Saya masih meraba Ama Achmad. Saya baru sekali ini membaca. Tapi bagus kok. Satu puisi yang aku suka:
Misalkan Aku dan Kau adalah Sesuatu Misal, aku embun yang tak sempat menyinggahimu. Dan kau, bunga yang tertunduk menampi sedih. Mungkin kita biarkan saja, kepodang menyimpulkannya dalam lagu pagi yang sumbang.
Misal, aku hujan yang tak sempat mengunjungimu. Dan kau, kota yang diselimuti debu-debu kemarau. Mungkin kita biarkan saja, angin barat memahaminya dalam tiup paling gersang.
Misal, aku purnama yang tak sempat menemuimu. Dan kau, malam yang pekat oleh gelap. Mungkin kita biarkan saja, matahari memahaminya dalam terang yang lebih awal daripada pagi.
Misal, aku adalah aku yang tak sempat berujar padamu. Dan kau adalah kau yang kurahasiakan dari ucap. Mungkin kita biarkan saja, puisi-puisi menyimpannya dalam larik-larik yang lebih leluasa berbicara. (2013)
Ada kesedihan yang disertai dendam, ada kesedihan yang bahkan tidak sudi sempat menyentuh lapisan luar sebuah dendam. Puisi-puisi Ama Achmad adalah yang kedua. Jika kita sedang berada di pantai memandangi laut, kesedihan itu mengambang di permukaan, bukan tenggelam di dasar laut. Kita menemukan kesedihan itu telah jadi mayat. Punggungnya menghadap matahari, dadanya telungkup penuh air dan tidak ada suatu perlawanan yang dapat menghidupkannya kembali. Pada puisi berjudul Kota Ini dan Ketakutan di Dalamnya, misalnya, saya membaca kata 'takut', tapi sesosok 'tabah'-lah yang muncul di hadapan saya.
Tuhan sedang tidur, seseorang berkata. Tidak, Tuhan sedang bercanda di surga, kata seseorang yang lain. Telingaku berteka-teki dengan bunyi dari mana-mana.
Kota begitu diam. Seperti makam yang tak lagi dikunjungi. Lalu kudengar suaramu dari jauh yang entah; "Seperti duka, maut tiba tanpa aba-aba."
Pukul sekian, kota terkurung dalam gelap. Di dalamnya, aku bertemu ketakutanku.
(hlm.15)
Kesedihan tanpa dendam terkandung dengan khidmat pada hampir semua puisi, kecuali pada puisi-puisi yang memiliki kelekatan dengan identitas Ama Achmad. Awu, Tumpe, Bangkiriang, Tende, Ba Ode, Mea Culpa, Sola Mira, Seseba, Sosa', Ba Buha, Salanggar, Matatumali, Bajo, Tano Monondok. Entah mengapa, saya lebih menyukai judul-judul puisi yang saya tidak tahu artinya—barangkali sebab mereka memiliki konteks dan alusi. Penghormatan saya kepada puisi-puisi tersebut mungkin terjelaskan oleh tulisan Hasan Aspahani ini: Alusi, Karena Sajak tak Perlu Catatan Kaki. Karena mengandung alusi, kesedihan pada puisi-puisi tersebut mempunyai tata letak yang lebih jelas, yakni pada peristiwa. Berbagai peristiwa dan nama ini berada di luar jangkauan pengetahuan saya. Namun, mengamini Hasan Aspahani, saya tidak perlu memprotes Ama Achmad mengapa tidak terdapat catatan kaki.
Terkait laut, saya bertanya-tanya, di mana tepatnya ia berada? Saya mencari sampai puisi terakhir, Keterampilan Membaca Laut—puisi yang judulnya dijadikan judul buku ini—dan hampir tidak menemukannya. Akhirnya, ketika saya membuat jarak barang satu-dua hari dari buku ini, saya mengetahui laut itu berada dalam kesedihan, bukan sebaliknya.
Saya ingin menobatkan Boshoprus 1959 sebagai puisi favorit saya. Di dalamnya laut dan langit bertemu, berkolaborasi menyampaikan suatu kesedihan yang tidak benar-benar saya pahami.
Bosphorus 1959
Kaulihat sebuah Yali tua di sudutnya yang hitam. Masa lalu mengendap di situ. di dinding-dinding batu yang dingin dan cat-cat yang mengelupas.
Langit di atasnya senantiasa memasang siang yang tak menyerupai apa-apa dan bulan yang senantiasa muram.
Kaudengarkan kecipak air ketika perahu-perahu berangkat dari Rumelihisari membelah Bosphorus yang gelap—yang menyimpan rahasia Istanbul, pasha yang kejam atau putri yang disekap.
Tak seperti dalam lukisan Melling, Bosphorus tak memberikan penghiburan apa-apa. Selain konsonan-konsonan sedih yang terperangkap dalam ingatan.
Barangkali, ada masa ketika kau dipaksa melihat semuanya dalam hitam putih yang menyesakkan. Saat nama-nama hilang dalam malam dan percakapan menjadi samar-samar.
Tapi mungkin sesekali kau akan menemukan ini: siulan para pendayung perahu, camar-camar yang pulang dan seorang perempuan bercadar.
Selebihnya di sana, kau hanya akan melihat waktu terbenam di dasar laut yang lengang.
Buku puisi pertama yang kubaca dari Ama Achmad. Sederhana yang dalam. Begitu kira-kira Ama Achmad di kepalaku.
Puisi-puisi favoritku: Keterampilan Membaca Laut (80), Sepasang Permohonan (81), dan Pada Sebuah Alinea (26).
Aku nggak begitu mengerti kenapa puisi Sepasang Permohonan masih terngiang menggelikan di kepala sampai saat ini. Ama mencoba memperkenalkan siapa Dia dan siapa Aku lalu yang terakhir memperkenalkan siapa Kami. Kami adalah Aamiin. Kami adalah gambaran dari sebuah doa yang menjadi nyata. Menggelikan, in such a cute way.
Ya Tuhan, cantik banget! Membaca buku puisi ini rasanya hati jadi hangat. Seperti pulang ke rumah. Meski sebenarnya puisi-puisi di dalamnya merepresentasikan kesedihan dan kekecewaan secara nggak langsung, bahasa yang digunakan seutuhnya berbeda dan manipulatif. Kayak paradoks. Nggak perlu majas yang muluk-muluk, pakai permainan kata aja udah bisa jadi puisi yang super indah dan mengena. Saya suka banget sama vibes, nuansa, apalah itu yang ditawarkan oleh lokalitas Indonesia Timur-nya.
Di Luar Kata-Kata
Tidak ada yang benar-benar terjadi di luar kata-kata. Kita hanya sepasang desau yang berbisik mengejar kabar.
Aku di sini, di beranda yang melupakan cahaya bulan. Kau di sana, di bawah lampu jalan yang redup.
Di luar kata-kata, kita tak pernah menjadi apa-apa.
Ada perasaan nelangsa erat melingkupi hati kala membaca Keterampilan Membaca Laut karya Ama Achmad. Secara harfiah ia tak melulu bicara soal laut, memang. Namun, bagaimana birunya laut bisa membuatmu tak nyaman, debur ombak yang memecah dan berbahaya, air laut yang pasang surut, menjadi jiwa dalam puisi-puisinya. Buku ini seolah mengingatkan kita bahwa kita dan harapan sejarak dekat, tapi jika Tuhan tak mengamini, manusia bisa apa?
Laut di sini kuartikan sebagai perjalanan kehidupan. Dalam konteks yang lebih pribadi, kuperhatikan penyair banyak bercerita soal tanah kelahiran dan daerah sekitarnya. Meski puisi ini tidak sepenuhnya ber-setting di Banggai, Sulawesi Tengah, Ama Achmad tak menampik hadirnya unsur lokalitas dalam setap perjalanannya yang personal. Tentang hubungannya dengan orang-orang di sekelilingnya, hubungannya dengan tempat yang disinggahinya, hubungannya dengan peristiwa sehari-hari yang diitnjau dengan cermat lewat pancaindra, dan tentu saja ... hubungan dan keterampilannya dalam "membaca laut" alias perjalanan kehidupan.
Kedekatan dan kemelekatan emosional, keduanya hadir. Lewat buku ini, pembaca diajak untuk mengenal Banggai dari mata dan hati mereka. Jangan heran kalau puisi berjudul "Bangkiriang", "Salanggar", "Dari Puisi, Kepadamu", juga "Keterampilan Membaca Laut" yang jadi pamungkas, mampu mencuri hatimu.
Ini bacaan yang akan membawa kita menelusuri kenangan dan harapan, meski tak segalanya kesampaian.
Ada satu perasaan kuat yang menjalar ke diri saat membaca kumpulan puisi ini. Perasaan itu ialah Melankoli. Puisi-puisi Ama Achmad, di buku ini, banyak membincang sisi gelap dari kehidupan manusia; tentang kesedihan, kemuraman, keterasingan, perasaan sepi, dsb. Catatan saya selama membaca buku ini adalah sebagai berikut.
1. Bahwa penulis pandai dalam mendeskripsikan "sesuatu" melalui pilihan diksinya. Sehingga, pengalaman hanyut selama membaca pun dapat diperoleh. Sensasi hanyut itu, kadang-kadang seperti melihat+menikmati potongan-potongan adegan film yang 'dalam'. Membuat saya beberapa kali bergumam : "Ohh.. jadi seperti ini rasanya." Walaupun saya tidak tahu persis peristiwa apa yang sebenarnya menjadi latar penulisan puisi tsb. Tapi gambaran-gambaran perasaan itu dapat tersampaikan dengan baik.
2. Meskipun banyak merepresentasikan Melankoli, di beberapa puisi juga dapat ditemui gambaran 'Melankoli yang bahagia'. Saya, di beberapa puisi, semacam mendapatkan sensasi bittersweet selama membacanya. Yakni, gambaran melankoli yang berkembang atau melankoli yang dapat menuai makna setelah mengalami banyak kejadian. Seperti dalam puisi berjudul "Sebuah Kota kepada Masa Lalunya".
"Ia tidak menyesali masa kini juga waktu yang melesat meninggalkan tahun-tahun. Sebab ia percaya jejak-jejak akan terus ada: bekas badai, gempa yang telah selesai, juga catatan-catatan pendek tentang pernah."
Jadi, alih-alih mendendam atas pengalaman gelap yang terjadi, puisi-puisi penulis malah seakan mengajak untuk menerima serta merengkuh segala kepahitan itu.
Seakan-akan mengabarkan bahwa kita bisa menjadi manusia yang utuh dengan merengkuh kesedihan kesedihan tersebut.
point pertama yang ingin saya soroti dari buku ini adalah tentang positioning produk terhadap pasar pembaca. saya menyebut buku ini adalah buku puisi yang epik karena dapat mempadupadankan antara ranah populer dengan tetap mempertahankan pakem pakem perpuisian indonesia. dan saya berasumsi selain nama dari ama ahmad itu sendiri faktor diatas yang saya sebutkan adalah yang membuat penerbit gramedia bersedia untuk menerbitkan buku ini.
point yang ke dua yang saya soroti adalah tentang tidak maunya sang penulis mengikuti dan atau menggunakan metafor metafor yang kerap digunakan oleh penyair lain dalam mendeskripsikan kata " hujan ", penulis memilih untuk mengganti hujan dengan kalimat " bunyi bunyian di atas atap atap " memang terkesan beda, tapi sayangnya tidak enak saat dibaca.
dan point terakhir adalah saya merasa, hampir setiap lembar puisi selalu terdapat punclune di akhir bait penutup, barangkali dengan alasan agar dapat di ingat oleh para pembaca.
"Pukul sekian, Kota terkurung dalam gelap. Di dalamnya, aku bertemu ketakutanku"
---Apakah puisi ini ditulis Penulis ketika Luwuk Banggai sedang mati lampu? Hahaa canda saya dalam hati.
Sebagai penduduk Banggai walau cuma setahun saja, membaca buku ini rasanya seperti dibawa balik kesana sekali lagi. Membaca buku kumpulan puisi ini membuat saya teringat akan Kilo Lima, pantai cantik di Luwuk Banggai tempat saya banyak berefleksi dan bercerita.
Puisi Favorit saya: Tiga Bagian dari Hari Milik Sheza, bisa jadi karena saya mengenal Sheza secara langsung, gadis cilik lucu yang menemani hari-hari yang istimewa di Luwuk, Banggai.
Tak harus ke Banggai untuk membaca buku kumpulan puisi ini, namun beberapa puisi dalam buku ini seperti Tentang Sebuah Sedih (Peristiwa Tanjung 2017), Bajo, Tumpe, Ba Ode dan beberapa puisi lainnya akan membawa kamu ke Banggai, tempat indah di tengah Sulawesi.
"Mungkin tak akan ada lagi apa-apa di hadapanmu. Tapi sejauh alir nadi dan takdir yang senantiasa tak berakhir baik, kau selalu berjanji, bahwa menangis adalah hal yang bukan lagi milikmu." -Beberapa Kalimat Yang Harus Kaucatat Ketika Melihat Perempuan Itu, halaman 44
Rating 4/5 🌟
Akhirnya bisa kembali baca buku puisi setelah lumayan jenuh berkutat dengan novel-novel tebal penuh misteri, hehe. Jujur gue baru banget berkenalan sama karyanya Ama Achmad, tapi setelah membaca buku ini gue udah yakin untuk baca karya beliau yang lain lagi suatu saat nanti.
Suka banget sama cara kepenulisannya. Kata-kata yang dipilih juga bagus, sangat nge-feel karena suasana yang diberikan bisa bikin pembaca ngerasain apa yang ingin penulis gambarkan. Di kumpulan puisi ini banyak membahas tentang kesepian, sunyi, tentang rindu, cinta, dan beberapa kota. Mungkin minusnya karena ada beberapa puisi yang gue gak ngerti maksud sebenarnya. Ah, mungkin gue memang kurang ahli dalam meresapi puisi. Tapi sebagai orang awam yang jarang membaca kumpulan kata-kata indah, buku ini sangat bisa memanjakan mata.
Ia menerbitkan puisi dan menumbuhkan musim lain di dalam dada . . . Puisi-puisi dalam buku ini mengajak kita kembali pada esensi puisi sebagai susunan kata-kata yang liris dan indah. Tidak hanya membuai indera irama dan mengampelas halus kekasaran jiwa, puisi puisi ini mengajak kita berkelana dalam eksotisme timur Indonesia, wilayah wilayah yang pernah jarang kita jamah tetapi akhir akhir ini menghadirkan keindihan baru yang terkesan jauh.
Ada puisi menarik yang dipersembahkan untuk mbak Windy Aristanti, yang ketika membacanya saya langsung terbayang pada sosok mbak Windy yang memang begitu sebagaimana digambarkan.
Seperti itulah penyair menggambarkan segala lewat puisinya, tidak berlebihan, tidak berkekurangan, sebagaimana adanya namun dalam bentuk yg lebih indah. . . . Di luar kata kata, kita tak pernah jadi apa-apa.
Dari segi diksinya (ada juga nggak sih, istilah diksi dalam puisi? Maaf kalau salah 🙏) kumpulan puisi ini cocok dengan mood baca saya sekarang. Tenang tapi menghanyutkan. Banyak puisi di sini yang memuat cerita tentang jeda, wilayah di antara ingar-bingar yang sering terlupa. Banyak juga yang mengambil rupa warna. Senang bisa membacanya. Jadi pengin ngerti puisi deh, asli, takutnya saya underappreciating, padahal emang bagus-bagus kok, dan pastinya ditulis dengan kematangan serta kedalaman yang dipikirkan masak-masak. Oh, satu lagi, ada unsur kearifan lokal yang patut diacungi jempol karena keindahan Indonesia Timur bisa muat dalam beberapa bait saja. Yang mau pintar baca laut (atau apa pun yang kamu anggap sebagai laut) silakan resapi puisi-puisi di buku ini.
I found some poems are so relatable and heartbreaking, especially the ones which talk about unrequited love or secret admirer.
It speaks a lot, how the two of people could fall in love but they are never meant to be together. As well, some elements are my fave part, from the upbringing of blue color to highlighting the sea serenity. The only thing I was hard to understand is some local terms which I do have no idea what they are about. Still, i love the poetic diction Ama chose to speak out her voice. Very impressive!
Saya punya semacam 'kerinduan', tapi mungkin tidak tepat disebut kerinduan, kepada laut. Entah kenapa, laut paling purna jika diungkapkan dalam puisi. Puisi, menurut saya, adalah jenis tulisan yang dapat menerjemahkan perasaan dengan sangat baik (tentu, yang saya maksud bukan 'perasaan' dalam arti romansa, tapi sesuatu yang sukar diterjemahkan oleh bahasa—saya biasa menyebutnya 'ingatan bayi'). Ketika akhirnya saya kembali berjumpa dengan laut, sekira bulan Desember tahun lalu, sebelum Covid 19, puisi-puisi Ama Achmad-lah yang saya dengar ketika mendengar ombak berdebur.
Pertama tertarik karena buku ini punya cover yang calm sekali.
Buku ini memiliki isi puisi yang bagus. Sepertinya, karena penulis berasal dari Sulawesi Tengah, beberapa isi puisinya terasa asing bagiku. Namun, hal inilah yang menjadi daya tariknya, sehingga menggugahku untuk belajar hal-hal baru.
Buku yang kurang dari 100 halaman ini mudah untuk dibaca dalam sekali duduk. Adapun puisi-puisi favorite-ku dari buku ini adalah: Pada Sebuah Alinea, Makan Malam yang Ganjil, dan Menjadi Rahasia.
Saya kali pertama baca buku puisi Ama Achmad ini. Bahasanya sederhana, mudah dipahami, tapi di antara 80an puisi di buku ini tidak ada yang benar-benar membekas di kepala saya. Mungkin, saya mesti baca lagi dan mendalami makna puisi2 itu.
"Di luar kata-kata, kita tak pernah menjadi apa-apa."
Buku ini aku beli saat sedang berkunjung ke toko buku setelah sekian lama. Aku mencari-cari yang unik dan menenangkan.
Dan aku pun mengambil buku ini. Dari sampulnya, aku sudah benar-benar jatuh cinta. Begitu pun sesaat setelah membaca sampul belakangnya.
Tiap puisi di dalam buku ini akan membuat siapa saja hanyut tak terkendali. Menarik, unik, dan tentu saja sangat cantik.
Aku suka karena penulis menggunakan perumpaan daun, angin, laut, kopi, dan benda serta hal-hal sekitar. Diolah dengan sangat baik. Diksi yang digunakan bukan main. Namun, tak mengurangi pesan yang ingin disampaikan.
I don't know how to review a poetry book . But when it comes to something that you read and made you fall in love with his/her (writer) words, I guess this is one of it. Love it!
Buku ini kumpulan puisi-puisi yang satu halamannya singkat sekali. Jadi buku ini pun sangat tipis, hanya berjumlah 82 halaman. Ringan, enak dibawa kemana-mana. Ku bukan orang yang terlalu paham soal puisi.
Tapi pas baca ini kaya ngerasain feel semacam rasa duka atau perasaan sepi, kesedihan, kekecewaan dan kemuraman gitu. Awalnya pas baca judul, kupikir ini bakal bahas soal laut dan elemen-elemennya atau gimana cara menghadapi laut yang dalam pandanganku laut itu terkesan tenang tapi seketika bisa garang di waktu yang tak terprediksi. Tapi ternyata isinya ga secara gamblang bicarain tentang laut, itu hanya representasi sebuah perasaan aja.
Judul-judul asing yang buatku berpikir "Ini apa?" hadir di sini. Misalnya, Mbumbu Doi Jawa, Tumpe, Bangkiriang, Ba Ode dan lainnya. Ternyata setelah kucari tau semua ini berkaitan dengan Banggai, salah satu daerah yang ada di Sulawesi Tengah dan ternyata tempat penulis berasal. Dari judul-judul ini ku jadi banyak tau tentang tradisi dan kebudayaan Banggai ini. Nambah pengetahuan dari sebuah buku kumpulan puisi!
Cover jangan ditanya, suka bangeeet karena biru :D
Kulihat kesedihan dari jendela; satu kursi menadah luruh daun-daun, sebuah lampu taman mati menyala lalu diam ---tanpa cahaya, sebilah ranting kering diayun angin ---kepayahan bertahan dari patah, dan purnama yang meleleh di langit Juli.
***
Sudah lama sekali tidak bisa menikmati puisi. Orang bilang puisi itu untuk orang yang patah hati atau jatuh cinta. Dulu, saya suka sekali membaca dan menulis puisi. Once i've married, entah kenapa sulit sekali mencerna puisi lagi.
Namun, tulisan Ama Achmad ini bisa membuat saya jatuh hati. Aku suka. Aku tenggelam. dengan rela.
Berkenalan dengan puisi-puisi karya Ama Achmad dalam buku ini. Saya melihat di Twitter nama Ama di Retweet teman waktu lalu, trus saya ingat pernah melihat cover buku ini di GD, ya coba saya baca aja.
Puisinya menarik, masih tentang perasaan antara aku, kamu yang banyak diberi judul beberapa nama tempat sepertinya di Sulawesi. Mudah untuk menyukai puisi-puisinya Ama dalam buku ini.
Favorit saya : - Di Luar Kata-Kata - Kota dalam Foto Hitam-Putih yang Hampir Robek - Satu Hari (Lagi di Kotamu yang Ramai - Pada Sebuah Alinea - Misalkan Aku dan Kau adalah Sesuatu
Tidak seperti judulnya, Keterampilan Membaca Laut buku ini malah tidak banyak membahas laut, pantai, senja dan nelayan, lebih dari itu. Ama Achmad mencoba menerjemahkan kepasrahan dia melalui puisinya, tidak banyak berita kehilangan kekasih, tidak banyak juga tentang kalut persenjaan dan kata yang cetek, Ama Achmad menulis seperti meratap, pada takdir, pada kehilangan, pada Tuhan yang kekal dan pada cinta yang nakal. Seperti puisinya yang berjudul, Ayuthaya:
Adakah yang lebih abadi, Tuan. selain Tuhan yang tak pernah baka di dada. - di debar-debar yang sembap?