga plot twist yaa.
Saya udah baca buku ini 2 kali :)) walaupun udah tau pelakunya tetep aja bikin nagihhh :') jadi saya tambahin 1 bintang lagi dari penilaian sebelumnya hahaha
"Gadis itu cukup merisaukan orang-orang di sekitarnya. Kehilangan orang seperti dia tidak akan berdampak apa-apa. Orang seperti itu memang pantas dimusnahkan." — The Good Neighbor
Hahaha gila emang orang yang ngomong dialog di atas :') seburuk-buruknya orang, bukan berarti dia pantes dimusnahkan begitu saja ma fren.
Novel ini menceritakan tentang penyelidikan pelaku atas kematian siswi SMA yang mayatnya ditemukan oleh seekor anjing di tanah kosong kompleks Parkville. Terkuaknya pelaku berjalan cukup lamban karena tidak ada petunjuk jelas. Hingga pada akhirnya seseorang mengutarakan semuanya pada Bagas—aparat yang menangani kasus pembunuhan Annissa.
Gilingan, sadisnya bukan maen ma fren! :') sampe sekarang saya masih gak habis pikir awal mula pelaku ngelakuin itu semua.
Annissa ini emang bukan tipe anak manis, penurut dan punya banyak temen di sekolah. Dia lebih ke tipe yang bad gitu loh, tapi dia cerdas dan punya banyak penghargaan di bidang renang. Tapi apa karena dia punya tabiat buruk, dia pantes menerima perlakuan sekejam itu?
Penulisan novel ini menggunakan POV ke 3 dan 1 (campuran). Awalnya saya pusing karena tokohnya yang emang banyak banget. Bcs, semua penghuni kompleks Parkville blok D3 dimintai keterengan oleh polisi. Tapi makin lama kepusingan itu berakhir dengan sendirinya.
Nggak gampang nebak siapa pelakunya, saking penasaran, saya sampe berniat langsung baca endingnya aja. Tapi gajadi :v wkwk Lagian penulisnya bener-bener rapi bgt ngumpetin pelakunya :') Good job, Kak Ilham! 😚
Ada kalanya saya bener-bener marah bgt sama si pelaku :') apalagi waktu "pelaku" melakukan pelecehan. Esumpah dong rasanya saya pengen teriak di depan mukanya dan nampol pelaku kalau bisa *ups 🙈 Lagian tindakannya bener-bener gilak.
Twistnya? Udahlah jangan ditanya lagi. Banyak banget. Kejutan tak terduga tetep selalu muncul sampai ending. Semuanya bikin tercengang. Aku sampe nggak habis pikir kenapa sekejam itu. Makin menuju ending, makin bikin merinding.
Ya, pokoknya setelah baca ini tuh makin ngingetin kalo kita harus bisa jaga sikap di mana pun. Dan seburuk-buruknya seseorang, bukan berarti dia pantas dilenyapkan.
Awal sampai pertengahan sumpah alurnya lambat banget. Ditambah pihak kepolisian yang harusnya menjadi penyelamat di sini seolah tidak menemukan apapun. Kalau bukan Eric yang inisiatif untuk mengakui semuanya (meski itu berkat dorongan 'orang lain' juga sih), kurasa penyelidikan Bagas tidak akan membuahkan hasil. Mungkin efek sering nonton series thriller dan detective ya, aku jadi sok menghakimi begini. Padahal belum tentu juga aku bisa menuliskan cerita yang sama baik dan rapinya. Ya, menurutku alur dalam novel ini lumayan rapi. Ada backstory tiap tokoh, alur sebab-akibatnya juga jelas. Meski entah mengapa aku masih merasa sikap kompetitif dan 'nakal' Annissa itu sedikit terkesan dibuat-buat. Kenapa dia begitu kompetitif, sih? Padahal ortunya tidak menekan dia untuk berprestasi. Kenakalannya juga hanya dikatakan sifat turunan dari eyangnya, tanpa penjelasan lebih lanjut lagi. Sebagai antagonis, Maya dkk juga kurang greget. Seorang atlet yang lumayan berprestasi, bukannya dia harusnya bisa menjunjung sportivitas? Aku masih merasa ganjal dengan pengeroyokan Maya dkk itu.
Tapi tetap saja, di lembar-lembar terakhir, novel ini memang makin membuat penasaran. Aku tidak yakin adegan mana yang penulis jadikan sebagai klimaks, tapi emosi yang memuncak kemudian perlahan mereda itu bisa aku rasakan, kok. Kalau kata temen, endingnya seolah tiba-tiba ngebut aja.
Jujur, kurang puas juga sih sama endingnya. Otak dari konflik utamanya tetap tidak diketahui bagaimana nasibnya. Aku sempat berpikir, apakah dia juga dibunuh dengan kedok 'berita hilang'? Hmm
Oh! Dan satu lagi. Dialognya sudah lumayan bagus, tapi ada beberapa yang terkesan 'kurang jakarta'. Malah ada dialog Annissa yang sulawesi banget. Aku sempat menebak penulisnya orang Makassar. Tapi setelah halaman terakhir baru deh aku baca profil penulisnya, dan ternyata dia orang Manado. Ya masih sepulau lah ya hehe
Awalnya mau ngasih 2 bintang, karena menurutku ya ini "it was ok" doang. Tapi berkat twistnya di akhir, juga epilognya, saya jadi berpikir mungkin bisalah memberikan 3 bintang :)
Novel ini edan, sinting, insane!! :D • • Aku udah feeling deh, makanya sedari awal deg-degan, rasanya bacanya mau lambat-lambat aja, takut setiap mau masuk bab baru, karena serasa ada hal mengerikan yang sudah menanti. Dan itu terbukti. Damn! • Ceritanya ditulis menggunakan POV orang pertama & ketiga, alurnya juga campuran. Tokohnya banyak, kesemuanya adalah warga Blok D3, Parkville. Ada satu gadis remaja siswi SMA yang ditemukan tewas mengenaskan, dikubur dalam tanah kosong di area sekitar rumah tinggalnya sendiri, ditemukan tetangganya, sesudah beberapa minggu dinyatakan menghilang. Annissa, gadis cerdas, berprestasi dalam akademik maupun nonakademik (atlet renang), cantik pula. Hanya saja, perangainya temperamental, arogan, pemikiran & sikapnya terkesan kelewat dewasa. Bagas, anggota kepolisian muda yang ditugasi memimpin penyelidikan mendapat kesan bahwa gadis ini kurang disukai tetangga & tidak benar-benar punya sahabat baik di sekolah • Kesemua saksi di Parkville masing-masing punya alibi. Tapi tetap banyak kecurigaan & kemungkinan siapa pun dapat menjadi pembunuh Annissa • Aku merinding dengan twists-nya. Berlapis-lapis. Ketika kusangka sudah tuntas, ada lagi & lagi hal mencengangkan & mengerikan terkuak. Jadi ingat kasus pembunuhan suami & anak tiri yang sedang hangat disorot. Si tersangka pelaku (istri) merasa 'berhak/layak' menghabisi nyawa suami dengan dalih konflik rumah tangga & perangai suami yang buruk. Nah, apakah karena Annissa arogan, pernah terlibat konflik & banyak tahu rahasia penghuni Parkville, lantas dia layak dihabisi? Siapa 'monster' yang sesungguhnya? • Menyentil moralitas & nilai kemanusiaan. Last but not least, untuk novel debut, karya ini sama sekali nggak mengecewakan. Good job! • "... tidak ada orang yang sempurna di dunia ini, bahkan mereka yang berhati malaikat pun pernah sesekali mengambil peran sebagai iblis." (hlm. 354) •
Senangnya bisa baca satu buku bulan ini, setelah bolos berbulan-bulan. 😂🙈 . . Baru baca buku ini sekarang tuh bisa dibilang nyesel, bisa juga nggak. Nyesel karena sebelumnya saya baca 2 apa 3 buku dan DNF terus. Pas baca ini ngalir banget, terus mikir, kenapa nggak dari waktu awal beli langsung baca, ya? . . Nggak nyeselnya, saya emang kayak nunda-nunda gitu sih. Mikirnya nanti aja deh, kayaknya buku bagus. Kayaknya ceritanya oke. Dan beneran oke. . . TGN bercerita tentang seorang gadis bernama Annissa yang ditemukan terkubur di sebuah tanah kosong di kompleks perumahan. Ada lima keluarga yang dipanggil pihak kepolisian karena mereka bertetangga. Dan seperti novel thriller pada umumnya, semua terasa salah sekaligus terasa benar. . . Jujur aja saya suka intip-intip ending ya, sempet liat beberapa nama doang, terus mikir masa dia, sih? Masa itu sih? Eh ternyataaaaa... 😭 Kenapa pelakunya bisa kayak gitu sih? Seriusan saya kaget sekaget-kagetnya begitu fakta terungkap. Kalau biasanya ada tokoh favorit di novel yang saya baca, di buku ini saya justru menemukan tokoh yang saya paling paling paling saya benci. Dia adalah ayah Annissa. Yang udah baca pasti paham. 😭 . .. Setelah baca buku ini, saya jadi penasaran sama karya yang lainnya nih. 😁
4⭐️ I like this book Ilham Mahendra selaku penulis mentioned about dolus and culpa ( kesengajaan dan kealpaan) yang akan memberikan clue apakah pembunuhan ini disengaja atau ada unsur keteledoran dan kealpaan.
Di awal awal kita akan disuguhkan interogasi interogasi dari pada saksi yang akan menjadi calon tersangka.
Waktu baca buku ini aku sering melempar lempar kecurigaan hampir semua orang disini suspicious termasuk sang police interrogator dan ayah kandung nya sendiri, except her mom.
Alur nya maju mundur dan sudut pandang nya berganti ganti dari satu orang ke orang lainnya. Ending nya wow 😳lumayan bikin deg deg an.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Akhirnya selesai jugaaaa Prolognya cukup menggugah minat untuk lanjut baca. Tapi sampe ketengah atau dibagian pov nya Anissa, greget nya kurang terasa. Baru di bagian pov nya Anissa bikin page turner banget. Dan lagi yg nggak saya suka klo baca urban thriller, epilognya yg bikin ngerasa twist banget.
finishing peoblemnya ngingetin sama Big Little Lies. terlalu banyak twist, bertubitubi, yg harusnya menyenangkan jadi bikin bosen. dan si Bagas, astaga, menyebalkan sekali tokoh satu ini. pinter engga, nyelesain masalah engga, sepanjang cerita cuma mutermuter soal masa lalu dia doang.
Penulis : Ilham Mahendra Ketebalan : 290 Penerbit : Noura Books Publishing Genre : Urban Thriller, Mysteri Rate : 4,7⭐️
Buku ini bener-bener 🤧🫨🤯🫠😢😰😨😳😱🫣🤬😠😶🌫️🫥
Pokoknya jangan underestimate alur buku ini yang awalnya kaya bosenin dan terlalu mendramatisir tiap hal. Soalnya kalo udah sampe halaman 196, kita bakal dijejalin plot twist yang berlapis-lapis tanpa dikasih jeda. Kek "GILAA WEY, KALIAN SEMUA SAKITT!!" 🤯😳😰
The Good Neighbor cerita tentang Annissa Anastasya gadis remaja SMA yang memiliki paras cantik menawan nan meresahkan para ibu-ibu komplek Parkville. Annissa ditemukan tewas terkubur di tanah kosong Parkville Ring pada 27 Januari 2018 dan dilaporkan terakhir dilihat pada 31 Desember 2017 (Malam tahun baru). Penemuan mayat Annissa ini lantas membawa seluruh penghuni Blok D3 kepada proses introgasi oleh polisi. Proses introgasi berjalan lancar namun tanpa perkembangan berarti karena semua tetangga Annissa memiliki alibi pada malam tahun baru tersebut. Bagas selaku polisi yang bertugas melakukan penyelidikan pada kasus ini mengalami beberapa kendala secara personal karena tragedi ini mengingatkan pada kematian ayahnya puluhan tahun lalu. Penyelidikan berkembang pesat saat Eric memutuskan untuk membeberkan semuanya. Dan ini nggak boleh aku tulis di review karena gila banget, nggak ada yang nggak sakit Parkville Ring 🌚🤯 Di penghujung buku ini juga menguak kisah pembunuhan Ayah Bagas yang terjadi 20 tahun lalu dimana rupanya tersangka pembunuhan Ayahnya yang sebenarnya bukanlah ia yang dipenjara selama 20 tahun terakhir. Baca aja deh, soalnya kegilaan plot twist disini kalo diceritain tuh full spoiler🤧😜
Dibalik keseruan plot twist nya yang mindblowing, buat aku buku ini di awal-awal agak terlalu mendramatisir perasaan Bagas waktu introgasi, kaya "Kenapa drama banget deh menjelaskan perasaan Bagas, jadi kaya ga fokus sama kasusnya." Misal perasaan yang ditonjolkan karena kasus ini berkaitan sama trauma Bagas, agak ngga nyambung gitu hal-hal yang dialami selama proses introgasi.
Oh ya, ini pertama kali aku baca 1 buku full sampe selesai di PlayBook hp. Biasanya pake tab, kali ini nyobain pake hp dan ternyata oke oke aja ya, nggak gitu jd masalah kaya yang aku bayangin sebelumnya bakal pusing gitu. Hwehehehe
Pesan moral : Jangan percaya pada tetanggamu 🤣😜 Hahaha kesel bgt judulnya bener-bener tidak menggambarkan tetangga di bukunya.
The Good Neighbor merupakan novel terakhir dari seri #UrbanThriller yang kubaca. Novel yang jujur sejak awal membuatku tak bisa berhenti membaca sejak aku membuka halaman pertama.
Kesan pertama, aku suka covernya 😍 apalagi warnya "merah marun" dan judulnya cukup menarik untuk dibaca
Novel ini mengisahkan kasus ditemukannya seorang remaja bernama Annissa, setelah beberapa lama dikabarkan menghilang. Annissa ditemukan di sebuah tanah kosong di blok perumahannya oleh seekor anjing dan tentunya membuat heboh perumahan tersebut.
Tetangga dan orang tuanya pun dipanggil untuk diminta keterangan dan kesaksian. Mereka memiliki alibinya masing-masing. Siapa pelakunya dan apa motifnya?
Banyaknya tokoh dalam novel ini dengan latar belakang profesi berbeda membuat kisah ini menjadi menarik untuk diikuti. Apalagi menggunakan alur maju dan beberapa kilas balik, membuatku semakin penasaran apa yang sesungguhnya terjadi.
Semakin lama membaca, akan semakin banyak hal yang terungkap melalui cerita para tokoh. Masalahnya, akan banyak kejanggalan dan kemungkinan ada yang berbohong. Kamu harus meresapi kisah ini secara perlahan untuk menemukan siapa pelakunya.
Namun, ketika sudah mulai ada "titik terang" lagi-lagi semua dipatahkan, aku pun jadi sulit menentukan pilihan 😂 hingga pada akhirnya aku membiarkan diriku untuk terus membaca ...
Dan menuju ending ... aku benar-benar terkaget-kaget. Plot twistnya berlapis-lapis, ya ampun aku gak nyangka kalau sesungguhnya seperti itu ...
Twist di dalam twist ... ketika aku pikir ini akhir dari ceritanya, nyatanya kisah belum berakhir. Keren banget 😍😍😍
Pokoknya aku suka, endingnya tidak ketebak, plot twistnya oke dan ide ceritanya juga oke. Aku gak akan ragu baca tulisan Kak Ilham lainnya ❤
Secara keseluruhan, The Good Neighbor menjadi salah satu novel favoritku dari seri Urban Thriller ini. Rasakan sendiri sensasi membacanya ya
"Bajingan," umpatku segera setelah membaca akhir dari buku ini. This is going to haunt my dreams :')
The Good Neighbor menceritakan tentang tragedi pembunuhan di kompleks perumahan Parkville. Korban yang dikubur di tanah kosong perumahan bernama Annissa, seorang gadis SMA yang merupakan idola sekolah dengan segudang prestasi. Pertanyaannya, siapakah yang tega membunuh gadis yang tengah bersinar tersebut?
Membaca buku ini diharuskan bersabar. Bagian awalnya memang sedikit lambat karena bagian awalnya menceritakan tentang proses interogasi para warga perumahan. Makin ke belakang, alurnya tetap sama, namun tingkat ketegangannya meninggi. Saranku, bersabarlah saat membaca buku ini. The gem will be found along the way, dan usahakan jangan membuka halaman belakang dulu kalau tidak ingin terspoiler sedikit macam aku.
Untuk misterinya sendiri, penulis menyimpan klu-klu dengan cukup rapi. Tiap tersangka memiliki motifnya sendiri-sendiri, jadi tidak ada tokoh yang sengaja dibuat sebagai filler belaka (kalaupun ada, porsinya pun cuma sedikiiiit sekali). Kecurigaan saya dilempar-lempar dan jujur, agak bingung juga menebak siapa pelakunya. Oh, dan plot twist-nya asli nendang! Bikin geregetan dan dendam.
Cuma yang aku kurang suka di sini adalah tokoh polisinya. Entah kenapa, sejak awal dia sama sekali tidak menunjukkan kecerdasan ala-ala polisi yang biasanya sigap dan penuh deduksi. Kesan pertama yang kutangkap itu dia lamban, linglung, dan maaf, nggak kompeten. Pertanyaannya pun standar sekali, dan rasanya dia nggak menguasai taktik interogasi yang baik. Padahal ada beberapa tokoh yang menunjukkan gelagat mencurigakan ketika diinterogasi.
Dan ending-nya... rasanya jadi pengin bakar perumahan itu :)
5 out of 5 stars, great job! Waiting for more like this!
“Sebaik apa kita mengenal tetangga kita?” WOW plot twist yang lumayan tidak terpikirkan sebenarnya. Bagaimana tetangga “sebaik itu” hehe bisa menjadi kunci penting dalam kasus pembunuhan yang mengalami kebuntuan. Dari awal saja sudah cukup greget dengan kecakapan Bagas sebagai petugas yang menyelidiki kasusnya, seperti ogah-ogahan atau memang karena masih amatiran? Cek saja pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk para tetangga yang berperan sebagai saksi. Lumayan emosi pengen aku gantiin aja rasanya wkwkwkw. Kita akan mengikuti kesaksian dari masing-masing saksi yang tidak lain adalah tetangga dan teman dekat korban. Pada akhirnya kita juga harus percaya bahwa tidak semua kesaksian yang diberikan sifatnya objektif ada juga yang subjektif untuk melindungi kepentingan tertentu. Kita hanya perlu tegas dan tidak terlihat mencurigakan sehingga petugas tidak akan mengulik lebih lanjut. Ada tipe orang yang memilih “tidak tahu” ada juga yang memilih membuat pancingan untuk menyudutkan pihak tertentu. Mungkin dari situ aku mulai berpikir pentingnya mengenal tetangga kita sebaik mungkin bukan hanya sekedar nama namun tidak sampai masuk mengusik privasinya. Terkadang kita lupa bahwa apa yang terlihat tidak sepenuhnya benar, kita tak pernah tahu apa yang terjadi sedetik sebelum atau sesudah kita melihat kejadian di depan mata. Kita harus netral dan menelisik lebih mendalam mengenai kemungkinan adanya indikasi kebohongan atau manipulasi. Setiap orang harus memiliki nilai kerja sama dan kekompakan yang tinggi bukan? Nah, begitu hehe tapi kan tidak untuk menutupi sesuatu kompaknya… Sebenarnya lebih kaget dengan halaman paling akhir dari bukunya. Saksi kunci yang itu kemana??? Setelah pengakuan itu dia kenapa? Benarkah keterangan yang diberikannya atau hanya sebuah ……..