Jump to ratings and reviews
Rate this book

Interlude

Rate this book
Hanna,
listen.
Don’t cry, don’t cry.
The world is envy.
You’re too perfect
and she hates it
.

Aku tahu kau menyembunyikan luka di senyummu yang retak. Kemarilah, aku akan menjagamu, asalkan kau mau mengulurkan tanganmu.

“Waktu tidak berputar ulang. Apa yang sudah hilang, tidak akan kembali. Dan, aku sudah hilang.” Aku ingat kata-katamu itu, masih terpatri di benakku.

Aku tidak selamanya berengsek. Bisakah kau memercayaiku, sekali lagi?

Kilat rasa tak percaya dalam matamu, membuatku tiba-tiba meragukan diriku sendiri. Tapi, sungguh, aku mencintaimu, merindukan manis bibirmu.

Apa lagi yang harus kulakukan agar kau percaya? Kenapa masih saja senyum retakmu yang kudapati?

Hanna, kau dengarkah suara itu? Hatiku baru saja patah.

380 pages, ebook

First published May 1, 2014

29 people are currently reading
764 people want to read

About the author

Windry Ramadhina

12 books824 followers
young woman with lots of interests, ambitions and dreams, which shattered into pieces, each surfaced as different face and waiting for itself to become whole once more time. her world came to architecture, illustration, photography, literature, business, and japan. used to known as miss worm in cyber world. shattering her pieces at kemudian.com and deviantart.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
320 (29%)
4 stars
441 (40%)
3 stars
271 (24%)
2 stars
47 (4%)
1 star
21 (1%)
Displaying 1 - 30 of 226 reviews
Profile Image for Yuni.
88 reviews48 followers
January 16, 2015
Hanna, listen...
Stop stuttering once every few sentences, it's getting on my nerve.
You're too meek and I hate it.
You don't make any sense and I hate it.
You are being irrelevant and I hate it.
You are too submissive and I ABSOLUTELY hate it.
Hanna, listen...
What didn't kill you should make you stronger.


Lega banget bisa namatin novel ini karena beberapa kali sudah pingin aku taruh demi novel lain, tapi karena males banget kalau harus baca ulang dari awal lagi nanti-nanti, akhirnya aku tamatin langsung.

KARAKTER distinguished and consistent
As mentioned, karakter-karakternya jelas (aku nggak pakai kata 'kuat' karena takut rancu) dan ada perkembangan di tiap karakternya meski alur logika dua pemeran utamanya nggak bisa aku ikuti.

HANNA: meet your typical damsel in distress
IMHO, Hanna got the boy by being a tragic heroine and by standing there flashing her perfect beauty.

Se-ri-us. Menurutku dari awal sampai akhir, Hanna nggak melakukan apa pun selain tergagap-gagap, memasang wajah melankolis, bersikap kikuk, menundukkan kepala karena malu, dan menunjukkan kecantikannya yang sempurna--tapi, hey, it worked! she gets all the attention that way.

Hanna itu sempurna. lekuk tubuhnya sempurna, cantik wajahnya sempurna, mungkin cara bersinnya juga sempurna. sikap lemahnya dianggap manis. gagapnya menggemaskan. diamnya bikin orang tertarik... dan ini kata-kata yang sering dipakai untuk Hanna: berlaku patuh, menurut, dituntun, mengikuti... AARGH, enough! Kill me! Now!

I'm no shrink and I don't understand psychology, tetapi apa gadis dengan trauma seperti Hanna lantas akan berubah submissive? karena menurutku sikap defensif dan evasif lebih terdengar masuk akal.

Ditambah lagi, aku nggak bisa ngikutin logika Hanna atau caranya menelaah situasi.
1. Case pertama
Mengalahkan trauma dan segala horor dalam mimpi-mimpi buruknya, Hanna membiarkan seorang lelaki (yang sangat mencurigakan, btw, yang baru juga dia kenal, btw, yang jelas-jelas keliatan bad boy, btw) masuk ke apartemennya malam-malam!
2. Case kedua
Dia sudah disakiti sedemikian rupa oleh lelaki dan Kai juga sempat menyerangnya. lalu Hanna memaafkannya--oke, itu bisa diterima--tetapi setelah satu kali makan malam plus obrolan di atas atap, Hanna mau-mau aja diajak pergi ke laut sama Kai. berdua. pakai rencana nginep pula. Gila! Ni cewek mikir pakai apa? Traumanya sama cowok hilang ke lautkah?

Ms. Writer's excuse: Hanna berhati lembut. lembut banget sampai itu bisa melawan traumanya yang sangat mendalam? dan akal sehatnya?

My question: kalau dia memang berhati selembut itu, kenapa sepertinya itu hanya berlaku untuk urusan Kai? kenapa nggak untuk pemilik kedai kofilosofi? di awal-awal cerita, nih, ya... seingatku Hanna nggak sengaja menyiram si pemilik kedai dengan latte panas. dan tebak apa tindakannya setelah itu? dia langsung lari. kenapa kelembutanhatinya yang nggak tega nolak cowok mencurigakan seperti Kai masuk ke kamarnya nggak berlaku untuk pemilik kedai yang dia siram pakai kopi panas padahal pemilik kedai itu terang-terangan orang baik?

Absurd.

Dan aku berusaha nyari jawabannya, tapi cuma ketemu satu alasan: Kai cakep luar biasa dengan senyuman sensual yang bisa melelahkan hati gadis-gadis.

Kesan yang aku dapat dari karakter Hanna: dia gadis sempurna berhati lembut bak malaikat. dia nyaris jadi "a perfect guide for a damsel in distress character", tapi untung Ms. Writer menyelamatkannya dari kategori itu di detik-detik terakhir.

Dan sepertinya aku nemu kenapa Hanna being the way she is waktu aku baca di belakang kalau Ms. Writer "diam-diam ingin menjadi Hanna supaya bisa bertemu pemuda bandel yang bermasalah seperti Kai."

Author's insertion much? No?

One last question buat Hanna:

KAI: meet your typical self-destructive bad boy
Kai, karakter utama yang sebelah lagi. Dia tampan luar biasa, idola para gadis, sebelum cuti kuliah IPK-nya selalu 4 sempurna, pemain gitar paling jenius di Indonesia yang muncul cuma sepuluh tahun sekali, and he is a bad boy. yep, you heard it right.

Dan orang secerdas Kai, one would expect him to be mature and all, tapi sama saja dengan Hanna, aku juga nggak bisa ngikutin alur logikanya. Bisa jadi dia cerdas luar biasa dengan IPK sempurna, tapi jelas kecerdasan emosionalnya under developed.

Dan alasan Kai untuk:
- menghancurkan hidup dan masa depannya sendiri, terlalu dangkal dan nggak jelas, imho
- mendadak berubah sikap dan pola pikir di tengah-tengah, terlalu jumpy
- untuk playboy kelas kakap macam dia, terlalu mudah tobatnya

All in all, he is bad boy who meets angelic girl with trautamitc past. bisa tebak apa yang terjadi selanjutnya? yep, benar, Anda pembaca novel roman berpengalaman.

JALAN CERITA: alur utamanya ketebak, yang lain-lain bisa diduga dan diharapkan
Alur utamanya sudah kebuka dari awal, ending-nya juga seperti sudah hampir disegel juga dari blurb di sampul belakang buku, dan Ms. Writer lebih fokus ke bagaimana kisah dua pemeran utamanya sampai menuju ending yang sudah jelas itu.

Meskipun aku agak berharap kalau Ms. Writer bakal menyuguhkan sesuatu yang beda. misalnya Hanna yang dibuat hina sama lelaki, dia nggak membutuhkan lelaki untuk bangkit dan menghapus rasa hina itu dari dirinya. dia akan menemukan kekuatan dalam dirinya sendiri--karena dia calon jurnalis, misalnya dengan... dunno, meliput kisah-kisah inspiratif dari orang-orang dengan masa lalu kelam sepertinya, mungkin. intinya, dia menemukan kembali harga dirinya, dan itu bukan karena lelaki .

Tapi... of course it wouldnt work that way. It's romance novel after all so it has to move in standard way for romance.

Dan mungkin untuk banyak orang, kisah Hanna dan Kai ini manis dan menyentuh banget, but I'm sorry to say that it didnt work for me. Imho, Kai suka Hanna hanya karena fisiknya yang sempurna (ini berkali-kali ditekankan Ms. Writer), sikapnya yang menggemaskan kalau tergagap dan menunduk malu-malu (ini juga beberapa kali ditekankan), dan karena itu ada di dekat Hanna menyenangkan buatnya.

Let's take time to think and consider here... kalau, seandainya, misalnya, Hanna hanya gadis dengan kecantikan rata-rata atau di bawah rata-rata tetapi dengan kisah hidup yang lebih tragis--ditambah sifat yang lebih tegar--apa Kai akan peduli?

Tapi, sekali lagi, ini masalah selera, dan aku memang suka kisah cinta dengan akar yang kuat, move past beyond physical appearance, misalnya:

Saking pedulinya aku sama nasib karakter-karakter tsb, sampai-sampai ada kasus aku nggak kuat lanjutin baca karena takut karakter itu mati dan mereka nggak happy end. and that's what I mean by the authors get the job done with their characters, on me at least.

GAYA BERCERITA: runut, lugas, jelas, dan lancar
Meskipun--selalu ada meskipun :p--penggunaan kata 'kau' dalam percakapan orang Indonesia, di Jakarta, berasa nggak realistis banget nget nget nget. tapi rasa-rasanya aku bisa memahami Ms. Writer karena kata 'kamu' atau mungkin 'elo', bisa mengurangi keindahan sebuah kalimat.

Satu catatan lain: sepertinya Ms. Writer punya aturan yang luar biasa longgar untuk menggunakan kata 'sempurna' dalam deskripsinya. Bahkan sampai-sampai di hal. 144 ada tiga kata sempurna dalam satu paragraf, semua untuk deskripsi.

Dan terakhir aku tahu, menangis itu ini => http://kbbi.web.id/tangis tapi di buku ini sudah diubah jadi (Hal. 280) Dia menangis tanpa suara, tanpa air mata. Aaw, aku berharap banget bisa nangis seelegan itu, nggak perlu sampai mata bengkak dan ingusan.

Memperhatikan => memerhatikan http://kbbi.web.id/perhati.

Dan... udah itu aja. Buku ini bisa aku baca sampai tamat tanpa banyak mendesis dan loncat-loncat paragraf.

TRIVIA
dalam film dan novel, karakternya bisa banget gitu ya bangun dari mimpi buruk dalam keadaan bangkit duduk saking kagetnya. aku nggak pernah bisa kayak gitu, sehoror apa pun mimpinya.

OVERALL
Dua bintang, for I simply follow goodreads rating system. The book was "it was ok" for me becoz Hanna kept getting on my nerves (dan Kai juga kadang). Tiga bintang, untuk faktor-faktor lain yang membuat buku ini, without a picky reader like me, could well deserve it.

Yang terakhir ini bener-bener gak pantes disebut, sih, tapi aku nggak bisa berhenti mikir kalau novel ini

Drop your kritik n saran for me^^:
https://www.goodreads.com/story/list/...
Profile Image for Yuli Pritania.
Author 24 books286 followers
May 1, 2015
Guess what, I'm writing this review at 05:19 AM in Sunday morning. That's how exciting I am >.<
Udah dua hari buku ini tergeletak di meja dan saya lagi males2nya baca walaupun sempat teriak2 jg pas buku ini nyampe rumah dan ngeliat ada tanda tangan Mbak Windry Ramadhina, penulis Indonesia nomor satu favorit saya.
Jadi ceritanya, pukul 2 pagi saya planga-plongo depan TV stlh seri Batman terakhir yg diputer HBO abis. Males tidur, maka berakhirlah dengan melirik novel bertema laut ini. Dan seperti novel2 Mbak Windry lainnya, sekali dibuka, jangan harap bisa ditutup sebelum selesai membaca.
Momen pertama jatuh cinta pada Kai itu pas halaman 69, dengan dialognya "Karena lelaki berengsek itu melukai sesuatu yang sangat kusukai", dia mencuri hati saya. Ditambah dengan 'gadis sempurna di meja sembilan' dan panggilan spesialnya buat Hanna, Gadis dari Ipanema. Makin tergila-gilalah saya.
Saya nggak bakal bahas cerita, karena Mbak Windry jagonya dalam meracik cerita dengan kata-kata sederhana yang selalu terkesan luar biasa. Tapi saya cuma mau bilang, saya cinta akhir kisahnya. Ini ending paling menyentuh dari semua novel Mbak Windry yg pernah saya baca. Cuma bisa mesem-mesem pas adegan 'hampir' menuju akhir, saat Hanna menyebutkan namanya di depan semua orang dan mereka hanya bisa menimpali dengan satu kata 'Oh'. Itu 'jleb' banget buat saya.
Oh, jgn lupakan lagu 'Hanna'. Saya suka bgt sama liriknya, terutama di bagian "Girl, my girl, that day I promised to kiss your pain away". Ini ngomong2 bisa dijadiin lagu beneran nggak ya? *ngarep*

Tapi... nggak ada yg sempurna di dunia. Novel ini juga sama. Saya menemukan beberapa kesalahan yang mungkin terlewat waktu proses editing.

Halaman 72, nahas. Seharusnya naas.
Halaman 79, bagaimana pun. Seharusnya bagaimanapun.
Halaman 355, diotak-atiknya. Seharusnya diutak-atiknya.

Kurang kerjaan banget saya, hahaha... Tapi ini karena saya suka banget sama novelnya, makanya memperhatikan setiap kata dengan teliti dan saksama.

Saya jarang menggunakan kata ini untuk mengomentari adegan film ataupun novel yang saya baca, kecuali kalo saya benar2 terpesona. Dan untuk novel Interlude ini, saya cuma punya satu kata: INDAH.

Novel ini favorit saya yang kedua setelah Memori. Padahal katanya Interlude nggak masuk rencana, hanya karena ditawarkan penerbit saja untuk genre baru new adult. Tapi yang namanya tulisan Mbak Windry Ramadhina, kapan sih saya nggak terpesona?
Profile Image for Christian.
Author 32 books841 followers
May 14, 2014
membaca novel ini saat masih berstatus naskah mentah. it's a page turner dan gue berani bilang, pembaca nggak akan kecewa membaca novel terbaru windry ini.
Profile Image for Karst.
22 reviews
June 16, 2014
Jujur, kalau ketagihan novel Windry adalah perbuatan ilegal, I've committed a very serious crime :)

Saya (sangat) suka London: Angel. Saya jatuh cinta dengan Memori. Saya kagum dengan Montase dan Metropolis. Tapi jujur, untuk yang satu ini, saya merasa sedikit lain.

Berbeda dengan novel lainnya, Interlude tidak meninggalkan kesan yang mendalam. Maaf, tapi saya baca Montase setelah Interlude dan berhasil jatuh cinta. Saya tidak bisa jatuh cinta dengan Interlude. Padahal, ini buku pertama Windry yang saya tunggu-tunggu.

Sinopsisnya menarik. Saya juga suka alur ceritanya secara keseluruhan.Saya suka banget nuansa Jazz-nya! Juga kenyataan bahwa Windry menggambarkan semua tokohnya dengan benar-benar nyata, setiap orang punya cela. Oh iya, saya juga suka banget sama lirik lagunya!!!

Tapiiiii, menurut saya Kai belum bisa semenarik Rayyi, Gitta yang diceritakan sinis pun menurut saya masih jauh di bawah level Simon dan Samuel. Jun oke-oke aja (dan berhasil membuat saya meleleh). Dan Hanna... saya suka, tapi ketika Hanna berinteraksi dengan Kai, entahlah, mungkin ini masalah selera, saya tidak merasakan chemistry di sana.

Well, terlepas dari semua itu, saya masih menunggu novel Windry selanjutnya, kok :)
Profile Image for Jessica Ravenski.
360 reviews4 followers
November 9, 2014
Suka banget sama buku ini. Bakal masuk ke daftar buku terfavorit tahun 2014 nih. Bacanya udah lama, tapi masih kebayang-bayang sampe sekarang. Mari ulas satu-satu alesanku kenapa suka sama buku ini:

Pertama, suka covernya (warna birunya ngingetin sama The Way We Were-nya Sky Nakayama).

Kedua, suka semua karakternya (kecuali Ian loh). Mereka semua lovable banget. Ada Kai, si bad-boy insyaf begitu ketemu Hanna, memang sih ga sekali ketemu langsung insyaf tapi mulai muncul perubahan. Terus ada Gitta, si cewek sinis tapi perhatian (sama Hanna), bukan tipe cewek tukang gosip dan ngomongin orang. Ada Jun, yang suka sama Gitta. Kalo Hanna mah gak usah diomongin lah ya... Karakter yang paling bikin adem, walaupun di sini dia punya trauma mendalam.

Ketiga, suka gaya bahasa kak Windry. Indah tapi ga menye-menye yang bikin pengen nyolok-nyolok mata. Yaampun kak, kok bisa sih bikin buku yang bikin adem-ayem-tentram-sentosa begini? :""")

Keempat, ada beberapa momen yang jadi favorit banget. Satu momen yang paling diinget adalah pas Kai berada di masa-masa kacaunya (udah ancur banget deh tuh dia), tapi si Hanna malah nyamperin dia dan meluk dia (secara gitu ya, Hanna kan sebenernya punya trauma sama cowok, pasti ga gampang lah buat deketin cowok lagi, apalagi sampe meluk). Momen satu ini bikin 'AWWWWW' 'YAAMPUUUN', jadi kepengen meluk mereka berdua juga kan jadinya.... #eh

Kelima, blurbnya (yang ternyata diambil dari lirik lagu 'Hanna'). AHHH, SUKA SEKALIIII. Hanna. Listen. Don't cry. Don't cry. The world is envy. You're too perfect. And she hates it.

Lima bintang jelas ga diraguin lagi buat buku ini. Kak Windry fix jadi author favorit :))) Ga bisa ya kak ngeluarin buku baru tiap bulannya? *dikeplak*
37 reviews9 followers
February 29, 2020
Bosan dengan cerita Wattpad, teman saya menyodorkan ini sebagai gantinya. Saya yang baru saja berumur 14 tahun waktu itu juga tidak lepas dari daya tarik seorang Kai Risjad. Sama seperti cerita-cerita Wattpad yang klise, beliau juga menyuguhkan cerita seorang bad boy yang tobat karena perempuan.

Interlude merupakan karya yang mengantarkan saya kepada buku-buku beliau yang lain. Pertama kali baca tahun 2016, jujur saja saya klepek-klepek dengan Kai (mungkin karena faktor pubertas atau mainnya kurang jauh, saya tidak tahu). Akan tetapi, setelah saya membacanya lagi karena saya lupa bagaimana kisah detailnya, saya kesal setengah mati dengan tokoh utama dan tokoh pendamping; Gitta (saya oke saja dengan Jun).

Diceritakan bahwa Hanna seorang korban pemerkosaan. Sejak kejadian itu, dia menjadi lebih tertutup, sering menangis, takut dengan laki-laki, dan bicara tergagap-gagap, bahkan di hadapan ibunya. Tapi apa yang ditunjukkan oleh penulis itu berbanding terbalik ketika Hanna berinteraksi dengan Kai. Hanna selalu menampakkan rona merah di wajah dan menunduk malu saat Kai menggodanya, (seharusnya ekspresi heran atau takut, sih) Hanna SELALU MEMAAFKAN ketika Kai menciumnya, (seharusnya Hanna bisa mengetahui gelagat Kai, apalagi Kai mencoba mencium beberapa kali alias kan bisa menghindar, Bambanggg) Hanna juga mengizinkan Kai masuk ke apartemennya walaupun baru kenal dan Hanna tidak tega menolaknya karena dia mempunyai hati yang sangat lembut, HA!

Untuk seorang bad boy yang jam terbangnya tinggi, Kai dengan mudahnya tobat karena dia menyadari bahwa Hanna berbeda, alias---meminjam istilah Gitta---dia bukan gadis tolol. Memang bukan, mengingat dia seorang mahasiswi jurnalisme, tapi dia---meminjam istilah saya---berjiwa budak. Gimana enggak, dia selalu manut kalau Gitta dan Kai membawa Hanna ke suatu tempat.

Kai seorang mahasiswa FHUI yang terancam DO dan digelari oleh penulis sebagai gitaris genius Indonesia. Dengan ditempeli IPK 4 selama 6 semester, saya tidak melihat tanda-tanda kegeniusan Kai selain dari lagu "Hanna" berada di puncak tangga lagu dan Hanna sangat menyukai lagu gubahan Kai.

Saya pikir Hanna dan Kai akan terlibat pembicaraan yang mendalam mengingat mereka berdua pintar, saya pikir Hanna akan menjadi aktivis atau kegiatan yang berhubungan dengan kisah hidupnya, saya pikir Kai sulit menjadi manusia yang baik jika tidak dari dirinya sendiri, dan saya pikir Gitta itu wanita kuat yang akan mendampingi Hanna selama proses penyembuhan.

Semua ternyata cuma pemikiran saya doang. Semuanya terlalu mudah dan terlalu banyak kebetulan.

Selesai baca kedua kalinya pada 24 Januari 2020.
2,7
Profile Image for Yulistiani.
309 reviews33 followers
July 15, 2014
Ini adalah tentang dua ketidaksempurnaan yang saling bertemu. Kesamaan itulah yang membuat mereka dekat, dan saling mengobati luka masing-masing.

Kai, tipe orang yang tidak ingin kaudekati. Pemabuk, senang bermain wanita, tidak punya tujuan hidup.

Hanna, seorang gadis yang sangat rapuh, mempunyai sebuah trauma yang membuatnya menjaga jarak dengan dunia.

Ini adalah tentang memercayai seseorang. Bukan seseorang yang akan mencegahmu terjatuh, namun seseorang yang siap menangkapmu di bawah.

Sepertinya sebuah kisah yang klise, namun diceritakan dengan sangat indah. Aku tidak bisa tidak jatuh cinta kepada Kai sekarang :"
Profile Image for Seffi Soffi.
490 reviews143 followers
April 1, 2021
3.5🌟

Pertemuan dengan Kai itu emang nggak sengaja. Di mana ketakutan Hanna masih selalu ada. Bertemu dengan lelaki tampan menjadi lebih waspada. Apalagi dia pun udah diwanti2 buat hati-hati klo bertemu dengan Kai.

Ya Kai adalah seorang playboy, perempuan hanya selewat2 aja. Nggak pernah serius. Tapi ketemu Hanna, membuat Kai langsung melancarkan aksi. Sayangnya Hanna nggak mudah didapatkan. Apalagi setelah masa lalu yang menimpanya, Hanna sulit untuk percaya kepada laki2. Kayaknya Kai mesti berjuang lebih giat lg.

Ceritanya khas banget kak Windry, menarik. Tema ceritanya ini tentang trauma masa lalu.

Aku suka karakter Hanna, dia meski melalui hari2 yang berat karena masa lalunya itu. Ya Hanna sosok yang rapuh, dan harus terbiasa dg keadaan ini. Kai, agak menyebalkan sih ya meski dia emang manis tapi sikap tempramennya ini sulit banget buat diubah. Tapi ketemu Hanna, mengubah sgalanya tentang Kai 😍.

Gaya bahasanya kaku ya, mirip terjemahan gitu tapi tetap enak buat diikuti. Memakai sudut pandang orang ketiga, perasaan tokohnya digambarkan dg baik. Bikin baper dan emosi jg😅.

Interaksinya seru dan chemistrynya itu berasa.

Dan emang konfiknya lebih ke batin, gimana caranya untuk bisa berdamai dengan trauma. Sulit sih ya, tapi emang harus dilawan dan berjuang biar si trauma ini pergi. Romansa cintanya konfliknya pas, eksekusinya apik & rapi. Endingnya sukaaa 😍😍.

Overall, kusuka ceritanya! Yang suka tulisan penulis wajib baca nih~
Profile Image for Ira Booklover.
689 reviews45 followers
March 9, 2016
Hanna,

listen.

Don't cry, don't cry.

The world is envy.

You're to perfect

and she hates it.

(Interlude, hlm. 367)


Bagus banget kisahnya.

Dari ucapan terima kasih penulis, saya baru tahu kalau novel ini bergenre New Adult, walaupun saya masih belum sepenuhnya paham apa itu genre New Adult (#^.^#). Biasanya novel-novel seperti ini saya pukul rata ke dalam genre romance.

Tadi, saya sudah bilang ya kalau novel ini bagus banget. Oke, saya katakan sekali lagi kalau novel ini memang bagus banget. Setidaknya bagi saya sih. Ceritanya mengalir begitu saja, membuat saya terhanyut.

Mmm, tapi sesekali tersenyum juga sih, cuma bukan karena ada adegan lucu, tapi karena nama Kai. Soalnya, Kai dalam bahasa Banjar-nya Kalimantan Selatan, artinya kakek. *sungkem*.

Tapi Kai disini bukan kakek kok. Kai adalah seorang pemuda super bandel. Bandel tapi menarik. Kepiawaiannya bermain gitar dan arti dibalik namanya mampu menyelamatkan seorang gadis bernama Hanna---yang saking terlukanya dia---ingin berubah menjadi buih di laut, seperti Little Mermaid (entah kenapa saya suka sekali dengan koneksi antara Hanna dan Little Mermaid ini).

Namun gadis itu ternyata juga menyelamatkan Kai. Kai mungkin terlihat bandel di luar, tapi sebenarnya dia juga terluka. Kai adalah anak bungsu dari keluarga kaya, Kai kuliah di Universitas bergengsi di ibukota, tapi keluarganya jauh dari deskripsi keluarga bahagia. Ayahnya begitu dingin, ibunya terlalu memaksakan kehendak, dan kakak-kakaknya terkesan tidak peduli. Sebagai pelarian, Kai jadi pemuda bandel dan b*r*ngs*k kalau menurut gadis-gadis.

Tapi Kai sama sekali tidak b*r*ngs*k kalau berada di hadapan Hanna. Kai jadi berubah menjadi pria romantis dan ingin menjadi penolong Hanna.

"Kalau begitu, biar aku jadi lautmu." Tangan Kai terulur untuk Hanna. "Aku akan membantumu meluruhkan semua cela itu."

(Interlude, hlm. 195)


Ngomong-ngomong, kata-kata "The world is envy. You're too perfect and she hates you." yang saya kutip pertama kali di atas, memberikan saya pandangan baru terhadap ketidakadilan-ketidakadian yang saya rasa sudah saya alami dalam hidup. Somehow, kalimat itu terasa menenangkan. Dunia hanya iri karena kita terlalu sempurna, dan dia benci itu.

So, tidak ada dari kita yang sempurna. Kai dan Hanna mengerti itu. Kedua-duanya sama-sama menyimpan luka. Tapi mereka menerima kekurangan masing-masing, saling percaya, dan saling memberi kesempatan untuk bisa berubah menjadi lebih baik. *sotoy*.

At last, sekali lagi saya bilang, bukunya bagus banget (menurut saya loh ya). 4 dari 5 bintang untuk Interlude. I really liked it.
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
September 2, 2014
Judul: Interlude
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 380 halaman
Terbitan: Mei 2014

Interlude bercerita tentang Kai, seorang musisi jenius dan mahasiswa hukum ber-IPK sempurna. Sayangnya Kai tidak merasakan dorongan apa-apa dalam hidupnya. Dia tidak memiliki ambisi di bidang musik. Dia juga tidak berminat untuk melanjutkan kuliahnya dan akhirnya mengambil cuti. Hidup Kai penuh dengan musik jaz, alkohol, dan wanita.

Hanna, seorang mahasiswi Jurnalisme. Hidupnya hancur berantakan setelah dia diperkosa oleh orang yang dia sukai. Setahun setelah menarik diri dari lingkungan kampus, dia kembali melanjutkan kuliahnya walau harus menghadapi bisik-bisik tak sedap tentang dirinya.

Suatu kejadian mempertemukan Hanna dan Kai. Awalnya Kai mengira Hanna sama seperti gadis-gadis yang dia kencani selama ini. Saat dia sadar bahwa Hanna berbeda, Hanna telah menarik diri dari hadapan pria itu. Kai pun berjuang untuk memperoleh kembali hati Hanna.

Review

Sejak melihat ulasan dan berbagai pratinjau buku ini dari tur blog yang diadakan Gagas Media, saya langsung suka sama novel ini. Kovernya cantik, ulasannya bagus, dan cerita yang disajikan tampaknya menarik.

Paling suka sama lirik lagu yang ada di kover belakang.

Hanna,
listen.
Don’t cry, don’t cry.
The world is envy.
You’re too perfect
and she hates it.


Saya suka dengan perubahan yang dialami Hanna dan juga Kai. Hanna yang awalnya merasa dirinya kotor dan rusak, perlahan-lahan mulai membuka dirinya. Kai yang awalnya tidak punya tujuan hidup, akhirnya memiliki sesuatu untuk diperjuangkan.

Salah satu interaksi Kai dan Hanna yang menjadi favorit saya datang dari halaman 194.

"Kau tidak kotor, Hanna. Kau cantik," kata Kai lagi. "Salah. Kau sempurna. Bagiku, kau tidak punya cela."

"Bagimu. Bagiku, saat ini, aku cuma punya cela."

"Kalau begitu, biar aku jadi lautmu." Tangan Kai terulur untuk Hanna. "Aku akan membantumu meluruhkan sema cela itu."


Lima bintang untuk Hanna dan Kai. Semoga nanti ada buku lanjutan yang mengisahkan hubungan Jun dan Gitta, teman band Kai. :D
Profile Image for Dion Sagirang.
Author 5 books56 followers
August 5, 2014
Barangkali, ini novel Penulis yang saya rating 3 Bintang saja. Pas. Tidak kurang, tidak lebih. Saya merasa kurang puas ketika membaca buku ke-6 Windry Ramadhina ini.
Ada beberapa hal yang saya sukai, dan sebaliknya.
Saya suka saat Penulis membuat karakter Kay yang cerdas. Itu, dapet banget. Tapi cuma emosional dia aja yang tidak cerdas.
Lalu Hanna, untuk karakter, dia kuat. Begitu juga Gitta dan juga Jun. Tapi, sebagai sesama mahasiswa Jurnalistik (Di kampus saya menyebutnya demikian, bukan Jurnalisme), saya iri pada gadis itu. Saya, di semester itu, mana bisa santai-santai. Para dosen berbondong-bondong memberikan tugas lapangan, membikin stres dan tentu saja lelah. Tetapi saya tidak melihat itu pada diri Hanna. Dia nikmat banget hidupnya...
Karena sepertinya Penulis mencoba keluar kembali dari zona nyamannya menulis dari POV 1 ke POV 3 serba tahu, ada banyak yang kurang, menurut saya. Loncatan dalam satu scene di sana sedikit kasar, sehingga saya beranggapan di bagian awal, saya terus dicekoki. Sementara menuju ending, terlalu cepat. Terlalu buru-buru.
Tapi, lebihnya, Penulis dalam buku ini seperti sedang menulis Straight News. Saya suka ketika membaca novel dengan gaya seperti membaca berita utama di Koran. Dan, tidak terasa ratusan halaman habis.

Oke. Saya tetap menantikan karya lainnya dari Penulis.
Profile Image for Kurnia.
175 reviews10 followers
June 26, 2014
Interlude merupakan novel keempat Mbak Windry Ramadhina yang saya baca setelah montase, london, dan memori. Novel ini bener-bener berbeda dari karya Mbak Windry sebelumnya. ekspektasi saya memang sudah tinggi sebelum baca novel ini, dan setelah membacanya, saya tahu saya tidak kecewa. Hehehe.

Mengenai kisah Hanna dan Kai. Hanna, gadis yang memiliki trauma psikis karena hal buruk yang dialaminya, dan Kai, pemuda yang suka bersenang-senang dan tidak mau memikirkan masa depan akibat konflik dalam keluarganya. Dua orang yang memiliki kesamaan.... sama-sama terluka. Namun, Kai ingin sekali menjadi Laut bagi Hanna. Dan Pemuda itu membuktikannya, meski saya gemas juga saat Hanna masih saja tidak percaya. Yah, nggak apalah. Toh, endingnya nggak membuat saya kecewa. :D

Dari segi cerita, saya suka. Sudah lama tidak menemukan cerita seperti ini. Dan gaya bercerita di Interlude membuat saya kagum, hampir sama dengan memori sebenarnya, penggunaan kosa kata yang baru saya temui juga tidak ada masalah, karena sebelumnya saya sudah dapet info dari twit mbak Windry sebelum baca novel ini. Hehehe.

Selain itu, kisah Gitta dan Jun juga tidak kalah manis. Saya menikmatinya. Ah, lengkap sudah keirian saya. hehehe.

Dan terimakasih telah menghadirkan Second Day Charm dan memperkenalkan musik jazz dalam interlude, karena saya jadi menyukai musik CoCo d'Or dan Nouvelle Vague. :)
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
June 17, 2014
"Hanna tertarik pada The Little Mermaid karena itu.
Dia ingin terjun ke laut dan berubah menjadi buih seperti Putri Duyung Kecil.
Dengan begitu, lukanya akan luruh bersama air dan dia bisa menghilang. Dia bisa lari dari dunia, dari masa lalunya, dari tatapan dan gunjingan yang menghakiminya, dari pertanyaan-pertanyaan Lorraine yang tidak habis-habis, dari kekhawatiran mamanya yang membuatnya letih, dari segalanya....
Dan, dia tidak perlu lagi menjadi Hanna - gadis malang yang kehilangan kehidupan."

Hanna telah kehilangan hidupnya sejak ia diperkosa satu tahun yang lalu; ia menjadi orang yang tertutup, digunjingkan oleh mahasiswa lain di kampus, dan tentunya ia jadi teramat takut pada lelaki. Di sisi lain, adalah Kai - seorang lelaki yang dikenal berengsek karena suka bermain-main dengan perempuan. Keduanya dipertemukan di atap apartemen tempat Hanna indekos; saat Hanna sedang memikirkan tentang laut yang amat ia dambakan, dan saat Kai sedang memainkan gitarnya. Di tempat itu pula Hanna mengetahui nama Kai, yang juga berarti laut...

Baca review selengkapnya di:
http://www.thebookielooker.com/2014/0...
Profile Image for Pia Devina.
Author 31 books47 followers
June 13, 2016
Ada dua--eh, sebentar saya itung ulang.
1. Hanna dan trauma masa lalunya.
2. Kai yang mengejar Hanna.
3. Kai yang terancam broken home.
4. Gitta yang mau-mau saja dikasari Ian.
5. Jun dan Gitta yang saling menolak untuk bersama padahal mereka tahu apa yang mereka inginkan.
Dan konflik-konflik pendukung lainnya. Kompleks, ya?

Tapi saya suka eksekusi di novel ini, ada konflik dan solusi di akhir. Oh, tapi ada satu yang bikin saya nggak jadi menggenapkan bintangnya menjadi empat. Laki-laki dari masa lalu Hanna "dibiarkan" begitu saja. Saya ngarep Kai do something, entah berantem atau nyeret orang itu ke jalur hukum. Pokoknya dikejar dan ada "interaksi" yang menunjukkan sisi emosional Kai atas apa yang sudah dialami Hanna.

As usual, Tulisan Windry memang enak untuk diikuti :)

Note: Saya suka lirik lagu "Hanna".
Profile Image for Utha.
824 reviews402 followers
May 7, 2023
Aku suka ceritanya. Aku suka gimana pengarangnya buat karakter yang kuat.

Tapi kenapa kaku banget ngomongnyaaaaaaa. Anak UI aku-kau... KAU loh. Ini ada keturunan Indonesia bagian tengah atau timur?

Mana si cowok FH TGTBT dalam akademisnya. Dan keliatan tempelan banget. Tapi aku menikmati ceritanya. Andai nggak ada kekurangan ini...

http://www.tsaputrasakti.com/2014/06/...
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
Read
July 29, 2024
Saya menghindari buku ini sejak rilis. Padahal, saya sudah tertarik sama kovernya sejak zaman promosi (ayo kembalikan kover yang didesain desainer grafis + ilustrator). Namun, begitu tahu genrenya new adult, jujuuur saya mundur ahaha. Pasalnya 1) saat itu saya belum kenal genrenya dan 2) ketika akhirnya tahu genre itu seperti apa, ternyata bukan selera saya. Beruntungnya sekarang new adult sudah macam-macam bentuknya dan nggak lagi terpusat sama 'spice' hubungan romantis heteroseksual saja.

Jadi, meski sudah baca karya penulis yang terbit setelahnya seperti Walking After You dan Angel in the Rain, saya belum berani menyentuh yang ini. Sampai suatu saat saya bengong di ruang tunggu lalu saya unduh buku ini di iPusnas. Ternyata bisa cepat selesai dan kesan saya setelahnya cukup jauh dari praduga sebelumnya.

Bisa dibilang, ini cerita Mbak Windry yang paling saya nikmati setelah Memori. Seperti air, mengalir saja, padahal jika ditelisik gaya bahasanya seperti koran (apa justru karena itu?). Setiap elemennya terhubung dengan baik, dan kita bisa lihat Kai untuk Hanna dan Hanna untuk Kai. Pencinta trope "bad boy-good girl" pasti bakal suka mereka.

Saya juga bisa cepat terbawa cerita ini berkat atmosfer yang dibawakan, yaitu gabungan laut, musik jaz, dan penyembuhan diri. Kai dan Hanna sama-sama berusaha mengembalikan rasa percaya mereka bahwa bagaimanapun keadaannya, mereka tetap pantas mendapatkan kasih sayang yang tulus dan bisa memberikannya pula tanpa khawatir—tema yang cukup timeless.

Bagi pembaca baru atau yang membaca ulang buku ini, kisah cinta Kai dan Hanna mungkin akan sedikit mengganjal mengingat keduanya belum benar-benar pulih tapi hubungan mereka cepat sekali berakselerasi. Ketertarikan Kai pada Hanna dimulai dan sebagian besar didasarkan pada fisik Hanna dengan selalu menyebutkan bagian-bagian tubuh yang dia sukai. Nggak ada pula kegiatan, kepribadian, atau kebiasaan Hanna yang membuat Kai kagum. Dia baru memproklamasikan 'jatuh cinta' setelah Hanna mendengarkan cerita retaknya pernikahan orang tua Kai. Alasan dan cara Kai menanggapi konflik itu pun sulit untuk menuai simpati. Dimaklumi, mungkin, tapi masa cuma itu?

Gaya bicara Hanna yang selalu terbata-bata rasanya ditulis harfiah terlalu sering, jadi mengesankan Hanna terlalu lemah untuk punya kemauan diri. Padahal momen ketika dia akhirnya bisa stand up dan speak up itu pretty powerful, dan peran orang tua Hanna yang suportif sangat bagus, tapi karena terlalu sering terpapar Hanna yang terbata-bata jadi sebal duluan. Kepribadiannya seolah dikerdilkan jadi tipikal damsel-in-distress meski dia diceritakan punya hobi seperti merekam suara sekitar dan membuat kliping tentang laut.

Spice-nya ternyata termasuk sangat mild, which is a-okay for me! Kalau pernah baca Easy-nya Tammara Webber dan kecewa (seperti saya), coba baca ini karena feel-nya serupa tapi lebih baku, lebih rapi, dan lebih beradat ketimuran. Saya sendiri agak mengabaikan sisi penanganan mental health dua tokoh utamanya dan mengikuti gaya bercerita dan vibe-nya saja untuk merasakan betapa cantiknya tulisan ini, toh terbitan lama juga. Kalau dicetak ulang, pasti ada beberapa bagian yang diubah agar lebih believable dengan kondisi sekarang.
Profile Image for Echa.
285 reviews78 followers
February 5, 2016
Saya jatuh cinta pada London. Itu bisa dimengerti; ceritanya sempurna dan tidak terlalu manis, tapi mendalam maknanya. Walking After You pun oke. Ceritanya masuk akal. Tapi Interlude... sigh.

Kisah tentang korban pemerkosaan memang tidak mudah dibaca, dan saya yakin lebih sulit lagi untuk ditulis. Saya merasa depresi membacanya, sebagian karena perasaan Hanna, sebagian karena tingkah lakunya.

Hanna is your typical Disney princess before it evolved: a girl who needs a guy to rescue her and makes her whole. Okay, none of Disney princesses experiences something as traumatizing as rape, but believe me, none of them stammers at every beginning of their sentences, either. Dan serius, itu ganggu banget. I have one friend who stammers, and I have read some books about people who stammered. I even watched The King's Speech! And usually people develop long-term stammer habit at very young age.

And that makes me think... everything about this character is really problematic, like:
1. Based on some facts I've learnt, mereka yang mengalami rape akan lebih mungkin menjadi wary dan distant. Hanna is simply shakable and weak. Dia menerima undangan Kai, padahal sudah diperingatkan mengenai reputasi cowok itu. Dia bahkan, duh, bertanya ke Gitta apa maksudnya sewaktu Gitta bilang Kai bukan pemuda yang baik untuknya, sort of. I mean, with everything's going on and everything she's been through, it must have made her full of suspicion and unpleasant assumptions, right?
2. Sama seperti poin nomor satu, mereka yang mengalami rape cenderung menutup diri, socially, mentally, physically. Sedangkan Hanna sering banget ditulis pakai gaun atau rok, yang pasti membuatnya merasa terbuka dan terekspos. I have read it somewhere in psychology journal.
3. Hanna continues to have beastly thoughts, tentang dirinya yang tidak berharga, tentang dirinya yang dihantui masa lalu, but guess what? Dia yang mendekati masa lalu itu sendiri. Dia kembali ke kampus lamanya walau sudah tahu apa yang mungkin dibicarakan orang-orang. Dia bahkan, duh, balik ke indekos lamanya. Kenapa nggak pindah ke kampus lain? Ke indekos lain? Instead she just brags and cries internally about it. Seriously, WHY?
4. She stammers frequently, but I guess I have made that point clear.
5. Dia kuliah di jurusan Jurnalisme, bercita-cita jadi jurnalis, dan punya ayah seorang jurnalis? Seriously? Bukankah akan lebih masuk akal kalau everything she has learnt and discussed with her dad will somehow toughen her? Hanna bisa jadi, entahlah, pemimpin gerakan yang membela hak-hak perempuan dan melindungi mereka dari domistic violence? But of courseeee it won't match Hanna, our lovely damsel in distress, yang hatinya lembut dan nangis tiap orang mengatakan hal-hal baik padanya, seakan dia tidak percaya orang bisa sebaik itu (dan yang nggak masuk akal adalah, dia bilang dia percaya Kai bisa berubah).
Adjektif yang sempurna untuk Hanna: self-shaming.

If I continue rambling on this one, the list will go on and on. Yang jelas, saya merasa banyak holes dalam kepribadiannya; banyak yang kontradiktif.

Oke, sekarang giliran Kai. Your typical bad guy gone good. Sempurna, kaya, tidak perlu mengusahakan apa-apa untuk segala yang didapatkannya: IP 4 selama enam semester, ganteng, jago main gitar. Tanpa cela. I rolled my eyes when I read his description. Kinda knew where this was going. Tapi untuk ukuran cowok umur 23/24 tahun, he's such a crybaby. Clearly, he lacks what we people know as EQ.

Yang membuat dia juga problematik di mata saya adalah:
1. Dia kacau karena orangtuanya akan bercerai. It would be understandable if the divorce happened when he was a child, itu akan sangat berpengaruh untuk kondisi psikisnya. But it happens when he's a grown man! And before that he's already got everything fallen into his plate. Nggak ngerti lagi sih, dramatis banget.
2. Dia kuliah jurusan Hukum, so I expected him to be stronger and bolder in everything he did. But nooo, of course! His parents initial divorce just wrecks him, tears him to ashes.
Adjektif yang sempurna untuk Kai: self-congratulatery.

Saya juga nggak mengerti jalan pikiran Kai tentang perempuan. Apa alasannya? Kecuali ibunya pernah selingkuh atau dirinya pernah diselingkuhi, his actions and thoughts on women are mindlessly discriminative. Dia bilang dia cinta Hanna, tapi meninggalkannya hanya karena Hanna menolak ciuman. (Tapi, ofc, in his defense, Kai berpikir Hanna nggak percaya sama dia.) Good God, she's a rape victim!

I'm not impressed with our two main characters. Mereka sangat... ugh, two dimensional. Mereka bersikap dan bertingkah laku hanya untuk memenuhi tuntutan plot (yang sangat Disney-esque) sesuai standar novel romance.

There is insta-love, of course. Kai is exceptionally good-looking, Hanna is exceptionally pretty. Fakta itu diulang berkali-kali sampai saya kepingin banting pintu di depan muka Kai dan teriak, "IT'S NOT LOVE, IT'S LUST!" But still, I couldn't find their initial attraction sih, selain karena sama-sama enak dilihat. Mereka nggak membicarakan hal-hal mendalam yang biasa membuat orang lain jatuh cinta, menemukan sebagian dirinya dalam diri pasangannya. Nope. Nope. Their facial beauty is enough to keep chemistry on check.

Oke. Tarik napas, buang. Sekarang bagian bagusnya. What I love about Windry Ramadhina's books, they are not just books. Melalui hobi dan passion karakter-karakternya, yang digali dengan dalam dan cermat, kita juga ikut mempelajari sesuatu. Their passions prevent their love and obsession take over their characters. Dan kali ini, saya jadi sedikit-banyak tahu tentang musik jazz.

Saya juga salut karena buku ini menawarkan sesuatu yang lain dari buku new adult, karena selama ini selalu terpatri di benak saya, buku new adult identik dengan adegan ranjang. So, kudos for that. Bahasa yang digunakan dalam buku ini juga sangat mengalir, lancar, tanpa terlalu banyak sakarin. Lugas dan enak dibaca. Soal gaya bercerita, barangkali Windry Ramadhina yang saya jagokan dari sekian banyak penulis Gagas. Sadly, that doesn't work on this one. Gaya bercerita yang enak was overshadowed by the two-dimensional chatacters. What a shame. I expect so much from this book.

But of course, I will wait another book from this author.
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
April 27, 2017
setelah selesai membaca ini, saya akhirnya jadi bisa membuat daftar perbedaan kalau ditanya ''apa perbedaan mbak windry, winna dan windhy'' wqwq

ceritanya menarik, cuma udah ketebak bagaimana alur dan endingnya dari 50 halaman pertama.

kurang begitu dapet banget feel bukunya karena ya itu tadi,udah ketebak gimana ceritanya.

saya kurang suka cara Kai manggil Hanna dengan sebutan gadis dari ipenama(?) atau ya itulah. sedikit mengingatkan saya sama seseorang soalnya wqwq

dan oh, saya kayaknya punya temen yang mirip gitta-jun-kai ini xD

bagian akhir saya cukup mewek.
jadi kan rumah saya 2 tingkat. yang bagian atas dipakai untuk kontrakan. trus ada 3 pasangan suami istri gitu. dan sering pada berantem. nah pas saya baca bagian gitta yang berantem sama Ian, kebetulan di kamar atas juga samar2 terdengar pertengkaran suami istri gitu yang bikin saya nangis.

saya mikir, kalau suatu hari nanti saya terlibat kekerasan dalam sebuah hubungan juga, berani gak ya saya melawan dan meninggalkan kayak gitta? atau malah bertahan kayak istri yang ngontrak di kamar atas saya itu?

3 bintang untuk cerita yang menarik. meskipun ya, alurnya mudah ketebak
Profile Image for Autmn Reader.
882 reviews92 followers
May 28, 2023
Enjoy to read tpi aku nggak bgtu suka cowoknya sih. Soalnyaaaaa dia tuh maksa bgt sih mnurutku. Kek gtu doang kecewa. Harusnya paham sih sama mas lalu Hanna. Bikin Hanna percaya kan bukan cuman harus ciuman doang wkwk. Trus y gtu sih semua tokohnya bland.
Profile Image for Naya Hasan.
Author 5 books5 followers
November 25, 2021
Suka diksinya, seperti biasa. Namun alur dan karakter bikin nggak betah untuk lanjutin baca.
Profile Image for Dalila.
51 reviews7 followers
July 11, 2021
Ketagihan banget dan gak bisa berhenti baca Interlude! Terlalu cinta sama karakter Kai & hubungan dia dengan Hanna. The book gave a warm fuzzy feeling while I was reading it. Suka banget! <3
Profile Image for Dian Putu.
232 reviews9 followers
May 28, 2014
Dalam hidup ini, banyak cara untuk menemukan kebahagiaan. Mungkin, salah satunya dengan merasakan kepahitan hidup yang paling pahit lebih dulu. Dan itulah yang harus Kai dan Hanna lalui sebelum waktu membawa mereka pada satu masa yang mempertemukannya.
Kai dan Hanna adalah orang yang berbeda. Bagi Kai, tak ada tempat di dunia ini untuknya. Sedangkan bagi Hanna, dunia ini terlalu menakutkan. Kai laki-laki berengsek dan senang mempermainkan perempuan, sedangkan Hanna terlalu takut pada laki-laki. Namun, keduanya sama-sama mempunyai beban karena masa lalu.
“Masa lalu seperti belenggu, memang. Mengikat. Terlalu mengikat, kadang. Seperti menjadi bagian baru di diri kita. Bagian baru yang membebani.” – Lorraine – Hlm. 254

Mereka bertemu di atas atap gedung apartemen Hanna. Namun, sebenarnya itu bukan pertemuan pertama. Hanna sudah menyadari keberadaan Kai saat mendengarkan kembali alat rekamnya – yang selalu merekam apapun yang terjadi di sekitarnya – di tempat terapisnya.
Saat itu Lorraine, nama terapis Hanna, menangkap petikan gitar dalam alat perekam itu, dan dia menyadarkan Hanna kalau petikan gitar itu begitu bagus. Hanna ingat, suara itu dia temukan di Kedai Kopilosofi, tempat Hanna biasa memesan Latte dengan gula ekstra.
Setelah itu, waktu mempertemukannya lagi, masih dengan petikan gitar yang sama namun di tempat berbeda, di atas atap gedung apartemen Hanna. Kai mulai penasaran, dan dia semakin penasaran saat melihat Hanna yang terlalu terkejut saat barista Kopilosofi mengapit lengannya, sekedar menghentikannya, dan mengembalikan uang kembaliannya. Tapi, Hanna bereaksi berlebihan, membuat sedikit kekacauan di Kopilosofi.
Gitta, teman band dan mantan kekasih Kai, memperingatkan cowok ini agar tidak mendekati Hanna. Bukan karena Gitta cemburu. Tidak sama sekali. Ini karena Gitta tahu apa yang membuat gadis bernama Hanna itu terlihat selalu ketakutan, terutama pada laki-laki.
Sayang, Kai bukan tipe penurut. Saat mereka kembali bertemu lagi, waktu menciptakan sebuah garis yang menghubungkan mereka. Sebuah insiden membuat Hanna menulis nama Kai dalam ingatannya. Kemudian, Kai yang menganggap Hanna sama seperti gadis pada umumnya─gadis yang sama seperti gadis-gadis yang dikencaninya─mulai bertindak di luar batas. Dia mencium Hanna, mengingatkan Hanna pada kejadian satu tahun lalu, kejadian yang membuatnya mengalami mimpi buruk setiap malam, kejadian yang menghancurkan hidupnya.
“…Mungkin ini sama bodohnya, tapi aku berharap kau mau memberiku kesempatan kedua. Aku ingin mengulangi segalanya dari awal dengan benar, tanpa prasangka apa-apa, tanpa permainan. Aku tidak selamanya berengsek, Hanna. Aku ingin kau tahu itu.” – Kai – Hlm. 131

Saat Kai tahu bagaimana masa lalu Hanna, dia merasa benar-benar berengsek. Namun apakah kata maafnya bisa membuat Hanna menerimanya kembali? Dan apa yang sebenarnya terjadi pada Hanna? Lalu, apa yang membuat Kai merasa tak punya tempat di dunia ini?
Interlude, hadir dengan kisah cinta yang sendu dan penuh luka, namun begitu syahdu dengan balutan musik Jazz yang dimainkan Jun, Kai, dan Gitta.

Baca selengkapnya disini >> http://dianputu26.blogspot.com/2014/0...

Ada Giveawaynya juga. DL tgl 30 Mei 2014. Cek disini >> http://dianputu26.blogspot.com/2014/0...
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
June 28, 2014
Hanna tidak bisa melupakan kejadian yang menimpanya setahun yang lalu. Kejadian yang membuatnya jatuh terpuruk dalam ketakutan, rasa rendah diri, dan putus asa. Setahun yang lalu, seorang pria yang dia percayai telah merenggut kegadisannya dengan paksa, dan menyisakan luka yang sangat dalam. Kini, Hanna mencoba kembali ke kehidupannya seperti sebelum kejadian itu, tapi dia tahu semua tidak lagi sama. Dalam ketakutannya, Hanna ingin sekali menghilang seperti buih di laut.

Hanna suka pada laut, bukan tanpa sebab. Dia ingin bisa seperti Little Mermaid yang akhirnya menjadi buih yang menghilang di lautan. Ketika dia berkenalan dengan Kai, dia teringat pada laut. Nama Kai yang berarti laut terasa istimewa bagi Hanna. Tapi Kai adalah pemuda dengan label brengsek. Kai suka bermain wanita, tidak setia, meninggalkan bangku kuliah meski nilainya cemerlang. Kai bahkan memaksa mencuri ciuman dari Hanna, karena menganggap Hanna sama seperti gadis lain yang berpura-pura lugu untuk mendapatkan dirinya. Perbuatan Kai membuat Hanna ketakutan, dan Kai menjadi marah. Namun saat Kai mengetahui mengapa Hanna berbuat demikian, Kai jadi merasa bersalah dan tidak bisa melupakan Hanna.

“Kalau begitu biarkan aku jadi lautmu”
“Aku akan membantumu meluruhkan semua celah itu.” (Kai)

Kisah Hanna dan Kai sebenarnya klasik. Gadis dengan masa lalu yang buruk, bertemu dengan bad boy, dan keduanya saling menyukai namun butuh perjalanan panjang untuk bisa bersatu. Yang membuat kisah ini menarik justru karakter-karakter pendukung yang ada di sekitar Hanna dan Kai. Kehadiran Gitta dan Jun, teman band Kai, dengan persoalan mereka masing-masing tidak membuat novel ini menjadi keberatan konflik. Malah permasalahan yang dihadapi Gitta membantu Hanna menemukan keberaniannya. Problem keluarga yang membuat Kai menjadi pemuda brengsek semakin memperkuat karakter Kai.

Windry selalu membawa keunikan dalam novelnya. Kali ini nuansa jazz menjadi bumbu di novel yang manis ini. Kalau di beberapa novel karya Windry sebelumnya saya merasakan kehadirannya dalam karakter tokoh utama, di novel ini saya tidak menemukan Windry dalam Hanna. Satu hal yang saya suka adalah perubahan karakter pada Hanna dan Kai yang tidak instan. Ada proses yang melibatkan banyak pihak.

Windry lagi-lagi berhasil meramu berbagai konflik menjadi cerita yang utuh, manis, sekaligus menyayat hati. Ketika saya membaca pengantar yang ditulis oleh Windry dan mengetahui novel ini bergenre new adult, saya sempat pesimis dan kuatir jika rasanya akan sama dengan novel-novel new adult dari luar negeri yang saya pernah baca. Tapi saya salah, Windry menunjukkan kepiawaiannya dalam menulis, membuat novel ini tetap bercita rasa new adult tanpa kehilangan jati diri ketimurannya. Maksud saya, kesan seksinya tetap dapat, tapi tidak kebablasan. Tidak berlebihan rasanya jika saya melabeli Windry sebagai pelopor new adult di dunia novel Indonesia. Salut juga buat Gagas Media yang senantiasa menghadirkan gebrakan baru.
Profile Image for Sofi Meloni.
Author 8 books92 followers
January 5, 2017
"A-aku" >>> ini yang diingat soal Hanna :D
Sweet, bitter, painful, semuanya campur aduk jadi satu.
Akan selalu menantikan karya-karya Mba Windry dengan setia :D
Profile Image for Just_denok.
366 reviews7 followers
January 8, 2015
"Tidak selamanya kau...berengsek. Itu katamu, kan?"
"Aku inggin mempercayai itu, maka aku menemuimu."(Hanna pada Kai, pg. 147)

"Kalau begitu biarkan aku jadi lautmu"
"Aku akan membantumu meluruhkan semua celah itu."(Kai pada Hanna, pg. 198)

"Aku tidak akan melukaimu. Dan, demi Tuhan, aku sanggup membahagiakanmu melebihi dia."(Jun pada Gitta, pg. 345)


Manis. Niat awal, aku ingin membacanya dalam dua hari. Tapi siapa sangka, sejak membaca prolognya, aku bahkan tidak bisa berpaling. Dan semakin kuikuti, Mbk Windry membuatku jatuh cinta pada Jun *salah fokus*, pada Interlude maksudku ;D.

Menceritakan tentang Hanna yang mengalami trauma di masa lalu. Hingga membuat gadis itu menjadi gadis yang tertutup dan kesepian. Dan takdir mempertemukannya dengan Kai, Kai Risjad. Seoarang badboy yang mempesona. Uh, well badboy, musisi, mahasiswa hukum yang sedang terpuruk, yang sedang tersesat. Mereka berdua dihubungkan oleh takdir misterius, yang tanpa disadari memiliki kesamaan.

"Mereka sama-sama rapuh. Mereka sama-sama...terluka" (pg. 176)

Akankah Hanna dan Kai bisa saling menguatkan, ataukah mereka berdua tidak bisa bersama karena ketidaksempurnaan yang mereka milikki? Silahkan menikmati rangkaian Interlude yang 'dimainkan' mbk Windry ini.

Karya keempat mbk Windry yang kubaca setelah Oranges, Memori dan Montase. Tidak butuh waktu lama untuk menamatkan novel ini. Karena jalian ceritanya yang apik dan 'nagih' untuk dibaca sampai tuntas. Tannpa ragu langsung Interlude umasukkan dalam rak favoritku. Aku jatuh cinta dengan cara mbk Windry bercerita. Membangun konflik, karakter, timing yang bisa bikin pembacanya terlena dalam perasaan sang tokoh. Karakter Hanna yang terluka, rapuh, tertutup dan agak sedikit membuatku ngeri-terutama karena alasan kesukaannya pada dongeng Little Mermaid-, bisa kurasakan dengan gamblang hanya dengan membacanya. Begitu pula dengan Kai yang cenderung meledak-ledak tapi bisa sangat pengertian pada Hanna. Gitta yang kuat, sinis, cuek tapi bisa menempatkan diri juga bisa 'buta' karena cinta. Juga Jun-KU- yang istimewa <3. Semua karakter itu bisa dengan mudah.

Pembangunan latar belakang, konflik serta penyelesaiannya pun seperti tidak ada celahnya. Sempurna di mataku yang membaca. Cakeeep deh pokoknya. Banyak hal yang bisa diambil dari karya mbk Windry satu ini. Jangan pernah kamu tunduk pada ketakutanmu, dan buat rasa takutmu itu menjadi tenaga dan kekuatan untuk berjuang dalam hidup. Selain itu, sebenarnya cinta itu tidak membuat menderita, ada kalanya cinta memang membutuhkan pengorbanan tapi tanpa harus menyakiti perasaan si empunya cinta ;).

Kereeeen ;););)
Profile Image for Dhyn Hanarun .
329 reviews202 followers
February 25, 2015
Setelah setahun mengambil cuti, Hanna kembali masuk kuliah. Dengan canggung, dia menghindari tatapan dan bisikan tidak enak tentang apa yang menimpanya dirinya. Setahun yang lalu dia diperkosa dan mengalami trauma hebat. Lalu ada Kai, gitaris pandai band beraliran jazz, Second Day Charm, yang hobi berganti-ganti perempuan, tidak mempedulikan kuliahnya dan mempunyai keluarga yang diambang kehancuran. Keduanya bertemu di atap apartemen tempat Hanna indekos. Hanna sedang menyendiri, berharap bisa menghilang dan melepaskan rasa takutnya, sedangkan Kai memainkan nada-nada sendu. Hanna tertarik dengan nada tersebut dan nama laki-laki itu yang berarti laut, sesuatu yang dia sukai. Kai juga tertarik, tapi dalam hal yang berbeda jauh. Dia mengira Hanna sama seperti perempuan yang lain, malu-malu tapi mau. Setelah tahu tentang kejadian yang dialami Hanna lewat Gitta, rekan band sekaligus tetangga apartemen Hanna, Kai menyesal dan bertekad untuk berubah. Dia meminta Hanna untuk memberinya kesempatan kedua. Dia juga meminta Hanna memberikan hal yang sama untuk diri dia sendiri, kesempatan untuk bahagia lagi.

Interlude sepertinya ditulis secara hati-hati. 100 halaman pertama, aku disuguhkan dengan pengenalan tokoh yang detail dan rapi, lalu berkembang ke masalah masing-masing tokoh lalu konflik Hanna dan Kai dimulai. Semuanya bikin aku jatuh cinta, puas karena sesuai dengan harapan tapi aku agak sedikit ragu-ragu buat lanjut baca. Bukan ragu-ragu karena enggan, tapi ragu karena aku seperti mengalami konflik batin. Masalah Hanna yang sangat sensitif, terutama untuk kaum perempuan, sudah mulai jarang aku temui di novel-novel yang aku baca sebelumnya. Di novel lain, keintiman fisik itu (yang dilakukan tanpa paksaan, tentunya) justru menjadi bumbu utama cerita. Lama-lama aku jadi terbiasa dan malah ‘menikmatinya’. Jadi saat aku dihadapi trauma yang dialami Hanna, aku tertohok, keras, dan merasa malu sendiri. Itu pula yang bikin aku ‘cuti’ meneruskan novel ini untuk beberapa hari. Aku juga mulai mempertanyakan pemilihan cover cantik itu :o

Baca review selengkapnya di sini ---> http://dhynhanarun.blogspot.com/2014/...
Profile Image for Raya.
222 reviews19 followers
June 1, 2014
Setalah bolak-balik ke toko buku dekat kosan selama seminggu terakhir, akhirnya hari ini saya mendapatkan novel ini. Dengan penuh ekspektasi saya pun mulai membaca Interlude.

Kita dikenalkan pada karakter-karakter yang terasa nyata dan utuh. Pada Hanna, gadis pemalu yang menyimpan luka. Dia terbenam dalam ketakutan terlalu lama, menutup diri rapat-rapat karena takut terluka lagi. Pada Kai, cowok berengsek yang suka membuat gadis-gadis menangis tapi sebenarnya merasa hidupnya sudah terlalu ruwet untuk diurai. Pada Gitta, gadis sinis dan kuat(atau pada awalnya terlihat kuat)yang menolak untuk mencintai pemuda yang selalu ada di sisinya karena ambisi. Pada Jun yang cool, dewasa, mapan dan mencintai gadis ambisius seperti Gitta.

Saya cinta banget sama Gitta! Dia kuat tapi tetap punya cela. Saya cinta dengan sikap Gitta pada Hanna. Saya suka sekali pokoknya sama hubungan antara Hanna-Gitta. Bahkan rasanya saya lebih sayang mereka berdua daripada karakter-karakter cowok disini .Eh, nggak ding. Saya tetep cinta Jun ><. Kai sebenarnya nggak buruk-buruk amat sih. Dia lucu, dan manis. Apalagi pada Hanna. Hubungan antara Hanna yang kikuk dengan Kai yang jail selalu bisa membuat saya senyum-senyum gacin sendiri hahaha.

Kisah dalam Interlude ini, menurut saya adalah kisah tentang menyembuhkan. Karakter-karakter dalam novel ini terluka dan pada akhirnya mereka berusaha saling menyembuhkan. Proses penyembuhannya tentu saja tidak berjalan dengan mulus, dan disinilah sebenarnya 'jiwa' ceritanya. Dari segi cerita saya nggak pandai komentar dan saya rasa konflik dan jalan ceritanya bagus sih. Saya lebih suka bahas karakternya (diulangi lagi --)

Oh ya, saya suka gaya penulisan kak Windry. Saya selalu suka gaya penulisan kak Windry, sebenarnya, walau saya baru membaca dua karya beliau sebelumnya, London dan Memori (Aww Memori. Saya cinta banget sama Mahoni !)

Sekali lagi saya merasa berterimakasih pada kak Windry. Untuk Interlude. Untuk Gitta yang saya sayangi, untuk Jun, untuk Kai,untuk nuansa biru yang saya temukan dalam novel ini. Untuk bait-bait lagu "Hanna". Saya sangat berterimakasih pada kak Windry karena telah menulis novel ini. :)
Profile Image for Eugenia.
209 reviews8 followers
March 30, 2015
Hanna,
Listen.
Don’t cry, don’t cry.
The world is envy.
You’re too perfect
And she hates it.

Hanna, kau dengarkah suara itu?
Hatiku baru saja patah ...

Dan hati saya sukses patah, meski baru halaman-halaman awal novel ini.
Beneran, nggak berlebihan. Apa efek udah tiga bulan nggak baca romance yah? (berkutat dengan novel anak dan dongeng).

Karakter Hanna yang selalu takut, resah, dengan kulit pucat terbata dan tangan gemetar sukses menarik perhatian saya. Sama halnya kaya karakter Kai yang cuek dan masa bodoh. Dan ketika kedua karakter ini saling tertarik, dengan kelemahan, kesepian, dan ketakutan masing-masing ... Saya nggak bisa berenti sampai halaman terakhir.

Dari segi cerita, sebenarnya cerita ini termasuk yang umum. Hanna, tokoh utama dalam Interlude adalah korban pemerkosaan kakak kelasnya. Gadis ini hilang kepercayaan. Selalu gugup, takut, resah. Lalu ia bertemu dengan Kai. Pemuda hampir drop out, play boy, cuek setengah mati. Berasal dari keluarga yang broken home membuat Kai hidup tanpa suatu harapan apapun dalam hidupnya. Masa bodoh.

Kesepian yang sama mendekatkan mereka.
Namun, justru kesepian itu pula yang menjauhkan mereka.
Karena di balik itu semua ada ketakutan, kemarahan, dan keputusasaan.
Dan ketika mereka memutuskan untuk berpisah, merasa kehilangan di setiap hari yang berjarak, mampukah mereka memetakan rasa yang ada?

Kalau ada yang menganggu, itu adalah rasa kenapa lagu si Kai ini bukan buat saya (cocok juga kok). Tapi kalau inget Hanna, ngalah deh. Buat Hanna aja.
Satu lagi yang menganggu, betapa latte sering muncul dalam novel ini. Bikin ilang fokus.
Eh tapi, Hanna, saya jadi makin suka sama latte. Mungkin suatu hari nanti, kita akan ketemu di Kofilosofi.


Selamat terhanyut dalam kisah Hanna dan Kai ya ...
Happy always reading :)
Displaying 1 - 30 of 226 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.