Rumah di tepi rawa itu menyimpan bahaya. Dari kucing-kucing yang menghilang tanpa jejak, kerisik aneh di langit-langit pada malam hari, hingga takhayul keberadaan makhluk setinggi pohon kelapa yang menjaga tanah itu.
Suatu hari, Venus—anak perempuan penghuni rumah—terjatuh ke sumur dan koma. Saat dia siuman, dia mengaku terpeleset karena kaget melihat ular besar di sana. Tapi benarkah pengakuannya itu?
Lantas mengapa Adam, sahabat karib Venus, dikucilkan dan dituduh mendorong gadis itu ke sumur? Mengapa pula Luna, adik Venus yang serbatahu malah diam seribu bahasa?
Rumah di tepi rawa itu tak hanya menyimpan bahaya, tetapi juga rahasia gelap yang tak boleh menyebar.
Buku ini BIJI ANGGUR DAN SIRSAT BGT! 😍😍😍 (Yang baku "sirsak", ya.) Sampai saya nggak tahu mau nulis review kayak apa. 😅😅😅 🐍 Novel ini membuat saya bernostalgia pada kenangan masa kecil: mempunyai sahabat, main bareng di hutan, petualangan-petualangan masa kecil, dan "senioritas" saat bermain. 🐈 Adanya trivia tentang sains dsb, serta muatan isu sosial membuat novel ini semakin menarik. Ditambah lagi dengan dialog yang kadang sarkas tapi cerdas, kadang juga nyeleneh. Ini pula salah satu hal yang membuat karakter tokohnya makin kuat dan menggemaskan. 😍 🎯 Sejak awal, saya sudah dibuat terombang-ambing mau memihak siapa. Semuanya merasa paling benar dengan labirin prasangka dan pikiran masing-masing. Hati-hati saja, labirin itu bisa menyesatkan pandangan kita. Labirin pikiran yang mengerikan. Ini pula yang membuat plotnya tak terduga dan tak berhenti memancing keingintahuan apa yang sebenarnya terjadi. Selain itu, ini membuat novel ini begitu page turner dengan intensitas ketegangan dan misteri yang terjaga sejak awal sampai akhir. 🎃 SPOILER tipis-tipis: keluarga mereka itu indah di luar, rapuh sekaligus busuk di dalam. Kelam. Suram. Mencekam. 💀 🏞 Nggak tahu lagi mau ngomong apa. Apa yang ketinggalan dan belum sempat diomongkan. Yang pasti, jika kamu suka membaca kisah remaja yang seru dan penuh petualangan, suka membaca kisah thriller serta misteri, maka novel ini saya rekomendasikan untukmu. 😇🌻🌠 "Kamu pantas bahagia atas kepunyaanmu sendiri." —hlm. 253
Venus baru terbangun dari koma, dan semuanya menjadi aneh. Ibunya mendadak superbaik sampai berhenti bekerja untuk menjaganya, adiknya mendadak jago masak, kucing barunya yang bertingkah super weird, sahabat baiknya dituduh jadi tersangka yang mendorongnya sampai jatuh ke sumur, dan yang paling aneh, ada ular besar yang selalu muncul di ingatannya. Jadi, apakah yang terjadi sebenarnya?
***
Ada 4 sudut pandang dalam cerita ini. Yaitu Venus, Luna, Adam, dan Herman. Dituturkan bergantian seperti menyimak diari masing-masing. Setiap sudut pandang, membawa jawaban sekaligus tanya baru tentang hal-hal yang dijelaskan di bagian lain.
Sebagai novel teenlit yang berbau thiller dan teka-teki, kita akan diajak untuk mencari tahu ada apa sebenarnya dengan rumah di dekat hutan dan rawa itu, apa yang sebenarnya terjadi dengan Venus, dan siapa yang salah. Tapi, sepanjang membaca cerita, kutemukan kalo semua orang yang disebut di cerita ini bisa jadi tersangka. Semuanya salah, sekaligus semuanya benar.
Gimana ya? Sejak baca Enigma Pasha aku sudah menasbihkan diri senbagai bucin-nya Akaigita. Makanya aku super-excited waktu Akaigita ngeluarin novel baru. Aku senang caranya bertuturnya yang kaya, miris, bikin ngakak, cerdas, pembentukan karakternya yang unik menjurus ke absurd, dialog-dialog absdurd, dsb, dst. Di tahap ini kebahagiaanku bukan lagi soal plot yang rumit dan mengundang rasa kepo, melainkan juga susunan kata demi kata, pembentukan karakter demi karakternya. Buku ini kuselesaikan kurang dari 4 jam setelah sempat mandeg sedikit di halaman awal karena kedistrak buku lain.
Ada satu pertanyaan yang belum terlalu jelas setelah mengakhiri buku ini. Kenapa Luna harus mendapatkan perlakukan semacam itu dari keluarganya? Aku belum menemukan alasan perlakuan berbeda orangtua Luna itu, kecuali kalau benar Venus memang ditakdirkan jadi Ratu Elizabeth II kayak kata Herman. Wkwk.
Tapi ada satu pelajaran besar yang bisa kuambil dari kisah ini: bahwa nggak ada orang yang benar-benar jahat ataupun benar-benar baik, dan semua orang punya kebenaran versinya masing-masing. Orang bisa jadi baik hari ini dan dan jahat besok, karena itu biasa aja.
Siapa tokoh favoritku di cerita ini? TENTU SAJA HERMAN! Hey, tumben aku nggak terjerat pesona cowok ganteng, bandel, dan disayang semua orang macam Adam. Ini sih udah bukan second lead male syndrom lagi, jadinya udah figuran-syndrom. Yah, walaupun Herman membuatku kzl soal idenya mengumpankan kucing itu. Jahat bet sih, dek.
Berhubung favoritku adalah Herman, aku mau share beberapa omongan Herman yang super menggelitik.
"Aku memilih jadi perokok pasif. Kata orang, perokok pasif lebih berisiko terkena kanker. Biar aku saja yang sakit, soalnya abangku pintar cari duit." (Hal. 186)
"Lihat? Bahkan ketika abangku masih SMA, dia sudah berpikir seperti ketua RT." (Hal. 200)
"Oh, benar. Aku nggak lantas menjadi kaya hanya karena menolong seekor kucing Angora. Sejak kapan pula aku punya pikiran seperti itu? Dasar, kelamaan miskin!" (Hal. 204)
Selesaiiiii! Aku suka gaya ceritanya. Bikin penasaran, susah berhenti baca ini 🤭. Ada sih beberapa yang agak ganjel tapi nggak papa mungkin aku yang lemot 🙃.
Buku ini “sesat”! Hahaha. Sebelumnya, aku nggak tahu ini genre-nya apa. Kebiasaanku. Ternyata thriller, teman-teman. Pantas bukunya seru dan penuh teka-teki. ————— Aku bisa bilang kalau buku ini: bagus! Kisah persahabatan anak kicil antara si kaya dan si kurang mampu. Venus dan Luna, anak old money; dengan Adam dan anak-anak sebayanya yang nggak seberapa beruntung. Mereka mulanya berteman, namun pada satu waktu, kecelakaan yang membuat Venus koma 40 hari mengubah segalanya. Termasuk mengungkap misteri yang ada di sekitar kediaman mereka. Mereka nggak lagi sama sejak hari itu... Kamu pernah nonton The Invisible Guest nggak? Kalau suka film itu, mungkin kamu akan suka buku ini sebab menurutku jalan cerita yang bikin kita kebingungan itu ada di sini. Kamu merasa, mungkin akan tahu jalan ceritanya ke mana, atau siapa orang yang jadi dalang utama, siapa yang jahat, siapa yang baik. Namun, cerita di tiap POV mereka seolah “menyesatkan” pembaca. 😌😩 Kamu bisa menemukan mulai dari kocheng, makanan, keluarga disfungsional, petualangan, rasa iri, persaudaraan, pertemanan, dan tentunya misteri dalam buku ini. Aku nggak selesai waktu membaca karya Akagita yang sebelumnya, merasa kurang cocok. Tapiiii... kesan yang kudapat dari buku ini benar-benar berbeda. Gaya nulisnya macem terjemahan asik gitu! Tokoh-tokohnya juga nggak ada yang sia-sia, semua menyimpan misteri dan peran penting. Kayaknya aku paling suka si Herman. Ajaib dan sarkastik. :))) Kalau kamu butuh cerita fresh, yang plotnya seru bukan main, bikin kamu nggak mau menutup halaman sebelum ketemu ending, buku ini punya semua unsur itu. Btw, subjektif sih, ya, sejujurnya aku kurang puas sama ending-nya, euy, itu juga yang bikin aku nurunin rating-nya. Ada beberapa part yang kurang “nampol” dan belum benar-benar terjelaskan macem open ending. Tapi ini sangat worth to read. Btw, aku baca sambil ngelus kucing. :)))
Pertama-tama aku harus menyatakan bahwa Akaigita memang penulis keren. Aku suka banget tulisannya!
Oke, jadi ketika berburu Ephemera, aku nggak peduli ceritanya soal apa. Saking jatuh cinta sama gaya nulisnya Kak Gita, dan sesuka itu sama Enigma Pasha. Apalagi rating dari orang-orang tinggi bukan kepalang. Tanpa sadar, ekspektasiku meroket dan aku kesulitan menyesuaikan diri di awal buku huhuhu.
Jujur aja sampai halaman entah berapa, mungkin 50% buku, aku mikir bakal kasih 3 bintang. Tulisan Kak Gita masih bagus, cuma aku nggak enjoy. Karakter-karakternya (Venus, Luna, Adam) nggak bikin aku bersimpati. Too much drama. UNTUNG ADA HERMAN. HERMAN ADALAH PENYELAMAT!!! Wkwkwk dari situ aku baca nggak tersaruk-saruk lagi. POV Herman is everything 💕
Yang aku suka lagi adalah cara Kak Gita menggambarkan kehidupan dari banyak sisi. Gimana si A nggak merasa sebagai villain, gimana si B selalu berpikir jadi victim. Ini real. Aku lihat sendiri di keluargaku yang dramanya bisa ngalahin drama keluarga Utomo HAHAHA.
Overall, aku suka buku ini. Thanks Kak Gita sudah nulis ini!!!
Oke jadi ada beberapa poin. 1. KIRAIN BAKAL FANTASI???? Ternyata thriller-psychology 2. Aku sempet baca review yg bilang kalau karakternya ga ada yg bisa dipercaya. Well, aku percaya sama Herman!! Adam kasian dikit, Luna waduh, dan Venus nyebelin. 3. Ini drama keluarga Utomo wow bener dah 4. Aku suka gimana sudut pandang diambil dari 4 orang, menarik dan... bikin trust issue. 5. Hngggg aku kurang puas sama endingnya dan yah ini bukan buku yg aku suka banget, sekadar suka aja. 6. Seperti buku sebelumnya yang aku baca (EP), narasinya kak Akaigita enak dibaca (page turner abiezzz). Bakal lanjut ke TAP kayaknya nih. 7. Aku masih ga paham sama maksudnya Adam bilang gitu ke Venus.
Poin plus: SUKA BGT BGT BGT SAMA HERMAN😁😁 (tapi ya jangan umpanin juga dong).
Nemu buku ini pas di bookfair. Tergoda dengan kover yang unik. Ketika akan membeli buku, saya hanya lihat rating di GRI. Tidak mengintip area komen. Maka, jangan salahkan saya kalau mengira ini kisah fantasi, padahal beberapa sudah menyebutkan dalam komen.
Kita ternyata benar-benar tidak mengenal sosok yang selama ini dekat dengan diri kita. Orang bisa saja tertawa padahal hatinya menjerit kuat, pedih.
Para tokoh yang semula seakan-akan adalah tokoh pendamping, ternyata memiliki peranan yang tidak kecil. Menarik! Sesuatu, tidak selalu terlihat seperti yang ditampilkan.
kirain bakal jadi novel YA ringan yang enak dibaca kayak Enigma Pasha.
ternyata misteri & thriller di buku ini lebih dominan. lebih gila dan gelap juga cerita dan tokoh-tokohnya. flow ceritanya oke, setiap detail-detail kecil yang jadi pertanyaan di awal dijelaskan di akhir. aku suka gimana penulis menyajikan cerita dengan 4 sudut pandang tokoh yang berbeda-beda, jadi tahu intensi dan pemikiran tokoh-tokohnya gimana tanpa bikin rasa penasaran tentang misterinya jadi hilang.
Ngapain sih aku malam-malam malah buka buku ini lalu melek sampai bacanya selesai????
Sumpah ya. Aku udah pernah dengar kalo ini bukan fantasi apalagi YA, tapi aku ga pernah tahu isinya tuh... dark.
Jelas lebih suka ini ketimbang EP. Gita ini punya gaya menulis yang menurutku kayak amburadul, tapi sebenarnya nggak. Lebih kayak kepingan puzzle yang kudu disusun pembaca sendiri. Mana kadang dari serius berubah ngelawak. Tapi suka sih. Personally, lebih mudah kupahami dan lebih nyambung Ephemera juga ketimbang EP.
Yang paling aku suka di sini:
1. Karakternya ngga ada yang bisa dipercaya. Gila. Nggak habis pikir si Gita ini makan apa sih. Awalnya pas bagian Venus tuh masih netral, tapi kok lama-lama bikin aku "heh? Yang bener siapa nih??"
2. Herman. Hahaha. Aduh sableng. Suka bener karakternya dan sarkasnya dan POV-nya. Di antara drama old money, kaum proletar macam Herman emang angin segar. 🤣
3. Gaya nulis dan pengemasannya yang berhasil bikin aku duduk diam 3 jam buat baca padahal sebelumnya baca lagi kayak siput. Sip ditunggu ya Arson-nya lekas terbit, Git 👍
Skor final mungkin 4,5 bintang, tapi mari genapkan saja karena udah lama ga baca satu buku sampai habis langsung gini.
Awalnya saya pikir ini buku fantasi. Tapi ternyata bukan. Saya nggak tau kata yang tepat untuk mendeskripsikan genrenya. Mungkin thriller, mistery atau psycology?
Setelah baca ini tuh rasanya kaya ada yang mengganjal, ada yang kurang tapi nggak tau apa. Seperti ada kepingin puzzle dicerita ini yang belum lengkap tapi entah dibagian mana.
Ephemera, bercerita tentang Venus yang terjubur ke sumur dan luka berat. Setelah 40 hari koma ia terbangun dan melihat banyak perubahan pada orang-orang disekitarnya. Mulai dari Adam salah satu sahabatnya yang menjauhinya. Luna sang adik yang tiba-tiba jadi pintar masak dan bisa mengendarai motor, lalu Giga yang memintanya untuk menyimpan rahasia yang membuat Venus bingung karena ia bahkan tak meningat apapun. Serta kedua orangtuanya yang menjadi sangat baik dan memanjakannya. Suatu hari kucingnya hilang dan ia melihat gelagat mencurigakan dari Giga di pinggir rawa. Apakah Giga yang mencuri kucingnga? Atau Luna yang membuangnya karena iri pada Venus dan merasa dianak tirikan? Atau mungkin Adam yang sudah benci denganya karena cerita-cerita dari Luna? Tapi bagaimana jika ada objek lain yang patut dicurigai? Ular besar yang hidup di rawa hutan mungkin? Tapi bukanya ular itu hanya dongeng semata?
Awalnya saya bener-bener nggak tau Ephemera itu apaan. Ternyata tittle novel ini diambil dari hobi Adam. " Ia gemar menyimpan berbagai ephemera semacam perangko, struktur belanja atau pos mading yang sudah basi". Hmm.. jadi mirip filateli gitu ya?
Novel ini diceritakan dari 4 sudut pandang. Ada Venus, Luna, Adam dan Herman. Semuanya anak-anak dan semuanya punya problematik sendiri-sendiri. Yap, semua anak di sini bener-bener bermasalah! Mungkin buku ini lebih tepat masuk kategori psycology ya.
Bahkan bukan cuma anaknya, tapi para orang tuanya juga problematik!
Saya nggak bisa komplen banyak seperti plot hole dimana-dimana, klimaks nggak jelas karena ini diceritakan dari versi seorang anak. Tau kan kalau anak-anak cerita gimana?
Yang pasti buku ini seru, page turner dan bikin penasaran!
Pov paling disuka sudah pasti versi Herman! Kocak anaknya. Saya selalu ngakak kalau dia udah cerita.
"Biar aku saja yang sakit, soalnya abangku pintar cari duit" "Aku terbatuk-batuk seperti tersedak dosa" "Bang Doni menyibak poni sasuke ke samping" "Ketika abangku masih SMA dia sudah berpikir seperti ketua RT" "Ku pacu astrea canggihku dengan gaya Marc Marquez"
Nggak tau lucuuu aja gitu!
Terakhir, novel ini tuh rasanya kaya belum selesai. Masih banyak misteri yang belum terpecahkan seperti bagaimana Ayah Venus? Tante Asti? Bahkan watak Vinuspun seperti membingungkan. Atau memang otak saya yang nggak nyampe ya? Wkwk.
NB : Venus dan Lunas sama-sama mengerikan! Dua-duanya manipulatif. Tapi apa ayahnya sadar selama ini? Kenapa beliau hanya mengirim Luna ke asrama? Bagaimana dengan Venus? Apa sejak awal ayahnya memang pilih kasih? Atau hanya sejak Venus kecelakaan? Tuh kannnn harusnya buku ini ada serinya!!
Baca ini cuma sehari iya. Gilak blurbnya bikin penasaran setengah mati. Pas baca bab2 awal aku cuma kepo si venus ini kenapaaaa apa yg terjadiii tapi plotnya kurang menarik di awal. Aku banyak skip skip bacanya. Tp setelah si oreo ilang baru deh sialan ini novel bikin kadar penasaranku meningkat 100x. Jujur skrng masih bingung harus nulis apa......huhu Entah sugesti diri aku sendiri atau gimana, tapi aku #timVenus soalnya cuma dia yang pake pov 1 HAHA iya aneh iya. Jadi aku sempet kesel adam ama luna deket. Walaupun akhirnya aku juga gak suka adam hiiiiih. Hahaha. Aku lebih suka herman! Karakternya relatable dan dia punya sisi humor. Suka!
Tapi lama2....weh.. semua karakternya kulang ajarrrrr gak ada yg bisa aku percaya, semuanya aneh, semuanya bikin bertanya-tanya dan pada akhirnya aku memutuskan: semuanya nyebelin. Terutama Luna, aku gabisa suka sama dia, aneh. Padahal biasanya aku suka karakter jahat. HAHA tapi luna ini nggak sedikitpun mendapat simpati dari aku pdhl sebagai adik (yg gak ada bagus2nya) yang punya kaka cewe "sefamous" Venus, aku harusnya relate :')
TAPI NGGA BISA. AKU gasuka Luna huhu.
Konfliknya sendiri menurutku wow sekali ya, bagus cara mengolah konfliknya ak suka ;'))) aku suka gaya berceritanya, aku suka gimana penulis bikin karakter2nya yg gak full suci tapi ada dosa dosanya haha, pokoknya aku bakal baca lagi karya kak akaigita hehe Apalagi bikin penasaran gini, cuma aku merasa masih punya banyak pertanyaan yang bahkan aku gatau apa??? Aku merasa masih banyak yg ganjil. Trus bapaknya Venus itu gimana sih??? Trus aku memang agak apa ya..heran sama endingnya lawan si datuk itu. Aku kira ini fantasi. Tapi scene klimaks terakhir tuh agak gimana gitu :') agak kocak menurutku. (No offense jangan ngamuk)
Terus, endingnya memang nggak sesuai ekspektasi aku, tp gak mengecewakan juga. Aku cuma.. bingung. Terlepas dr kenyataan aku ga suka ending luna, aku bingung aja sama mereka semua..bingung juga kenapa luna bilang semua org gak suka dia Heloooo berarti beneran ga ada yg beres sama dia kan? Ajajdjaiajabja gatau gamau lanjut ngetik lagi takut spoiler. Bhay.
3.5 bintang lah dari aku buat rasa kepo akut dan tegang selama plot berlangsung. Sisa bintangnya kabur bersama rasa bingung dan protes tak terucap.
Sepanjang membaca cerita ini, saya jadi terbawa suasana, apalagi memang sejak awal sudah membuat penasaran tentang misteri jatuhnya Venus ke dalam sumur serta kucing Venus yang benama Oreo yang tiba-tiba menghilang. . Ada empat tokoh yang bercerita di buku ini. Venus, Luna, Adam dan Herman yang masing-masing memiliki argumen mengenai apa yang terjadi sebenarnya pada Venus, misteri apa yang tersembunyi di sekitar rawa, serta hilangnya kucing Oreo. Semua asas praduga patut dibenarkan yang membuat rasa penasaran mengalir sampai akhir. . Ada beberapa hal agak mengganjal di pikiran saya. Perilaku kekerasan yang diterima luna dari ortunya sepertinya tidak dikemukakan dengan jelas. Luna yang sering menyakiti diri sendiri menurut saya agak naif jika alasannya hanya untuk mendapat perhatian dari Adam. . Dan buat para pecinta kucing yang ingin membaca buku ini, sepertinya harus menerima kenyataan yang kurang menyenangkan terhadap perilaku salah satu tokoh yang mungkin pada awalnya disangka ia adalah pecinta kucing. Ternyata ia memiliki maksud tertentu di balik semua itu.
Covernya tidak seperti isinya (awalnya aku kira isinya akan berupa fantasi tapi ternyata aku salah!). Di dalamnya sangat gelap, hitam, penuh misteri. Setiap karakter digamabrkan dengan sangat detail mengenai pemikiran mereka. Dan sebagaimana kita tau, Kak Akaigita memang jago untuk membuat teka-teki dalam ceritanya. Pembaca dibuat penasaran dengan rentetan kejadian dan pemikiran yang ada.
Menurutku, ini sangat plot twist. Di mana alasan demi alasan perlahan terbongkar dan masing-masing individu punya niat baik-buruknya masing-masing. Tidak ada yang benar-benar baik dan tidak ada yang benar-benar salah. Tetapi, Keluarga Venus memang gila adanya! Pembaca dipermainkan emosi dan pemikirannya.
Perlu diketahui bahwa di dalamnya banyak membahas child abuse, pertengkaran sikap iri antar saudara, sikap iri dalam bertetangga, bahkan pertemanan (yang mana itu nyata adanya). Jika kamu melihat seseorang yang tengah dirundung atau mengalami kekerasan maka interverensilah! Jangan sampai menyesal seperti Herman di dalam novel ini.
Novel ini...(pilih salah satu jawaban di bawah ini) a. Keren b. Pecah c. Gila d. Luar biasa e. Semua benar ☑️
Cerita ini tuh kayak kesandung di jalanan, alias gak terduga. Bener-bener dikemas dengan baik oleh kertas nasi yang lalu direkatkan oleh karet.
Alur ceritanya menggeliat dengan sangat mulus seperti Datuk saat sedang memangsa ternak tetangga.
Waktu baca setiap paragraf selalu dibuat gak tenang, karena di setiap akhir chapter pasti ada sepenggal-dua penggal kalimat yang bikin ambigu.
Walaupun sifat beberapa dari mereka tidak baik tapi mereka ditulis dengan sangat baik.
Setiap karakter memiliki pemikiran liarnya masing-masing. Jadi sejujurnya, sampai akhir lembaran buku ini, aku masih belum bisa percaya siapa pun. Hehe.
Selalu cinta sama style tulisannya yang indah juga menghibur!! ^_^
"Pikiran manusia begitu luas, dalam, dan rumit. Tidak semuanya indah di sana." (Prolog)
"Terlalu banyak sudut deviasi pada perasaan manusia sehingga menjadikannya bias." (Hlm.59)
"Kamu pantas bahagia atas kepunyaanmu sendiri." (Hlm. 253)
"Karena memang sudah saatnya. Jika ada dua pihak yang sama-sama benar berselisih, salah satu harus mengalah demi kebaikannya sendiri." (Hlm. 282)
➖➖➖➖➖ Aaah....setelah sekian lama tidak menyelesaikan novel kurang dari 24 jam, akhirnya melalui karya Akaigita ini bisa merasakannya kembali...😍
Kurang lebih empat bulan sudah masuk dalam daftar antrian di iPusnas, dan kemarin akhirnya berkesempatan dapat giliran baca.
Awalnya tertarik karena lihat Judul dan Cover, mengira ini novel terjemahan. Ternyata oh ternyata, Indonesia punya dong...👏
Sama sekali nggak kepikiran kalau ini genrenya berbau thriller. Setelah baca dibuat kaget juga hanyut dengan lika-liku dan teka-tekinya. Pengalaman pertama baca novel dari empat sudut pandang sekaligus. Banyak plot twist yang ikut memicu andrenalin. Aaah....overall novel ini kereen.
Akaigita is one of wattpad author that i know i can trust. Pas lihat covernya dan baca beberapa bab awal di wp, aku pikir ini cerita fantasy, kenyataannya novel ini bergenre thiller -pshycological. Saya baca via gramdig anyway.Oke mari stop basa-basinya dan memulai review.
First of all kalau kamu mencari buku diverse lokal yang settingnya non- Java sentris, this book will fit to that criteria. Bersetting di suatu daerah di Kalimantan , kita diajak menyusuri daerah perumahan yang masih dikelilingi hutan, rawa dan pohon-pohon lebat. Anak-anak di sana jarang menyentuh PS, masih sering bermain layangan, gundu dll. Tapi, hey, kalimantan tidak sekuno itu juga, ya. Masih tetap ada convenience store (yep, the author indeed mention it as a convenience store, instead of generic term, minimarket) yang sering jadi tempat ketemuan dua dari empat karakter utamanya (Adam dan Luna)
Oke, fokus utama novel ini adalah keluarga Hutomo dan segala keanehan yang meliputi mereka. Diceritakan keluarga Hutomo terdiri dari 2 keluarga yang telah ditinggal sang kakek, yang mewariskan sejumlah kekayaan termasuk tanah, emas dll termasuk suatu petuah yang melahirkan masalah utama. Anak pertama, laki-laki yang mempunyai seorang istri dan dua putri, Venus dan Luna. Anak kedua perempuan, sudah menjadi janda dan punya satu anak pria tunggal. Dalam garis keturunan budaya Kalimantan yang masih menganut patriarki, ini adalah keturunan yang terburuk, karena tidak ada pewaris yang benar-benar kuat dan eligible diantara cucu-cucu Hutomo (seharusnya harta kekayaaan diwariskan kepada cucu lelaki dari anak lelaki)
Masalah warisan ini bukan masalah utama dalam keluarga ini, hanya latar belakang yang akan menggerakan plot. Sebagai "kayum bangsawan", keluarga Hutomo tinggal agak terpisah di komplek perumahan untuk mereka sendiri, membuat mereka disegani sekaligus tidak disukai warga sekitar. Sejujurnya di akhir cerita saya rasa ketidaksukaan warga kepada keluarga Hutomo bisa terjustifikasi. Tidak ada yang benar-benar waras di keluarga ini baik anak-amaknya, mantunya, dan cucu-cucu.
Novel ini sendiri dibuka dengan kenyataan Venus yang telah terbangun dari Koma setelah satu tahun lebih. Dia mengalami amnesia parsial d mana dia benar-benar lupa apa yang sebenarnya terjadi sebelum dia pingsan. Yang dia tahu sang ayah kini melarang dirinya bergaul dengan Adam, Ibunya sudah berhenti dari pekerjaan, dan adiknya, Luna, selalu menghindar bila Venus menyinggung kejadian setahun lalu. Tidak berhenti di situ, banyak kejadian janggal yang menimpa Venus yang sedang berusaha pulih mulai dari kucingnya yang hilang sampai Adam yang selalu menghindarinya, tapi diam-diam malah menjalin kontak akrab dengan Luna. Ada apa? Apa yang disembunyikan mereka berdua dari Venus? Sayangnya mereka bukan satu-satunya yang menyembunyikan rahasia, Ayah, Ibu dan Tante Asti plus sepupunya juga menutupi sesuatu. As time goes by, terungkap Venus sendiri bukan karakter yang bisa kita percaya. Dia pun juga menyimpan "bola api" dibalik tampilannya yang tampak naif dan lugu.
Oiya, Buku ini sendiri dibagi menjadi 4 pov. POV Venus, POV Luna, POV Adam, dan POV Herman. POV Venus dan Herman ditulis dengan menggunakan POV 1, sementara POV Adam dan Luna ditulis dengan menggunakan POV 3. Apa ada alasan khusus dari author menggunakan teknik penulisan POV yang berbeda? Entahlah tapi saya rasa perubahan dari POV 1 ke POV 3 diantara para karakter cukup smooth dan terasa tidak mengganggu untuk saya. Entah bagi pembaca lain....
4 tokoh utama dengan 4 persepektif berbeda ini mempunya 4 versi berbeda mengenai apa yang mereka anggap benar. Mereka saling mencurigai dan menyalahkan. Tidak ada yang benar-benar innocent dan bisa dipercaya diantara mereka semua, pun dengan para karakter pendukung. ngomong-ngomong di antara mereka berempat saya paling suka sama karakter Herman. Setelah diajak berkenalan dengan Venus yang self-centeric princess, Luna yang rapuh dan menyedihkan, Adam yang apatis, Herman dan celetukan-celetukan jenakanya terasa bagai angin segar.
Berbicara dengan flow dan ending, saya cukup suka dengan eksekusi Akaigita. last ten pages benar-benar bikin tegang. Cerita ini memang fit untuk dikategorikan dalam genre msytery, thriller-psichological untuk young adult. Yes, young adult and teenagers to be more exact. Kalau kamu suka lima sekawan Enid Blython dengan sentuhan rasa lokal, besar kemungkinan kamu akan suka cerita ini. Akan tetapi, kalau kamu mengharapkan level tegang sekelas Hanibal karya Thomas Harris atau buku-buku Minato Kanae, well besar kemungkinan kamu akan kecewa.
Yang pasti saya sangat menikmati cerita ini dan mengantisipasi karya-karya Akaigita selanjutnya. Alasa saya tidak kasih bintang lima karena ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab di ending, meskipun imo endingnya tidak membuka ruang untuk sekuel
ps : Mention of Family Abuse and Animal Abuse, so take these as trigger warnings
“Pikiran manusia begitu luas, dalam, dan rumit. Tidak semuanya indah di sana.”
“Tubuh kita bisa terbentuk dan hancur dengan mudahnya, tapi pikiran kita tidak. Pikiran kita kekal, selama kita mengutarakannya.”
Selesai dalam sekali duduk. Ini pertama kalinya aku baca karya Akaigita. Dan aku sukaa. Awalnya kupikir novel ini, novel terjemahan yang bergenre fantasi. Ternyata aku salah.
Novel ini bercerita dari sudut pandang empat tokoh. Sehingga aku di buat menebak-nebak tentang siapa sebenarnya dalang dibalik misteri kecelakaan yang terjadi di sumur. Sebab semua memiliki alibi.
Ceritanya seru. Bikin tegang. Tapi aku sedikit kecewa dengan endingnya. Kenapa harus berakhir hanya seperti itu. Kayak kurang memuaskan gitu. Terlalu cepat.
Nah, buat kalian yang penasaran ada kisah apa di balik novel ‘Ephemera’, kalian langsung aja baca novelnya...
(+) Gaya penulisannya bagus. (+) EYD sudah sesuai KBBI. Kurang tahu kalau ada yang terlewat ya. (+) Tidak ada typo.
(-) Terlalu banyak drama. (-) Fokus tidak di kasus tapi di konflik antar tokoh. (-) Banyak adegan yang intinya sama tetapi diulang - ulang. (-) Banyak pertanyaan yang tidak terjawab. (-) Jeda antar ide terlalu banyak yang dibiarkan kosong.
Menurut saya, tidak tepat kalau novel ini dikategorikan sebagai "Thriller". Seperti yang saya jabarkan di atas, fokusnya lebih ke drama dan romansa antara dua tokoh utama.
Saya suka dengan penuturan per-point-of-view seperti yang dipakai oleh pengarang. Namun, penuturan gaya ini mulai membosankan di bagian klimaks, karena yang di-highlight adalah dramanya sementara progres kasusnya sedikit sekali.
Sayangnya itulah yang membuat novel ini salah genre. Teka - tekinya dirajut dengan prasangka, ditambah dengan konflik antar tokoh yang terlalu di-highlight sehingga untuk memecahkan teka - teki di akhir cerita, saya harus berprasangka dan berkonspirasi. Mengapa ? Karena petunjuk tiap cerita disisipkan dengan sangat subtle dan intuitive. Sementara ciri - ciri sebuah thriller adalah petunjuk diberikan dengan jelas dan fokus ada di kasus, bukan drama.
"Tapi sulit rasanya menakar kejahatan diri kita sendiri secara objektif lalu mengkonversikannya ke takaran yang dirasakan orang lain. Terlalu banyak sudut deviasi pada perasaan manusia sehingga menjadikannya bias." (59)
Jarang-jarang aku mau baca teenfiction, karena covernya menarik, jadi penasaran. Bersyukur, ternyata ceritanya seru juga, ga kecewa baca sampai selesai.
Kisah berawal dari Venus yang mengalami koma selama 40 hari karena jatuh ke dalam sumur. Setelah pulih dan pulang ke rumahnya, Venus merasa ada perubahan di keluarganya sendiri juga teman dekatnya, Adam. Venus terlahir di keluarga Kaya, tinggal di rumah besar dengan halaman yang sangat luas, ada rawa dan hutan kecil. Di sekitar lingkungan rumahnya, berdiri pemukiman kumuh. Perbedaan yang jauh.
Ada 4 sudut pandang di buku ini, Venus, Adam, Luna (adik venus, dan Herman. Lewat mereka, penulis sukses membuat pembaca berpikir lebih dalam, menguraikan spekulasi apa yang sebenarnya terjadi di balik kecelakaan Venus.
Penulis mengangkat tema lingkungan, sibling rivalry dan parenting. Dibungkus dengan kisah ala thriller, dengan nuansa khas remaja. Ada sisipan humor sebagai jeda ketegangan di alur cerita.
Bercerita tentang venus yang bangun dari koma tetapi entah kenapa dia merasa keadaan sekeliling nya terasa berbeda. Luna yang lebih banyak diam, Adam yang tak mau berteman dengan nya lagi, dan teka-teki bagaimana ia bisa koma setelah tahu bahwa ia betulan amnesia. Awalnya aku pikir ini cerita fantasi biasa apalagi suma lihat cover nya yg memperlihatkan ular besar dan satu orang perempuan berambut panjang berwarna manis. Otomatis mikirnya sih ini cerita petualangan mencari sesuatu dan boss utama nya adalah ular malah aku mikir rawa deket rumah mereka adalah portal dunia lain hahaha rupanya engga :)
Aku suka sih ceritanya tapi entahlah aku merasa belum puas, untuk karakter hmm sebenarnya aku tertarik sama venus tapi ga ada perdamaian dan perubahan, jadi sedih aja gitu. Yah, mungkin aku setuju sama orang-orang, jika karakter setidaknya yg "oke" banget, Herman yg pegang.
Terlalu banyak sudut deviasi pada perasaan manusia sehingga menjadikannya bias. - p. 59
Kita pasti pernah menjadi antagonis dalam cerita orang lain. Lewat empat sudut pandang Venus, Luna, Adam, dan Herman, diajak berpetualang mengungkap misteri jatuhnya Venus ke sumur, hilangnya kucing dan ternak warga, serta terduga pelaku yang katanya seekor ular besar. Tetapi, siapa sebenarnya yang salah?
Sebuah novel young adult dengan genre misteri-psikologis.
Actual rating: 4.5⭐️ Trigger warning: adolescent-to-parent violence, animal abuse.
Selesai sudah membaca semua karya Akaigita! Clap for me, yeah! Dan untuk karya ini sungguh wholesome dengan masih ada ciri khas Akaigita. Jujur pas baca pov Venus, Adam, sama Luna, ku menantikan tulisan komedi satir nan sarkas yang menjadi trademark-nya penulis, namun belum ada dan DDANG! ternyata disimpan di akhir, haha. Herman oh Herman. This dude sits in the same place with Sella and Bingar. Sebenarnya mau masukin Mike cuma dia terbawa "arus", wkwk. Jadi, dia nggak masuk line up, haha.
Selalu ada teka-teki dalam setiap novelnya. Dan untuk yang sekarang dipadukan dengan bumbu psikologis. Selama baca bisa pindah-pindah gitu keselnya. Pas pov A, kesel sama B, pas pov B malah kesel sama C, gitu aja terus. Aku suka gimana penulisnya "memainkan" perasaan pembaca yang dibuat dag dig dug, ditambah momen Operasi Anaconda—ini gong banget sih—dan semangat Uminya Adam setelah tahu semuanya.
Novel ini selain membahas tentang "remaja", juga mengangkat isu lingkungan hidup dan keseimbangan alam. Dan selalu terkecoh oleh sampul bukunya. Tak kira ini ceritanya berlatar di luar negeri dengan bumbu fantasi—karena ada ular besar dan rambutnya pink—semacam how to train your snake mungkin, tapi ternyata tidak begitu, haha.
Well, aku suka kalimat terakhir penulis di bagian thanks to: tidak ada tokoh yang berubah menjadi lebih baik, musuhnya memang kalah tapi kemenangan tidak didapatkan si tokoh utama, dan tidak ada perdamaian di antara para pihak.
Ditunggu karya lainnya~ Sudah masuk dalam daftar penulis yang sudah pasti ku auto-buy dan auto-read kalau liris buku baru 🌻
Cerita bermula dari cewek bernama Venus. Dia baru saja sadar dari koma. Venus sebelumnya terjatuh ke sumur tua di dekat rumahnya. Dia mengaku melihat ular besar namun kesaksiannya tidak dipercaya. Venus lalu butuh penyesuaian kembali ke lingkungannya. Namun cewek itu merasa ada suatu hal yang di sembunyikan oleh keluarganya.
Hidup dari kacamata Venus terasa abu-abu. Saya belum bisa judgment apapun dan lebih mengikuti alur. Ketika sudut pandang diambil alih Luna, sedikit rahasia mulai terkuak. Karakter Venus trnyata bertolak belakang dari apa yang saya pikirkan. Saya tadinya empati sama nasib dia. Apalagi ketika Adam ikutan membenci Venus. Wah jadi Venus sosok antagonisnya?
Bukan! Venus, Luna dan Adam itu cuma pion. Ada Raja dan Ratu yang memegang kendali semua cerita ini. Mereka semua akan hadir dari sosok yang ga kamu duga. Sama ketika saya menyusun deduksi dimana lokasi ular itu, datangnya justru dari tempat yang ga saya sangka.
Untunglah ada Herman. Tokoh diluar circle memang patut dihadirkan untuk membuat pembaca berpikir jernih. Apalagi gaya penulisan tokoh Herman yang paling membumi. Iya, disaat baca pikiran Venus, Luna dan Adam yang seringkali kelewat serius, Herman malah berhasil membuat saya tertawa ditengah keadaan genting sekalipun.
Momen Luna menemukan kenyamanan bersama Bibinya, adalah yang paling saya suka. Part itu cukup menyentuh. Mengalahkan momen romantis Luna Adam, atau adegan self harm Luna. Maka saya merasa terbanting, ketika menemukan kenyataan dibaliknya. Semua tokoh rupanya tidak baik-baik saja.
Inginnya saya menyelamatkan setidaknya satu karakter sehat waras untuk saya puja. Namun penulis rupanya tidak bersedia. Mereka dan saya mendadak gila jika bicara soal monster kelaparan itu.
Setelah kebingungan mempertimbangkan, mungkin aku kasih rating 3.7/5 ⭐️dulu.
Jujur saja, sampai buku ini selesai dibaca pun aku masih bingung genre apa yang cocok disematkan pada buku ini. Seperti ada unsur magisnya juga. Buku ini memang diceritakan dari beberapa sudut pandang anak SMP, tapi aku sanksi jika bobot materi di dalamnya bisa bebas dibaca anak-anak di usia tersebut. Pasalnya, ada isu-isu dan konflik yang cukup berat. Ibarat tayangan televisi, mungkin ini masuk ke dalam kategori BO (bimbingan orangtua).
Awal mula membaca buku ini, aku sudah dibuat jatuh cinta sama penulisannya. Nggak ada yang ‘nyangkut’ di pikiran, ngalir bacanya. Emosi yang digambarkan dalam tulisan juga sampai. Alur ceritanya seperti potongan puzzle yang satu per satu berkesinambungan setiap kita mencapai bab-bab selanjutnya. Aku sampai terkecoh dengan jalan ceritanya. Tapi, aku masih merasa ada plot hole di sini. Di awal sangat lamban, dan di bagian akhir terkesan buru-buru.
Karakter-karakter di dalam buku ini nggak ada yang bisa dipercaya dan nggak ada yang bisa aku sukai. Semua karakter utama nggak bisa 100% masuk dalam kategori protagonis atau antagonis. Karakter yang aku anggap lucu pun ternyata bikin aku sebal juga. Jadi, seperti nggak ada karakter yang kuat dan berkesan.
Menurut aku ceritanya kurang panjang, karena masih ada yang mengganjal. Namun, aku sangat menikmati proses membaca buku ini. Oh ya, buku ini mungkin akan terasa lain jika dibaca oleh pecinta kucing.
Ephemera merupakan buku rekomendasi dari Kak Wardah untuk 12 Reading Challenge 2022. Awalnya, aku berusaha menyelesaikan buku ini sebelum tahun 2022 berakhir, tapi nyatanya aku ngantuk banget di malam tahun baru kemarin. Alhasil, buku ini menjadi buku pertama yang aku selesaikan di tahun 2023.
***
Venus baru sadar dari komanya. Sekitar satu setengah bulan lalu, Venus jatuh ke dalam sumur. Akibatnya, ia mengalami koma. Setelah sadar, Venus ternyata juga kehilangan ingatannya. Apalagi yang berhubungan dengan kejadian kecelakaan itu.
Menjani hari-harinya kembali ternyata tak mudah bagi Venus. Banyak hal yang telah berubah di sekitarnya. Mulai dari sahabatnya, Adam, yang menjauhi dirinya. Dia juga kaget ketika orang tuanya melarangnya untuk berhubungan kembali dengan Adam. Lalu, adiknya, Luna, juga terlihat seperti menyembunyikan banyak hal darinya.
Yang pasti, Venus merasa kalau orang-orang di sekitarnya menyembunyikan banyak hal darinya.
Ringkasan Cerita
Awalnya, aku pikir buku ini hanya akan berfokus pada Venus dan upayanya mengungkap apa yang terjadi ketika ia terjatuh ke dalam sumur. Ternyata, aku salah. Di buku ini, kamu akan menemukan POV dari masing-masing tokoh. Jadi, tidak hanya dari sisi Venus saja kisah dunia Ephimera ini diceritakan.
Sulit rasanya menakar kejahatan diri kita sendiri secara objektif lalu mengkonversikannya ke takaran yang dirasakan orang lain.
Ephemera oleh Akaigita bercerita tentang kecelakaan salah seorang anggota keluarga dari keluarga Utomo yaitu Venus, yang lalu membawa kita ke dalam masalah rumit kejanggalan tanah warisan keluarga Utomo.
Jujur buku ini mengagetkan. Mulai dari kecelakaan Venus yang tidak beres, Datuk sang ular, pembubuhan sudut pandang yang cukup ‘kaya’, dan berbagai twist semenjak buku ini berganti ke POV Adam. Dari awal baca memang tidak pernah berharap terlalu besar, bahkan sudah siap sama bentuk dari akhir cerita ini. Ternyata cukup memenuhi kepuasan diri, meskipun—menurut gua penyelesaian masalah tentang kecelakaan Venus dan motif dari sang Pelaku masih begitu rancu dan terlupakan begitu saja setelah Pelaku ditangkap.
Epilognya juga cukup memuaskan. Memang porsi mereka di mata gua udah sangat cocok sebagai teman dan buku ini sudah baik tanpa dibubuhi romansa, tapi Adam-Luna sebenarnya gak buruk dan lucu. Hubungan mereka juga tidak terlalu hm... Dipaksakan? Oke oke aja. Lega juga Adam sama Venus berangsur-angsur bisa membaik, dan juga kayaknya Venus udah dapat ingatannya kembali secara keseluruhannya, ya?
Tapi gua juga kesel sih sama bapaknya Adam, ini manusia kayaknya ga nongol-nongol batang hidungnya di buku? Hih, seharusnya dia dilaporkan juga ke Komnas Perlindungan Anak.
This entire review has been hidden because of spoilers.