Rumah di Tanah Rempah merupakan rangkaian kisah perjalanan yang mengajak pembaca untuk mengenal Indonesia melampaui lintasan zaman melalui tradisi rempah. Cerita-cerita tak hanya disusun dari bermacam sumber literatur, melainkan pula obrolan dengan orang-orang yang ditemui dalam perjalanan sambil mencicip kesedapan rasa serta aroma di kebun rempah, kedai, warung kopi, pasar, dan dapur.
Ini buku tentang aneka ragam rempah nusantara yang terhampar di tujuh wilayah di Indonesia: Sumatera, Jawa, Bali-Nusra, Kalimantan, Papua, Sulawesi, dan Maluku. Ditulis oleh Nurdiyansah Dalidjo, seorang jurnalis penulis serta peneliti lintas bidang, buku ini ditulis dalam nuansa perjalanan yang kental yang merentangkan detail informasi menarik tentang kondisi rempah nusantara saat ini.
Kisah rempah yang diudar tidak melulu berkelindan dalam jebakan eksotisme ataupun romantisme masa lalu--di mana rempah nusantara digambarkan sebagai warisan berharga semata, yang dituturkan secara berulang-ulang sebagai magnet yang menarik bangsa kolonial Eropa datang ke nusantara ini. Namun, rempah di sini juga dikaitkan dengan aspek sosial, ekonomi, dan kulturalnya.
Misalnya, makna rendang bagi orang Minang. "Bagi orang Minang, rendang paling enak paling enak ada di rumah," begitu kata seorang kawan penulis buku. Kenapa bisa begitu? Karena rendang dalam tradisi Minang adalah makanan hantaran, yang wajib ada dalam setiap acara.
Aspek sosial ekonomi juga kita jumpai pada beberapa daerah di mana warganya tengah berjuang melawan kekuatan politik yang bakal menyingkirkan mereka dari tanah tempat mereka menanam rempah. Di Sumatera Utara penulis buku menyelami kisah masyarakat adat yang tengah menghadapi ancaman hilangnya hutan kemenyan mereka. "Rusaknya hutan kemenyan bukan hanya berdampak pada pencemaran sumber dan aliran mata air, tapi juga menghancurkan ketahanan ekonomi warga," kata penulis.
Saya menikmati seluruh remahan cerita buku ini. Saya seperti ikut bersama penulis menikmati kopi Sabang, menyantap rendang Minang, cicipi kekayaan kue Bangka, sate lilit Lombok, sambil mendengarkan warga berkisah tentang dongeng-dongeng yang terkait dengan aneka kuliner tersebut.
Ini buku pertama yang saya baca pada tahun 2021 ini. Buku yang renyah.
Sosial, budaya, kuliner, sejarah, traveling, semuanya ada di buku ini! Aku bukan tipe orang yang suka sama sejarah, bahkan ketika sekolah aku selalu sulit memahami dan bosan pelajaran sejarah tapi penulisan sejarah di buku ini aku suka! Mungkin karena dikemas dengan cerita, jadi gak terasa bosan ya? Menurutku penulis juga pandai menyusun kata dan cerita, jadi berhasil menyajikan sejarah, budaya, dan kuliner di buku ini.
Ini pertama kalinya aku baca buku tentang traveling, dan aku suka karena gak membosankan! Dan cara penulis mendeskripsikan suatu makanan selalu berhasil bikin aku ngiler haha
Yang agak mengganggu, mungkin di bagian penulisan kata "kebutuhan" yang selalu ditulis dengan "kebuTuhan". Kenapa ya? Terus, agak disayangkan aja ada beberapa foto makanan/tempat yang ditaruh di akhir bab. Sepertinya lebih baik fotonya ditaruh di atas atau di bawah paragraf yang menjelaskan tentang hal tersebut supaya pembaca punya bayangan selama membaca.
Overall aku suka buku ini! Epilognya juga menyentuh (buat aku). Pasti akan aku baca lagi ketika ada waktu atau ingin berjalan-jalan keliling Indonesia!
Travelog yang sangat seru dan hangat. Penulis menjahit pangan dan rempah dengan narasi sejarah dan cerita dari manusia-manusia yang menghidupinya. Menurutku buku ini menarik karena perspektifnya yang kuat, bahwa persoalan rasa itu bertautan dengan persoalan kedaulatan, sehingga narasi yang dibawa adalah narasi kritis yang tidak terjebak dalam eksotisasi rempah ataupun idealisasi terhadap area pedesaan.
Menariknya (atau sedihnya...), hal-hal yang dicatat soal perjalanan yang dilakukan penulis pada medio 2013-2018 (CMIIW) bisa kita lihat kelanjutannya di artikel berita jaman sekarang, seperti soal kebun kemenyan di Sumatra Utara (lihat artikel berjudul Dipenjara karena Bertani di Tanah Leluhurnya: Duka Masyarakat Adat di Sumatera Utara oleh Raksasa Pulp oleh Project Multatuli). Membaca buku ini di tahun 2026 membuatku berpikir apa yang berubah di negara ini selama 10 tahun belakangan? Hm...
Membaca buku ini, benar - benar diajak berkeliling Indonesia lewat cerita dan penuturan yang runut, jelas, dan gampang dipahami. Bukan hanya cerita tentang kuliner, sejarah, masakan khas masing - masing daerah yang dikunjungi, pun budaya serta ritual yang masih dijalani penduduk setempat hingga saat ini. Beberapa kali saya sampai menelan ludah, membayangkan betapa lezatnya sebuah masakan yang sedang diceritakan lewat tulisan. Membaca sekitar 400 an halaman buku ini, tidak membosankan. Butuh sabar memang karena tulisannya padat.
Menarik namun tak selamanya berhasil meraih perhatian.
Tipikal buku yang berawal dari catatan perjalanan memang nafasnya subjective sekali. Dan disini isu utama nya soal rempah & masyarakat adat krn si penulis lekat dgn AMAN. ku pikir nggak masalah sih krn ya memang itu berhubungan lgsg. Tp seharusnya ini bisa lebih dinamis lagi... Persoalan rempah dalam perjalanan kulinernya layaknya seorang wisatawan saja.
Terimakasih sudah mengajak pembaca jalan² gratis lewat tulisannya!
Mendapatkan perspektif baru melalui penulis; menjadi tahu sejarah dari sebuah daerah melalui apa yang dikonsumsi. Buku ini mampu membawaku jalan-jalan keliling Indonesia tanpa beranjak kemana-mana. Tetapi, sangat disayangkan cerita mengenai rempahnya sendiri sangat sedikit dan terbatas. Lebih banyak, cerita sejarah dan perjalanan penulis sebagai salah satu pelaku Masyarakat Adat. Itu kenapa, membuat saya di akhir agak lama membaca dan meresapi cerita.
Kisah tentang rempah-rempah hanya 10%. 50% sejarah suatu lokasi. 30% pendapat penulis selaku aktivis kiri. 5% gambar. 5% lainnya
Bukan buku tentang rempah-rempah, tapi tentang "ketidak-adilan" di masyarakat, dan pandangan penulis selaku aktivis.
Kalo mau cari informasi tentang rempah, jangan cari di buku ini. Tapi kalau mau jadi aktivis pembela HAM dan lingkungan yang selalu benar, buku ini patut dibaca.
Buku ini tidak hanya menyangkut kuliner, tapi juga sejarah, budaya, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Buku ini boleh dibilang seperti diary penulis dalam perjalanannya keliling Indonesia. Dikemas dengan berbagai foto yang menambah bumbu cerita namun foto yang dicetak hitam putih sedikit merusak dokumentasi yang ada.
Buku ini memberi informasi yang dari perjalanan dan kuliner. Banyak cerita soal sejarah dan berakhir dengan pembahasan identitas. Bahasa yang ringan namun isi berbobot sehingga nikmat untuk dibaca setelah work from home.
Boleh usul ganti judul sama sampul gak? Serius. Ini lebih mirip buku sejarah daripada buku jelajah, sejarah keruntuhan rempah di nusantara. Meski begitu, tetap ada ilmu, hal, dan pandangan baru setelah baca buku ini.
4.5 untuk buku ini. Bercerita mengenai perjalanan penulis menjelajahi kota-kota di Indonesia yang menghasilkan rempah. Penulis bercerita tentang asal usul rempah keterkaitannya dengan alam, budaya serta sejarah. Tak lupa tentunya pemikiran-pemikiran penulis terhadap sesuatu beberapa kali tersisip di buku ini.
Butuh seminggu buat namatin buku ini. Rasanya sayang dibaca cepat cepat karena seakan diajak jalan-jalan dari ujung ke ujung Indonesia. Review lengkap menyusul