Saskia mengira malam itu ia akan dilamar, nyatanya justru diputusin. Padahal ia sudah berdandan, sudah wangi, sudah cantik, dan siap menyambut kebahagiaannya. Saskia harus merelakan makeup-nya porak-poranda dan luntur oleh air mata.
Tampaknya semesta pun masih mau mempermainkan Saskia, karena tak lama kemudian dia bertemu Edwin. Ganteng sih dan kelihatannya cukup mapan. Tapi, ya ampun... tingkahnya belagu banget dan lidahnya setajam silet. Yang lebih menyebalkan, pertemuan tak disengaja itu malah berlanjut dan terjadi berkalikali, bikin Saskia semakin benci sama cowok itu.
Yang bikin Saskia syok, ternyata mamanya dan ibu Edwin saling kenal, bahkan diam-diam berniat menjodohkan mereka dengan segala macam cara.
Luka hati Saskia belum sepenuhnya sembuh dan segala hal tentang perjodohan dengan Edwin hanya membuat kepalanya semakin sakit. Tapi mengapa hatinya justru bertanya-tanya kapan ucapan wo ai ni terucap dari bibir Edwin?
Cukup suka 😆😆😆. Pertama ngakak, lalu baper, ada sedih juga, kaget juga ternyata oh ternyata 😅. Nggak semua yang terlihat sempurna itu beneran sempurna.
Senang rasanya ketika bisa diberi kesempatan untuk kedua kalinya membaca karya Awie Awan. Setelah berhasil mengocok perut lewat Kiss The Sun, Kapan Kau Bilang Wo Ai Ni? pun masih memberikan sensasi yang sama, namun dengan kadar romance yang lebih terasa. Perkembangan tulisan Awie Awan di novel terbarunya ini sangat signifikan. Saya merasa jika gaya bercerita Awie Awan sekarang lebih luwes dan mengalir, tanpa meninggalkan ciri khas humor dalam setiap tulisannya. Beralih ke sampul bukunya yang menurut saya sangat menggemaskan. Dominasi warna merah melambangkan nuansa romance dan budaya yang kuat. Sepasang pria dan wanita yang memandang Patung Merlion mewakili tokoh Edwin dan Saskia dengan latar Singapura sebagai tempat berjalannya cerita. Perpaduan dan kesatuan yang dihasilkan sampulnya sudah sangat menghipnotis saya sebagai pembaca untuk segera membacanya.
Kapan Kau Bilang Wo Ai Ni? menceritakan kisah tentang Saskia dan Edwin yang tanpa sepengetahuan mereka jika mereka berdua dijodohkan oleh ibu mereka, Mei dan Yuni. Perjodohan itu pada awalnya berlangsung secara diam-diam, Mei dan Yuni sering bertukar informasi dan membuat rencana untuk Saskia dan Edwin seakan-akan takdir mempertemukan mereka, padahal ada campur tangan Mei dan Yuni di balik itu semua. Selain tema perjodohan, novel ini juga memiliki unsur budaya lokal yang sangat kental, khususnya budaya Tionghoa-Medan. Kita akan menemukan banyak penggunaan kata Hokkien-Medan di dalam percakapan antar tokohnya. Penggunaan bahasa Hokkien-Medan ini memberikan sensasi tersendiri sama seperti saat membaca novel Crazy Rich Asians. Kelakuan dua ibu-ibu, yaitu Mei dan Yuni juga berhasil menarik perhatian saya dengan tingkah laku kocak dan konyol mereka. Rencana-rencana yang mereka lakukan untuk mendekatkan Edwin dan Saskia tak jarang mengundang gelak tawa saat membacanya. Awie Awan sukses memberikan sensasi komedi yang mengocok perut dalam lini Amore yang jarang sekali saya temukan.
Dua tokoh sentral dalam novel ini adalah Saskia dan Edwin. Tokoh Saskia memiliki kepribadian yang bawel, galak, dan berani. Saskia memiliki toko souvenir di Sun Plaza. Selain menjadi pengusaha, Saskia juga merupakan seorang penulis novel. Karakter Saskia yang ekspresif bisa saya rasakan dengan baik. Lalu ada tokoh Edwin yang merupakan pedagang peralatan komputer di mal yang sama dengan Saskia. Edwin memiliki sifat yang tak jauh berbeda dengan Saskia, namun Edwin mungkin bisa dibilang lebih dewasa dan kalem jika dibandingkan dengan Saskia. Usia Edwin yang matang membuat tingkat kedewasaanya terlihat dengan jelas. Di balik kedua tokoh utamanya, ada dua tokoh pendamping yang jadi favorit saya, yaitu ibu Saskia dan Edwin, Mei dan Yuni. Mei dan Yuni tipikal orangtua Tionghoa yang cerewet dan gusar dengan jodoh anak mereka. Tingkah laku konyol keduanya menjadi daya tarik yang menghibur bagi novel ini. Selain itu terdapat juga sahabat-sahabat Saskia, seperti Diana, Wina, dan Jamilah yang digambarkan berbeda suku dan ras. Namun sayangnya, ketiga tokoh tersebut kurang dieksplor lebih dalam oleh penulis. Dua jempol saya berikan untuk penulis yang berhasil membangun karakter para tokohnya dengan baik dan membekas, khususnya bagi saya.
Novel ini memakai sudut pandang orang ketiga melalui hampir semua tokoh yang ada. Namun, sudut pandang Saskia dan Edwin masih menjadi sudut pandang utama. Gaya bahasa dan bercerita penulis tergolong ringan, sederhana, humoris, dan mengalir. Awie Awan memiliki gaya bercerita dan menulis yang khas lewat selipan humor yang dimasukkan. Saya menikmati setiap humor yang ada karena efektif membangkitkan gelak tawa. Alur ceritanya berjalan cepat dan sangat enak untuk diikuti. Kebersamaan Saskia dan Edwin akan sering kita lihat dalam alur ceritanya. Latar tempat Medan dan Singapura merupakan pilihan yang pas, karena atmosfer kedua tempat tersebut berhasil digambarkan dengan baik oleh penulis. Sehingga tidak hanya sekadar tempelan saja.
Tidak ada konflik yang sampai bikin kesal atau gemas sepanjang cerita berjalan. Konflik kecil dengan munculnya kehadiran sosok di masa lalu yang membuat saling salah paham sudah cukup untuk meramaikan jalan ceritanya. Saya sendiri suka dengan konfliknya yang tidak terlalu bertele-tele dan neko-neko. Cukup dihadirkan dengan sepintas, tapi memiliki dampak yang signifikan pada hubungan Saskia dan Edwin. Menurut saya justru konflik perjodohan yang dilakukan Mei dan Yuni lebih asyik disimak. Bagaimana dengan tingkah laku konyol mereka novel ini bisa hidup dan menghibur. Meskipun minim konflik, tapi justru dinamika hubungan Saskia dan Edwin malah terlihat lebih meriah dengan campur tangan Mei dan Yuni.
Sensasi baru bisa saya rasakan saat membaca Kapan Kau Bilang Wo Ai Ni?. Di mana biasanya novel dengan lini Amore jarang sekali menyelipkan bumbu komedi seperti ini. Porsi untuk romance dan komedi pun terlihat seimbang dan pas. Di satu sisi saya bisa merasakan hubungan asmara antara Saskia dan Edwin. Di sisi lain saya juga dibuat terhibur dan tertawa dengan kelakuan Mei dan Yuni. Kedua unsur tersebut menyatu menjadi satu menciptakan formula baru dalam sebuah novel Amore. Menurut saya Awie Awan sukses mempertahankan gaya menulisnya dengan perkembangan tulisan yang sangat meningkat jika dibandingkan dengan karya terdahulunya. Menikmati sudah pasti, terhibur iya, dan emosi juga ikut serta melengkapi. Hanya satu kekurangan yang saya rasakan, yaitu kurangnya porsi untuk keempat teman Saskia, Diana, Wina, dan Jamilah. Secara keseluruhan Kapan Kau Bilang Wo Ai Ni? menunjukkan bahwa komedi, budaya, dan cinta bisa menjadi suatu cerita yang menarik jika dikemas dengan cerdik dan apik.
Aku iseng nyomot ini di Gram-dig karena butuh bacaan yang menghibur dan beraroma lelucon. Oh, ternyata ini cerita perjodohan, saudara. Tapi tetap kulanjutkan membaca, karena meski perjodohan, dua orang Ibunda si perempuan dan laki-laki 'sok mengatur' pertemuan-pertemuan keduanya. Kurasa, kucukup menikmati meski ada bagian-bagian yang tak begitu membekas tapi secara keseluruhan oke, kok. Aku tertawa di beberapa bagian. Yang agak mengganggu adalah kenapa tidak pakai catatan kaki saja untuk bahasa-bahasa daerah/tionghoa-medan. Kurasa itu, saja. Sukses untuk penulisnya 63-2019
Saskia yg baru saja diputusin pacarnya, Ramon scr sepihak. Sialnya bertambah dgn bajunya kecipratan noda dari sebuah mobil yg melintas. Sayangnya si pemilik mobil, Edwin sangat arogan.
Tanpa mrk ketahui sblmnya, kedua mamak mereka yg bo'eng dan bokangco (gak ada kerjaan) berteman baik dan pny rencana unik menjodohkan mrk. Yg emak² ini gak tau adalah Saskia dan Edwin selalu spt kucing dan anjing setiap kali bertemu.
Novel ini sebenarnya unik krn mengetengahkan romance chinese peranakan Medan. Walau banyak bahasanya gak ngerti, tapi saya masih bisa "raba²" artinya dah. Awal plot walau membosankan dan gampang ditebak, tapi msh berpotensi ceritanya. Namun klimaks ceritanya blunder parah, apalagi sejak masuknya Joni, sidekick yg katanya teman SMP Saskia.
Dan saya juga agak kecewa, kenapa peak story hrs di Singapura? Apakah Medan cuma terkenal sbg kota kuliner aja tapi gak ada tempat utk beromantis? Utk novel yg tidak terlalu panjang, author terlalu panjang lebar dgn turisme di Singapura ini.
Romance-nya menurut saya jd spt foreplay aja, penetrasinya gak ada. Terlalu banyak sidekick yg annoying jdnya membuat fokus romantisnya ambyar. Saya merasa buku ini cuma memulas suatu relationship di permukaan aja, blm bisa membahas apa ketertarikan satu sama lain selain penampilan luarnya. Jadi maaf ya, belum bisa memberikan rating yg bagus.
Beberapa poin kenapa novel ini spesial dan menyenangkan buat dibaca:
1) Aku mengapresiasi sekali latar ceritanya yang berlokasi di Medan, Sumatra Utara. Sebagai kota ketiga terbesar setelah Jakarta dan Surabaya, rasanya kok aku belum pernah baca novel lain yang benar-benar menjadikan Medan latar utama ceritanya. Bukan hanya sebagai tempat yang dikunjungi. Aku juga suka bagaimana penulis mendeksripsikan Medan. Baik lewat penceritaan langsung atau melalui logat bicara, pilihan kata, dan karakter tokoh-tokoh dalam ceritanya.
2) Banyak diselipkan bahasa Mandarin-Chinese ya disini. Aku sampai berpikir, apa iya di Medan itu banyak etnis Tionghoa-nya? Bahkan sampai tanya-tanya beneran ke teman-teman asli sana. Dan ternyata memang begitu. Katanya, meskipun Tionghoa dan lancar bahasa Mandarin, tapi logatnya sudah Batak sekali. Itu wajar di Medan katanya... Ah begitu. Aku jadi makin senang baca novel ini. Karena aku sendiri belum pernah keluar dari Pulau Jawa, rasanya jadi bisa sedikit-sedikit merasakan kehidupan dan tau orang-orang di Medan sana.
3) Terkait karakter, alur, plot, dan ide cerita, menurutku tidak ada yang terlalu khusus yang baru. Biasa dan sederhana. Cuma, lucunya disini adalah melibatkan strategi dua orang emak-emak keras kepala yang mau jadi besan. Kamu bisa tebak sendiri lah arah ceritanya kemana kalau sudah ada dua orang Ibu yang berteman dan ngotot mau jadi besan. HAHAHAHA. Lucu aja gitu. Memang ya kalau Ibunda sudah bertitah, apapun bisa saja kejadian. Heran.
4) Terakhir, aku sangat-sangat tidak menyangka dengan penyelesaian konflik yang JAUUUH SEKALI DARI EKSPEKTASI. Kaya, bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku wahai penulis?! Seriously?! Hahahaha!!! Entah lega atau geli atau kok ya ga kepikiran banget kesana. Tidak terkesan dipaksakan, sih. Cuma ya kok begitu gitu loh. Padahal ku sudah menduga dan melakukan prasangka kuat sama akhir cerita dan pilihan konfliknya. EH, MELESET. JAUH.
Finally, rating 2 bintang sama sekali tidak memberi indikasi novelnya buruk atau tidak layak baca loh! 2 stars only mean that this novel gives me impressions that it was OK. See? I am not judging this one is not good, it just, It was OK :)
Mengangkat latar belakang etnis Tionghoa Medan, novel ini memberikan nuansa berbeda dengan Amore lainnya. Ketika Saskia dan Edwin dijodohkan oleh kedua ibu mereka, mereka menjalani satu per satu skenario yang sudah disusun oleh kedua ibu yang ngebet pengen lihat anaknya menikah.
Yang sedikit mengganggu saya adalah penggunaan dialek Mandarin Medan yang cukup banyak dalam novel ini, tapi tidak dijelaskan secara spesifik artinya apa. Memang sih ada kalimat berikutnya yang membuat saya mengira2 oh...itu artinya. Tapi kan harusnya bisa pakai catatan kaki.
Sempat kepikiran juga Saskia dan Edwin ini agak temperamental juga. Tapi bisa jadi memang begitu gaya dialog di Medan sana. Plot twistnya lumayan juga.
Saskia mengira dirinya akan dilamar Ramon. Tapi ternyata malah diputusin. Di warung nasi goreng jalanan pula. Sia-sia usahanya berdandan sangat cantik untuk menyambut pacarnya yang baru kembali dari Medan itu. Ditambah lagi, ia sial karena kecipratan genangan air berlumpur yang dilindas oleh sebuah mobil SUV begitu saja. Pemiliknya pria yang tampan tapi bersifat jelek. Dengan gaya arogan ia memberi Saskia uang 50k untuk mengganti baju yang harganya lebih mahal dari uang ganti rugi
Pemuda itu Edwin, pemilik toko komputer di Sunplaza yang masih trauma karena ditinggal pacarnya yang menikah dengan orang lain yang lebih kaya. Edwin ternyata putra dari sahabat ibu Saskia. Maka proyek para ibu-ibu Tionghoa untuk menjodohkan kedua insan ini pun dimulai. Berbagai kebetulan setingan dibuat agar keduanya terus saling bertemu di tempat dan waktu yang mereka pikir tak terduga.
Namun, sesuai hasil ramalan yang sudah diusahakan kedua ibu mereka di klenteng, ada penghalang untuk bersatunya mereka berdua. Yang pertama, mantan pacar Edwin, Clarisa, tiba-tiba kembali setelah bercerai dari suaminya. Ia tampak dengan agresif berusaha mendapatkan Edwin kembali dan adegan mereka berdua dilihat oleh Saskia yang tentu saja langsung salah paham. Yang kedua, saat keduanya ke Singapura untuk mewakili para ibu mereka menghadiri pesta pernikahan keluarga, muncul Joni, teman SMA Saskia, yang tampaknya tertarik dengan gadis itu. Belum adegan saat Saskia memergoki Ramon, mantan pacarnya, sedang di klub bersama Wina, sahabatnya. Runyam.
Tapi tenang saja... akan ada beberapa plot twist yang... meski terbilang aneh, tetap terasa melegakan. Baca aja sendiri.
***
Bagian menarik dari novel ini adalah sisipan budaya Tionghoa Medannya. Dalam novel ini dikatakan bahwa berbeda dengan orang Tionghoa di wilayah Indonesia lainnya, di Medan dan sekitarnya, sehari-hari sesama orang Tionghoa berkomunikasi dengan bahasa Hokkian Medan. Bahasa ini mirip bahasa Hokkian yang digunakan etnis Tionghoa di Malaysia dan Singapura. Hanya saja bahasanya sudah menyerap beberapa bahasa daerah Medan seperti Melayu dan Batak. Berikut beberapa kosakata keseharian dalam bahasa Hokkien Medan yang kucatat di sepanjang kisah: Aboi = belum Ai bo? = Mau? Ane sui = cantik sekali Ancua= bagaimana?/ ada apa? Ancua ho bo? = bagaimana kabarnya? Ayi = tante-tante Be = nggak Be liao lah = sudah nggak bisa Bo lai ar = mana? Bo ar = Enggak.
Cabo = cewek Ca siu = daging babi panggang bakar Chi Kung = garis jodoh Ciak = makan Ciak khi hapeng = makan di sana Ciak tok = tradisi yang diadakan untuk pesta yang diadakan orang Tionghoa. Tamu duduk di sekeliling meja dan hidangan disajikan secara bertahap. Cin bo? = beneran? Cin er? = beneran? Cin = beneran Comiksu? = Kenapa? Comik lu? = kamu ngapain?
Emcai = belum tahu Er bo?= Bisa nggak?
Hamang lai? = siapa perempuan itu? Hamik? = apa? Hamik kok? = apa lagi, sih? Ho liao lah = ya sudahlah
Kong hamik lah lu = ngomong apa sih kamu?
Lai lai = sini, sini Lau sai ar = kena diare Lu ai hamik? = kamu maunya apa?
Mai mai mai= jangan-jangan-jangan!
Ni ai wo ma? = apakah kamu mencintaiku?
Peng yui = teman saja
Sui bo? = cantik nggak?
Tiok tiok = baik, baik Tobo= cowok ***
Hitungan:
no ban = 20k no pek goh cheng = 250k gopek goh = 550k cepek cheng = 100k
***
Ada beberapa variasi umpatan ala Hokkien Medan (yang katanya sih kasar banget, tapi artinya enggak dijelaskan di novel ini, hahaha):
Bo nao ar lu! = nggak punya otak kamu!
Chao cibai! Chao chui! = mulut busuk! Cibai!
Kau sat! Kau sat ar lu!
Lan ciao lah Lu er mak khi ho lang phu ar!
Siao liao = sudah gila, ya. Siao po= perempuan gila
***
Beberapa kalimat percakapan yang ditulis dengan bahasa Indonesia tapi dengan dialek Batak dan Melayu pun kucatat, seperti:
Bodoh kalilah aku. Aku setia nunggu dia di sini. Nggak taunya diam-diam main cewek dia di sana.
Diamlah! Yang ada kutepuk muncung kau itu yah! (muncung itu versi tidak baku dari "moncong". Kasar banget, yah. Haha)
Hei! Pelayan macam apa kau?! Kaumasalahkan tisu? Masukkan saja ke bill-ku kalau gitu. Aku baru nyiram air panas ke muka lakikku, ya. Bekas lakikku! Jangan sampe aku lembar semua tisu sama taik hidungku ini ke muka kau itu ya, bodat! (Bodat = monyet dalam bahasa Batak).
Salahku apa coba?! Kenapa dia jahat gitu sama aku? Cobalah! Hiks! Aku sampe pikir kalau dia mau lamar aku malam ini!
***
Peribahasa melayu:
Ada aku dipandang hadap, tiada aku dipandang belakang = kasih sayang hanya waktu berhadapan, setelah berjauhan lalu dilupakan.
Ada hujan ada panas, ada hari boleh balas = perbuatan jahat itu sewaktu-waktu akan mendapat balasan juga.
***
Mereka menuju ke sebuah rumah petak di ujung gang. Terlihat sebatang hio besar dengan motif tubuh naga Cina setinggi orang dewasa mengepulkan asap tertancap di depannya. Sekilas rumah itu tampak seperti rumah tinggal biasanya. Begitu dimasuki, ternyata tempat itu adalah klenteng. Ruangannya didominasi warna merah. Kursi, meja, lemari, semuanya merah. Terdapat altar dan bermacam-macam patung dewa serta sajen di atasnya. Aroma hio menyengat di seluruh sudut.
Yuni dan Mei datang untuk mui sin -- bertanya pada dewa --ritual yang banyak dilakukan oleh orang Tionghoa khususnya para ibu. Mereka bisa mui sin tentang apa saja dan kapan saja. Biasanya orang datang untuk mendapatkan jawaban atas kegalauan mereka, seperti meminta nasihat hari baik untuk menikah, hari baik untuk membuka usaha, pindah rumah, atau tentang bisnis yang tidak berkembang, dan yang paling populer adalah ketika mengalami "keteguran" --sakit yang tak sembuh-sembuh karena diganggu jin atau setan. Sin atau dewa yang didatangi orang juga berbeda-beda. Ada Dewa Kwan Te Kong, Dewa Seng Ong, Dewi Kwan Im, Lao Hao Sin, dsb. Ritual ini bukan bagian dari agama tapi tetap banyak orang Tionghoa yang memercayainya. Yang didatangi Yuni dan Mei adalah Dewa Chi Kung, seorang biksu berpakaian compang-camping yang selalu memegang kipas bambu dan arak. Patungnya lebih besar daripada patung-patung dewa lain di tengah altar.
Lucu, bikin ngakak. twist nya keren banget. Ceritanya rating 4 Karna covernya cakep dan ceritanya di Medan, Karena saya orang medan. Jadi kena banget ke saya. 4 jempol deh.. ehh 4 Bintang Horas medan!
Ada aku dipandang hadap, tiada aku dipandang belakang. Kasih sayang waktu berhadapan, setelah berjauhan lalu dilupakan. - Jamilah, halaman 20
Bisa dibilang ini merupakan novel dengan subgenre amore pertama yang aku baca🙈 dan first impression di awal cerita agak sedikit bingung tapi juga lucu. Celetukan komedi serta selipan logat bahasa Hokkien Medan yang disampaikan para tokoh-tokohnya duh bikin ngakak sekaligus penasaran sih 'artinya apa'..hehe🤭🙈
🎀
Berkisah tentang Saskia. Wanita 'cukup umur' yang berprasangka baik di malam kekasihnya mengajak dirinya untuk bertemu. Makan malam romantis berhiaskan lilin kecil berjajar membentuk ungkapan cinta, sudah membayang dalam benak Saskia. Berdandan heboh sampai-sampai Ramon, pacar Saskia pangling. Namun, mimpi yang Saskia rangkai indah dalam kepalanya luntur saat Ramon mengajaknya hanya makan malam biasa di warung favorit yang sudah lama tak mereka kunjungi, sebab Ramon merantau ke ibukota. Dan di saat itulah, perjalanan hati Saskia selesai pada kata 'putus' yang diberikan Ramon.
🎀
Di lain pihak, Edwin mencoba untuk move on dari mantan terindah yang telah lama mewarnai hari-harinya. Tapi karena terhambat restu orang tua Clarisa, mantan Edwin. Hubungan mereka harus kandas dengan cara mengenaskan bagi Edwin.
Seperti kata pepatah, selalu ada pelangi setelah badai. Edwin dan Saskia bertemu dengan cara tersengaja paling terstruktur😂 ya gimana gak, semua cara disusun dengan apik oleh Bu Yuni; mama Edwin dan Bu Mei; mama Saskia yang bertemu di sebuah pesta pernikahan anak teman mereka.
🎀
Cerita yang disampaikan di sini begitu ringan dan menghibur, apalagi pas bagian sahabat-sahabat Saskia. Dian, Jamilah, dan Wina, yang paling bikin ngakak itu peribahasa-peribahasa dari Jamilah😂
Pas baca tuh di kepala auto bayangin visual Jamilah kek apa🤭 Walaupun ada petikan bahasa Hokkiennya tapi gak mengurangi kesulitan buat memahami ceritanya kok😉 karena sudah ada informasi tentang arti kata itu. Meskipun pas baca itu kek ngrasa kok kyknya ini umpatan kasar. Tapi langsung kebayang gitu gimana Saskia pas ngomel dan bahasanya gitu😂😂
🎀
Ah fix sih ini udah macam cerita romansa dengan bumbu komedi kocak dari tokohnya.
Dari segi latar cerita, unik ya karena ambil latar di Medan apalagi kita tahu kan logat dan ciri khas orang Medan itu bagaimana. Sekali ngomong berasa di ajak gulat 😁🤭
Konfliknya juga lumayan bagus. Siapa sih yang nggak mau di lamar sama pacar sendiri? Tapi bagaimana kalau angan-angan itu hanya sebatas angan? Nasib malang yang diterima Zaskia bukan lagi patah hati yang langka, sudah banyak sekali yang pacaran lama tapi gagal untuk menginjak ke jenjang selanjutnya.
Dari cerita ini sih poin positifnya, masih ada kok perjodohan dari orang tua yang berujung bahagia. Nggak usah pacaran lama kalau nggak jelas 😆
Tapiii... Untuk sekelas metropop, mungkin cerita ini kurang menarik, menurut saya. Apalagi karakter Zaskia dan Edwin yang secepat itu berubah. Nggak ada angin, nggak ada hujan tanpa ada adegan tambahan seketika langsung baikan. Duh gimana ya 😁 cepet banget rasanya. Karakter Zaskia misalnya, awalnya gimana akhirnya gimana.
didnt expect the ending 😧😧😧 bukan yg ending bgt tp penjelasan sblm ending— *gasp oke buku ini lumayan menghibur soalnya awalnya kocak bgt 😭 apalagi liat tingkah laku yuni sma mei yg berusaha menjodohkan anaknya 😭👋🏻👋🏻 tp sgt disayangkan beberapa bahasa yg pake bahasa cina(?) idk what u called it hokkian or what tp ya itu pokoknya 😀 syg bgt gak dikasi catatan kaki jd kurang ngerti:(( tp gak yg bikin jd gak paham bgt sih masi nyambung ceritanya!!
Ya setidaknya aku dapat tertawa lepas dari lelucon pertengkaran mereka lumayan menghibur ku di tengah malam ini tetapi sayangnya ada beberapa penulisan yang kurang tepat editing nya dan banyak sekali bahasa Tiongkok yang tidak aku pahami di percakapannya syukurlah karena adanya cekcok antar tokoh yang membuatku terhibur aku bisa menamatkan buku ini hingga akhir
Sebagai orang Medan, sangat paham dengan kata kata yang kami sebut bahasa Medan. Sayangnya, nggak ada keterangan tentang arti bahasa hokkian (atau mandarin?), jadi agak menebak nebak artinya apa. Tapi saya bisa menikmati alur dan suasananya, mungkin karena sangat familiar dengan setting tempatnya.
Jika harus memilih kisah cinta komedi atau drama. Aku pasti pilih komedi, tapi dalam buku ini, pembaca akan dapat dua-duanya komedi drama cinta. Gaya bertuturnya membuat gigi gemeretak tak bisa berhenti, meskipun ini bukan seutuhnya kisah komedi. Aku rasa juga memang tidak begitu, hanya saja penulis punya akal-akalan yg mampu membuat pembaca tergelak sejak awal paragraf halaman pertama.
Premisnya sendiri manis, dengan alur yg runut. Plotnya rapat dengan eksekusi cerita yg bisa diterima baik pembaca. Aku suka cara pandang penulis menyajikan kisah ini.
Setting cerita di Medan dan singapura, ditambah bahasa Hokkien Medan yg cukup banyak bertebaran melalui dialog antar tokohnya. Sehingga, rasa yg tersaji benar-² menyenangkan dan nyata. Walau, aku tak paham dengan apa yg disampaikan saat si tokoh menggunakan bahasa Hokkien. Tidak adanya catatan kaki, cukup membuat pembaca kerepotan. Terutama pembaca yg bukan orang Medan, atau keturunan Tiongkok. Tapi, tetap saja nikmat, sebab memang ceritanya sendiri sudah memiliki daya tarik.
Karakternya berkembang dengan baik. Aku suka interaski yg terjadi antara Saskia dan Edwin. Juga ibu-² masa kini dg segudang ide.
Dan, penggunaan peribahasanya itu makin membuat pembaca tertarik. Aku harap adanya catatan kaki atau glosarium untuk menjelaskan bahasa Hokkien Medan. Aku benar-² buta bahasa ini. Dan jika harus bertanya terus kepada Google agak sedikit repot. Akan menganggu konsentrasi membaca juga tentunya.
Aku memang menyukai penggunaan Bahasa Hokkien ini, rasanya lebih nyata dan itu bagus. Menambah pembendaharaan bahasa juga. Intinya, gangguan yg menyenangkan. Selain itu, aku merasa tak nyaman dg kemunculan tokoh sampingan yg terlambat kehadirannya. Aku rasa jika tokoh yg jadi penentu cerita ini hadir lebih awal akan sangat seru. Teka-teki dan misteri akan membuat pembaca menerka dibalik tawa. Ya, cara eksekusi bergaya komedi ini, sangat manjur membuat sakit pinggang pembaca. Sakit karena tertawa.
Konflik cerita sendiri, sudah sangat pas dengan penyelesaian yg pas juga. Tak terkesan terburu-buru. Meskipun serba cepat jalannya. Langkah demi langkah proses menuju akhir itu diracik dg baik.
Penyajiannya yg sedikit berbeda dan sering membuat kecele pembaca, tentunya menimbulkan greget yg menggeretakan gigi. Sensasi itu, merasuk ke dalam bawa sadar pikiran pembaca.
Setting tempatnya keren, terutama saat di Singapura. Itu bagus, dan pembaca akhirnya berandai-andai bisa ke sana.
Mengangkat Isu yg lagi hangat dibicarakan, merupakan pilihan yg tepat.
Perjodohan menjadi tema sentral buku ini. Bagaimana dua keluarga yg saling mengenal berusaha menjodohkan anak-² mereka. Dengan dalih, anak-² mereka bertemu karena takdir, dan takdir itu ditangan ibu mereka. Di sini, jelas sekali kekokohan cerita yg diangkat. Mulai dari budaya dan adat istiadat.
Tanpa mendiskriminasi suatu suku, buku ini menyorot keluarga Tiongkok di Medan. Bagaimana kehidupan mereka, sampai gaya hidup digambarkan dengan baik. Termasuk mereka yg suka berlibur ke Singapura.
Pengambaran setting cerita sungguh memuaskan.
Gaya bercerita yg serius namun, menyimpan gelak tawa. Pembaca akan digiring pada narasi cerita yg terkesan santai namun berkelas.
Aku suka dengan peran pembantu dalam buku ini, salah satu teman dari Saskia, meskipun karakternya mudah dilupakan, tapi berkat ciri khasnya yg suka menggunakan peribahasa dalam bercakap-cakap. Terus terang aku tak ingat nama karakternya, namun peribahasa yg diucapkan tetap terngiang-ngiang dikepala. Kemunculan singkat nan berkesan.
Satu hal pasti buku ini, akan membuatmu merasa bahwa perjodohan itu bisa menjadi suatu yg penuh komedi.
Aku merasa tidak hanya mendapatkan angpao jodoh. Tapi juga mendapatkan pemahaman baru, hal-² lucu, budaya dan adat istiadat orang Tiongkok Medan, budaya pop awal 2000-an (melalui lagu-² populer), liburan menyenangkan ke Singapura, seorang penulis novel, ahli teknik komputer, orientasi seksual menyimpang, emansipasi wanita, dan kalau disebutkan satu persatu akan menjadikan ulasan ini makin tebal.
Penyisipan lagu-² populer, membuat pembaca bernostalgia. Bahkan aku sendiri sempat teralihkan dan asyik melamun akan masa yg telah berlalu sehingga fokus cerita menjadi buyar. Tapi, tenang saja, penulis sudah menyiapkan agar hal itu tak terjadi, buku ini punya cara untuk pembaca kembali pada jalurnya, melalui ekstensi cerita yg baik.
Pembaca tak akan diberi kesempatan untuk meninggalkan buku ini begitu saja.
Isu seputar emansipasi dan penyimpangan orientasi seksual hanya sebagai penyedap rasa saja. Keberadaannya memang tak banyak, masih sangat terkalahkan oleh perjodohan itu sendiri. Tapi, adanya hal ini, semakin memberikan instrik cerita.
"Aku cuma merasa hubungan kita sudah hambar." — Hal. 16. . Saskia sudah mempersiapkan diri sedemikian rupa mulai dari seleksi pakaian yang akan dipakai sampai melakukan masker-ing pada wajahnya agar terlihat sempurna di depan Ramon. Maklum, mereka akan melakukan makan malam pertama sejak Ramon pindah kerja ke Jakarta. . Namun, apa yang diharapkan Saskia tidak terjadi. Ramon mengajak makan malam di Warung Nasi Goreng Pandu bukan untuk melamar Saskia tetapi untuk menyudahi hubungan mereka yang sudah berjalan 3 tahun. . Siraman teh panas pada wajah merupakan hadiah yang paling pantas diterima Ramon. Wagelaseh si Ramon. Aku kesal banget lho sama Ramon. . Fantastic Four., tempat Saskia meluapkan kesedihan pasca putus dari Ramon. Diana, Wina, Jamilah merupakan sahabat Saskia. . Sumpah, sejujurnya aku ingin ketawa melihat interaksi sahabatnya Saskia tapi kutahan karena Saskia sedang berduka tapi ketawa itu lepas juga ketika Diana memaki Jamilah. . "Yang ada kutepuk muncung kau itu yah!" — Hal. 23. . Demi apapun ya, sudah lama kali aku tak mendengar kata 'muncung' disebut. Readers tau nggak arti 'muncung'? 😂😂😂 . Selain Fantastic Four, ada lagi yang memancing tawa, siapa lagi kalau bukan Mei dan Yuni, sepasang teman lama yang bertemu di sebuah pesta. . "Tapi kita harus cara untuk mengenalkan mereka, Bu Mei. Tidak bisa lagi pakai cara yang biasa. Kita harus atur strategi?" — Hal. 31. . Mei, ibunya Saskia dan Yuni, ibunya Edwin sepakat menjodohkan mereka. Saskia yang sedang patah hati dan Edwin yang masih betah melajang di usianya yang akan memasuki tiga puluh dua. . . Demi mulusnya perjodohan mereka, Bu Mei dan Bu Yuni melakukan mui sin, sebuah ritual yang dipercaya oleh etnis Tionghoa khususnya para ibu. . "Kita harus mendukung mereka." — Hal. 51. . Bu Mei dan Bu Yuni senang mendengar hasil dari mui sin mereka. Dengan bantuan keluarga yang terus mendukung dan menebar kasih serta mereka bisa melewati berbagai rintangan kehidupan, Edwin dan Saskia bisa berjodoh. Benarkah demikian? . Karena kemarin sudah bahas Saskia, kali ini kita bahas Edwin. . Edwin, putra tunggal Bu Yuni. Seorang pria tampan bertubuh bagus yang memiliki kehidupan mapan namun ia tak bahagia, ia merasakan hidupnya datar dan kosong. Apakah yang membuat Edwin tidak bahagia? . Edwin memiliki toko komputer yang bisa dibilang sukses di salah satu mal elite di Medan. Sedangkan Saskia, selain menjadi penulis, ia juga memiliki toko, toko souvenir, di mal tersebut. Apakah ini tanda mereka berjodoh? . Serius deh, perjodohan 2.0 aka perjodohan tidak biasa yang dilakukan kedua ibu mereka dipenuhi akal bulus yang menciptakan kebetulan-kebetulan yang selalu membuat Saskia dan Edwin bertemu. . Bagai kucing dan anjing, selalu berantem, begitulah jika Edwin dan Saskia bertemu. . "Mungkin kita jodoh kali. Jodoh buat berantem." — Hal. 69 . Sumpah, kocak banget dah interaksi Saskia dan Edwin ini. 'Nenek sihir' itu panggilan Edwin untuk Saskia. . Bagaimana kisah akhir mereka? Apakah ada kata 'Wo Ai Ni' tercipta antara mereka? . "Jangan membuat hidup ini rumit. Orang-orang tidak akan tahu apa yang ada di pikiranmu kalau kamu tidak mengatakannya." — Hal. 265. . . "Tapi aku terlalu lemah untuk memperjuangkan kita... dan sekarang aku mendapatkan karmaku sekarang. Aku nggak bahagia sekarang..." — Hal. 139. . Ada tulisan amore di sudut kiri atas pada kaver depan #KapanKauBilangWoAiNi ini lho, tapi novel ini mengusung genre romcom, romance-comedy. . Memang siey, kita selalu diajak tertawa ketika membaca novel ini namun jangan salah ada konflik yang cukup membuat emosi teraduk lho. Hmm.. . How-to-heal-broken-hearted ala Saskia ini bisa dicoba lho. Gampang gampang susah sih. . Sebenarnya aku berharap Fantastic Four diulas lebih di novel ini. Suka banget dengan interaksi Saskia, Wina, Diana dan Jamilah. Karakter 3 sahabatnya Saskia ini teramat unik. . Tokoh-tokoh yang mewarnai novel ini pun sangat berdekatan dengan kita. . Kalimat dan kata-kata yang digunakan dalam novel ini merupakan bahasa sehari-hari yang digunakan di Medan dan sukses membuatku nostalgia karena aku sudah lama tidak mendengarnya sejak tinggal di Jakarta. . Koh Awan juga mengajak kita mengenal budaya Tionghoa lewat novel ini. Bahasa Hokkia Medan pun makin menambah ciamik novel ini. Uniknya, bahasa Hokkia Medan ini tidak diberi footnote tetapi dijelaskan di kalimat selanjutnya. . Aku bocorin satu hal niey wkwkkw kavernya kan menggambarkan dua orang sedang memandang Merlion, nah itu tanda bahwa konflik-twist nya terjadi ketika Saskia dan Edwin berada di Singapura lho. . Aku juga dikagetkan dengan isu sensitif yang diangkat Koh Awan di novel ini. Isu apa itu? Yuk temukan sendiri di novelnya.