Hadji Agus Salim adalah sosok diplomat yang sangat cerdik, antiminder, dan pendebat ulung yang pernah dimiliki Republik ini. Seorang jenius yang sangat kritis, ulama moderat, sumur intelektual dan kearifan. Pantas jika Bung Hatta memberikan sanjungan, Sikapnya yang tangkas itu memberikan garam dalam ucapannya. Biasanya terdapat dalam perdebatan atau tulisan yang menangkis serangan lawan atau dalam pertukaran pikiran yang berisikan lelucon. Di situlah terdapat apa yang dikatakan orang dalam bahasa Belanda: Salim op zijn best. Prof. Schermerhorn mengakui kecemerlangan intelektual Agus Salim, seperti dikutip sejarawan Asvi Warman Adam (2004), Schermerhorn pernah berujar, Orang tua yang sangat pandai ini seorang genius dalam bidang bahasa, mampu berbicara dan menulis dengan sempurna dalam paling sedikit sembilan bahasa, mempunyai hanya satu kelemahan, yaitu selama hidupnya melarat.
Haidar Musyafa lahir dalam keluarga yang sederhana di Sleman, 29 Juni 1986, putra pertama dari pasangan Allahuyarham Bapak Sudarman dan Ibu Wantinem. Baginya, kehidupan ini tak lain hanyalah ladang untuk berbagi kemanfaatan bagi sesama. Berbagi kebaikan. Berbagi ilmu. Berangkat dari keyakinan itulah kemudian ia menekuni dunia tulis-menulis dan menjadi salah satu pendiri Sahabat Pena Nusantara (SPN).
Kegigihannya dalam berkarya telah melahirkan antara lain novel-novel biografi: Tuhan, Aku Kembali: Novel Perjalanan Ustad Jeffry Al-Bukhary; Cahaya dari Koto Gadang: Novel Biografi Haji Agus Salim 1884-1954; Sang Guru: Novel Biografi Ki Hadjar Dewantara, Kehidupan, Pemikiran, dan Perjuangan Pendiri Tamansiswa 1889-1959; Sogok Aku, Kau Kutangkap: Novel Biografi Artidjo Al-Kostar (proses terbit); Hamka: Sebuah Novel Biografi; dan Dahlan (Sebuah Novel).
Juga, buku-buku Islami inspiratif: Allah Maha Pengampun: Janganlah Engkau Berputus Asa; Detik-Detik Menjelang Kematian; Renungan Kehidupan; Hidup Berkah dengan Doa; Siapa Bilang Orang Berdosa Gak Bisa Masuk Surga?; Agar Pintu Surga Terbuka Untukmu; Jangan Kalah oleh Masalah; Kode dari Tuhan; Agar Rezeki Tak Pernah Habis; Tuhan, Saya Ingin Kaya; Ensiklopedi Muslim Harian; Cerdas Mendahsyatkan Potensi Hati dan Pikiran; Agar Nikah Berlimpah Berkah; dan Doa-Doa Harian bagi Muslimah.
Penulis berharap pembaca berkenan mendoakannya agar di kemudian hari dapat menghadirkan karya-karya baru yang akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat luas. Bagi para pembaca yang ingin menyampaikan saran, kritik, atau bertegur sapa menjalin korespondensi dapat menghubunginya melalui: Email: haidarmusyafa2014@gmail.com dan Fanpage FB: Haidar Musyafa.
Setelah membaca buku ini. saya rasa ada perbaikan yang harus di kerjakan oleh penulis. semoga ini menjadi kritik membangun, bukan sebaliknya. 1. Soal penulisan latar dari zaman pada tokoh ini hidup, terlalu dekat dengan zaman sekarang, saya tidak bisa membayangkan latar seperti apa tokoh ini hidup. jadi gambaran soal latar, itu menunjukkan riset yang dalam soal tulisan dan novel yang di buat. 2. Judulnya Diplomat nyentrik penjaga martabat Republik, saya belum ada satu bab yang kuat narasinya menyatakan bahwa Hadji Agus Salim se nyentrik itu, saya rasa nyentriknya belum digambarkan kuat oleh penulis, ini saya tidak jelas di gambarkan. Apa yang nyentrik dari Agus Salim? 3. Soal judul lain, Penjaga Martabat Republik,Nah hal ini juga tidak secara jelas peristiwa heroik mana yang di narasikan sebagai penjaga republik? 4. Saya seperti membaca buku pelajaran sejarah dibandingkan membaca novel fiksi, emosi yang ada tidak dibangun dengan baik, atau di awal sudah dicoba, tapi terlalu datar di tengah. 5. Tokoh lain seperti HOS Cokroaminoto terlalu di tonjolkan disini, jadi rasanya Hadji Agus Salim hanya pelengkap saja. apa betul begitu ya?
Tapi tidak mudah untuk menulis ulang sejarah orang Besar, Riset yang dalam dari literatur, dari tempat peristiwa dan tokoh yang berperan menjadi penting dalam penulisan buku novel sejarah, tapi hal ini tidak begitu kentara di buku ini.
Pembahasan tentang tokoh Hadji Agus Salim maka tak akan luput juga mengenai pembahasan zaman pra kemerdekaan Indonesia. Hadji Agus Salim merupakan salah satu tokoh yang turut berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Novel biografi ini ditulis dengan kata ganti 'aku' sehingga mirip seperti autobiografi. Bedanya, novel ini dibuat fiksi sehingga saya tidak tahu sejauh mana kebenaran mengenai sosok Hadji Agus Salim ini.
Novel biografi Hadji Agus Salim menceritakan kehidupan Hadji Agus Salim mulai dari masa kanak-kanaknya. Nama aslinya bukanlah 'Agus', melainkan Masyhudul Haq. Nama 'Agus' berasal dari salah seorang pembantu di rumahnya yang berasal dari Jawa dan kerap memanggilnya 'den bagus' sehingga orang-orang sekitar terbiasa memanggilnya Agus. Beliau mengenyam pendidikan ala Belanda sehingga pola pikir awalnya adalah Belanda. Namun, ketika ia mendapat tugas untuk menjadi konsulat di Jeddah, ia banyak berguru kepada syaikh di Mekkah dan mulai memiliki cita-cita luhur untuk sesama rekan pribumi.
Kiprahnya di bidang politik dimulai dari penugasan pemerintah Belanda untuk memata-matai tokoh Sarekat Islam, yaitu Raden Mas Tjokroaminoto. Di tengah menjalani tugasnya sebagai mata-mata, beliau pun akhirnya berubah haluan, dan justru bergabung ke Sarekat Islam. Beliau pun menjadi orang kepercayaan Tjokroaminoto yang merupakan pimpinan Sarekat Islam. Dari perjalanannya menjadi petinggi Sarekat Islam yang memiliki tujuan pembebasan rakyat dari tindasan penjajah, beliau pun dipercaya menjadi tokoh yang berperan dalam banyak perjuangan meraih dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Novel biografi ini bisa membuat saya 'terbawa' ke masa-masa Hadji Agus Salim semasa kecil, hingga dewasa. Saya juga menjadi lebih memahami tentang sejarah yang dulu saya pelajari waktu masih SD, meskipun ini diceritakan dari sudut pandang Agus Salim saja. Secara umum, buku ini sudah baik. Akan tetapi dapat lebih bagus apabila besar font disamaratakan. Saya mendapati pada halaman 146-149 ukuran huruf agak lebih besar dibanding yang lain. Beberapa kesalahan penulisan kadang ditemui dan kata yang belum diberi jarak.