Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kami (Bukan) Jongos Berdasi

Rate this book
Alumni Kampus UDEL kini telah lulus. Masuk ke dunia nyata yang penuh tikus. Ada yang bertahan, ada yang sebentar lagi mampus.

Kerja di Bank EEK? Ada. Kerjanya pindah terus? Ada. Bimbang ikut keinginan orangtua atau ikut kata hati? Ada. Apa lagi pengangguran banyak acara, pasti ada. Namun, diam-diam ada juga yang karirnya lancar, gajinya mekar, dan jodohnya gempar menggelegar.

Mendapat intimidasi dari rekan kerja, lingkungan, dan keluarga itu sudah biasa. Mendapat cemoohan bagi yang ingin berkarya, jelas jauh lebih biasa. Menerima perlakuan semena-mena, hingga tertawaan dan hinaan adalah sarapan pagi.

Akankah mereka bertahan di dunia yang penuh intrik ini? Atau mereka harus jadi jongos berdasi, pura-pura mampu beradaptasi, dengan tantangan dunia yang terus gonta-ganti?

Buku ini wajib dibaca oleh pelajar SMA, mahasiswa, para orangtua, karyawan, petinggi perusahaan, para pencari kerja, mereka yang ingin berkarya, para pengambil kebijakan di berbagai institusi, hingga Presiden Korea Utara agar kita bisa memutuskan apakah besok libur atau kerja dan berkarya.

Buku kedua dari serial novel "KAMI (BUKAN) SARJANA KERTAS."

-------

"Tak apa rasa lelah hingga ke tulang.
Untuk tempat yang kita sebut pulang.
Hidup ini memang soal tualang.
Bukan soal siapa kalah siapa menang."

-------

409 pages, Paperback

First published October 20, 2019

52 people are currently reading
789 people want to read

About the author

J.S. Khairen

18 books681 followers
Usahakan baca minimal 1 fiksi, dan 1 non-fiksi setiap bulan. Fiksi untuk hati, non-fiksi untuk kepala.

Ini juga pesan untuk kawan-kawan yang mencoba merintis jadi penulis. Jika ada yang menganggap karyamu baik, maka syukuri dan jangan terlalu terbang. Rekam itu di ingatan, jadikan dorongan untuk memberi dampak dan membawa pesan-pesan yang seru dan penting.

Jika rupanya ada yang tak suka, memberi kritik, saran, itu tak masalah. Beberapaa kritik malah bisa jadi pelontar yang ampuh untuk karyamu berikutnya. Lagi pula, orang sudah keluar uang untuk beli karyamu, masa mengkritik saja tidak boleh. Selama sesuatu itu karya manusia, pasti ada saja retak-retaknya.

Lain cerita jika menghina. Memang benar tak harus jadi koki untuk bisa menilai satu menu masakan itu enak atau tidak. Namun cukup jadi manusia untuk tidak menghina makanan yang barang kali tak cocok di lidahmu, kawan.

“Karya yang terbaik adalah karya yang selanjutnya.” Bisik seorang sahabat. “Tulislah sesuatu yang bahkan engkau sendiri akan tergetar apabila membacanya.” Sambung sahabat yang lain.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
263 (59%)
4 stars
134 (30%)
3 stars
37 (8%)
2 stars
8 (1%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 121 reviews
Profile Image for Nia Hanie Zen.
12 reviews1 follower
November 8, 2019
Judul: Kami (Bukan) Jongos Berdasi
Penulis: J.S. Khairen
Penerbit: Bukune
Cetakan: I, Oktober 2019
Tebal: 409 halaman

Pertama kali lihat judul buku ini saya pikir ini adalah sebuah buku non fiksi yang membahas seputar pekerja kantoran atau terkait dunia politik. Saya tidak membaca sebuah tulisan kecil di sampulnya yang bertuliskan "sebuah novel". Ketika melihat tulisan itu saya baru menyadari, "ooh..ini novel?" 😁

Novel ini merupakan seri ke dua dari novel yang berjudul "Kami Bukan Sarjana Kertas". Sayangnya, saya belum membaca novel pertamanya, jadi saya tidak tahu apakah cerita di novel ini masih sambungan dari novel sebelumnya. Dan ternyata setelah novel "Kami (Bukan) Jongos Berdasi" (KBJB) ini masih ada seri ke tiga dan ke empat yang akan terbit tahun berikutnya. Wow! Menarik sekali.

Novel KBJB ini sendiri berkisah tentang enam orang sahabat yang sudah berteman sejak kuliah di kampus UDEL. Sania, Arko, Randi, Gala, Juwisa dan Ogi kini telah memasuki dunia kerja dan bisnis sesuai keahlian masing-masing. Nasib mereka di dunia kerja ini tidak selalu berjalan baik. Selalu ada saja hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan dan impian mereka. Berbagai permasalahan mereka hadapi tak kunjung selesai.

Sania dengan kinerjanya yang buruk di sebuah bank (yang singkatannya gak banget)  mendapat berkali-kali teguran, hingga pada puncaknya Sania berani membentak atasannya yang akhirnya berujung pada pengunduran dirinya dari bank tersebut. Mulailah Sania berburu lowongan pekerjaan di sebuah job fair. Bermap-map sudah surat lamaran ia serahkan ke berbagai perusahaan, namun belum ada tanda-tanda panggilan wawancara.

Beruntung hobinya menyanyi dapat sedikit memberinya pemasukan dari menyanyi di kafe-kafe. Hingga suatu hari ia mendapatkan sebuah panggilan wawancara kerja dan langsung diterima dengan gaji di atas gajinya dulu di sebuah bank. Namun sayang hanya berjalan satu bulan kerja, ia sudah dipecat. Nasib membawanya kembali pada pengangguran.

Randi si wartawan click bait menulis segala macam berita dengan judul-judul heboh, sensasional walaupun tidak nyambung dengan isi berita. Hal itu semata-mata ia lakukan demi viewer yang melimpah di web kantor berita tempatnya bekerja.

Gala, seorang anak orang kaya dan pendaki gunung yang berakhir menjadi guru dan memiliki impian membuat sekolah. Alih-alih menjadi penerus perusahaan ayahnya, Gala tetap pada mimpinya untuk membangun sekolah.

Juwisa si pejuang beasiswa S2, berjuang dengan sungguh-sungguh untuk bisa lolos beasiswa LUDP. Segala cara ia tempuh, mulai dari kursus Bahasa Inggris hingga ikut bimbel ia jalani. Selain itu, tes CPNS pun tidak ia lewatkan. Meskipun beberapa kali gagal akhirnya ia lolos sebagai PNS. Sayangnya, semua itu sia-sia, impiannya selama ini sirna tak bersisa karena sebuah kecelakaan yang menimpanya.

Arko, mahasiswa abadi yang belum sempat menyelesaikan kuliahnya. Tapi nasib membawanya ke Eropa sebagai tukang foto alias fotografer. Meskipun keluaran Eropa, Arko tetap saja kere. Nasibnya tak sekeren Eropa.

Ogi si mahasiswa DO lebih beruntung daripada Arko. Ogi melanglang buana ke negeri Paman Sam hingga menjadi salah satu orang penting di sana. Banyak ide bisnis yang ada dalam benaknya yang ingin sekali ia realisasikan di tanah airnya. Dan ia butuh support dari sahabat-sahabatnya di Megapolitan.

Lira si ibu dosen yang menjadi anggota tertua di dalam Geng Ogi tidak segan-segan bergabung dalam persahabatan antar mahasiswanya itu. Lira lulusan S3 Amerika menjadi tempat meminta pendapat, nasihat hingga diskusi-diskusi para mantan mahasiswanya. Di samping itu ia juga memiliki permasalahan sendiri terkait dengan kampus UDEL yang didirikan ayahnya yang sekarang bangkrut dan ditutup.

Novel ini terbilang padat tokoh, karna memang ada banyak tokoh yang dimunculkan dan diceritakan dengan porsi masing-masing. Saya suka dengan kisah perjuangan mereka mencari pekerjaan hingga meraih impian yang pantang menyerah. Mereka anak-anak muda yang selalu semangat walaupun halangan dan rintangan mewarnai kehidupan mereka.

Hal menarik lainnya dari novel ini adalah kisah persahabatan yang terbilang cukup awet. Ya, keenam sahabat ini menjalin pertemanan dari mulai di bangku kuliah hingga lulus dan memiliki pekerjaan masing-masing, persahabatan mereka tetap solid. Ketika ada satu teman yang kesulitan, mereka saling support dan tidak jarang saling membantu dengan berbagai solusi dan ide-ide kreatif.

Namun, ada juga hal-hal yang tidak sesuai yang saya kurang suka. Penulis bercerita menggunakan gaya bahasa kekinian dengan berbagai istilah yang sering dilontarkan anak jaman sekarang. Ada istilah atau julukan yang saya kurang paham artinya, seperti "ajigijaw". Selain itu, dialog tokoh-tokohnya sering melontarkan kata-kata yang menurut saya kasar (nama binatang) yang seharusnya tidak dilestarikan sebagai kata atau bahasa sehari-hari.

Overall, novel ini cukup menghibur bagi pembaca yang mungkin stress dengan pekerjaan, mulai bosan dengan aktivitas kantor yang menuntut kinerja tinggi. Membaca novel ini pembaca akan diajak merasakan kehidupan dunia kerja dengan segala lika-likunya. Diselingi kutipan-kutipan motivasi di setiap antar bab.

Dari berbagai permasalahan yang dihadapi oleh setiap tokohnya, menimbulkan rasa bersyukur bagi saya dengan pekerjaan yang saya miliki, rejeki yang saya dapatkan karena tidak semua orang seberuntung kita. Masih banyak orang yang pengangguran, tidak memiliki pendapatan dan harus berjuang untuk orang-orang di sekitarnya.

Satu hal lagi yang saya simpulkan dari novel ini yaitu "jangan mudah menyerah dan jangan suka mengeluh"

"Mengeluh belum punya gadget baru, belum pergi ke tempat wisata teranyar, belum dapat pacar, belum ini itu. Tapi ingatlah di luar sana ada yang belum makan dari kemarin, bahkan untuk mengeluh saja mereka tak sempat. Ya, sebetulnya boleh saja mengeluh, itu manusiawi. Hanya saja jangan berlebihan".
1 review
October 19, 2019
Adik dari Kami (bukan) Sarjana Kertas sudah datang! Yeay!😊 Si kuning sukses mengaduk emosi dan pikiran soal makna kehidupan, mulai dari hubungan sama temen, keluarga, dosen sengit, orang2 baik, dunia perkuliahan, bahkan masalah emosional soal cinta dan mentalitas. Parah si, worth it banget to read his books. Banyak korelasinya sama realitas hidup belakangan ini.

Salah satu dampak dari baca buku beliau bagiku adalah semangat dan ikhlas ketika berjuang meraih PTN impian dan kini nyatanya aku berhasil meraih apa yang aku impikan.

Maka dari itu, karya Khairen seterusnya akan selalu aku nantikan. Semangat terus berkarya bang! Semoga sehat selalu abang dan keluarga. Terima kasih sudah bekerja dan berkarya sebagai prasasti peradaban bangsa. Bangga! 😊😊😊
1 review
January 27, 2020
Wahh ajigijaw bangett sihh nih novel, sebelumnya maap saya gak bisa nulis review yang baik dan benar, tapi ini my opinion sendiri.

Saya udah ngikutin novel nya babang ini dari buku kami buka sarjana kertas dan keren banget tuh novel, dari pribadi sendiri mateng banget tuh novel semua tokoh itu renyah banget heheh untuk diikutin ceritanya, relevan, bahasa yg mudah dipahami terus serial kedua ini juga keren abiss, tapi dengan permasalahan yang beda pula, tapi juga ngga ninggalin yg udah dibangun waktu buku kami buka sarjana kertas, dah segitu aja dari saya mohon maaf kalau ada salah kata, saran dan kritik sangat saya butuh kan, mwuahkasihhh
Profile Image for Suanda Angga.
16 reviews3 followers
September 22, 2021
Buku ke-2 dari Serial Kami (Bukan) karya J.S. Khairen ini mengisahkan para Alumni Kampus UDEL memasuki dunia kerja. Dunia nyata yang mereka sebut dengan istilah "SARANG TIKUS"

Satu persatu personel "kelompok Ogi" dikisahkan. Tak ada kisah yang mulus. Justru malah sebaliknya, kisah hidup anggota kelompok Ogi ini jungkir balik tisusruk-tidungdung (kalo pake bahasa daerahku) 😅.

Sania yang bekerja di Bank EEK a.k.a Emirates Equity of Khatar ini kerja penuh dengan tekanan. Cita-cita ingin menjadi Diva terkenal itu, seperti harus ditangguhkan atau malah dibumihanguskan. Dia tersuruk-suruk di Bank yang mempekerjakannya seperti Jongos. Tak tahan dengan tekanan, akhirnya Sania melawan.

Juwisa a.k.a Si Ubin Masjid. Sukses dengan bisnis kuliner di kampungnya, yang dibantu sepenuhnya oleh mantan calon tunangannya, Enggar, merasa tak puas. Ambisi ingin melanjutkan S2 nya terlampau tinggi. Kembali ke Ibukota dan mulai mencari-cari sponsor untuk beasiswa S2 nya itu. Namun, jalan Juwisa sungguh teramat berkerikil.

Arkodak Fadimas Putra, ini sebetulnya karakter favorit gue si di buku pertama. Namun di buku ke 2 ini, aihhh kok seperti ini si. Kapan niat mau widuda, Arko? Apa cukup hanya dengan berkarya? Atau perlu berkaryawan? Nasib adikmu gimana, Puti juga Amak? Miris sekali kisahnya ini. Aku jadi turut prihatin.

Randi Dhirgantara Jauhari alias Ranjau sudah mantap berkaryawan. Sebagai seorang wartawan, kerap kali dia membual berita clickbait yang sangat viral itu. Obsesi ingin terus promosi dan naik gaji membuat kerjanya seperti dikejar badai. Yang malah membuat hidup dan kariernya kocar-kacir.

Gala kini jadi Guru. Lulusan arsitektur dan anak dari seorang pebisnis jadi Guru. Hmmmm cita-cita masa kecil emang terlalu kuat untuk dilawan. Namun, justru karena inilah dia bertemu dengan Tiana. Seorang gadis manis alumni Kampus UDIN yang kini bakal dinikahinya.

Ogi? Where are you Ogi? Aku mengharapkan lebih dari si Ogi ini. Semoga demikian.

Entah kenapa di Novel ini banyak sekali typo. Keganggu banget sih selama bacanya. Enggak tahu mungkin editornya kurang teliti atau gimana. Tapi baiknya, ini harus di edit ulang si kalau mau naik cetak lagi.
Profile Image for Thessalivia Thessalivia.
Author 4 books26 followers
November 27, 2019
Jujur saya sebenarnya bingung bagaimana menggambarkan buku ini, saking banyaknya cerita dan padatnya tokohnya. Related banget, mungkin ini yang paling pas buat menggambarkannya. 😁 Kamu tim Krl berangkat pulang kantor harus berdesak-desakan di kereta? Kamu udah dapat kerjaan tapi ngerasa gajinya tidak pernah cukup? Kamu baru lulus kuliah dari universitas ternama dan merasa pantas gaji besar posisi bagus padahal belum punya pengalaman kerja? Udah kerja tapi kok ngerasa ga sesuai passion sementara kamu punya mimpi lain yang ingin diwujudkan? Udah mapan kok jodoh belum keliatan hilalnya? Pokoknya siapapun kamu, saya rekomen buat baca, yakin deh pasti ngerasa related banget pas baca ini.. Reading this book feel like talking with an old friends.

Hal lain yang saya suka dari buku ini adalah gaya bahasanya. Sangat unik, tidak baku tapi tetap membuat kita mengalir saat membacanya. Baru ini saya membaca novel dengan gaya bahasa seperti ini, membuat penulis jadi punya ciri khas sendiri dibandingkan penulis lain. Belum lagi metafora yang digunakan penulis unik-unik, seperti 'seisap dua isap' alih-alih menggunakan kata 'kecanduan narkoba'. Ajigijaw kalau memimjam istilahnya J.S. Khairen, gempar menggelar. Tidak jarang istilah yang digunakan membuat kita menyunggingkan senyum sampai tertawa. Jadi membaca buku ini sangat menghibur.

Review lengkap di https://thessaliviareza.blogspot.com/...

3.5 bintang buat buku ini
Profile Image for Lailaturrahmi.
154 reviews18 followers
June 24, 2020
Novel ini ditulis dengan sangat realistis, kalau menurut saya. Nggak ada romantisasi, sugarcoating; malah blak-blakan menggambarkan realita pascakampus. Isu kerja vs studi lanjut, kerja sesuai passion vs kerja dengan gaji sepadan, kegalauan akademis, bahkan isu startup juga dibahas di sini. Tidak ada 'sang penyelamat' dalam novel ini, karakter-karakter dibiarkan belajar dari masalah mereka sendiri, dengan dukungan para sahabat, tentunya.
Profile Image for Ayu Istiyani.
94 reviews6 followers
July 22, 2024
Buku kedua dari serial Kami (Bukan), yang mengisahkan alumni kampus UDEL memasuki dunia kerja. Seperti novel yang sebelumnya, tokohnya padat dan diceritakan satu persatu jatuh bangunnya mereka. Menjadi karyawan, menjadi guru, memulai usaha, melanjutkan S2, menikah, bahkan juga ada yang belum lulus.
Beberapa di antaranya terasa real tentang kehidupan setelah kuliah. Belum mendapatkan pekerjaan, giliran udah dapet kerja ternyata atasan yang tidak enak, atau gaji yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Juga ingin bekerja sesuai dengan passion tapi juga terhambat sana sini. Seluruh tokohnya diceritakan secara imbang, dan setiap mereka selalu memiliki permasalahan sendiri-sendiri. Dan disini seperti tidak ada tokoh 'penyelamat' dari permasalahan mereka. Jadi bisa dibilang, mereka menyelesaikan masalah dengan belajar dari diri mereka sendiri yang sesekali dibantu oleh sahabat-sahabatnya.
Masih sama seperti karya beliau sebelum-sebelumnya yang pernah saya baca. Menggunakan istilah yang menurut saya khas dan unik. Seperti gempar menggelegar atau seisap duaisap. Hanya saja, saya masih menemui adanya beberapa typo, ya meskipun masih termaafkan.

Seperti biasa, saya selalu suka dengan quote beliau
-Kurangilah kecepatan, entah sedang mengejar apapun itu. Beberapa hal justru baru terlihat saat engkau melangkah pelan.
-Berhentilah mengatakan orang lain berpikiran tertutup, kalau kita sendiri tak mampu mengambil sesuatu dari sudut pandang orang lain yang berbeda. Justru malah mempertontonkan dengan amat terang benderang betapa tertutupnya pikiran kita.
-Ketika kita menyimpulkan seseorang belum dewasa, dari cara ia menyikapi masalah, boleh jadi memang ia belum dewasa. Namun jika sering betul kita menilai orang-orang belum dewasa, boleh jadi kitalah yang masih kanak-kanak.
-Berlebihan dalam menerima atau memberi nasihat, justru akan menimbulkan bias.
Profile Image for Aardbewoners.
49 reviews
December 17, 2022
Kami (Bukan) Jongos Berdasi is a sequel to the novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas. At first I thought this was a non-fiction book but it wasn't. This book tells about the hard struggle in facing the reality and dreams of Ogi group members (Randi, Sania, Juwisa, Gala, Arko, Ogi and Bu Lira) in the world of work and the complexities of life they face. Various kinds of luck and misfortune that befall them face reality at work and in looking for work in order to achieve their respective dreams and goals.

Reading this book teaches us many things. Especially when it comes to reality and dreams. Because what we want and want to achieve is not as easy as we imagine. Even sometimes what we dream of, what we succeed in achieving is beyond our dreams. Therefore we as humans can only plan, for the results are all governed by the most certain.

It is told from a third-person perspective for each of the characters. Making us able to understand how they feel when looking for a job or doing a job and even reach their respective dreams to become someone who is successful with a reality that doesn't support and many don't even live up to expectations.

What I really care about in writing this book is that there are words that I don't think should be in a published book. A harsh swear word (name of animal) and maybe it's better to just replace the word with a more polite one. I personally felt uncomfortable when I read it. Because that's included in the ethics and grammar of work. Is not it. Anyone agree?

As for the moral of the story, there are lots of motivations tucked in with inspirational quotes that can make the reader more self-aware, more accepting of the current situation, no need to see other people's success as a burden but use it as self-motivation to be even more enthusiastic. in life and obstacles. Never give up and never give up if what we dream of has not been achieved, but keep trying like climbing a mountain to reach the top. Such is a dream. And most importantly, reality is crueler than anything in this world. So be wise in passing it.
Profile Image for Ridho Arisyadi.
27 reviews2 followers
June 15, 2020
Ekspetasi saya pada lanjutan dari "Kami Bukan Sarjana Kertas" sengaja di set tidak terlalu tinggi karena bersampul kuning tersebut dibawah ekspetasi saya namun masih sangat bagus untuk dibaca dan membeli buku kelanjutannya ini.

review "Kami Bukan Sarjana Kertas" : http://www.dhilaridho.id/2019/10/soto...

Namun ternyata, semua kekurangan "Kami Bukan Sarjana Kertas" yang saya rasakan sebelumnya dibabat tuntas oleh JS Khairen di Kami Bukan Jongos Berdasi ini. Mulai dari alur cerita yang bervariasi dari cepat - lambat -cepat hingga penggunaan tata bahasa kekinian yang tidak lagi garing.

Sang Penulis juga berani untuk memberi perubahan yang besar pada tokohnya yang diluar saya bayangkang, harus saya akui air mata saya berlinang ketika membaca hal yang terjadi pada Juwisa. Uda JS Khairan juga sangat baik mengambarkan kondisi keluarga Sania dan bagaimana lingkungan sekitarnya. Saya yakin cerita yang "sangat dekat dengan kondisi" ini adalah hasil pengamatan dan studi yang sangat matang dari penulis, saya mengamati IG Story penulis ketika beliau melakukan observasi di kantor gojek untuk buku ini.

Saya menunggu kelanjutan seri buku ini : Kami Bukan Generasi Bacot
1 review
October 16, 2019
Kami bukan sarjana kertas adalah buku pertama karya js khairen yang saya baca.,
Sangat bagus, menarik untuk dibaca, aslinya saya adalah orang yang lebih suka menonton ketimbang membaca namun setelah membaca bukunya js khairen waw.. Ternyata bikin candu.,
Rinduku sederas hujan sore itu buku kedua yang saya baca.,
Dan yang ke tiga ini dia kami bukan jongos berdasi. Sukses terus bang..
1 review
Read
December 3, 2019
Pertama kali baca bukunya J.S Khairen yang Rinduku Sederas Hujan Sore Itu, wahh rasanya beberapa kata-kata yg ada di dalamnya dapat mewakili isi hati😭 (maklum ciwi baperan🙃) terus lanjut ke Kami (Bukan) Jongos Berdasi duhh apalagi buku yg ini top markotop deh, hihihi senang bisa membacanya🤸‍♀️💃
Profile Image for Khana.
1 review1 follower
October 17, 2019
bahkan kedatangannya saja sudah membuat bersemangat, ditambah setiap membaca halaman per halaman, sedang dalam tahap penyelesaian.... semoga malam ini selesai
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
July 3, 2020
Ada disini yang sudah pernah membaca Kami (Bukan) Sarjana Kertas? Penasaran dengan kelanjutan kisah Ogi dan teman-teman segengnya yang konon katanya "mahasiswa buangan"? Nah, di novel ini aku kembali diajak bertemu kembali dengan mereka, tentunya dengan kondisi yang berbeda, mereka sebagian besar sudah lulus dan punya pekerjaan. Tapi, masih ada 1 lagi loh yang belum lulus dan dikejar-kejar kampus UDEL untuk bisa lulus karena gosipnya kampus ini akan ditutup.

Sekarang, apakah mereka yang sudah lulus ini sudah menjalani kehidupan seperti yang mereka inginkan? Jawabannya BELUM ....

Disinilah aku diajak menelusuri kisah Sania, Juwisa, Randi, Arko, Gala dan Ogi plus Bu Lira, dosen mereka suka dukanya menjalani dunia kerja. Disinilah mereka dihadapkan dengan dunia kerja yang penuh intrik, tuntutan dan tentunya butuh komitmen, kedisiplinan dan konsistensi tingkat tinggi untuk menjalaninya. Apakah semuanya mudah? Jatuh bangunnya terasa sekali, membaca kisah demi kisah dalam novel ini mungkin akan membuatmu teringat akan masalahmu sendiri, karena yang digambarkan disini adalah realita-realita yang memang mudah kita temui di dunia nyata. .

Punya rekan kerja yang tidak enak, gaji yang segitu-gitu saja, jodoh tak kunjung ada hilalnya, bos yang nyebelin, pekerjaan yang tak ada habisnya, pekerjaan tak sesuai passion, dilema antara keinginan diri sendiri atau orang tua dan masalah-masalah lainnya.

Semua itu dirangkum dengan gaya bahasa yang menarik untuk diikuti. Banyak kata-kata unik bahkan cenderung kasar dalam buku ini, tapi aku masih bisa menikmatinya. Sayangnya, aku masih menemukan banyak kesalahan ketik bahkan salah penyebutan nama tokoh sepanjang aku membaca. Semoga jika dicetak ulang, bisa lebih diperhatikan lagi .

Secara keseluruhan, aku suka dengan buku ini dan sebagai informasi petualangan mereka belum berakhir loh, karena masih akan ada cerita lanjutan dari buku ini
Profile Image for Ika Merdekawati.
77 reviews3 followers
May 9, 2020
"Alam semesta tidak diam untuk setiap harga yang kau bayar lewat air mata dan keringat. Tiap tetesannya adalah bibir yang akan menjulang tinggi, mengganti rugi semua lelahmu."

Buku ini adalah lanjutan dari Kami (Bukan) Sarjana Kertas, yang di mana buku ini membahas lika-liku jatuh-bangun dalam menghadapi dunia nyata yang penuh dengan tikus. Ada yang bertahan, ada yang sebentar lagi mampus dibawah tekanan.

Secara gamblang Bang @js_khairen menulis fakta yang benar-benar terjadi disekitar kita. Ada yang punya kerja, pakaian bagus dengan gaji lumayan oke, tapi tertekan? Ada. Ada yang ingin melanjutkan S2 tapi harus kerja sana-sini, bayar ini itu, pecat sana sini, sampai putus asa? Ada. Ada yang pengangguran banyak acara tapi tidak menentu masa depannya? Ada. Tidak ada yang benar-benar mudah dalam menggapai suatu mimpi itu. Semua punya kesulitannya masing-masing.

Sesuai dengan postingan saya sebelum ini, tentang kegelisahan anak 20-an. Sama persis yang dirasakan oleh anggota kelompok Ogi. Kalo Ogi mah jangan ditanya, dia sudah sukses menggelegar di Amerika sana. Kisah suramnya yang bunuh diri sampai jadi programmer hebat. Dia tinggal berjuang mendapatkan si Ubun Masjid yang ademnya kemana-mana.

Sempat menitikkan air mata sih baca ini, karena saya merasa tertolong dengan semua kisah mereka yang ditulis sangat baik. Perjuangan mereka itu tidak berhak di nilai buruk, karena setiap melangkah menuju mimpi, ada hal yang harus ia korbankan.

Intinya buku ini memberikan gambaran yang tidak dilihat dari sudut pandang kita. Karena pada umumnya, hanya melihat dari sosial media dan tampilan fisiknya. Mungkin dari kedua sumber itu terlihat keren, tapi kita tidak tahu bagaimana hati dan otaknya yang sedikit lagi baku hantam demi menggapai mimpi.
Profile Image for Nia 'bonnie'.
2 reviews
July 15, 2021
Novel kami (Bukan) Jongos Berdasi merupakan seri kedua setelah Novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas. Dalam novel ini menceritakan kisah lika liku kehidupan para tokoh kelompok Ogi setelah lulus dari kampus UDEL.

Cerita pertama dari tokoh Sania yang tidak betah bekerja di Bank EEK karena selalu dikerdilkan, dia tidak tahan lalu keluar dan berganti-ganti pekerjaan, sampai akhirnya mendapat pekerjaan baru yg lebih baik, nyaman, dan dihargai pekerjaannya. Kemudian kisah Ranjau yang ambisius mengejar promosi di tempat kerjanya. Lalu kisah si ubin masjid, Juwisa, yang pantang menyerah untuk mendapat beasiswa S2 sampai harus mengalami peristiwa tragis yang membuatnya sempat trauma tapi pada akhirnya dia mampu bangkit kembali. Selanjutnya kisah Arko yang tak kunjung menyelesaikan kuliah karena kesibukannya dalam bidang fotografi. Ditambah kisah bu Lira dengan kebimbangannya antara pilihan untuk berbisnis atau mengambil tawaran penelitian di Sumba, juga kisah Cath yang idealis untuk menjadi seorang pengacara. Kemudian yang tidak kalah penting adalah kisah Ogi yang semakin menggelegar dengan kesuksesannya yang berhasil diceritakan oleh @js_khairen dengan apik, santai, kekinian dan mudah dimengerti.

Kelebihan lain dari novel ini sama seperti novel sebelumnya, yaitu selalu ada quotes yang menginspirasi di setiap akhir bab-nya. Novel ini sangat cocok untuk kalangan mahasiswa dan karyawan karena ceritanya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari para mahasiswa dan karyawan. Akan tetapi ada beberapa tulisan yang typo sehingga agak mengganggu pembaca, tp dari smuanya buku ini keren dan cocok untuk dibaca ketika mengisi waktu luang.

📓Kami (Bukan) Jongos Berdasi
🖋J. S. Khairen
📖409 Halaman
🖨 PT Bukune Kreatif Cipta
Profile Image for Uchant Hasanah.
12 reviews1 follower
July 15, 2021
Saat kita salah, diam dan mengakui adalah cara yang benar. Jika malah ngotot dan bersikeras kita tak salah, hadedeh, kita akan memberikan tontonan gratis pada orang lain bahwa betapa tidak pintarnya kita. Diamlah. Terimalah. Itulah cara yang benar saat kita salah. (238)

Suka sekali dengan tulisan-tulisan kecil (seperti di atas itu) di setiap akhir bab. Mentes, kalau kata orang Jawa.

Awalnya, "ini buku apaan sih?" Ahhh.... ternyata novel yang ajigijaw bangeet... :D
Setelah selasai baru tahu kalu ini buku kedua ya. Yang pertama -Kami (Bukan) Sarjana Kertas- malah belum baca. But its okay, Khairen menjelaskan sedikit hal-hal yang mungkin ada di novel pertama, sehingga tetep bisa terus loading hingga akhir saat baca novel ini. Seperti serangan tikus di awal perkuliahan, hubungan Juwisa dan Ogi, dengan sedikit penjelasan itu bisa jadi bekal untuk meraba-raba apa yang sebenarnya terjadi di novel pertama. Habis ini bakal cuzz baca buku yang -Kami (Bukan) Sarjana Kertas- dulu.

Ada banyak hal yang membuat saya tersadar setelah membaca buku ini. Artinya, secara tidak langsung ikut tersinggung dengan apa yang tertulis. Yah, biarlah ini menjadi satu vitamin yang pas porsinya untuk saya saat ini.

Suka juga dengan istilah Mahapasti sebagai penggambaran Tuhan. Rasa-rasanya sampai ke hati, trus bertanya ke diri sendiri, sudah yakin 100% yakin belum dengan kepastian Tuhan? Jangan suka meragukan masa depan.

Hmm,,, Rasanya tidak perlu banyak wash wesh wosh wash wesh wosh disini. Yok langsung baca saja. Recomended book for you!
Profile Image for Meta Morfillah.
666 reviews23 followers
July 22, 2024
Judul: Kami (bukan) jongos berdasi
Penulis: J. S. Khairen
Penerbit: Grasindo
Dimensi: 385 hlm, cetakan pertama April 2024 (edisi gramedia digital)
ISBN: 9786020530802

#Buku ini adalah seri kedua dari serial "kami bukan sarjana kertas" yang menceritakan lika-liku kehidupan para alumni Universitas Daulat Eka Laksana (UDEL) setelah mereka lulus dan memasuki dunia kerja.

Ternyata benar kata Bu Lira, bahwa dunia kantor lebih busuk ketimbang kampus. Hingga mimpi yang mereka punya pun kadang harus terkubur, berganti realitas pekerja kantoran di Indonesia yang harus beradaptasi dengan budaya kerja yang penuh tekanan, intrik, dan ketidakadilan. Ogi, Ranjau, Arko, Gala, Sania, Juwisa, Cath hingga Lira berusaha untuk bertahan hidup dan mencapai mimpi mereka di tengah sistem yang keras dan penuh rintangan.

Mereka semua memiliki konflik dan latar belakangnya masing-masing, sehingga pembaca dapat dengan mudah menemukan karakter yang relatable dengan kehidupan mereka.

Novel ini cocok dibaca bagi siapa saja yang ingin mengetahui realitas dunia kerja dan mendapatkan inspirasi untuk memperjuangkan mimpi mereka.

Sayangnya, saya agak terganggu dengan typo di beberapa bagian dan ketidaktepatan penulisan kata depan di-. Meski demikian, saya tetap ingin baca lanjutannya "Kami bukan generasi bacot", apalagi ada spill di epilognya yang bikin penasaran dengan siapa Ranjau menikah.

Saya apresiasi 3,5 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#1hari1tulisan #bookstagram #resensibuku #reviewbuku #bacabuku #kamibukanjongosberdasi #jskhairen #fiksi #metamorfillah
12 reviews
December 23, 2022
Ceritanya keren, inspiratif, lucu tapi juga menyentuh, seru lah.

Kekurangannya di bagian teknis aja: yang paling parah nama-nama karakter suka banyak ketuker (lina jadi sania, mba laksmi jadi sania, arko jadi randi, randi jadi arko), seterusnya palingan masalah typo, kalimat belum sesuai aturan grammar Inggris (buat tokoh yang emang seharusnya jago Inggris), atau penulisan yang belum sesuai aturan PUEBI aja penulisannya.. keinget pernah liat postingan Bang Khairen cerita waktu itu datengin guru SD bahasa Indonesia-nya terus gurunya bilang tulisannya masih banyak salah wkwkwk.. I can see now why she said that🙏

Maaf kalau kesannya terlalu mengkritisi cara penulisan seolah aku yang paling jago. Aku bukan yang paling jago, melainkan yang masih inget pelajaran bahasa Indonesia SMA aja. Kurasa buku Bang Khairen bisa makin ajigijaw kalau sudah diedit-edit lagi di bagian yang tadi saya sebutkan, agar buku ini bisa makin best-seller dan semakin membiasakan para pembaca dan masyarakat Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar (maksudnya melalui penulisan, kalau dialog tokoh beda cerita).

Bisa jadi edisi yang saya baca sekarang tuh yang lebih tua, mungkin sekarang sudah ada edisi yang dibenarkan.

Semoga saya bisa segera lanjut baca buku ketiganya, karena Bang Khairen sudah nulis banyak buku lainnya nih kalau diliat-liat instagramnya. Yak, semoga bisa terus berkarya, semakin sukses, selalu sehat, dan selalu diberkahi Allah ya, Bang. Aamiin.
Profile Image for Dhea Juhara.
29 reviews3 followers
December 28, 2025
Entah kenapa ya, lagi-lagi tahun ini gue dipertemukan dengan buku yang bikin gue mikir, eh, kok gue paham sih gitu.
Nah, buku ini tuh salah satunya.

Buku ini kayak lagi ngomongin hidup gue, dan mungkin juga hidup banyak orang, yang pelan-pelan kelelahan dikejar tuntutan, ekspektasi, dan mimpi yang rasanya makin berat tiap dijalanin. Tentang orang-orang yang terus maju walaupun hidupnya kegerus sana-sini, tapi tetap maksa jalan karena mimpi belum kelar.

Yang paling ngena buat gue adalah pesannya: lo nggak harus ngelakuin semuanya sendirian. Kita sering ngerasa harus kuat, harus beres sendiri, harus bisa nahan apa pun. Padahal bantuan itu ada di sekitar, cuma sering kita tolak karena gengsi, takut keliatan lemah, atau kebiasaan pura-pura baik-baik aja.

Selain itu, buku ini juga ngingetin soal usaha yang ikhlas dan konsisten. Bahwa kerja keras yang lo lakuin, meski sunyi, meski nggak langsung kelihatan hasilnya, pasti membuahkan sesuatu. Bahkan hasilnya bisa datang dari arah yang sama sekali nggak lo duga. Matematika langit katanya. Perhitungan yang nggak selalu masuk logika manusia, tapi tepat waktu dan tepat sasaran.

Buat gue, buku ini cocok dibaca pas lagi ngerasa lelah sama hidup, lagi nanya ke diri sendiri kenapa masih bertahan, atau lagi ngerasa jadi jongos berdasi yang lupa alasan awal kenapa mulai. Dan entah kenapa, setelah baca, rasanya sedikit lebih tenang, karena mungkin, semesta lagi nyatet usaha kita pelan-pelan.
Profile Image for Naufal Athallah.
2 reviews
January 1, 2021
Novel ini penutup tahun 2020 saya, ya novel yang cukup lama saya baca dibandingkan kakaknya sarjana kertas.

Entah kenapa saya membaca ini seperti bosan jika dibanding dengan kakaknya yang setiap lembaran baru dibuat penasaran apa yg akan terjadi dengan 5 sahabat ini..

Saya mempunyai beberapa asumsi kenapa saya tidak terlalu menyukai ini:

1. Saya suka banget karakter Ogi yang relate dengan diri saya, tetapi di novel ini dia tidak sering muncul. Jadi tidak ada rasa penasaran untuk melanjutkan membaca novel.

Uda khairen juga pernah berkata bahwa karakter utamanya adalah ogi tetapi di sini ogi malah seperti karakter ke-enam (ntah lah), jarang keluar karena kesibukan dia di Sillicon Valley. Karakter utama disini malah ke sania yg dengan banyaknya pekerjaan yg dia lalui.

2. Saya tidak relate dengan jongos berdasi karena saya memang belum pernah menjadi jongos berdasi. Mungkin akan saya coba baca lain kali ketika saya sudah mencoba menjadi jongos berdasi.

3. Alurnya terlalu lama diawal dan terlalu terburu diakhir, seperti sedang mengejar deadline dosen killer.

4. Saya me-ekpektasi buku ini menentang jongos berdasi karena series "kami (bukan)" nyatanya buku ini hanya berisi jongos berdasi yg sedang bekerja seperti biasanya.

Tetapi, saya suka setiap quotes di setiap sesi yang Uda Khairen berikan, sangat memotivasi dan bermakna..
Profile Image for Bila.
315 reviews21 followers
December 29, 2021
(Rate bisa berubah)

Satu kata: Ajigijaw.

Ya, itu yang kurasakan. Buku ini sangat padat, miris di awal tapi akhirnya cenderung "ajaib". Padat disini tentunya karena fokus kita ke banyak tokoh mengingat tokoh utama di seri ini emang banyak sih. Sebetulnya ga rapi-rapi banget pergantian fokusnya tapi masih bisa dinikmati.

BTW, masalah fokus, gara-gara banyak fokus begini jadinya typo nama ga terbantahkan. Beberapa plot hole juga muncul. Bukan yang wah banget sih, tapi ada lah. Ada pula inkonsistensi yang tercipta. Sebagai pembaca perfeksionis, jelas aku jengkel.

Gaya tulis? Sepertinya sang penulis kaya udah yakin gitu pembaca bakal lupa sama beberapa detil buku pertama sehingga sering disebutkan kembali. Sesekali oke, tapi ini agak keseringan. Atau jangan-jangan penulis yakin pembaca bakal lupa sama detil yang disebutkan di awal-awal?
Selain itu, penggunaan istilah "gempar menggelegar" agak ambigu ya bun, ga tau tah maksudnya "waw keren abisss" atau malah hal yang buruk 🥲
Tapi selebihnya cukup asyik sih.

Kalau butuh kisah fiksi yang inspiratif tapi merakyat, buku ini bisa aja aku rekomendasikan. Ya walaupun perubahan nasibnya cenderung edan (apalagi si Ogi tuh). Namanya juga fiksi bun.

Apakah aku tertarik baca lanjutannya? Berkaca dari epilog yang begitu hah heh hoh ga nyambung, aku...kurang tertarik. Lha?
Profile Image for Anandayanti.
7 reviews
December 11, 2021
Makjoss!

Alur ceritanya menarik karena lebih dekat dengan realitas kehidupan dan gaya menulis yang ringan membuat penasaran untuk terus membaca. Banyak kata-kata gaul yang digunakan penulis untuk menggambarkan suatu keadaan, misalnya “gempar menggelegar”, kalimat ini bisa dimaknai sebagai pengganti kata “WOW”. Dengan pemilihan kata-kata yang biasa digunakan oleh kalangan muda masa kini, penulis dapat menarik perhatian pembaca karena lebih nyambung dan mudah diterima.
Namun, tidak ada sesuatu yang tampil sempurna. Buku ini adalah cetakan pertama, yang tentu masih mungkin ditemukan beberapa hal yang membuat pembaca kurang nyaman. Beberapa typo dan penulisan nama tokoh yang terbalik-balik membuat kenyamanan pembaca sedikit terusik. Meskipun tidak mengubah ceritanya dan pembaca tetap dapat mendapatkan alurnya tetapi hal-hal tersebut masih cukup banyak dijumpai. Ya, karena ini cetakan pertama, semoga untuk cetakan selanjutnya hal-hal ini sudah diperbaiki.
10 reviews
January 9, 2025
Di buku sebelumnya, ending nya agak gantung jadi penasaran apa kelanjutannya tp gak di mention di buku ini. Di buku ini menceritakan kehidupan para karakter after graduated yang Sebenarnya ringan tapi karna ada banyak karakternya jadi bikin lumayan bingung. Benang merah dari ceritanya sih tetap ada, yg menghubungkan para karakternya utk bersatu itu banyak dibahas sih. Cuman rasanya capek ajaa bolak balik pov karakter gituu, tapiii untungnya masih bisa dipahami dan enjoy.

Gak terasa mudah nangis pas baca buku ini, bikin sadar kalo "ternyata hidup sekeras itu ya". Sebagai orang yg belum menempuh hidup dewasa, ini aku jadiin bekal dan reminder kalau nanti realita hidup itu kejam, gak semanis yang dibayangkan. Baca ini jadi fast reader karna bahasanya seru, ringan dan alurnya sangat meng-entertain. sukak! Simple yet beautiful, menurutku ini bahasa yang sangat cocok buat novel2 slice of life gini.
Profile Image for Alifia Sherli.
1 review
December 26, 2025
Dunia ini tempatnya capek. Semua orang punya capeknya masing2.
Lira merasa S3 Rekayasa Genetikanya tidak berguna …
Ogi yg pernah hampir bunuh diri …
Juwisa kecelakaan yg bikin dia sempat terhambat buat mengejar mimpi2nya …
Randi juga udah punya niat baik menikah tapi gatau sama siapa …
Arko dengan jatuh bangunnya berkecimpung di dunia photography …
Sania yg mau ngejar keinginannya jadi Diva tapi di lain sisi juga harus cari kerjaan buat bertahan hidup …
Gala yg gapernah ngerasa bebas …

Tapi seperti di halaman 360
“Lanjut terus? Berhenti dulu? Istirahatlah sebentar.
Tak perlu tunggu lelah dan sakit.
Tak perlu tunggu runtuh dan habis”.

Berhenti sejenak supaya lebih bersyukur dengan apa yang sudah kita lewati, dan berpikir matang soal arah mana yg selanjutnya akan kita tempuh.
Itu yang lagi aku jalani sekarang.
Berhenti sejenak.
Aku tidak terlambat.
“Mundur 1 langkah, untuk melompat 5 langkah.”
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
January 9, 2021
Mantap ceritanya coy, di buku ini tu diceritain tentang dunia kerja yg mulus, ada juga yg penuh perjuangan, trus ada juga yg biasa aj. Jadi seenggaknya stlh baca buku ini kita bisa tau bayangan dunia kerja seperti apa. Ntar, klo udh kerja biar gak kaget lg klo situasinya gak sesuai sama apa yang kita harapin.

O iya, buku ini juga nyeritain tentang persahaban dngn berbagai karakter lho. Dr si Ogi yg gokil wkwk, Randi yg cari pacar mulu tp diputusin truus wkwkkw, Sania yg suka nyanyi tp atmosfer di dunia kerjanya puaaanasss terus haha kasian nih Si Sania ini, Gala yg anak tunggal kaya, Arko si fotografer, Juwisa yg adem, kalem, ngalim, terencana, baik, dan juga ada Bu Lira yg suka kasih motifasi lwat analogi hewan.

Cakep deh ni buku, ceritanya ok trus juga dilangkapi quotes² yg nampar tp bikin sadar. Cus dptin ini buku. Ok Bor???😁👍
Profile Image for Dzata Iffah.
46 reviews1 follower
February 5, 2023
Buku kedua dari seri Kami (bukan) generasi kertas, buku ini mengisahkan Ogi dkk yang masuk dalam dunia kerja. Ceritanya seruu apalagi waktu mereka banyak mendapatkan musibah, dari situlah pelajaran2 yang aku dapatkan.
Bagi aku, seorang yang belum bekerja dan masih duduk di bangku perkuliahan (ya walaupun udah smt akhir sih :) ), wawasanku jadi terbuka soal dunia kerja yang kayaknya serem2 gimana gitu 😭

Yang aku kurang nyaman saat baca novel ini yaitu ada beberapa kata yang typo, terus gatau kenapa aku kurang nyaman baca kata yang terus2an diulang-ulang sampai halaman terakhir, misalnya kalimat "gempar menggelegar", itu aku kurang nyaman sih soalnya diulang-ulang mulu🙃 tapi aku tetep suka sama quotes² yang selalu disajikan okeh penulis disetiap pergantian bab. Lumayan buat difoto terus dibikin konten di sosmed kita hehehe..
Aku bakalan nyelesein baca buku seri selanjutnya.. 😁
Profile Image for Hanief Rifqi.
11 reviews
November 2, 2024
Kelemahan:
1. Ada beberapa aspek alur cerita yang dibuat-buat seakan "Too good too be true".

2. Ada beberapa bagian cerita yang bertele-tele

3. Ada beberapa bagian cerita yang membosankan

4. Ada lirik lagu buatan penulis yangmana membuat kita tidak paham dan tidak bisa merasakan lagunya

5. Alur cerita agak datar dan monoton

Kelebihan:
1. Bahasa tulis mudah dicerna

2. Tidak banyak banyolan "cringe" seperti buku pertama

3. Ceritanya membumi, termasuk konfliknya

4. Perasaan dan realitas konfliknya dapet

5. Penokohan solid

6. Riset cerita mantap

Rating:
Cover: 80/100
Ide: 70/100
Alur: 75/100
Tokoh: 95/100
Seru: 72/100
Riset: 90/100
Tulisan: 95/100
Konflik: 88/100

Skor: 83/100

Kesimpulan:
Bagus dibaca untuk mengisi waktu luang, dan untuk mempelajari sifat manusia karena konflik dan respon para karakter menggambarkan kondisi dunia nyata.
Profile Image for Luisa Munster.
1 review1 follower
July 5, 2020
Waktu beli buku ini ceritanya mau mengisi waktu selama liburan si Jogja dan kebetulan tinggal di daerah pegunungan, yang tentunya sinyal smartphone sangat berkurang, supaya nggak mati gaya karena ga bisa update sosmed. Ternyata nggak nyesel udah beli buku ini. Buku ini menceritakan perjuangan beberapa sahabat yang baru terjun ke dunia kerja. Ada cerita si pegawai kantoran, si calon PNS, si wirausaha dan si freelancer.

Penulisnya menggambarkan kenyataan kejam di dunia kerja dengan bahasa yang sangat ringan dan sangat kekinian, sehingga gampang banget untuk dinikmati. Buku ini cocok banget untuk membuka wawasan kalian dalam memandang dunia kerja, kapan kalian perlu "berjuang" & kapan kalian harus "stop dan berpikir ulang".
Profile Image for ALVI.
2 reviews
July 26, 2023
Akhirnya beli dan memutuskan untuk baca buku ini karena penasaran dan berasa relate dari judulnya.

So, setelah selesai baca ini pendapat pribadiku tentang buku ini :
(+) berasa punya teman seperjuangan sekaligus "mentor" secara fiksi wkwk dengan bahasa yang juga santai dan non-formal
(+) setiap bab punya kejutan dan juga kalimat kutipan yang cukup bikin perasaan naik turun dari mulai ikutan kesel, bingung, sampai sedih

(-) sedikit yang kurang aku suka dari buku ini terutama di bab awal adalah karena saking santai dan non-formalnya, ada istilah-istilah yang dipakai oleh penulis rasanya terlalu berlebih (tapi mungkin ini tergantung preferensi masing-masing dan mungkin begitu jugalah gaya kepenulisan dari sang Jenderal Kata-kata) but, over all buku ini sangat ku rekomendasikan!
1 review
April 1, 2020
Buku yang sangat pantap untuk kalian yg sedang dalam keabuabuan hidup. Buku yg ditulis dengan gempar menggelegar oleh si jendral, mampu menampar setiap sangsi pada diri sendiri dengan setiap makna yg dia berikan. Saya suka dgn makna kehidupan yg terselip ditiap percakapan, selalu ada ‘roh’ .ini bukan hanya tentang alur cerita, tapi kita dibawa untuk merenung. Membacanya membuatku harus berhenti puluhan kali karna lagi-lagi tersasarkan sesuatu. Yah kuranh lebih seperti itu. Meskipun dibeberapa titik ada nama tokoh yang tertukar, typo, dan terkesan buru-buru, tapi tertutup kok sama makna didalamnya. Hal itu membuat saya sadar betapa besar keinginan jendral untuk menyampaikan rasa dan keresahannya, menggebu” saya merasakam itu pada setiap potongan cerita. *soty gal sih gue tapi yah itu yg saya rasa. Seperti biasa, sy selalu menantikan kejutan dan tamparan baru dari tulisannya.
Displaying 1 - 30 of 121 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.