“Dasar anak-anak sontoloyo.”” Itu kalimat sakti Pak Terry setiap kali dia dibikin pusing oleh ulah Injun, Jeno, dan Nana. Menjadi wali kelas murid-murid “menonjol” ini benar-benar menguras tenaga dan pikiran Pak Terry. Ulah mereka ada-ada saja setiap harinya.
Namun, di balik itu, Pak Terry melihat bakat-bakat terpendam ketiga anak ini. Ia pun mendorong mereka untuk percaya dan berani bermimpi. Dream Launch Project, sebuah kelompok musik berlambang anjing hutan pun dibentuk untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Jika cerita adalah lagu yang terurai dengan kata, maka kisah ini adalah senandung cinta dari tiga bocah pemuja kucing, pecandu kopi, dan penadah sarkasme untuk Tertius Senandika—guru yang sampai kapan pun tak akan berhenti mereka kagumi.”
I don't know where to start. This book left me speechless. But I know I'll keep procastinating the review if I don't write it now, so here it is.
I know this book because Renita talked about it at her ig account. I know, maybe some of you have read this book at wattpad. Unfortunatelly, I'm not a big fan of wattpad anymore. So yes, I prefer reading the published edition.
Maybe, I should know where this story would bring me because that dedication page she posted, but I chose to ignore it—I told myself that was nothing. It turned out wrong. My intuition was right. And then, I didn't know what to say, karena di beberapa bagian, novel ini memancing semacam luka lama. I felt numb. But, I will still thank Renita for writing this masterpiece.
Dream Launch Project berkisah tentang tiga murid SMA—Nana, Jeno, dan Injun—serta seorang gurunya, Tertius Senandika. Berlatar di Ibukota dengan narasi ringan dan dialog khas anak remaja, novel ini sukses mengundang tawa renyah saya dari awal membaca.
Penokohannya khas anak SMA, ada roman ringan yang sayangnya terlalu ringan karena memang roman bukan tema utama novel ini, dan saya nggak keberatan. Karena alunan kisah trio sontoloyo ini sukses membuat saya bertahan hingga halaman terakhir dengan tawa dan air mata yang kadang terjadi bersamaan.
How could you laugh and cry at the same time? I also asked myself that question.
Setiap tokoh memiliki ceritanya sendiri, side storynya sendiri, masalahnya sendiri, meskipun kisah utama mereka berhubungan. Semua tertuang rapi dan tiap tokoh mendapatkan jatah yang sama rata tanpa deskriminasi. Masih sama seperti kedua novel Renita yang saya baca sebelumnya, DLP menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas. Tentunya masih ada bagian yang keselip, tapi saya rasa nggak begitu kelihatan. Gaya bahasa yang digunakan—seperti yang saya katakan di atas—lebih santai, dialognya kebih renyah daripada Kita maupun Guardiationship, cocok dengan penokohan dan latar tempat yang diambil. Masalahnya masih tetap sama sih, mayoritas kalimat penjelas setelah dialog dihilangkan, yang membuat saya kadang bingung dialog siapa yabg dimaksud di situ.
Saya lumayan senang karena di sini Renita tidak menggunakan metode flashback saat salah satu tokohnya melihat A atau B, errr... Sebenarnya ada sih, tapi nggak sesering di Kita atau Guardiationship. Tapi masalahnya, ada beberapa bagian yang time stampnya dimunculkan. Menurut saya nggak perlu sih. Akan lebih cantik jika langsung diceritakan oleh tokohnya alias time stampnya dibuat tersirat aja.
Dan, bebicara tentang konflik dan klimaks yang sepertinya sukses menguak luka lama saya, saya nggak ada masalah dengan konflik maupun klimaksnya. Hanya saja, klimaks yang berada hampir di akhir buku menyebabkan penyelesaiannya terburu-buru. Bahkan jadinya hanya fokus pada salah satu tokoh. I'm not complaining, cuma nggak fair aja untuk tokoh utama lainnya.
I felt numb in the end. I didn't blame the author for writing about this sensitive topic. A little warning wouldn't hurt anyone, tho. But still, I'd like to thank the author—again.
Thank you Renita, for writing this beautiful story. Thank you for introducing Tertius, Jevais, Ezekiel, and Artajuna. Their story will be remembered.
I would like to say thank you so much to whoever recommend me this book. Kalo ga salah, dapet rekomendasi di base Twitter. Awalnya baca di Wattpad dulu. Abis selesai baca dan ternyata sebagus itu, aku langsung beli bukunya biar dapet extra chapter. Haha. Buku ini aku temuin pas aku lagi pusing mikirin idup. Ada salah satu kalimat yang bisa dibilang relate sama keadaanku waktu itu. Di halaman 383 Terry pernah bilang, kalo hidup ini adalah salah satu bentuk keberanian. Manusia itu menakuti sesuatu yang nggak mereka ketahui, sesuatu yang nggak pasti. Sedangkan hidup itu sendiri tercipta dari milyaran ketidakpastian. Kalau begitu, bukankah hidup itu sendiri adalah bentuk keberanian kita? Dan dari kata-kata Terry tadi, bikin mata berkaca-kaca. Haha, cengeng emang. Tapi dari situ kaya dapet pencerahan (ceilah). Kita idup doang tuh udah berani loh. Karena selama kita hidup, masalah bakal selalu terus-terusan ada, dan ajaibnya kita juga bisa nyelesaiin semua masalah itu. Kalo liat kebelakang tuh kaya, "wow, lu keren bisa sampe sini" Gitu. Wkwk. Kalo kata Kelly Clarkson, what doesn't kill you, makes you stronger.
Dari segi alur, novel ini keren banget. Aku kurang tau ini masuk genre apa, slice of life mungkin? Dan untuk kategori slice of life, novel ini ga membosankan. Selalu ada hal-hal kecil yang menarik, yang bisa bikin ketawa. Kalo baca novel ini, kamu bakalan bisa ketawa tapi di bab lain kamu bakalan sedih. Hahaha. Tapi mungkin bisa dikasi trigger warning sih, karena ga semua okay dengan ngangkat masalah suicide. Bahasa di novel ini ringan, kaya bahasa sehari-hari. Semua tokoh sentral punya cerita dan masalah masing-masing. Dan cerita mereka juga dibahas di extra chapter. Dari novel ini aku kaya dapet pembelaan. Hehe. Ga masalah tujuan kamu hidup atau mimpimu cuma sekedar pengen nonton konser, ketemu artis, atau nungguin film Fantastic Beasts. Karena semua mimpi itu penting, sekecil apapun mimpi itu, bisa jadi alasan seseorang untuk tetap bertahan. And lastly, thank you kak Renita yang udah bikin buku-buku yang ga cuma bisa entertain pembaca, tapi juga bisa buat healing kalo lagi suntuk sama kehidupan duniawi. Hahaha.
Entah udah yang keberapa kali aku baca cerita ini, tapi tetap merasa takjub sama alurnya dan selalu nangis sama endingnya. Baca ini tuh beneran campur aduk, di halaman sebelumnya kamu bisa aja ketawa lepas karena lawakan yang ada di dalamnya, tapi begitu baca halaman berikutnya, kamu bisa aja tiba tiba nangis. Dalam buku ini juga banyaaaaak sekali kalimat kalimat indah yang sangat meaningfull. Mau berterimakasih sama Kak Renita for made this masterpiece.
cukup banyak catatan dari ku untuk novel ini hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk dnf, karena kalian jg pasti tau bagaimana rasanya 'dipaksa' harus menamatkan novel yang tidak kamu sukai. tetapi ... agar tidak trlalu bias, aku akan buat poin-poin yg kurang aku suka dari buku ini:
1. nama tokohnya. khas wattpad sekali, terlalu ribet. dan aku kesulitan mengingat nama mereka yang tidak konsisten. kadang dipanggil dengan nama panggilan, kadang dengan nama lengkap. masalahnya, nama panggilan dan nama lengkapnya tidak nymbung, terlalu jauh. butuh waktu cukup lama bagiku untuk sadar tokoh mana yang sdg penulis maksud. dan jg, ini trnyata novel kpop yah? jd visualisasinya mnggunakan idol boygroup dg nama panggilan yg trnyata sudah dibuat lokal oleh para fansnya. harusnya ini mempermudah pmbaca non kpoper atau non fans, tp nama asli karakternya yg malah dibuat tdk melokal mmbuat poin plus pd novel ini brkurang
2. terlalu banyak dialog. yg aku tau, novel yg baik dibuat dengan komposisi show & tell yg seimbang. tapi dengan terlalu banyaknya dialog ini, rasanya show & tell itu tidak berimbang. juga, aku mrasa boring selama membaca novel ini karena dialognya yg telalu banyak. dlm visualisasi di otakku, aku mnjdi tokoh ktiga yg dipaksa mlihat interaksi antar tokoh yg trlalu brtele2 krna dialognya yg gk pnting2 amat
3. unsur komedinya yg kurang ngena. ini cukup subjektif, tp aku kurang enjoy dgn komedinya yg mnnurutku garing, jayus. juga pmakaian bbrapa istilah gaul yg bahkan tdk familiar sprti istilah goban dimana di realitanya byk disebut dg istilah gocap. pndpt pribadiku, mungkin pnulis kurang survey tp ya gtw jg sih
4. untuk novel remaja dgn target pasar anak skolah mnengah untuk crita berlatarkan kluarga broken home dgn brbgai macam kasus yg dicritakan dlm 420 halaman itu, terlalu banyak. novel ini sbnarnya bisa mncapai 200-300 hal saja kalau si penulis dan editor bisa memangkas dialog2 yg tidak penting itu
lalu poin plusnya apa?
1. moral value pada buku ini cukup mmbuatku trkesan (walau aku tdk bisa menamatkannya, tp sdh ada bbrapa moral value yg bisa aku dpt dri novel ini)
2. pnulis mnggambarkan kondisi sosial para tokohnya yg kompleks pada pmbaca dgn cara yg cukup mnyenangkan. msalah broken home di usia remaja itu masalah yg srius, tp prtimbangan pnulis untuk menceritakannya pd pmbaca dg cara yg tdk mmbuat pmbaca ikut depresi dg mnyelipkan bbrapa unsur komedi itu suatu hal yg patut diapresiasi (biarpun sisi komedi yg itu tdk bgtu lucu bagiku, mungkin lucu bagi yg lain)
3. tokoh pak guru yg out of the box itu mnjadi sorotan yg utama bgiku. sejauh ini aku mnyukai karakternya
well, smua review ini brsifat pribadi. kputusan membaca novel ini ada di diri masing2.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Saya udah banyak baca karya Renita dan ini adalah salah satu masterpiecenya. Secara garis besar, bisa dibaca di Wattpad dan kalau nggak salah pun sampai sekarang masih bisa dibaca. Namun ada beberapa adegan yang diubah sehingga alur ceritanya lebih berkesinambungan dan runtut. Diawali dengan pak Terry yang ingin mengakhiri hidupnya, namun mendengar ucapan temannya, Tendril, untuk menjadi berarti sebelum ia mati. Di sini kata kuncinya. Terry bisa memilih untuk hidup dengan baik bersama tiga sontoloyonya, meski ada bagian dirinya yang hilang. Namun bagaimana jika ia memilih untuk menjadi bagian dari anak yang disayanginya? Tidak ada yang salah dari keputusan yang diambil tokoh Terry dan novel ini memberi perspektif tentang keputusan yang diambil Terry dan membuat para muridnya berani bermimpi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Dream Launch Project" buku yang aku YAKIN BANGET jadi best read aku di tahun 2023 ini, meskipun masih ada beberapa bulan lagi untuk menuju akhir tahun.
aku beneran sesayang itu sama semua tokoh yang ada di karya kak Renita satu ini HUHUHU. 🥹💗 persahabatan mereka yang luar biasa, interaksi mereka pasti bikin yang setiap baca happy! aku ngga akan bisa move on sama buku ini. 😣
meskipun aku takut buat lanjutin buku ini (karena takut dapet ending yang ngga aku pengenin) tapi akhirnya aku udah ada di halaman terakhir dari buku ini. setelah aku pikir-pikir kembali mungkin ini emang udah ending terbaik untuk semuanya.
pokoknya i love youuu to the moon trio sontoloyo dan pastinya master sontoloyo! 😽🫶🏻
Katanya kita harus jadi penggemar nomor satu untuk diri kita sendiri sebab hanya diri kitalah yang kita punya untuk selalu ada. Pertama nemu cerita ini di explore instagram, ada seseorang yang membuat video visualisasi tentang cerita ini dan akhirnya tertarik. Kemudian instal wattpad dan membacanya. Kemudian di awal 2020 cerita ini diterbitkan sebagai buku. Cerita ini mengandung coklat dan bawang dengan porsi seimbang. Di awal kita akan bertemu dengan tiga siswa dengan segala masalah hidupnya. Cerita ini realistis, buat kita sadar bahwa mereka itu sebenarnya ada di sekitar kita, mungkin tidak mungkin. Perjalanannya penuh tawa dan sesak. Seolah kita mampu menjadi setiap tokohnya. Lewat cerita-cerita mereka, aku jadi lebih banyak berproses untuk menghargai diri sendiri juga orang lain.
Over all, masterpiece. Mau berterimakasih banget sama ka Renita karena udah buat karya sebagus ini. Sebelumnya udah pernah baca gratis di Wattpad, tapi setelah baca kedua kali di buku cetaknya, reaksi saya sama sekali ga berubah. Saya tetap merasa hangat sekaligus menangis karena Jevais, Artajuna, Ezekiel, juga Terry. Membaca bagaimana keempat orang asing dengan latar belakang yang berbeda, namun berhasil terjerat ikatan yang begitu erat dan hangat. Buku ini selalu menjadi tempat pulang paling hangat untuk saya, terimakasih ka Renita.
Dan buku ini selalu membuat saya menjadi campur aduk, entah itu rasa senang, sedih, dan emosional semuannya itu tercampur dalam ramuan buku berjudul Dream Launch Project ini. Awalnya saya pikir awal dari buku hingga akhir buku akan menjadi komedi, namun ternyata pikiran saya salah. Namun tak apa, Dream launch project sudah menemani saya di awal 2021 ini
All of Kak Renita's works are such a masterpiece and this one is one of her best. I really love the way she tells her stories, also, the witty jokes. Some parts of this book are able to make me weep. This book discuss about friendship, dream, passion, mental health matters, etc. in a way that is easy to understand. Def a page turner and worth to read.
a heart-warming story. bukan cuma cerita soal pertemanan yang biasa, bukan cuman soal kehidupan keluarga yang macem slice of life so so gitu, engga. bayak banget relationship yang ada di dalem novel ini, keluarga, pertemanan, percintaan sampe soal hubungan guru dan murid. wajib baca kalo kata gue❤️
Ceritanya bener-bener asik sejak awal. bahasa nya santai tapi memang banyak umpatannya. bagian-bagian akhir buku ini bikin nangis deres, ga nyangka sampe nangis 3x. dulu beli buku ini karna liat dari sampul nya yg cantikk bgtt!!!
This. is. masterpiece. Semuanya LITERALLY semuanya kaya bnr bener sebagus itu dari segala aspek. poin ++++++++++ buat nama karakternya yang indah banget dan after effect bacanya aku gamon dan merasa kosong, hiks🥲
kak ren’s writings never fail to amazed me. ceritanya dikemas dengan rapi tapi tetep seru dan banyak yang bisa diambil dari buku ini sih. sebuah testimoni yang agak tmi: mata bengkak karena nangis!!!!!!!
Pertama baca ini versi wattpad dan akhirnya beli novel karena mau baca special ch dan karena katanya ada perbedaan versi novel. Waktu udah baca, ternyata wattpad sama novel tetep aja sama sama sedih endingnya😭 berharap alternative ending wattpad bisa jadi ending novelnya🥲
This entire review has been hidden because of spoilers.
Jangan tertipu sama kemasan awal yang dibumbui banyak komedi, buku ini punya twist yang extra dan membuat kita berpikir banyak soal hak melanjutkan hidup atau tidak, juga soal mental health
This entire review has been hidden because of spoilers.
Awal baca buku ini saya kira bakalan komedi dari awal sampai akhir .Ternyata saya salah ,salah sekali .Bener bener deh karya nya kak Renita ,mantap sekali .
Masih jadi buku favorit aku sampai saat ini. Banyak perjuangan keren di dalam ceritanya. Dan ada pandanganku yang berubah mengenai mereka yang ingin mati.
first of all i would say thank you for writing such a beautiful story. one of renita’s masterpiece. it left me speechless. heartwarming and tearjerking.
Cerita utamanya tentang Jevais, Artajuna, dan Ezekiel yang terlibat perbudakan oleh guru bernama Pak Terry atau Pak Toil (panggilan dari Artajuna si sontoloyo second). Perbudakan ini bukan sekedar iseng atau buat naklukin mereka - Jevais dan Artajuna - yang terkenal nakal aja, tapi ada alasan lain yang membuat Pak Terry berada didekat mereka. Perbudakan ini membawa mereka belajar dan dapat sesuatu yang lebih berarti. Setiap karakter yang diceritakan punya luka tersendiri dan mereka ada untuk satu sama lain. Aku sempet nangis baca beberapa bagian cerita dan menurutku ini salah satu cerita yang bagus yang pernah aku baca.
This entire review has been hidden because of spoilers.