Jump to ratings and reviews
Rate this book

Garis Lurus

Rate this book
Tidak banyak yang tahu Miko Satrio menjalani hidup yang tidak mudah sebagai pengidap asperger dan Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Ia kesulitan memahami hal yang berkaitan dengan rasa dan imajinasi. Pikirannya benar-benar selogis 1+1=2. Bahkan terkadang orang-orang sekitar melihatnya bagai robot yang tak berperasaan.

Tapi benarkah begitu?

Sebuah surel dari klien misterius meminta Miko terlibat dalam pembangunan vila di Bali. Tak disangka, itu menjadi awal jejak masa lalu yang membawa Miko ke titik terbaik dalam hidupnya. Mempertemukannya kembali dengan orang-orang yang mengajarinya bahwa garis arsitektur tidak selalu lurus. Orang-orang yang mengajarinya tentang rasa. Tentang menjadi manusia. Dan di atas segalanya, mengajarinya tentang cinta.

Cinta bisa sederhana. Bisa rumit. Tapi bagi pengidap asperger seperti Miko, cinta bisa mengancam jiwa.

296 pages, Paperback

First published September 9, 2019

9 people are currently reading
87 people want to read

About the author

Arnozaha Win

1 book1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
16 (19%)
4 stars
30 (36%)
3 stars
26 (31%)
2 stars
10 (12%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 30 of 36 reviews
Profile Image for Ossy Firstan.
Author 2 books102 followers
October 2, 2019
Membaca isu "Asperger" dan "OCD" di blurb tentu saja menarikku untuk membuka buku ini via Gram-dig. Namun, isu yang besar ini terasa kurang dapat kunikmati.
Namun baru di halaman awal, dahiku sudah berkerut-kerut sendiri. Miko ingin bertemu dengan klien karena merasa cocok di email (?). Lalu, halaman berikutnya bilang, Miko nggak suka ketemu orang baru (?). Semacam inkonsistensi, gitu.
Halaman demi halaman kulalui dengan susah payah. Bukan novel ini yang salah. Mungkin gaya bertutur Miko yang too much information dan too much telling itu... bukan my cup of tea. Mungkin aku berekspektasi terlalu tinggi juga dengan novel ini karena membawa isu yang besar.
Jujur, aku tidak tahu, ketidaklancaran dan perasaan yang bosan dengan apa yang dituturkan Miko adalah bentuk karakteristiknya sebagai Asperger atau kekurang smoothnya penulis menyampaikan sesuatu? Aku tidak tahu. Penulisnya kayaknya perlu rilis buku baru biar aku tahu kalau ketidaklancaran yang kurasakan itu adalah bentuk dari karakter asperger atau memang gaya nulisnya nggak cocok aja di aku ')

"Aku biasa aja, bukan sakit gila kayak skizofrenia yang berhalusinasi gitu." (Miko, hal 254).
Aku agak kaget membaca ini. Kukira, mengatakan semacam ini bisa diminimalisir meskipun keluar dari mulut Miko. Karena asistennya Miko pun berkata semacam itu sebelumnya. Kenapa harus terkesan 'merendahkan' skizofrenia gitu, sih?

Baik, kurasa itu saja. Maafkan kalau ocehanku mungkin tidak menyenangkan, dan sukses!
67-2019
Profile Image for Ipeh Alena.
543 reviews21 followers
September 15, 2019
Satu bintang untuk idenya yang masih jarang saya temui. Mengangkat profesi arsitek.

Satu lagi untuk sedikit lika liku dunia desain.

Sisanya. Sungguh ini novel banyak banget bagian nyeramahinnya. Lebih banyak tell ketimbang show. Trus berkali-kali disebut itu OCD dan asperger seolah belum puas. Padahal saya ya udah tau gitu. Tapi sebagai OCD si tokoh buat saya ga menampakkan sama sekali sisi itu. Cuma bagian dimana dia harus memastikan isi ruangannya berada di tempatnya.

Trus ide tentang profesi arsitek memang sedikit di angkat. Tapi ga banyak porsinya buat saya. Masih kurang spesifik sehingga saya ga begitu dapet ilmu atau wawasan baru atau pesan atau apalah itu dari novel ini.

Sepanjang baca ini rasanya cuma hmmm..... Aja bawaannya.
Profile Image for Afy Zia.
Author 1 book116 followers
October 4, 2019
2,7 bintang.

[ULASAN INI BERISI PENDAPAT PRIBADI DAN SPOILER MINI!]

Garis Lurus (GL) nyeritain perjalanan Miko yang harus melewati fase jatuh-bangun dalam hidupnya. Hal itu juga sedikit banyak dipengaruhi oleh penyakit asperger dan OCD yang ia derita.

Pertama, saya mau mengapresiasi kovernya yang minimalis tapi tetap ciamik. Putih dan minimalis adalah perpaduan dua hal yang selalu memanjakan mata saya.

Kedua, premis penyakit mental (asperger + OCD) dan arsitektur menarik perhatian saya. Kedua isu ini, bagi saya, menjadi perpaduan yang unik. Hal ini juga lah yang bikin saya tertarik membaca Garis Lurus.

Buku ini pake sudut pandang orang pertama (Miko). Sayangnya, saya merasa karakter Miko ini kurang... hidup? Atau ini memang disengaja karena Miko dideskripsiin sebagai manusia tanpa perasaan karena penyakit aspergernya? Kalo iya, berarti penulis berhasil menciptakan tokoh yang sangat minim emosi. Tapi hal itu―menurut saya―bisa jadi bumerang karena saya kesulitan merasakan emosi dengan ceritanya.

Lalu, cerita ini―menurut saya―lebih banyak "tell" ketimbang "show". Banyak adegan menjelaskan/tell yang jatuhnya malah terkesan agak trivia. Hal ini juga bikin saya agak bosan. Tapi selera lho yaa. Kalo kalian suka trivia berbau arsitektur gitu, buku ini mungkin bisa memenuhi dahaga kalian.

Masih nyambung sama paragraf sebelumnya, saya agak menyayangkan ketidakhadiran catatan kaki (foot note), terutama pas lagi nyeritain hal-hal berbau arsitektur. Ada beberapa istilah yang membuat orang dengan wawasan arsitektur minim seperti saya jadi mengernyit bingung.

Oh ya, GL punya alur maju-mundur. Pas Miko udah dewasa/kerja dan pas dia masih kuliah. Tapi cerita ini lebih nitikberatin Miko waktu masih kuliah di jurusan Arsitektur ITS.

Kalo boleh jujur, ada satu eksekusi yang―menurut saya―terasa 'kasar', yakni pas [SPOILER ALERT!!!] Miko ngerasa kehilangan karena salah satu orang terdekatnya meninggal dan ninggalin kuliah begitu aja. Seolah tanpa beban. Pertanyaan saya adalah: apakah semudah itu untuk ninggalin kuliah? Apalagi nggak ada gejolak batin sama sekali berkaitan dengan keputusannya ninggalin kuliah. Ibu Miko pun nganggep itu kayak angin lalu aja.

Dan sejujurnya saya agak bingung (sekaligus kesel) sama tokoh Rina. [SPOILER ALERT!!!] Di halaman 26, dia sempet bilang gini: "Saya cum laude, lulus dengan predikat sangat memuaskan, dan cuma tiga tahun di UI, lalu menjadi Personal Assistant? Anda serius?"

Dari cara dia berbicara, keliatan banget betapa sombongnya dia dengan status pendidikan yang dia punya. Lalu saya keinget cuitan di Twitter yang sempet viral beberapa waktu lalu. Intinya kurang lebih sama kayak Rina. Ada pelamar kerja yang angkuh sambil nyebut nama kampus bergengsinya. Endingnya? Yang viral di Twitter ditolak, sedangkan Rina diterima. Agak disayangkan karena kejadian Rina ini jadi terasa kurang realistis, menurut saya.

Sekali lagi, ini cuma pendapat saya pribadi yaa.

Kalo kalian penggemar dunia arsitektur, boleh dicoba buku ini. Siapa tau cocok. :)

Mohon maaf jika ada kalimat yang kurang berkenan. Semangat terus untuk karya-karya penulis berikutnya! 🙏🏼
Profile Image for Atique euqita.
150 reviews6 followers
November 10, 2019
2,5 Buku ini terbagi dari beberapa bab yang berkisah akan tokoh utama Miko, seorang arsitek owner dari Miko House yang juga seorang pengidap asperger dan OCD. Yang terobsesi dengan Garis Lurus.

Bab-bab awal tentang kesibukan Miko sebagai seorang principal architect mengenai desain, tim work dan klien. Rasanya 3/4 dari isi buku berisi flash back seorang Miko dan tiga kawan lainnya selama mereka kuliah di kampus ITS. Saya tidak akan mereview tentang OCD ataupun Asperger disini. Tapi persahabatan antara Miko dan tiga orang temannya yang juga unik dimata orang lain pada umumnya.

Dream, hijaber yang selalu memakai jubah hitam dengan hijab warna mencolok, made yang casual tapi berambut orange serta RH yang bongsor tinggi besar. Mereka saling melengkapi, mendukung juga intens dalam berargumen akan ide masing-masing. Sisi argumen ini bikin Boring dan terus mengulang OCD ...

Teori-teori arsitektur, arsitek kenamaan beserta karya-karyanya menjadi acuan dan kiblat yang berbeda bagi empat sekawan ini. Membaca kegiatan mereka dikampus juga mngajak saya flash back pada masa kuliah dulu di jurusan yang sama meski di kampus yang berbeda. Teringat tugas disemester awal yang harus menggambar garis lurus free hand tanpa bantuan mistar memakai pensil mekanik dengan berbagai arah dan sudut. Sayangnya saya tidak seantusias mereka dalam mengejar mimpi dan visi masa depan. 😁 Maka dari itu sayapun jadi orang yang biasa2 saja tanpa firma atau konsultan arsitek 😇.

Cerita jadi haru bagi saya saat mereka kompak untuk mendesain dan merivitalisasi kawasan kumuh dekat TPA , pertemuan dengan seroja gadis cilik berumur delapan tahun menimbulkan perasaan yang berbeda diantara mereka berempat utamanya Miko yang OCD. Serta Made yang juga sebagai orang penting yang banyak berperan dalam perubahan Miko secara psikis dan 'memanusiakannya'.

*Bagi saya di 1/3 buku sudah bisa menebak siapa klien misterius di awal bab 😊 dan kebanyakan penekanan kata 'saya OCD oleh sipenderita'.
4 reviews
September 25, 2019
I my self is an Aspies, dan membaca buku ini seolah adalah membaca sebuah memoar nyata (mengingatkanku pada novel insiden anjing di tengah malam yang bikin penasaran). Cara penulisannnya benar benar membuatku berpikir bahwa mungkin penulis adalah seorang aspies, atau bener-bener menyelami tentang bagaimana seharusnya seorang aspies menulis. Bahkan hal yang membuat orang lain bosan pun dia tetap tempelkan di buku ini tanpa takut dicerca sebagai karya yang membosankan, bagiku ini lebih kepada "sastra aspies", penulisannya begitu baku, dull, tak terpoles, banyak bicara sendiri, repetitif, menuangkan pemikiran yang terlalu banyak diotak (seakan dialog itu adalah kriptonit), apa adanya dan nyata, persis seperti pemikiran seorang aspies.
Diawal buku lebih banyak ditulis seakan ini adalah buku non fiksi, bagi orang yang suka baca fiksi pasti akan bosan, tapi menginjak di bab pertengahan (saat flashback) baru muncul sebuah cerita yang sesungguhnya.
Mungkin dibutuhkan kesabaran untuk membaca buku ini. Anggaplah sedang berhadapan dengan Aspies.
Profile Image for Amal Bastian.
115 reviews4 followers
September 22, 2019
Membaca novel ini seperti baru saja berjumpa dengan kawan lama, setelah menanyakan kabarnya, dia menjawab sembari memberikan buku ini, “I’m good!” Dan Anda menghabiskan 2 jam membaca kisah perjuangan hidup, tragedi, cinta, dan satu hal yang membuat dahi Anda mengernyit, “Well, akhirnya saya tahu kenapa saya gagal masuk Teknik Arsitek & Desain Produk ITS!” Inspiring, informing, & entertaining!
Profile Image for Indri Octa Safitry.
Author 1 book18 followers
June 22, 2020
"Kau mungkin tidak sempurna, tapi Tuhan tidak pernah membuat kesalahan dalam menciptakan makhluknya." (hal. 84)

Miko Satrio, seorang yang mengidap penyakit Asperger dan OCD. Membuat dia berbeda dengan yang lain. Bahkan, dia hanya berpikir kalau dia tidak seharusnya lahir di jaman ini. Secara, pikirannya terlalu logis. Selogis 1+1=2 selain itu pun dia seakan tak memiliki perasaan sedih, gembira, marah sekalipun
Tapi, saat dia kuliah di jurusan Arsitek dan juga memiliki 3 sahabat. Dia perlahan belajar banyak hal. Terlebih tentang bersosialisasi. Walau tetap, rasanya sangat sulit.

Apakah Miko akhirnya bisa belajar hidup normal layaknya orang lain?

Dari judul aku suka tertarik, terlebih blurbnya. Membahas tentang Asperger dan OCD. Karena baru dengar jadi kepo. Dan, yah akhirnya aku paham apa yang dialami miko
Ceritanya mungkin unik dan yah, lebih cenderung ke perjalanan hidup Miko dan dunia Arsitek, walau aku agak kurang paham sama dunia Arsitek. Tapi, masih nyaman dibaca
Penjelasan tokoh nya cukup detail. Gimana Miko menghadapi penyakitnya, gimana 3 teman2nya yang berusaha membantu Miko menjalani hari2 di kampus. Cuma mungkin emang Miko tanpa ekspresi jadi gemas sendiri gituh aku sama kelakuannya
Plot twistnya cukup ngagetin sih. Walau, yah, kebanyakan menceritakan masa lalu. Endingnya kurang puas karena nggak ada kisah Miko masa sekarangnya gituh hehe
Overall, suka dan worth it untuk yang mau mengenal tentang Asperger dan OCD. Terlebih untuk kita yang normal belajar menghargai banyak orang
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,430 reviews72 followers
January 5, 2021
Miko, pemilik jasa konsultan arsitektur yang memiliki asperger dan OCD. Otaknya berfungsi seperti AutoCAD. Ia bisa menggambar desain dengan detail hanya dalam kepalanya. Kekurangannya, ia tidak memahami emosi manusia, tidak mengerti majas dan metafora, gaya bicara kaku seperti robot, dan sangat maniak kebersihan.

Suatu hari ia mendapat klien aneh bernama Diandra yang hanya berkonsultasi dengannya terkait pembangunan vila di Unggaran via email. Diandra tampak sangat mengerti arsitektur. Tapi jika demikian, mengapa ia membayar arsitek lain untuk mendesain sesuatu yang harusnya mampu ia lakukan sendiri? Kita akan dibuat terus menebak-nebak soal siapa Diandra sebenarnya. Jati dirinya baru akan terungkap di akhir cerita, tapi jika kita anteng menyimak jalinan kisahnya, kita bisa langsung menduga siapa dia sebenarnya.

Berikutnya yang akan bikin kita penasaran adalah bagaimana Miko bisa bertahan sampai menuju puncak, memiliki usaha jasa konsultasi arsitektur ternamanya sendiri dengan kondisi asperger plus OCDnya yang memuaskan? Kita harus mengikuti flashback hingga dua puluh tahun kemudian, ke masa tahun 1998.

Di linimasa terkini dalam cerita, tahun 2018, Rina, sekretaris Miko, lalu menyertakan portofolio hasil karya Miko yang berkaitan dengan proyek pembangunan untuk masyarakat kelas menengah ke bawah untuk sebuah Award di Jerman. Hasilnya Miko menang, diundang TED untuk berpidato, dan semua itu membawa Miko pada kenangan akan 3 sahabatnya semasa di ITS. Para sahabat yang sudah mengiringinya dalam proyek sosial pertamanya, kawasan royal slump di Keputih, sekaligus yang sudah mengajarkannya soal rasa dan apa artinya menjadi manusia yang mengenal emosi.

Setelah itulah kita akan dibawa menjelajahi masa lalu Miko yang penuh haru biru. Isi kepala Miko yang berbeda dari orang biasa akan terus membuat kita pengin ngakak. Astaga....
Profile Image for Fahri Rasihan.
478 reviews123 followers
October 25, 2019
Mendengar premis cerita tentang arsitektur, asperger, dan OCD langsung membangkitkan rasa penasaran saya. Bagaimana ketiga elemen ini merupakan sesuatu yang baru dan unik dalam membangun sebuah cerita. Tak kalah dengan premis ceritanya, sampul bukunya pun menjadi daya pikat yang tak bisa dihiraukan. Ilustrasi sebuah bangunan bergaya modern dan minimalis berpadu dengan latar berwarna putih menciptakan visualisasi sampul yang elegan, indah, dan memikat. Jujur saya terpesona dengan sampul bukunya yang bergaya, tapi tidak tampil berlebihan. Selain itu sampul bukunya juga sangat relate dengan ceritanya yang berhubungan dengan arsitektur. Sebuah komposisi gambar dan warna yang berhasil menciptakan estetika.

Garis Lurus memiliki tema cerita tentang arsitektur dan mental illness. Kedua hal yang sebenarnya sangat kontras, tapi berhasil dipadukan menjadi sebuah cerita yang menarik. Bagaimana Miko yang mengidap asperger dan OCD harus berjuang untuk menempuh cita-citanya sebagai arsitek. Miko yang tidak bisa merasakan emosi dan cenderung cuek hanya bisa memikirkan arsitektur di dalam kepalanya. Akibatnya Miko dianggap aneh dan tidak normal. Namun, untungnya ada empat orang sahabat yang selalu setia mendukung Miko. Dream, Made, dan RH pun sama-sama dipandang aneh oleh orang-orang akibat penampilan mereka. Berbekal keunikan mereka masing-masing, Miko, Dream, Made, dan RH berhasil membentuk sebuah hubungan pertemanan yang solid. Dunia arsitektur yang dibahas sangat terasa. Banyak sekali istilah yang merujuk pada arsitektur, mulai dari gaya hingga konsep. Selain itu Miko yang mengidap asperger dan OCD pun digambarkan dengan baik. Terlihat Miko yang selalu fokus pada satu hal dan seringkali cuek, hingga bagaimana ia yang over protektif dalam hal kebersihan.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Miko. Miko digambarkan sebagai seorang arsitek yang sukses, namun mengidap asperger dan Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Akibat penyakitnya itu Miko menjadi sosok yang cuek dan antipati. Namun, dibalik sikapnya yang datar itu, Miko memiliki passion yang besar dalam bidang arsitektur. Selain Miko ada empat tokoh pendukung yang berperan penting, yaitu Dream yang bersemangat, Made yang perhatian, RH yang bijaksana, dan Seroja yang bersahabat. Keempat tokoh tersebut merupakan kunci dan fondasi utama dalam membangun jalan ceritanya. Interaksi Miko dan keempat sahabatnya ini sangat menarik. Bagaimana lewat keunikan mereka masing-masing berhasil menyatukan mereka menjadi sahabat. Satu hal yang saya sayangkan adalah latar belakang keluarga Miko ini masih kurang begitu diekspos. Di sini bisa kita lihat jika Miko yang harus hidup dengan asperger dan OCD bisa menggapai cita-citanya akibat support system yang kuat dari ibu dan keempat sahabatnya.

Jalan ceritanya memiliki alur maju-mundur, di awal dan akhir kita akan melihat alur maju, dan di pertengahan cerita kita akan diajak mundur kembali pada masa kuliah Miko. Penulis dapat memosisikan alur maju-mundur dengan baik. Di mana kita tidak dibuat bingung perkara yang memicu Miko untuk kembali mengenang masa kuliahnya dulu. Gaya bahasanya terbilang lebih ke "menjelaskan" ketimbang "aksi". Namun, entah kenapa saya sendiri menikmati gaya bahasa yang mendeskripsikan segala sesuatunya dengan cara yang enak dibaca. Biasanya saya sering dibuat muak dan bosan dengan gaya bercerita yang deskriptif, tapi Garis Lurus tidaklah demikian. Sayangnya untuk beberapa penjelasan tentang dunia arsitektur tidak disediakan catatan kaki. Padahal banyak sekali istilah-istilah arsitektur yang akan lebih informatif jika dijelaskan dalam catatan kaki. Sudut pandang yang dipergunakan adalah sudut pandang orang pertama lewat tokoh Miko. Penulis tergolong sukses mengantarkan rasa seorang penderita asperger dan OCD melalui tokoh Miko. Di sini kita akan melihat isi pikiran Miko yang hanya terfokus pada arsitektur dan melupakan emosi di dalam hatinya. Selain itu sikapnya yang over protektif terhadap kebersihan pun diperlihatkan dengan jelas.

Konflik yang terjadi tidak terlalu rumit dan cenderung ringan. Kita akan melihat konflik yang muncul saat Miko mulai teringat kembali dengan keempat sahabatnya, Dream, Made, RH, dan Seroja, di masa kuliahnya. Pada saat itu Miko yang cuek dan datar akibat asperger mulai bisa menemukan rasa dan emosi dalam jiwanya. Namun, ternyata Miko tidak siap dalam merasakan emosi tersebut. Di sini kita akan melihat gejolak batin Miko yang menurut saya menarik untuk diikuti. Penulis cenderung memfokuskan cerita pada hubungan persahabatan Miko dengan keempat sahabatnya. Dan saya suka akan hal tersebut. Bagaimana Miko yang memiliki kekurangan dipertemukan dengan empat orang yang menjadi support system bagi dirinya. Meskipun tidak ada konflik yang berarti, tapi masih bisa kita nikmati.

Membaca adalah masalah selera, begitu pula dengan cerita dalam Garis Lurus. Mungkin tidak semua orang akan menikmati ceritanya yang kebanyakan "menjelaskan" ketimbang "aksi". Namun, bagi saya Garis Lurus merupakan sebuah novel yang segar, unik, dan menarik. Bagaimana dunia arsitektur bisa dikombinasikan dengan isu mental illness, khususnya asperger dan OCD. Kedua elemen tersebut menjadi magnet yang menarik saya untuk membacanya. Dan menurut saya penulis cukup berhasil menyajikan cerita Miko dengan baik. Dunia arsitektur dan mahasiswa yang ditunjukkan terlihat hidup. Namun, sayangnya penulis tidak menambahkan catatan kaki sebagi penjelasan beberapa istilah arsitektur. Sehingga menimbulkan sedikit kebingungan, khususnya bagi orang awam yang tidak mengenal dunia ini. Dan satu hal lagi yang menurut saya mengganggu adalah Miko yang selalu mengulang-ulang jika dia mengidap asperger dan OCD. Secara keseluruhan Garis Lurus memperlihatkan sisi lain dari pengidap asperger dan OCD yang bisa meraih cita-cita mereka jika memiliki support system yang tepat.
Profile Image for Seffi Soffi.
490 reviews142 followers
February 2, 2021
Kebayang banget ya jadi Miko. Pasti serbasalah banget dan bingung.

Suka sih ceritanya, menginsipirasi juga.
Profile Image for Jurnal Si Bugot.
225 reviews7 followers
November 5, 2019
"Kita tidak bisa mengkategorikan orang menjadi kelompok normal atau tidak normal", ~ (hal. 18)
---
QOTD : Kira-kira bagaimana seorang penderita Autis melihat "dunia"?
.
#reviewsibugot #garislurus karangan @arnozaha_win :4.5⭐
.
Miko Satrio adalah seorang Principal Architect yang memiliki studio sendiri. Selain kejeniusan dan visionernya, tak banyak yang tahu kalau Miko harus berdamai dengan asperger dan OCD yang dideritanya.
.
Ketika memberikan pidato kemenangan atas penghargaan bergengsi yang diterimanya, Miko terjebak dalam kenangannya sendiri saat masih menjadi mahasiswa di ITS. Bersama teman-teman yang mengajarkannya menjadi "manusia". Tapi apakah otak Miko yang sudah terpogram dengan fakta seperti binari komputer itu sanggup menampung luapan emosi seperti manusia pada umumnya?
.
".... Miko pake baju astronot, kamu segede Gaban, dan Dream dengan burqa, kurang mencolok apa grup kita?", ~ (hal. 77)
.
Novel ini diceritakan dari sudut pandang Miko. Di awal-awal cerita kita harus bersabar membaca narasinya. Karena sebagai penderita Asperger, pikiran Miko gampang teralihkan. Jadi gak heran ketika menceritakan sesuatu ia bisa lompat menceritakan hal random lainnya secara mendetail. Tapi buatku ini justru merupakan hal menarik, karena kita jadi bisa mendalami perasaan Miko.
.
Dunia arsitekturnya juga menjadi bagian penting dalam ceritanya. Ada banyak banget istilah dan tokoh-tokoh dalam dunia arsitektur yang dibahas di novel ini. Selain itu setting tahun 1998 (saat Miko cs masih kuliah) juga tergambarkan dengan cukup meyakinkan. Walau ada satu adegan di mana Miko bilang dia berhasil nemu info soal objek penelitian mereka di internet. Aku nggak tahu apakah di tahun itu internet sudah cukup populer.
.
Yang paling kusuka dari novel ini adalah bagaimana penulis menggambarkan suasana hati Miko. Bagaimana ia belajar menyikapi emosi-emosi yang bagi kita biasa--sedih, kehilangan dan jatuh cinta. Bagaimana penuhnya otak Miko memproses perasaan-perasaan yang baginya asing itu.
Profile Image for Nisa F.
52 reviews9 followers
May 19, 2020
Tahu novel ini berawal dari liat postingannya Riliv yg rekomendasiin novel-novel bertema psikologi, beberapa udah aku baca, dan akhirnya pilih novel Garis Lurus ini, yg memang belum aku baca. Gila sih, ternyata tokohnya memiliki masalah psikologis 2 sekaligus. Aspeger dan OCD.

Miko, si tokoh utama adalah seorang arsitek, pengidap asperger yg membuatnya sulit memahami komunikasi non-verbal misal tersenyum, belum lagi dia OCD, yang membuatnya harus selalu steril, rapi, dan perfect. Pernah nolak tebengan temen karena dia belum kelar ngitungin pohon yg ada di fakultasnya, oeylah.

Miko ini ajaib tingkahnya, dari mulai menu makanan yg dipisah-pisah gak boleh tercampur, sampe motif baju yg harus presisi. Dia selalu merasa berada pada bukan zamannya. Otaknya terlalu canggih. Temen-temennya yg gk kalah aneh, si Dream yg suka pakai jilbab neon dan gamis hitam, Made yg nyentrik, keknya cuma RH yg lebih normal di antara yg lainnya. Tp kebersamaan mereka ini loh. Belum lagi perjalanan Miko belajar tentang kemanusiaan dan menjadi "manusia normal" yg mengajarkan banyak hal. Apalagi ketika mereka bertemu dg anak kecil dari lingkungan kumuh yg bernama Seroja.

Dibikin ngakak sama tingkah Miko, bukan karena dia ngelucu, lah mau jokes jenis apa aja gk bakal nyampe di otak Miko, justru ini yg bikin lucu. Apalagi respons² dia. Gaya penulisannya emang aku kurang suka, cenderung kaku, tp menurutku itu wajar karena cerita diambil dari sudut pandang orang pertama yg mana emang sulit memahami bahasa. Taunya cuma pertanyaan dan pernyataan, belum lagi kalo ngomong sesuai SPOK😁 pelajaran hidup dari sosok Miko, menerima diri sendiri dg segala kelebihan dan kekurangannya.
181 reviews
March 27, 2020
Well, kenal buku ini dari awal terbit. Tapi belom tertarik buat baca. Terus beberapa waktu lalu, aku melihat kalau ada Giveaway bukunya di akun Kak Rizky.

Nah, ternyata ada review bukunya juga.

Akhirnya aku baca deh itu review bukunya, baru postingan pertama perihal identitas+blurb bukunya. Terus melihat tema yang diangkat penulis kelihatannya jarang banget aku temuin, aku memutuskan untuk mengecek bukunya ada atau engga di GD. Woah, ternyata ada!

Langsung buka Goodreads, dan ngecek beberapa review. Bisa dibilang rating bukunya gak terlalu tinggi. 3 komalah.

Dan, beberapa review sempat membuatku mengurungkan untuk membaca buku ini. Tapi pada akhirnya aku baca juga😅😂

Kesan pertama liat cover bukunya, wah simple bgt tp aku suka😍.

Terus pas baca bagian awal, kenapa kelihatan monoton dan pada akhirnya aku bosan 😅😅.

Beberapa kalimat terkesan menggurui :"""

Well, makin lama juga tetap gak ada sesuatu yang ngebuat aku antusias buat baca ini. Kek biasanya kan kita tu bakal kepo kek sama alur+ending. Ini malah enggak, syukur syukur tamat.

Padahal, sekilas ngebaca blurb, wah bakal kece, bakal nambah informasi. Iyaa baca ini memang agaknya menambah informasi. Tp yaa rasa bosan dg gaya penulis.
Profile Image for Aulia  Rofiani.
326 reviews4 followers
May 14, 2020
Sesuka itu sama novel ini ❤
Suka sama gaya penulisannya dan porsi romancenya juga pas banget
Agak terjebak sama awalannya sih, kirain bakalan ada cinta segitiga antara Miko, Angela, dan Diandra gtu, taunya jauhhh
Rasanya abis baca novel ini mau punya temen seloyal Dream, RH, Made ini 😭
Trus ttg arsitekturnya ditulis dgn menarik untuk orang awam kayak aku, rasanya mau ngeliat langsung hasil desain2 bangunan mereka deh
Yang agak ngebingungin paling time stampnya sih, diceritakan pas flashback kan taun '98 ya trus hp nokia 3210 itu gue sampe googling dong saking penasarannya sama desainnya itu rilis taun '99. Mmm mungkin maksudnya setaun kemudian kali ya, cuma aku gak ngerasain perpindahan waktu itu gtu loh. Kayak pas hpnya Dream itu disebut, aku merasa waktu itu masih taun '98 gtuloh
Sama format tulisannya sih, buset dah kecil amat yak fontnya 😭
Ya receh sih masalahnya, cuma berasa ganjel aja gtu
Overall, this novel is really worth my time sih
Profile Image for athiathi.
367 reviews
May 17, 2022
Ini buku yang benar-benar nggak bisa ditebak..

Aku nggak nyangka, bakal menangis :)

Awal-awal cukup membosankan karena dipenuhi istilah-istilah dalam bidang arsitek juga dalam dunia perkuliahan.

Dari segi bahasa, banyak menggunakan bahasa lain seperti bahasa Inggris dan bahasa Jawa (karena berlatar di Surabaya).

Selingan candaan juga melengkapi isi buku ini.

Banyak menyadarkan dan menohok kita-kita manusia normal.

Aku paling suka saat-saat di mana Miko sedang bercengkerama dengan Seroja.

Mempermainkan emosi banget. Keren!
Profile Image for Fikri Hidayat.
14 reviews
January 20, 2024
Apresiasi buat riset dari penulis buku ini, setelah mengangkat tema yang jarang kutemui, asperger dan arsitektur. Sayangnya, eksplorasi dan pembawaan plot dari buku ini masih kurang berkesan dan menarik. Saya juga tidak menemukan adanya konflik yang cukup menarik dalam ceritanya, sehingga sangat sulit untuk berusaha menyelesaikan buku ini.

Di luar dari itu, saya banyak belajar, mengenai dunia arsitektur, dan penyakit asperger. Juga sedikit terkesan dengan persahabatan para tokoh di dalamnya.
Profile Image for Lailaturrahmi.
154 reviews18 followers
May 17, 2021
Buku ini memberikan gambaran mengenai OCD dan Asperger syndrome dengan latar belakang arsitektur. Ditulis dengan 'matang', bahkan saya tidak menemukan kelabilan khas anak kuliah di buku ini. Unsur arsitekturnya sangat kentara, sayang ada beberapa istilah yang belum saya pahami. Secara umum ceritanya menarik, meski harus bersabar di bagian-bagian awal.
Profile Image for Niallgina.
Author 2 books22 followers
July 15, 2021
Tbh, aku kurang suka sama plotnya karena sedikit membosankan. Tapi aku suka sama pengkarakteran Miko yg mengidap asperger+OCD, bahasan-bahasan tentang arsitektur (yg seharusnya menjadi jurusanku kalo tidak ditolak PTN HAHAHA), dan unsur-unsur lain. Romance Miko dan teman dari Balinya itu pun kurang terasa,tiba-tiba udah ngucap "I love you" aja wkwk. Tapi bolehlaah 3/5 atau 3.5/5
Profile Image for Qurrota Aini.
4 reviews
July 31, 2021
Novel yang menyegarkan pandangan tentang kekakuan dunia mereka yang terlahir berkebutuhan khusus. Buku ini membuka mata kita bahwa mereka pun bisa mencintai dan dicintai. Aku yang telah lama tidak menyantap novel setelah menjadi mamak beranak dua, bisa menghabiskan novel ini dalam waktu singkat adalah sebuah pencapaian yang memuaskan. Good job!
Profile Image for Alinda Putri Dewanti.
1 review
January 5, 2022
Memutuskan membaca buku ini karena mendapat rekomendasi novel bertemakan mental illness, salah satunya adalah Garis Lurus. Nggak cuma menjelaskan tentang kisah Miko pengidap asperger dan OCD yang sempat bikin aku gemas di awal-awal, tapi juga belajar ttg arsitektur yg sebelumnya nggak pernah kupelajari dan kupahami. Ini jadi suatu hal baru bagiku.
Profile Image for audinamarliana.
24 reviews2 followers
January 8, 2022
Menurut aku ini buku termasuk top3 juga dideretan buku favorit aku. Aku sangat sangat menikmati tiap baca lembar perlembar dari buku ini. Dan banyak juga hal yang bisa jadi pelajaran buat aku, salah satunya sudut pandang dari orang penderita Asperger juga OCD, aku juga jadi tau beberapa hal yang berkaitan sama arsitek! This book is soooooo great!
Profile Image for Salsabila.
8 reviews
January 26, 2023
Sukaa banget, ide dan alur cerita yang baru pertama kali kutemui. Suka dengan begitu banyak informasi yang diberikan penulis terkait arsitektur, asperger dan OCD. Suka dengan karakter Miko, yang kadang bikin kesal sekaligus ketawa. Saat menginjak bagian akhir, mulai curiga dengan Diandra dan ternyata benar. Tapi tidak untuk endingnya karena ini ending nasib kisah cinta Miko yang plot twist :l
Profile Image for Zia Nazaliah.
145 reviews4 followers
April 14, 2023
mungkin karena bukunya ditulis oleh penderita Asperger dan OCD jadi kadang membingungkan menurutku (?) kek tiba2 aja gitu, banyak hal yang dilewat, tapi gapapaa, ceritanya bener2 bikin kadang kesel, bahagia, terus kek bikin bingung + aneh juga wkwkw senengg bisa happy ending ><
Profile Image for Nurul Huda.
27 reviews
April 27, 2020
Novel tentang penderita OCD yang membuat perasaanku seperti diaduk-aduk. Hebat sekali perkembangan karakternya si Miko berkat teman-teman dekatnya.
Profile Image for Ade Arie.
10 reviews3 followers
December 20, 2020
Pengalaman baru untuk membaca novel dengan tokoh utama yg asperger dan ocd. Cerita ini mengingatkan kita untuk saling menguatkan meskipun berbeda. Emosinya begitu terasa.
4 reviews
October 7, 2024
it's so simple, yet so complex. what a story 👏👏👏
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
July 3, 2020
Garis Lurus merupakan novel debut Kak Arnozaha Win. Sejak membaca versi ebook kemudian versi cetaknya, aku menikmati kisah Miko.

Novel ini memiliki ide yang unik, menggabungkan mental illness dan arsitektur, hal yang baru pertama kali kubaca. Aku selalu suka membaca sesuatu yang baru, termasuk tentang asperger disini.

Aku benar-benar bisa masuk dalam kisah Miko sejak lembar pertama. Bagaimana hidupnya sebagai seorang asperger dan OCD sungguh tidak mudah, bagaimana dia menjalani kuliah arsitekturnya dan bagaimana waktu mempertemukan 3 teman yang akhirnya menjadi sahabat terbaiknya, bagaimana dia bisa mengenal "rasa" melalui interaksinya dengan orang lain.

Novel ini cukup mengalir, walau mungkin untuk beberapa pembaca akan terasa datar, tapi aku sama sekali tidak merasa bosan. Semakin lama membaca, aku juga mulai bisa menebak jalan ceritanya, walau ada twist yang tidak kuprediksi sebelumnya .

Sebenarnya, aku masih ingin tahu lebih banyak kisah Miko di masa sekarang, karena kisahnya didominasi masa lalunya, tapi kayaknya memang disengaja fokusnya untuk menelusuri jejak masa lalu Miko, si klien misterius hanya sebagai pembuka saja 😊

Secara keseluruhan, kamu ingin bernostalgia dengan masa kuliah. Kamu yang ingin tahu lebih banyak tentang asperger dan OCD. Kamu yang suka dengan arsitektur, aku rekomendasikan novel ini untuk kamu baca ya.
1 review
October 2, 2019
Hmmm. Saya secara pribadi awalnya sekedar tertarik karena membahas tentang arsitektur, OCD, asperger.

Setelah membaca, Secara garis besar saya suka dengan buku ini. Penulis menggambarkan latar dan situasi secara rinci, membantu saya mengerti bagaimana keadaan disana, akan menjadi membosankan bagi beberapa orang.Setelahnya, akan ada kejutan-kejutan yang ditampilkan di beberapa titik dari buku. Selain itu buku ini menghibur dengan dialog Suroboyonya, menceritakan sisi lain Surabaya, dan membuat saya terenyuh. Buku ini juga mengantarkan saya bernostalgia dengan dunia kuliah arsitektur dan Surabaya.

Untuk masukan, penulis bisa lebih berhati hati menuliskan aksi dan deskripsi dari kepribadian seseorang asperger.
Mengurangi rincian dan dialog dari percakapan yang bersifat sebagai pengantar. Dan bisa menambahkan rincian pada bagian penting lain, seperti mendiskripsikan bagaimana pekerjaan mahasiswa arsitek/arsitek, menambah pengetahuan sejarah tentang latar tempat, atau hal yang lain.

Sukses terusss, ditunggu untuk buku selanjutnya. 😊👍
Displaying 1 - 30 of 36 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.