Cakrawala. Dia diartikan sebagai lengkung langit tempat bintang-bintang bersandar. Ladinia. Dia adalah bintang paling terang yang pernah bersandar pada cakrawala.
Cakrawala, drummer dari band indie Anchorbolt pertama kali bertemu Ladinia, reporter dari media musik bernama Stagesnap, di belakang panggung saat gegap gempita reda. Meninggalkan kesan, tapi tak seberapa. Lalu, Bandung mempertemukan sang drummer dan sang reporter dalam setiap gigs, menjadi penanda dimulainya tukar cerita tentang skena musik hingga idealisme hidup. Cerita demi cerita terekam di seluruh sudut kota kembang, menambah satu lagi hal manis yang bisa diingat dari kota berkode telepon 022. Semua tampak baik-baik saja hingga salah satunya jatuh cinta dan salah satunya enggan percaya.
022 mengajak pembaca berwisata dengan kisah cinta Ceye dan Ladinia. Bagaimana kota Bandung menjadi saksi bisu hubungan mereka. Tidak hanya itu kehidupan mahasiswa, band, dan jurnalisme yang dikulik pun tak kalah menarik. Penulis berhasil membawa ketiga dunia tersebut ke dalam jalan ceritanya. Sampul bukunya sendiri terlihat cukup sederhana, tapi artistik. Foto siluet sepasang muda-mudi yang terlihat seakan-akan ditempel mewakili dua tokoh utamanya, Ceye dan Ladinia. Ditambah aksen potongan kertas set list lagu menegaskan profesi Ceye sebagai drummer. Latar warna yang dipilih pun pas dan menyatu. Namun, sayangnya latar pantai dalam foto siluet menurut saya kurang pas. Akan lebih cocok jika menggunakan latar perkotaan, sesuai dengan kota Bandung yang dipilih sebagai latar tempat cerita.
Bertemakan kisah cinta dua anak muda, Ceye dan Ladinia, yang harus melewati berbagai macam rintangan dalam prosesnya. Di sini penulis memperhatikan proses asmara antara Ceye dan Ladinia yang terbentuk tidak secara instan. Ada pendekatan dan interaksi yang intens yang menegaskan benih-benih asmara di antara mereka. Ceye yang pada mulanya menganggap Ladinia biasa saja, mulai tertarik saat Ladinia menandainya di salah satu postingan fotonya. Dari sana Ceye mulai mencari tahu tentang sosok Ladinia. Saya sangat menyukai dan menikmati cara penulis dalam membangun chemistry antara Ceye dan Ladinia. Usaha Ceye untuk mendapatkan hati Ladinia layak kita simak. Bagaimana masa lalunya, sosok pria lain di dekat Ladinia, hingga tembok pertahanan yang dibangun oleh Ladinia menjadi rintangan yang harus dihadapi oleh Ceye. Selain itu unsur dunia mahasiswa, musik, dan jurnalistik berhasil dimasukkan secara rapi dan hidup oleh penulis. Melalui ketiga unsur ini pula saya merasa nyaman dan betah untuk menyimak tulisan Lokalpcy yang apik.
Tokoh utama dalam 022 adalah Ceye dan Ladinia. Cakrawala Yudhistira Adhyaksa alias Ceye merupakan seorang mahasiswa dan drummer band Anchorbolt. Ceye memiliki tampang yang rupawan sehingga tak heran banyak gadis-gadis yang memujanya. Ceye memiliki karakter yang tengil, berandalan, dan keras kepala. Akibat masa lalu kisah cintanya yang buruk, Ceye jadi terkenal sering "gonta-ganti" wanita tanpa komitmen yang jelas. Namun setelah berjumpa dengan Ladinia, Ceye bertekad untuk memperbaiki citra buruknya dan berusaha menjalin hubungan yang serius dan berkomitmen dengan Ladinia. Kemudian ada tokoh Ladinia yang seorang mahasiswi sekaligus jurnalis di media musik, StageSnap. Ladinia memiliki sifat yang ramah, menyenangkan, dan baik terhadap setiap orang. Banyak sekali orang-orang di sekitarnya yang merasa nyama dengan sikap Ladinia tersebut. Namun, di balik itu semua Ladinia menyimpan kekhawatiran akan kebaikan orang lain terhadapnya, apakah itu tulus atau beralasan. Maka tidak heran jika Ladinia seringkali membangun tembok pembatas akan perasaannya terhadap orang yang dekat dengannya. Selain itu terdapat tokoh-tokoh pendukung yang sangat berkarakter, seperti Faiq dan sakti yang iseng, Dewa yang pendiam, Wira yang perhatian, Sean yang protektif, dan masih banyak lagi. Setiap tokoh dibekali latar belakang yang kuat sehingga bisa menghidupkan karakternya.
Novel ini memiliki alur cerita yang cepat dan mengalir. Meskipun novelnya cukup tebal, tapi cara penulis bercerita tidaklah membosankan. Sebagai pembaca saya ikut hanyut dalam jalannya cerita antara Ceye dan Ladinia. Gaya bahasanya pun terbilang ringan, sederhana, dan sangat khas anak muda. Mulai dari percakapan, narasi, hingga candaan para tokohnya sangat relate dengan kehidupan masa kini. Menggunakan sudut pandang orang ketiga melalui tokoh Ceye dan Ladin. Penulis sepertinya ingin lebih menggali sudut pandang Ceye sebagai pria yang memperjuangkan cintanya. Dan menurut saya ini berhasil, bagaimana Ceye yang ingin berubah, kedekatannya dengan sahabat-sahabatnya, hingga masa lalunya yang menghantui komitmennya dalam berhubungan. Terakhir latar tempat yang digunakan adalah kota Bandung yang dideskripsikan secara jelas dan terasa. Mulai dari tempat-tempat seperti McDonald's Simpang Dago, Jalan Cipaganti, hingga kawasan ITB. Semua tempat-tempat tersebut sangat familiar bagi saya sebagai orang Bandung.
Permasalahan atau konflik cerita baru terjadi menjelang akhir. Di awal kita hanya akan disuguhi proses kedekatan Ceye dan Ladinia. Bagaimana di setiap kesempatan Ceye selalu berusaha untuk dekat dan berinteraksi dengan Ladinia. Menjelang akhir barulah konflik mulai terjadi. Di mana Ceye yang sudah merasa dekat mulai mencoba mengungkapkan perasaannya. Namun ternyata Ladinia memiliki tembok pemisah yang tak bisa begitu saja ditembus oleh Ceye. Selain itu kehadiran Wira juga menjadi pengganjal tambahan yang merintangi Ceye. Jujur saya sendiri suka dengan konfliknya yang mengalir apa adanya. Setiap orang memang memiliki sifat insecure mereka masing-masing. Dan bisa kita lihat jika tokoh Ceye dan Ladinia memiliki kecemasan dan ketakutan mereka masing-masing. Kecemasan dan ketakutan ini pula yang menjadi batu sandungan bagi hubungan mereka. Konfliknya dikemas dengan rapi dan tenang. Penyelesaiannya pun tergolong bertahap dan tidak terburu-buru. Bagi saya konfliknya terasa realistis dan apa adanya, khususnya bagi anak muda yang sedang menjalin cinta.
022 menyuguhkan kisah cinta yang berproses dan tidak terjadi secara tiba-tiba. Perjuangan Ceye untuk mendekati Ladinia sangat menarik untuk dibaca. Bagaimana Ladinia tidak serta merta menerima perasaan Ceye begitu saja, tapi juga ada beberapa hal yang menjadi pertimbangannya. Interaksi kedua tokoh utamanya kuat dan berhasil membangun chemistry yang hidup. Saya sangat menyukai cara penulis dalam membangun kisah Ceye dan Ladinia ini secara bertahap dan berproses. Sehingga tidak menimbulkan rasa suka yang tidak tiba-tiba. Latar dunia mahasiswa, musik, dan jurnalistik yang dimasukkan sangat terasa. Mulai dari aktivitas Ladinia di kampus, kegiatannya meliput gigs, dan perform Ceye dalam setiap penampilan Anchorbolt. Terakhir latar Kota Bandung yang dipakai semakin menghidupkan ceritanya. Hal-hal kecil seperti radio Ardan, McDonald's Simpang Dago, dan kampus ITB semakin menambah atmosfer kota Bandung di dalam ceritanya. Kekurangan dari novel ini mungkin kurang banyak sudut pandang Ladinia dan kurangnya latar belakang keluarga Ladinia yang membentuknya menjadi pribadi yang sekarang. Secara keseluruhan 022 adalah novel romance yang menunjukkan tahap dan proses sebuah hubungan yang terjadi tidaklah mudah. Ada berbagai faktor yang menjadi penghalang bagi dua insan yang ingin saling mencinta.
Pernah gak sih kamu baca buku dan tidak ingin cepat-cepat selesai? .
Bagiku, novel 022 ini salah satunya. Sebenarnya, aku kurang suka dengan alur yang cenderung lambat, tapi entah kenapa aku suka dengan novel 022 ini. Aku suka bagaimana penulis membangun chemistry antara Ceye dan Ladinia secara perlahan dan bertahap. Tidak terburu-buru, tapi semakin lama semakin kuat.
022 membawaku menelusuri kisah Cakrawala yang akrab disapa Ceye dan Ladinia. Mereka pertama kali bertemu saat Ladinia sebagai jurnalis media musik ingin mewawancarai Anchorbolt, band Ceye. Ceye tak menyangka awalnya dia sama sekali tak tertarik dengan Ladinia, bahkan dia ingin buru-buru pulang karena terlalu capek, malah berakhir dengan rasa penasaran terhadap Ladinia.
Pertemuan pertama yang begitu berkesan, membuat Ceye ingin mengenal lebih jauh sosok sang jurnalis yang ternyata masih 1 kampus dengannya tapi berbeda jurusan. Pertemuan demi pertemuan kemudian hadir dan menimbulkan sesuatu yang berbeda diantara keduanya .
Masalahnya, apakah kali ini Ceye benar-benar bisa serius menjalin hubungan? Sebaliknya, bisa kah Ladinia percaya? .
Bersetting di Kota Kembang, novel ini membawa atmosfer yang membuatku kangen dengan Bandung 😍 Memadukan unsur musik, dunia kampus dan jurnalistik menjadikan novel ini penuh warna.
Aku suka bagaimana awalnya Ceye tak tertarik, akhirnya berujung stalking dan tertarik pada Ladinia. Bagaimana dia yang awalnya menggantungkan pertemuannya untuk kata "kebetulan" kemudian belajar untuk "mengusahakan" pertemuan itu sendiri.
Gaya menulisnya enak dan mengalir. Membuatku terus membaca dan membaca hingga akhir. Konfliknya pun tidak terlalu berat, tapi aku menikmatinya. Apalagi penulis meramunya dengan unsur musik band indie (sesuatu yang masih terasa asing bagiku), dunia kampus dan jurnalistik. Semua pas dan sesuai porsinya.
Penulis cukup sukses menjadikan novel ini sebagai perkenalan yang manis untukku. Aku tidak akan ragu lagi jika suatu hari membaca karya lainnya dari penulis.
Selesai manggung, Cakrawala berniat langsung kembali ke indekos karena ada tugas kuliah yang belum selesai, plus dia lelah luar biasa. Manajernya datang mengabarkan ada media yang mau wawancara. Bubrah rencana Ceye (nickname Cakrawala). Mood-nya anjlok. Sebelum menyadari jika reporter yang mewawancarai punya penampilan unik dan berbeda dari reporter kebanyakan. Dan roda kisah mereka mulai berputar.
Mengesampingkan gaya penulisannya yang suka-suka banget, sebenarnya ceritanya menarik. Tapi, mulai off banget waktu Ceye menyatakan perasaannya ke Ladin.
Pertama, apa Ceye udah cari tahu Ladin nggak keberatan dengan caranya membawakan lagu favorit cewek itu dan jadi kode kalau dia punya perasaan lebih ke dia?
Kedua, gimana caranya orang-orang langsung tahu Ceye natap siapa? Bisa aja, kan, ada yang outfit-nya kembaran. Lagi pula, itu banyak banget orang posisinya. Masa iya mereka langsung paham siapanya, kecuali emang orang-orang di dekat Ladin berdiri saat itu (dan kayaknya bakal loading lama juga, sih).
Ketiga, waktu mereka akhirnya ngobrol di mobil, Ceye jelas-jelas mendesak Ladin buat jawab pertanyaannya. Dia kelihatan gusar karena Ladin hanya diam, nggak mulai inisiatif. Lalu ada kesan (menurutku) Ceye kecewa Ladin nggak bisa lihat ketulusannya bawain lagu favorit dia di atas panggung padahal nggak begitu mendapat antusiasme penonton. Pertanyaannya, yang nyuruh lu begitu siape, Ye?
Sepanjang baca ini terlalu gemas dengan kelakuan para cowok yang nembak Ladin ini. Ceye yang kekeuh mempertahankan posisi dan secara nggak langsung malah nyerang Ladin. Lalu, Wira yang mendadak jadi cowok jahat karena nggak mau mengerti isyarat. Bentar, buat yang terakhir Ladin juga ada andil, karena nggak tegas.
Bagian yang aneh sebenarnya ya, soal Ceye yang seolah melimpahkan kesalahan ke Ladin karena nggak mau menerima dia atau nggak egois sama perasaannya. Terus mendadak narasinya jadi berubah memojokkan Ladin. Padahal ya, di awal nggak ada indikasi Ladin trauma atau penjelasan apa gitu yang bikin dia harus mikir dulu buat jawab pernyataan Ceye.
Bukannya mau menggampangkan trauma, tapi alasan trauma Ceye soal hubungan itu bagiku kurang kuat. Kalau diperkuat di bagian itu kayaknya bakal oke aja, sih, dia nggak bisa tegas sama perasannya atau apa. Malah bagiku, masalah Ladin ini harusnya ada di Ceye alias kebalik.
Oh, ya, bukannya membela Tara, tapi emang jahat banget sih perlakuan Ceye ke Tara. Seenak jidat banget didekati lagi pas lagi semi patah hati. Alasan apa pun tetap nggak masuk akal kalau ending-nya dia gituin Tara.
Again, buku ini kayaknya memang bukan mangkuk dan porsiku. Semoga bisa bertemu buku lain dari penulis yang lebih sesuai selera.
4.2/5 sebenarnya. Ceye, drummer Anchorbolt--salah satu band indie di Bandung dan Ladin, jurnalis media musik bernama StageSnap, mereka ketemu di acara musik dimana Ladin bertugas mewawancarai Anchorbolt. Ga ada kisah love at the very first sight karena si Ceye malah galak amat ke mba Ladin, kepalang capek & ngantuk tapi masih harus wawancara. Tapi Mba Ladin yg ga menyerah & ternyata punya pertanyaan berbobot dan asik akhirnya punya nilai lain di mata Ceye.
Bermula dari Ladinia, yang menandai Ceye dalam sebuah foto di instagram. Foto penampilan Ceye dengan drumnya di stage. Nemu foto dia yang lebih dari satu, Ceye jadi kepo tuh soal Ladin yang ternyata juga mahasiswi di tempat Ceye kuliah.
Penulis dengan pelan tapi pasti membangun interaksi antara Ceye & Ladin. Kita bisa ngerasain perkembangan status keduanya, yang dimulai dari sekedar anak band dan jurnalis, lalu temanan, yang kemudian mereka berdua makin dekat.
Drama² keribetan mereka berdua ini panjang. Ceye yg dicap suka gonta-ganti cewek tanpa komitmen, bertemu Ladin dengan trust issue-nya. Ditambah lagi ada Wira & Tara yg memperkeruh. Komunikasi yang terjalin baik jadi memburuk karena ego keduanya. Sumpah, ini bikin gregetan parah. Kek--NGOBROL KEK LU BERDUA DENGAN KEPALA DINGIN wkwk.
Latar belakang tiap tokoh yang dibuka dengan baik tuh bikin kita memahami emosi mereka. Ladinia yang membangun tembok pertahanan akan perasaannya sendiri. Ceye yang berusaha memperbaiki cap buruk yang diberikan orang selama ini tanpa tau alasan di baliknya. Kita bisa ngeliat kalau mereka berdua punya alasan atas ketakutan masing-masing. Penokohan yang manusiawi ini adalah point pertama yg aku kasih nilai 100 soalnya penulis tuh bikin kita ngerasa mereka beneran ada. Dari gerak-gerik sederhananya, dialognya, becandanya, dll. Character development yang bertahap juga berasa realistis. Kita nemanin tokohnya memahami isi kepala mereka masing-masing.
Secara fisik, buku ini lumayan tebal. Tapi pas baca rasanya ngalir aja karena narasi di buku ini ringan & menyenangkan. Jokes-nya juga masuk semua di aku 😂 daaan, point plus-nya ada di layout-nya yang bikin mata nyaman. Ukuran font-nya cocok banget, imo.
Aku suka sama semua latar tempat di cerita ini. Digambarin dengan cara yg menyenangkan, bikin tertarik sama tempat² yg disebutin.
Bonding tiap2 karakter pun kuat. Ceye & anak Anchorbolt, Ceye & Ale, Ceye & Ladin waktu masih temenan. Ladinia-Sean sebagai saudara, juga Ceye & Yura.
Aku suka karena Ceye sebagai anak band tuh beneran ditonjolkan, kita beneran kebayang gimana kegiatan & pergaulan dia. Begitu juga dengan Ladinia & kesibukannya di kampus, kecintaannya pada fotografi, kegiatan dia sebagai jurnalis StageSnap. Keberadaan Sean & timnya juga oke.
Porsi romance di buku ini juga pas. Penulis menyajikan love story Ceye & Ladin dengan nggak terburu-buru. Kita ikutan ngerasain naik-turunnya hubungan pendekatan mereka berdua. Secara keseluruhan buku ini menggambarkan bahwa nggak mudah menyatukan 2 orang dalam hubungan. Karena ada 2 kepala dengan isi yang nggak sama, 2 orang dengan latar belakang yang beda dan punya cerita masing² di balik karakternya. Bagaimana hal yang kelihatan sepele, harusnya nggak dianggap sesepele itu.
Shout out to kak Lokalpcy for writing this book! Aku suka banget nama Ceye :) Cakrawala Yudistira Adhyaksa
am i really not made for romance? am i? AM I? am i really too old for this im literally devastated right now why am i like this
no kidding im actually disappointed with myself for not liking this book because i really want to. my friend lent it to me saying that i'd probably like it, that the writing is pretty good and the two main characters' chemistry building is decent. and as a person who also writes fanfiction on wattpad (for fun, worry not, i dont have the skill for my writing being published anywhere professionally) with similar premise i want to like this in the name of solidarity (what)
but throughout reading this, it's so hard to get into any character i did not develop any sympathy or any sort of attachment and thats actually a huge turn off for me because i tend to pay attention more to the characters when i read. what is being on my mind while i was reading is how i really wanted this to end quickly--which is probably why i finished this in one night.
the characters' building felt so off for me. the background plot is also pretty weak to my taste, and there were some things that made me uncomfortable--idk man i think this book is just not for me and i feel really bad because some reviews i found actually love this book a lot and i know the author is also pretty popular and i think i have to state that whatever i said is completely a personal opinion this book is just not my cup of tea that is it.. though i'm pretty impressed with the places and the bands and the gigs mentioned in this book along the way it really shows how knowledgeable the author is when it comes to this stuff so that's where my two stars go.
"gue kan udah pernah bilang, jangan terlalu mikirin apa yang orang lakuin ke lo. nggak usah mikirin juga apa yang sebenarnya mereka cari dari lo. nggak semua hal perlu lo tahu alasannya."
akhirnya selesai jugaaa! nggak nyangka aku bakalan suka sama jalan cerita novel ini.
022 berkisah tentang Cakrawala Yudhistira atau lebih di kenal Ceye seorang drummer yang mempunyai fans yang cukup banyak. dia di kenal sebagai cowok yang punya banyak stok cewek:) karena sebuah trauma masa lalu membuatnya menjadi seperti sekarang. kalau pakai teori Sigmund Freud sih benar kalau apa yang terjadi di masa lalu membentuk kita di masa depan, begitu kan? dan itu pula yang terjadi pada Ceye. sampai akhirnya dia bertemu dengan Ladinia seorang reporter yang pernah mewawancarai band Ceye. bermula dari situ kebetulan demi kebetulan pun terjadi sampai membuat mereka sangat dekat.
"hidup ini kadang-kadang lucu, mempertemukan kepingan kemungkinan menjadi rangkaian kebetulan yang seolah-olah sudah di rancang dari sananya."
baca novel ini bikin aku ingat masa lalu deh. mungkin aku pernah di posisi kayak Ceye yang takut memulai suatu hubungan karena pernah gagal di masa lalu. tapi terkadang kita nggak boleh selalu terpaku di masa lalu yakan? dan itu pula yang Ceye lakukan. dia berubah, dia berbenah jadi Ceye yang lebih baik tapi sayang karena reputasinya membuat Ladin nggak mudah percaya. dan yang bikin menarik ternyata Ladin punya krisis kepercayaan yang membuatnya susah percaya dengan Ceye.
"nggak ada orang-orang yang tahu gimana caranya jadi dewasa, Ye. masing-masing orang punya cara sendiri."
tapii, dengan segala drama yang mereka lalui kisah ini berakhir dengan cukup manis. aku sukaa.
"kalau mereka saling nggak nerima perubahan itu sendiri, berarti mereka belum siap untuk menerima satu sama lain."
022 ini bikin kita kangen sama semua tetek bengek dunia perkuliahan beserta kisah cintanya.
Sebenernya baca 022 nih waktu jaman masih di wattpad, kemudian decide buat beli versi cetaknya meski udah tau endingnya kayak gimana tapi tetap ngeyel buat beli karena kangen sama cakrawala. Karakter ceye tuh menurut gue salah satu karakter fiksi yang berhasil "hidup" sampe detik ini juga. Rasanya gue mau kasih standing applause buat Hana karena bisa bangkitin karakter Ceye sampe sebegini membekasnya. Everytime gue liat Chanyeol pasti gue langsung bakal keinget Ceye dengan segala tetek bengeknya.
Baca buku ini tuh ajaib banget karena bisa bikin gue cinta sama Bandung tanpa perlu repot-repot tau Bandung itu seperti apa dan gimana. Meski gue belum pernah ke Bandung dan ITB tapi gue bisa ikut ngerasain setiap detail Bandung yang digambarin sama Hana lewat Ceye. Sampe-sampe suka sama beberapa lagu musisi lokal like figura renata, fiersa besari juga karena Ceye. Se-magically itu ternyata impact seorang Cakrawala. Bahkan buku ini gue nobatin sebagai comfort book gue kalo-kalo gue udah mulai kangen sama masa kejayaan lokalpcy
Ada beberapa hal yang buat buku ini menarik buat aku: 1. Latar tempat di Kota Bandung yang berhasil tergambarkan di dalam buku, hal ini sendiri yang buat aku terbawa atmosfer berasa di Kota Bandung belum lagi deskripsi tempat yang benar-benar menggambarkan kondisi tempat disana gimana. 2. Konsep cerita anak band dan jurnalis yang menarik, karena dua elemen ini benar-benar digunain dengan baik sepanjang cerita berlangsung bukan hanya latar aja. 3. Karakter Ladin juga menarik, I can see why she is liked by many people, she have personality, stance, hard worker walaupun memang agak labil.
Tapi ada beberapa hal yang buat aku ngerasa ga cocok sama buku ini: 1. Pemilihan katanya bagus dan emang keliatan berpengalaman tapi aku sendiri butuh penyesuaian di awal baca buku ini. 2. Karakter Cakrawala itu bukan karakter yang gampang disukain, jujur beberapa kali gregetan sama tindakannya walaupun realistis, tapi pengembangan karakternya jelas terlihat dari awal buku sampai terakhir.
Balik lagi baca buku ini berasa lagi di Bandung dan nonton pertunjukan musik
Gemes banget sama interaksi Ceye Ladin, dan aku suka SUKA banget gimana karakter mereka terasa deket banget sama kehidupan. Kayak, FINALLY, male lead yang kelakuan jelek serta pilihan yang dia ambil tuh bikin kesel tapi tetep worth to rooting for soalnya dia mau berubah dan bukan gara-gara dia naksir cewek.
Sangat sangat enjoy baca ini sambil cekikikan dan salting malem-malem!
dibawa terbang bersama ribuan kupu kupu dalam setiap kalimatnya.. tersusun rapih dan cukup mudah untuk dipahami. alurnya sedikit lambat, tapi ntah mengapa novel 022 selalu menjadi jawaban kalau teman2 bertanya "novel romance yang bagus, tapi tidak terlalu berat" saat baca ini, rasanya kita menyaksikan bagaimana mereka bisa bersatu, dari aku dan kamu, menjadi kita. dipastikan rahang pembaca bakalan sakit, dan gigi depan pembaca akan kering karena senyum senyum setiap membaca setiap kalimat.
terlalu high expectation ke buku ini wkwkkw, gemes banget dah ama cakrawala dan ladinia yang hubungannya naik turun :") konfliknya lumayan lah tapi kek narasinya ga tentu, kurang enak gitu dan lebih POV mihak ke si ceye daripada ladin.... harusnya ada POV gantian gitu, terus kek kurang enjoy baca meskipun 400 halaman :") pengen cepet2 tamat aja dan ngebut di 200 halaman terakhir wkwkkw
seru banget ngikutin kisahnya ceye dan ladinia, mengarungi pikiran dan resahnya ceye dalam menghadapi sikapnya ladin, buku yang bikin gue senyum-senyum sendiri dan secara nggak langsung ngenalin Bandung di lain sisi, juga nambahin playlist lagu lagu yang kece banget! otw baca sequelnya
"Sesuatu yang berharga bukan datang secara kebetulan, tapi karena dipertahankan, diperjuangkan dan ada yang dikorbankan.", ~ (hal. 79) __ KAMU PERNAH MERASA INSECURE NGGAK SAAT MEMULAI SEBUAH HUBUNGAN? . . . Ladin adalah cewek supel yang menyenangkan. Ia selalu berusaha "being nice" pada siapa saja tanpa mengharapkan balasan. Atau lebih tepatnya, ia tak mau berharap lebih karena takut dengan ekspektasinya sendiri. Melihat Ceye yang baik banget sama dia membuat Ladin takut dan mempertanyakan apa motivasi laki-laki itu. Ladin tidak buta, ia hanya insecure. . Ceye pernah gagal mempertahankan hubungannya. Hal ini membuatnya ragu untuk memulai yang baru. Selama ini ia mengandalkan hidupnya pada kebetulan. Siklus hidupnya yaitu mencari dan berharap, santai dan menikmati hidul, kemudian mencari dan berharap lagi. Lalu Ladin masuk ke circle-nya. --- Sekilas, premis cerita 022 terasa sudah terlalu umum ya. Tapi tokoh-tokoh di novel begitu "hidup". Tanpa penjelasan yang repetitif tentang deskripsi dan kepribadian mereka. Kita sudah dibikin akrab dengan Ceye, Ladin, Tara, Wira, Sean, Faiq, dll. Latar kota Bandungnya yang romantis dieksplore dengan cukup baik. Poin tambahan tentang kehidupan musisi di sana yang jadi profesi tokoh-tokohnya. . Saya suka dengan ritme ceritanya yang sebenarnya lambat banget. Tapi itu justru bikin sisi realistisnya lebih nonjol. Saya ikut terbawa dengan perjuangan Ceye mendekati Ladin sampai akhirnya "nembak" setelah hampir setahun. Dari yang awalnya cuman kebetulan --> penasaran --> kebetulan disertai sedikit usaha --> usaha --> usaha terang-terangan 😁. Seru deh pokoknya. . Sayangnya saya merasa percakapan mereka kayak kurang menggambarkan Bandung sih 🙈. Dialeknya full anak tongkrongan gitu. Kalau gak sebutin latarnya di Bandung, saya bisa aja menebak cerita ini bisa terjadi di mana saja. Mungkin kalau ada salah satu tokoh (figuran juga gak papa) yang pakai dialek sunda bakal lebih terasa "022"-nya. . But, overall is ok. Recommended My Rating : 3 ⭐ Romance : 3 ❤
Aku termasuk pemilih dengan tulisan wattpad apalagi college romance. Tapi aku merasa beruntung sekali menemukan cerita ini. Entah karena aku sangat mengenal Bandung atau memang penggambaran yang diberikan penulis begitu baik, aku bisa membayangkan dengan jelas tempat-tempat yang menjadi setting tempat ini. Kadang bahkan tanpa sadar ikut merasa dan membayangkan menjadi "Ladin" karena sifatnya yang begitu menyenangkan dan membuat iri wkwkwkw
Awalnya kupikir ceritanya akan seperti cerita romance remaja pada umumnya karena premis yang termasuk umum ditemui. Tapi 022 punya soul tersendiri. Pembentukan karakter Ceye dan Ladin juga begitu kuat yang membuatnya terkesan sangat hidup. Tidak hanya tokoh utama, tapi tokoh lainpun punya screening time yang pas. 022 termasuk salah satu buku yang tidak ingin aku selesaikan cepat-cepat karena khawatir akan merindukan sosok Ceye.