dapet lungsuran dari Sungging Raga ^.^
------>
suka paragraf yang ini :
Jika hidup itu sendiri adalah sebuah keputusan: diterima atau tidak, dilanjutkan atau diakhiri. Cinta tidak lebih dari itu semua. Mencintai pada akhirnya adalah sebuah keputusan. Dan karena sebuah keputusan, maka berbagai pertimbangan sah menjadi landasannya. Pada akhirnya, toh cinta, sebagaimana banyak hal lain: tidak turun dari langit yang gaib. Ia, cinta, hanya bisa diputuskan dan dikerjakan. ~sesuatu telah pecah di senja itu, P.66
Kelak, kamu akan sering bertemu dengan jenis manusia seperti Sangkuni. Dia ada di mana-mana. Pintar dalam bicara, pembisik yang ulung, tukang mengadu domba, culas, pandai mengail di air keruh. Pendek kata, hidupnya untuk menjilat yang atas dan menginjak yang bawah. Orang sejenis itu tidak bisa mengerjakan apa-apa. Satu-satunya yang bisa dikerjakannya adalah memakan riba kerja orang-orang di sekitarnya. Anehnya, biasanya orang-orang yang seperti itu akan mendapatkan posisi-posisi yang bagus di tempat kerja mereka. Tapi percayalah, Gusti Allah ora sare. Tuhan tidak tidur, anakku... ~rasa simalakama, P.126