Mimpi-mimpinya tentang “sukses sebelum 30 tahun” kandas seketika karena dia tak hanya belum menikah, tetapi juga tidak punya pacar sama sekali. Kariernya? Sama karamnya dengan kapal Titanic. Dia masih menjadi budak artis di Glow Event Company dan sadar tak bakal pernah naik pangkat menjadi artis itu sendiri.
Kepanikannya berlipat-lipat saat adik perempuannya, Lisa, akan segera menikah. Waduh! Dalam budaya Jawa, ada mitos mengerikan; jika kamu didahului menikah oleh adikmu, kamu bakal jadi jomlo. Selamanya.
Eli tak tahu apakah dia ingin menikah dan membangun keluarga. Tetapi, dia yakin tak ingin menua sendiri. Masalahnya, jika tak mau jadi lajang abadi, dia harus menemukan suami dalam waktu kurang dari 90 hari!
Kayak masih belum cukup, Eli dipecat dari pekerjaannya! Adakah yang lebih mengerikan dibanding berusia 30 tahun dan nggak punya pekerjaan?
Ada!
Berusia 30, jobless, jones alias jomlo ngenes, dan terancam jadi perawan tua.
Sempat harap-harap cemas Ken Terate bikin MP. Tapi ternyata tetap gaya khas dia dan tetap layak dinikmati! Kehidupan Eli juga terasa dekat tapi nggak gengges (buatku pribadi) pas baca. Geng Trio Macan-nya seru (tepok jidat kalo Rosa udah berisik). Galaunya Eli bisa dipahami. Dan koleksi sepatu Eli bisa dimaklumin (wadaw, sungguh aku tercubit, meski bedanya aku lebih ke sneakers).
Dan 360 halaman nggak terasa, tau-tau abis, bles.
Yang disayangkan cuma pengerjaannya... hehehehehehehe, padahal naskah ini bagus. Dan mataku kayaknya siwer karena ngerasa badan cewek di kover kok nggak proporsional. Tapi yowis, aku bukan ilustrator, haha
Eli, seorang gadis berumur 30 tahun. Di usia kepala tiga ini, Eli terancam menjomlo seumur hidup. Pasalnya, adik bungsunya sudah merencanakan pernikahan, sementara adiknya yang kedua segera menyusul untuk melamar pacarnya. Sementara Eli, jangankan calon suami, pacar saja dia belum punya.
Di tengah kesibukannya sebagai seorang Event Organizer, Eli meminta saran pada sahabatnya. Sandra, yang sudah menikah dengan seorang bule, dan Rosa, seorang fotografer lepas adalah dua orang sahabatnya sejak bekerja di Glow. Sayangnya, Sandra juga sedang dirundung masalah berselisih pendapat dengan suaminya. Dan Rosa, dia harus menghadapi dirinya hamil dan tidak bisa meminta pertanggunjawaban dari pria yang memberinya anak itu. Untungnya Sandra masih sempat memberikan catatan khusus kepada Eli dengan judul 90 hari mencari suami,
Mitos bahwa seorang perempuan yang dilangkahi menikah oleh adiknya menghantui Eli. Beberapa kali dia berkenalan dengan laki-laki, ada saja kendalanya. Dari yang 'anak mami' sampai seorang posesif. Meski Eli berusaha tidak mempercayai mitos itu, tapi sebenarnya dia juga takut seandainya nanti dia benar-benar tidak menikah.
Ken Terate sudah banyak mengeluarkan novel-novel dalam lini teenlit dan young adult. Namun novel ini adalah debut pertama beliau dalam lini metropop. Novel ini bisa saya bilang sukses sebagai debut pertama. Eli adalah gambaran gadis metropolitan yang sukses dalam karir namun memiliki tanda tanya besar dalam urusan jodoh.
Hanya saja, pengantar bagi Eli untuk sampai ke misi "90 hari mencari suami" itu terlalu panjang menurut saya. Butuh 90an halaman sampai akhirnya Eli memutuskan untuk mencari suami. Terlepas dari itu, saya suka dengan pesan moral yang disebutkan dalam novel ini:
"Lo boleh punya alasan apa pun buat nikah atau nggak nikah, tetapi ketakutan bukan salah satunya." (hlmn 288)
Novel ini saya rekomendasikan untuk kamu yang merasa senasib dengan Eli, atau yang sedang merencanakan pernikahan, atau bahkan yang terbersit pemikiran tidak ingin menikah. Mungkin pikiranmu akan berubah setelah membaca novel ini.
Judulnya mengingatkan sama film zaman nene terima raport. Key, jadi tersebutlah Mbak Eli, yang mendadak gundah gulana karena tahu adiknya mau meniqa. Mbak Eli pun memulai misi mencari suami, meskipun kata Mbak Eli ketakutan seharusnya ga jadi alasan untuk niqa atau tidak. Kurasa ini relate sekali di masa kini, karena ada beberapa orang ingin meniqa karena takut feeds instagramnya ada yang kurang, misalnya haghag. Pada akhirnya Mbak Eli meniqa dengan orang dekat wkwk. Kumenikmati metropop pertama Kak Ken ini. Sukses selalu! 81-2019
Yang ditakutkan beneran terjadi, kecanggungan percakapan bagi penulis yang biasa memakai gaya cenderung baku dan beraku-kamu dalam membahasakan kehidupan dewasa berlatar ibukota. Selain itu, meski sudah dilengkapi dengan referensi yang sangat kekinian, cara Eli bertutur terasa jadul, kayak ini seharusnya latar waktunya 2009-ish alih-alih 2019. Ditambah urusan teknisnya yang juga belum rapi-rapi amat, saya merasa tersendat sebelum tersedot ke dalam cerita. Makanya ngelarinnya jadi lama banget.
Satu ciri khas Ken Terate yang berhasil saya tangkap adalah perkembangan karakternya yang lumayan mulus. Saya yang tadinya sebel banget sama sikap para tokoh-tokoh di sini, lama-lama bisa mulai bersimpati.
Oh ya, baru kepikiran ini kalau diseriusin Ken Terate bisa jadi Kinsella dengan kearifan lokal. Kecanggungan berbahasa bisa disiasati dengan nggak ngambil latar Jakarta. Tuturan jadul aja nih yang perlu dipikirin lagi gimana baiknya.
Belum kapok baca ciklitnya Ken Terate, tapi kalau harus milih sih Jo, bahkan Sava, masih menang telak ya dari Eli.
Hampir suka, hampir tiga bintang.
Ps: Jujur setelah Minoel, lagi-lagi desain sampul sama judulnya bikin agak tengsin ya buat dibaca di tempat umum. Ken Terate deserves so much better than clickbait-y title and creepy illustration, don't u think? :")
lagi bingung baca apa, akhirnya baca buku ini deh. oiya, ini pertama kalinya aku baca karya ken terate. hmm, masuknya ke chicklit yaa ini, eh tapi metropop juga masuk deh kynya
eli berumur 30 tahun. eli punya 2 adik, tristan dan alisa. 3 bulan lagi alisa menikah! apakah eli takut dilangkahi? apakah eli akan menjadi perawan tua bila dilangkahi adiknya?
buku ini bercerita tentang eli yang mencari calon suami, kalau bisa sebelum adiknya menikah, eli sudah menikah. kalau diibaratkan, membaca buku ini bagaikan naik roller coaster.
berfokus pada kisah cinta eli, saat ada laki2 yang datang ke kehidupannya, aku kira oh that's great! ternyata red flag 😩 mungkin bukan red flag ya tapi emang nggak 1 prinsip aja.
1 yang aku pelajari dari mencari jodoh, kalau kita terlalu giat/terlalu terbebani (dengan umur yang sudah matang, misal, plus tekanan dari berbagai pihak), pasti akan sulit mendapatkannya.
saat kita santai2 aja, eh malah banyak yang menghampiri. kita juga nggak bisa menduga sih dengan siapa kita berjodoh, bisa aja malah orang yang nggak terduga kan?
perjalanan eli mencari suami dibumbui dengan kisah hidup teman2nya, rosa dan sandra, juga tentang tristan dan alisa. menurutku porsinya juga pas sih.
bakal baca buku lainnya dari penulis karena aku suka sama narasinya yang enak buat diikutin👌
Bagus! Engga cuma banyak celetuk2annya Eli (karakter utama) yg lumayan menghibur, tapi buku ini juga banyak kasih insight yg menurut gue pribadi cukup impactful "apa sih sebenarnya tujuan kita menikah?".
Naah, ini nih. Berasa baca metropop terbitan tahun 2006-2009 an. Kusuka gaya metropop yang terbit kisaran tahun segitu.. Btw tua ugha selera aing wkwkwk
Eli lagi uring-uringan. Adik bungsunya yang baru berusia 24 tahun berencana menikah. Itu artinya, Eli yang sudah 30 tahun dan jomlo itu akan dilangkahi dan terancam terkena kutukan perawan tua. Apalagi Tristan, adik pertama Eli juga sudah koar-koar bakal melamar pacarnya dalam waktu dekat. Jelas Eli makin uring-uringan, karena dia makin terancam jadi perawan tua. Karena itulah, misi Eli mencari calon suami dimulai.
Eli nih julid banget. Hahaha. Itu yang nempel di kepalaku selama baca. Yang julid bukan sikapnya, tapi isi pikirannya. Julid, judgemental, nyinyir, pokoknya berisik dan ngeselin banget pikirannya Eli nih. Terus, Eli ngatain Jay berpikiran sempit/dangkal, padahal sebenarnya dia sendirilah yang sedang berpikiran dangkal. Tapi aku nggak bisa benci sama Eli ini, karena aku yakin banyak orang yang kayak Eli ini, termasuk aku. Hahahaha
Menurutku, semua orang di sini nyebelin, termasuk pertemanan Eli dengan Sandra dan Rosa. Tapi nyebelinnya itu sangat alami dan manusiawi. Jadi nggak bisa dibenci gitu. Inilah kelebihan dari tulisan Kak Ken Terate, karakter-karakternya tuh senyebelin apa pun, tetap bisa dipahami gitu. Jadi masuk akal. Yang nggak kupahami di sini cuma Vivian. Sumpah ini karakternya jelek banget wkwk
Oh, ada satu karakter yang lucu banget di sini: Nina. Karakter ini nggak pernah muncul dalam adegan secara khusus, tapi kehadirannya sangat-sangat terasa dan menyusahkan hidup Eli 🤣
Porsi male lead di sini sangat minim, tapi ya wajar karena ini kan fokusnya di Eli yang sedang cari suami. Tapi aku suka sih interaksi Eli dengan calon Mas Bojo ini. Alami aja gitu.
Seperti yang sudah-sudah, tulisan-tulisan Ken Terate selalu berhasil memikat hatiku.
baca ini tuch bikin ketawa ngakak, sedih, terharu, pokoknya semua rasa ada dech.. prinsip Sandra agak sebal q baca'y, yaach walaupun di luar negeri biasa aja.. >,<
hei.. q juga merasakan apa yg dirasakan sama Eli.. tahun depan usia q sama kayak Eli.. :D
asli bikin kesal banget bos'y Vivian, pingin q tampar bolak balik kalau bisa.. XD
q juga agak sebal juga sich, sama pemikiran Eli.. yg banding" kan semua'y dengan merek branded, kan q nggak ngerti sama sekali.. maklum q cuma beli buku aja.. :p
30 tahun, karier stagnan, nggak punya tabungan, dan JOMLO. Hidup Eli nggak bisa lebih mengenaskan lagi dengan kondisi itu, ditambah kenyataan adik bungsunya bakal menikah. Mitos mengatakan jika adik menikah duluan artinya kamu nggak laku. Aduh, padahal Eli juga kepengin menikmati indahnya rumah tangga dengan suami tampan (kalau bisa banyak duit juga biar dia nggak perlu kerja). Di bibir selalu menyangkal soal mitos itu, tapi di hati ketar-ketir juga. Apalagi Tristan, adiknya yang lain, juga ikutan nyusul si bungsu. Dilangkahi adik cewek itu satu hal, tapi dilangkahi adik cowok? Fix, Eli nggak akan laku sampai tua. Ih, amit-amit. Jadi, di sisa 90 hari sebelum pernikahan si bungsu, Eli mencoba mencari calon-calon potensial yang bakal diseretnya ke pelaminan. Sebelum menyadari, mencari jodoh itu nggak segampang cari instan di rak dapur indekos.
Setelah re-read, rasanya ada yang beda. Agak fresh, tapi sebenernya nggak juga. Karakter Eli nggak bisa dibilang loveable atau nyebelin. Emang standarnya tinggi sih, terus karena sudut pandangnya fokus ke dia, jadi rasanya berisik banget. Well, karakterisasi dia berhasil merasuk ke bumbu, eh.
Di sini ada isu soal "melangkahi" saudara yang lebih tua buat nikah duluan dan itu bukan hal baru atau basi. Sampai sekarang masih ada yang percaya, ada juga yang bodo amat. Asal nggak bikin rugi orang lain, rasanya sah-sah aja sih soal langkah-melangkahi ini karena ya jodoh nggak bisa dipaksa datang detik itu juga apalagi hanya karena matahin mitos dirinya bakal nggak laku. Ketakutan yang nggak perlu, tapi bukan berarti juga bisa dientahkan seenaknya gitu aja. Semua ada unggah-ungguhnya.
Aku setuju sih, Bude Nunuk nggak hanya karakter fiksi belaka. Yakin banget di setiap keluarga pasti ada entah bude atau bulik yang jobdesc-nya sejak lahir selain jadi anak yang berbakti pada orang tua, menjadi istri yang baik, dan ibu yang menjadi teladan bagi anak-anaknya, juga perecok hubungan para keponakan alias seksi penanya, "Kapan nikah?". Eli nanggepin Bude Nunuk nggak bisa dibilang slay, tapi yah cukup memuaskanlah. Nyambit tanpa dibilang nggak punya sopan santun hehe.
Baca ini jadi seger, ditambah tulisan Kak Ken, bikin tambah mood <3
*** (11/04/21) Enggak ada yang lebih buruk ketimbang jomlo dan jobless di usia 30 tahun. Setidaknya begitulah tiga puluh tahun Eli. Selain kerja, kerja, kerja, dia bakal "dilangkahi" adiknya! Menurut mitos, kalau dilangkahi adik menikah, nanti bakal jadi perawan tua!
Perjalanan 90 hari mencari suami ini bikin gregetan, bukan cuma kisah Eli, tapi dua orang teman lain. Yah, hampir setengah buku isinya fokus mencari calon suami sebelum hari h pernikahan adik Eli.
Ha, metropop rasa teenlit. Mungkin karena Mbak Ken banyak menulis teenlit dan baru ini aku baca karyanya dalam metropop. Enggak buruk dan masih terasa ciri khasnya!
Porsi romansanya sudah pas untuk karakter berusia tiga puluh tahun. Tapi sayang banget, pelabuhan akhir Eli ternyata orang tak terduga, malah aku bertanya-tanya, "Loh, kok bisa?" Karena dari awal banget tokoh ini enggak muncul sama sekali.
Surprised sih pas tahu Ken Terate nulis metropop. Dan metropop-nya memang rasa teenlit. Khas Ken Terate, naskahnya bikin aku terus ngakak di bagian-bagian terkecil. Narasi pemikiran Eli si tokoh utamanya beneran mewakili kenyinyiran sebagian masyarakat Indonesia terhadap perempuan single berumur 30-an. Dan berasa tepok jidat baca isi pikirannya yang kadang gesrek kalo berhubungan dengan cowok wkwk.
Tapi semakin ke belakang, isi pikiran Eli jadi makin terasa lebih tenang. Aku suka persahabatannya dengan Sandra dan Rosa. Mereka bukan tipe cewek paling suci sedunia, tapi mereka bisa begitu setia kawan waktu masing-masing punya masalah.
Aku juga senang karena Eli bisa tegas saat berhadapan dengan cowok liberal macam Jay dan cowok abusif macam Dewa. Paling tepuk tangan waktu dia akhirnya memutuskan tidak akan membiarkan dirinya ditindas lagi oleh Vivian. Nggak ada adegan heboh yang meledak-ledak atau mencolok, tapi cukup menggambarkan resolusi yang dignified.
“Saya sadari itulah komitmen karena telah berani melamarnya. Saya sudah janji pada manusia lain, pada anak gadis dari seorang ayah dan ibu. Dia menerima saya dan saya menerimanya. Titik. Itulah pernikahan. Tak selamanya mulus, tetapi harus ada kelapangan hati untuk saling menerima.”
92% pahit, seolah menggedor akal pembaca akan realita (ea), awal awal sempet pengen dnf karena baik si eli temennya kantornya semua itu toxic bgd, but in the end sweet, plot twist nya lucu
Bismillah. Judul: 90 Hari Mencari Suami Aouthor: Ken Terate Genre: Metropop Penerbit: GM Pages: 360 Tahun: 2019
Judul novel ini memang agak...ya...membuat beberapa orang yg melihat saya membacanya berspekulasi sesuatu. Tapi wait, ini bukan buku tips & trik ala2 yg bisa dijadikan referensi untuk diaplikasihan semacam buku2 pengembangan diri yg menjelaskan how to-nya ya. Ini pure novel, kisah hidup seorang tokoh fiksi yg tentunya pasti ditulis oleh penulis dgn riset yg matang.
Novel ini bercerita ttg Eli, seorang EO berusia 30 tahun yg belum menikah & menjadi agak gelisah terhadap umur & status kesingelannya gara2 adiknya, Lisa, yg berusia 23 thn akan segera melangkahinya ke jenjang pernikahan. Ditambah, adik keduanya yg bernama Tristan pun berencana melamar seorang wanita, yg artinya Eli benar2 akan dilangkahi oleh 2 orang adiknya.
Keluarga Eli yg bersuku Jawa, sangat percaya akan mitos2 yg menceritakan ttg pelangkahan ini. Maka muncul lah tekanan yg menyudutkan Eli bahwa ia akan menjadi perawan tua jika didahului oleh adik2nya. Hal ini yg lantas melatarbelakangi Eli terobsesi mencari suami selama 90 hari terhitung hingga tgl pernikahan Lisa. Lantas berhasilkah misi Eli tersebut, yg didukung oleh Sandra & Rosa, sahabatnya yg juga memiliki masalah hidup yg cukup pelik.
Membaca novel ini membuat saya semakin memahami dunia pekerjaan dan kehidupan metropolitan. Bagian yg paling membuat saya tersentil adalah pada bagian, ke mana saja uang2 Eli dihabiskan dari hasil bekerjanya selama 7 tahun sehingga ia tidak memiliki aset berharga apapun padahal gajinya lumayan besar. Ternyata perintilan2 yg tidak penting adalah jawabannya. Ini cukup menjadi pengingat bagi diri saya sendiri. Jangan belanja yg tidak perlu! Ooh, tentu tidak semudah teorinya Fergusso.
Dan, menikahlah bukan karena takut, tapi karena memang sudah waktunya.
"Waktu akan cepat sekali berlalu. Jangan buang tiap detiknya. Jangan melakukan hal-hal konyol yang akan kamu sesali. Tetapi yang lebih penting, segera lakukan hal-hal yang mungkin akan kausesali bila tak kaulakukan." (Pak Dion, 227)
"Luka mungkin bisa sembuh, tapi bekasnya tak hilang." (244)
"Saya sadari itulah komitmen karena telah berani melamarnya. Saya sudah berjanji pada manusia lain, pada anak gadis dari seorang ayah dan ibu. Mimi menerima saya dan saya menerimanya. Titik. Itulah pernikahan. Tak selamanya mulus, tetapi harus ada kelapangan hati untuk saling menerima." (Pak Dion, 275)
"Ada hal-hal yang perlu kita lepas agar langkah kita lebih ringan" (Dewa, 313)
"Kamu perempuan merdeka, di zaman kemerdekaan dan hak asasi. Jadi kamu bebas melangkah kemanapun angin, eh sepatumu membawamu." (Dewa, 322)
Oh aku pribadi suka banget sama buku ini, dan duh baca ini, dibikin ketawa terus ga lama nangis terus ketawa lagi. Aku kalau baca ini di depan umum mungkin bakal dikira sakit kali ya wkwk. Tapi ya, aku baca dari hal. pertama sampai ga tau deh itu hal. berapa, yg jelas pas Eli akhirnya pulang pas lamarannya Alisa aku ngerasa kayak gimana ya? Bosen? menurutku ga begitu menarik malah aku sempat kepikir kayak nya ga bakal selesai baca ini, tapi setelah pulang itu menurutku jadi seru wkwk.
Ceritanya secara keseluruhan seru, tentang Eli yg selama ini kerja di perusahaan EO yg karena adik nya mau nikah dalam 90 hari, dan dia agak kebawa sama mitos yg bilang kalau nikah nya dilangkahi adik bakal jadi jomlo selamanya. Jadi dia berusaha nyari jodoh dalam 90 hari. Di antara semua perjuangannya nyari jodoh yang paling lucu itu pas ketemu salah satu teman kencan di Tinder itu yg namanya Anton. Asli itu sampe nangis gara2 kebanyakan ketawa.
Untuk hal yg menyangkut pekerjaan Eli, aku paling suka pas dia ngurus acaranya pak Dion dan Mimi, ih asli mereka pasangan yg manis banget!! Aku juga suka sama dua sahabat nya Eli, terutama Sandra! asli mulutnya itu ya. Kalau Rosa mungkin karena dia agak pendiam, jadi ga gimana2 sih. Dan Dimi meski bagiannya sama Eli itu dikit tapi manis sekali!.
Buku yang menceritakan kisah Eli yang mencoba mendapatkan suami dalam waktu 90 hari karena ketakutannya akan mitos menjadi "perawan tua" saat adiknya mendahuluinya menikah. Dalam perjalanannya mencari kandidat untuk menjadi calon suami, berbagai macam sudah Eli coba, dan berakhir tanpa hasil dan pada akhirnya Eli hanya menyadari pernikahan seperti apa yang dia inginkan.
Aku gak begitu suka dengan karakter di buku ini, ada keingininan untuk stop bacanya di awal. Buku ini rasanya seperti unedited version. Ada banyak ketidakkonsistenan, seperti penggunaaan elu-gue dan aku-kamu, informasi yang saling bertolak-belakang, dan informasi yang berulang di dua halaman berturut-turut, sehingga memberikan kesan kalau pembuatan buku ini terlalu terburu-buru dengan persiapan yang kurang matang. Mungkin karena aku bacanya di ipusnas kali ya, entahlah. Di pertengahan cerita, untungnya sudah bisa lebih menikmati bacanya, dan lumayan oke.
This entire review has been hidden because of spoilers.
aku udah jatuh cinta banget sama karyanya sejak baca Savanna dan Samudra dan berhasil dibuat nyengir sejadi-jadinya abis baca ini.
jujur awalnya aku beli asal comot karena iseng, didn't expect anything at first only for this book turning out so GOOD!! dari judulnya awalnya kupikir yaa, namanya mencari suami tuh, gimana sih? honestly i expected it to be filled with eli's effort trying to find a capable husband in 90 days because her little sister is getting married real soon, dan kalau nggak berhasil - menurut mitos jawa - dirinya bakal terkutuk jadi perawan tua dan jomblo selamanya. how awful is that! eli yang selain sudah 30 tahun, masih menjadi budak korporat, dan as single as she can be kelabakan. untungnya dia punya dua orang teman yang selalu setia (re: nyinyir) membantunya mencari jodoh sebelum pernikahan adiknya dilaksanakan. novel ini juga mengikuti pekerjaan eli sebagai event organizer dengan jadwal super padat yang bikin dia jadi susah mengatur waktu buat mencari suami. hampir menyerah, eli justru dipertemukan dengan beberapa 'calon' yang potensial.
yang paling aku suka adalah, novel ini gak sesimpel judulnya. it's not just about finding a capable husband, it's much more than that. ini tentang eli yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sampai lupa menikmati hidup, dan akhirnya kelojotan dengan ancaman jomblo selamanya ketika adiknya tiba-tiba hendak menikah. karakter eli di sini menurutku fresh banget, absolutely loving her sassy narrations HAHAHA. selain itu, keberadaan dua sahabat eli lainnya yaitu sandra dan rosa - yang juga dihadapkan dengan masalah masing-masing - membawa kesan hidup di cerita ini. gimana cara mereka bertiga saling menguatkan dan membantu sebisa mungkin. aku suka cara penyampaian dan bagaimana akhirnya mereka semua berhasil melalui masalahnya masing-masing, truly heartwarming!
it describes well how rough life could be in your 30s - pekerjaan yang seakan gak ada habisnya, bos jelmaan kuntilanak, kebutuhan yang semakin membengkak - and yet you must survive somehow. it taught me so many life lessons i never knew i needed before.
and in eli's journey finding a husband, she found herself. she finally took a big turn she could never imagine in her life, but surprisingly she was happy. in the end, she learned that in life, you have to let some things go to get the better in return. last but not least, loving the romance!!! karena jujur inti dari buku ini bukan romance, but still had me giggling and kicking WKWKWK sebel. i just can't help but to think kayaknya ken terate demen banget sama cowok lugu dan polos??? not that i'm against it though XD
another lesson learned, kadang yang kamu cari sampai jungkir balik itu ada di depan mata ^^
Selama ini saya selalu suka karya Mbak Ken, tapi buat yang satu ini, sejak awal tokoh utamanya, Eli, nggak bisa menarik simpati saya. Padahal saya punya urusan yang sama saat seusia Eli, yaitu belum punya pacar (dan sekarang juga belum sih, hehee).
Bagian prolog buku ini sudah bikin saya ilfil pada Eli karena dia sudah digambarkan sok cakep dan materialistis.
Sebut saja, Eli sama seperti kebanyakan tokoh chicklit/metropop, atau garis besarnya, sama dengan gambaran banyak perempuan pekerja kota besar lain: ✓ pendatang dari daerah (keluarganya tinggal di Yogyakarta), ✓ tinggal di kamar kos, bukan apartemen, ✓ bekerja di bidang yang tampak glamor tapi kenyataannya hidup macam budak korporat, ✓ cukup permisif dengan kehidupan malam atau pergaulan bebas (tapi masih berprinsip tetap perawan sampai malam pernikahan), ✓ akrab dengan barang bermerk, nongkrong di kafe, dan kartu kredit, yang bikin gajinya bertahun-tahun bagai tak berwujud.
Sebenarnya Eli punya aset bagus untuk bisa sukses di bidang pekerjaannya sebagai karyawan EO yang banyak berurusan dengan artis dan kalangan atas. Dia cantik, pekerja keras, dan... Sudah? Saya kok nggak bisa melihat Eli sebagai sosok kreatif, ambisius, atau kepala dingin. Sudah lama dia bekerja di Glow, namun kariernya di situ-situ saja. Walau tidak nyaman dengan politik kantor, tidak terlihat Eli cukup berjuang untuk bisa membuktikan keandalan dirinya.
Sebagai perempuan yang PD bahwa dia cantik, Eli sudab pernah punya delapan pacar sejak dia SMP. Gebetan, katanya banyak, nggak usah dihitung. Entah kenapa nggak tergambar kenapa perempuan secantik dia nggak punya pacar tetap. Kayak cuma flirting gitu saja, sampai tau-tau adiknya yang belum 24 tahun akan dilamar dan dan bersiap menikah.
Curhat Eli bersama dua sahabatnya, Sandra dan Rosa tidak langsung mendapat solusi bagaimana dia bisa menikah, minimal punya pacar prospektif, sebelum dilangkahi adiknya dalam waktu 3 bulan. Apalagi dua temannya juga punya masalah masing-masing dengan pasangan mereka.
Gambaran Eli disini adalah wanita modern yang gila kerja, masih santai dengan kehidupannya sampe2 lupa kalau umurnya udah cukup matang untuk berumah tangga. Alurnya cukup lambat karena terlalu banyak poin gak penting yg sebenernya gak perlu dibahas. Sampai mendekati akhir pun kisah cintanya bisa dibilang flat. Ceritanya malah lebih ke kehidupan Eli dan kedua sahabatnya, sedangkan kisah percintaannya malah jadi kaya selingan aja.
Gak cuma kisah Eli, kisah kedua sahabatnya Rosa dan Sandra juga diceritain disini. Dimana masing2 punya masalah dengan kehidupannya dan bagaimana mereka berjibaku menyelesaikan masalahnya sendiri. Walaupun pertemanan mereka banyak dramanya, tapi mereka tetap ada buat satu sama lain dan saling peduli satu sama lain. Love it!
Jujur, aku agak kurang suka karakter Eli yang (sedikit) ngeremehin orang dan merasa dirinya lebih hebat, terus sifat dia yang sedikit memaksa apalagi waktu Alisa dan Tristan bilang mereka mau nikah. Tapi menjelang akhir pengembangan karakternya jadi lebih baik, dia menjadi pribadi yang jauh lebih bijak dan pengertian.
Karakter yg paling aku benci adalah sandra dan tentu saja si Bos Titisan Kuntilanak, Vivian. Karena bagiku sandra itu munafik banget dan kufur nikmat (maaf, kasar🙇🏻♀️), kalau Vivian karena tingkahnya yang bossy (walau emang boss sih dia) dan sangat egois. Kalau bisa dibilang buku ini adalah cerita romansa, tapi untuk ukuran romance part saltingnya cuma di akhir aja dan setelah banyak chapter kita cuma dikasih sedikit bagian salbrut tuh rasanya gimana ya??? Nanggung banget gitu lho, tapi sejauh ini aku enjoy bacanya.
Walau pun momok menikah itu banyak banget dirasain sama banyak orang, terlebih lagi yang disangkutpautkan sama takhayul, percaya lah kalau jodoh itu pasti datang disaat yang tepat. Jangan takut untuk menikah dan berkomitmen, karena ketika sudah menemukan orang yang tepat, ketakutan kita itu ternyata gak ada apa2nya. Itu poin yang aku tangkap dari buku ini.
“Semua akan terjadi pada waktunya.” “Kita akan sampai kalau kita sudah sampai.” Benar sekali. —hlm. 348
Wow!! Ini novel atau isi hati dan pikiranku? Sebagai apa ya namanya ‘fakir asmara’ (?) rasanya seperti ditelanjangi apa-apa yang aku rungsingkan akhir-akhir ini. Seolah Eli telah menjadi jadi juru bicara diriku. Hahaha.
“Oh, astaga berat kuakui, tapi AKU INGIN SEMUA ITU. Soalnya mereka PUNYA semua itu dan aku nggak punya.” —hlm. 59
Novel ini menceritakan Eli, seorang EO yang menginjak usia 30 terancam jadi jomlo seumur hidup karena akan dilangkahi adik perempuannya dalam waktu tiga bulan. Dia juga terancam dilangkahi oleh adik laki-lakinya. Di samping itu, dia juga hampir jobless karena memiliki atasan yang super menyebalkan.
Bersama Sandra dan Rosa, sahabatnya, Eli mempunyai misi untuk menemukan suami dalam waktu 90 hari. Dalam perjalanannya, Eli bertemu beberapa cowok yang salah lagi, salah aja, salah terus; ada yang mesum, ada yang posesif dan anak Nini. Lucunya, aku nggak asing dengan proses Eli dalam menemukan ‘suami’. Wkwkwk. Pokoknya, selain kehedonannya; Eli dan aku adalah satu.
Di novel ini, selain Eli yang sulit ketemu jodoh, Sandra dan Rosa juga diceritakan memiliki problemnya sendiri terkait romansa. Porsinya nggak banyak, jadinya nggak mengganggu ceritanya Eli. Kisah mereka cukup menggambarkan kehidupan romansa perempuan di kota-kota besar. Banyak kisah romansa yang diselipkan, tapi nggak bikin fokus cerita kemana-mana; menguatkan target Eli.
Lalu, apa Eli akhirnya berhasil menemukan suami dalam 90 hari? Hmmm … gitu deh. Tapi di akhir aku malah nangis. Siyal. Tapi aku suka banget perkembangan karakter Eli.
Dari segi penceritaan, sayang banget mulai pertengahan sampai akhir bahasa yang awalnya asyik dan ringan jadi kaku. Apalagi bagian dialognya. Jujur agak terganggu, sih. Dari gue-lo, jadi aku-kamu, bahkan kau. Terutama perubahan bahasanya yang terkesan baku, bikin kurang nyaman. DAN banyak sekali serangan ‘tetapi’.
Sebenarnya ini buku sudah sering muncul di beranda, bahkan sudah di review banyak orang di goodread dan di instagram. Awalnya sudah tidak mau baca ini, dengan alasan, nanti disangka kebelet nikah. Tahu, kan, netizen +62? Hal-hal yang berbau soal pernikahan, pasti disangkut pautkan dengan kebelet nikah.
Dari judul sudah sangat menggelikan, bagaimana bisa menemukan suami dalam 90 hari hanya karena panik di usia 30 dan sudah mau dilangkahi oleh dua adiknya untuk segera menikah? 🤣😆 Tapi bener deh, yang bikin panik itu bukan karena usia itu sendiri tapi sebenarnya omongan orang sekitar, lebih tepatnya omongan tante dan om gitu 😅.
Awalnya juga sempat nggak suka sama tokoh Eli di novel ini. Berasa apa ya, menikah itu tentang hidup enaknya aja. Ingin ini itu sesuai kehidupan putri raja, padahal nggak gitu. Loh, kok saya kebawa sih? Padahal ini, kan, cerita fiksi 😄🤭
Oh iya, di sini tidak hanya menceritakan kehidupan Eli tapi juga tentang Sandra dan Rosa. Ceritanya tidak terpisah kok, mereka sahabatan, jadi saling berkaitan dan mengalir begitu saja.
Ini isinya bikin ngakak sih sebenarnya, dari prolog aja sudah bikin ketawa. Eli panik karena tidak ingin menerima usianya sudah 30. Ada juga Sandra yang gaya sarkasnya tapi tetap membutuhkan barang-barang mahal, dan yang paling ngakak itu ketika Rosa diberikan segopok uang dari supir si superlaknat untuk melakukan tindakan dosa untuk kedua kalinya. Tapi uangnya malah di serahkan ke ACT untuk Suriah, katanya. 🤣🤣🤣🤣
Buku ini bagus loh, bisa menemani kamu yang sudah dikejar-kejar deadline dari keluarga. Bukan untuk segera menikah ya, karena hal itu tergantung Tuhan gimana baiknya, kan? Lebih tepatnya bisa menyaring ulang pemikiran kita dengan hal-hal yang sebenarnya bisa dipermudah tapi malah dipersulit dengan adat 😅 Intinya baca ajabdeh, daripada penasaran.
📚 Metropop: 90 Hari Mencari Suami ✒️ Ken Terate 🎡 iPusnas 🥨 Gramedia Pustaka Utama 🎖️ 4,5/5
Review: Buku ini lucu BANGET. Awalnya aku gak terlalu suka dengan tokoh Eli si FL. Karena menurutku dia terlalu over dan sombong. TAPI ternyata itu yang bikin dia lucu. Aku suka gimana buku ini gak fokus di romansanya aja. Fokus di pergolakan batin Eli dalam mencari suami dan tujuan dia menikah tuh apa. Hal ini dibantu dengan kisah cinta sahabat-sahabatnya, rekan kerjanya, dan kliennya. Eli jadi dapat banyak perspektif mengenai pernikahan dan cinta. Aku juga suka bagaimana buku ini mengangkat isu pekerjaan dengan atasan semena-mena dan jam kerja yang gak manusiawi.
Buku ini juga memberikan pandangan kalau gak apa-apa loh kalau kita masih perawan. Dan kalau kita memilih untuk tetap perawan, ya harus cari pasangan yang mau menghargai itu sampai nanti menikah (cerita Eli dengan Jay). Lalu, bagaimana kamu gak seharusnya bertahan dan berani melepaskan laki-laki yang kalau marah ngomong kasar (cerita Eli dan Mas Dewa). Gak hanya itu aja, buku ini menyoroti masalah perselingkuhan yang pada akhirnya gak bakal baik. Seperti Sandra yang akhirnya cerai. Lalu klien nya Eli yang walau mereka rujuk tapi kehidupan rumah tangga mereka pahit tapi tetap harus bertahan. Meski si suami mencoba menebus itu sampai tua.
Terakhir, buku ini memberikan kesan bahwa sebelum mencari cinta orang lain, lebih baik memang kita mencintai diri sendiri. Lakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk diri sendiri. Untuk penulisan dll aku oke banget. Penulisannya cukup rapi walau aku agak terganggu dengan "Uf" yang cukup sering muncul.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ide cerita yang unik, membuat aku betah berlama-lama membaca novel ini. Berkisah seputar kehidupan modern vs tradisi dan mitos yang menurut anak-anak zaman now adalah kuno, nyatanya hal tersebut masih dipegang teguh dan dipercaya oleh beberapa orang. Termasuk Eli dan ya, aku mungkin. Hehehe. Buat jaga-jaga. Alur cerita yang cenderung maju, membuat pembaca gak perlu berpikir keras untuk mengingat-ingat jalannya cerita ketika deretan waktu dalam cerita harus berpindah. Good job. Pertemuan Eli dengan beberapa pria yang ia harapkan bisa menjadi suaminya selama 90 hari, menyajikan fakta bahwa dunia ini terisi oleh orang-orang dengan berbagai latar belakang dan watak. Dari cerita ini aku belajar bahwa jodoh itu unik, bisa jadi yang dicari-cari dan dinanti-nanti selama ini adalah orang-orang di sekitarmu, atau siapa pun. Benar kata pepatah, "semua akan indah pada waktunya." Meskipun, banyak yang mengeluhkan, 'kapan waktunya, itu?' Kemudian, ada hal terpenting dalam hidup ini yang mulai jarang kita temukan di zaman modern ini, yaitu sosok sahabat setia. Dalam cerita ini, persahabatan Eli dengan Sarah dan Rosa membuatku merasa bersyukur karena, aku juga punya sahabat (partner in crime) seperti mereka juga :D . Eli, Rosa, dan Sandra mempunyai chemistry yang begitu kuat. Selalu bersama dan saling menguatkan dalam keadaan apapun. Meskipun saling mengetahui kekurangan dan kelebihan masing-masing, tapi mereka tidak segan untuk mengutarakan ketidak setujuannya apabila ada hal-hal yang kurang berkenan.
Novel ini bercerita tentang Eli, sosok wanita karir berumur 30 yang terdesak untuk mencari suami. Adik bungsunya akan melangsungkan pernikahan dalam 90 hari dan adiknya yang lain juga akan menyusul dengan melamar pacarnya.
Akhirnya Eli dan kedua sahabatnya pun merencanakan misi 90 hari mencari suami untuk Eli. Karena dia tidak ingin mitos yg mengatakan dilangkahi adik untuk menikah akan membuatnya menjomlo seumur hidup.
Lalu akankah Eli berhasil dalam misi nya?
Ide ceritanya sendiri menurutku unik. Dan misi mencari suami dalam 90 hari ini cukup fresh untuk diangkat menjadi cerita, apalagi jika mengingat daftar cara mendapat jodoh versi Eli dan sahabat-sahabatnya disini buatku menghibur banget.
Alur yang disajikan pun mengalir dan mudah untuk diikuti. Hanya saja... bagiku interaksi tokoh-tokohnya masih kelihatan terasa kaku. Sebenarnya itu salah satu hal yang membuatku sedikit kurang nyaman saat membaca novel yang satu ini.
Oh ya, dan diawal aku juga cukup terganggu dengan pengulangan kalimat yang dilakukan Eli saat berinteraksi dengan adik-adiknya. Aku merasa obrolan mereka itu berputar2, padahal intinya itu huhu
Meskipun begitu, isu-isu yang diangkat dalam novel ini perihal mitos dan jodoh buatku memang patut diacungi jempol. Aku sangat suka.
⭐3,5 Total: 360 hal
This entire review has been hidden because of spoilers.
Jadi bagaimana perasaanmu saat umur 30 tahun belum menikah? Ditambah lagi kenyataan bakal dilangkahi menikah adikmu. Ini dialami oleh Eli. Bekerja di EO membuatnya sibuk sepanjang waktu hingga gak sadar telah memasuki umur 30 tahun. Ditambah keluarganya yang percaya mitos kalau dilangkahi menikah adiknya bakal susah dapat jodoh. Bertemu bermacam-macam laki-laki yang ternyata gak sesuai ekspektasinya hingga akhirnya menyerah sebelum pesta pernikahan adiknya.
Cerita ini seru sih, cuma kurang suka bagian-bagian awal yang terkesan lambat, penjelasan yang bertele-tele. Baru pas masuk bagian pertengahan cerita mulai jelas dan menarik.
Diksinya renyah, karena aku dulu pembaca teenlitnya Ken Terate. Jadi aku suka. Cuma aku nggak tahan sama lingkungan Eli yang buatku super toksik.
Mulai dari lingkungan kerja yang orang-orangnya nggak banget, saling sikut, atasan yang egois, sahabat yang matre bahkan pelakor. Ya ampun!
Gemes aja gitu pas baca, duh, mereka ini udah kepala 3 kok masih begitu pemikirannya. Padahal kepala 3 itu usia yang bisa dibilang cukup matang. Tapi mereka kayak ABG kelakuannya. Mungkin karena penulis terbiasa nulis teenlitnya kali ya, jadi para tokoh yang kepala 3 ini pada childish kayak ABG puber.
Makanya baca buku ini cukup melelahkan buatku, meski endingnya cukup manis.
Gue baca ini karena duluan nonton seriesnya. Buat membandingkan bagusan series atau novelnya. Premis dan plot nggak jauh beda sih sama versi seriesnya. kemungkinan 60:40 hanya adegan2 kecil yang beda. Tapi gue malah lebih suka seriesnya -konfliknya lebih padat series. menariq. -anaknya budhe nunuk di novel nggak guna banget -karakter sandra dan jay di novel ngeselin banget klien2 glow banyak yang beda. versi seriesnya lebih punya makna. versi novel masih banyak narasi bertele2. apalagi menjelaskan kenapa harus nikah usia 30+. dialog dimi makai "kau" itu kaku banget. perasaan wong jogja nggak make "kau"