Rasanya lelah. Terus berjuang tanpa ada timbal balik. Rasanya putus asa. Terus tersenyum, tapi aku bukan alasanmu tersenyum. Tapi, aku bisa apa?
Arsenio Abrisam. Dia cowok paling sempurna di mataku. Kami emang udah pacaran sejak kelas X di SMA Nusa Cendekia. Tapi, sikap baiknya selama ini kayak udah SOP, datar. Seolah-olah dia cuma menjalankan kewajiban sebagai pacar. Aku bingung. Apa cuma aku yang punya perasaan cinta? Atau, apa mungkin dia jenuh sama aku? Sebenernya aku masih pengin pertahanin hubungan ini. Tapi, mana bisa cinta bertepuk kalau hanya salah satu yang berjuang?
Apa aku salah mencintai cowok dingin seperti Arsenio dan bertahan hampir 3 tahun? Sementara itu, jelas-jelas ada cowok lain bernama Erlan yang lebih perhatian. Mungkin aku bisa mengelabui orang lain. Tapi, gimana dengan hati ini?
Sebelum menjabarkan hal-hal yang bikin aku kurang berjodoh dengan buku ini, mari bikin ringkasan ceritanya. Jadi, buku ini berkisah tentang Lavina, si cewek ceria dan sedikit manja, yang berpacaran dengan kulkas berjalan alias Arsen. Sekilas, kalau dilihat mereka kelihatan cocok. Pertama, Arsen kaku dan kurang bisa menunjukkan perasaannya secara gamblang sehingga membuat semua orang salah paham. Kedua, sifat Arsen yang seperti itu diimbangi dengan keceriaan dan kebucinan Lavina yang well, bisa dibilang nggak pernah absen menunjukkan rasa cintanya.
Terdengar menarik, ya? Yap, awalnya aku berekspektasi akan menemukan "butterflies" di sini, tapi malah berakhir kecewa (emang bener banget jangan pernah berharap kalau nggak mau kecewa). Penulis menggunakan tipe tell, sehingga emosi dari setiap karakternya gagal meresap sampai akhir. Hampir masukin buku ini ke rak dnf, tapi mendadak berpikir positif, mungkin menjelang akhir akan ada kejutan atau letupan-letupan menyenangkan nantinya. Dan ... sekali lagi, kejutan itu nggak ada. Baru kali ini membaca genre romansa tapi nggak meninggalkan kesan apa pun.
Beberapa hal yang membuatku kadang bertanya-tanya, kadang kesal, dan kadang merasa lelah. Ini salah satu dialog yang bikin aku mengernyitkan dahi.
"Lo ngapain di sini?" "Lo sendiri ngapain?" tanya balik Lavina. "Ngikutin lo." "Lo ngikutin gue?"
Idk, dialog ini bisa bermakna Lavina bertanya lagi apa Erlan (iya, Lavina lagi ngobrol sama Erlan) mengikutinya, dalam arti dia meyakinkan diri kenapa cowok itu mengikutinya. Tapi yang kutangkap, kenapa Lavina harus tanya balik? Like, why? Kenapa harus nanya lo ngikutin gue padahal jelas-jelas Erlan bilang memang lagi mengikuti dia. Lalu ada lagi dialog ketika Lolita, salah satu sahabat Lavina, bertanya pada Arsen kenapa cowok itu nggak pernah chat Lavina duluan. Di situ Arsen menjawab dia nggak suka pegang HP. Okelah, memang beberapa orang tipe seperti Arsen. Lalu, ketika ditanya balik kenapa Arsen kalau di-chat suka balas lama, dia jawab nggak suka chat-chat-an. Hmm, kenapa rasanya seperti waste sentences hiks. Yah, barangkali karena sifat Arsen yang suka sekali memancing banyak dialog yang bisa disingkat jadi satu dialog saja.
Lalu ada lagi saat Lavina berkata pada guru-guru yang mengajarnya kalau dia dan Arsen berpacaran. Hmm, sama sekali nggak relate dengan pernyataan macam ini karena ya ... aneh aja. Lalu dialog ini, "Jatuh tadi, gara-gara muterin lapangan. Hal paling gue benci setelah Fisika." Aku mikir keras di sini, hubungannya apa, ya 😶 Ada beberapa typo dan salah satunya menyebut nama Farah. Who's she?
Yah, jadi begitulah. Sebenarnya sayang, buku ini masih bisa dikembangkan, terlebih konfliknya. Masalah yang membuat Lavina akhirnya sadar dengan sikap dingin dan kaku Arsen sama sekali nggak memantik apa pun, flat banget. Bahkan nyaris nggak jelas. One star for kerja keras penulis untuk riset, one star for the efforts karena berhasil menyelesaikan buku ini.
Agak sayang juga sebenarnya harus kasih bintang segini padahal ini buku pertama dari penulis yang aku baca. Hmm, barangkali memang buku ini bukan jodohku ohohoho dan bakal mencoba baca karya penulis lainnya :)
Bukan pertama kalinya baca karya kak ainun, udah hafal dan cocok sama gaya penceritaannya. tumben tumben kan aku jajan buku teens di google play books wkwk. tapi jajan ini pake voucher kok, jadi hemat, aku kan tim #gakmaurugi xD
pas baca buku ini, aku tuh dibuat gerem dan sebel sama arsen, terlalu cuek. tapi lavina juga sikapnya agak terlalu berlebihan sih sebagai cewek. tapi yang paling bikin sebel ya sama si arsen haha.
sebenernya udh agak lama baca ini, tapi aku tim mager ngulas baru posting ulasannya sekarang sambil baca ulang.
karakter bukunya cukup konsisten, konflik bukunya cukup ringan mengingat buku ini juga kategori remaja, jadi gak berlibet dan cukup relate-lah menurutku yang pas banget remaja esema ini.
aku cukup enjoy juga bacanya, asik sih, page turner malahan, soalnya aku ngabisin buku ini hanya sekali duduk, ya efek baca ebook juga sih jadi cepet
gila, suka banget banget banget sama bab di akhir! ╥﹏╥
ini adalah buku ketiga yang aku baca dari highschool series-i don't read it in order-setelah barga dan iris. senang waktu baca lavina ternyata lumayan banyak mention rangga dan iris hehe, sebenernya aku baca lavina juga karena di mention di buku iris, jadi aku penasaran dan memutuskan untuk lanjut baca lavina. sekarang berencana untuk baca raya karena menurutku dia juga salah satu highlight of the book, dimana dia beberapa kali di mention disini >___< buku ini secara garis besar berisi tentang lavina-si cewek ceria yang penuh dengan kasih dan selalu senyum-dan arsenio-si pacar cewek ceria yang cuek dan diem-yang pacaran selama satu tahun, tapi lavina merasa arsenio ini jauh dan sifat arsenio ini ngebuat lavina merasa unloved. classic? yes, but not that i complain, they got me giggling.
sebenernya bisa dibilang selama baca buku ini aku hanya menunggu saat dimana lavina akan putus dengan arsenio, lol. aku yakin mereka akan putus karena aku rasa itu adalah point dari buku ini, and when it really happened i was almost happy (?). bukan berarti aku merasa lavina paling benar ya, hanya saja walaupun aku bisa memahami arsenio bahwa he's a man of few words, aku tetap merasa kasian sama lavina yang ngerasa unloved and unwanted almost all the time. terlepas dari itu hanya pikiran dan asumsi lavina sendiri, tapi bukan berarti perasaan dia tidak valid. aku sebagai pembaca bisa melihat pemikiran arsenio dan seluruh perasaanya, tapi lavina gabisa because he never express and communicate his emotions to lavina. so i don't think we could entirely blame lavina for that. kita lihat bahwa arsneio perhatian discreetly, and that he loves her. tapi lavina gatau semua itu. contohnya seperti arsenio yang jarang menghubungi lavina, tapi ternyata dia selama ini menghubungi orang tua atau kakaknya lavina, sedangkan lavina gatau karena arsenio juga gaperna cerita. that doesn't mean i blame it on arsenio, i do understand that he's not the type to be comfortable to show his emotions entirely. i think it makes him feel vulnerable and exposed (?), so he shows them through his actions instead.
aku rasa masalah mereka itu hanya ada di komunikasi saja, tapi komunikasi tanpa saling memahami juga will lead them nowhere. jadi, aku sangat gemas dan happy saat arsenio berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka. they both deserve each other kok, it shows ketika arsenio juga mau berusaha dan lavina juga mau menerima kembali. arsenio has an emotional intelligence and that makes him even perfect.
arsenio is not the type to send her long messages everyday, write her love letters, or surprise her out of the blue. but arsenio is the type who pays attention to the small details. he remembers how she prefers her meatball, takes note of her habits, looks at her with admiration when she look away and no one notices, keeps her pictures and stares at them when he misses her, and discreetly takes pictures of her. it's through the jeruk hangat, bakso, and usap kepala that he says, "i love you". bab terakhir sudah menunjukkan arsenio itu tipe orang yang seperti apa, benar benar menyentuh hati, aku sampe berkaca kaca saking terharunya T___T
kelar baca cerita ini terus aku ngomong sama diri sendiri "ingat fir, ini dunia nyata. bukan cerita novel yang endingnya berakhir manis." oke sepp!
Lavina bercerita tentang seorang gadis yang terpesona dengan sosok Arsenio. Tampan dan dingin; adalah dua kata untuk mendeskripsikan sosoknya. walaupun begitu Lavina tetap menyukai Arsen. setahun setelah menjalin hubungan akhirnya Lavina sampai di titik nyerah dengan sikap Arsen. ia mulai menjalankan "misi" untuk membuat Arsen peduli padanya. tapi emang pada dasarnya Arsen cuek dan dingin, dia tetap engga peduli dengan Lavina.
tapii, di balik itu semua Arsen punya alasannya tersendiri. dia tidak pandai menunjukkan perasaannya. dia menyayangi Lavina bahkan sangat-sangat menyayanginya tapi dia tidak tahu bagaimana cara menunjukkan itu.
tuhkan! aku bilang juga apa. ini cerita novel, perjalanan kisahku enggak akan semulus ini:( tauk deh, aku baper hiksss! :(
overall, aku suka dengan cerita ini. simpel dan khas teenlit. aku suka dengan SMA Nuski. tidak hanya perkumpulan siswa siswa yang cantik dan ganteng tapi SMA ini juga mempunyai prestasi yang luar biasa.
"Gue mau jadi objek, bukan cuma jadi subjek terus. Gue mau dilihat. Ga melulu liatin dia."
buku ini nyeritain soal Lavina yg berusaha buat narik perhatian cowoknya yg cuek abis. sebenernya hampir seluruh isi buku ini emang cuman bahas soal lavina yang berusaha bikin arsen jadi care kek cowo kebanyakan, dan arsen yang cuek bgt kek kulkas dua pintu.
tapi seru sih ngikutin buku ini, ringan dan cocok di baca waktu longgar. tapi ada beberapa bagian aku yg ikut sakit hati liat perlakuan arsen ke lavina, meskipun di buku ini arsen gaada brengseknya, cuman aku paham kenapa lavina segitu bgt usahanya, soalnya nih arsen tuh tipe cowok yang gaada inisiatif sama sekali huft, ikutan kesel pls. meskipun aku sebagai cewek juga kesel sama posesifnya lavina ke arsen, tapi ya kalo cowoknya model arsen mah emang perlu di gituin sksks. overall buku ini oke, dan worth it buat di baca.
This entire review has been hidden because of spoilers.
nuski series ini bahasan sama alpi karena kebetulan pas masih di wattpad, sama-sama ngikutin walau beda buku fav-nya. udah re-read ini 3?? atau 4??? dari 2021 dan tetep hUUHH problematika mereka problematika pasangan pada umumnya, tapi karakter lavina at some point emang nyebelin karena fokus sama pemahaman dan asumsinya sendiri, selalu mau dilihat dan didengerin (and somehow ini bikin AKU NGACA TERUS WKAWKWKWK) but overall ceritanya “pas” dari muncul konflik, penyelesaian. teenlit yang sangat cheesy
Kisah cinta si sunshine dan si cold. Lavina udah pacaran lama banget sama cowoknya, tapi dia ngerasa hampa dan mempertanyakan, "Dia sayang sama aku ngga sih?" Sampe akhirnya dia capek sendiri.
Ceritanya ringan banget, khas anak SMA yang masih mentingin perasaan diri sendiri dan selalu berpikiran negatif sampe nyakitin keduanya. Cocok dibaca sekali duduk.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ceritanya ringan dan menarik. Pesannya adalah komunikasi itu penting banget dalam sebuah hubungan. Gaya penulisannya juga ringan ala Wattpad, tapi menarik untuk dinikmati kalau butuh cerita ringan romansa anak SMA
ini bagus cmn menurutku cwenya kinda menye" tanpa ngerti dan sadar kondisi cwonya. seriously aku debat sm naomie cmn ggr yg salah lavina atau arsen HAHAHHAHHAH
jujurr agak ganjel dan agak kurang srek bacanyaaa. aku juga bingung sama latar waktunya. pengembangan karakter juga kurang nenurut ku. tapi, thank you for the book author!!
Sebenarnya tulisannya enak banget dibaca dan so page turning. Aku kecewa berat dengan karakter Lavina yang sama sekali nggak berkembang. Sampai halaman terakhir masih saja kekanakan, impulsif, cemburu buta, suka nuduh tanpa bukti, posesif tingkat tinggi, dll dll :)