Riva menghilang. Rachel yang telah pulih ingatannya mencoba mencari sahabatnya itu. Tidak mudah, karena Riva selalu berpindah-pindah demi menghindari kejaran para pembunuh lain yang terus memburunya. Dengan berbagai cara Rachel terus mencari keberadaan Riva, bahkan sampai membuat dia menunda untuk bertemu dengan mamanya.
Di sisi lain, Matahari terus beraksi membunuh para pembunuh mantan anggota SPIKE. Sosoknya yang misterius membuat semua orang penasaran, termasuk Rachel. Kelompok Oni juga terus melancarkan aksinya. Bukan hanya memburu Riva, mereka juga mulai membunuh para pemimpin Yakuza, kelompok kriminal terbesar di Jepang. Hal ini membuat pihak kepolisian setempat kalang kabut dan kuatir Yakuza akan mengadakan aksi balasan. Jika hal itu sampai terjadi, bakal ada banjir darah di Jepang, dan itu bisa berpengaruh pada situasi politik dan ekonomi negara matahari terbit tersebut.
Rachel harus bisa menemukan Riva dan mencegah perang terbuka antara kelompok Oni dan Yakuza sebelum terlambat. Dia juga harus bisa mengungkap rahasia besar kelompok Oni, termasuk menemukan dalang di balik semua kejadian ini.
Namaku unik, terdiri atas: Luna, dan Torashyngu. Tentunya itu bukan nama asliku. nama asliku adalah (hee..hee..hee.. masih rahasia. tebak sendiri yaa...) Dalam bahasa Spanyol, Luna berarti "bulan". Sedang Torashyngu,walau kayak nama Jepang, aq produk lokal loh. Aq pilih nama Torashyngu gw doyan banget segala hal berbau Jepang, dari mulai masakan Jepang, musik, hingga dorama. Penyanyi favoritku Ayumi Hamasaki, BoA, dan sedikit Laruku. Sedang film Jepang kesukaanku : YOMIGAERI (bagi penggemar J-movie wajib nonton nih film. Ceritanya bagus banget! Touching dan romantis!), sedang dorama banyak yang aq suka, tapi paling terkesan waktu nonton LOVE GENERATION-nya Takuya Kimura dan Takako Matsu. Ceritanya berupa cerita cinta sederhana, tapi bagus banget. Beberapa ceritaku bahkan terinspirasi dari J-Movie dan dorama yang pernah aq tonton, walau aq gak bakal jiplak abis-abisan, gak kayak sinetron kita yang doyan banget ngejiplak punya orang (Udah gitu gak mau ngaku lagi...)
Saya lupa apakah buku 1 dan 2 Mawar Merah (untuk selanjutnya akan disebut M2) sudah saya masukkan Goodreads atau belum, tapi just fyi, saya sudah baca juga buku 1 dan 2.
Satu hal yang sangat saya sesalkan dari buku 3 seri M2 ini adalah terjadinya pergeseran genre. Dari tadinya fiksi biasa menjurus sci-fi, menjadi fiksi-fantasi.
Kenapa sih jadi masalah banget buat saya, soal pergeseran genre ini?
Karena ketika saya mulai membaca sebuah buku, saya menetapkan suatu level toleransi dan penerimaan, tergantung dari apakah yang saya baca adalah fiksi-gak-termasuk-fantasi atau fiksi-fantasi. Untuk fiksi-gak-termasuk-fantasi, saya akan lebih banyak membandingkan logika dalam cerita dengan logika dunia nyata, sedangkan untuk fiksi-fantasi, saya lebih bisa menerima aneka logika yang beda dengan dunia nyata.
HNAH.
Kalau bukunya tiba-tiba ganti genre, harusnya saya juga menyesuaikan level toleransi dan penerimaan kan? Itu sulit banget dilakukan kalau ketahuannya di buku terakhir gini, jujur aja.
Jadi, saya punya banyak banget masalah dengan aneka hal dalam novel satu ini. Saya ... bahas tentang karakter dan plot dulu deh.
Plot
Buat saya plotnya menarik untuk sebuah teenlit. Apalagi buat saya selama ini teenlit kebanyakan berkisah tentang cerita kehidupan remaja yang gak jauh-jauh dari rivalry, masalah sekolah, dan masalah cinta. Jadi memang suatu kelebihan tersendiri buat seri M2 yang mengangkat cerita aksi, melibatkan pembunuh bayaran.
(Tolong jangan dibandingin sama variasi cerita light novel Jepang. Jitak siah. Kita punya terlalu banyak faktor ini dan itu jika mau mulai ngebanding-bandingin.)
Karakter
Sebagian besar karakter buat saya hanya memberikan kesan "begitulah". Tidak ada karakteristik yang benar-benar remarkable dan jumlah karakternya lumayan banyak.
Yang mengganjal buat saya di bagian karakter adalah naming terutama untuk orang-orang Jepangnya. Kebetulan saya pernah ikut les Jepang sampai level lanjutan pertama (ini tergantung pembagian level di tempat kursusnya sih), nonton anime, baca manga, dan salah satu teman saya bekerja sebagai penerjemah komik di Elex. Yang terakhir itu adalah alasan kenapa saya mulai banyak memperhatikan nama karakter atau orang, terutama yang pake kanji.
NAH.
Berdasarkan pengalaman saya selama ini melihat nama-nama karakter dan orang Jepang, saya sempat menduga penulis M2 ini waktu bikin karakter orang Jepang, namingnya nyusun dari tabel hiragana.
Contoh nama Jepang janggal di M2: Masahi Ueda, Noboutsu Amaki (saya sempat mengira harusnya Nobuotsu, tapi ditulisnya gitu)
Segala Hal Yang Berdasarkan Rujukan Saya Antara Salah atau Melenceng atau Dipertanyakan Kebenarannya
- Oyabun/kumicho
Di awal cerita ada cerita tentang seorang pimpinan yakuza (kumicho) yang dibunuh oleh suatu pihak. Saya berdebat dengan salah satu teman saya yang cukup paham budaya Jepang dan mendapati terjadi kesimpangsiuran dan keanehan dalam cara anggota yakuza menyebut pimpinannya. Saya sejujurnya bingung harus menjelaskan dari mana, tapi yang dapat dipastikan adalah penggunaan sebutan "oyabun" di cerita ini kurang tepat.
- Potong jari saat diangkat menjadi pimpinan yakuza
Mode membaca novel ini dengan paradigma fiksi-gak-pake-fantasi TUNGGU SEBENTAR.
Saya pernah membaca bahwa potong jari di kalangan yakuza itu kalo bukan sebagai hukuman karena orang yg bersangkutan melakukan kesalahan atau orang tersebut mengambil alih kesalahan anak buahnya. Bukan sebagai janji.
Saya jelaskan esensi mendasar dari hukuman potong jari:
Potong jari adalah bentuk melemahkan secara fisik orang yang dipotong jarinya. Kenapa? Karena dengan dipotongnya 1 ruas atau lebih jari kelingking tangan kiri, genggaman dan kekuatan ayunan katana akan semakin melemah. Dengan semakin berkurangnya teknik penggunaan pedang orang yang dipotong jarinya, dia akan dipaksa untuk lebih mengandalkan kawannya/bawahannya.
Saya pernah ikut kendo semasa kuliah. Di sana, salah satu pemanasan adalah dengan memegang jo atau shinai hanya dengan tangan kiri, di ujung pegangan pedang, lalu mengayunkannya. Inti dari kekuatan genggaman dan ayunan katana/shinai/boken adalah di tangan kiri, lebih tepatnya lagi di jari manis dan jari kelingking. Tangan kanan digunakan untuk mengarahkan katana/shinai/boken. Memberikan kekuatan ayunan dengan tangan kanan sama saja kayak orang macul, hasilnya adalah bacokan bukan tebasan/sayatan. Kepala orangnya mungkin pecah tapi nggak terbelah.
Jadi buat saya sangat aneh ketika diangkat menjadi ketua dia malah disuruh potong jari.
Mode membaca novel ini dengan paradigma fiksi-fantasi Tradisinya yakuza sini sama sana nampaknya beda.
- Lightsaber? Pedang laser?
Mode membaca novel ini dengan paradigma fiksi-gak-pake-fantasi Saya bukan mau ngomongin bahwa penulis nampaknya memiliki kecenderungan memasukkan hal yang disukai ke dalam cerita. Bukan, bukan.
Saya akan cerita bahwa saya pernah baca di Bobo dulu bahwa untuk menghasilkan laser butuh tenaga entah apa segede mobil pemadam, diameter lasernya juga besar sebesar selang, dan katanya ujung laser tidak bisa dibatasi hanya sekian meter sepanjang lightsaber.
Jadi hrsnya saya batal ngomel soal pedang laser di novel ini, tapi saya tetap akan mempertanyakan satu hal:
Yang pake laser pada sakit mata gak? Produk di link di atas itu dipakenya with extra caution, termasuk di dalamnya pencegahan kerusakan mata akibat cahaya yang terlalu menyilaukan.
Mode membaca novel ini dengan paradigma fiksi-fantasi Hoo. Oke.
- Tulang titanium = tidak berdarah saat anggota badan terpotong+kebal peluru
Mode membaca novel ini dengan paradigma fiksi-gak-pake-fantasi Think again.
Dinyatakan dengan jelas di dalam cerita bahwa metode pelapisan tulang salah satu karakter pembunuh mirip seperti pelapisan tulang yang dilakukan pada Wolverine.
Wolverine berdarah lho waktu badannya ditarik copot jadi dua oleh Hulk lho.
Jadi apakah karakter yg kita bicarakan ini tulangnya doang titanium, atau kulitnya juga kevlar dan pembuluh darahnya adalah kabel listrik?
*cyborg dong jadinya?*
Mode membaca novel ini dengan paradigma fiksi-fantasi Ini orang atau cyborg???
- Googling "Cara Menjinakkan Bom Atom"
Mode membaca novel ini dengan paradigma fiksi-gak-pake-fantasi Saya nyobain googling beneran. Dan gak ketemu. Tapi saya belum nyoba pake Bing atau YahooSearch sih.
But ... really? Gak tiap hari ketemu bom atom sampe ada artikelnya di internet kan?
Kecuali ... kalo jaringan internetnya beda sama punya kita.
Mode membaca novel ini dengan paradigma fiksi-fantasi Internetnya pasti beda sama punya kita sekarang, pasti.
- Cangkok bola mata
Mode membaca novel ini dengan paradigma fiksi-gak-pake-fantasi
Saya sampai tanya ke teman saya yang dokter apakah cangkok bola mata itu ada.
Bola mata, iya. Bukan kornea doang.
Dia bilang gak ada.
Dan katanya lagi, biasanya pendonor itu orang yang sudah mati. Pendonor belum mati itu cuma ada di cerita fiksi (oke, jadi saya gak akan nyinggung2 soal pendonor belum mati).
Dan supaya matanya nggak beda sebelah, terima donornya sepasang mata.
... KASIHAN ITU PENDONORNYA! KENAPA DIA MENTAL MARTIR BANGET SIH???
Mode membaca novel ini dengan paradigma fiksi-fantasi Oke ... mungkin memang dimungkinkan.
Akhir kata ...
Gini. Saya sama sekali nggak melarang orang menyukai sesuatu dari Jepang, Korea, Amerika, Eropa, lalu memasukkannya ke dalam ceritanya.
Tapi saya sangat berharap mereka yang ingin memasukkan referensi dari negeri lain--yang bukan sekedar pinjem nama mitologinya--untuk lebih memperhatikan akurasi dari hal-hal yang hendak mereka masukkan. Alasannya? Karena di luar sana--termasuk saya sebenarnya--ada pembaca yang menganggap apa yang dibacanya sebagai tambahan ilmu dan dia tidak repot-repot mengkroscek kebenarannya.
Penulis itu punya tanggung jawab besar, apalagi kalau memasukkan referensi dunia nyata. Minimal, kalau ada yang tidak dimengerti, tanya deh ke orang yang memang menguasai bidangnya. Dokter, programmer, orang yang pernah pakai senjata api, dll. Perluas pergaulan selain perluas wawasan.
Dan, seriusan, kalau M2 ini tetap pada genrenya semula dan nggak mulai menyerempet ranah fiksi-fantasi, saya bisa ngasih lebih dari 1 bintang. Beneran.
Cool, Amazing, Great Nggak ada kata lain yang bisa mengungkapkan betapa kerennya novel ini. Jujur saja, aku sangat suka dengan novel karya Kak Luna. Ceritanya gak gampang tertebak. Siapa yang nyangka kalau pada akhirnya Riva adalah keturunan ONI? Lalu Matahari juga. Sedih akhirnya Rachel jadi buta. Huhuhu. Padahal dia pinter dan keren banget. I love her skill :)
Niat banget ya baca seri buku ini ! 😂 . Sampe buku ketiga dijabanin juga sekaligus. Kata @intannatarinaputri : 'Ummi re-read?' -- wkwkw ~ nggak, baru baca emang yang seri ini. Segitunya ya ~ novel ini mah udah terbitan kapan juga. Jaman-jaman SMA dulu kali ya, tapi emang suka aja sama Luna, jadi menyegajakan diri membaca serialnya yang lain. . Kalau kamu suka genre teenlit yang ngga menye-menye, ngga melulu bahas rivalry tentang persahabatan atau cinta, ngga terlalu mudah ditebak kayak FTV *eh -- boleh dicoba baca. Awas ketagihan 😂 . Nah, kalau buku yang ketiga ini, jelas bag-big-bug nya lebih kerasa. Mengaduk-aduk perasaan karena dijungkat-jungkitkan kesana kemari oleh adegan aksi Rachel, Riva, Matahari dan Kenji. . Seneeeeng ! Rachel come back dimarih 😋 Kembalinya aksi Rachel atau Double M menyibak banyak rahasia yang mengait-eratkan hubungan antar masing-masing pemeran disini. Banyak sekali kunci yang ternyata eh ternyata ~ tidak terfikirkan sama sekali saat membaca buku pertana dan keduanya 😍 . Sempet mengira sih kalau Matahari itu nama lain Riva setelah 'episode mematikan' di buku kedua - tapi ternyata bukan. Justru lebih mengejutkan lagi, kalau ternyata hubungan Matahari dan Riva, adalah tombak emas bagi organisasi pembunuh bayaran tertua di Jepang. . Aaaaaarrrghhh ! . Mau tahu bagian paling seru? Ialah saat sejarah ditalikan dengan teknologi canggih modern masa kini. Tidak satu dua kali penulis menggambarkan dengan asyiknya tentang alat-alat perang yang fantastis dan super keren sekali 🤩 . Salah satu asyiknya baca buku berseri itu -- menurut saya, 'bonding' kita dengan tokoh-tokohnya lebih dapet. Karena sering ketemu, banyak diulas, dan berkali-kali disebut. Nancep deh ! Ceileh ngomongin bonding, emang apaan? . Sampai ketemu di buku terakhir serial Mawar Merah 👋🏻
Sudah lama punya, tapi belum juga dibaca. Dan akhirnya ngebut membaca hari Kamis 6 Okt kemarin. LoL Seperti buku-buku Luna yang lain, aku tidak pernah bisa 'masuk' ke dalam cerita dengan mudah buat buku berseri semacam ini, tapi aku terlalu malas untuk membaca ulang dua buku sebelumnya untuk mendapatkan garis besar cerita sebelumnya. Itu dua buku btw, butuh waktu berapa lama untuk membacanya, hmm? Jadi kuputuskan untuk menerabas langsung dari halaman awal hingga halaman akhir yang membuat aku mengerutkan dahi berkali-kali hanya karna tak paham di beberapa bagian. Oh, buku ini ada ringkasan cerita sebelumnya di halaman-halaman awal seh, tapi buatku tak cukup. Dengan cerita rumit yang dibuat oleh Luna, ringkasan sedikit tidak akan pernah cukup. :P Namun, itulah yang kusuka dari kisah-kisah buatan penulis ini, ceritanya 'out of the box', tidak melulu soal cinta dan kehidupan sehari-hari pelajar tapi 'diluarnya'. Agak tidak masuk akal buat sebagian besar orang, tapi kita semua tahu bahwa buku-buku fiksi memang beberapa tidak masuk akal. Sejak kapan cerita fiksi masuk akal? Terlepas dari semua itu, aku paling suka dengan serial Luna yang ini. Dia pintar menuliskan kisah yang berbalut 'masa depan', walau mungkin tidak sempurna, tapi Luna penulis Indonesia pertama bukan? CMIIW Pokoke, serial Mawar Merah ini mesti dibaca, buku yang keren.! X)
The three books in the "Mawar Merah" series had me hooked, and the overwhelming feeling of relief perfectly encapsulates my emotional rollercoaster during this marathon reading experience.
Riva and Rachel take center stage once again, joined by the intriguing addition of Matahari. Together, these three dynamic characters navigate a web of complex events, each contributing their unique roles and actions to unveil the truth. The narrative kicks off with Rachel's memory recovery and Riva's disappearance, as she eludes a relentless group hell-bent on her demise. Meanwhile, the enigmatic Matahari, also known as Sun, continues her mission to eliminate the killers of former SPIKE members. The plot thickens as the Oni group intensifies their activities, not only targeting Riva but also taking down the leaders of the Yakuza, Japan's largest criminal organization. The local police are on edge, fearing a potential counteraction from the Yakuza that could plunge Japan into a bloodbath, impacting the nation's political and economic landscape.
What captivated me most about this book was its seamless and passionate storytelling, urging me to devour its pages in one go. Luna's meticulous research shines through, enhancing the vividness of the various action scenes. The narrative's intensity kept me on the edge of my seat, engrossed in the unfolding drama.
Entertained and thoroughly engrossed, I eagerly anticipate the next series, following the captivating Luna Universe pattern. Brace yourself for an electrifying journey that blends seamless storytelling, compelling characters, and a tapestry of suspense and action. Can't wait to dive into the next chapter!
Buku matahari ini bisa dibilang klimaks cerita, penuh jawaban dari buku pendahulunya, dan juga lebih banyak aksi (bahkan ada remake star wars;duel lightsaber). Selama membaca pun, penasaran banget makna matahari ini apa karena sampai pertengahan pun gaada petunjuk lebih selain asal usul singkat si Azuka, sampai di penghujung cerita akhirnya terkuak yang bahkan aku kecewa karena gasadar, matahari = the sun = nissho. Selain itu aku terkesan banget ketika di akhir-akhir cerita Rachel, Riva, Kenji, Azuka berkumpul. Perkumpulan pewaris tahta Oni dan murid Shunji! Tapi sayangnya, hmm. Cuma satu yang masih terngiang, Rachel gimana ceritanya bisa selamat dari ledakan kapal Stella di buku pertama? :"
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sebelumnya, aku udah bakalan ngerasa kalau Matahari itu adalah julukan baru untuk Riva. Tapi, ternyata dugaanku salah gaes. Lalu, siapakah Matahari itu? Hmm~
Cerita ini benar-benar seru. Setelah membaca keseluruhan, siapa yang bakalan nyangka sih, kalau titik fokus yang sebenarnya itu bukan Mawar Merah, tetapi Riva? Siapa yang menyangka kalau kelompok pembunuh bayaran terkenal itu ternyata sedang mengincar Riva?
Tapi, kelemahan di cerita ini untukku ada pada bagian karakter tokoh yang tidak begitu kuat selain karakternya Mawar Merah. Trus percepatan alur dan latar yang kadang aku jadi suka bingung sendiri. But i'm still enjoying it. Ending yang unpredictable. Rachel bener2 keren.
Ini novel nggk pernah mengecewakan. Perasaan sedih, senang, deg degan, kesel, semua jadi satu saat baca novel ini. Walaupun gitu beberapa adegan seakan diluar nalar, "bagaimana bisa?" "trus dia mati gitu aja?" "Please dia jago gitu jangan sampe mati dulu.. ><" berbagai pertanyaan itu masih terngiang di kepala. Rasa terhanyut dan gregetnya dapet banget... >< segala kecanggihan teknologi dan berbagai gerakan beladiri dibungkus apik lewat bahasa yang nggk terlalu berat (menurutku).. The best-lah pokoknya... >< Hmm...
Sebenarnya, ini kedua kalinya baca buku ini. Sudah sangat jauh rentangnya dari baca Mawar Merah #1 dan #2 padahal cerita di kedua buku itu banyak dipakai juga di buku ini sehingga harus inget-inget lagi karena 2 buku sebelumnya gak beli, tapi pinjam di perpustakaan. Sebenarnya, kalau baca cuma untuk keseruan, tidak masalah tidak baca 2 buku pertama karena tidak begitu mengganggu pemahaman akan jalan cerita.
Yang sangat disayangkan adalah terlalu banyaknya tokoh dan latar tempat yang terus berubah dengan cepat. Plot cerita dilompat-lompat sehingga butuh effort lebih untuk paham alur cerita.
Melihat alur dari keempat karakter itu membuat permasalahan sangat rumit. Namun masalah kelompok Oni sendiri dimanfaatkan Henry yang memiliki ambisi besar demi mengatur dunia barunya.
Seri ketiga ini, lagi-lagi memberikan ending greget para karakter Rachel yang memilih memberikan sepenuh hidupnya untuk melindungi Riva termasuk mendonorkan organ tubuhnya pada sahabatnya itu.
Mau tau detilnya, kalian harus baca sendiri. Karena ini sangat menegangkan dan membuatku harus menghabiskannya sesegera mungkin. Meskipun sudah nebak endingnya bagai gimana tapi tetap saja, wajib menyelesaikannya.
ini cerita tuh full action gitu deh, bacanya harus bener2 teliti, karna kelewat dikit aja kayak ada bagian yang rumpang. cuma ada banyak tokoh yang bermunculan, dan namanya susah diapal. juga kayak sering motong di scene2 penting, trus muncul di 2 bab selanjutnya yang bikin lupa. oya juga banyak flashbacknya yang membuat aku bingung🤧
Di buku ketiga ini, actionnya makin banyak karena konflik udah ada di tahap penyelesaian. Tapi pola yang sama terus-menerus digunakan, sehingga saya merasa sedikit bosan ketika membacanya. Endingnya cukup bikin sad, karena Elsa harus kehilangan penglihatannya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Cerita ini bagus.. Tapi jujur agak bikin bingung. Karena terlalu banyak tokoh dan tempat. Nanti si A, ada lg si B, dan yang lain nya. Dan setiap tokoh pasti selalu ada di tempat yg berbeda. Dari awal baca yang pertama dan kedua memang sudah banyak tokoh2 nya, dan makin ke buku ketiga lebih banyak lg.
Jadi ya dengan banyak nya tokoh, jadi agak bingung. Tapi memang cerita nya bagus dan keren. Hanya saja kalo dibandingin seri D'angel, gue lebih suka D'angel..
waah,, memang agak lebih ribet bacanya nih. genre-nya lebih ke sci-fi ya? teteep, aku belum bs enjoy sih bacanya, soalnya potongan2 adegan yg suka loncat2, rada bingung jg bacanya. hmm, mgkin lebih bgus klo 1 adegan ini diselesein dlu kali ya..
seperti biasa.. banyak banget misterinya, rahasia tokoh2nya. ini yg bikin aku gak monoton bacanya. trus jg endingnya gak ketebak (tipikal kak luna banget!), sebelumnya kita ngira si tokoh bakalan mati, tiba2 selamat. caranya keren lagi!
tapii.. si Rachel ini kok kemampuannya hebat banget yah? staminanya oke, trus teknik2 juga. padahal kan dia baru 20an, kok bisa gitu ngalahin para pembunuh bayaran yg pengalamannya lebih tinggi dibanding dia? trus juga, pas pertarungan terakhir di key tower itu, masa' gak ada capek2nya si Rachel? ckckck, semuanya bisa dia bantai. gak adil banget deh. pengen deh skali2 dia jatuh atau apaaa gitu (sebenarnya aku gak suka tokoh Rachel sih, aku lebih suka Riva)
dan ternyata Matahari itu.... huaaa, akhir buku 2 aku ngiranya itu Riva, ternyata. ckckck... yah gpp deh.. (skalinya pengen Riva jd cewek tangguh gitu)
kasian Kenji. huhu, padahal aku suka dia T_T nasib Saka juga. ..
wuhaaaa finally ketemu juga series ini , thanks to icha who borrowing me the last sequel of Double M a.k.a Mawar Merah. awalnya smpet hilang harapan gr2 nih teenlit nyelimpet di antara tumpukan manga-nya icha, tp untung aja adeknya dteng. ketemu deh! huahahaha
serius tmbah seru aja nih ceritanya, banyak hal2 yang gak keduga lho. ada yg mengadu domba 2 kekuatan paling berpengaruh di jepang. yess, kelompok pembunuh bayaran tertua di dunia-a.k.a ONI- vs penguasa perekonomian jepang-yakuza-.
awalnya agak2 missing ama ceritanya abis udah agak lamaan juga baca seri ke-2nya. trus kesambung ama sekuel kak luna lainyya. haha dasar bego gue ini :D
overall, so-damn-cool but rada gak sreg ama ending-nya sorry ya kak, cause im lil bit obsessed wif The Shadow a.k.a kenjiiiii :p
Baca buku terakhir dari seri Mawar Merah ini seperti naik wahana Dufan di mana kita dilempar-lempar ke sana kemari. Kalau di buku kedua teknik menulis ini hasilnya bagus, di buku ini aku malah jadi pusing. Setiap adegan hanya dikisahkan sepotong-sepotong, maju-mundur dan berpindah-pindah keliling dunia, sampai aku kerepotan sendiri menyusun keping-kepingnya di otakku. Belum lagi perpaduan teknik berantemnya: dari senjata api, laser, ilmu pedang, capoeira, pencak silat, lalu ada juga ilmu hitam, sihir, terus... bom atom?! Gado-gado bener ini.
That said, aku tetep salut sih sama mbak Luna yang menulis cerita yang tidak biasa ini.
dari serial trilogi ini cuma punya satu dan yg terakhir doangan. dan pas baca buku ini, yang terbersit dikepala itu, "wow keren pake banget" apalagi kalo sampe dibikin film, tapi yang ini tuh kalo dibikin film harusnya film sekelas hollywood karna settingnya udah keren banget deh, meski terkadang rada mikir karna alur cerita yang loncat sari satu masa ke masa yg lainnya. terkadang loncat mundur dr set, hm... tapi basicly keren lah, cuma nyesel karna ga baca yang pertama sama yang kedua, dan antusias bngt pas tau kalo mau cetak ulang meski taun depan baru cetal ulang and i always give 5 star
Plz kecewa banget sama cerita seri terakhir ini. Rasanya perpindahan scene itu terlalu cepat dan kebanyakan dipotong-potong tidak pada tempatnya sehingga mau menghadirkan misterinya malah jatuhnya fail.
Padahal seri ini salah satu seri kesukaanku dan wishlist banget sejak jaman SMA dimana kere banget buat beli buku. Paling parah sih geser genre dari misteri ke sci-fi (tapi ini masih bisa ditolerir) terus tiba-tiba masuk fantasy dimana ada salah satu ilmu voodo masuk.
WTF KENAPA PEMBUNUH KELAS KAKAP BUTUH SALAH SATU ILMU VOODO SEGALA?!
Ga bisa bilang byk lah utk buku ke-3 trilogi mawar merah ini. BAGUS...BANGET. Emang sih jd lbh kayak fantasy krn byk hal2 gaib. Tapi action nya emang sungguh ngebuat jantung berdebar-debar.
Si Rachel itu, hatinya terbuat dari emas kali ya? Terlalu baek sampe rela ngorbanin diri sendiri. Tapi kadang syerem juga sih.
Salut deh sama tekad Saka dlm mencari Riva. Walo dia tau resikonya tinggi ttp aja dia berjuang sampai akhir. "Karena saat ini 'bahaya' sdh menjadi temanku", gitu katanya.
Wah, setelah Elsa/Rachel, kini giliran Riva yang menghilang!
Disini berlanjut petualangan tokoh2 krusial di seri ini. Dan ditambah kemunculan tokoh baru yang ga kalah hebatnya, yaitu Matahari!
Konflik disini makin pelik, karena terbunuhnya salah satu tokoh penting. Pertarungan antar pembunuh bayaran juga bikin tegang & gereget banget. Dan klimaksnya bener2 dahsyat!
Seru banget! Buku ini adalah buku yang paling seru diantara trilogi mawar merahnya Luna Torashyngu. Tapi harus baca buku sebelumnya sih kalo mau nyambung.