Dua tahun sudah Hajin menghilang tanpa kabar, meninggalkan luka yang nyaris tak bisa disembuhkan dalam diri Junwon.
Akan tetapi, saat Junwon mulai melupakan Hajin dan melanjutkan hidupnya, dia menerima sebuah paket dengan surat ancaman. Batas waktunya mendesak, Junwon harus menemukan Hajin. Jika tidak, sudah bisa dipastikan dia tidak akan pernah lagi bisa bertemu dengan gadis itu lagi.
Junwon pun memulai pencariannya, tenggelam dalam kenangan-kenangannya bersama Hajin....
Mengusung konsep fiksi misteri fotografi, aku sempat memiliki praduga bahwa buku ini memberikan petunjuk atau jalinan cerita juga melalui foto-foto layaknya foto TKP.
Junwoon sudah harus berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan studinya. Tapi serentetan kesialan menanti. Membuat kepergiannya tertunda. Ia pun terjebak dalam sebuah keadaan, seseorang yang ia anggap sudah pergi jauh rupanya sedang diculik. Pelakunya meminta uang tebusan sebesar KRW500 juta. Angka yang sangat besar untuk mahasiswa doktoral.
Selama cerita, Junwoon berusaha mencari dimana Hajin disekap. Sembari mengingat-ingat apa yang pernah dihabiskan bersama Hajin. Bagaimana mereka bisa bertemu hingga hal-hal manis yang mereka lakukan berdua. Semuanya diceritakan dari kacamata Junwoon.
Waktu terus bergulir. Sayangnya, keadaan seperti tidak memihaknya. Ada saja sesuatu yang membuat perjalanannya terganggu. Salah satunya adalah kenangan itu sendiri.
Apa yang aku tulis pada kalimat pembuka ternyata tidak terbukti. Potongan foto yang aku kira adalah bagian dari cerita, rupanya sebatas "hiasan" dan pemanis semata. Ia seperti potongan kenangan Junwoon terhadap Hajin yang tidak membawa dampak signifikan pada jalannya cerita. Bagiku, tidak adanya kehadiran foto-foto itu juga tidak akan memengaruhi cerita. Toh, penyelesaiannya disampaikan secara naratif. Bukan secara visual.
Meskipun begitu, akhir cerita ini cukup membuat kaget dan menjengkelkan. Semuanya terasa masuk akal di ujung. Dengan bumbu romantis yang sewajarnya, rasa sakit karena ditinggalkan, aku rasa memang wajar jika diberi bintang 3 saja.
Membaca buku ini, rasanya emosi dibolak-balik seperti naik rollercoaster ekstrem. Foto-fotonya pun berhasil menambah estetika cerita. Adanya alur maju-mundur membuat cerita makin menantang untuk dinikmati.
Pelajaran paling berharga yang bisa diambil: kewarasan dalam menjalani hidup adalah segalanya, dan batu kecil bisa menimbulkan masalah besar.
kesan pertama pas baca novel ini dan lihat foto" nya tuch, berasa suram.. alur cerita'y maju mundur.. dan agak terkejut juga sich sama cerita'y, meskipun udah bisa menebak-nebak sendiri.. q pikir malah "halu".. XD
pas ending di bagian pesawat pun, udah nggak terlalu kaget juga sich.. soal'y pas baca kalimat Hajin, udah bisa nebak ending'y.. kasihan Hajin.. >,<
serasa nonton film korea... atmosfernya gloomy & pace nya slow sekali lebih cocok masuk genre romance daripada thriller mystery...entahlah mungkin hanya not my cup of tea -.-
Di tengah persiapannya berangkat ke luar negeri, Juwon menemukan sebuah paket berisi video penculikan Hajin, pacarnya yang menghilang 2 tahun lalu. Di video itu penculik Hajin minta tebusan 500jt KRW dan Juwoon cuma punya waktu kurang dari 24 jam untuk menyiapkan uangnya.
Plot novel ini aneh dan rumit, tapi masih bisa diikuti. Dan entah kenapa, buku ini bisa kubaca dengan cepat. Sayangnya, aku tetap nggak bisa menikmatinya. Alurnya terlalu maju mundur dan si Juwoon ini seolah "sibuk sendiri" dengan kenangannya soal Hajin. Terus adegan-adegannya terasa aneh, sampai aku nggak bisa membayangkan visualnya. Percakapan Hajin dan Juwoon terlalu aneh. Kelam adalah satu kata yang cocok buat menggambarkan novel ini, yang sayangnya punya ending yang menurutku "sangat biasa aja".
Oh ya, aku nggak paham kenapa novel ini disebut fiksi fotografi, dan nggak paham juga fungsi foto-foto yang ada di dalam cerita.
Dua hari sebelum meninggalkan rumahnya untuk pergi ke luar negeri, Junwoon menemukan tetangganya, seorang kakek tua, meninggal di dalam rumahnya. Junwoon melaporkan peristiwa itu ke kepolisian, dan membantu membersihkan rumah si kakek. Saat dia membersihkan rumah, dia menemukan sebuah paket yang ditujukan untuknya. Tulisan nama di paket itu hampir memudar. Junwoon buru-buru membawa paket itu kembali ke rumahnya, dan membukanya. Isinya adalah sebuah CD dan kertas yang berisi peringatan. kalau kau tidak datang sambil membawa uang 500 juta won sampai tanggal 2 Juni pukul empat pagi, maka akan sulit bagimu untuk melihatnya hidup-hidup
Di dalam CD itu terdapat video seorang gadis yang sedang disiksa. Gadis itu adalah Hajin, kekasih Junwoon yang menghilang dua tahun yang lalu. Junwoon sangat terkejut. Saat melihat bahwa saat itu di laptopnya penunjuk waktu adalah tanggal 1 Juni pukul 15:53, Junwoon bergegas membawa CD itu ke kepolisian. Sayangnya polisi tidak bertindak apa-apa, sehingga Junwoon harus mencari sendiri keberadaan Hajin. Saat mencari Hajin, Junwoon berkali-kali terperangkap dalam memorinya. Saat pertama kali bertemu Hajin, saat dia berusaha lebih mengenal Hajin, bahkan ketika Hajin meninggalkannya. Junwoon berusaha keras untuk bisa menyelamatkan Hajin, bahkan rela menjual dirinya demi mendapatkan dana untuk Hajin.
Saya tertarik untuk membeli dan membaca buku ini karena tagline "sebuah fiksi misteri fotografi". Bersama cerita misteri di dalamnya, terdapat beberapa lembar foto seorang gadis dalam berbagai pose. Sepertinya foto ini menggambarkan sosok Hajin. Bisa dibilang fotonya bernuansa suram. Ceritanya sendiri mengalir dengan tempo cepat. Penulisnya bisa menggambarkan dengan baik betapa frustasinya Junwoon saat berusaha mencari Hajin. Selain itu gambaran kehidupan Junwoon yang cukup keras di masa lalu juga menambah kesan suramnya.
Novel ini cocok dibaca di bulan Juni, karena ada timeline waktu dimana Junwoon berusaha menemukan Hajin sebelum tanggal 2 Juni. Pemilihan judul "Bone" juga sangat tepat menggambarka Hajin dan kenangan tentangnya. Lumayan untuk bacaan santai.
"... Meskipun daging dan kulit bisa melebur dan menghilang, tulang akan tersisa selamanya..." (Hal.130-131)
"Aku adalah seorang pengrajin. Jika orang-orang lain membuat karya seni dari dahan pohon, tanah, atau besi, aku membuat karyaku dari tulang." (Hal.99) . . . Kehilangan Hanjin dua tahun yang lalu, membuat luka dalam diri Junwon. Rupanya, hal hal yang berkaitan dengan Hanjin tidak hilang dari hidupnya, ketika Junwon menerima sebuah paket dengan surat ancaman...
"Bawa 500 juta won, atau gadis ini mati"
Junwon memulai pencariannya... . . . Cerita tentang cinta menurut kalian seperti apa? Bagi saya, kisah cinta tidak selalu hanya tentang suka cinta, atau punya warna yang lembut dan cerah.
❤ Kali ini, saya ingin merekomendasi sebuah buku misteri fotografi yang bercerita tentang Hanjin dengan kebiasaan uniknya, membuat kerajinan dari bahan tulang. Sekilas mungkin membuat bulu kuduk bergidik, tetapi romansa yang terjadi antara Jinwon dan Hanjin cukup mendalam meskipun aura misteri tetap bisa dirasakan sepanjang membaca.
❤ Suguhan foto yang diabadikan lewat tangan Sunhye Oh, menambah kesan indah sekaligus menguatkan aura misteri dari novel ini.
❤ Menggunakan sudut pandang Jinwon,membuat pembaca dapat memahami cara pandang, emosi, serta interaksi yang ditampilkan antara dirinya dengan Hanjin. Lewat sudut pandang ini, saya rasa pembaca mendapat gambaran perasaan serta pengorbanan Jinwon untuk Hanjin.
❤ Narasi cenderung mendominasi novel ini dengan alur yang bergerak cukup lambat di beberapa bagian awal.
❤ Bagian akhir yang berhasil membuat saya kehilangan kata-kata. Juga merasa lega karena teka teki tentang nasib Hanjin pun terjawab.
Aku merasa buku ini bergenre romance dengan sub-genre misteri. Menyelesaikan buku ini meninggalkanku sendirian di tengah kamarku dengan perasaan campur aduk. Sedih, kehilangan, frustasi, dan rasa marah. Tidak banyak buku yang aku baca mengambil sudut pandang dari tokoh laki-laki, dan buku ini berhasil membuatku memandang semuanya dari sudut pandang tokohnya. Ketidakstabilan kondisi Junwon berhasil kurasakan. Semua rasa frustasi yang dialami Junwon karena tugas pascasarjana, kehilangan cinta yang dekat dengannya, dan kehilangan Hajin.
Meski buku ini disusun dengan plot yang maju mundur, aku tidak merasakan kesulitan untuk mengikuti jalan cerita. Dengan tulisan yang diterjemahkan dengan rapi, ditambah dengan foto-foto yang melengkapi buku ini aku mendapatkan pengalaman yang berbeda saat membacanya. Ketika aku berhenti sejenak untuk melihat foto yang ada aku merasa seperti melihat potongan-potongan film. Dan, wow, rasa penyesalan yang melekat padaku setelah selesai rasanya luar biasa.
Terakhir aku hanya ingin mengatakan, "Hajin, aku minta maaf."
Setelah sebulan slump, aku berhasil baca buku lagi. Senangnya lagi, kali ini dalam 2x duduk saja.
Oya, sejak awal aku udah tahu kalau Bone ini novel romantis, jadi aku nggak berekspektasi lebih soal kisah misterinya. Namun, ternyata novel ini dibuka dengan lebih menegangkan dari yang kupikir. Dan terus, kisah Junwon berjalan lebih ... bikin aku takut dan was-was dari yang kubayangkan. Lengkap dengan foto estetik yang misterius, Bone sangat menyenangkan ketika aku baca.
Premisnya cukup biasa tentang kisah asmara dua sejoli yang dihadang banyak aral; perasaan bersalah, keputusasaan, dan kecerobohan. Namun, unsur thriller yang menggebu-gebu dan bikin penasaran serta penyelesaian di akhir yang bikin pilu melengkapi kisah ini dengan baik dan unik. Termasuk perkara tulang-belulang yang berceceran dalam buku ini.
Dan aku sepakat dengan apa yang dikatakan penulis di akhir buku bahwa kehidupan ini penuh kecerobohan—terutama tentang cinta. Buku yang membantuku bangkit dari keterpurukan minat membaca.
ternyata bener kata review" sebelumnya kalau buku ini merupakan romance berbalut misteri. aku sendiri cukup terkecoh karena covernya sudah mendukung kalau dia ini bakal misteri dengan romance, bukan sebaliknya. lalu, penjelasan akan kasusnya juga bukan yang mengejutkan karena yaa memang sudah tertebak gitu hlo, clue nya seolah-olah langsung menuju kesitu tanpa malu-malu. dan yang terakhir, haruskah aku mengatakan Hajin dan Junwon sama-sama sakit dan gila?
Membaca buku ini terasa seperti menyelami pikiran seseorang dengan mental yang tidak stabil. Memahami ketakutan-ketakutannya dan keputusan-keputusan aneh yang diambilnya ketika sedang jatuh cinta. Aah..atau mungkin memang kita semua menjadi gila ketika sedang jatuh cinta ya?
Buku ini cukup menarik dan membuat saya penasaran hingga akhir. Tapi saya mungkin tidak bisa berpendapat sama dengan banyak pembaca lainnya yang merasa terkejut dengan ending cerita. Bagi saya ending ini cukup bisa ditebak, mengingat ha jin pernah meminta hal tersebut ketika mereka sedang ngobrol berdua.
Hal yang luar biasa dan membuat saya sangat senang memiliki buku ini adalah cover bukunya yang sangat artistik, dan foto2 di dalamnya yang diambil dengan indah dan sangat cocok menggambarkan isi cerita.
Satu hal yang membuat says bingung adalah, dikatakan kalau fotografernya adalah sunhye oh, yaitu pretty noona yang ada di foto. Tapi, kalau yg difoto adalah dia maka tidak mungkin dia juga yg mengambil fotonya kan?atau perkembangan fotografi zaman skrg memang memungkinkan seperti itu? Hmm..
Cara penceritaannya semi-surealis, meleburkan timeline masa kini dengan masa lalu di beberapa titik peralihan. Jadi inget sama film Perfect Blue, meski cara penceritaan novel ini (untungnya) tidak sampai semenipu itu. Lalu ditutup dengan ending yang beneran mindblowing. Nyeseknya, Ya Allah.
Di awal cerita Junwon, sedang bersiap untuk keluar negeri. Tapi rencananya terganggu karena ia menemukan kakek tetangga sebelah rumahnya meninggal dalam kondisi sudah membusuk. Alhasil ia terpaksa harus menunda keberangkatannya karena dimintai keterangan polisi. Ketika ia membersihkan rumah sang almarhum, secara tak sengaja ia malah menemukan paket yang seharusnya ditujukan kepadanya. Sialnya lagi, isi paket itu adalah CD yang menampilkan video berisi mantan pacarnya yang sudah lama menghilang, Hajin, dalam kondisi terikat dan penuh luka di sebuah gudang gelap. Bersama paket itu ada pesan:
"Kalau kau tidak datang sambil membawa uang 500 juta won sampai tanggap 2 Juni pukul empat pagi, maka akan sulit bagimu untuk melihatnya lagi hidup-hidup."
Paniklah ia karena ia hanya punya waktu satu hari untuk menyelamatkan gadis itu. Mulai dari sini dengan lihai pengarang sudah mengaduk-aduk emosi pembaca. Ketika Junwon melaporkan hal ini ke polisi, penangannya sangat lambat dan aparat yang menghadapinya sungguh tidak kompeten. Kesannya kayak makan gaji buta. Dalam kondisi masih berpuasa Ramadan, aku terus mengumpati para polisi dalam cerita ini.
Akhirnya Junwon memutuskan untuk mencari solusi sendiri. Sayangnya solusinya sungguh nekat dan terkesan ngawur: pinjam uang ke lintah darat. Bunganya sungguh keji, sampai 50%! Dan akan bertambah 10% jika terlambat mengembalikan dalam sehari. Tidak hanya itu, sang lintah darat membuatnya menandatangani perjanjian untuk menyerahkan anggota tubuh jika dia gagal membayar. Dimulai dari jari-jari kaki, tangan, hingga akhirnya leher. Edan. Baru awal cerita aja pertaruhan yang dilakukan sang tokoh utama sudah besar sekali. Makin susahlah aku lepas dari cerita ini.
Junwon pun menyetir dengan gila-gilaan menuju alamat yang dimaksud, tapi malah mengalami kecelakaan ringan ketika menabrak rusa di tengah jalan. Anehnya, sebelum menabrak, yang dilihatnya bukan rusa, melainkan dirinya dua tahun yang lalu.
Cerita pun beralih menjadi flashback, menceritakan kehidupan Junwon sebagai mahasiswa yang sedang bimbingan disertasi sambil bekerja di lab bioteknologi kampus sebelum ia bisa ke luar negeri. Cerita ini sering menggunakan teknik yang sama untuk beralih dari linimasa masa kini ke masa lalu kemudian kembali lagi ke masa kini. Sensasinya sungguh sureal.
Kehidupan Junwon sebagai mahasiswa calon doktor tidak bisa dibilang mudah. Profesor pembimbingnya, Profesor Lee, adalah sosok sewenang-wenang yang dengan kurang ajarnya suka mengorupsi dana penelitian yang seharusnya jadi jatah para mahasiswa. Mahasiswa-mahasiswa bimbingannya seperti Junwon dan temannya, Jindo, dia eksploitasi habis-habisan. Junwon disuruh mengerjakan PR-PR IPA milik anaknya yang masih SD, sedangkan Jindo disuruh membersihkan mobil. Diperlakukan kayak pembantu pokoknya. Bangsat tenan. Novel ini nggak cocok dibaca waktu lagi puasa. Nggarai misuh-misuh terus soale.
Suatu hari Profesor yang dikagumi Junwon karena kesederhanaannya, Profesor Seo, meninggal. Junwon akhirnya membereskan barang-barang sang profesor di kampus lalu menyerahkannya kembali ke rumahnya. Sang profesor hanya punya seorang putri yang belajar di Belanda. Junwon bertemu dengan gadis itu di upacara pemakaman sang profesor. Lama-lama ia menjadi dekat dengan gadis itu, Hajin.
Kebetulan waktunya juga tepat karena Junwon baru diputuskan pacarnya yang merasa masa depan Junwon suram. Rupanya belum cukup membuat Junwon sengsara di masa kini, penulis pun memberi Junwon latar belakang keluarga yang menyedihkan. Benar-benar kejam.
Ayah Junwon adalah pemilik toko dan usaha reparasi jam. Karena pelanggannya makin lama makin sepi, ayahnya pun berniat beralih ke usaha restoran ayam goreng. Tapi modalnya malah dibawa kabur teman yang akan jadi partner usahanya. Karena shock, ayahnya langsung kolaps dan meninggal tak lama setelah itu. Sejak ditinggal suaminya, ibunya jadi semakin sering melamun. Akhirnya ibunya pun ikut berpulang. Tinggallah Junwon sendiri dengan utang-utang dari orangtuanya.
Akibat semua itu, rencana Junwon untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri batal. Padahal, sebenarnya dia mahasiswa yang sangat cemerlang. Gara-gara itulah ia diputuskan pacarnya.
Nah, Hajin ini punya profesi yang unik. Dia pengrajin tulang. Bahan-bahan untuk membuat kerajinannya berasal dari tulang-tulang hewan. Alasannya karena meski daging dan kulit akan segera membusuk saat makhluk hidup mati, tulangnya akan terus tersisa selamanya. Di awal ketertarikannya pada Hajin, Junwon membawakan seplastik tulang hewan bekas barbekyu di restoran tempat ia baru saja makan. Benar-benar cara yang nggak biasa untuk PDKT.
Kedekatannya dengan Hajin mulai menyembuhkan luka-luka di hati Junwon. Apalagi setelah Profesor Lee mengambil alih disertasinya dan menerbitkannya dengan namanya sendiri. Nama Junwon hanya dicantumkan sebagai co. author. Dia ini benar-benar tokoh paling memuakkan di novel ini.
Namun, setelah cinta Junwon makin besar, tiba-tiba Hajin malah menghilang. Diduga Hajin kembali lagi ke Belanda untuk melanjutkan studinya. Tapi kenapa tidak bilang-bilang? Untuk kedua kalinya Junwon pun hancur. Karena itulah begitu CD berisi video penculikan Hajin itu sampai padanya ia langsung panik. Namun, setelah dia tiba di gudang tempat Hajin disekap, kenyataan yang mengejutkan telah menantinya. Kenyataan yang beneran bikin broken-heart, Ya Tuhan.
Narasi dan deskripsi novel ini benar-benar enak diikuti. Penerjemahannya bisa dibilang baik. Perpindahan momen dari realis ke surealisnya tidak membingungkan sama sekali.
Di setiap akhir bab ada banyak foto-foto artistik berwarna untuk membantu visualisasi cerita. Kebanyakan adalah foto-foto Hajin. Ada juga yang menggambarkan seting. Karena itulah novel ini diberi tajuk "sebuah fiksi misteri fotografi". Meski aku nggak paham di mana letak misteri fotografinya.
Satu kekurangan buku ini. Sampai akhir tidak diceritakan bagaimana kelanjutan urusan Junwon dengan lintah darat itu. Padahal, keberadaan lintah darat itu salah satu elemen penting dalam membangun ketegangan cerita. Urusan sebesar itu dilewatkan begitu saja resolusinya? Kelupaan kah?
Judul: BONE Penulis: Mijin Jung Penerjemah: Hyacinta Lousia Penerbit: HARU Cetakan Pertama Jumlah Halaman: 300 Halaman
***
Sebelum saya mengulas lebih lanjut mengenai buku ini, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Penerbit Haru yang memberikan saya kesempatan untuk membaca buku ini. Sehingga saya bisa mengulasnya di sini (:
Dan, impresi saya terhadap novel ini: CANTIK BANGET, TUHAN!
Meskipun genre-nya suspense dan misteri, tapi novel ini merupakan novel fotografi; di mana terdapat foto-foto yang menggambarkan bayangan isi kepala tokoh. Dan selama baca novel ini, saya rasanya jalan di labirin kepala seseorang dengan bayangan-bayangan ingatannya yang digambarkan dengan gambar. Dan perasaan si tokoh yang digambarkan lewat narasi novel. Bahkan sebelum saya baca novelnya secara keseluruhan, saya sudah sibuk duluan untuk membidik foto-foto di dalam novel ini. Dan gak bohong, saya berkaca-kaca lihatnya.
Dengan adanya gambar-gambar itu, tentunya meningkatkan ekspetasi saya terhadap novel ini.
ISI CERITA
Novel ini mengisahkan Junwon, seorang pria yang tiba-tiba saja mendapat surat bahwa mantan pacarnya, Hajin, diculik. Padahal mereka berdua sudah putus dua tahun lamanya, tepatnya, Hajin tiba-tiba menghilang selama dua tahun itu. Dan Junwon diancam untuk menebus Hajin sebesar 500 juta won.
Mulanya, dengan sampul hitam dengan gambar seorang perempuan di dalamnya, saya kira novel ini menceritakan penyiksaan tokohnya. Karena ini novel Korea, sebagai pencinta drama Korea, beberapa kali saya menemukan plot penyiksaan si tokoh oleh seorang psikopat dan direkam oleh penyiksanya. Karena ancaman yang diterima oleh Junwon pun dikirim dalam bentuk CD yang berisikan penyiksaan Hajin, maka ekspetasi saya semacam ... novel ini akan memberikan saya vibrasi kengerian, kah?.
Karena dalam sinopsisnya dijelaskan bahwa novel ini juga berisikan ingatannya tentang Hajin selama pencarian penculikannya, dengan genre suspense, saya pun sempat mengira bahwa Junwon akan menghadapi manipulasi penculiknya dengan berbagai teka-teki penemuan Hajin.
Ternyata novel ini tentang kecemasan dan trauma masa lalu Junwon.
Ekspetasi saya? Merosot. Tapi saya tidak kecewa.
KELEBIHAN CERITA
Selain karena visual bukunya, novel ini bagi saya cukup realistis dibanding imajinasi saya sebelumnya mengenai penyiksaan Hajin. Tentang masa lalu Junwon yang begitu berduri dan menyesakkan, saya akhirnya menemukan nuansa suspense selama perjalanannya. Di mana kecemasan yang Junwon rasakan, ketakutan yang Junwon rasakan, dan trauma Junwon yang ditransisi dengan trust issue-nya terhadap Hajin membuat saya melihat lika-liku romansa modern saat ini.
Yang paling menarik, novel ini memiliki nuansa romansa yang sangat kental. Dan saya sama sekali tidak menduga kalau novel ini akan menyuguhkan romansa yang menyentuh perasaan saya sedalam itu. Meskipun banyak orang yang mengejek genre romansa sebagai genre "klise", tapi saya dapat merasakan perjuangan Junwon untuk menerima rasa cintanya pada Hajin yang "nyaris tidak tersampaikan".
Percaya atau tidak, gaya bahasa novel ini seperti senandika. Meskipun gaya menulisnya sederhana dengan diksi yang ringan, tapi saya tidak merasa tanggung selama membaca. Dan justru kelitan perasaan Junwon lah yang berhasil menciptakan rasa cemas dan tidak nyaman itu.
Kesimpulan? Suspense ternyata tidak melulu mesti diciptakan seperti ekspetasi saya: penyiksaan.
KEKURANGAN CERITA
1. Karena menggunakan sudut pandang pertama, mulanya saya bingung si tokoh adalah laki-laki atau perempuan? Dan baru beberapa halaman kemudian saya tahu kalau ternyata si tokoh adalah laki-laki. Dan untuk saya pribadi ini agak menghambat cara saya menikmati isi cerita di bab awal, sehingga impresinya tidak terlalu wah.
Terutama, karena karakter Junwon yang agak kurang "maskulin" di awal bab. Lebih terasa novel ini menggunakan POV 1. Dan saya belum yakin apakah penggambaran karakter Junwon sengaja dibuat seperti itu, atau mengikuti jejak trauma dan kecemasannya, sehingga dia tampak lebih ringkih.
2. Alur yang digunakan adalah maju-mundur. Tapi tiap momen masa lalunya muncul, saya kadang kebingungan karena tidak ada pembeda spesifik di dalam novelnya. Baiknya untuk pembeda, dibuat dengan font yang berbeda. Karena saya jadi kesulitan merasakan lompatan momennya.
Saya sempat tertarik dengan adegan lompatan momen di mana Junwon seperti melihat dirinya sendiri, tapi pola ini hanya ada di beberapa bab sehingga saya kurang menikmati lompatan momennya. Dan sentimen yang saya rasakan pun jadi kurang.
Dan, menurut saya pribadi, dibanding menggunakan alur maju-mundur, bagusnya Mijin Jung menggunakan alur maju. Karena narasi yang digunakan sudah sangat bagus. Dan saya sangat merasakan apa yang ingin disampaikan penulis. Dan saya yakin meskipun menggunakan alur maju, sentimen itu akan tetap terasa.
3. Bertele-tele. Ada satu adegan yang menurut saya "membuang waktu" dan tidak harus dimasukkan ke dalam cerita. Karena tanpa adegan itu, alur cerita akan tetap terasa utuh. Kalau kepo, baca ya, hehe.
Dan dibanding proses pencarian Hajin, saya merasa sentimen kuat itu justru dalam proses Junwon menerima keberadaan Hajin di dalam hidupnya. Meskipun novel ini juga menyuguh nuansa penyesalan, tapi, dalam rentang momen waktu 2 tahun berpisah, saya merasakan kegelisahan Junwon di dalam proses pencarian Hajin tidak sebesar kecemasannya saat ia menerima perasaannya pada Hajin.
4. Saya gak suka karakter Hajin. Ini preferensi pribadi, tapi karakter eksentrik yang dibersikan Mijin Jung pada Hajin terasa sangat fiksional sekali.
***
Nanti saya ulas lebih lanjut tentang karakter Junwon dan Hajin ini di Tiktok saya (pena_altair).
Best quote: Meskipun daging dan kulit bisa melebur dan hilang, tulang akan tersisa selamanya. ♡♡♡
Selesai membaca buku ini dalam waktu 2 hari saja. Sebenarnya di awal opening meski ada sedikit rasa penasaran tentang paket yang diterima Junwon, tapi bisa dikatakan 200 halaman pertama alurnya agak lambat. Di pertengahan halaman 100-200 aku bahkan merasa banyak bagian yang diceritakan terlalu panjang padahal bisa dipersingkat. Aku baru baca 2 novel terjemahan Korea sejauh ini, jadi nggak tahu apakah ini memang merupakan 'gaya' penulis-penulis Korea, atau hanya kebetulan di buku yang kubaca saja.
Overall, novel ini bercerita dengan gaya flashback-present-flashback lagi, dan begitu seterusnya. Junwon, tokoh utama di novel ini menemukan paket atas namanya sendiri ketika membereskan kamar tetangga sebelahnya --seorang kakek tua yang meninggal entah karena usia, atau karena apa. Kebetulannya, paket itu tiba di hari Junwon tak di rumah, jadi si kakeklah yang menerima. Dan mungkin, ia lupa memberikannya kepada si pemilik.
Junwon tidak menyimpan prasangka apa-apa pada paket itu, sampai akhirnya ia membukanya dan menemukan bahwa paket itu berisi surat ancaman atas sebuah penculikan, dan CD yang berisi video penyekapan Hajin, kekasihnya yang hilang dua tahun lalu. Junwon diminta membawa sejumlah uang tunai ke sebuah tempat paling lambat 2 Juni, pukul 4 pagi. Hari di mana Junwon menemukan paket itu adalah tanggal 1 Juni. Itu berarti ia tidak punya banyak waktu. Dan novel ini menceritakan bagaimana Junwon berkejaran dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa Hajin.
Flashback yang diceritakan adalah bagaimana perkenalan mereka pada mulanya, sampai hari di mana Hajin pergi meninggalkan Junwon tanpa mengatakan sepatah katapun.
Gaya bercerita penulisnya sebenarnya cukup enak, didukung terjemahan yang menurutku apik dan sangat rapi. Beberapa catatan kaki juga melengkapi novel ini, terutama untuk istilah makanan-makanan Korea yang banyak berserakan di buku. Selain itu, menurutku profesi Hajin juga digambarkan dengan menarik. Ia seorang seniman yang membuat hasil karyanya dari tulang hewan --mungkin karena itulah akhirnya buku ini banyak bercerita tentang tulang, dan kemudian diberi judul Bone.
Bonusnya adalah, ini novel roman-misteri fotografi! Maksudnya, ada banyak foto-foto cakep di dalamnya, kalau nggak salah kurang lebih 78 halaman berwarna berisi foto yang merepresentasikan isi ceritanya. Hajin digambarkan sebagai seorang perempuan muda bertubuh kurus dan sering memakai pakaian terusan putih, ia biasa naik sepeda dan selalu sendirian. Hanya Junwon yang menemaninya di hari-hari sebelum ia menghilang dan diduga kembali ke studinya di Belanda.
Bonus keduanya masih ada! Menurutku ini termasuk bonus, yaitu twist ending yang tidak tertebak. Sungguh aku suka sekali novel yang endingnya susah ditebak, dan Bone ternyata mampu menyajikan itu. Kalau suka cerita misteri dan ingin mencoba membaca drama-misteri ala-ala penulis Korea, mungkin bisa memulai dengan membaca novel Bone ini. Meski beberapa bagian akan membuat sedikit mengantuk, tapi percayalah bahwa endingnya cukup menarik!
"Have I ever told you I want you to the bone Have I ever called you When you are all alone And if I ever forget To tell you how I feel Listen to me now, babe I want you to the bone~"
Ya kan bukannya review malah nyanyi wkwkww. Tapi entah kenapa, menurut saya lagu ini cocok dengan novel ini. Karena sama-sama punya unsur yang sama: romantis, tapi juga sedikit creepy, a little bit odd but romantic and dreamy at the same time.
Tertarik baca buku ini karena tagline-nya: sebuah fiksi misteri fotografi. Seperti yang sudah dikatakan banyak review di sini, foto-foto tersebut bukanlah foto tempat kejadian perkara, tetapi semacam gambaran dari sisi tokoh utama tentang Hajin, serta ringkasan tentang kehidupannya.
Apakah media ini tidak relevan dengan cerita? Menurut saya tetap relevan, karena dengan ada foto-foto tersebut kita diajak masuk ke dalam cerita, meresapi cerita tersebut dari adanya foto-foto yang tersaji. Meski berbeda genre, sepintas pengalaman membaca ini mirip dengan pengalaman membaca Miss Peregrine Home for Peculiar Children, yang juga berbasis foto.
Plot utamanya sederhana: sebuah paket ditemukan yang berisi sebuah pesan: berikan 500 juta won atau perempuan ini mati. Perempuan yang dimaksud adalah Hajin, kekasihnya yang hilang beberapa lama. Hubungan mereka cukup unik, dan Hajin sendiri sosok yang unik pula.
Dituturkan dalam alur maju mundur, membaca buku ini kadang seperti membaca delirium. Kepanikan, ketegangan, dipadukan juga dengan sisi-sisi domestik dan romantis dari cerita. Terkadang, kita juga bisa merasakan kecenderungan tokoh utama menyalahkan diri--keputusasaan dan harapannya terasa jelas.
Kekurangan novel ini cuma satu, sebenarnya: ada plot sampingan yang cukup menarik untuk digali yaitu
Review ditutup dengan satu kutipan yang saya sangat suka di sini:
"Apakah kau tidak pernah berpikir bahwa mengharapkan sesuatu yang abadi adalah hal yang memalukan? Daging pada tubuhmu, helaian rambutmu, bahkan kulitmu saja akan berubah ketika kau menua, dan akhirnya menghilang ketika kau mati. Kau sendiri pun tidak abadi, tapi kau mengharapkan cinta, suatu perasaan yang tak berwujud, agar menjadi sesuatu yang abadi, dam tak berubah? Apakah itu tidak memalukan?"
[...] "Aku tidak tahu apakah ada yang abadi di dunia ini. Aku kan bukan Tuhan. Aku sangat tahu bahwa diriku ini tidak abadi. Tapi, jika aku mati, bukan berarti fakta bahwa aku pernah ada di dunia ini akan hilang juga, kan? Meski aku mati, aku pernah ada di dunia ini. Meski hanya sementara, aku pernah ada di dunia ini. Betul, kan?"
Premis ceritanya sebenarnya menarik, bagaimana jika kamu kehilangan sesuatu yang penting gara-gara melewatkan sebuah pesan, telepon, atau paket secara tidak sengaja?
Lantas kenapa bintang dua? Masalahnya ada pada beberapa adegan dalam alur cerita.
Pertama, jjarak waktu dua tahun terlalu lama sehingga reaksi Junwon dan orang-orang di sekitarnya jadi terasa maksa, absurd, bahkan komikal? Mungkinkah jarak tersebut dimaksudkan untuk menjadi plot twist dengan harapan pembaca akan memaklumi reaksi Junwon for the sake of “namanya juga orang panik”? Well, I don’t. Ada beberapa petunjuk yang juga melemahkan reaksi itu, kotak yang berdebu dan waktu dua tahun itu sendiri, masa iya tidak terpikir untuk berhenti sebentar? Gara-gara meyakini Junwon salah tanggal, saya jadi susah mengikuti alur usahanya datang ke tempat penculikan. Bawaannya ingin menyuruhnya “pikir dulu Jukiii, apa iya tanggal yang dimaksud itu sekarang?” gitu.
Kedua, keputusan Junwon yang sampai meminjam uang pada rentenir juga tidak ditutup dengan akhir yang jelas.
Ketiga, tambah lagi dengan kemampuannya untuk menggali lantai dengan tangan kosong.
Keempat, hmmmm, kalau masih belum terasa berlebihan (dan komikal), siap-siap menghadapi akhir cerita yang membuat saya makin, what are you, a cannibal? Man, was that supposed to be a romantic act? How come I found it creepy and disturbing? Saya yang aneh, mungkin ya.
Bagian foto-foto pelengkap yang dilampirkan dalam buku juga, sayangnya tidak sekuat itu mendukung pemaparan. Apakah maksudnya untuk menajamkan gambaran tokoh Hajin? Ngggg… tidak ada juga tidak apa-apa sih. Mungkin maksudnya sebagai karya seni pendamping, ya, tapi sebagai pembaca saya cenderung menyukai kesempatan untuk mereka-reka dan membayangkan sendiri seperti apa latarnya, seperti apa kira-kira penampilannya, daripada digiring untuk melihat “seperti ini yaaa” padahal cerita juga tidak berdasarkan kisah nyata.
Karakter? Sejujurnya, karakter Junwon tidak mudah disukai. Ia sumbu pendek pada waktu yang tidak tepat. Kenapa ia bisa tahan dirundung profesornya dan tidak berdaya dengan pikirannya yang merasa ditinggal begitu saja, sampai agak depresi, tetapi tiba-tiba reaktif tanpa berpikir setelah menemukan satu clue? Kesiangan. Hajin pun sama. Keputusannya untuk sama sekali tidak ingin menggunakan teknologi berujung merepotkan dirinya sendiri. Saya gak tahan.
Begitulah, premis yang menarik dan gaya bercerita yang mudah diikuti jadi gagal memikat karena penokohan dan adegan gagal meyakinkan.
Ada yang bilang bahwa salah satu hal paling ceroboh adalah CINTA! Junwon percaya itu, buktinya dia gagal move on dari Hajin, gadis yang telah meninggalkannya selama 2 tahun. Saat Junwon mulai melupakan Hajin, datanglah surat ancaman yang memaksanya berpikir ulang! Dalam surat itu Junwon harus memberikan tebusan sebesar 500 juta won jika tak ingin Hajin mat*!
Junwon melakukan segala cara untuk mendapatkan uang 500 juta won itu. Tapi pada akhirnya, apakah dia berhasil menyelamatkan Hajin?? Pencariannya juga memaksanya mengingat segala hal tentang Hajin. Menyisakan berbagai perasaan yang mengaduk-aduk hatinya...
🦴☠️🦴 Baca review buku lainnya di IG ku @tika_nia
Novel ini diceritakan dari sudut pandang Junwon, membuatku turut merasakan berbagai gejolak emosinya. Bahkan setelah selesai membacanya, rasanya masih sedih, geregetan, gusar, hingga menyesal 😢 Rasanya seperti membaca kisah Romeo-Juliet versi abad ke-21 😭
Sangat mengalir, page turner, aku berhasil menamatkan dalam waktu kurang dari sehari 🙃 Ada banyak hal highlight dari novel ini, di antaranya: • Satu hal kecil yang terlewatkan dapat merubah dan berpengaruh pada banyak hal. • Kamu tak kan merengkuh cinta, jika kamu selalu skeptis terhadapnya. • Orang yang nampak baik belum tentu benar-benar baik. • Niat baik tidak selalu berbalas dengan kebaikan. • Ungkapkan cinta selagi kamu punya waktu.
Baru kali ini aku baca fiksi misteri fotografi. Foto-foto yang disisipkan di sini bikin feel-nya makin dalam! Seolah aku ikut berkenalan dengan Hajin dan merasakan menjadi Junwon. Dengan alur campuran, pembaca akan diajak menelusuri kedatangan surat ancaman itu, mengikuti perkenalkan Junwon dan Hajin, hingga naik-turun perjuangan Junwon menempuh studi doktoral. Selain itu momen jatuh cinta Junwon dan Hajin hingga saat mereka lost contact juga diceritakan dengan detail. Endingnya tak terduga sama sekali 🥶
Ini novel K-Iyagi kedua yang aku baca dari Penerbit Haru. Sejujurnya, agak sulit untuk menyelesaikan bab pertama, karena somehow agak ngebosenin dan sempet bikin reading slump. Tapi setelah menyelesaikan bab kedua, dalam dua hari bisa kelar karena ceritanya mengalir dan bikin pengen baca terus. Ceritanya sesuai dengan yang dituliskan di blurb cover belakangnya. Seorang cowok yang mendapatkan surat ancaman dan permintaan tebusan untuk pacarnya yang diculik setelah mereka putus selama dua tahun. Ternyata si cowok ini belum bisa move on, karena memang putusnya mereka itu ambigu. Makanya dia berjuang mencari uang tebusan yang sebenarnya dia nggak punya dan berusaha mencari dimana lokasi si cewek ini disekap. Setting waktunya intensnya nggak lebih dari 24 jam dan berasa banget suspensenya. Per bab dibatasi dengan waktu yang semakin dekat sama deadlinenya, salah satu faktor yang bikin bukunya jadi menegangkan. Isi kepala dan perasaan si cowok ini dieksplorasi dengan banyak adegan flashback yang bikin pembaca paham kenapa dia, mereka bisa sampai di kondisi saat itu. Nggak ngebingungin sama sekali walaupun alurnya maju-mundur. Buatku kurangnya cuma satu. Kurang bisa relate sama foto-foto yang diselipin di bukunya. Kan katanya ini misteri forografi, tapi foto yang disematkan nggak membantu apapun dalam memahami jalan ceritanya, boro-boro nebak siapa pelakunya dan dimana si cewek disekap. Tapi jujur emang fotonya memberikan efek creepy karena tone gambarnya itu misterius. Secara aestetik bagus, tapi secara cerita nggak membantu sih. Overall, kesimpulanku cuma satu. Perbaiki cara berkomunikasi, dengan siapapun. Jangan sampe satu miskomunikasi menyebabkan tragedi dan kemalangan seumur hidup.
Sebelumnya udah nonton review di youtube kalau novel ini lebih banyak unsur romancenya dibanding misteri. Walaupun begitu, nuansanya terasa kelam seperti gambar di cover bukunya. Apalagi di dalamnya banyak foto-foto yang menambah suasana dark dari cerita ini. Alur cerita novel ini maju mundur. Saat ini, di mana tokoh utama, Junwon diminta tebusan untuk menyelamatkan Hajin, mantan kekasihnya yang sudah lama lost contact. Kemudian masa lalu, flashback hubungan Junwon dan Hajin dari awal bertemu sampai semakin lama menjadi dekat.
Foto-foto di dalam buku yang berupa tempat-tempat seperti rumah, jalanan, danau, juga seorang perempuan ngebantu banget sih dalam meng-imajinasikan latar tempat dan sosok Hajin. Sosok Hajin di sini cukup misterius sih menurutku. Tidak seperti Junwon yang banyak diceritakan kehidupannya seperti pekerjaannya, persahabatan, juga masa lalunya, tokoh Hajin tidak banyak yang diketahui darinya. Pembaca hanya tahu sesuai apa yang diketahui oleh Junwon tentang Hajin. Penulis menggambarkan tokoh Junwon dengan detail, bagaimana perasaannya, emosi, juga apa yang dipikirkannya. Ada beberapa bagian yang membuat bingung, terasa samar antara kenyataan atau khayalan. Sampai akhir pun masih bingung adegan itu tuh beneran terjadi atau engga. Untuk bagian misterinya, ada terbersit perkiraan apa yang sebenarnya terjadi saat Junwon menemukan surat dari penculik Hajin. Dan ternyata benar saja akhirnya sesuai tebakan. Tapi memang tidak tertebak siapa yang menculik Hajin dan apa motifnya.
📝 Sebuah surat ancaman datang bersama sebuah CD yang tertulis “Bawa 500 juta won, atau gadis ini mati”. Junwon yang sangat mencintai Hajin (gadis tersebut) berusaha mengambil pinjaman dalam batas waktu yang mendesak. Berhasilkah Junwon menyelamatkan gadis yang dicintainya?
📝 Mengusung konsep fiksi misteri fotografi, dugaanku di awal foto-foto yang terselip di beberapa halaman akan memberikan petunjuk untuk menemukan alur cerita layaknya foto TKP. Apalagi konsep cover dan bagian awal cerita memberikan kesan suram. Tapi setelah dibaca atmosfernya lebih mengarah ke gloomy-romance dibanding mengarah ke gore-thriller seperti ekspektasiku.
📝 Tapi aku suka alurnya yang maju mundur, rasanya seperti nonton film korea. Meskipun ceritanya gak cukup membuatku menganga sampai plot twist tapi aku suka pembawaan kisahnya yang mengalir apalagi tema romance thrillernya disajikan dengan baik. Apalagi gaya Mijin Jung dalam membawakan kisahnya enak dinikmati dan didukung terjemahan @penerbitharu yang menurutku sangat rapi. Dan tambahan fotografinya menarik sih, kontribusi fotograger Sunhey Oh memberikan dukungan pada cerita, apalagi fotonya ala noona-noona Korea bergaun putih macam di k-drama.
Sebenarnya romance dengan tambahan thriller atau thriller dengan sentuhan romance? Intinya gitu deh, sepertinya kalo dibikin film jauh lebih seru sih.
“Selama kita hidup, ada banyak hal yang terjadi. Betul, kan? Ini saatnya anda melupakan masa lalu dan kesedihan itu, lalu mulai sesuatu yang baru” (Hlm. 279).
Alur di novel ini maju mundur maju mundur syantiikk syantiiik. Nggak bikin bingung, kok. Ngalir aja kayak air. Ceritanya bisa dibilang datar aja di awal sampai pertengahan. Kemudian, di bagian akhir misterinya lambat laun terpecahkan. Dan akhirnya…. BOOM!! Plot twist!!
Awalnya aku mikir, ah begini aja ceritanya. Tapi pas sampai di akhir beneran mangap! Hah?? Nggak nyangka banget!!
Penasaran? Baca, dong! Hehehe.
Aku suka buku ini karena ada foto-fotonya. Novel ini adalah jenis fiksi misteri fotografi. Foto-fotonya keren.
Pesan yang ingin disampaikan dari buku ini adalah “seberapa dalam kamu mengenal orang yang kamu cintai? Apakah itu beneran cinta atau hanya sekadar suka? Suka bersama dengannya. Nyaman bersama dengannya. Kamu senang berada di dekatnya karena dia akan mendengarkan cerita-ceritamu. Karena dia akan melakukan hal-hal yang kamu inginkan. Tapi sebenarnya kamu tidak tahu apa-apa tentangnya. Pernahkah kamu menanyakan hal-hal penting padanya? Apakah kamu mengetahui tentang keluarganya, temannya, sekolahnya, apa yang dia sukai, apa kegiatannya, dan seterusnya… ? Terkadang sesuatu itu kamu anggap remeh, tapi di sisi lain bisa saja hal tersebut sangat penting bagi dia.
Quotes Favorit: “Selama kita hidup, ada banyak hal yang terjadi. Betul, kan? Ini saatnya Anda melupakan masa lalu dan kesedihan itu, lalu memulai sesuatu yang baru.” ~hlm.279
I didn’t expect to enjoy this novel as much as I did, but I was intrigued by the concept of a photographic mystery novel. Unlike most novels that use illustrations or sketches, this one uses real photographs which makes the atmosphere feel more vivid and real.
The story follows Junwon, a graduate student whose life is turned upside down when he receives a mysterious package: a CD and a note demanding a ransom of 500 million won for his girlfriend Hajin, who went missing two years ago. It’s strange, really—someone who disappeared without a word, and yet Junwon is willing to pour all his time, energy, and even money into finding her (even though technically, they never officially broke up). He even goes as far as borrowing money from a loan shark. It doesn’t make logical sense, but as the saying goes, love is blind and it fits Junwon perfectly.
The back-and-forth timeline wasn’t confusing at all. The transitions are clear, and I could easily follow the contrast between Junwon’s nostalgic memories of his time with Hajin and his desperate search for her in the present. The plot twist was quite interesting, and by the end, I finally understood why the novel is titled Bone.
This is definitely one of my favorite novels, simple in structure, but gripping enough to keep me turning the pages. It’s not overly complicated, but it stays engaging all the way through.
Label "fiksi misteri fotografi" di sampul buku membuatku berpikir bahwa foto-foto yang dipamerkan akan suram dan menyeramkan terkait dengan misteri hilangnya Hajin. Namun, aku salah.
Dua tahun sudah Hajin menghilang tanpa kabar, meninggalkan luka dalam diri Junwon. Namun, saat Junwon mulai melupakan Hajin, ia menemukan paket berisi ancaman. Batas waktunya mendesak, ia harus menemukan Hajin kalau tidak mau kehilangan kesempatan bertemu dengan gadis itu lagi. Berhasilkah Junwon menyelamatkan Hajin sebelum waktunya?
Alih-alih mendapatkan foto-foto pendukung tentang misteri hilangnya Hajin, pembaca disuguhi foto-foto yang berkenaan dengan kenangan Junwon dan Hajin. Aku menyukai tampilan foto-foto apik yang berwarna di buku ini karena mampu menegaskan imajinasi pembaca. Meskipun begitu, aku sedikit kecewa lantaran isi buku lebih banyak menyoroti kenangan kedua tokohnya dibandingkan kasusnya itu sendiri. Cerita yang bolak-balik antara masa sekarang dengan masa lalu tanpa penanda waktu sebelumnya membuatku perlu menjeda untuk memastikan diri benar-benar memahaminya. Sampai saat ini aku masih belum menemukan jawaban atas pertanyaanku soal akhir cerita. Ah ....
Bone • Mijin Jung • Sunhye Oh (foto) • Haru 2020 • 300 hlm.
Terkadang, bukankah menunggu itu juga hal yang baik? Semakin lama menunggu, semakin bahagia rasanya ketika bertemu, kan? Hlm. 160
Apakah kau tidak pernah berpikir bahwa mengharapkan sesuatu yang abadi adalah hal yang memalukan? Daging pada tubuhmu, helaian rambutmu, bahkan kulitmu saja akan berubah jika kau menua, dan akhirnya akan menghilang ketika kau mati. Kau sendiri pun tidak abadi, tapi kau mengharapkan cinta, suatu perasaan yang tak berwujud, agar menjadi sesuatu yang abadi dan tak berubah? Apakah itu tidak memalukan? Hlm. 176
3,5/5. "Bawa 500 juta won, atau gadis ini mati." Bercerita tentang seorang pria yang kehilangan kekasihnya tanpa jejak selama 2 tahun. Namun saat dia sudah hampir melupakannya dan melanjutkan hidup, ia menemukan paket yang berisikan kartu yang tertulis ancaman tersebut dengan batas waktu yang mendesak.
Sinopsisnya sangat menarik, terutama bahwa deadline yang dimiliki tokoh utamanya tidak sampai 24 jam. Membuat pembaca penasaran, bagaimana ia akan mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu sesingkat itu. Namun, saat mulai membacanya, ceritanya semakin di luar dugaan karena satu paragraf dalam sinopsis ternyata tidak menggambarkan keseluruhan bahkan bagian awal ceritanya. Hal-hal aneh yang mulai terjadi dan di luar prasangka, sangat unik.
Sayangnya, menurutku, bagian flashback terasa membosankan untuk dibaca. Aku sendiri kurang merasakan chemistry antara tokoh utama dengan kekasihnya. Dan entah mengapa aku juga merasa seperti ada hal yang kosong dan membuatku bingung dan gundah (bukan secara harfiah) selama membacanya. Penyelesaian ceritanya cukup memuaskan, dan tidak terlalu tertebak.
Mengingat buku ini juga memuat hasil fotografi yang indah, membuat ceritanya semakin hidup.
-dialog antara Junwoon dan Hajin kaku, terkesan aneh malah.. aku ga dapet feel nya
-pertemuan pertama mereka bahkan ga masuk akal sama sekali, Hajin yg seorg perempuan berbaring miring di tengah ruang baca lalu tiba2 Junwoon dtg dari belakang dan peluk dia dr belakang? Kinda creepy, mereka bahkan ga saling kenal apalagi ngobrol sebelumnya. Kalo aku jadi Hajin dah teriak “MESUUUM PERGI LO”
-makin ke sini, makin terlihat bhw Hajin dan Junwoon adlh duo bucin akut tolo (sorry), cegil X cogil.
-cara Junwoon menyikapi perpisahannya dgn Hajin bener2 dangkal, sibuk sendiri dgn “luka”nya tanpa mau liat dr sudut pandang Hajin. Stlh diceritakan background kematian ortu Junwoon pun ttep gak membenarkan sifat dan sikap Junwoon yg bodoh banget. Asli lah kesel bacanya😐
-ini BUKAN FIKSI MISTERI FOTOGRAFI, tp lebih ke ROMANCE berbalut misteri
-foto yang dilampirkan indah tp gak menunjukkan keterkaitan dgn penyelidikan menghilangnya Hajin
Nanti kalau kau percaya cinta itu ada kau harus menggilingku hingga menjadi bubuk, lalu memakanku" - Hajin (Hal. 200)
‼️Definisi cinta yang menghilangkan logika‼️
Buku ini menceritakan tentang Junwon yang mendapatkan paket misterius berupa CD dan surat berisi pemerasan yang bertuliskan "bawalah 500 juta won, atau gadis ini mati". Dalam CD video tersebut, terdapat video seorang wanita yang di sekap dan di siksa, wanita itu adalah kekasihnya yang sudah lama menghilang, yaitu Hajin. Akankah ia memberikan uang 500jt won pada pemeras itu? Atau membiarkan Hajin mati?
Dari awal cerita kita sudah dibuat tercekik dan susah bernapas karena vibes di buku ini sungguh mencekam. Ada kasus ditemukannya mayat tetangga sebelah rumahnya, kemudian banyak hal-hal absurd yang terjadi dalam otak Junwon.
Seperti ciri khas buku mistery thriller pada umumnya, buku ini pun berbalut plot twist dan disajikan dengan banyak tanda tanya. Narasi yang menggiring kesana kemari bikin kita ikutan "iya-iya" Aja 😂😂😂
Buku ini ditambah dengan banyaknya fotografi berwarna yang sangat misterius, menunjang jalannya cerita. Jujur untuk fotografinya aku suka banget sih, karena mengingatkan aku akan Tumblr yang isinya estetik gini🥲
Sampai ending, aku masih ga percaya dan... Argh kok bisa😭😭
Habis dalam sekali duduk dong. Wkwk. Aku udah mikiran berbagai perkiraan tentang penculik Hajin. Dan ternyata salah semua :). Awalnya aku kira yang nyekap Hajin itu ya si Junwon sendiri soalnya menurut aku dia agak psycho gitu. Terus abis itu aku juga sok nebak kalo Hajin sama Jindo itu cuma khayalan si Junwon doang karena diceritain kalo dia itu ditinggalin orang orang berharganya.
Sempet bosen sih dibagian flashback gimana Junwon bisa ketemu Hajin. Aku juga ga terlalu suka cinta cintaan bullshit wkwk. Dan aku ngerasa hal hal yang dipilih Junwon untuk dilakukan itu semuanya bodoh banget. Rasanya pengen aku tampar aja dia tuh. Tapi kasian juga wkwk.
Endingnya ya udah gitu. Junwon menepati janjinya sama Hajin. Aw romantis sekali. Katanya novel ini bisa dikategorikan sebagai genre iyamisu juga ya? Menurut aku sih ini tuh masih kuraaang. Novel novel iyamisu yang aku baca sebelumnya masih lebih mantul.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel ini bisa dibilang termasuk ke dalam genre misteri-thriller, akan tetapi tidak seram-seram amat. Menurut saya pribadi penerjemahnya keren sekali! Karena terjemahannya cukup nyaman dibaca, sehingga pembaca dapat menemukan keindahan dari alur ceritanya itu sendiri. Jika saya diminta menyebutkan 3 kata terkait dengan novel ini, saya akan menyebutkan, "waktu, hidup, dan tulang". Kenapa? Mungkin pembaca bisa mengerti jika sudah membaca keseluruhan buku ini.
Oh iya, hal menarik dari buku ini adalah terdapat foto-foto yang diambil sesuai dengan isi cerita dari "Bone" ini. Sementara itu, hal yang mungkin akan membuat beberapa pembaca tidak nyaman adalah alurnya yang agak berantakan.
Pesan yang saya tangkap dari penulis novel ini: "Dalam kehidupan ada perpisahan tanpa kabar dan kadang kala kita harus memaksakan diri untuk ikhlas dengan perpisahan tersebut."