Sejak dari zaman Darurat sehinggalah ke hari ini, Pasukan Keselamatan kita merupakan tulang belakang dan benteng pertahanan utama dalam memastikan negara kita kekal aman dan makmur dari sebarang bentuk ancaman musuh. Sama ada disedari, mahupun tidak kita sedari.
Bentuk ancaman itu berubah mengikut era. Dan begitu juga cara dalam menghadapinya atau mengekang ancaman tersebut. Namun kekuatan pertahanan negara kita masih berteraskan para pegawai dan anggota pasukan keselamatan yang berkhidmat dengan penuh bersemangat.
Dari satu teknik ‘primitif’ yakni propaganda melalui corong pembesar suara yang dipasangkan ke pesawat udara untuk memujuk pengganas komunis menyerah keluar dari hutan ketika zaman Darurat, hinggalah ke era teknologi siber yang semakin maju dalam mengesan ancaman, sebelum ia sempat untuk dilaksanakan pihak pengganas – pasukan keselamatan kita terus menjadi mata pedang dan perisai yang senantiasa bersiap siaga menghadapi sebarang kemungkinan dan angkara murka mereka yang bermuslihat jahat untuk menganggu-gugat keamanan dan kestabilan negara.
Malaysia Military Power kali ini menampilkan naskah kedua yang menyoroti perjuangan anggota pasukan keselamatan kita di era Darurat, dan unjuran bentuk ancaman masa depan dalam konteks konflik yang hibrid yang akan dihadapi ATM. Selain itu, kami dedahkan serba sedikit mengenai aset berteknologi yang dimiliki oleh ATM, yang sebelum ini dicerca oleh politikus, namun kini terbukti menjadi satu bentuk ‘pelaburan’ yang bermanfaat untuk rakyat.
1) Buku ni berkesinambungan dengan Malaysia Military Power (MMP), so kena baca buku 1 dulu baru syok baca buku MMP2. Orang sebelah cakap, terlalu teknikal. Entah la, aku baca ok je.
2) Dulu² masa kecik² aku suka baca majalah Perajurit (majalah pasal askar²) kat kedai buku. Dulu nak beli tak mampu, so tumpang baca kat kedai jela 😅. Buku ni lebih kurang kompilasi majalah Perajurit, tapi dalam versi kompak.
3) Kalau banyak gambar, mungkin jadi lagi menarik rasanya. Sebab laymen macam aku ni kadang² tak reti jugak nak imagine gambar kapal perang, jet pejuang, dan lain² aset persenjataan yang dibincangkan. Harap sebab suka singgah booth pameran ATM jela, tu yang boleh faham sikit².
4) Terpaksa bagi 3 bintang je sebab ada kesilapan fatal kat pengakhiran artikel (2 artikel rasanya); it should be "lest we forget" bukan "let's we forget". Potong stim bro. 😞
Papehal pun, arma pacis fulcra. 💪👍
This entire review has been hidden because of spoilers.
It was Ok, it wasn't good at all, but it was acceptable.
It is slightly better than the first volume though, I'll give Patriot Publication at least that. Overall however, Malaysia Military Power II is unfortunately is a badly written , badly organized book full of confusing jargons and personal opinions where as the 'facts' presented in the book are not supported by enough credible references at all - yes, there were a few listed at the end.
I understand that this book is a compilation of personal Facebook postings compiled together. Well, it's not exactly an issue but a few edition mistakes made reading this volume a bad experience - some pages stated to see the accompanying image, but there weren't any image printed in the book!
Then there is basically a problem with organization and continuation. At some pages the author wrote about an army vehicle system, and then jumped into some historical characters, and jumped suddenly into Chinese aerial industries before coming down to personal attacks on a local Member of Parliament. There is no continuation in the writing at all.
Also, too much jargon or nouns usage in a single paragraph. It would be helpful if there are accompanying images to better illustrate the difference in the systems mention by each article. Normal reader will not understand what the writer is trying to convey easily; minus some points in that.
Plus the rather monotonous tone from the writer's part all combined with all those technical data, jargons without any expanded explanation isn't going to help light reader.
At least, if you are having difficulty in falling asleep, highly recommended in reading this book.