Kumcer ini menghimpunkan 10 cerpen yang bernafas realisme magis - sebuah pendekatan yang mengaburkan sempadan antara nyata dan surreal.
Cerpen judulnya sendiri membuka pintu kepada dunia yang ganjil: “Itulah kali terakhir aku melihat mayatku sendiri. Dia pergi tanpa menjamah makan malam.” - ungkapan dramatik ini menjadi metafora tentang kematian yang tak sempat berdamai dengan kehidupan.
Keseluruhan antologi membawa kita ke ruang-ruang yang mempersoalkan takdir, aib, dan rahsia yang terkubur di dasar tasik kehidupan. Setiap cerita berdiri sendiri, tapi berkongsi benang merah tentang manusia yang terperangkap antara realiti sosial dan bayangan batin, menjadikan aku sentiasa berada di ambang teka-teki dan renungan.
Tuan ZRA menguasai bahasa dengan disiplin seorang pengarang tersohor. Diksinya padat, adakalanya puitis, tapi tak terjerumus ke dalam retorik kosong. Beliau memanfaatkan metafora yang segar dan imej yang mengganggu, setiap bait ayat seperti serpihan kaca yang memantulkan cahaya dan luka. Realisme magis yang diterapkan adalah gaya dan strategi Tuan ZRA untuk mengungkap absurditi kehidupan moden. Ada bayang-bayang Gabriel Garcia Márquez dalam karya ini, tapi dengan akar Melayu yang kuat - penuh lambang budaya, mitos, dan ironi sosial.
Antologi ini mengangkat persoalan eksistensi - bagaimana manusia berhadapan dengan kematian, rahsia, dan aib yang tak sempat ditebus. Tuan ZRA juga menyindir budaya yang menyanjung kemewahan tapi melupakan nilai kemanusiaan. Dalam konteks lebih luas, Tuan ZRA mengajak kita merenung tentang keterasingan individu dalam masyarakat yang kononnya beradab, tapi sebenarnya sarat hipokrasi.
Aku sangat suka.
5 / 5 stars