Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tokyo & Perayaan Kesedihan

Rate this book
Joshua Sakaguchi Widjaja meneruskan perjalanan ke Tokyo untuk sejenak menjadi pecundang dalam hidupnya. Dia mengimpikan duduk-duduk santai bersama kopi di dekat taman dan menemukan gadis cantik untuk dijadikan teman menyenangkan. Tapi, di Tokyo yang menyambutnya dengan hangat, dia malah dipertemukan dengan Shira yang banyak bersedih dan meninggalkan banyak surat. Untuk pertama kali dalam hidupnya, alih-alih menjadi pecundang, Joshua malah sibuk menjawab banyak pertanyaan yang tak pernah dia pertanyakan.


Shira Hidajat Nagano melarikan diri ke Tokyo untuk menemukan penyelesaian paling terencana dalam hidupnya. Dia membayangkan terjebak di lautan hutan bersama berbagai penyesalan untuk selama-lamanya ditenggelamkan. Namun, di Tokyo yang menggigilkan hatinya, dia justru bertemu Joshua yang semarak dan mampu memvalidasi keputusasaannya. Untuk kali terakhir dalam hidupnya, bukan mengerjakan penyelesaian, Shira dihentikan sejenak oleh jawaban-jawaban yang tak pernah dia kira akan didapatkannya.

192 pages, Paperback

First published April 13, 2020

83 people are currently reading
1345 people want to read

About the author

Ruth Priscilia Angelina

8 books169 followers
The wheel of fortune.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
355 (21%)
4 stars
802 (47%)
3 stars
450 (26%)
2 stars
53 (3%)
1 star
14 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 463 reviews
Profile Image for Ruth Angelina.
Author 8 books169 followers
Read
February 8, 2022
Mungkin ini akan jadi comment pertama yang kutinggalkan di kolom review novelku sendiri. Pertama-tama, terima kasih banyak sekali untuk teman-teman yang sudah merayakan Shira dan Joshua. Terima kasih sudah menjadi teman mereka/

Setelah hampir dua tahun terbit, akhirnya aku akan membuka akhir cerita sebenarnya dari perjalanan Shira:

8 Januari 2021, ketika Joshua bangun dan menemukan Shira ada di depan kamar hotelnya, itu hanya mimpinya. Kembang tidurnya. Shira pergi ke Aokigahara, dan tidak pernah keluar lagi dari sana. Joshua gagal menemukan, apalagi menyelamatkan Shira. Jadi kehadiran Shira di depan kamar hotel Joshua, tidak pernah terjadi.

Pelukan yang Shira maksudkan dalam epilog terakhir dari sisinya, adalah pelukan yang Joshua berikan kepadanya di malam 31 Desember 2019 menuju 1 Januari 2020, di detik pergantian tahun. Saat itu, meski hanya berlangsung sangat singkat, Shira merasakan bahwa dia tidak sendirian, bahwa ada yang mengerti dia. Tapi itu bukan jadi kunci yang bisa menyelamatkan dia dari kesedihan-kesedihannya sendiri.

Ketika menelusurinya lagi, kita bisa melihat bahwa prolog dan epilog Joshua dan Shira sebenarnya kubangun dalam kerangka lingkaran yang tidak putus. Pembuka yang menutup, penutup yang membuka.

Kira-kira begini,

"Meski hidup berhak dijalani, ada orang-orang yang tidak sanggup menjalani hidup."

Pada akhirnya, jika kalian adalah Shira hari ini atau menjadi Shira esok hari, aku berharap kita menemukan Joshua yang bisa memahami dan bahkan menyelamatkan kita. Atau lebih baik lagi, kuharap kita bisa menjadi Joshua untuk diri kita sendiri apabila suatu waktu nanti kita merasakan apa yang Shira rasakan. Yang sering kita lupakan, diri kita adalah kawan terbaik untuk diri sendiri - meski sering juga sekaligus menjadi musuh paling mematikan.

"Jika kau masih hidup hari ini, jadilah hidup."

Peluk hangat,
R
Profile Image for Reina Tan.
292 reviews143 followers
April 23, 2020
Pendapat pribadi! | Ini panjang pelan-pelan bacanya

Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa membaca dan review buku ini. Tokyo dan Perayaan Kesedihan merupakan karya pertama Kak Ruth yang aku baca. Seperti yang tercantum pada judul, novel ini memang menyelami hal bertajuk kesedihan dan bagaimana cara 'merayakan'nya. Rasanya agak lucu ya, merayakan kesedihan. Namun, itu yang membuatku tertarik membaca buku ini.

Judul yang memiliki frasa kontradiktif.

Tulisan Kak Ruth terasa mendayu-dayu dan apa ya... kayak lebih ke monolog gitu. Aku merasakan ini ketika membaca beberapa lembar pertama dari sudut pandang Shira. Lembaran itu dipenuhi monolog tokoh, begitu juga ketika pindah ke sudut pandang Joshua. Awalnya, aku agak bingung dengan gaya penulisannya. Bagi pembaca pertama, jujur aku agak kesulitan menyesuaikan.

Tapi, lama-lama akan cukup terbiasa, terutama ketika sudah mencapai pertengahan.

Cerita Tokyo dan Perayaan kesedihan ini, menurutku tidak seberat yang dipikirkan. Bisa dikatakan sumber kesedihan yang tertera pada unsur intrinsik novel ini cukup familiar di kehidupan orang banyak. Merasa dilupakan, merasa diatur-atur, sampai merasa ditinggalkan.

Oh, ya, aku juga cukup suka dengan selipan foto-foto Jepang yang diambil Kak Ruth. Lumayan membantu para pembaca, khususnya yang belum pernah pergi ke Jepang, untuk membayangi daerahnya.

Jangan lupa betapa cakepnya kover dari novel ini. Tampak manis namun gloomy di saat yang bersamaan. Seperti halnya judul novel ini.

Perihal tokoh... Jujur, aku tidak merasakan ada koneksi sama sekali. Mungkin karena aku masih rada bingung dengan gaya tulisannya, jadi sulit sekali 'masuk' ke dalam cerita selancar biasanya. Bahasanya tidak berat sebenarnya, hanya tata cara penyampaiannya yang menurutku suka terbelit dan membuat bingung.

Kalau berbicara soal moral pesan dari buku ini, ada satu kalimat yang aku suka. Yaitu...

"Meski dapat disudahi, hidup ini juga berhak dijalani."

Bagaimana suasana novelnya? Apakah se-gloomy judulnya?

Jika kamu bertanya padaku, aku jawab tidak. Alasannya adalah terlalu banyak pengulangan kata 'kesedihan' atau 'kematian' atau lain sebagainya di setiap bab, paragraf, dan kalimat. Menurutku, untuk menunjukkan bahwa cerita ini gloomy dan dark sebenarnya tidak perlu sesering itu menggunakan kata-katanya. Jadi, rasanya agak maksa.

Seperti halnya aku yang tidak bisa begitu 'masuk' ke para tokoh, aku sebenarnya agak mempertanyakan chemistry Joshua dan Shira ini. Secara sekilas, aku paham mereka sama sama terjebak dalam kesalahan dan kesedihan. Namun, secara alur, aku benar-benar kurang paham kenapa mereka bisa secepat itu.

Atau, mungkin efek dari perasaan mereka yang membuat mereka bisa sedekat itu? Who knows.

Perihal alur, mungkin karena ini novella (yang hanya berisi 190-an halaman), rasanya kayak dikejar-kejar agar cepat selesai gitu. Jadi, bagiku yang suka mikir dulu baru lanjut(?), aku tidak mendapat alasan kuat kenapa Shira begitu. Namun untuk Joshua, aku masih lebih 'masuk' sedikit karena penjelasannya cukup panjang namun padat. Hanya latar belakang Shira yang bagiku terkesan ngambang dan semu.

Oleh sebab itu, aku kurang mendapat empati sendu. Walaupun, aku dapat paham kesedihan yang terjadi.

Selain itu, aku merasa novel ini agak kurang penggambarannya. Memang foto yang cukup membantu membayangkan latar tempat, namun selebihnya masih kurang. Macam, apa itu Ema? Bagaimana kondisi kuil kala itu?

Kadang kala, suka ada kata-kata yang kukurang tahu itu apa. Jadi, harus searching dulu baru terbayang para Tokoh sedang apa, di mana, dan suasananya.

Perihal latar waktu, jujur, aku sering hilang jejak. Tahu-tahu sudah hari ini, atau tau-tau sudah malam. Jadi, suka bingung gitu.

Terakhir, aku menemukan beberapa typo.
1) Hal. 25 -- Shira mendadak pakai kata ganti orang pertama dengan 'aku' padahal sebelumnya 'gue'.
2) Hal. 45 -- Joshua yang biasanya 'saya-anda' mendadak jadi 'gue-lo' ke Shira.
3) Hal. 61 -- 'Membelakinya' apa mungkin maksudnya 'membelakanginya' ya?

Sekian review-ku. Tolong diingat ini berdasarkan pendapatku setelah membaca. Kalian boleh setuju atau sebaliknya, karena review itu sangat amat subjektif. Hehe.
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,043 reviews1,972 followers
April 3, 2020
Shira sayang,
Haruskah kita menyerah sekarang? Hanya tinggal selangkah dan kita bisa mengakhiri ini semua. Tapi haruskah kita menyerah sekarang? Harus?


Universe conspires in such an unique way. Aku percaya itu. Seperti bagaimana Tokyo dan Perayaan Kesedihan ini tiba-tiba muncul di pangkuanku. Semesta suka main-main. Sekalinya bermain-main dengan takdir seseorang, ternyata membawanya menuju sesuatu yang tidak pernah diperhitungkan.

Begitu pula dengan Joshua. Siapa sangka bertemu dengan gadis yang berusaha membuang setumpuk Tolak Angin membuat perjalanannya ke Tokyo menjadi "baru." Tokyo bukanlah kota asing bagi Joshua, tetapi bagaimana Shira muncul selama hari-harinya di kota itu mengubah dirinya. Petualangan Joshua dan Shira memang layak disebut sebagai bentuk atas perayaan terhadap kesedihan.

Ada dua bagian dalam novel ini: bagian dari sudut pandang Shira dan dari sudut pandang Joshua. Masing-masing menceritakan sesuai lini masanya, sesuai emosi yang mereka rasakan ketika itu. Meskipun mereka berdua "sedih" dengan keadaan mereka masing-masing, tetapi keduanya merasa kecewa karena hal yang sama. Dan itu yang menurutku, mempertemukan mereka berdua.

"Bisa nggak sih nggak dibalikin semua gitu omongan gue? Terus lo bisa nggak, nggak pakai saya-saya? Emangnya lo Rangga?" Gue akhirnya ngomel juga.
"Tapi kamu nggak cocok jadi Cinta."
"YA AMPUN..."


Berlatar belakang Tokyo--kota yang sejak dulu ingin aku kunjungi--pembaca juga diajak berkeliling. Dari kuil ke taman ke stasiun ke kafe. Menguntit bagaimana Joshua dan Shira menghabiskan waktu sembari saling melemparkan candaan dan deep talk mengenai kehidupan.

Sepanjang membaca Toko dan Perayaan Kesedihan, aku merasa memahami apa yang dihadapi oleh para tokoh. Terutama Joshua dan kisah sedihnya sebelum akhirnya dia berada di Tokyo. Maka dari itu, ku katakan kalau semesta memang hobi bercanda pada takdir seseorang. Aku seakan ikut merayakan kesedihan bersama mereka. Bahwa tidak ada yang salah dengan menjadi sedih dan berduka atas sesuatu yang pernah berada bersama kita. Dan sekiranya, itu yang ingin disampaikan oleh penulis melalui novel ini.

Tokyo dan Perayaan Kesedihan membuatku merindukan perjalanan mandiri (solo traveling) yang pernah aku lakukan selama hampir dua minggu ke Vietnam. Sendirian ke negara orang dan sengaja tidak membuat banyak perencanaan membawaku ke dalam fase "memahami diri sendiri" (meskipun hingga kini, aku masih dalam proses untuk itu). Faktor satu lagi yang membuatku memiliki kedekatan pengalaman dengan tokohnya.

Sampai hari ini saya tidak pernah sadar bahwa penyudahan hidup bisa semudah memasuki hutan bernama Aokigahara. Sampai hari ini saya tidak pernah sadar bahwa hidup bisa sebegitu sulit untuk diperjuangkan.


Aku sungguh menikmati cerita Joshua dan Shira. Tentang bagaimana mereka mencoba untuk menyembuhkan diri sendiri dari rasa sedih sekaligus ingin mengabadikan rasa sedih itu. Tidak heran jika aku bisa menyelesaikannya hanya dalam sekali duduk. Ditambah, aku merasa haru di beberapa bagian hingga menitikkan air mata. Tokyo dan Perayaan Kesedihan ini bisa jadi sebuah selingan bacaan yang ringan di kala masa-masa pandemi seperti ini. Dengan desain sampul yang cantik, versi fisiknya layak untuk dikoleksi.

Ohya, aku tidak bisa memberikan 5 bintang karena aku beberapa kali menemui salah ketik dan ketidakkonsitenan terhadap bentuk panggilan dan kata sapa. Dan mengingat bahwa latar belakang Jepangnya yang ditonjolkan, beberapa istilah seperti Obasaan, Ema, Miko dan istilah-istilah lainnya tidak diberi catatan kaki. Untuk pembaca yang awam, mungkin hal seperti ini mengganggu. Tetapi sisanya, bisa dinikmati.
Profile Image for Fahri Rasihan.
478 reviews125 followers
April 10, 2020
Ini adalah kali pertama bagi saya menikmati karya Ruth Priscilia Angelina. Sebelumnya saya sudah mendengar karya-karya beliau yang memang selalu bernuansa gelap dan suram. Mungkin Tokyo & Perayaan Kesedihan tidaklah segelap yang terbayangkan, tapi tetap memberikan kesan sendu di dalamnya. Buku ini mungkin lebih tepat disebut sebagai novella karena memang ceritanya yang ringkas dan padat. Tokyo & Perayaan Kesedihan merupakan pengalaman penulis yang memang melakukan solo traveling ke Jepang. Bagaimana hiruk pikuk Tokyo yang terkenal sibuk dan padat bisa dibuat senyap dan sendu lewat tulisan Ruth. Sampul bukunya terlihat cantik dan elegan, namun tetap memberikan kesan yang muram. Ilustrasi seorang wanita yang berada di antara batang pohon dan dedaunan membawa suasana negara Jepang yang kental. Pemilihan warna cokelat keemasan memberikan efek berkelas, tapi bisa dinikmati semua kalangan. Penempatan judul dan nama penulis pun terlihat presisi dan sesuai. Tokyo & Perayaan Kesedihan akan sulit untuk diabaikan mengingat daya pikat sampulnya yang menghipnotis.

Kisah yang ditulis oleh Ruth terasa sangat dekat dengan semua orang. Mungkin hampir sebagian besar dari kita pernah mengalami rasa lelah, takut, dan sedih akibat hidup yang serba cepat dan menuntut. Bagaimana orang-orang di sekitar kita seringkali secara tidak sadar malah menjadi sumber "masalah" bagi perasaan kita sendiri. Inilah yang saya tangkap dalam Tokyo & Perayaan Kesedihan. Kesendirian yang ingin dirasakan oleh Shira dan Joshua tidaklah salah. Khususnya Shira yang ingin merayakan kesedihannya lewat perjalanannya menjelajahi kota Tokyo. Banyak dari kita yang seringkali menganggap orang yang terlihat "baik-baik" saja tidaklah memiliki masalah emosi. Nyatanya banyak di antara mereka yang memiliki beban emosional yang berusaha mereka sembunyikan. Contohnya Shira yang kerap kali mendengarkan suara orang-orang di sekitanya sehingga suara batinnya sendiri terkubur di dalam dirinya.

Dua tokoh sentral yang hadir di sini adalah Shira dan Joshua. Tokoh Shira merupakan sosok seorang wanita yang mencoba mencari makna kesendirian demi merasakan rasa sedihnya. Karakter Shira terlihat melankolis dan keras kepala. Shira meromantisasi setiap kegiatannya karena rasa lelah yang ia rasakan dalam jiwa dan raganya. Tekanan lingkungan baik dari keluarga dan sahabat-sahabatnya membuat Shira merasa jika ia tidak cocok dengan dunia ini. Shira merasa berbeda dan tidak sesuai dengan tuntutan kehidupannya. Maka dari itu Shira mulai merenugkan langkah yang akan ia ambil dengan solo traveling ke Negeri Matahari. Selanjutnya ada tokoh Joshua, seorang pemain biola yang akan mengikuti resital di Jepang. Joshua memiliki watak yang tenang dan menghanyutkan. Joshua sendiri tak luput dari beban emosional. Ia merasa "gagal" menjadi anak laki-laki di keluarganya. Di mana ia sering sekali mengecewakan keluarganya. Setelah bertemu dengan Shira, Joshua tak ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi. Dua tokoh ini berhasil menunjukkan sisi muram dan sedih dari jalan ceritanya. Walaupun interaksi keduanya tidak banyak, tapi sudah terasa pilu dan sendu. Mungkin romansa tidak tercipta di antara keduanya, namun ada perasaan lebih dalam yang tak hanya sekadar cinta.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama melalui tokoh Shira dan Joshua. Tokoh Shira menghunakan kata gue sementara Joshua menggunakan kata saya. Ruth seperti ingin menyampaikan isi hati dan kegalauan tokoh Shira dan Joshua melalui sudut pandang ini. Bagaiamana gelabah yang mereka rasakan terpampang dengan jelas. Alur ceritanya berjalan dengan cepat dan mengalir. Pembaca akan diajak jalan-jalan mengelilingi kota Tokyo bersama rasa pilu yang ditanggung oleh Shira dan Joshua. Gaya bahasa dan bercerita Ruth tergolong mengalir dengan pemilihan kata yang menarik. Mungkin ada beberapa paragraf yang mengandung sebuah arti khsusus yang harus dibaca secara perlahan-lahan untuk tahu akan maknanya. Latar kota Tokyo sebagai tempat berjalannya cerita dideskripsikan dengan sangat baik. Berbagai tempat di Tokyo berhasil digambarkan dengan baik. Ditambah bantuan visual dari foto-foto yang diambil langsung oleh penulis semakin menambah suasana kota Tokyo yang menenangkan.

Konflik batin yang dirasakan oleh Shira dan Joshua tampak sangat jelas dan terasa. Bagaimana mereka mencoba mencari makna kehidupan di tengah kegusaran hati mereka. Shira dengan ketidakcocokan pada dunia dan Joshua yang mencoba berdamai dengan kesalahannya di masa lalu. Dua konflik yang mungkin saling tidak berhubungan ini disatukan lewat pertemuan antara Shira dan Joshua. Shira yang merasa kehidupannya pilu mencoba menemukan makna keberadaannya dengan cara solo traveling. Sementara Joshua yang datang ke Jepang untuk mengadakan resital permainan biolanya. Di sini Joshua kembali memikirkan perannya dalam keluarga yang banyak membuat orang-orang kecewa. Saya sendiri lebih relate dan dekat dengan konflik yang dirasakan oleh Shira. Bagaimana terkadang saya sendiri sering mempertanyakan eksistensi diri saya di dunia ini. Sama halnya seperti Shira saya sering menemukan ketidakcocokan dengan ritme dunia yang terasa cepat dan menuntut. Mungkin sebagian pembaca juga akan merasakan hal yang serupa.

Merefleksikan kehidupan dengan jalan-jalan sendirian memang merupakan cara yang ampuh untuk menikmati kesedihan. Banyak yang bilang kita tak boleh bersedih, tapi Tokyo & Perayaan Kesedihan menunjukkan jika kesedihan terkadang memang layak untuk diresapi. Ruth berhasil mengemas sebuah cerita yang singkat, tapi penuh dengan makna akan kehidupan. Luka batin yang tak terlihat kerap kali dianggap tidak begitu penting dibandingkan luka fisik. Kata baik-baik saja terkadang menjadi perisai bagi setiap orang untuk menutupi luka hatinya. Shira dan Joshua adalah contoh nyata bagaimana kehidupan terkadang memang selalu menuntut lebih dari kita. Orang-orang di sekitar yang mungkin terlihat mendukung, malah tak jarang menjadi penyebab kegalauan emosi. Novel ini tak bercerita soal romansa, tapi tentang luka hati yang lebih banyak memicu emosi. Pilu dan sendu berhasil tertuang di dalam ceritanya. Entah mengapa saya merasakan hal yang sama dengan kehidupan yang Shira alami. Secara keseluruhan Tokyo & Perayaan Kesedihan merupakan sebuah refleksi diri akan kehidupan yang menguras emosi.
Profile Image for Utha.
825 reviews402 followers
December 1, 2023
Cerita muram yang indah, ditulis dengan kesenduan yang terasa tepat. Sedihnya Shira, getunnya Joshua, bikin hatiku mengingat-ingat rasa sakit, yang malah meluap pada akhirnya. Penulis benar, kesedihan memang harus dirayakan. Dan kadar itu nggak pernah ada yang tahu karena rasa sedih tiap manusia berbeda. Kukira kadang satu gestur sederhana bisa membuat lebam di hati seseorang membaik meskipun sedikit, begitu pula sebaliknya. Dan aku familier dengan perasaan itu. Penggunaan kata-kata dalam novel ini khas penulis, meski ada yang bikin mengernyit (diksi yang terlalu melebar). Tapi tetap suka bacanya.

Yang bikin risi (IMO) adalah ada kesan poser pada diri penulis dalam memilih nama Joshua dan Shira: sama-sama tiga kata, sama-sama keturunan Jepang. Tadinya kupikir mungkin aku aja yang dangkal soal Jepang (meski suka negara sakura tersebut, aku nggak mendalami kebudayaannya), tapi setelah bertanya sama teman yang lebih paham, makin yakin memang hal tersebut nggak logis: nama dengan tiga kata. Jadi kesannya kayak mau bikin dunia paralel kalangan sosialita yang namanya campur-campur Indonesia-bule (di sini Indonesia-Jepang). Hal lain: penulis masih punya pattern bikin sebuah "kebetulan" dalam cerita sebagai senjata dalam kerangka tulisan yang mana bukan hal buruk.
Profile Image for michella .
68 reviews3 followers
July 21, 2022
"Meski dapat disudahi, hidup ini juga berhak dijalani."

"Hidup ini bukan perlombaan."

Surprisingly, I enjoyed this book. It is a breathtaking story, especially when it comes to the interaction of both characters, a.k.a. can somebody find me a "Joshua" in this helluva world? But yeah, this book has basically a dark story, and I didn't sign up for this. The story is really relatable, at least for anyone who wants to escape from their real life. I was kind of predicting that this book would be so dark and it really fits its title. I totally can relate to the main character's emotions and complexity, and the male lead here (once again) is kinda adorable lol. There's also an essential part that gives this book a more gloomy vibe, a BnW photo of Tokyo. I really won't bother with the POV of both characters; the plot is just perfectly natural as it is. A worth reading but also take a look with the trigger warning (suicidal thoughts). So, it's a five star indeed.

P.S. I suggest you to have an emotionally stable to read this book. :)
Profile Image for niskalabhitara.
75 reviews12 followers
March 1, 2023
Uhm.. pertama, aku sadar kalau ternyata I don't really like the writer's writing style. Tapi toh aku tetap membaca buku ini sampai selesai karena bukunya tipis, juga karena tertarik dengan reviewnya.

Setelah selesai baca, ada beberapa hal yang menarik perhatianku.

1. Aku terganggu dengan penggunaan gue-lo dan aku-kamu nya Shira yang terkesan nggak konsisten. Belum lagi, dia sering menggunakan gue-lo di narasinya tapi aku-kamu di surat-surat untuk temannya. Menurutku itu aneh, meskipun bukan hal yang besar. Karena gue-lo adalah kata yang biasanya digunakan di percakapan sehari-sehari, jadi ketika dia menggunakan gue-lo di narasi, aku juga mengira dia akan gunakan itu ketika berbincang sama teman-temannya.
2. Aku udah baca penjelasan dari penulis di goodreads soal interpretasi yang beliau maksudkan sebenarnya di ending. Aku nggak bisa bilang itu memuaskanku, kalau ternyata Shira sebenarnya berakhir di Aokigahara dan yang Josh temui di depan kamarnya itu cuma mimpi. Mungkin karena aku ngerasa konflik batin dan perasaan Shira yang mengarahkan dia ke keputusan itu kurang dieksplor dengan baik. Jadi aku nggak bisa memahami kenapa Shira sampai di keputusan itu di bukunya, apalagi momen-momen bertemu Josh di buku justru menjelaskan kalau akhirnya Shira menemukan orang yang bisa memahami dia.
3. Awalnya aku mengira Josh dan temannya punya stok kepedulian terlalu tinggi untuk ukuran stranger, tapi setelah tau apa yang melatarbelakangi itu, aku rasa aku bisa mengerti. Aku juga merasa terwakili soal bunuh diri itu mungkin hal yang egois, dan menyelamatkan seseorang yang ingin bunuh diri itu karena kita juga ingin menyelamatkan diri sendiri dari rasa bersalah. Singkatnya; kita sulit murni melakukan sesuatu untuk orang lain tanpa mempertimbangkan efeknya pada diri sendiri.

Akhir kata, meskipun aku merasa writing-style penulis bukan seleraku, toh aku tetap menikmati jalan ceritanya dan merasa terwakilkan di beberapa bagian, jadi aku tidak sampai hati untuk memberikan rating rendah. Still worth to read.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for teresa .
55 reviews44 followers
January 19, 2024
Ngajarin tentang pentingnya mengungkapkan perasaan kita dengan jujur ke orang lain, mengikuti kata hati 💯 dan hidup perlu dijalani saja sesulit apapun.
Profile Image for myutokki ✶꩜ .ᐟ.
85 reviews12 followers
March 1, 2024
i cried reading this short book… i love the way Joshua and Shira celebrating their sadness… i felt it. i need new button so i could gave 4,5 as its rating please Goodreads make my dream comes true, soon. 🫶🏻
Profile Image for Liliyana Halim.
311 reviews242 followers
May 1, 2020
Sukaaa 🤩🤩🤩🤩. Terima kasih Kak Ruth sudah menuliskan cerita ini. Sudah mengingatkan lewat cerita didalam ini. Apa yang dirasakan Shira pernah aku rasakan sebagian.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,468 reviews73 followers
December 4, 2022
Oh maaan. Novel ini indah sekali. Dibaca dua kali pun keindahannya tetap terpatri kuat. Dalam sekejap saja aku langsung terhanyut dalam narasi monolog tokoh Shira dan kemudian Joshua. Yang menarik buatku pertama kali adalah, Shira itu tokoh dengan kepribadian yang nggak seberapa menyenangkan. Dimulai dari tingkahnya yang dengan songong menolak tawaran Joshua yang mau membeli obat Tolak Angin darinya dengan harga 50ribu rupiah. Dia sendiri juga mendeskripsikan dirinya dengan tidak seberapa positif. Tapi anehnya aku bersimpati pada tokoh ini karena aliran narasi dalam kepalanya. Ceritanya yang sendu soal ayah dan ibunya. Perasaannya pada 5 sahabatnya yang tertuang dalam surat-surat tak terkirim.

Joshua juga menarik. Dia bakal menyentil sisi kompetitif kita semua. Bagaimana dia terdidik untuk jadi juara dalam bidang musik sampai-sampai nggak peduli lagi dengan perasaan kakak dan adiknya. Yang penting dia selalu dapat pujian. Sampai akhirnya penyesalan demi penyesalan datang padanya secara bergantian. Mulai dari nggak sempat mengucapkan perpisahan terakhir pada ayahnya sendiri (yang sudah mendidiknya sedemikian rupa untuk jadi juara), kehilangan kesempatan untuk menemani kakaknya ke RS sehingga kakaknya harus menghadapi vonis kanker rahim seorang diri, hingga menolak berkomitmen sampai diputus pacar sekaligus sahabat yang sudah menjalin hubungan dengannya selama 8 tahun.

Tokoh Rio Hasegawa juga menarik. Dia yang pernah mencoba bunuh diri 3 tahun lalu sampai akhirnya telepon Joshualah yang menyelamatkannya. Dari dia mengalir untaian narasi dan dialog soal menjalani hidup dan kehilangan semangat hidup. Seniman tato ini jugalah yang mendorong Joshua untuk mencari Shira ketika tiba-tiba gadis itu menghilang.

Aku nggak nyangka kalo pada akhirnya novel ini akan berkisah soal usaha Joshua untuk mencari Shira yang dia duga menghilang karena mau bunuh diri. Whoa.

Satu lagi yang kusuka dari novel ini. Deskripsi suasananya yang detail sampai berfungsi seperti kamera yang merekam berbagai montase atau video stock dalam film. Deskripsinya bisa tiba-tiba menceritakan pasangan di kereta api, nenek di tepi jalan, dan figur-figur lain yang tidak ada hubungannya dengan cerita utama. Tapi semua itu disajikan dengan teknik yang halus sehingga tidak mengganggu apalagi sampai mengalihkan perhatian dari adegan yang sedang berlangsung. Semua deskripsi itu justru menjadi pembangun suasana cerita dengan apik. Ya rasanya seperti sedang menonton film. Belum lagi foto-foto hitam putih suasana Tokyo yang juga disajikan dengan cantik di sela-sela pergantian bab.

Ketika membacanya untuk pertama kali, aku menyayangkan perasaan Shira menjelang akhir cerita yang tidak dijelaskan dengan detail. Hanya ada beberapa baris kalimat di bagian epilog, tapi buatku nggak cukup menggambarkan bagaimana dia akhirnya mengambil keputusan di bagian akhir buku. Saat itu aku memberi buku ini empat bintang karena berharap sudut pandang Shira diperlihatkan di sela-sela adegan Joshua yang mencarinya. Tapi setelah membacanya untuk kedua kali, aku merasa buku ini sudah baik sebagaimana adanya. Jadi kali ini kububuhkan bintang lima sempurna untuknya.

Membaca buku ini adalah pengalaman yang memuaskan. Seperti dihadapkan pada sisi-sisi yang tidak menyenangkan dari setiap orang yang pernah singgah dalam hidup kita. Terutama dari bagian ketika Shira menceritakan kelima sahabatnya. Kelima orang ini terasa begitu hidup meskipun hanya muncul dalam flashback yang mengiringi narasi setiap surat.

Rasanya aku nggak puas hanya membacanya sekali. Rangkaian kalimatnya itu loh, bikin aku pingin mengutip seluruh isi buku ini secara utuh. Aku akan membacanya lagi nanti.

Terima kasih untuk sajian perayaan kesedihannya, Mbak Ruth... Bagaimanapun kesedihan adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup siapa pun. Terlalu pahit untuk dibicarakan maupun dikenang, tapi terasa begitu melegakan ketika bisa melaluinya untuk kemudian bertahan hidup sehari lagi, lalu sehari lagi dan lagi.
Profile Image for Lala.
128 reviews46 followers
March 12, 2021
3,7/5 🌟

“Mungkin saya dan semua orang lain, sama-sama takut buat mengatakan kebenaran, dan sebaliknya, menyampaikan apa yang orang lain mau dengar saja..”

Pertama-tama mari kita apresiasi dulu keindahan cover-nya yang indahnya bukan main.

Kedua dan seterusnya, buku ini sarat akan kata “sedih”, sebab, tokoh utama kita, Shira, adalah seorang perempuan yang tengah kabur ke Tokyo sembari menguarkan duka kesedihannya, yang terus memancar kesana kemari. Bertemu dengan Joshua, seorang musikus yang tengah mengadakan resital. Di adegan-adegan selanjutnya, kita dapat menemukan mereka mengitari kota Tokyo bersama, sambil berbagi cerita hidup.

Aku suka banget sama foto Tokyo orisinil yang diambil oleh Kak Ruth ketika tengah berada di kota tersebut. 😭❤️ Lewat foto itu, aku bisa ikut merasakan apa yang dirasakan para tokoh. Dingin & senyap meski ramai. Feel-nya lebih dapat, lebih terasa “hidup”. ❤️

Sebuah perjalanan singkat—tetapi berat—milik dua orang. Aku bisa tahu karakter dan kisah hidup dua insan tersebut dari narasi yang dibangun Kak Ruth. Aku paham sakit hatinya, alasannya. Pesan cerita ini cukup menyentuh hati. Hanya saja aku merasa porsi cerita Shira nggak sebanyak Joshua padahal sama pentingnya.

Tentang dua orang dengan pikiran berkecamuk mengenai hidup, penyesalan, kesedihan tak berujung, menyerah pada hidup, kesempatan kedua, dan sandaran baru. Ini bukan kisah romansa, karena kalian nggak akan menemukan hint tersebut antara Shira-Joshua, melainkan akan menemikan; luka hati dan batin. Namun, sama seperti karya Kak Ruth sebelumnya, buku ini bisa dikategorikan sendu meski tidak sekelam karya lainnya.
Profile Image for isaiah.
159 reviews
July 24, 2022
this book is simple yet so meaningful. there were some characters i could relate to. tapi sayang, beberapa penulisannya membingungkan.

ada karakter yang harusnya ngomong pake ‘saya-kamu’, malah pake ‘gue-lo’. begitu pun karakter lain, ‘gue-lo’ malah jadi ‘aku/saya-kamu’. i dunno if these are big deals or nah, tapi menurut aku, ini agak ganggu.

sedikit bingung but overall, i love the plot!! 💖
Profile Image for Icha.
61 reviews38 followers
July 3, 2020
Kak Ruth kalo nulis memang suka membekas. Ya ampun. Related sama keadaan dibuku ini. Ky lagi baca diary diri sendiri. Bikin nambah berpikir juga tentang kehidupan.
Apa kehidupan ky gini layak dijalani? Apa sebaiknya aku nyerah saja biar ga nyusahin org lain?
Profile Image for Syifa Luthfianingsih.
251 reviews95 followers
May 3, 2020
Meski bisa disudahi, hidup ini juga berhak dijalani.

Kadang hanya butuh satu pesan, satu pelukan, satu panggilan telepon untuk seseorang bisa bertahan hidup.
Profile Image for Szasza.
246 reviews22 followers
October 4, 2022
“Tidak ada ruang untuk perasaan kita yang sebenernya. Kota ini sudah penuh sesak dengan kebohongan dan ketidakjujuran. Penuh sesak dengan keegoisan dan keserakahan. Yang sedih akan mati. Yang hancur akan hilang. Yang menderita akan lenyap” p.95

Novel berisi 192 halaman tentang Shira yang melarikan diri ke Tokyo untuk menemukan penyelsaian atas segala permasalahan hidupnya. Di Tokyo untuk pertama kalinya Shira merasakan aroma kebebasan dan pertama kalinya ia menjadi Shira doang tanpa beban ekspetasi orang lain terhadapnya.

Dari awal novel ini sudah bernuasakan sendu, dibuka oleh pembuka yang menutup serta di sisipkan gambar gambar hitam-putih yang makin bikin novel ini terasa gloomy. Aku suka bagaimana penulis menuliskan keresahan-keresahan yang dirasakan Shira mulai dari tentang keluarganya, rekan kerjanya, serta sahabat-sahabatnya, kadang kala pas aku membaca buku ini ada beberapa bagian yang too close to hit home.

“apakah gue memang selalu meromantisasi kesendirian gue? Apa jangan-jangan gue yang selalu memelihara kesedihan gue?” p.65

Saat di Tokyo Shira bertemu dengan Joshua yaitu seorang musisi Indonesia yang kebetulan sedang menggelar konser resital di sana. Pertemuan-pertemuan yang tidak disengaja akhirnya membuat mereka memutuskan melakukan perjalanan bersama. Sebuah perjalanan singkat selama 7 hari yang cukup membekas untuk mereka.

Dari segi karakrerisasi dua karakter sentral ini cukup kompleks menurut ku, mereka mengemban luka batin masing-masing, belajar tentang kesedihan, trauma masa lalu, serta bagaimana memanusiakan manusia. Luka yang dialami kedua tokohnya sangat relateable menurutku dan sering kali kita alami, ketika membaca ini ada beberapa part yang shira atau joshua yang pernah di alami oleh aku sendiri.

Hal yang aku kurang suka dari buku ini adalah penggunaan gue-elu atau saya-kamu yang tidak konsisten. Overall its not a perfect book but still a good one.

P.s Setelah melihat penjelasan penulis di kolom review goodreads aku merasa ending nya sangat masuk akal. Kadangkala menemukan orang yang tepat saja tidak cukup untuk menjadikan alasan untuk tetap hidup.
Profile Image for Stef.
590 reviews190 followers
May 2, 2020
"aku sendiri tidak sepenuhnya paham. Rasanya seperti salah tempat dan sulit rasanya menjadi bahagia di tempat di mana kau merasa tidak diterima."

Selesai baca ini pas menuju tengah malam dan ntah bagaimana aku merasa kosong, seperti tersedot dengan kesedihan-kesedihan Shira T^T. Di satu sisi cerita aku merasa related dengan Shira, mulai dari kesedihan dari perlakuan keluarga nya dan bagaimana dia menjalani hari-hari dengan suara-suara orang lain yang menuntut dia begini dan begitu dan berakhir menunjukan sisi versi dirinya yg hanya disukai orang lain tanpa orang-orang di sekitar nya melihat her trueself. Terkadang memang kesedihan yang terlalu terpendam memakan semua jiwa dan hidup, dan memicu pengharapan untuk mengakhiri semua. The best part Shira masih di pertemukan dengan orang yang benar mencarinya dan merayakan kesedihan bersama, something that I can't related in my life.

Well, Seperti kebahagian yang sering nya di rayakan dengan suka cita oleh kebanyakan orang, Kesedihan pun harus nya dirayakan sama halnya dengan kebahagian. Karena kedua nya saling melengkapi untuk merasa hidup baik-baik saja.
Profile Image for anggiareads.
51 reviews44 followers
April 9, 2023
Sebenarnya aku ingin memberi bintang 3,5 sih..
Dibalik covernya yg bagus banget, tp menurutku ceritanya kurang panjang haha, masih ada beberapa bagian yg buatku bertanya2.. Atau ini memang cara penulis untuk bercerita ttg shira dan joshua?? Bagaimana bertemuan dan perpisahan mereka? Tentang penutup yg membuka?
Intinya sih.. Tetaplah hidup.. Dibalik semua kesedihanmu dan masalahmu dengan kehidupan ini.
Masih akan ada satu orang setidaknya yg peduli padamu di di dunia ini. Pasti.
Profile Image for ey.
24 reviews11 followers
May 18, 2023
"Justru ide bahwa aku harus hidup yang membuatku ketakutan setiap hari."

A simple but meaningful story about life and the choices to live it.

Shira, sayang, you did well. I love you so much, terima kasih sudah berjuang.

Buku ini begitu singkat tapi bagus, kayak, enggak perlu banyak babibu dan kamu udah tau sebenarnya mau dikasih tau soal apa oleh Shira dan Joshua di sini. Aku sempat diam dan merenungi diri, bingung, apakah dunia emang sejahat itu sama Shira. Shira di mataku kelihatan kayak seorang gadis yang sebenarnya tau cara untuk hidup, tetapi dibatasi oleh kesedihan dan rasa takut yang menggerogotinya.

Makanya, ketika Joshua memeluk Shira, aku di situ merasa lega, kayak seakan-akan Shira diperbolehkan untuk merayakan kesedihannya dan meluruhkan rasa takutnya tentang hidup. Terima kasih sudah jadi orang baik, Joshua.

Overall, might give it 3,5—but decided to give it 4 stars because of Shira (and Shira only).
Profile Image for ☆ chu ☆.
99 reviews17 followers
June 13, 2022
"kita semua egois untuk hal-hal yang kita sayangi, Josh. ini bukan perlombaan"

hidup bukan perlombaan



wah ga nyangka buku ini bakal sesedih dan sehampa itu rasanya pas baca🥲 buku yg bisa diselesaikan dalam sekali duduk, tapi after effectnya berasa bgt... aku suka narasinya! kak ruth describe all the situations and emotions really well👍🏼

aku saranin kalo mau baca ini pas kondisi kalian lg stabil dan baik-baik aja ya🥲
Profile Image for Autmn Reader.
890 reviews93 followers
July 16, 2020
Baca di Gramedia Digital

2,8 sih, ehehe.

Buku ini kubulatkan ke angka tiga dan dapet lebih 2,5 karena cerita kakaknya Joshua. Aku juga suka pake banget ama foto-foto di buku ini. Waktu aku baca bagian Shira, aku ngerasain sendunya tapi ya udah, waktu baca Joshua dan nyeritain kakaknya, aku tertarik banget ama cerita kakaknya Joshua, huhu. Aku pingin lebih banyak cerita dia, ahaha

Oh di bagian awal-awal juga aku rada keganggu ama narasi yang berubah dari gue ke aku. Walaupun cuman di beberapa paragraf aja, sih. Tapi tulisannya emang bneran indaaag bangeet. Sendunya kerasa memang, walaupun gak yang menyentuh.

Aku juga rada gagal paham ama endingnya karena dianya datang tiba-tiba dan out of nowhere gtu lho.

Tapi selebihnya aku enjoy kok baca cerifanyaa, heuheu
Profile Image for Akaigita.
Author 7 books240 followers
July 9, 2020
Haduh baca novel ini aura mendungnya berdampak keras ke aku. Jadi sedih terus bawaannya hari ini. Oh andaikan ada buku versi berwarna, kuingin melihat Tokyo dan warna-warna aslinya di buku ini.
Shira itu aku bangetlah. Overcontrolled, nggak bisa mengekspresikan emosi karena orang sekeliling bakal langsung bilang "jangan lebaylah", dan nggak pernah dapat kesempatan pergi ke mana pun seorang diri. Shira mendingan. Tapi nggaklah. Aku belum secapek Shira. Mudah-mudahan Shira nggak capek lagi. Tuh makanya Tolak Angin diminum hih.
Profile Image for Nining Sriningsih.
361 reviews38 followers
April 26, 2020
*baca gratis di Gramedia Digital
lagi ada promo ebook gratis, sampai tanggal 2 Mei, novel ini salah satu'y..
=)

ehmm..
q lihat promosi'y waktu di adain Pre Order sama Gramedia..
pas baca sinopsis'y, kurang tertarik..
pas lihat cover'y sich tertarik..
:D

untung ada promo dari Gramedia Digital, jadi bisa baca gratis..
:p

nggak sesuai ekspetasi q sich, dari cover yg menarik..
cerita'y q ga dapat feeling'y sama sekali..
aneh aja gitu..
truz ending'y apalagi, yg tiba" Shira muncul gitu aja..
:p
Profile Image for DEE.
254 reviews3 followers
May 29, 2022
Aku nangis jelek banget baca ini.

“Menjadi terbuka adalah sesuatu yang asing untuk kami dan rasanya tidak dapat dipelajari dalam semalam saja,” this runs deep in my family too.
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
April 19, 2020
Mari kita apresiasi pemilihan skema warna kovernya karena kombinasi ungu dan hijau dalam rana yang pas menjadikan ilustrasinya grounded sekaligus mencolok. Napas Jepangnya pun kentara. Suka!

Di ulasan ini pula saya mencoba untuk tidak terlalu memasukkan judul novel lain yang mengingatkan saya entah karena ada kemiripan maupun bertolak belakang, karena takutnya jadi membanding-bandingkan yang tidak baik meski niat saya jauh dari itu. Terlepas dari itu, novela ini punya ciri khasnya yang cukup standout menilik pengarangnya yang dikenal dengan cerita-cerita sendunya.

Pace-nya oke banget. Timing pergantian sudut pandangnya juga pas. Sebetulnya ini karya penulis pertama yang saya baca, jadi ini kali pertama saya mencicipi 'kesedihan' yang dituangkan penulis. Hubungan Shira dan Joshua unik, mengingatkan bahwa siapa pun bisa menyelamatkan orang lain. Kita bisa menyelamatkan orang lain.

Pesannya indah, akhirnya mengharukan, nggak butuh lama buat saya untuk bersimpati dengan tokoh-tokohnya. Barangkali karena saya cukup familier dengan istilah-istilah Jepang di sini, saya bisa lancar membacanya. Tapi kalau saya sama sekali tidak tahu, mungkin saya bisa sedikit kebingungan karena tidak adanya catatan kaki sama sekali.

Oh, mungkin foto-fotonya bisa jadi ganti dari catatan kaki itu, ya? Seperti foto yang menampilkan deretan papan kayu Ema.

Saya kurang sreg dengan kata 'memvalidasi' dan 'meromantisasi' di sini, terdengar Amerika untuk latar Jepang dalam novel berbahasa Indonesia. Lalu mengenai foto-foto yang wajah orangnya terlihat, apa boleh tetap ditampilkan? Tapi sepertinya sih boleh, karena bukan buat kepentingan yang macam-macam juga. Suara Shira sempat hilang konsistensi 'gue'-nya di halaman 25 menjadi 'aku' dalam dua paragraf, tidak banyak tapi cukup kentara.

Adegan favorit saya yaitu di Yokohama, penuh dengan kontras, seperti kitchen set dengan kabinet biru gelap dan countertop marmer putih (maafin anaknya lagi terobsesi dekor rumah).

Secara keseluruhan, novel ini menghibur sekaligus penuh renungan, juga memotivasi untuk bisa travelling sembari berkarya. Ini sepertinya buku terpendek penulis, ya? Kalau yang singkat saja bisa sepadat ini sedihnya, gimana yang panjang ya wkwk. Bisa siap-siap tisu yang banyak...
Profile Image for Nureesh Vhalega.
Author 20 books153 followers
July 24, 2022
Punya buku ini sejak 2 tahun lalu, kado dari sahabatku. Aku sendiri nggak tahu kenapa akhirnya mau baca padahal kondisiku lagi nggak terlalu baik. Cuma anehnya, setelah menyelami kesedihan Shira dan kelamnya hati Joshua, aku merasa agak "kuat". Aku bisa napas dengan lebih mudah. Buku ini mengingatkan bahwa aku nggak sendirian.

Suka banget sama susunan kalimatnya, karakterisasinya, juga deskripsi perjalanannya. Aku sampai merasa jalan-jalan ke Tokyo hari ini wkwkwk.
Profile Image for Maudi.
29 reviews24 followers
September 9, 2022
Dari buku ini aku belajar kalo semua perasaan itu valid. Kamu mau sedih, kamu mau seneng, kamu ngerasa capek, itu wajar. Kamu perlu mendengarkan suaramu sendiri. Gak perlu nurutin omongan orang lain.

Bukunya lumayan gloomy. Diselingi foto-foto berbagai tempat di Jepang yg justru menurut aku menambah kesan gloomynya. Kayak ikutan kosong aja gitu ini hati. Tapi di sisi lain berasa diajak jalan-jalan juga.
Profile Image for Kla.
58 reviews4 followers
January 31, 2024
Wow. This novel hits me hard page by page. Such a sad book but surprisingly I enjoyed this book.

"Meski dapat disudahi, hidup juga berhak dijalani."

This book really describe what we, people, do feel about life. Life is unfair, life is lying to us, life is chaotic and we were just too busy being miserable. Sometimes we just need someone who understands us, who is willing to listen to us and feel what we feel. Kadang manusia cuma mau tau, apakah bakal ada yang nyari dan mengkhawatirkan dia ketika dia udah enggak ada dijangkauan orang-orang lagi. Sometimes people just want a Joshua in their life.
Profile Image for hvmaniora.
45 reviews5 followers
November 28, 2025
Bagiku, sebetulnya cerita Shira dan Joshua di Tokyo punya potensi yang cukup baik jika dikembangkan dengan lebih detail lagi. Sayangnya, ada kesan seperti terburu-buru yang kutangkap dari sini. Mulai dari bolongnya plot di sana-sini, sampai pada inkonsistensi penggunaan kata ganti. Namun, ya, sebagai sebuah bacaan selingan masih oke aja sih.
Displaying 1 - 30 of 463 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.