Hal misterius datang silih berganti, menuntun kami untuk bertemu Teteh di rumahnya. Dua tahun lebih menghadapi banyak kejanggalan yang mencekam dan menakutkan, menjadi fase hidup yang tidak akan pernah terlupakan. Teteh, sosok dengan garis nasib yang menggurat sampai ke nadi, menghadirkan perih di tempat yang terdalam. Perasaannya menjerit menembus dua sisi alam, seperti sedang mencari jawaban dalam kesendirian. Kami mendengar dan merasakan semuanya, di Rumah Teteh.
Sesungguhnya 3.5 bintang sih... Soalnya ini tipe cerita based-on-true-story yang lebih nyaman dibaca dibandingkan dengan buku sebelah yang kubilang mengecewakan :p
Desain covernya OK. Terkesan vintage dan menyeramkan, tapi ngga murahan. Ukuran font di dalam bukunya cukup besar... jadi meskipun lumayan tebal, bisa dibaca dengan cepat, bahkan dalam sekali duduk. Ceritanya sendiri tidak terlalu menyeramkan bagiku... mungkin karena aku sudah banyak mengonsumsi konten horor. Cerita Teteh malah cenderung ke sedih, bukannya seram.
Buku ini layak koleksi buat yang suka cerita horor Indonesia. Bisa jadi sekadar hiburan, atau bisa memperkuat iman kepada Sang Maha Pencipta.
Awal Dari awal membaca mulai gampang terbawa alur dari buku ini karena dibilang termasuk kisah nyata jadi benar-benar dibuat merinding.
Apalagi ini benar-benar menceritakan dari sudut pandang tidak hanya tokoh utama saja tapi sudut pandang semua orang yang berkunjung ke rumah ini.
Kekurangan, Sayang sekali walaupun ceritanya berhasil membuat kesan horror. Mungkin buku ini termasuk bacaan ringan tapi, tata bahasa dan unsur kepenulisan dalam buku kurang tertata baik.
Beberapa kali harus menahan kesal misal, dengan dialog yang kurang serasi dipadu dengan bahasa gaul dan baku, penokohan yang kurang, narasi yang harusnya lebih enak dibaca dan jelas.
Epilog, Bagian epilog sendiri yang harusnya menutup kisah dan memberi kesan misteri jadinya berkesan seperti bagian prolog..
Selebihnya, buku ini tetap layak dibaca buat yang suka bacaan ringan yang selesai dibaca hanya sekali duduk.
Awalnya dibikin merinding sama si sosok teteh ini tapi ternyata backstory nya sedihhh bangett akhirnya gajadi merinding malah kasian wkwk.
Buku-bukunya mas Brii emang mantep bgt sih karena aku sebagai pembaca, bisa merasakan apa yg dirasakan sama tokoh-tokohnya. Bisa membayangkan sosok nya kaya gimana juga latar tempatnya. So, this book is well recommended karena bukunya yg tipis cuma 230 halaman.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Mengisahkan persahabatan antara penghuni kos dan hantu bernama Teteh Helena atau lebih sering dipanggil Teteh/Teteh Lena. Teteh yang baik, seorang istri yang patuh pada suami. Seseorang yang membawa kesepiannya bahkan sampai saatnya raganya meninggalkan dunia ini. Untuk ukuran horor, menurut saya pribadi masih kurang menakutkan. Misteri tentang kisah hidup Teteh yang membuat saya penasaran sampai akhir. Perasaan itu terbayar, hanya saja kurang detail.
Alur cerita turun naik, gak tuntas. Mau dibilang horor, gak cukup seram. Sangat mudah ditebak. Lalu ada pembacaan diari Helena, yg lebih mirip cerpen. Perempuan penulis diari tidak akan memakai gaya cerpen dlm menulis isi hatinya. Sepertinya penulis diari Helena gak rajin nulis diari ato malah gak pernah nulis diari.
⭐️ 3,7 bintang. Buku yang lumayan menghibur meskipun kurang seram tetapi lumayan lah. Cerita nya di deskripsikan secara detail sehingga membuat kita merasa seperti ada di tempat kejadian. Cocok untuk pembaca yang baru terjun ke dalam dunia perhorroran
Awal cerita bikin deg deg an, secara aku orang nya penakut. Tapi lama-lama oke, namanya juga hantu yang punya rumah kan suka suka dia lah mau keluar kapan. Dan ending nya sedih bener. Tapi salah nya gak diceritain kapan mulai nya anak anak kost itu mulai biasa sama teteh nya.
ini alur nya nyeritain tentang teteh. Terus ga berat juga kisah nya, aku suka smaa teteh yg meskipun tokoh mistis yg cuma hadir kalo rumah sepi/ malem. 😁😁😁
This entire review has been hidden because of spoilers.
Menceritakan pengalaman seorang mahasiswa yang bernama Brii, bersama empat orang temannya—Asep, Irwan, Nando dan Doni yang menyewa sebuah indekos di salah satu tempat di kota Bandung. Seperti yang bisa di duga, pengalaman yang diceritakan adalah pengalaman-pengalaman horor yang dialami oleh para penghuni indekos.
Cerita dimbil dari sudut pandang Brii. Ia menceritakan segala pengalamannya serta orang-orang lain seperti Pamannya ketika bertamu atau keluarga temannya yang datang ketika ‘bertemu’ dengan sesosok yang bernama Teteh.
Well, ini merupakan novel horor ketiga yang saya baca setelah sebelumnya saya membaca dua novel horor terjemahan ( yaitu A Head Full of Ghost dan A Girl In The Dark). Bisa dibilang, saya jarang membaca novel lokal karena lebih prefer ke terjemahan atau yang versi Inggris asli soalnya karena perbedaan selera, cmiww.
Novel ini bisa saya bilang lumayan dari segi penceritaan. Cerita diambil dari sudut pandang Brii walau saya akui, tidak se-‘menggigit’ novel horor lainnya namun lumayan mudah dicerna akal saya. Alhasil, karena salah satu faktor bahwa buku ini termasuk lumayan ‘tipis’ dengan tebal 200 halaman dan gaya penceritaanya yang cukup ringan, saya bisa menyelesaikannya dengan sekali duduk xD.
Untuk teman-teman yang juga pernah membaca novel horor terjemahan pasti merasakan, bahwa untuk membangkitkan adrenalin dan ketegangan dari pembaca, satu hal yang paling utama adalah detail adegan yang tidak bertele-tele namun juga cukup menggambarkan suasana. Namun hal satu ini tidak saya temukan pada buku ini—yang ada hanyalah adegan-adegan cepat yang sedikit kurang ‘menggigit’ menurut sata ketika bertemu Teteh.
Yah, saya juga tidak terlalu kecewa juga sebenarnya, daripada novel, Rumah Teteh ini saya rasa lebih seperti pengalaman random dari para pengunjung dan apa-apa saja yang mereka temukan ketika mendapat ‘sambutan’ dari si empu-nya rumah, Teh Lena.
Bintang tiga saya beri pada buku ini untuk penceritaan yang baik, dan juga karena tipisnya buku ini yang membuat saya menyelesaikannya dalam sekali duduk, cmiww xD.
3,5 !! tapi buletin aja jadi 4 kali ya, di awal serem, di akhir sedih. ngikutin ini waktu viral di twitter beberapa tahun yang lalu. terus karena lupa ceritanya, memutuskan untuk baca bukunya. bagus kok untuk baca disela waktu luang. worth your time.