Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Sola menderita karena kutukan permanen yang membuat wujudnya terlihat jelek. Hidupnya penuh hinaan dan tatapan jijik dari orang-orang. Satu-satunya tempat yang mau menerima Sola tanpa peduli tampang, hanyalah ekstrakurikuler teater⁠—Teater Hawe. Lalu ketika Teater Hawe terancam dibubarkan karena kekurangan anggota, tentu saja Sola akan berjuang supaya Teater Hawe bisa bertahan.

Akan tetapi, yang sama ngototnya menolak pembubaran hanya Yasha. Cowok tampan dan terkenal, yang keanggotaannya di Hawe menjadi misteri tak terpecahkan di sekolah. Sempurna. Terlalu sempurna ketika sikapnya juga baik kepada Sola yang terbuang. Sola curiga, karena dia percaya bahwa orang yang benar-benar baik tidak mungkin wajahnya rupawan juga seperti Yasha.

208 pages, Paperback

First published October 14, 2019

19 people want to read

About the author

Kahlui

1 book2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (9%)
4 stars
9 (42%)
3 stars
8 (38%)
2 stars
2 (9%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
November 5, 2019
Saya lebih suka konsep demit di buku ini ketimbang di Halfie. Walaupun masih membawa aroma X-Men. Jadi, di Gandaloka, manusia dan demit hidup berdampingan. Para demit menyembunyikan identitas mereka tentu saja, walaupun mereka berperilaku persis seperti manusia. Mereka bersekolah, memiliki usaha, bahkan ikut teater. Salah satu demit itu adalah Sola alias Solaria.

Karena sebuah kutukan kuno, Sola kecil terkena kutukan sihir kelambu (bagus ya namanya) yang membuat wajah aslinya tertutup. Orang lain akan melihat wajah buruk rupa Sola, padahal Sola sendiri tidak menemukan ada yang salah pada wajahnya. Sihir kelambu yang menempel di wajahnya lah yg menjadikan orang melihat Sola sebagai sosok buruk rupa.

Kejadian traumatis saat SD dan SMP membuat Sola menarik diri dari pergaulan. Ia membenci orang yang hanya memandang dari penampilan, bukan dari kepribadiannya. Di sisi lain, Sola juga emoh jika orang baik kepadanya hanya karena wajahnya yang buruk rupa akibat kutukan. Hanya di ekskul teater HAWE, gadis itu merasa bisa menjadi dirinya sendiri dan dihargai karena bakatnya berakting, bukan karena rupa.

Di Hawe yang hanya terdiri dari empat siswa inilah Sola bertemu dengan Yasha (kenapa nggak dipanggil Yudis aja sih, kan malah keliatan gagah gitu drpd Yasha). Cowok cakep dan populer ini memang aneh. Bisa-bisanya ia gabung dengan klub ekskul teater yang dianggap cupu di SMA Gardaloka. Solo juga heran, tapi di kemudian hari terbukti kalau cowok itu memang passionnya main teater. Yasha juga bisa menjadi si logis untuk mengimbangi Sola yg emosional. Berdua, mereka menjadi inti dari Hawe.

Jika di Halfie demitnya muncul sedikit banget, di Stay Ugly ini kaum demitnya malah kayak diobral. Awalnya, saya mengira kaum demit ini mahkluk2 supranatural, tetapi setelah baca dua serinya, demit Gardaloka lebih mirip kaum mutant dengan keahliannya. Ada yang bisa menipu pandangan, memanipulasi kayu, berteleportasi, mengeluarkan materi hitam, menembakkan gelombang, hingga berubah jadi binatang buas. Saya lebih suka konsep demit di buku ini ketimbang demit di Halfie yang peri.

Yang bikin saya kasih bintang 4, cerita di buku ini nggak lurus lempeng. Banyak kelokan tajam, plottwist yang wow, adegan yang bergerak cepat, serta kelihatan banget perjuangan keras penulis untuk menjaga agar jangan sampai ada plothole. Ceritanya memang ala teenlit gitu, tapi saya suka karena seri Gardaloka ini menurut saya mampu memadukan genre fantasi dengan roman remaja. Mungkin dengan gaya mixed seperti inilah pembaca Indonesia bisa mulai menyukai membaca genre fantasi.

Saya juga suka dengan aroma remaja yang kental banget di buku ini. Berkali kali ngakak sama kelakuan dua demit di Hawe:


"Jadi elu (demit) juga?"
"Elu juga?"
"Anjir"
"Anjir"
"Anjir"
"Anjir"

Juga kelakuajln Sola yang nggak menye menye. Walo sikapnya kadang keras dan terlalu apa adanya, ada alasan di balik itu semua. Romansanya juga nggak bikin eneg, karena ada andil tokoh tokoh yang SMA banget. Adegan pertempuran gimana? Ada juga dong. Konsepnya mirip dengan di Halfie.

Pokoknya ini bagus, saya suka! Jadi pengen baca tiga buku "The Magical Tales of Gandaloka" lainnya.

Profile Image for Nola Andriyani.
180 reviews
December 21, 2019
Novel ini bercerita tentang Sola, seorang remaja Demit perempuan yang sejak kecil sudah dikutuk menjadi jelek dengan Sihir Kelambu. Sola yang sejak kecil menyukai semua perhatian yang tertuju padanya harus berusaha ekstra untuk tetap diperhatikan mengingat fisiknya yang selalu dipandang jijik.

Sola hanya diterima di ekskul teater Himpunan Warna atau Hawe yang hanya beranggotakan empat orang saja yaitu, Sola si jelek dan jutek, Hosea si tinggi kekar yang selalu membungkuk, Yoga si kecil, dan yang terakhir Yasha yang tampan sempurna tapi penuh misteri. Awalnya Sola sangat sentimen dengan Yasha mengingat ia tampan tapi memilih bergabung di Hawe, Sola menanggap bahwa Yasha hanya ingin menarik simpatik saja.

Tapi tiba-tiba Hawe harus dibubarkan jika tidak bisa menambah anggota menjadi lima orang. Pilihannya dibubarkan atau dilebur dan digabung di ekskul drama musikal MoP. Saingan abadi Hawe. Apakah Sola dan seluruh anggota Hawe dapat menambah anggota baru dan mempertahankan Hawe agar tidak dipandang sebelah mata lagi? Dan bagaimana dengan misteri yang disimpan Yasha, apakah membahayakan untuk Sola atau justru merubah sikap Sola terhadapnya?

"Sola tidak begitu paham apa maksudnya kutukan, tapi dia tahu apa itu sihir Kelambu. Jenis sihir yang bisa membelokkam persepsi dan kognis." (hlm. 2)

Ber-genre-kan Urban Fantasy dengan nuansa lokal, novel ini cukup menarik perhatianku. Yang aku suka dari novel ini:

🧚‍♀Dari segi cover novel ini sangat menceritakan keseluruhaan isi buku. Desain covernya cakep dan eyecatching, dengan ilustrasi asap yang menggambarkan tentang Sihir Kelambu yang dialami Sola

🧚‍♀Konflik remaja Demit yang berisi tentang persaingan dan pembullyan yang sangat kental. Konflik antara para remaja Demit ini bikin gregetan. Apalagi waktu di klimaks ketika masing-masing tokoh mengeluarkan sihir mereka. Dueh, bikin tegang juga deg-degan.

🧚‍♀Gaya menulis yang mengalir dan jelas tujuannya sangat membuat aku menikmati buku ini. Karena penulis memakai diksi sehari-hari yang mudah dipahami, imajinasi yang ingin disampaikan penulis juga mudah dicerna. Menggunakan alur maju dengan beberapa selipan kilas balik yang diceritakan Sola sangat membantuku untuk menilai kenapa karakter Sola begitu jutek dan ketus.

🧚‍♀Pemakaian sudut pandang orang ketiga memudahkan pembaca sepertiku memahami seperti apa karakter para tokohnya. Misteri yang menyelimuti beberapa tokoh juga dibuka perlahan. Dari semua tokoh aku paling suka Yasha bukan karena ganteng karena toh ternyata dia nggak seganteng itu, wkwkwkw. Suka juga sama Sola walau rada nyebelin. Chemistry dan interaksi para tokoh terkesan natural khas anak remaja pada umumnya.

Sayangnya, aku berharap world building yang dibangun penulis bisa lebih dari ini seandainya dikembangkan lebih dalam. Beberapa tentang klan Demit sempat disebutkan namun tidak dijelaskan. Begitupun tentang fisik Sola yang jelek tidak dideskripsikan lebih dalam. Padahal jika dijelaskan akan sangat menarik dn menambah nilai dari buku ini.

Overall, terlepas dari plus dan minus, buku ini aku rasa layak dibaca. Apalagi buat orang-orang yang sedang minder akan penampilan fisik atau orang-orang yang selalu membully fisik orang lain.

"Aku yakin muka dan reputasi memang bagian dari seseorang, tapi nggak akan pernah mendefinisikan seseorang secara utuh" (hlm. 85)
Profile Image for Gus.
605 reviews63 followers
April 14, 2022
--- Stay Ugly ---
Plot: ...Ok.
Penokohan: ... ... ...O- Ok... mungkin.

Salah satu seri dari The Magical Tales of Gandaloka.

Baca sinopsis langsung, ya!^^
Dua judul Gandaloka yang saya beli adalah Stay Ugly dan Halfie karena menurut saya kover mereka yang paling keren (yang lain juga keren, tapi yang dua ini lebih keren lagi(?) XD), sinopsisnya juga bagus, dan (yang ini berdasarkan ekspektasi sendiri) tidakkah tema fantasi yang mereka sajikan akan bagus?
Bisa dibilang, saya suka konsep Gandaloka dari sinopsis yang tertera (*´罒`*).

Tapi... saat membacanya, saya kembali diingatkan kalau ini buku remaja (teenlit) lokal dimana saya harus siap jika ada penggunaan panggilan tidak baku XD. Karena keseringan membaca novel terjemahan, jadi saya membutuhkan imajinasi ekstra untuk bisa membayangkan adegannya dengan ucapan ala gue-lo-sebangsanya di pikiran saya XD.
Intinya ini masalah selera... mari membahas hal selanjutnya! 。・゚・(ノД`)・゚・。


Saat membaca ini, perasaan saya seperti ini ^.

Nah, mengenai plotnya... em... gimana ya, sebenarnya lumayan (?). Lumayan bikin saya keki XD/dor!
Sukar menikmatinya saat tokoh utama pun menjengkelkan XD. Tapi disisi lain, saya juga tahu kalau berat memiliki penampilan yang berbeda di masyarakat yang mayoritas hanya melihat penampilan luar. Sama seperti di novel Jepang yang saya baca, dimana ia mengalami kecelakaan dan cacat, yang membuat tokoh utama merasa kebaikan hatinya ikut terengut bersama dengan peristiwa itu.
...
...
...
Meskipun saya mengerti... TAPI ADUH TETAP SAJAAA XDDD //ngeeenggggg!!


Rasanya ingin bilang ke tokoh-tokohnya:
"WOI WOLES SAJA NAPA?! GAK USAH NGEGAS!" //kamusendirigus //ngegas /ngeeeng!
┌( ◕ 益 ◕ )ᓄ┌( ◕ 益 ◕ )ᓄ┌( ◕ 益 ◕ )ᓄ

Saya tidak bisa begitu menikmatinya! Diluar ini itunya, semuanya menjengkelkan > _ < (okelah, beberapa tidak. Tapi tetap saja!). Adegan-adegannya pun tidak membuat saya terkesan.
Mungkin sayanya saja yang aneh ya.
Bahkan sekalipun guliran plot ingin membuat Sola lebih mudah dicintai, ataupun peliknya masalah demit dsb, saya tetap tidak bisa bersimpati dengannya u w u;;;;; )

Ehem. Tentu saja ini subjektif.
Satu yang tidak cocok dengan seseorang, belum tentu tidak cocok dengan yang lainnya. Begitulah paham yang saya miliki.

Paling tidak, saya senang dengan simpulan akhir yang disampaikan tokoh utama cowoknya. Tokoh utama perempuannya memang harus sadar. Kurasa salah satu alasan kenapa watak tokoh utama tidak begitu likeable yah, karena ingin dikuatkan di simpulan akhir ini (mungkin; entahlah). Saya juga senang ada tokoh seperti Ghaida yang membawa angin baru di lingkup Sola.
...
...
...


Be-begitulah. Hmm...
[ 6.5/10 ]
Profile Image for Pradnya Paramitha.
Author 20 books464 followers
October 18, 2020
Actual rating: 3


Sola mendedikasikan seluruh masa SMA-nya untuk Teater Hawe. Masalahnya, hanya di sanalah Sola merasa diterima dan bisa tampil normal seperti orang lain. Karena selama ini Sola terbiasa hidup dengan hinaan dan pandangan jijik orang lain karena wajahnya yang terkena kutukan kelambu. Sayangnya, gara-gara kebijakan baru OSIS yang semena-mena, Teater Hawe terancam dibubarkan. Pantesan Sola ngamuk dan nggak akan tinggal diam.

------+++++++------

Jujur saja, aku suka banget dengan konsep yang ditawarkan sama Seri Gandaloka Magical Tales ini, di mana Demit dan manusia hidup jadi satu di kota Gandaloka. Anak-anak Demit hidup membaur dan sekolah seperti biasa bareng anak manusia. Ngingetin sama Harry Potter nggak sih?

Oke, langsung aja. Apa yang aku suka dari buku ini:

1. Konsep dasar ceritanya, seperti yang kujelaskan di atas

2. Bagian awalnya cukup menyenangkan. Bagiku, 10 halaman pertama dari sebuah novel itu penting banget sih, karena ini yang nentuin aku lanjut baca atau ntar dulu.
Nah, aku suka gimana penulis menceritakan bagaimana Sola menyadari makna kata "jelek" dan bagaimana hal itu mempengaruhi kehidupan manusia. Di sini aku so sad, karena yaaa ... Emang dunia emang begitu deh, Sola.

3. Font novel ini tebal banget cetakannya, jadi sangat memanjakan mataku yang udah minus banyak ini. Nyaman banget dibaca

4. Karakter Sola. Sebenernya aku masih galau mau sebel apa seneng sama karakter ini anak. Soalnya dia nyebelin karena suka meledak-ledak dan ngamukan gitu. Tapi cara dia menamai Sialan Satu, Sialan Dua, dan Sialan 3 itu lucu juga. Apalagi cara dia benci dan negative thinking mulu sama Yasha hanya karena Yasha tampan. Hahaha ada-ada baelah

5. Gaya bahasanya ringan, lucu, kocak, dan nggak bosenin. Romance-nya juga cukup sweet tanpa berlebihan


Apa yang aku kurang sula dari buku ini:

1. Dari awal aku rada worry sih. Kok bukunya tipis banget? Yaaa mungkin di otakku udah tersetting kalo buku-buku fantasi itu biasanya tebel-tebel. Makanya aku curiga, ini pasti bakalan ngebut nih ceritanya.

Beneran ngebut? Well, mungkin.

Yanh jelas, aku ngerasa banyak hal yang kurang dijelaskan. Misalnya, kehidupan Demit itu sendiri menurutku kurang dieksplore. Maksudku, apa yang meraka lakukan di dunia, terus halangan apa aja yang mereka temui karena hidup jadi satu sama manusia, aturan-aturan apa aja yang ada di dunia demit, apakah demit boleh meniqa sama manusia hahaha, terus Gandaloka itu sebenarnya apa? Apakah cuma salah satu kota di Indonesia (katakanlah gitu), atau dia semacam kota suci buat bangsa demit. Dan masih banyak lagi sih. Ya sebenarnya ada penjelasan sedikit-sedikit, tentang sejarah mata dewa, sama gardalor. Tapi menurutku kurang kental. Jadi kesan Sola sebagai bangsa Demit yang sekolah di dunia manusia itu kurang berasa. Aku ngerasanya Sola itu ya remaja biasa aja

2. Ada yang kurang kumengerti dari pementasan Teater Hawe. Aku nggak tahu sih ya, tapi selama ini Teater yang kutahu butuh tim yang besar untuk pentas. Ada black man, penata lampu, penata musik, dll. Tapi aku tetep nggak bisa bayangin gimana Teater yang terdiri dari 4 orang (1 sutradara, 1 tim properti+kostum, 2 pemain) bisa tampil.

Hmm ... Mungkin jenis naskahnya, naskah monolog yang gak butuh banyak pemain ya. Tapi tetep aja seorang ketika Yoga (sutradara+blackman-penata lampu dan musik) wara-wiri selama pementasan itu rada nggak kebayang bagiku. Pusing banget pasti jadi Yoga. Terus bukannya biasanya setting lampu itu ada di seberang panggung ya? Gimana Yoga bisa lari-lari ngatur lampu sama jadi blackman tanpa kesandung-sandung penonton? Tapi, well, pasti penulis udah melalui riset untuk hal ini. Dan mungkin emang ada jenis teater kecil gini, yang mana pementasannya lebih simpel dan nggak seribet teater pada umumnya.

3. Kutukan kelambu Sola itu dari siapa? Dan kenapa Sola dikutuk? Sampai kapan Sola dikutuk? Apakah ada kemungkinan Sola terbebas dari kutukan? Itu adalah pertanyaan yang belum terjawab

4. Apa wujud asli Sola dalam dunia demit? Aku lupa, ini ada dijelaskan atau nggak

5. Aku tertarik bagaimana cara Sola develop kemampuan magicnya. Juga cara Yasha latihan untuk pengendalian dirinya. Well, sayangnya lagi-lagi nggak terlalu dijelaskan

Soal rahasia Yasha itu aku bisa menebak sejak awal sih. Tapi nggak masalah kok, tetep seru ceritanya. Walau ada banyak hal yang bisa dieksplor untuk membuat cerita ini lebih baik.

Jadi pengen baca Gandaloka yang lain dah. Ntar dulu, timbunan buku udah kayak Gunung Anak Krakatau -__-
Profile Image for z. imama.
375 reviews12 followers
December 2, 2019
Apabila Kahlui bermaksud menciptakan seorang protagonis yang bikin pembaca kebelet menjitak dan adu otot leher dalam duel bentak-bentakan sewot saking sebalnya, saya harus mengakui: ia sukses besar. Anjiiiiiiiiiiiiiiir gedeg banget sumpah ngadepin Solaria. Terakhir kali saya segondok ini terhadap karakter utama tuh saat ketemu tokoh Marianne Dashwood dari Sense and Sensibility-nya Jane Austen, walau di dua kasus ini kekesalan saya punya sebab-musabab berbeda. Ceritanya relatif singkat dengan alur cepat.
Profile Image for Luv.
110 reviews
November 25, 2025
Belum pernah secapek ini ngikutin jalan pikiran orang. Literally capek banget sama Sola T____T

Sola dikutuk dengan Sihir Kelambu, di mana hal itu membuat dirinya terlihat buruk rupa dan menjijikan. Karena itu, Sola jadi jaga garak dengan teman temannya.

Di SMA, Sola mengukuti Teater Hawe, tempat di mana fisik tidak dijadikan tolak ukur, melainkan kemampuan. Tetapi, karena anggota kurang, Teater Hawe terancam dibubarkan. Bersama ketiga anggota lain, Sola mencoba mencari satu anggota baru.

Pertama, dari kelima buku Gandaloka, ini salah satu yang punya cover paling cakep. Ilustrasi dan perpaduan warnanya sangat eye catching.

Kedua, dari kedua buku yang udah aku baca, ini rasa demitnya paling flat, padahal perdemitannya muncul di mana mana dan sering. Entah karena saking banyaknya demit jadi biasa aja, kesannya ga kelihatan—wow-ada-demit.

Btw, aku mixed feeling sama Sola. Aku sebel banget sama Sola yang suudzon mulu jadi manusia—demit. Apa aja dilihat dengan negatif dulu. Aku tau, udah dijelasin dengan gamblang gimana menyedihkannya hidup Sola karena kutukan itu, tapi tetep aja rasanya ga bisa berempati ke Sola karena aku keburu sebel. Pembawaannya beneran nyebelin final boss, ngalah ngalahin ke villainnya.

Sedangkan untuk Yasha, temen Sola, dia malah terlalu mudah terbaca. Sejak dari kenapa dia biasa aja sama Sola, sampai tentang wujud demit nya cukup predictable. Tapi tetep Yasha my luvvv (meski tokoh favorit ku tetep Ghaida, strong, smart, and humble girl)

Jadi ya untukku, penokohan untuk Sola berhasil, tapi untuk Yasha so so lah.

But, disamping semua hal itu, ilike their strong character development.

Seperti yang aku bilang tadi, demit nya di sini banyak banget. Literally tiap tikungan you bakalan ketemu demit. Jadi rasanya seperti baca cerita manusia yang hidup di dunia demit. Karena ini, rasanya kek ga ada hal spesial dari demit demit ini. Kek ya, ini dunia demit, semua orang adalah demit gitu loh. Ga berasa hybrid nya di mana demit harus ngumpet ngumpet dari manusia gitu.

Actually, the concept of Kutukan Kelambu, Mata Dewa, and Yasha 'The Monster' itu sangat sangat interesting. Tapi karena bukunya tipis, cerita berjalan cepat dan banyak hal menarik yang dibiarin gitu aja. Kek aku butuh penjelasan lebih plisss.

Oiya, karena ini teenfic lokal, jadi bahasa gaul yang ringan dengan pritilan anjir anjir nya itu tentu aja ada. Jadi, jangan salah lapak dengan protes dengan dialog anak muda ini ya. They're so funny loh. Dan, meski berhadapan dengan demit dan segala problematikanya, masih terasa kok keseruan sebagai remaja SMA pada umumnya. Cinta cinta nya pun tipis tipis menyenangkan. Ga lebay wkwk
Profile Image for Gita.
105 reviews46 followers
Read
January 2, 2023
That was a fun ride! Aku yang memang penggemar cerita cinta monyet gemes-gemes a la anak SMA ini ternyata dimanjakan tipis-tipis sama Stay Ugly. Meski Sola bukan tipe karakter utama yang mudah disukai sama pembaca, aku malah ngerasa Sola ini relatable karena rasanya mirip sama diriku yang suka udat adat waktu SMP, hahahaha.

Sosok Yasha yang awalnya digambarkan nyaris sempurna juga justru jadi poin penting di cerita ini. Iya, momen-momen berdua dia sama Sola itu gemes, tapi cerita ini lebih dari itu. Seru sih, meskipun masih ada beberapa pertanyaan yang menurutku nggak dijawab di akhir ceritanya, ya. Tapi overall, this was a nice book to start the new year with.

PS: Sayang banget sama Yoga dan Hosea! <3
Profile Image for Fatih Hayatul.
30 reviews
December 9, 2022
sulit untuk menyukainya meskipun saya tetap bisa enjoy the story. But not for storytelling.
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.