Judul: BONE
Penulis: Mijin Jung
Penerjemah: Hyacinta Lousia
Penerbit: HARU
Cetakan Pertama
Jumlah Halaman: 300 Halaman
***
Sebelum saya mengulas lebih lanjut mengenai buku ini, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Penerbit Haru yang memberikan saya kesempatan untuk membaca buku ini. Sehingga saya bisa mengulasnya di sini (:
Dan, impresi saya terhadap novel ini: CANTIK BANGET, TUHAN!
Meskipun genre-nya suspense dan misteri, tapi novel ini merupakan novel fotografi; di mana terdapat foto-foto yang menggambarkan bayangan isi kepala tokoh. Dan selama baca novel ini, saya rasanya jalan di labirin kepala seseorang dengan bayangan-bayangan ingatannya yang digambarkan dengan gambar. Dan perasaan si tokoh yang digambarkan lewat narasi novel. Bahkan sebelum saya baca novelnya secara keseluruhan, saya sudah sibuk duluan untuk membidik foto-foto di dalam novel ini. Dan gak bohong, saya berkaca-kaca lihatnya.
Dengan adanya gambar-gambar itu, tentunya meningkatkan ekspetasi saya terhadap novel ini.
ISI CERITA
Novel ini mengisahkan Junwon, seorang pria yang tiba-tiba saja mendapat surat bahwa mantan pacarnya, Hajin, diculik. Padahal mereka berdua sudah putus dua tahun lamanya, tepatnya, Hajin tiba-tiba menghilang selama dua tahun itu. Dan Junwon diancam untuk menebus Hajin sebesar 500 juta won.
Mulanya, dengan sampul hitam dengan gambar seorang perempuan di dalamnya, saya kira novel ini menceritakan penyiksaan tokohnya. Karena ini novel Korea, sebagai pencinta drama Korea, beberapa kali saya menemukan plot penyiksaan si tokoh oleh seorang psikopat dan direkam oleh penyiksanya. Karena ancaman yang diterima oleh Junwon pun dikirim dalam bentuk CD yang berisikan penyiksaan Hajin, maka ekspetasi saya semacam ... novel ini akan memberikan saya vibrasi kengerian, kah?.
Karena dalam sinopsisnya dijelaskan bahwa novel ini juga berisikan ingatannya tentang Hajin selama pencarian penculikannya, dengan genre suspense, saya pun sempat mengira bahwa Junwon akan menghadapi manipulasi penculiknya dengan berbagai teka-teki penemuan Hajin.
Ternyata novel ini tentang kecemasan dan trauma masa lalu Junwon.
Ekspetasi saya? Merosot. Tapi saya tidak kecewa.
KELEBIHAN CERITA
Selain karena visual bukunya, novel ini bagi saya cukup realistis dibanding imajinasi saya sebelumnya mengenai penyiksaan Hajin. Tentang masa lalu Junwon yang begitu berduri dan menyesakkan, saya akhirnya menemukan nuansa suspense selama perjalanannya. Di mana kecemasan yang Junwon rasakan, ketakutan yang Junwon rasakan, dan trauma Junwon yang ditransisi dengan trust issue-nya terhadap Hajin membuat saya melihat lika-liku romansa modern saat ini.
Yang paling menarik, novel ini memiliki nuansa romansa yang sangat kental. Dan saya sama sekali tidak menduga kalau novel ini akan menyuguhkan romansa yang menyentuh perasaan saya sedalam itu. Meskipun banyak orang yang mengejek genre romansa sebagai genre "klise", tapi saya dapat merasakan perjuangan Junwon untuk menerima rasa cintanya pada Hajin yang "nyaris tidak tersampaikan".
Percaya atau tidak, gaya bahasa novel ini seperti senandika. Meskipun gaya menulisnya sederhana dengan diksi yang ringan, tapi saya tidak merasa tanggung selama membaca. Dan justru kelitan perasaan Junwon lah yang berhasil menciptakan rasa cemas dan tidak nyaman itu.
Kesimpulan? Suspense ternyata tidak melulu mesti diciptakan seperti ekspetasi saya: penyiksaan.
KEKURANGAN CERITA
1. Karena menggunakan sudut pandang pertama, mulanya saya bingung si tokoh adalah laki-laki atau perempuan? Dan baru beberapa halaman kemudian saya tahu kalau ternyata si tokoh adalah laki-laki. Dan untuk saya pribadi ini agak menghambat cara saya menikmati isi cerita di bab awal, sehingga impresinya tidak terlalu wah.
Terutama, karena karakter Junwon yang agak kurang "maskulin" di awal bab. Lebih terasa novel ini menggunakan POV 1. Dan saya belum yakin apakah penggambaran karakter Junwon sengaja dibuat seperti itu, atau mengikuti jejak trauma dan kecemasannya, sehingga dia tampak lebih ringkih.
2. Alur yang digunakan adalah maju-mundur. Tapi tiap momen masa lalunya muncul, saya kadang kebingungan karena tidak ada pembeda spesifik di dalam novelnya. Baiknya untuk pembeda, dibuat dengan font yang berbeda. Karena saya jadi kesulitan merasakan lompatan momennya.
Saya sempat tertarik dengan adegan lompatan momen di mana Junwon seperti melihat dirinya sendiri, tapi pola ini hanya ada di beberapa bab sehingga saya kurang menikmati lompatan momennya. Dan sentimen yang saya rasakan pun jadi kurang.
Dan, menurut saya pribadi, dibanding menggunakan alur maju-mundur, bagusnya Mijin Jung menggunakan alur maju. Karena narasi yang digunakan sudah sangat bagus. Dan saya sangat merasakan apa yang ingin disampaikan penulis. Dan saya yakin meskipun menggunakan alur maju, sentimen itu akan tetap terasa.
3. Bertele-tele. Ada satu adegan yang menurut saya "membuang waktu" dan tidak harus dimasukkan ke dalam cerita. Karena tanpa adegan itu, alur cerita akan tetap terasa utuh. Kalau kepo, baca ya, hehe.
Dan dibanding proses pencarian Hajin, saya merasa sentimen kuat itu justru dalam proses Junwon menerima keberadaan Hajin di dalam hidupnya. Meskipun novel ini juga menyuguh nuansa penyesalan, tapi, dalam rentang momen waktu 2 tahun berpisah, saya merasakan kegelisahan Junwon di dalam proses pencarian Hajin tidak sebesar kecemasannya saat ia menerima perasaannya pada Hajin.
4. Saya gak suka karakter Hajin. Ini preferensi pribadi, tapi karakter eksentrik yang dibersikan Mijin Jung pada Hajin terasa sangat fiksional sekali.
***
Nanti saya ulas lebih lanjut tentang karakter Junwon dan Hajin ini di Tiktok saya (pena_altair).
Best quote: Meskipun daging dan kulit bisa melebur dan hilang, tulang akan tersisa selamanya. ♡♡♡