Walau masih muda, Dio merasa tak punya masa depan. Masa remajanya sudah habis di jalanan bersama anak-anak telantar lain. Kini di usia 19 tahun ia harus berjualan DVD bajakan untuk bertahan hidup. Namun, suatu hari Om Jon, pensiunan intelijen Angkatan Darat itu, datang dan menawarinya pekerjaan aneh.
Dio yang awalnya ragu akhirnya menerima pekerjaan itu. Apalagi Om Jon adalah orang yang pernah ia kenal baik di masa lalu. Ia hanya tak menyangka harus menjalani pelatihan berat.
Akan tetapi, itu baru permulaan karena bahaya nyata justru sedang menunggu. Misi pertama yang harus diselesaikannya ternyata membawa Dio dalam konspirasi tingkat tinggi di sebuah maskapai penerbangan di Indonesia.
Nama Tsugaeda sudah tidak asing lagi di telinga saya. Dua karya Tsugaeda sebelumnya, yaitu Rencana Besar dan Sudut Mati banyak mendapatkan ulasan positif dari pembaca. Bagaimana Tsugaeda selalu bisa memberikan cerita misteri dan investigasi yang memadukan unsur politik di dalamnya. Beruntung kali ini pada akhirnya saya bisa mencicipi karya beliau lewat buku terbarunya, Efek Jera. Hasilnya luar biasa, saya baru kali ini menemukan cerita dari penulis lokal yang memadukan misteri, thriller, dan politik kekuasaan di dalamnya. Tsugaeda memiliki ciri yang menarik dalam tulisannya yang menghipnotis dan menjerat pembacanya. Sampul buku Efek Jera bisa dikata sangat seusai dengan tema ceritanya. Ilustrasi sebuah pesawat terbang yang sedang melayang mewakili kasus Pendia Airways yang memang menjadi pembahasan utama. Latar siluet bangunan perkotaan ditambau latar warna hijau yang gelap memerlihatkan dunia kelam persaingan bisnis yang kotor. Sampul buku yang mungkin terlihat simpel dan sederhana, tapi memenuhi makna ceritanya.
Efek Jera mengangkat tema cerita investigasi penyelidikan ala-ala detektif. Namun, yang menarik di sini adalah adanya unsur politik kepentingan orang-orang kelas atas yang bermain kotor di dalamnya. Diceritakan sebuah maskapai Penida Airways memiliki banyak skandal dan permasalahan. Meskipun terkenal bertarif murah, tapi pelayanan yang diberikan Penida Airways seringkali mengecewakan. Di sini ada Dio, seorang penjual DVD bajakan, yang diajak oleh mantan prajurit TNI AD, Om Jon, untuk ikut bergabung menyelidiki dan membongkar kebusukan Penida Airways. Penida Airways sendiri meskipun banyak mengalami kritikan dan masalah, tapi anehnya tetap bisa bertahan di dunia penerbangan nasional. Bagi saya membaca Efek Jera adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Sebagai pembaca kita akan diajak berpetualang bersama Dio dan timnya untuk menyelidiki kasus Penida Airways. Ketegangan, kekesalan, hingga ketakutan bisa saya rasakan saat membacanya. Tsugaeda bisa menaik-turunkan perasaan pembaca melalui penceritaan yang tidak membosankan. Cerita yang tak hanya bagus, tapi juga sarat ilmu baru di dalamnya, khusus dunia penerbangan.
Dio menjadi tokoh sentral dalam Efek Jera. Dio merupakan seorang penjual DVD bajakan yang telah merasakan asam manisnya kehidupan jalanan. Meskipun ia hidup dan tumbuh di jalanan, tapi latar belakangnya di masa lalu membentuk karakter Dio yang cerdas, kritis, dan berani. Pada saat Om Jon mengajaknya untuk bergabung dan bekerja bersama dirinya, Dio awalnya sempat ragu. Namun, saat diperlihatkan fakta dan realita yang sesungguhnya Dio tak perlu berpikir dua kali untuk langsung bergabung. Kemudian ada tokoh Om Jon. Om Jon merupakan seorang pensiunan TNI AD. Berkat pengalaman dan koneksinya di dunia militer Om Jon tidak kesulitan saat harus mencari dan merekrut Dio sebagai anggota tim investigasinya. Lalu ada tokoh Pak Makarim yang merupakan seorang konsultan ekonomi yang terkenal. Pak Makarim yang memiliki nama dan materi mempermudahnya untuk membentuk sebuah tim investigasi yang solid. Terakhir ada tokoh Dinta yang misterius dan dingin. Tokoh Dinta tak banyak muncul sebenarnya dalam jalan ceritanya. Hanya muncul sekali-sekali di saat dibutuhkan. Namun, keberadaannya berhasil menambah kekompakan dan keseruan tim Investigasi. Meskipun tidak terlalu kuat dalam menggambarkan setiap karakter tokohnya, tapi Tsugaeda masih bisa menghidupkannya. Masing-masing tokoh memiliki ciri dan kepribadian yang menarik. Contohnya Dio yang meskipun hidup di jalanan, tapi memiliki wawasan yang luas akibat hobinya membaca buku.
Efek Jera menggunakan dua sudut pandang dalam menceritakan ceritanya. Sudut pandang orang pertama lewat tokoh Dio dan sedikit sudut pandang orang ketiga melalui beberapa tokoh pendukungnya. Penggunaan dua sudut pandang ini sama sekali tidak mengganggu karena memang penulis menyampaikannya dengan baik. Malah saya bisa lebih masuk ke dalam karakter setiap tokohnya yang asyik dan menyenangkan. Gaya bercerita Tsugaeda juga tergolong ringkas, to the point, dan lancar. Pembaca tidak akan menemukan gaya bercerita yang betele-tele dan berbelit-belit. Penulis menyajikan setiap potongan ceritanya secara singkat dan lugas, tapi tetap nyaman untuk dibaca. Alur ceritanya berjalan dengan cepat dan mengalir. Pembaca seakan dihipnotis untuk terus mengikuti jalan ceritanya. Latar tempat yang dipakai pun cukup banyak, mulai dari Depok, Jakarta, Bogor, hingga Korea Selatan. Setiap tempat dideskripsikan dengan cukup baik dan terasa.
Konflik cerita baru terasa saat Dio sudah mulai menjalankan aksinya bersama Om Jon dan Pak Makarim. Di mana ia harus menyelidiki dan membongkar kebusukan Penida Airways yang selama ini selalu berhasil lolos dari hukuman akibat koneksi dan materi. Penyelidikan Dio tak hanya soal pelayanan buruk Penida Airways terhadap konsumen dan pegawainya, tapi juga ada suap dan pembunuhan yang menyertainya. Dio telah masuk ke dalam mara bahaya yang akan mengancam nyawanya demi menegakkan kebenaran. Konfliknya terbilang menegangkan dan seru untuk diikuti. Banyak sekali adegan aksi yang memacu adrenalin pembacanya. Di sini pembaca tak hanya sekadar menyimak sebuah investigasi, tapi juga ada pertarungan dan pengejaran yang siap membuat jantung berpacu. Saya suka dengan cara Tsugaeda dalam menyajikan sebuah konflik yang tidak terlalu berlebihan, namun dapat mengajak pembaca untuk ikut serta merasakan ketegangan yang dialami sang tokoh utama, Dio.
Efek Jera memberikan efek yang sebaliknya dari nama judul bukunya, yaitu pembaca bukan dibuat jera, tapi dibuat kecanduan. Tsugaeda membawa sebuah konsep cerita investigasi yang mungkin masih sangat sedikit di Indonesia, khusus novel lokal. Tak hanya itu penulis pun memiliki kemampuan dalam meramu cerita dengan sangat baik. Akan mudah bagi pembaca untuk larut dan hanyut dalam aliran ceritanya yang ringan dan tak perlu banyak berpikir. Hanya dengan sekali duduk novel ini bisa dilahap habis. Selain itu intrik di dalam kasus Penida Airways ini pun tidak main-main. Penulis terlihat sangat serius dalam meriset berbagai hal yang akan menguatkan ceritanya. Berbagai aspek dalam dunia penerbangan dibahas dengan lengkap dan jelas. Menjadi sebuah informasi baru, khususnya bagi saya, yang akan menambah ilmu pembacanya. Sedikit kekurangan dari novel ini mungkin terletak di latar belakang beberapa tokohnya yang masih terasa kurang digali. Selebihnya Efek Jera memberikan pengalaman membaca yang dapat membuat jantung berpacu lewat berbagai aksi menegangkan yang tersaji. Setelah membaca Efek Jera saya jadi penasaran dengan karya-karya Tsugaeda yang lainnya.
Aku sudah pernah baca dua buku sebelumnya karya penulis ini. Rencana Besar dan Sudut Mati. Sejak baca dua buku itu, aku memutuskan akan membaca lagi karya-karyanya yang lain. Ketika (akhirnya) Efek Jera ini terbit, rasanya aku takut habis. Akhirnya, aku awet-awet bacanya.
Sesuai dengan tagline di depan kover, Efek Jera memang novel investigasi. Tidak terlalu thriller dengan aksi berdarah-darah, tapi investigasinya mantap. Risetnya oke sekali, terasa realistis. Konfliknya dekat dan aktual. Munculnya tokoh utama yang biasa-tapi-ternyata-tidak-biasa itu menjadikan buku ini jadi punya daya tariknya sendiri.
Ketika ada tokoh di Rencana Besar muncul lagi di sini, lalu tokoh dari Sudut Mati pun disebut-sebut, wah, aku cengar-cengir sendiri. Rasanya seperti reunian.
Kalau mau main membandingkan, Rencana Besar masih jadi favortiku. Efek Jera belum terlalu banyak sentuhan emosi personal tokohnya (sesuatu yang aku bilang kurang muncul juga di Sudut Mati, tapi terasa di Rencana Besar). Lalu, aku memang mengharapkan sesuatu yang lebih menegangkan dari ini. Mungkin ini efek pernah baca karya Tsugaeda yang lainnya.
Tapi, sepertinya buku ini hanya "pembuka" menuju petualangan seru di buku-buku selanjutnya. Sebagai "pembuka", buku ini oke dan menjanjikan loh. Harus dilanjutkan.
Satu hal yang pasti, aku akan setia menunggu petualangan yang lainnya.
Jujur aja aku belum pernah baca buku karya Kak Tsugaeda sebelumnya. Cuma denger temen2 bilang bukunya bagus, ditambah aku lagi butuh asupan thriller akhirnya beli buku ini dan aku nggak kecewa. malah puas banget.
Baca buku ini berasa baca novel terjemahan. Pemilihan katanya bagus, alurnya cepat dan menarik, plotnya yang sederhana ga berbelit2 tapi bagus banget.
Berharapnya ada seri selanjutnya dari petualangan Dio sama Dinta ini. Kusuka mereka. banget
Awal mulanya saya berpikir dipilihnya judul EFEK JERA adalah keresahan hati seorang Tsugaeda yang katanya sudah bertahun-tahun vakum nulis novel setelah novel keduanya terbit. Ternyata saya salah. Kesalahan saya yang kedua, menilai novel thriller korporasi akan penuh dengan istilah-istilah khas korporasi yang njelimet sampai awam pun nggak tahu. Eh saya salah juga. Novel ini meski agak tebal sedikit, tetapi ringan untuk dibaca dan seru untuk terus diikuti. Penulis dengan baik mampu memaparkan deskripsi suasana pada sebuah lingkungan. Bukan hanya tentang bagaimana sebuah lokasi itu “seperti apa sih”, namun juga suasana yang dirasakan oleh orang-orang yang hidup di dalam lokasi tersebut. Katakanlah pada bab-bab awal novel ini yang kita akan disuguhi tempat tinggal Dio yang berupa bedeg-bedeg yang disewakan oleh oknum. Tokoh utama walaupun (saya pikir) transisi dari kelas menengah (sekali lagi, saya pikir demikian) ke kelas ekonomi bawah, tidak melulu melakukan sebagaimana stereotype yang kita sematkan pada orang-orang jalanan (ya mengamen atau mengemis), tetapi malah diplot sebagai seorang penjual DVD bajakan. Ini sangat menarik. Ditambah lagi banyak pelanggan Dio yang datang dari kalangan mahasiswa. Cocoklah yang demikian mampu membuat orang-orang yang pernah berkuliah kuliah seakan diajak kembali merasakan “Mahasiswa tidak hanya soal kuliah, tetapi juga jadi pirate.” Secara perlahan, pembaca akan disuguhi pengembangan cerita dari seorang yang tinggal di bedeg kumuh lalu bertemu dengan seseorang yang misterius pada suatu malam. Seseorang ini lalu menawari sesuatu yang tak akan Dio sangka seumur hidupnya. Saya juga nggak akan nyangka kalau ada di posisi Dio dan pasti jiwa-jiwa petualangan saya akan bergejolak pula. Dari sinilah cerita yang sebenarnya kemudian terungkap. Oh satu lagi, cerita soal bedeg-bedeg kumuh itu sebenarnya bukan yang paling awal disodorkan. Pembaca akan disuguhi imajinasi seorang pemuda yang belum genap berusia 20 tahun yang ingin jadi beruang kutub. Beruang kutub? Sedikit saya bocorkan, karena ceritanya memang seru, jadi lebih baik Anda cari tahu sendiri: Bayangkan, seorang pelaku pengganda software dan game secara ilegal, lalu diajak bergabung ke dalam sebuah misi rahasia yang ditawarkan oleh konsultan paling berpengaruh dalam semesta dua novel Tsugaeda sebelumnya, Makarim Ghanim. Menerima pekerjaan itu lalu dilatih di sebuah villa di Cisarua, lalu dikirim ke Semarang untuk sebuah misi yang awalnya merupakan perkara pembunuhan. Awalnya ya, ya awalnya. Sudah di situ saja yang bisa saya bocorkan. Kekurangan novel ini yang menurut saya ada pada beberapa penjelasan yang saya pikir tidak perlu ada. Tetapi ya ini kembali lagi pada selera pembaca. Boleh jadi penjelasan-penjelasan yang saya pikir tak perlu ada itu malah memperkuat cerita dan apa yang Dio rasakan selama menjalani misi rahasia itu. Oh ya, saya juga kurang bisa membayangkan bagaimana perawakan Dio ini secara deskripsi fisik. Selebihnya, novel ini sangat menarik. Ah satu lagi, saya baru membaca novel Tsuageda, tetapi tanpa harus megikuti dua novel sebelumnya, EFEK JERA masih sangat bisa untuk saya ikuti.
Seorang remaja 19 tahun bernama Dio harus terlibat dalam misi besar. Salah seorang yang dikenalnya dengan baik menawarkan misi yang terdengar aneh dan tidak masuk akal: menumpas kejahatan kelas kakap yang terlihat mustahil untuk dilakukan. Memiliki poster besar bertuliskan "Dinodai Kapitalisme" di bedengnya, Dio ditantang untuk menodai kapitalisme.
Premis cerita buku ini memang menarik dengan ide yang belum pernah kutemukan sebelumnya. Alih-alih thriller, buku ini lebih menjurus ke fiksi kriminal karena berkenaan secara erat dengan kejahatan dan tindakan-tindakan pidana melawan hukum. Malahan, tidak terasa sama sekali unsur thriller-nya. Sejak awal, aku berharap buku ini kental unsur thriller-nya. Hal tersebut memiliki alasan. Aku sudah membaca dua karya pengarang sebelumnya dan walaupun itu sekitar lima tahun lalu, aku ingat ceritanya memang bergenre thriller.
Hal menarik lainnya adalah keterikatan buku ini dengan buku-buku pengarang sebelumnya. Pengarang merangkai hubungan antarkarakter dengan lihai dan cukup "menyenangkan" karena membuatku perlu mengingat-ingat kembali apa yang terjadi dalam buku-buku sebelumnya.
Hanya saja, sepertinya pengarang butuh editor yang lebih jeli dalam pemungkasan buku ini. Ada beberapa hal yang mengganjal seperti pemilihan kata dan pemfokusan sudut pandang. Mungkin bagi sebagian pembaca, itu hal remeh. Namun, bila dipoles lagi, buku ini akan lebih mantap. Aku pun menyayangkan tidak ada keterangan tambahan tentang wawasan yang dimunculkan pengarang dalam buku ini. Padahal, itu bisa menjadi informasi baru bagi pembaca.
Terlepas dari itu, aku masih menikmati buku ini. Alurnya cepat dan tidak bertele-tele. Penyelesaiannya baik walau sedikit terburu-buru. Pesan moralnya pun dapat; tentang memberikan efek jera pada mereka yang semena-mena. Informasi trivial tambahan lainnya juga menarik untuk diikuti. Apalagi, buku ini memiliki beberapa latar berbeda dengan karakteristik yang juga berbeda. Pengarang cukup baik memanfaatkan hal itu.
Dio, seorang remaja berumur 19 tahun. Sehari-hari dia menyambung hidup dengan menjual DVD bajakan di dekat kampus ternama di Jakarta. Dio tamatan SMA, dan memilih meninggalkan rumah setelah ayahnya ditangkap karena kasus korupsi. Kini, Dio berhadapan dengan salah seorang pria dari masa lalunya yang mengajaknya beralih profesi.
Om Jon, demikian Dio memanggilnya. Dulu Om Jon adalah tetangga di depan rumah Dio yang mengajarinya membaca, mengaji dan sedikit bela diri. Namun kemudian Om Jon yang adalah seorang tentara ditugaskan ke luar negeri. Om Jon mengajak Dion untuk bergabung dalam bisnis start-up yang sedang dirintisnya. Om Jon membutuhkan pemuda untuk bertugas di lapangan, dan Om Jon yakin Dio bisa melaksanakan tugas itu. Setelah melalui pelatihan singkat di Cisarua, Dio diutus untuk tugas perdananya.
Dio diminta ke Semarang untuk menyelidiki sebuah kasus yang melibatkan kematian seorang pilot muda dari Penida Airways bernama Angga Hudaya. Angga ditemukan tergantung di kamar kostnya. Menurut pemberitaan di media, Angga bunuh diri karena masalah pribadi. Tapi Om Jon dan rekannya, Pak Makarim tidak percaya itu. Ada kejanggalan dari kasus ini. Terutama setelah beberapa pilot yang pernah bekerja di Penida Airways mengungkapkan pelanggaran terkait hak-hak tenaga kerja di Penida Airways. Dio harus mengumpulkan informasi dan bukti-bukti yang berhubungan dengan pelanggaran tersebut.
Efek Jera adalah novel ketiga Tsugaeda setelah Rencana Besar dan Sudut Mati. Ada rentang waktu yang cukup lama dari novel kedua hingga terbitnya novel ketiga ini. Selain itu, novel ketiga ini diterbitkan oleh penerbit yang berbeda dengan dua novel sebelumnya. Masih mendukung tema misteri dan investigasi, Efek Jera juga menghadirkan tokoh Makarim Ghanim, seorang ekonom yang tertarik memecahkan permasalahan ala detektif. Dio, tokoh utama dalam novel ini disebut sebagai asisten Makarim, meski yang menjadi tentor Dio sesungguhnya adalah Sarjono atau Om Jon.
Penida Airways di dalam novel ini mengingatkan saya pada dua maskapai penerbangan di Indonesia. Penida Airways menerapkan konsep penerbangan bertarif rendah (Low Cost Carrier) yang menyebabkan Penida Airways banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Sayangnya, pelayanan dan manajemen Penida Airways sangat mengecewakan. Sering terlambat plus angka kecelakaan yang tinggi. Di kepala saya yang terbayang adalah maskapai berlogo singa itu. Tetapi persoalan ketenaga kerjaan di Penida Airways mengingatkan saya pada maskapai berlogo burung biru yang kasusnya sempat booming di twitter. Sayangnya, wabah Corona membuat kasus itu seperti terlupakan.
Nuansa misteri pada novel Efek Jera ini tidak sekuat dua novel sebelumnya. Tapi investigasinya lumayan. Hanya saja saya sulit membayangkan Dio dengan segala kemampuan dan kalimat-kalimat yang dia ucapkan adalah seorang pemuda belasan tahun. Meski kasus yang harus diselidiki Dio ini masih dalam tahapan ujicoba buatnya, tapi hampir membuat nyawa Dio melayang. Sepertinya Om Jon memang menaruh harapan sangat besar untuk Dio.
Hal kedua yang cukup mengganggu adalah tentang kematian Angga. Pada bab 10, ketika Dio datang mengunjungi kos tempat tinggal Angga, disebutkan bahwa mayat Angga baru ditemukan setelah dua hari sejak kematiannya. Itupun karena aroma busuk yang membuat penjaga kos curiga. Namun dalam jurnal milik seorang wartawati yang meliput kematian Angga disebutkan bahwa sehari sebelum kematiannya, Angga masih sempat janjian dengan wartawati tersebut untuk bertemu di sebuah kafe.
Terlepas dari itu, novel ini memberikan penyegaran pada novel misteri di Indonesia. Saya mengapresiasi riset yang dilakukan penulis sehingga bisa meramu permasalahan aktual yang terjadi di Indonesia menjadi novel yang menarik dan page turner.. Saya pasti menantikan aksi Makarim selanjutnya.
Novel Efek Jera semakin menunjukkan kepiawaian Kak Tsugaeda meramu sebuah novel investigasi dan thriller korporasi dengan masalah yang aktual saat ini.
Jika sebelumnya mengangkat dunia perbankan dan persaingan dua perusahaan besar, di novel Efek Jera mengangkat dunia penerbangan yang tak kalah seru dan mendebarkan. Sebuah konspirasi di sebuah maskapai penerbangan yang bernama Penida Airways.
Konflik yang semakin rumit karena melibatkan kematian co-pilot, pembunuh bayaran dan penyelamatan saksi kunci dan barang bukti.
Sebuah kisah yang membawa Dio, seorang remaja yang awalnya hanya berjualan DVD Bajakan untuk menyambung hidup, terlibat dalam sebuah pekerjaan aneh bersama Om Jon dan Pak Makarim, sebuah proyek investigasi. Sebuah proyek yang membawanya ke Korea untuk menyelamatkan sang saksi kunci.
Campur aduk baca novel ini. Seru dan menegangkan, Kak Tsugaeda meramu kisahnya dengan plot yang rapi, karakter yang kuat dan konflik yang semakin lama semakin klimaks.
Ada banyak kejutan didalamnya, dan ternyata sejak awal memang aku sudah menduga ada apa-apa untuk 1 tokoh.
Buat yang sudah membaca Rencana Besar dan Sudut Mati, akan kembali dipertemukan dengan Makarim. Masih ingat dengan tokoh ini?
Setelah membaca 3 novel Kak Tsugaeda, aku semakin tak ragu untuk membaca tulisannya selanjutnya. Karena masih jarang sekali penulis yang mengangkat tentang novel investigasi atau thriller korporasi, dan sepertinya novel-novelnya ini bakal 1 universe ya, walau tetap bisa dibaca secara terpisah 😍 karena ada tokoh-tokoh sentral yang sering muncul, seperti Makarim disini 😊
. Sebelumnya, tidak tahu sama sekali dengan istilah thriller korporasi. Sampai akhirnya ketemu dengan novel 'Rencana Besar' dan 'Sudut Mati' serta berkenalan dengan penulisnya. Nah, kini ada satu novel lainnya dari Tsugaeda dengan twma serupa, namun lebih 'light' bila dibandingkan dua novel tersebut.
Novel ini berkisah tentang pemuda berusia 19 tahun bernama Dio Prasetyo yang direkrut untuk sebuah rencana menggulingkan sebuah perusahaan maskapai penerbangan yang bermasalah, melakukan korupsi dan suap pejabat, sampai melakukan pembunuhan. Tentu bukan hal muda bagi seorang pemuda yang masih labil dan hanya seorang pemuda penjual DVD bajakan.
Tentunya plotnya kita diajak untuk mengikuti sepak terjang tokoh utama, terlebih lagi menggunakan POV 1. Pembaca akan diajak mengikuti petualangan sang tokoh menyelidiki pembunuhan seorang pilot di Semarang sampai menyelamatkan seorang wartawati di Korea Selatan dari incaran pembunuh profesional.
Story tellingnya pun lebih santai dan lebih ringan namun tetap berbobot. Karena pembawaan Dio yang masih muda dengan apa yang ada di pikirannya, membuat gaya bercerita lebih kekinian. Cerita dengan POV 1 memang menarik, meski terkadang terbilang susah untuk mendekripsikan adegan perkelahian.
Sosok Dio mengingatkan pada gaya tengilnya Peter Parker saat jadi Spiderman yang suka ngeledekin penjahatnya di tengah perkelahian. Seperti saat Dio dikepung sama penjahat di Semarang. Pemilihan tokoh anak muda memang menarik dan mungkin bisa menjadi tokoh fiksi muda idola baru yang dipadankan dengan Rangga atau Dilan mewakili genre thriller.
Kisahnya tidak hanya menggambarkan good vs bad semata, tapi juga kelas bawah yang jujur dan mau merubah diri melawan kelas elit yang culas dan melakukan segala cara demi menggemukkan kantongnya. Tentu soso Dio Prasetyo harusnya dirwkrut sebagai stafsus milenial.
Rencananya novel ini akan dibuar sekuelnya, tentu tak sabar dengan perkembangan sang tokoh dan menyelami latar belakangnya. Plus pengen kenalan dengan karakter Dinta, cewek misterius yang suka menunggu di balik kegelapan kayak Batman lalu pingsanin orang pakai stun gun. . .
☆3,7 narasinya ngalir banget!! bener² ga kerasa baca buku ini, tiba² uda abis aja 😭 cuma berasa agak datar sih, kaya kurang menegangkan gitu. berasa gaada klimaksnya. tapi overall suka! definitely gonna check out other books by the author ☝🏻
Ini bakalan ada seri cerita Dio-kah?? Huaaa nggak sabar kalau emang beneran ada. 😂 😂
Ini sih seru bangeeeet, wkwk. Ini buku terngakak yang aku baca di tahun 2021, wkwk. Cerita ini beda banget rasanya sama buku dua sebelumnya. Lebih apa, ya? Santai? Dio-nya bikin ngakak parah Ya Allah, 😂. Bukunya juga fast read (Emang buku2nya Mas Tsugaeda pada fast read sih kakau dipikir-pikir. Asal jangan keselang sama yang lain biar feel-nya enggak ilang).
Ceritanya emang lebih ke investigasi, sih, ya. Jadi action-nya sedikit dan bukunga juga enggak banyak main bunuh-bunuhan. And that's okay karrna dari semua tokoh utama, aku paling suka Dio. 😂 Ada tokoh dari cerita Rencana Besar, dan Dio nge-review buku Rencana Besar juga. Yang alhasil, di cerita ini informasi yang diberikan udah nggak kayak koran ekonomi lagi. Alih-alih jadi kayak baca buku diary-nya Dio. 😂
Seperti biasa juga, investigasinya rapi banget dan risetnya keren parah.
Bener kata penulisnya klo buku ini lumayan santuy meskipun topik yang diangkat konspirasi maskapai penerbangan. Bahasa, kata” yang digunakan itu ga buat pusing, basaha sehari-hari lah. Tpi ada beberapa dialog yang off sih menurutku.
I've got to be fair: this is not as bad as I thought.
First of all, this is quite well written. It understands the importance of fluid dialog (it knows how real people talk). It has strong Indonesian aspects, like the people, the way they think, the way they talk, the way they DO. It feels real. If a character in this book is an asshole, then you will likely find similar asshole in the real Indonesian person.
The conflict is plausible. I think Tsugaeda is an author who focuses on politic suspense (idk, is that the right word?), so we'll see so many scheming about the politician and big companies. It is also executed well, with an even pace, adequate fight scenes and other important details such as good guy - bad guy banters, sexy women which turns out to be the villains, and of course, muddled with murder.
I didn't think I would like this book, to be honest, given I don't like how Dio, our MC, is introduced, but this is a good book. I don't usually read this political scheming with secret investigation and I know why (because I don't like the whole "I'm doing this for the country" bullshit) but this book is a step up in its game. Such a pleasant surprise from an Indonesian author, and a self published one at that.
Dibandingkan novel-novel karya penulis yang pernah kubaca sebelumnya, kayaknya ini yang paling kufavoritkan. Tensi cerita dari awal hingga akhir terus terjaga, penulisannya enggak bertele-tele tapi juga enggak terlalu cepat, plus Dio yang koplak abis serta Jon dan Makarim yang kayaknya enggak kehabisan kesabaran menghadapi bocah aneh begitu, jadilah sebuah thriller apik yang sesekali disisipi komedi dengan bacotannya Dio.
Dio ini sedikit banyak mengingatkan aku kepada si Jun Geblek. Melihat ada beberapa tokoh dari novel-novel sebelumnya yang mendadak eksis di Efek Jera ini, kira-kira mereka bisa ketemu suatu saat nggak, ya? *fingers crossed*
“Asyik banget. Aku suka dengan novel2 suspense yg punya alur cepat kaya gini ini”
#EfekJera adlh novel ketiga @tsugaeda salah satu author suspense favorit saya. Sejak #RencanaBesar #SudutMati kuputuskan akan selalu baca karyanya. Bahasa yg sederhana, gaya penceritaan yg asyik, membangun atmosphere dgn pilihan bahasa yg pas dan alur yang cepat namun ngga berantakan dalam berkisah jelas merupakan poin positif & jadi kekuatan novel ini. Dan jujur di novel ketiga ini menurutku skill bercerita @tsugaeda semakin matang. Keren 👍👍
Banyak novel2 sejenis yang gagal membangun atmosfir ketegangan karena ngga mampu dalam menyusun kalimat demi kalimat untuk bisa nyaman dibaca. Bahkan supaya dianggap ‘nyastra’ author menggunakan bahasa2 uncommon word, hasilnya malah bikin aku sbg pembaca jd confused, bahkan cringe.
Novel ini jg menggunakan perspektif orang pertama dlm hal ini adalah si tokoh utamanya Dio. Just ordinary man tapi punya pemikiran2 yg extraordinary.
Aku tahu buku ini karena melihat review dari booktuber fav aku kak Kanaya Shopia dan chanel nya kak Yunita R Saragi. Sebenarnya udah lama aku pengen baca buku ini, tapi belum ada kesempatan. Waktu aku pengen baca aku nyoba nyari di toko buku tapi gak ada. Aku heran kenapa buku sebagus ini enggak ada di toko buku? Akhirnya aku beli di shopee.
Lima menit yang lalu aku baru saja selesai baca. Kalau enggak ada kerjaan mungkin aku bisa selesai dalam dua hari. Tapi tetep walau aku bacanya nicil, dan mulai ngebut di menjelang klimaks (pas mulai merasakan ketegangan) aku tetep menikmati alurnya. Walau di beberapa bagian ada yang datar, tapi aku jatuh cinta sama diksi dan gaya penulisnya. Enak di pahami dan enggak bikin aku mikir dan nyari tahu artinya apa.
Cuma satu hal yang sedikit sekali yang kurang. Aku agak kesulitan mengimajinasikan toko sentral nya (Dio) entah aku yang lupa apa gimana, di enggak ada penggambaran karakter fisik Dio. Padahal aku penasaran, dia cakep apa enggak wkkwkw. Walau ini diceritakan dari sudut pandang dia, tapi ada beberapa bab yang di tulis melalui sudut pandang orang ketiga (jadi mungkin bisa dijelaskan disana dikit aja)
Tapi overall, ini bagus si, ngalir gitu aja baca pas bagian klimaks sampai nggak sadar, lho kok udah Tamat. Hehe saking pengen lanjut baca lagi.
Setelah Efek Jera mungkin aku akan coba mencicip karya Tsugaeda yang lain. Semoga lebih menarik dan menegangkan.
Sejak dulu membaca Rencana Besar (review di sini https://readbetweenpages.blogspot.com...) aku sudah menunggu-nunggu kemunculan kembali Makarim Ghanim dan ontran2 apa yang akan dibawanya. Novel ini membawa harapan itu, meskipun namanya tidak disebut2 di sinopsisnya.
Di sini Makarim berpartner dengan seorang mantan Jendral tentara, bermaksud membuat sindikat yg memberi Efek Jera pada oknum-oknum yang tidak membawa kemaslahatan bagi masyarakat, bahkan sebaliknya. Mereka berdua jadi tokoh di balik layarnya. Tokoh utama novel ini adalah Dio Prasetyo, anak muda yg punya latar belakang menarik ala2 tipikal agen lapangan. Selain Dio, ada pula Dinta, cewek misterius yg belum terlalu terekspose. Alur kisahnya seru dan twistnya lumayan. Pacingnya enak dinikmati dan page turner sehingga kuhabiskan baca sekali duduk saja.
Kasusnya di sini bukanlah kasus perbankan spt di Rencana Besar. Kasusnya adalah perusahaan penerbangan LCC. Seperti apa kasusnya... hmmm, lebih parah drpd situasi si merah, dan lebih ghibah drpd tuit ghibahan penerbangan nasional waktu itu. Nikmati sendiri aja...
Sayang keseruan akhirnya terlalu cepat selesai. Masih pengin jalan2 korea, eh udah bubaran. Tapi endingnya masih menggantung, masih ada sela untuk berseri-seri novel berikutnya. Ditunggu! ☻
Buku ini bercerita tentang Dio, pemuda "gelandangan" yang diminta paman masa kecilnya untuk bergabung dalam biro konsultasi independen yang meninvestigasi sesemaskapai penerbangan terbesar di Indonesia yang dinilai bobrok tapi selalu "selamat". Biro ini terkesan heroik karena ingin memberi keadilan dengan cara mengumpulkan data atau bukti sampai tidak ada celah lagi di mata hukum.
Well, tbh cerita korporasi bukan pilihan utama buat gue pas gue lagi cari buku😁. Tapi gue sempet liat di @detectives_id kalo buku ini adalah buku best thrillernya scarlet pen awards taun lalu jd judulnya cukup gue inget dan beberapa hari lalu gue pengen coba baca buku pengarang Indonesia lagi (setelah beberapa kali kapok. No offense). Dannnnn
KALI INI GUE GA NYESEL !!!
Ini buku baru nyampe kemarin dan langsung tamat hari itu juga🤣. Addictive ternyata haha. Its over expectation!
Karakter Dio ini lengket di otak gue. Idealis, ga sopan, nyeleneh dan kampret banget kalo udah nyepet (nyindir). Gue nyengir nyengir gitu baca jokes yang disampein lewat Dio🤣 hillarious!
Poin menarik dari cerita ini adalah even Dio setuju untuk membantu pamannya untuk bergabung dengan biro konsultan tersebut dan menginvestigasi sesemaskapai tersebut, masih banyak pertanyaan pertanyaan yang ada di benak Dio dan gue sebagai pembaca yang jawabannya masih sangat samar.
Now I know cerita Dio yang bikin penasaran setengah mati itu kayak gimana. Hahaha, ini murni opini pribadiku karena buku ini menang SPA 2020 sebagai Best Thriller jadi penasaran isinya kayak apa. Isunya bikin keder, padahal cuma fiksi. Eh, atau Penida Airways ini ada beneran? ._.
Setelah ayahnya terkena OTT atas kasus korupsi dan keluarganya menjadi tak keruan, Dio keluar dari rumah, hidup di jalanan sembari menjajakan DVD bajakan. Om Jon, seseorang dari masa lalunya datang membawa sebuah penawaran misterius. Pekerjaan yang akhirnya membawa Dio menyelidiki bobroknya internal Penida Airways dan aksi penyelamatan seorang saksi ke negara lain.
Narasinya enak banget dibaca. Tipe tulisan yang bisa ngomong sembari berdongeng ke pembaca. Kasusnya rumit, tapi nggak membingungkan. Ditambah isu soal ketenagakerjaannya oke banget. Kasusnya bikin kaget, tapi nggak bikin heran.
Karakter Dio ini kuat, sih. Pak Makarim, Om Jon, sampai Dinta, even Gepeng punya voice yang kuat dan bisa dibedakan. Tentu, deskripsi karakter dan penokohannya membantu. Oh, Dio ini termasuk cerdas, ya, tapi agak naif emang haha. Nggak sabar baca cerita petualangan dia yang lain.
❓Novel apa yang sudah pernah kamu baca yang menurutmu bisa dikategorikan sebagai novel cerdas❓
Kalau aku, satu diantaranya, Efek Jera ini 📖 Cerdas (versiku) dalam artian premisnya keren, fokus kisahnya jelas, eksekusi idenya penuh perhitungan dan unsur pendukung lainnya pun bukan tempelan, kurang lebih begitulah. Kalian akan paham maksudku setelah baca novel-novel ini.
Novel ini harusnya sukses besar pikirku setelah menyelesaikan Efek Jera ini. Kisahnya seru, koplak, cukup menegangkan dan yang terpenting—novel ini—cerdas.
Berbeda dengan dua novel sebelumnya — Rencana Besar dan Sudut Mati, di novel ini penulis sedikit mengendurkan level ketegangannya dibanding dua novel yang kusebutkan tadi. Meski begitu, aura Thriller-nya masih sangat terasa walau levelnya berbeda.
Kalau boleh membanding, mungkin dari sisi ketegangan dan pemicu adrenalin aku akan lebih menyukai novel yang dirilis 2013 dan 2015 lalu, tapi untuk merelaksasi pikiran aku menyukai novel ini.
Sadar atau tidak, aku sempat dibuat terpingkal dengan dialog yang dilontarkan Dio pada rekan dan lawannya. Entahlah. Aku merasa Dio ini selain cerdas, juga pintar guyon😂
Selain tokoh utama, tokoh pendukungnya juga tak kalah keren, sebut saja Om Jon, Pak Makarim— kalian akan tahu siapa beliau ini dan seberapa besar pengaruhnya setelah membaca Rencana Besar, Danti, Primi dan lain-lain. Tak ketinggalan Bernard Sitanggang, dalang dibalik bobroknya penataan garuda besi Penida Airways ini.
Psssttt... satu lagi, Prayogo Grup (baca novel kedua penulis : Sudut Mati) juga disinggung dalam operasi ini. Menarik, bukan?
Efek Jera bercerita tentang misi investigasi yang digawangi oleh Makarim Ghanim dan Pensiunan TNI-AD, Mayor Sarjono. Melibatkan Dio, pemuda biasa yang besar di jalanan, ya biasa bagi kamu yang belum kenal rekam jejak keluarga dan kehidupannya hingga sekarang.
Investigasi ini bertujuan untuk mengungkap rahasia busuk pergerakan perusahaan penerbangan yang gelagat tak beresnya sebenarnya sudah tercium hingga memelosok negeri, namun tetap lolos mengangkasa dengan pongahnya. Aparat seperti menutup mata dan para petinggi negara malah mengapresiasi dengan senyum bangga. Benar-benar menjijikan, bukan?
Kalian harus baca jika ingin mengetahui jejak hitamnya!
Hanya satu yang kusayangkan dari novel ini, adegan porak porandanya Penida Airways dan orang-orang di belakangnya tidak dijelaskan secara rinci. Terkesan ditutup tiba-tiba. Itu saja sih. Selebihnya, novel ini bagus (pakai) banget. Dan aku lagi-lagi akan tetap menyematkan 5 bintang untuk karya penulis satu ini.
Dan tunggu dulu, kalian juga akan dibuat tercengang setelah mengkhatamkannya, karena dengan 344 halaman ini ternyata perjalanan panjang mereka— tokohnya ini, baru dimulai. Bikin gedeg tidak itu?😄😂
Efek Jera nyeritain keseharian Dio yang hidup di jalanan. Suatu hari, seseorang dari masa lalunya datang dan nawarin dia pekerjaan. Tapi ini bukan pekerjaan mudah, karena dia harus menginvestigasi kebobrokan salah satu maskapai penerbangan terbesar di Indonesia.
Akhirnya saya nemuin lagi satu bacaan favorit tahun ini! Baca Efek Jera bener-bener bikin emosi saya campur aduk: antara kesel, penasaran, ngakak, tercengang, sampe deg-degan kuadrat, semuanya ada.
Jujur aja, ini pengalaman pertama saya baca buku misteri dengan tema investigasi maskapai penerbangan. Dan kebetulan, saya dari dulu demen banget sama penyelidikan tentang pesawat beserta maskapainya. Pernah nonton Air Crash Investigation juga di YouTube karena emang seseru (dan sekepo) itu. 🤣
Ini juga pertama kali saya baca tulisan Tsugaeda, dan saya bener-bener dibuat kaget karena ceritanya padat dan 'berisi' banget. Narasi detailnya nggak bikin saya bosen. Malahan, saya hanyut banget ke dalam cerita dan nggak sadar tiba-tiba udah mau kelar baca aja.
Awalnya, saya kira buku ini bakal banyak adegan thriller (karena cerita misteri kan biasanya sepaket sama thriller), tapi ternyata Efek Jera lebih banyak ambil sisi investivasinya. Yhaa nggak heran juga sih, karena tagline di kovernya aja bilang, "Sebuah Novel Investigasi". Tapi tetep seru!
Bagi saya, Efek Jera ini mind-blowing dari banyak aspek. Yang paling mind-blowing tentu aja narasi mendetail terkait investigasi yang dilakuin Dio. Di sini saya bisa ngerasain kalo riset penulis terhadap cerita ini nggak main-main. Saya amat mengapresiasi riset yang mampu menghasilkan narasi mendetail dan kaya informasi itu.
Sayangnya, nggak ada catatan kaki terkait beberapa hal yang saya yakini asing di telinga pembaca awam. Masih ada typo juga walaupun nggak banyak. Dan saya merasa kalau eksekusi konfliknya terlalu 'biasa'.
Tapi secara keseluruhan, saya menikmati banget baca Efek Jera! Wkwk entah udah berapa kali saya ngomong 'banget' di ulasan ini, tapi Efek Jera emang serba banget. Kalo kalian butuh asupan buku misteri yang kaya informasi dan unsur politik, saya rekomen banget buku ini.
❝Perasaan atau emosi manusia adalah penipu paling ulung. Ia tak sepatutnya dipercaya dalam urusan penyelidikan.❞ ―Efek Jera, Tsugaeda
Menurutku novel ini adalah salah satu novel thriller investigasi yang recomended. Awal aku tahu ada novel ini waktu itu lihat di instagram penerbit one peach dan novel ini pertama kali membuatku tertarik.
Penulis menceritakan kisah di novel ini dengan tulisan yang sangat berbeda, diracik dengan tulisan-tulisan yang bagus dan menarik, apalagi Pak Tsugaeda ini juga merupakan penulis kesukaanku, karena kepawaiannya dalam meramu masalah-masalah aktual di indonesia menjadi sebuah cerita yang menarik dan mendebarkan.
Novel ini menceritakan seorang pemuda yang bernama Dio yang masih berumur 19 tahun, dia merupakan seorang penjual dvd bajakan di jalanan, dia pernah berpikir bahwa dirinya tidak akan punya masa depan karena masa remajanya sudah habis dia tinggalkan di jalanan. Namun suatu hari tokonya kedatangan seorang tamu yang ternyata adalah Tetangga Dio dulu, yang tak lain adalah Om Jon. Om Jon bertemu dengan Dio bermaksud untuk menawari pekerjaan untuk Dio, yang menurutnya pekerjaan itu aneh dan Dio tidak menyangka bahwa kesetujuannya atas tawaran dari Om Jo membawanya masuk kedalam lingkaran lain, Dio harus masuk dan mendalami masalah-masalah yang terjadi di negara ini, salah satunya kasus maskapai tingkat tinggi di Indonesia. Dio seorang anak yang tak mengerti apa-apa tentang dunia investigasi atau yang sekolah saja hanya sampai SMA harus menjadi seorang salah satu agen untuk menyelidiki kasus itu. Kehebatan Dio bersama timnya membuat semua yang ditutupi oleh Maskapai itu terbongkar dan membuat heboh se indonesia. Karena Sebaik-baiknya suatu Perusahaan, tidak akan mungkin tidak ada masalah di dalamnya. Sebaik-baiknya orang menutupi bangkai pasti akan tercium dengan sendirinya.
Intinya Novel ini top banget deh, kita dibawa seperti roller coster ketika membacanya, sedih, tegang, lucu bercampur satu di dalam novel ini. Novel ini juga memiliki pembelajaran tentang kehidupan bahwa apa yang kita lihat tidak selamanya indah. Bintang 5 untuk novel ini🌟🌟🌟🌟🌟❤
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Kita tidak menolong orang susah. Tapi kita mengganggu orang yg bikin susah."
Ini buku kedua dari penulis yg aku baca dan aku lebih enjoy baca buku ini ketimbang yg sebelumnya. Sebelumnya aku baca Rencana Besar, karen tokohnya sudah dewasa mungkin ya jadi gaya bahasanya agak berat.
Nah di buku ini tokoh utamanya tuh anak muda, jadi gaya bahasanya lebh ringan dan karena pembawaannya tokohnya ini juga jenaka menurutku jadi lebih enak dibacanya. Page turner banget menurutku.
Tema yg diangkat menarik tentang perusahaan penerbangan Penida Airways yg melakukan hal-hal 'kotor' dan menghalalkan segala cara demi keberlangsungan perusahaannya. Lalu Dio si anak muda yg berjualan DVD bajakan tapi juga pintar yg direkrut oleh om Jon dan Pak Makarim untuk membantu mereka menyelidiki dan mengumpulkan bukti-bukti atas kejahatan yg dilakukan oleh Penida Airways.
Aku suka alurnya lumayan cepet, walaupun isimya lebih banyak investigasinya daripada actionnya tapi karena karakter Dio ini yg jenaka jadi ga bikin bosan bacanya.
Untuk latar tempat disini ada di Jakarta, Semarang dan Korea. Aku suka part pas di Korea, jadi Dio mengunjungi beberapa kota disana untuk mencari saksi kunci dari konspirasi Penida Airways. Nah kota-kota tsb dijelaskan apa-apa aja yg ada disana, suasananya juga kendaraan-kendaraannya walaupun ga banyak tapi berasa di ajak jalan-jalan ke Korea 😅.
Endingnya menurutku kurang greget. Jadi setelah bukti yg berhasil diamankan Dio diproses aku berharap ada adegan para petinggi Penida Airways yg ditangkap dan di adili, disini dijelaskan tapi kayak sekilas aja. Dan sepertinya bakal ada lanjutan dari kisah Dio? Karena masih ada beberapa hal yg menngantung gitu.
Overall aku cukup menikmati baca buku ini, recommended buat yg suka buku bertema fiksi kriminal apalagi ini dari penulis Indonesia. Jadi pengen baca buku yg lain dari penulis, siapa tau bakal ketemu Dio lagi 🤭.
Efek Jera adalah buku ketiga dari Tsugaeda yang mengangkat tema thriller korporasi. Untuk buku kesatu nya berjudul Rencana Besar dan kedua berjudul Sudut Mati, dengan cerita yang tidak begitu saling berkaitan. Jadi jika kamu baru punya buku ini, tidak ada masalah, karena buku ini bisa dibaca tersendiri (stand alone).
Efek Jera bercerita tentang Dio seorang penjual dvd bajakan yang diajak bergabung ke dalam organisasi yang tugasnya mengusut tentang kejahatan-kejahatan korporasi, dan saat ini mereka mengusut kasus yg terjadi di sebuah maskapai penerbangan karena keterlibatan mereka terhadap pembunuhan seorang pilot mereka. Berhasilkah Dio mendapatkan bukti keterlibatan maskapai tersebut? dan apakah benar maskapai tersebut yang melakukannya? Kamu cari tahu sendiri dengan membaca buku ini.
Ceritanya sendiri dituturkan dengan POV1 (point of view 1), sehingga lebih terasa dekat dan pembaca lebih bisa merasakan ketegangan yang ada. Narasi dan diksi yang ditulis enak dibaca dan mudah dicerna, sehingga membaca buku ini tidak terlalu banyak mikir.
Walaupun terdiri dari banyak bab, tetapi per-bab nya tidak terlalu panjang dan page-turner sehingga tanpa terasa sudah membaca beberapa bab. Untuk covernya saya suka, simple tetapi memiliki arti sesuai dengan isinya.
Sayangnya buku ini tidak membahas terlalu detil asal-usul siapa Dio, mungkin ini akan disajikan untuk sekuel berikutnya kali ya.. =)
Untuk thrillernya sendiri sih tidak terlalu high-octane (seperti kejar-kejaran mobil, tembakan, ledakan), namun cukup memberi ketegangan tersendiri, terutama kejar-kejaran dengan waktu.
Seperti yang telah dicantumkan dalam cover depan, ini adalah novel investigasi. Dan menurutku buat kalian yang mau baca genre thriller, buku ini cocok buat kalian karena ini bukan thriller yang berdarah-darah (btw, ini buku dari bang Tsugaeda pertama yang aku baca).
Buku ini mengisahkan seorang laki-laki muda—Dio, yang bertahan hidup di tengah bedeng sempit bermodalkan hasil penjualan dvd bajakan untuk bertahan hidup. Hingga suatu saat petualangan hidup baru dimulai ketika sosok kenalan lama yang tiba-tiba bertamu di bedengnya. Yap, Om Jon, seorang pensiunan intelijen angkatan darat.
Masalah yang diangkat dalam novel ini pun sangat aktual dan dekat dengan permasalahan disekitar kita. Bagaimana keterkaitan antar masalah satu dan yang lain bisa dikemas dan tersambung secara epik dan ringkas (bagiku ini adalah hal baru, akan tetapi sangat mudah dipahami). Apalagi dibeberapa part juga diselipkan komedi garing khas Dio.
Cerita ini menggunakan pov orang pertama (yang sangat aku suka karena bisa memposisikan diri sebagai pu hehe><), Dio yang entah kenapa bisa sampai keluar negeri, keliling ke berbagai tempat bak orang hilang. Aku juga menyukai beberapa adegan kuntit-menguntit Dio yang polos, dan segala aksinya yang hampir selalu kena jebak (investigator yang terlalu baik, dio dio😁)
Menjelang akhir memang cukup cepat penyelesaian masalahnya, yang bagiku jika mungkin lebih detail dan panjang akan lebih menarik. Even so, I'm still satisfied. Dan sesuai urutan buku yang memang disarankan pengarang, habis ini cocoknya emang lanjut ke Sisi Liar (Because what? Karena aku dibuat penasaran di ending. Sepertinya memang ini baru permulaan).
Jujur awal nya sempet ragu mau baca novel karya tsugaeda walau sudah banyak/sering liat nama beliau
akhirnya seminggu lalu nyoba beraniin diri buat beli dan buat langsung baca
setelah awal baca prolog nya ... sial ga bisa berhenti, novel ini gua baca 1 hari lebih dikitlah
review: awal baca prolog ini dia yg bikin ga bisa berhenti dan kepengen cepet2 abisin novel ini. menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu dio, kita jadi bisa tau 100% apa perasaan/bagaimana yg dipikirkan dio terhadap segala situasi di novel ini. genre novel ini bener2 ga biasa, gua jadi mikir "apa jangan2 ada ya maskapai yg begini??". paling enak liat chemistry antara Pak Makarim, Om Jon, dan Dio mereka ini kaya klop banget dijadiin 1 tim dan emang enak liat mereka interaksi satu sama lain. novel ini gampang banget diikutin/dingertiin karna bahasanya yg ga bertele dan bener2 enak bgt dibacanya ngalir. karakter dari masing2 tokoh semuanya pas, terutama Dio dan sebenernya sangat2 penasaran dgn kehidupan Om Jon, semoga aja Tsugaeda bikin cerita selanjutnya tentang Om Jon
btw membaca novel Efek Jera ini bener2 ngerasa mirip sama film Tenet
Intens dan rapat, saya rasa dua kata itu sih yang tepat menggambarkan novel tersebut, penuh petualangan dan detail Korea tanpa harus bernarasi panjang disajikan secara pas.
Saya pribadi bukan tipikal pembaca yang fokus pada tata bahasa, tanda baca, tapi sejauh mata memandang, penulis mampu menuturkan kisah dengan rapih. Meski dicetak secara indi tapi rasa mayor kental terasa di sini.
Dari segi kualitas buku, mulai dari cetakan, warna pada cover, tata letak dan kekuatan lem sih udah cakep banget, agak minus di bagian cover aja yang mudah melengkung dengan sendirinya, tapi itu sih bukan masalah besar sebenarnya.
Secara alam bawah sadar, saya merasa, Tsugaeda sepertinya mulai menetapkan bahwa standar menulis thriller haruslah seperti karyanya. Ada 10 saja penulis Thriller Indonesia sepertinya, saya yakin kualitas / popularitas genre ini akan semakin digandrungi banyak orang.
Kali ini baca buku crime thriller berbau politik setelah selama ini baca buku terjemahan. Ternyata memang tidak kalah seru. Walaupun alur ceritanya mudah ditebak namun ketegangannya tetap terasa. Plot yang dibangun juga tidak membosankan, karena tidak terkesan buru-buru, tapi juga tidak terlalu lambat. Detail penyelidikan yang disertakan sangat memuaskan. Komedi yang menyertai menunjukkan karya asli orang Indonesia, membuat kita bisa ikut tertawa dan melupakan sejenak ketegangan yg terjadi. Bacaan yang recommended bagi penyuka thriller. 4,5/5⭐ buat novel lokal Indonesia. Berharap ada kelanjutannya dari aksi si Dio ini.. 👍👍😘
Cerita dengan plot pelik yg dibawain dari sudut pandang karakter Dio yang gembel dan simpel ini bikin buku ketiga karya Tsugaeda lumayan enak dibaca. Plot oke, narasi dan gaya bahasa oke, ending lumayan okelah. Jujur, aku udah baca 2 buku sebelumnya, dan sorry to say aku harus kurangi 1 bintang karena kameo tokoh pak Makarim dr buku pertama agak mengecewakan. Sorry, dia terlalu self-aware dengan "Rencana Besar"-nya yang dijadiin buku. Ada beberapa dialog pak Makarim yang bikin aku ngerutin jidat. Like, duh pak ... Aku dulu tuh demen bgt baca kamu di ceritamu sendiri. Sekarang kok pas nyempil di cerita Dio, malah jadi begini? :' Mungkin ekspektasiku aja yg melambung ketinggian, karena aku jujur demen banget ada kameo/crossover tokoh dr buku sebelumnya. Tapi overall oke lah. Buku ini ceritanya Dio toh, bukan pak Makarim.