Too often, Indonesia and the Netherlands present their shared history as two separate stories that barely seem to touch one another. Grand narratives of heroes, victims, soldiers and flags. But where is the common ground? Where can we place the subtle twists of fate and ambiguities of the heart? What do we do with the personal stories that fit neither country nor flag?
In Between, Di Antara brings two worlds together in poems, personal stories and mantras. Robin Block (NL) and Angelina Enny (ID) create an in-between world of the past and present, the mythical and the real, the personal and the universal.
What happens when we share our most personal stories? And listen to the sounds of our memories and dreams, the voices of our ancestors?
Pertemuan penulis Indonesia keturunan Tionghoa dengan musisi Belanda keturunan Indo. Dari puisi-puisi buku ini kita bisa tahu apa yang menjadi persamaan dan perbedaan antara mereka berdua, sebagai perwakilan dari generasi yang tidak memilih tetapi telah berada di "di antara".
Akhirnya ketemu juga satu buku kumpulan puisi yang saya suka konsepnya, tema besarnya, rangkaian diksinya, sampai makna yang disampaikan. Saya juga bisa mengerti dan menikmatinya, meski puisi bukan genre yang biasa saya jelajahi.
Dan, saya betul-betul bisa belajar cara menyusun kata yang puitis, tapi gamblang. Indah, tapi tak membingungkan. Karena ini buku bilingual dan bahasa Inggrisnya mudah diikuti, jujur saya skimming bagian bahasa Indonesianya. Lagi pula terjemahannya kurang lebih sama dengan interpretasi saya, dan tak kurang cantiknya.
Penulisnya dua orang, dan tiap topik dibawakan entah secara ping-pong, saling melengkapi, atau malah kontras. Ada yang beda sudut pandang, beda timeline, sampai beda format. Senang menelusurinya 😀 kadang jenaka, kadang miris, tak jarang tragis. Namun, perkawinan karya dua penulisnya ini tetap membawa kesan dinamis, tak ada yang kaku atau terlalu baku. Sejarah yang diceritakan jauh dari kesan buku teks dan justru terasa sangat personal.
Ternyata satu proyek dengan Perjalanan Menuju Pulang. Bedanya, Perjalanan Menuju Pulang saling balas surat, buku ini saling balas puisi. Satu penulis dari Indonesia, satu lagi dari Belanda yang memiliki leluhur orang Indonesia. Puisi-puisi dari dua kutub persepsi yang mencoba mencari titik "di antara". Menarik mengetahui bagaimana generasi ketiga penyintas perang memaknai kehidupan kakek/neneknya. Benarkah trauma sejarah diturunkan?
Impressive! this is my first time reading a poetry book written by two authors who either complete each other writing or writing poem in contrast with another but gave more meaning to the big theme of the book.
even tho I didn't understand some of the poems inside but I enjoy the beautiful word choices I haven't heard yet before.
The sarung bantal one made me impressed. It's similar to my grandma's, by looking at it i can smell my grandma's house and the warm sarung bantal and her thick blanket. The picture recalling the memory from my childhood :)