“Panas dan sedih rasa hatinya, demi mengenangkan nasib yang seburuk itu. Berbagai-bagai sumpah timbul dalam hatinya terhadap kepada segenap laki-laki yang tidak berbudi, yang menyangka bahwa perempuan diadakan di atas dunia ini hanyalah guna menyenangkan hati dan hawa nafsu laki-laki saja.”
ABDOEL MOEIS adalah sastrawan, wartawan, dan politikus. Ia salah seorang pengurus besar Sarekat Islam dan pernah menjadi anggota Volksraad sebagai perwakilan Sarekat Islam.
Ia adalah orang pertama yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Sukarno pada 30 Agustus 1959.
Abdoel Moeis adalah seorang sastrawan, politikus, dan wartawan Indonesia. Dia merupakan pengurus besar Sarekat Islam dan pernah menjadi anggota Volksraad mewakili organisasi tersebut. Abdoel Moeis dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional yang pertama oleh Presiden RI, Soekarno, pada 30 Agustus 1959.
Sejak pertemuan Suparta dan Ratna di kereta, kepalaku otomatis membayangkan film-film di masa Rano Karno dan Yessi Gusman masih jadi bintang. Ceritanya sendiri berkisar tentang penentangan hubungan mereka karena perbedaan status, lalu kondisi keluarga Ratna yang jatuh miskin, memperkuat keputusannya berpisah dengan Suparta.
Novel ini terbit pertama tahun 1937, sebagai kritik sosial atas cara pandang dan perlakuan yang merendahkan perempuan dalam pergaulan, serta fanatisme pada status kebangsawanan. Suparta yang keturunan bangsawan mematahkan "darah suci" dengan keinginannya menikahi Ratna yang dari kalangan orang kebanyakan. Sedangkan dari sisi Ratna, memperlihatkan bagaimana perempuan yang memegang prinsip, bahkan ketika dirinya terpaksa menjadi babu. Masalah-masalah yang sebagiannya juga masih related dengan kondisi saat ini.
Kendala membaca novel klasik ini, saat memahami kalimat-kalimatnya yang membutuhkan proses cerna. Tapi, tetap saja, sensasi jadoelnya yang membuat bertahan menuntaskan kisah yang berakhir bahagia ini.
Tema cerita yang sering kita jumpai di fiksi roman, sinetron, dan drama televisi. Percintaan antara pria dan wanita dengan perbedaan garis keturunan. Suparta seorang berdarah biru sedangkan Ratna seorang biasa dari keluarga pedagang yang kemudian bangkrut dan menjadi miskin.
Karakter Ratna pintar, berpikiran dewasa tidak gegabah menuruti nafsu, giat bekerja dan jujur. Kelemahannya cenderung overthinking. Karakter Suparta pintar, tidak sombong. Greenflag abis. Pembaca pasti menyukai dua tokoh utama ini.
Tidak seperti kebanyakan novel di era tahun 20-30an yang biasanya berakhir tragis di pihak wanita, buku ini berakhir bahagia. Kita juga bisa melihat sedikit gambaran masyarakat di era tahun 30an. Bahasa yang digunakan di buku ini masih menggunakan gaya melayu meski tidak sekental buku-buku dari pengarang minang.
Saya sangat menikmati buku ini dari awal hingga akhir namun masih ada yang bikin saya penasaran bagaimana caranya Suparta akhirnya dapat membujuk ibunya dan mendapat restu menikahi Ratna.
Sesuai dengan judulnya, Pertemuan Jodoh, novel ini menceritakan tentang awal mula pertemuan sepasang kekasih, Ratna-Suparta, yang bermula dari perkenalan di kereta menuju sekolahnya masing-masing, berlanjut dengan surat-menyurat, hingga jadi rasa dan tumbuh jadi cinta.
Cinta mereka tak semata-mata lancar digelincir air. Pertemuan Jodoh ini memuat konflik antara Ratna dengan keluarga Suparta, konflik tentang perbedaan derajat antara kaum kebanyakan (biasa) dengan kaum bangsawan. Tak sampai disitu juga, kejatuhan keluarga Ratna ke kemiskinan, membuatnya malu jika tetap berhubungan dengan Suparta, yang kebetulan saja didukung dengan fakta bahwa ia harus melancong ke dunia luar, menjadi tulang-punggung keluarga dadakan. Cinta mereka tetap tumbuh walau dihimpit batu pergumulan dari sekitar, dari Ratna, maupun dari Suparta yang mati-matian menolak perjodohan masing-masing, dan membantah paham ketidaksudian keluarganya akan kaum biasa yang dianggap rendah.
Tak mengkhianati hasil, novel ini memiliki akhir bahagia dengan ditemukannya jalan keluar dari setiap masalah yang selama ini menghalangi cinta Ratna-Suparta.
Pertemuan jodoh kental akan nilai tradisional yang sangat dapat membuat pembacanya masuk ke dalam Indonesia pada jaman tersebut. Walau banyak istilah lama yang telah jarang dipakai, hal tersebut malah dapat menambah isian gudang kosakata. Nilai-nilai kesetaraan perempuan, untuk bersekolah, bekerja, dan jadi pintar, sangat terlihat untuk diupayakan dalam novel ini.
Memiliki rasa cinta saja memang tak cukup. Abdul Moeis melalui Ratna dan Suparta, membuktikan bahwa penghormatan dan penghargaan terhadap segala yang ada di kehidupan, juga merakit keberhasilan cinta mereka.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Never thought this novel would be good, I didn't expect much but I get a feminist idea from the legendary writer Abdoel Moeis back in 1932..
This story wrote before Indonesia Independency, so the words are kind a unique in way their still mixed up with melayu. Honestly I barely get the picture of Indonesia in 1932, well yes he mentioned there's a japanese police, the gap between the noble and ordinary people, and they still call Bandung and Yogyakarta are two different countries (make sense because at that time Indonesia still colonized by Japan), also because Ratna and Suparta are in College (well, maybe its because Suparta was from Noble Family and Ratna is half Noble). I mean they're in the time of war and still colonized, its just so ordinary life the have at that time, know what I mean?
Furthermore, Ratna is a tough woman, she didn't easily fall into the arms of men who is already stamped noble. I am proud for Ratna, she can fight against anyone who wanted to make a dirt on her pride as a woman, this is literally a Feminism idea. But I am so disappointed with the ending for Ratna, why Mr. Moeis must to put Ratna into the weak situation near the ending, her attitude as woman was wonderful at the first but suddenly Abdoel Moeis showed us the "heroism" of man. What a bad ending for Ratna..
On the other hand, Suparta is a man that any women could dream of, because his visions, ideas, and opinions about women is like jump into the future (well it must be the writer's mind). As I said up there, that Suparta make a "hero" scene, well I didn't blame Suparta. His love sincerity for Ratna is enough to categorize this Novel as a fairytale..
As a whole, this is a worth reading novel. But I am just so sad and disappointing for what Abdoel Moeis done with Ratna..
Seperti judul, mengisahkan dua orang yang bertemu tidak sengaja di kereta api diiringi sepasang suami-istri yang bertengkar (sangat mengingatkan akan film Before Sunrise), kemudian menghabiskan waktu sebentar dan berpisah seakan sudah mengenal bertahun-tahun. Mengandung sangat kental isu yang ada saat itu (dan mungkin hingga sekarang); kedudukan wanita, serta tingkatan kelas yang dibuat di masyarakat.
Jujur saja, beli buku ini karena iseng lagi promo tanpa rekomendasi dan lihat review. Sedikit skeptikal dengan judul yang terlihat cliché, belum saja tau siapa yang menulis. Setelahnya, baru 4 halaman pertama sudah takjub dengan kata-kata dan penggambaran di bukunya. Serta takjub dengan bagaimana Abdoel Moeis, yang dikenal sebagai Pahlawan Nasional Pertama Bangsa kita ini, membuat karakter seorang Ratna? Tambah lagi bagian ia berkirim surat dengan Suparta, betul-betul menggambarkan perasaan hati perempuan jika berada di posisinya. Kata-kata yang menjunjung derajat perempuan juga sangat matang. Dialog serta surat Suparta dan Ratna yang selalu manis, dan tarik ulur kisah mereka buat geram ikut merasakannya. Cerita disampaikan dengan alur yang mengalir seperti air sungai. Konflik yang disampaikan cukup bagus namun dengan penyelesaian yang terlalu terburu-buru.
Walaupun buku ini menggunakan bahasa Melayu dan sedikit bahasa betawi, tapi sejujurnya saya sangat menikmati. Ceritanya flowy dan masih cukup relate dengan keadaan sekarang walaupun dilihat dari konteksnya cerita ini berdasarkan keadaan tahun 1930an. Romansa beda kelas sosial dikemas dengan sederhana dan konflik yang tidak muluk-muluk, tapi penyelesaiannya apik.
Awal baca sempat kaget sama gaya bahasanya.. tapi engga ganggu sama sekali, cukup bisa dipahami, dan menambah diksi saya soal bahasa Indonesia. Alur ceritanya cukup seru dengan berbagai konflik yg ada. Cerita yg maniss sekali dan penuh banyak petuah di dalamnya.
Nambah lagi karakter fiksi yg saya sukai, Suparta! 😍
Kaget karna iseng baca tapi ternyata isi ceritanya bagus banget, tentang percintaan tapi juga ada pesan moralnya. Walaupun ini novel jaman balai pustaka, tapi isi ceritanya masih sangat masuk dan relate sama zaman sekarang. Termasuk tentang cinta beda kasta, masalah ekonomi, dan tata krama. Novel ini worth to read karena dari alur juga tidak terlalu berat dan bahasanya masih mudah untuk dipahami.
Kisah cinta Suparta dan Ratna ini sebenernya mirip sinetron lah ya, gak ada yang terasa berbeda, kecuali bagaimana Penulis besar buku ini mengusung isu perempuan yang apik dalam masa itu. Luar biasa sih ya untuk zaman dulu. Kisah hidup Ratna dan kisah cintanya pun ya so so aja, mana lagi ditambah kesulitan benar aku memahami tulisan dalam buku ini yang bahasanya ya begitu zaman dulu.
Mengulik feminisme jaman lampau yang dengan cukup berani digaungkan Abdoel Moeis, termasuk urusan pernikahan yang kayaknya masih relevan hingga jaman ini. Poin menarik tentu STOVIA-related...emang gitu ya pesonanya..
Awalnya tokoh Ratna digambarkan sangat feminis, strong, independent woman. Konflik yang digambarkan juga nyata, perbedaan kelas sosial yang masih dialami hingga sekarang. Namun endingnya tokoh Ratna seperti kehilangan kekuatan perempuannya, dan Suparta hanya 'menyetir' Ratna.. ironis.
Lumayan capek juga membaca buku ini dikarenakan penggunaan bahasa Indonesia Melayu jadul yang terlihat indah tapi di satu sisi membuat saya sebagai pembaca yang membaca buku ini ditahun 2024 cukup kesulitan memaknai setiap kata dan kalimatnya.
ceritanya sederhana dan masih menitikberatkan pada persoalan tata aturan budaya yang kaku. hal itu tidak aneh karena buku ini ditulis oleh sastrawan yang termasuk dalam angkatan Balai pustaka
I love how the book touches the subject of feminism - but a bit iffy with the ending where things become more or less cinderella fairytale-like. I do not abhor the relationship, but I wish it has a more spunky, bad-ass main woman protagonist ending?