Sejak awal berkenalan, Trisna sudah jatuh hati pada Mas Putra, sepupu temannya semasa kuliah dulu. Tetapi perasaan Trisna selalu mendua soal lelaki itu. Satu sisi Trina ingin Mas Putra tahu perasaannya, di sisi lain dia juga takut lelaki itu tahu.
Bagaimana kalau ternyata lelaki itu menganggap Trisna hanya teman biasa?
“Kayaknya kamu musti lebih berani deh, kalau pengin jadian sama Mas Putra.”
“Kayaknya kamu harus lebih agresif deh.”
“Kasih kode-kode dong kalau kamu tuh naksir dia.”
Duh. Masa sih Trisna yang harus mengejar-ngejar lelaki itu? Trisna tahu dia tak akan pernah mampu nembak siapa pun. Dia bukan gadis macam itu dan tidak punya cukup keberanian untuk itu. Lagi pula, bagaimana caranya mengejar Mas Putra, kalau lelaki itu sebenarnya tidak lari ke mana-mana?
Namun, pertanyaan lebih pelik menampar Trisna: jika tetap tak berani menunjukkan perasaannya, apakah dia berani kehilangan Mas Putra dan membiarkan lelaki itu disambar orang?
Aku suka tulisan Mbak Dewie di Trilogi Zona, dan waktu melihat ada karya baru, aku bersemangat membaca. Kekhasan Mbak Dewie di novel-novel sebelumnya terasa, meskipun entah mengapa di YRGM kayak kurang nampol aja. Kendati, aku cukup menikmati hingga tamat dan mengapresiasi Mbak Trisna dan kelogisannya. Kusuka cara Mbak Trisna menyikapi sang mantan yang kulupa namanya. Jujur, kukasihan Lorenzo dikambinghitamkan, padahal ia pengin kambing guling saja tak diberi T.T Mas Putra ini sudah kurang berjuang, masih marah-marah ke Mbak Trisna, membawa-bawa Lorenzo, ya pokoknya aku bersimpati pada Lorenzo lah. Loren ini sudah naksir sejak kuliah, waktu Mbak Trisna putus dan mau dekat malah sepupunya datang, masih disalah-salahin. Jadi jangan salahin kalau Lorenzo minta kambing guling. Btw, aku belum pernah makan kambing guling, sih. Ada typo soal umur di halaman 209, tapi nggak tahu aku seliwer atau memang typo si Mbak Trisna jadi 24 tahun. Udah gitu aja. Jadi Selamat dan sukses tuk penulisnya! 79-2019
3.5⭐⭐⭐ Mas Putra kurang perjuangan dapetin Trisna nya nih ..malah aku lebih suka Lorenzo yg ngereng-rengek minta kambing seekor buat dijadiin kambing guling😂😂😂😂
"Ada rasa sakit yang benar-benar sakit saat menyatakan sesuatu yang terasa menurut akal sehat, tapi sama sekali tak sesuai kata hati." - Hal. 261 Pas kak Dewie ngeluarin novel terbarunya dengan lini metropop, langsung masuk wl. Dan alhamdulillah kesampaian punya juga hadiah ulang tahun. Untuk cerita kali ini, Trisna yang sudah ngecengin kakak sepupu temannya dari lama cuman bisa menyukai dalam dia. Meski ada kesempatan berdua pun yang dibahas cukup umum aja, Mas Putra ini orangnya emang enak buat diajak ngobrol. Cuman ya itulah yang membingungkan Trisa, apakah mas Putra ada hati buat Trisna. Karena selama ini si Mas ini kalem banget. Sampe Ranti pun ikutan gemes karena nggak ada pergerakan apa pun dari Mas Putra ini. Dan Trisna hanya harus menunggu waktu yang tepat. Untungnya sih ada Lorenzo yang membuat keadaan jadi panas. Gimana kisah mereka? Gaya penulis kak Dewie emang khas banget, gaya ceritanya menarik. Temanya yang diangkat emang umum, tapi bikin gregatan. Aku gemes banget sama Mas Putra, sikapnya itu loh yang kalem ini bikin gregetan. Antara iya atau nggak itu bikin bingung orang. Sama Trisna pun sama, pikiran dia selalu aja insecure. Tapi tokohnya emang loveable kok, di sini Ranti emang lebih menonjol sih ya, mungkin karena sikap dia yang rame. Gaya bahasa yang ringan dan mengalir, enak buat diikuti. Di sini, memakai POV orang pertama, Trisna. Pikirannya Trisna emang bikin aku tahu apa yang dia rasakan. Itu tetap bikin gemas. Interaksi antartokohnya seru dan hangat. Chemistry klimaks menuju akhir, mungkin karena emang alurnya lambat sih ya jadinya begitu. Dan konflik batinnya emang kuat banget, romansa cintamya pun emang gregetan sih. Di sini emang tentang rasa insecure, apalagi menyangkut tentang keluarga gitu. Jadi emang kasian sih Trisna ini 😭. Eksekusinya udah pas dan rapi, endingnya pun pas dan suka.
Trisna naksir Putra, Putra naksir Trisna, ada beberapa problem yang menghalangi keduanya untuk pacaran.
1. Sampulnya. Pertama kali aku lihat sampul novel ini, aku langsung suka. Komposisi gambar, layout, dan warnanya pas banget, modern banget, berasa ngasih a hint of the entire story in it. 2. Tapi sampulnya akhirnya bikin aku kecewa. Karena gak ada kisah tentang seorang fotografer pun di dalamnya. Bahkan sekadar menceritakan hobi fotografi pun engga. Ada sih, scenes tentang motret. Tapi pake kamera ponsel. Eh ini spoiler ga sih? Ehehehe. Maaf. 3. Seperti biasa, Dewie Sekar nulis tentang tokoh yang introvert. Ciri khas banget ini. Aku tidak bilang ini predictable, tapi keintrovertan tokoh utama di novel-novel Dewie Sekar dapat aku andalkan untuk nongol. 4. Saat aku dapat kabar 'kecewa isi cerita' dari salah seorang teman yang sudah duluan baca, aku jelas tidak percaya. Aku harus membuktikan sendiri. 5. Setelah aku baca, novel ini tidak ada masalah. Dan itu justru adalah masalah. Sudah bertahun-tahun aku nunggu karya baru Dewie Sekar. Novel2nya selalu dipenuhi konflik batin tokoh-tokohnya, dengan tanpa menampilkan satupun tokoh antagonis. Biasanya tokoh antagonis adalah bumbu utama cerita. Tapi Dewie Sekar selalu mampu merangkai cerita tanpa perlu hadirnya tokoh semacam ini. Nah, rumus ini hadir juga di "You Really Got Me". Tapi sayangnya novel ini minim konflik. Yang akhirnya bikin aku mikir, kalo ini mah kualitas cerpen. Bukan novel. Maaf ya buat penggemar DS setia. Aku jg penggemar kok. Tapi ini pendapatku. 6. Aku juga kurang 'klik' dengan aroma cerpen2 era 80-90an yg kental di novel ini. Tiap adegan, tiap kejadian, selalu ada musik soundtrack kebetulan yg mengalun di latar. Sedang melamun di mobil, radio nyetel lagu yg cocok. Sedang bete di kafe, tau-tau ada lagu yg pas, mengalun. Sedang ngobrol dengan teman tentang kegalauan, tau-tau lagu yg cocok nongol di player, dll dst. Itu formula cerpen2 Anita Cemerlang banget. 7. Karakter tokoh? Maaf, boring. 8. Tapi di luar segala kekecewaan, aku masih suka kok dg cara puitis DS dalam melukiskan ambience. Enak, tidak berlebihan, tapi ttp indah.
Yah, pemeran utamanya si Putra jadi yauda sih, sekurang apapun dia juga dia yang bakal menang. (Kayak sehebat apapun Thanos yah bakal tetep kalah aja sama Iron Man karena Om Tony Stark adalah pemeran utama. Yoi gak, Luuur?) Namanya juga pemeran utama. Putra kan enggak banyak berjuang, gak modal apa-apa juga, gue malah lebih suka sama Lorenzo—bahkan si mantan (Fazim) aja masih nyoba buat berjuang ngajak ketemuan.
Mungkin emang dibikin gitu biar cocok kayak judulnya. Si Putra udah mendapatkan aku (Trisna) tanpa berjuang dan tanpa perlu melakukan apapun. You Really Got Me *Lu udah dapetin gue tanpa lakuin apapun*. Gitu kali.
Ini novel ketiga dari Dewie Sekar yg aku baca, setelah PERANG BINTANG dan LANGIT PENUH DAYA. Kurasa tulisannya cukup bagus sih, cukup bisa kunikmati sebagai orang yg pada dasarnya bukan pecinta novel romance. Tapi bukan yg bagus banget sampai membuatku ikut berdebar, atau bahkan nangis bombay. Dari ketiga novel itu pendapatku tetap sama, meskipun dua novel lainnya itu sudah kubaca dulu banget, waktu masih SMA.
Untuk novel yg satu ini, pada awal ceritanya aku sempat bikin spekulasi tentang endingnya. Apakah Trisna akan berakhir sama Mas Putra, atau sama Lorenzo. Apakah ceritanya akan diakhiri dengan biasa aja, atau mungkin akan ada plot twist yg tak terduga. Aku sih lebih memilih kalau ada plot twistnya, biar ceritanya gk terlalu datar. Sayangnya itu tidak terjadi. Wew... Spoiler :)
Hal lain yg membuatku sedikit terganggu adalah masalah keluarga Trisna yg berkali-kali diungkit, yg membuat dia takut tidak diterima. Dalam hati aku ngomel-ngomel "Hello... Yg bermasalah tu keluargamu, bukan kamu. Dan itu udah berakhir. Udah gk ngaruh lagi. Kenapa masih dipikirkan? Toh kamunya tu orang baik. Gk mungkin lah ditolak."
Kurasa untuk keseluruhan cerita dan gaya penulisannya oke, tapi konfliknya yg kurang greget.
Ya memang, kalo dibandingkan dengan trilogi zona-wira-nora yg legendaris itu, You Really Got Me masih kalah. Tapi nggak tahu kenapa ya, saya suka aja.
Mbak Dewie itu pinter menuliskan cerita yg serasa tetangga sebelah aja gitu yg punya masalah. Nggak serasa mbaca cerita di awang-awang, yg bahkan kerjaan tokoh utamanya aja nggak terbayang.
Terus lagi, cerita-cerita Mbak Dewie itu menginspirasi. Untuk punya usaha sendiri, untuk punya Aglaonema, untuk nyari tahu apa itu Sancifera, untuk kepikiran membuka usaha gudeg itu ternyata boleh juga. Untuk berpikir sederhana, bahwa sedekah itu ternyata bisa dengan menanam bibit pohon di pinggir jalan. Warrbiyasahh!
Yah, pokoknya gituuu.. baca aja deh, pasti suka. Terus ini nih, yg mbikin aku nggak bisa lewat buku-bukunya Mbak Dewie, endingnya yg mencuriiii hatiii.
Hampir semua buku-bukunya punya ending yg bikin senyum-senyum sendiri. Nggak karya legendarisnya dulu itu, atau justru Trisna-Putra bukunya yg sekarang ini. Pokok nggak rugiii
Membulatkannya menjadi tiga cukup barangkali. Hal ini untuk menyambut comebacknya Mbak Dewie dengan kisahnya Trisna dan Mas Putra. Mengangkat tema yang dekat dengan usia saya bikin agak relatable sih, walau sepertinya saya merasa cukup tua hehehe. Habisnya kisah cinta Trisna ini saya baca ketika kehidupan realistis telah memborbardir imajinasi saya. Membacanya berasa, kayaknya aku ketuaan deh baca buku tema ini. Tapi it's okaylah. Niat baca novel memang untuk mengatasi reading slump yang sempat terpuruk di sebulan terakhir. Biar TBR makin berkurang juga.
Terima kasih telah hadir kembali Mbak Dewie. Saya cukup kangen dengan tulisan ala Mbak Dewie. Sayangnya perang bintang dan Zona@Last masih jadi favorit saya.
Trisna sudah lama jatuh hati pada Mas Putra, sepupu dari Lorenzo, teman masa kuliahnya. Walaupun sepertinya Mas Putra juga memperhatikannya, Trisna merasa tidak yakin akan hal itu.
Konfliknya sebenarnya sederhana saja. Namun seolah dibuat ruwet, sama lah seperti kita yang kadang membuat ruwet hidup karena hal yang kelihatan sederhana.
Aku justru merasa nyaman karena setting di Surabaya terasa dekat dan digambarkan tidak terlalu hingar bingar seperti kota metropolis lain. Relasi yang dibangun antar tokoh pun cukup kuat, seperti relasi Trisna dan Ranti.
Ini kali pertama aku baca tulisan Mbak Dewie. Sebenernya waktu awal terbit aku udah naksir sama buku ini karena liat judulnya, tapi baru kesampaian baca sekarang.
Aku suka sih sama ceritanya. Realistis dan manis, ada selipan humornya juga. Ada beberapa bagian yang bikin aku ngikik dan greget karena aku pernah ada di posisi Ranti 🤣
Mungkin karena deskripsinya terlalu detail, aku jadi ngerasa bosen. Dan, menurutku inituh metropop yang nggak kerasa metropop nya
Tapi, secara keseluruhan aku suka. Tulisannya rapi banget, enak dibaca.
Ah ekspektasinya tinggi karena suka banget dengan tulisan pengarang sebelum2nya Premisnya simpel banget tapi bukunya lumayan tebel. Awal-awal lumayan ngantuk tapi dari tengah ke akhir sudah lebih fast-paced. Overall kurang greget karena kesel sama male lead nya. Tapi pengarangnya jago bikin pembaca ngerasain yang dirasain female lead pas gregetan atau longing gitu.
Tapi ngeselin ya Mas Putra? Gak ada fight2nya gitu, effort kurang banget. Trisna kok ya mau?
Anyway jujur waktu Mas Putra ama Trisna keluar makan pizza aku kira Mas Putra gay, naksir sama sepupu sendiri 🫠
This entire review has been hidden because of spoilers.
Jangan pernah nikah sama laki-laki karena kasihan atau karena kamu nggak tega nolak. (hlm. 212)
Lebih baik nikah sama laki-laki yang cinta banget sama kita walaupun kitanya nggak cinta-cinta banget, daripada nikah sama laki-laki yang kita cintai banget tapi nggak cinta-cinta banget sama kita. (hlm.212)
Cerita yang bagus, bisa dibuat santai. 3.8/5 dari aku.
“buat apa nunggu, kalau kamu nggak tahu apa yang kamu tunggu? buat apa nunggu, kalau nggak tahu sampai kapan kudu nunggu? semua kan ada batasnya.” - hal 218.
tentang perasaan terpendam yang kerap dialami banyak orang, namun dibalut dengan alur cerita ringan yang tidak terprediksi🥺👍
"Lebih baik menikah dengan laki-laki yang mencintai kita, daripada menikah dengan laki-laki yang kita cintai" Ini diucapkan oleh ibunya Trisna. Menyakitkan tapi nyata. Seharusnya kan perasaan itu seimbang. Tapi nyatanya susah seperti itu.
Di novel ini banyak di perlihatkan kejadian yang sering terjadi di dunia nyata. Poligami, perselingkuhan, ragu memulai hubungan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
buku ini dari awal sampe akhir, bener2 cuma ngebahas percintaannya trisna. ada sih selingan, tapi cuma sedikit. jadi sedikit bosen. trus kayak karakternya si trisna ini aku bacanya capek sendiri, kayak segala hal harus diributin, karna full romance jadi ya sedikit menye2. jadi yah, aku kurang bisa menikmati
Fun fact: Zona@Tsunami by Dewie Sekar jadi novel metropop pertama yang aku koleksi loh!🤩
Klo kalian pecinta #novelMetropop angkatan lama, pasti gak asing sama penulis satu ini. Gak heran ya klo Dewie Sekar jadi salah satu penulis favorite-ku. Well, karena berkat karyanya, aku jadi ketagihan sama novel-novel Metropop dong, bahkan sampe sekarang~😆😍
Ada yang udah baca trilogi Zona@Tsunami? Atau duologi Alita@Heart?🙋🏻♀️🙋🏻 Fix, kalian masuk angkatan lama pecinta metropop~🤣❤️🔥🙌🏼
Sayangnya, aku rada kecewa dengan novel terbarunya, You Really Got Me yang terbit tahun 2019 lalu.🥲
Entah kenapa, sejak novel ini rilis, aku kurang excited untuk beli dan baca. Baru sempet beli bukunya tahun lalu pas diskon gede dan baru aku baca bulan kemarin.🙈
Keenggananku baca novel ini ternyata beralasan~
Hmm.. aku ragu deh buku ini masuk lini metropop. Entah kenapa gak pas aja gitu. Khas metropop-nya kayak gak ada.😪 Lebih cocok masuk lini Amore deh~
Ceritanya tentang Trisna yang naksir berat sama Mas Putra, yang notabene kakak sepupu dari Lorenzo, teman lamanya Trisna. Tapi ya gitu, hubungan mereka gak ada kemajuan, karena mereka adem-adem aja gitu.
Serius ya, buku ini tuh minim konflik yang bikin ceritanya flat banget. Karakter tokohnya pun gak ada yang menarik buatku. Aku malah dibuat gregetan sama Trisna dan Mas Putra yang gak sat set dan malah blunder.😪
Overall, meski cukup kecewa sama buku ini, tapi setidaknya rasa kangen-ku sama tulisan Dewie Sekar terobati. Meski samar-samar, ciri khas tulisan Kak Dewie yang ngalir, enak buat diikuti dengan diksi yang pas, masih melekat di buku lah~
P.S. Huhuhu, jadi kangen sama kisah Zona-Mutia-Sakti dan Erwin-Alita-Gading dong.🥹🫠
Suka sama sebagian besar ceritanya yang realistis... Kadang juga ngrasain apa yang dirasain sama trisna, seperti ego dan perasaan perasaan lain.... Good.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Saya membeli buku ini tanpa melihat sinopsisnya terlebih dahulu, saya cuma berbekal keyakinan dengan penulisnya. Saya penggemar karya-karya Dewie Sekar sebelumnya. Tetapi dengan tanpa mengurangi hormat saya kepada Penulis, saya agak kecewa dengan alur ceritanya. Cenderung flat saja, dan mudah ditebak.
Novel ini menceritakan tentang sosok Trisna, pemilik Restoran yang diam-diam menyukai saudara sepupu temannya. Yah inti cerita sih proses bagaimana pengungkapan perasaan antar dua orang ini, dibumbui dengan kenyataan bahwa temannya, Lorenzo, yang juga menyukai Trisna. Udah gitu aja sih. Settingnya di Surabaya, cukup detail penggambaran lokasinya, khas tulisan Dewie Sekar.
Sebenarnya saya berharap lebih dari novel ini, tapi nampaknya tidak ada, kadang konfliknya seperti dibuat-buat, jadi agak aneh. Seperti sikap Trisna yang ngambek karena Mas Putra tidak memperjuangkannya.
Gaya berceritanya ringan dengan bahasa yang mengalir, namun cenderung kurang bervariasi.
Re-read. Aduh, ini cerita yg ngaduk-ngaduk perasaan bgt. Mas Putra, aduh tolong ya. Tolong kalau suka sama anak orang, lebih tegas lagi dan gercep. Apalagi kl dpt sinyal bagus, tolong dilanjutin aja sampe goal! Gemessss banget. Krn covernya Trisna pakai hijab, saya pikir cerita hubungan mreka berdua akan berprinsip spt kaidah agama selayaknya novel mbak achi TM. Bukannya karya mbak dewie sekar ini nggak sesuai kaidah, ttp ada ilmunya kok (malah bbrp wkt Trisna sempat ngasih khotbah jg, terima kasih), cm ya, gitu. Msh ada batas2 yg terlewati. Don't judge me. Cuma mau bilang aja. Tp oke kok, mereka cukup sopan dan to the point mau langsung ke jenjang yg lbh halal aja. Terima kasih atas lahirnya buku ini. Saya menunggu lahirnya buku-buku selanjutnya dengan antusias!