Actual rating: 3
Sola mendedikasikan seluruh masa SMA-nya untuk Teater Hawe. Masalahnya, hanya di sanalah Sola merasa diterima dan bisa tampil normal seperti orang lain. Karena selama ini Sola terbiasa hidup dengan hinaan dan pandangan jijik orang lain karena wajahnya yang terkena kutukan kelambu. Sayangnya, gara-gara kebijakan baru OSIS yang semena-mena, Teater Hawe terancam dibubarkan. Pantesan Sola ngamuk dan nggak akan tinggal diam.
------+++++++------
Jujur saja, aku suka banget dengan konsep yang ditawarkan sama Seri Gandaloka Magical Tales ini, di mana Demit dan manusia hidup jadi satu di kota Gandaloka. Anak-anak Demit hidup membaur dan sekolah seperti biasa bareng anak manusia. Ngingetin sama Harry Potter nggak sih?
Oke, langsung aja. Apa yang aku suka dari buku ini:
1. Konsep dasar ceritanya, seperti yang kujelaskan di atas
2. Bagian awalnya cukup menyenangkan. Bagiku, 10 halaman pertama dari sebuah novel itu penting banget sih, karena ini yang nentuin aku lanjut baca atau ntar dulu.
Nah, aku suka gimana penulis menceritakan bagaimana Sola menyadari makna kata "jelek" dan bagaimana hal itu mempengaruhi kehidupan manusia. Di sini aku so sad, karena yaaa ... Emang dunia emang begitu deh, Sola.
3. Font novel ini tebal banget cetakannya, jadi sangat memanjakan mataku yang udah minus banyak ini. Nyaman banget dibaca
4. Karakter Sola. Sebenernya aku masih galau mau sebel apa seneng sama karakter ini anak. Soalnya dia nyebelin karena suka meledak-ledak dan ngamukan gitu. Tapi cara dia menamai Sialan Satu, Sialan Dua, dan Sialan 3 itu lucu juga. Apalagi cara dia benci dan negative thinking mulu sama Yasha hanya karena Yasha tampan. Hahaha ada-ada baelah
5. Gaya bahasanya ringan, lucu, kocak, dan nggak bosenin. Romance-nya juga cukup sweet tanpa berlebihan
Apa yang aku kurang sula dari buku ini:
1. Dari awal aku rada worry sih. Kok bukunya tipis banget? Yaaa mungkin di otakku udah tersetting kalo buku-buku fantasi itu biasanya tebel-tebel. Makanya aku curiga, ini pasti bakalan ngebut nih ceritanya.
Beneran ngebut? Well, mungkin.
Yanh jelas, aku ngerasa banyak hal yang kurang dijelaskan. Misalnya, kehidupan Demit itu sendiri menurutku kurang dieksplore. Maksudku, apa yang meraka lakukan di dunia, terus halangan apa aja yang mereka temui karena hidup jadi satu sama manusia, aturan-aturan apa aja yang ada di dunia demit, apakah demit boleh meniqa sama manusia hahaha, terus Gandaloka itu sebenarnya apa? Apakah cuma salah satu kota di Indonesia (katakanlah gitu), atau dia semacam kota suci buat bangsa demit. Dan masih banyak lagi sih. Ya sebenarnya ada penjelasan sedikit-sedikit, tentang sejarah mata dewa, sama gardalor. Tapi menurutku kurang kental. Jadi kesan Sola sebagai bangsa Demit yang sekolah di dunia manusia itu kurang berasa. Aku ngerasanya Sola itu ya remaja biasa aja
2. Ada yang kurang kumengerti dari pementasan Teater Hawe. Aku nggak tahu sih ya, tapi selama ini Teater yang kutahu butuh tim yang besar untuk pentas. Ada black man, penata lampu, penata musik, dll. Tapi aku tetep nggak bisa bayangin gimana Teater yang terdiri dari 4 orang (1 sutradara, 1 tim properti+kostum, 2 pemain) bisa tampil.
Hmm ... Mungkin jenis naskahnya, naskah monolog yang gak butuh banyak pemain ya. Tapi tetep aja seorang ketika Yoga (sutradara+blackman-penata lampu dan musik) wara-wiri selama pementasan itu rada nggak kebayang bagiku. Pusing banget pasti jadi Yoga. Terus bukannya biasanya setting lampu itu ada di seberang panggung ya? Gimana Yoga bisa lari-lari ngatur lampu sama jadi blackman tanpa kesandung-sandung penonton? Tapi, well, pasti penulis udah melalui riset untuk hal ini. Dan mungkin emang ada jenis teater kecil gini, yang mana pementasannya lebih simpel dan nggak seribet teater pada umumnya.
3. Kutukan kelambu Sola itu dari siapa? Dan kenapa Sola dikutuk? Sampai kapan Sola dikutuk? Apakah ada kemungkinan Sola terbebas dari kutukan? Itu adalah pertanyaan yang belum terjawab
4. Apa wujud asli Sola dalam dunia demit? Aku lupa, ini ada dijelaskan atau nggak
5. Aku tertarik bagaimana cara Sola develop kemampuan magicnya. Juga cara Yasha latihan untuk pengendalian dirinya. Well, sayangnya lagi-lagi nggak terlalu dijelaskan
Soal rahasia Yasha itu aku bisa menebak sejak awal sih. Tapi nggak masalah kok, tetep seru ceritanya. Walau ada banyak hal yang bisa dieksplor untuk membuat cerita ini lebih baik.
Jadi pengen baca Gandaloka yang lain dah. Ntar dulu, timbunan buku udah kayak Gunung Anak Krakatau -__-