Lewat pendekatan fenomenologis Merleau-Ponty berhasil memecahkan sebuah batu solipsistik yang telah lama dinyatakan bertuah dalam kebudayaan filsafat Barat pasca Descartes (1596-1650) (istilah ini kupinjam dari seorang filsuf Amerika, Daniel Dennett 'breaking the spell'). Diktum Cogito Ergo Sum yang mengatasnamakan akal budi di atas segala sesuatu dibantah dengan bentuk 'ketubuhan' sebagai penanda eksistensi paling koheren dengan realitas. Aku sulit berbicara banyak-banyak, tapi di sini ada garis bawah penting jika bentuk hidup manusia selalu mengandalkan bentuk materil (body), bukan sekadar immateril (mind) yang banyak diyakini dalam dunia pengetahuan—terutama filsafat. Dunia dengan wujud fisik, harus dicapai juga dalam keadaan fisik untuk menjalin suatu harmoni dalam interaksi... kita tidak mungkin hanya mengandaikan gagasan, dunia terbentuk karena kita sentuh—bukan sekadar karena kita proyeksikan dalam kepala.
Topik tersebut juga menemukan suatu relevansi dengan aktualitas sosial kita saat ini, yakni munculnya sistem kecerdasan buatan (AI). Aku sudah tidak sanggup menjelaskan panjang-panjang, tapi bagaimanapun (dipandang dari perspektif fenomenologi ala Merleau-Ponty) sesuatu yang nir-tubuh hanya akan menciptakan kekosongan realitas, karena tubuh merupakan 'jangkar' manusia di bumi.
Buku ini mengulas dengan terperinci, saya jadi berkenalan dengan salah satu filsuf Prancis yang masih sangat asing ini. Terima kasih, Pak Thomas!