Sancaka, seorang anak yatim. Ayahnya tewas dalam sebuah kerusuhan. Ia tersambar petir. Pengkor, seorang anak yatim. Ayahnya tewas dalam sebuah kerusuhan. Ia terbakar api. Ruang dan waktu memisahkan mereka, namun takdir mempertemukan mereka.
Harya Suryaminata yang dikenal dengan Hasmi adalah salah satu komikus dan penulis skenario terkenal di Indonesia. Sebelum meninggal, Hasmi menjalani perawatan operasi usus di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.
Karyanya yang dikenal adalah Gundala Putra Petir, seorang tokoh dalam komik Indonesia. Sebanyak 23 judul buku seri Gundala terbit antara 1969-1982. Tokoh Gundala ia ciptakan setelah Maza, yang telah lebih dulu muncul pada 1968. Petualangan Gundala berakhir pada 1982 dengan buku terakhir berjudul "Surat dari Akherat". Sempat muncul kembali sebagai komik strip di Jawa Pos pada 1988, tetapi tidak bertahan lama.
Note: Komik ini merupakan "buku pendamping" setelah menonton filmnya.
√Bukan cerita film yang dibikin komik √Menceritakan apa yang tidak diceritakan di film √Pelengkap versi film
√Andai kamu membacanya sebelum menonton filmnya, kemungkinan besar akan bingung.
√Andai hanya menonton filmnya saja, TANPA baca komiknya, itu ngga papa.
Komik ini hanya untuk yang penasaran tentang beberapa bagian yang dirasa plot holes di versi film.
Banyak menceritakan tentang "Anak Bapak", latar belakang mereka, hubungan mereka dengan Gundala.
Aku berani kasih 7,5/10 untuk filmnya.
Sedangkan, aku bisa kasih pembulatan ke 4⭐ untuk komiknya karena gambarnya baguusss (menurutku) dan lompatan-lompatan alurnya beneran bikin mikir. Malah jadi seru buatku 😂 Semacam... oh ya, ini dia seninya 😂
Yang jelas, aku sedang belajar mengapresiasi karya Indonesia.
Saya belum menonton film Gundala. Bukan apa-apa, saya memang lebih suka kegiatan menonton yang lebih personal, misalnya: menonton di rumah sendirian, nanti kalau dvd nya rilis. :-)
Tapi dari hasil baca review pembaca-pembaca buku ini sebelum saya, sepertinya akan sangat sulit membaca komik ini tanpa menonton film nya. Karena komik ini hanya jadi pelengkap film Gundala. Jadi pasti akan kebingungan karena ceritanya tahu-tahu melompat begitu saja.
Lalu apa yang saya lakukan. Ya saya baca saja laman film Gundala di wikipedia yang dalam bahasa Inggris. Setelah itu baru baca komiknya. Ternyata cara ini cukup efektif. Saya bisa menikmati komik ini. :-) Mungkin anda akan bilang lha nanti pas nonton filmnya bakal nggak seru dong, karena semua spoiler saya sudah tahu. Ah nggak masalah. Saya biasanya memang menikmati film bukan untuk cari kejutan. Jadi nggak masalah.
Dengan anda sudah tahu cerita filmnya, anda jadi lebih bisa menikmati jalan cerita komik ini yang tidak selalu linier dan banyak kali lompat sana lompat sini. Jadi saya beri bintang 4 untuk komik ini. Saya suka ide yang ditanamkan di komik ini. Membaca komik bukan mengulang menonton filmnya, tapi memperkaya pengetahuan anda tentang cerita Gundala ini. Bagus! :-)
Buku ini tuh melengkapi pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan selama nonton filmnya. Bahkan endingnya di sini saya lebih terpuaskan dari pada versi film. Si Ghazul aja muncul di ending, rasanya pas gitu.
Asli si pemeran Om Ari Tulang ternyata hahahahaha. Di film kemunculannya seiprit doang, tapi di komik aku dapat jawabannya dan eksekusinya tidak kentank. Gundala sang pahlawan aja di komik ini ternyata ya termasuk koentji. Duh pokoknya kalau Bumilangit perkembangannya makin bagus diiringi cerita jauh lebih mumpuni ke depannya, bakal jauh lebih baik sih ke depannya.
Setahu saya, komik ini memang dibuat sebagai pelengkap filmnya, memberi keterangan pada karakter2 anak buah Pengkor.
Di beberapa bagian, saya agak kesulitan memahami dialog, juga alur cerita yg digambarkan campur2 antara sisi Pengkor dan Sancaka.
Buku ini dibagi menjadi beberapa bagian yang ditandai oleh satu karakter. Isinya memang berisi karakter tersebut, tapi tidak selalu berfokus padanya. 1) Sang Penguji (Pengkor) 2) Sang Pembisik (Kamal Atmaja) 3) Sang Penempa (Tanto Ginanjar) 4) Sang Peracik (Jack Mandagi) 5) Sang Pemahat (Sam Buadi) 6) Sang Peraga (Mutiara Jenar) 7) Sang Perawat (Cantika) 8) Sang Penggubah (Adi Sulaiman) 9) Sang Pelajar (Desti Nikita) 10) Sang Penari (Swara Batin) 11) Sang Pelukis (Kanigara), dan 12) Sang Petir (Sancaka)
Komik ini memang menjelaskan karakter2 anak bapak jauh lebih baik daripada di film yg terbatas sekali, tapi saya curiga apakah jadinya melenceng atau tidak dari skrip aslinya. Karena digambarkan mereka tidak sekedar bertarung, tapi beberapa ada yg punya kelebihan, seperti bisa melihat masa depan, termasuk Pengkor.
Ya, komik ini memberi twist bahwa Pengkor bisa melihat kedatangan Sang Petir. Bukan cuma itu, dia bahkan dengan aktif mencarinya, karena ingin mengajak Sancaka bergabung dengannya. Dia pernah menemukannya sewaktu Sancaka masih anak2, tapi gagal merekrutnya. Twist yg lebih dashsyat adalah Pengkor melakukan semua kejahatan ini, dan merekrut anak2 yatim, dengan sebelumnya membunuh orang tua mereka, demi menyambut Sancaka. Bahkan ketika mengetahui bahwa mereka akan mati oleh Gundala, mereka menerima dan menjalaninya sebagai "takdir" mereka. I mean, if we look at it in different way, they're actually the good guy. Mereka yg membuat Gundala muncul dan melatihnya menjadi kuat.
"Tugas kita adalah membuka jalan bagi kemunculannya. Semua yang kita punya sekarang, sudah ada pada dirinya. Kita adalah dia. Dia adalah kita. Satu."
Meski begitu, di akhir, komik ini masih memberi pertanyaan soal misteri lambang Mata Malaikat dan Kamal Atmaja yg masih selamat. "Akulah sang penguji..."
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Takdir kadang bicara dengan bahasa yang tidak kita mengerti."
Tadinya saya pikir komik ini full adaptation dari filmnya. Ternyata bukan. Ya, nggak bakal terakomodir juga sih, bisa setebal apa komik ini kalau semua isi film sepanjang 2 jam dituangkan ke dalam sebuah komik? :)
Karena saya sudah nonton filmnya, jadi saya "nyambung" dengan cerita yang disodorkan komik ini. Bahkan saya jadi paham beberapa adegan di film yang kurang tereksplor, seperti latar belakang anak-anak yatim yang diasuh Pengkor. Sebab komik ini memang menyajikan cerita lebih dalam tentang "anak-anak yatim" tersebut.
Namun buat yang belum nonton filmnya, membaca komik ini mungkin akan sedikit membingungkan. Penceritaanya melompat-lompat. Anak-anak yatim Pengkor dan Pengkor sendiri menjadi benang merah cerita--yang mungkin tidak cukup mudah dipahami bila membacanya nggak fokus.
Jadi, menurut saya, film dan komiknya saling melengkapi. Dan saya jadi paham kenapa komiknya diberi judul Takdir.
didn't expect that i'd love this despite my problem with *rdi*n sy*f. it's a lovely prequel (kind-of) from the film version, so don't expect this as the graphic novel version of the film. the characters developments backgrounds are great and supported with the stunning visuals. overall, it's a great one and worth to be read.
(anyway, i only read it at the bookstore and cantika, STEP ON ME PLEASE)
Bought it because of the hype. I had a relatively high expectation on this one, because people keep saying, "Oh, it's an amazing book--it gives more background on Anak Bapak."
To begin with, I saw the movie and I knew nothing about its universe. That movie was like the only knowledge I got about Gundala, and I genuinely think that the movie is amusing. There's these Anak Bapak kids in the movie, they're like the villain's adopted kids (?) and each of them have different fighting skill (?) bottom line: they're pretty cool. I want to know their stories, because there's got to be something, right? And then this book came out and the review said it's an amazing book and it'll give more depth on these Anak Bapak.
To be fair, I don't read many super hero comic books. But I like reading comic books, alright, so this book got me excited. I saw it in my local book store and I bought it. It's actually pretty short for my standard. I thought, "Oh, I'll finish it in one sitting!". But guess what? It took me months to finish it.
Most of the things happen here were just snippets of things and they're extremely jumpy. I understand this book weren't meant to be a complete work and more of something to keep up with the movie, but honestly I expect more. I expected more stories, more coherent or elaborate storytelling and not just ... snippets. I understand these snippets were important, but it'll be fun if in the process I also learn about the character's personality or what kind of person they were/are. If I knew that I'll just be reading about the turn-points of these characters' life, but not exactly learn about their personality or what kind of character they are, then I wouldn't buy this book--better read it in Wikipedia or something.
Also I have minor inconvenience with the PUEBI. I don't mind with bad grammar or punctuation in daily life, but since I paid for this book, I'm entitled to say I want perfect punctuation, right?
Bottom line, I regret buying this book. I was about to give it one star, but that sounds harsh. I think I like the art work. Yeah, the art is amazing, so I'll be nice to this book.
Pertimbangan beli buku ini adalah : kalau bisa hype dengan MCU, kenapa gak coba dukung MCU versi nusantara alias JBL (Jagad Bumi Langit)? Setelah nonton Gundala 3 kali, baru ngeh kalau ada komik pendampingnya akhirnya langsung panas pergi ke toko buku terdekat walau berujung gak dapat dan berakhir membeli lewat e-commerce.
Ceritanya bagus, gambarnya bagus, warnanya bagus. Ceritanya bukan cerita di film, jadi gak bakal overlap/such a waste walau memilih menonton Gundala di bioskop. Setelah baca komik ini, pandangan tentang kisah hidup Gundala jadi lebih luas, banyak printilan22 kecil yang membuat film Gundala makin makes sense dan tentunya membuat pemirsa makin tidak sabar menunggu kehadiran sekuelnya!!
Ever since I discovered Indonesia’s very own superhero after watching the film adaptation, I search high and low for a graphic novel edition of Gundala and delighted to report I indeed found this during my visit to Indonesia! Cool storyline, great art and it was pretty cool to read this in Bahasa Indonesian..
The film and the comics are mutually supportive. If you only watch the film, you will not understand the origin of the characters in it, but if you only read the comics, you will not enjoy the plot.
Visual nya bagus. Di komik diceritain lebih detail tentang masing-masing karakter, sedikit narasi banyak gambar tapi gak bikin bingung dan emang harus nonton film nya juga biar makin 'lengkap'.
Sebelum film ini booming, gue udah cukup familiar sama nama Gundala karena ortu pernah ngomongin beberapa kali. Tapi baru tahun ini gue bener-bener baca komiknya dan itu pun yang movie adaptation.
Dari dulu, gue agak-agak bingung kalau baca komik. Bacanya dari mana ke mana, ini yg ngomong siapa, emosi karakternya begimana... ternyata sampe sekarang gue masih kebingungan. Ha ha. Maap, anaknya emang ga berkembang :"
Tapi gue seneng sih liat art style komiknya. Meskipun jadi keliatan agak "berat" karena berwarna (sumpah gue juga nggak paham ini maksudnya gimana, tapi gue liatnya agak berat aja daripada komik-komik yang item-putih). Ceritanya juga hmm mayan menarik. Mungkin gue bisa lebih paham kalau gue udah nonton filmnya, so..
You absolutely need to watch The Movie first before you read this graphic book.
Jujur, Gundala bukan super hero lokal yang pernah saya dengar. Obviously it was years before i was born. But, i am excited to get to know more about it since The Movie itself is quite good. Tapi, karena emang ini bukan super hero populer di jamanku, i have zero knowledge about it. dan filmnya sendiri sayangnya belum terlalu mengeksplore karakter si Gundala dan villain nya. Untungnya di buku ini, semua villain anak Pengkor diceritain lebih detail walaupun gak banyak juga sih cuman 1-3 halaman but setidaknya cukup enlighten us yess.
So yeah go watch the movie and read this book right away!
Seru banget bacanya, apalagi dengan visual yg keren abis! g kalah sama komik-komik barat pokoknya bagi yg suka komik macam DC Dan Marvel komik lokal ini wajib di baca bahkan wajib punya. Di dalam komik ini lbh menceritakan tentang para villain dari film gundala, si tokoh utama; Sancaka tidak terlalu di kupas, tetapi justru disitulah menariknya! Dan siap2 jg bagi yg udh nonton filmnya buat ending dari komik gundala ini, karena ada beberapa yg tidak mirip seperti yg ada di film. Intinya ini komik lokal bertema superhero yg wajib bgt di baca oleh para pecinta komik.
This comic should be labeled as a “complementary to the Gundala movie”, because the story conveyed in this volume was not in the movie itself. In fact, the comic creators patched the “plot holes” and answered some questions from the movie version. Do not read this comic book as standalone, unrelated to or separated from the movie. Too bad, Ardian Syah still made a nod to 212 in this volume.
Sebagai penggemar komik, langsung napsu ngeliat gambarnya dan mau koleksi. Tapi pas dibaca, bingung. Udah coba baca untuk kedua kalinya, masih tetep bingung. Mungkin mesti nonton filmnya.
Komiknya lebih mirip sejenis tapak sakti dan tony wong daripada marvel.
Komik ini menjawab pertanyaan atas beberapa hal yang tidak dijelaskan pada film-nya, terutama penjelasan atas latar belakang anak2 bapak. Ada sedikit perbedaan dengan filmnya, tapi masih bisa dipahami dan tidak terlalu melenceng. Apakah plotnya akan dijadikan dasar untuk film berikutnya? Let's see
Harus nonton filmnya dulu baru bisa ngerti gravel ini. Soalnya ini isinya buat nutupin plot holes yang ada di film. Bacanya harus dihayati sekali kalau mau benar-benar paham sama ceritanya. Di gravel ini lebih banyak bahas Bapak dan anak-anak yatimnya, sementara Gundala ngga begitu banyak muncul.
Bintang empat untuk kualitas gambar komiknya. Sebenarnya malah belum sempat nonton filmnya. Ga kebayang serunya ya kl dalam bentuk film. Tapi dari segi cerita, menarik. Kapan lagi Indonesia punya jagoan superhero sendiri kayak Gundala gini?