Astaga, benar-benar luar biasa! Puisi-puisi di dalamnya akan membawa siapa saja hanyut dalam kepedihan terdalam. Tak hanya itu, ilustrasi-ilustrasi yang ada juga akan menambah kesan.
Beberapa bagian yang kusuka:
"Perjalanan ini akan menghabiskan air mata."
"Semua air mata akan menuju waktu, menuju rindu, menuju pulang."
"Air mata bukanlah kebetulan-kebetulan yang jatuh."
"Foto-foto itu di sana, tapi tidak kenangan kita."
Bagiku, membaca kumpulan puisi adalah salah satu bentuk dari menyembuhkan diri. Menenangkan sekaligus menyakitkan. Entah kenapa, di akhir membaca dapat lebih menyadarkan akan betapa indahnya tiap kejadian bila diukir dengan ribuan kata penuh makna.
Kurasa ini buku mas Adi K terbaik yang pernah kubaca. Nyesek banget di dada saking tapatnya. Sepanjang baca nahan banget biar air mata gak tumpah ruah wkwkwk.
"Kau tampak lelah, kataku pada diriku sendiri yang sibuk menghitung langkah-langkah kaki yang belum juga selesai kutempuhi." (Halaman 105)
🌧️🌧️🌧️
Membaca Kepedihan karya Adi K.
🥀 Buku ini berisi puisi-puisi yang sederhana tapi maknanya dalam banget. Ini menjadi ciri khas yang saya sukai dari puisi Adi K., karena diksi yang ia pilih adalah bahasa umum dan ringan. Jadi nggak sulit untuk memahami maknanya.
🥀 Ilustrasi yang ada di dalam buku ini juga bagus banget. Membuat pembaca jadi lebih mendalami nuansa dari setiap puisinya.
🥀Saat membaca puisi-puisi dalam buku ini saya merasa mellow banget, jadi ikutan galau gitu. Apalagi ditambah musim hujan yang masih setia menemui bumi. Beh, makin mellow kuadrat.
🥀Alasan saya baca buku ini karena saya pengin tetap baca buku tapi nggak sanggup kalau harus baca yang tebal-tebal karena lagi banyak deadline tugas dan nggak mau baca buku yang bikin nambah beban pikiran. Jadi akhirnya saya pilih buku puisi ini aja yang halamannya gak terlalu banyak (176 halaman) dan saya bisa menikmati bacaannya.
🥀Kutipan puisi yang saya suka dari buku ini: "Tergesa || Di buku yang tak pernah lepas dari genggamanku, kau membaca masa laluku dengan tergesa-gesa. Aku pun segera menghentikanmu sebelum kau melewatkan sebuah kalimat yang sangat penting, atau malah, berhenti di paragraf yang salah." (Halaman 24)
🥀 Terima kasih banyak Kak Adi yang sudah menulis kumpulan puisi ini. Memang puisi di buku ini lebih banyak berbicara tentang kepedihan. Tapi saya justru merasa seperti bertemu teman seperjuangan. Membuat saya semangat menghadapi hari yang akan datang.
Rate: 2,5/5 Saya selalu sulit membaca kepedihan, dalam beberapa doaku kepada Allah Yang Maha Memahami, saya kerap kali berdoa untuk dipahamkan perasaan saya sendiri. Namun sepertinya buku ini juga belum bisa membantu saya "membaca kepedihan", gaya menulis kak Adi cukup rumit untuk saya mengerti. Namun saya menyukai 3 puisi yang ditulisnya dalam buku ini: Jauh Lebih Panjang, Beranjak Dewasa dan Jika Tak Pernah.
• Jauh Lebih Panjang •
Dua senja lagi aku tiba pada matamu. Rumah segala pulangku. Awan segala tengadahku. Aku ingin tidur sebentar di sana lalu bercakap lama. Bukan tentang kepergianku yang luka dan beku, tapi tentang kepedihanmu yang aku tahu jauh lebih panjang dari itu.
Tulisannya Adi K. gak pernah gak nyentuh hati saya ketika membacanya. Ini sudah kesekian kali saya baca tulisan beliau dan benar-benar bermakna.
Puisi-puisinya juga tidak terlalu sulit untuk dipahami. Sesuai dengan judulnya, isi dari buku ini memang memgantarkan rasa pedih di setiap untaian kallimatnya.
Saya rasa, ini akan lebih cocok dibaca oleh mereka yang sedang patah hati.
Di halaman pertama ada tulisan “Untuk Bapak” jadi pas baca ini entah kenapa setiap katanya kepikiran dengan orang tua. Sedih, apalagi teringat kenangan dan hal yang nggak bisa diulang.
Membaca semua puisi di buku ini begitu tenteram bagi jiwaku meskipun maknanya sulit ditangkap oleh logika. Aku suka buku ini karena diksinya tidak terlalu berat dan narasinya cukup bagus.